Soal UN Level Insane

Kamfret akun Rizon ane udah dihapus sama sistem. Gara-gara udah lama gak unduh anime di fansub jadi aja kehapus. Semenjak ane langganan lagi TV kabel, ane jarang unduh di fansub. Buat yang doyan unduh via XDCC dari fansub yang mangkal di channel Rizon (HorribleSubs, Commie, FFF, dan fansub lokal), jangan lupa tetep gunakan akun itu. Kalo gak aktif selama tiga bulan berturut-turut ya wassalam. Sayang tuh akun udah ane pake selama 5 tahun T.T

Kesel ya ane turun buat nonton. Wih tumben si Emak nonton TVRI. Jujur aja di antara semua stasiun televisi, berita TVRI paling waras. Pantesan aja sering dapet penghargaan KPI dan masyarakat mulu. Proporsi berita seimbang ditambah sinematografi yang niat dari TVRI daerah berasa nonton berita itu kayak cuci mata. Sayangnya kamera Pak Oka Sayuti harus segera dipensiunkan agar tidak kalah dari TVRI daerah tetangga. Apa jangan-jangan kameramen TVRI Jabar itu sudah pensiun terus kameranya belum diganti ya?

NB:

Kok kayak asbun ya? Itu nama bapak temen ane yang paling banyak meliput berita di TVRI Jabar. Makanya ane hafal juga. Gak cuman karena kumisnya yang beda tipis dari bapaknya Flint Lockwood juga sih.

Pas nonton TVRI, ane lihat running text yang isinya wacana soal UN yang menambah soal dengan daya nalar tinggi. Tunggu sebentar.

Woot?

Daya nalar tinggi?

Gile lu, Ndro! *dengan gaya Kasino yang kaget di film-film Warkop*

Ane bersyukur sudah ngalamin UN terakhir 6 tahun yang lalu. Soal SBMPTN aja yang dibuat dosen bikin ane geleng-geleng tujuh keliling apalagi soal UN daya nalar tinggi.

Oke, ane bakalan curhat panjang lebar dikali tinggi tentang UN. Perasaan panjang lebar kali tinggi mulu. Emangnya ngerjain soal volume prisma apa? Daripada obrolannya melebar ngelantur gak karuan, mending diperdalam aja biar ngerti maksud cerita geje ane itu apa.

Ujian Nasional. Selalu ada kata bocoran iya. Jadi inget insiden pas UN SMP di jalan Kalimantan yang terciduk oleh Reportase Trans TV.

Jual beli soal? Gosipnya begitu. Percuma aja ada pokis yang jagain soal toh soalnya udah bocor duluan.

Jadi bungkus gorengan? Kadang-kadang. Sekolah yang baik selalu menyimpan soal UN untuk latihan buat anak kelas IX SMP dan XII SMA.

Tingkat kesulitan? Lebih membingungkan daripada game. Game aja jelas kok tingkat kesulitannya easy, medium, hard, sama insane. Tapi bukan level ala Touhou juga sih.

Kalo wacana tersebut jadi untuk UN tahun depan, kacau dah. Kasihan sama anak sekolah zaman sekarang. Pantesan aja jadi kayak generasi Awkarin cs. yang doyan dugem dan lupa belajar. Toh pulang sekolah aja sore banget kayak pulang kantor. Dulu pas zaman ane SMK itu ada tiga alasan pulang sore.

Pertama emang ane sekolah siang. Dulu sekolah ane emang lagi renovasi total makanya kelasnya gantian sama jurusan lain.

Kedua ada pemantapan. Iyalah pasti pulang sore ini.

Ketiga ada persiapan buat acara ekskul sampe malem. Ane pernah nyampe di rumah jam 10 malem buat latihan drama sama persiapan lomba di sekolah.

Ya mana bisa ada waktu istirahat sama belajar kalo pulang aja berasa anak kantor. Ane pernah baca dari salah satu komentar video YouTube mas Hansol tentang kehidupan muslim di Korea, TKI yang kerja di pabrik Korea itu masih bisa sholat dengan leluasa soalnya tiap ada kebijakan dari beberapa pabrik di sana yang menyatakan setiap dua jam sekali pasti ada istirahat 15 menit. Padahal itu jam kerja reguler kayak perusahaan pada umumnya. Lah ini sekolah berasa orang kantoran tapi rodi nyaris tanpa istirahat. Pantes aja banyak generasi micin. Jangankan buat belajar. Buat rebahan bentar di atas kasur benar-benar istirahat pun susah.

Padahal berdasarkan temuan dari ilmu neurosains, otak itu baru bekerja maksimal kalo di setiap aktivitas kita yang menggunakan otak itu diberi jeda waktu istirahat singkat untuk mengistirahatkan otak dan memulihkan kembali kondisi mental kita. Contohnya setiap belajar dua jam, beri waktu istirahat bagi diri kita 15 menit. Istirahatnya ya bener-bener istirahat bukan pantengin akun gosip Instagram. Terserah mau sholat, jalan-jalan, makan, olahraga ringan, ato mager bentar di atas sofa juga.

Ane bisa prediksi banyak murid yang bakal gagal jawab soal UN dengan tingkat nalar tinggi. Kecuali pelajar dari sekolah Kristen yang mayoritas peranakan Tionghoa, pelajar yang pernah icip MOSI/OSN/olimpiade sains internasional, pelajar dari sekolah internasional, dan pelajar dari desa yang belum terkontaminasi budaya racun ala Awkarin. Kalo gak percaya ya liat aja proporsi mahasiswa yang diterima di PTN ternama. Kebanyakan peranakan Tionghoa sama orang asli daerah yang lolos daripada penduduk kota besar. Soal SBMPTN itu emang membutuhkan nalar tinggi (dan sedikit akal bulus) kok.

Kita pengen pelajar bisa mengerjakan soal nalar sulit. Entah itu dalam bentuk soal UN ato SBMPTN. Kita pengen naikin peringkat kita dalam penilaian internasional (ane lupa namanya yang jadi tolak ukur pemerintah buat bikin kurikulum). Kita pengen pemerataan pendidikan dari Sabang sampai Merauke. Caranya cuma dua. Berikan murid untuk istirahat dan reformasi guru.

Ane jadi inget sindiran yang diucapkan Pak Djarir dalam film Si Badung.

Guru itu adalah seorang pendidik.

Gimana mo ngerjain soal susah kalo masih ada guru yang nakal? Para murid menanti mereka dengan antusiasi di dalam kelas, mereka ngacir belanja pas jam mengajar. Ane suka miris liatin guru yang ane kenal ngajar di kelas lain lagi mabal dari jendela angkot. Bahkan ada seorang guru yang tertangkap basah berselingkuh dengan salah satu wakil kepala sekolah oleh teman ane sewaktu SMK.

Guru selalu berdalih ini dan itu. Mereka dulu pernah menjadi seorang murid juga. Kenapa mereka tidak mewujudkan cita-cita semua murid dengan menjadi guru yang baik?

Murid tidak minta ini itu. Hanya butuh guru yang memahami mereka dan mendidik mereka dengan tulus.

Guru yang benar-benar tulus hanyalah guru asli di daerah terpencil, guru sukarelawan dari mahasiswa, guru TK, guru ngaji keliling, dan guru honorer. Mereka yang tidak lupa jati diri mereka di tengah keterbatasan. Kurikulum boleh berganti tapi tidak dengan pengajaran. Pengajaran tulus dari hati lebih berkesan di hati murid dan membuat si murid lebih termotivasi untuk belajar. Ketulusan membuahkan inovasi yang bisa murid-murid rasakan dan perlahan mengubah masyarakat. Ruangan kelas sederhana dan alat bantu seadanya bukanlah penghalang. Banyak murid yang sukses berawal dari sekolah darurat.

Sebenarnya banyak sekali guru di Indonesia yang cerdas. Tidak semua guru bisa menerjemahkan pengetahuan mereka pada murid-murid. Para guru ingin dekat dengan murid. Cara mereka untuk mendekatkan diri pun salah. Mereka menolak pertanyaan bahkan menertawakan murid yang bertanya apapun termasuk pertanyaan bodoh. Mereka bicara hanya untuk dirinya sendiri di kelas tanpa peduli anak didik yang seperti seekor anak ayam tersesat dari induknya. Mereka membiarkan si kura-kura belajar layaknya seekor kelinci. Mereka memberi si pendek kursi yang kakinya pun tidak sampai untuk menyentuh tanah. Mereka tidak ada di saat muridnya meminta tolong sewaktu diganggu oleh teman sebayanya. Hanya ada amarah. Pukulan keras. Sifat tak acuh yang mengerdilkan si murid.

“Ah, persetan dengan sekolah!” ia bergumul kesal meninggalkan bangku kelasnya.

Pendidikan adalah hal yang gampang-gampang susah. Percuma saja cerdas tanpa hati. Satu-satunya cara agar murid bisa memecahkan soal bernalar tinggi hanyalah pendekatan guru dari hati yang dituangkan dalam bentuk pengajaran di kelas. Pendekatan dari hati untuk menjelaskan konsep dasar bagi si kura-kura agar bisa sejajar dengan kelinci. Menyederhanakan materi rumit agar si kelinci tetap bersenang-senang dan si kura-kura tetap bisa mengikuti kelas tanpa tekanan.

Iklan

Harta Karun Penuh Kenangan dari Lagu Indonesia Lawas

Ane udah pernah bahas soal lagu barat yang pernah menemani masa kecil ane. Kali ini giliran lagu Indonesia.

NB:

Lho kok gak ada dangdut? Bukannya dangdut itu lagu Indonesia juga ya? Berhubung dangdut punya porsi sendiri jadi ya sengaja ane pisahkan. Ntar malah jadi OOT terus kepanjangan.

Sebenarnya lagu Indonesia itu banyak yang bagus di masa lalu. Hal itu salah satunya dikarenakan kebijakan nyeleneh Pak Harto di akhir era 80-an. Beliau melarang semua lagu cengeng (galau, mellow, dan sebangsanya) diputar baik di televisi maupun radio. Kebijakan itulah yang justru mendorong industri musik lokal menjadi raja di negeri sendiri bahkan bisa dinikmati hingga negara tetangga. Baik melalui jalur major atau indie, kedua jalur tersebut berkembang pesat hingga mendapat hati di masyarakat.

Contohnya adalah Mocca. Band indie asal Bandung yang lagi hiatus ini uniknya sering menjadi lagu latar di acara variety show, iklan, dan drama asal Korea. Ane pernah baca salah satu sumber yang ditulis oleh seorang fans K-Pop lokal, Mocca adalah band Indonesia yang paling terkenal di sana.

^ ane pernah denger lagu ini pas lagi nonton acara Three Meals A Day di tvN. Ane udah tahu Mocca duluan jauh sebelum orang-orang rame bicarain Eunha cover lagu ini pas mubank Jakarta.

Meskipun pada era 90-an ranah musik Indonesia pernah “dijajah” oleh Malaysia (pada masa itu emang lagu melayu Malaysia keren-keren, contohnya Isabella-nya Search), musik di Indonesia tetap menjadi tuan rumah. Beragam genre mulai dari dangdut sampai metal pun ada. Lagu-lagu lawas dari era sebelumnya pun masih banyak dikenal oleh generasi muda yang pada masa itu sering mendaur ulang lagu-lagu lawas.

Bicara soal masa kecil, ane bakal cerita sedikit lagu dari masa keemasan musik Indonesia yang pernah menghiasi masa kecil ane.

Air – Bintang

Siapa yang gak kenal dengan lagu ini? Biar gak tahu lagu ini pun pasti kenal plesetannya.

Bintang ditendang masuk ke ruang sidang

Menurut undang-undang (isi partainya sendiri) menang ….

Yup, lagu yang satu ini sering diplesetin anak SD. Biasanya lirik lagunya diganti sesuai dengan partai pendukung kita yang masih polos dan unyu-unyu. Jadi inget pas waktu SD dulu, ane suka main pemilu-pemiluan sama sodara ane. Dulu paling sering plesetin PDIP. Harusnya “coblos moncong putih” jadi “coblos monyong putih”. Malah gambar banteng PDI pun ane plesetin jadi gambar ngupil.

Berhubung sekarang udah mau deket pemilu, siapa pemimpin yang bakal kita pilih? Jangan salah pilih lho. Gunakan hak suara kita dengan bijak demi masa depan kita juga.

Caffeine – Hidupku ‘Kan Damaikan Hatimu

Bicara soal plesetan, ane inget waktu SD pernah plesetin lagu ini juga. Ane inget ada kata-kata pocong, kuntilanak, dan banyak setan lokal Indonesia yang nongkrong di lagu ini. Ane cuman inget plesetannya di salah satu bait reff-nya.

Hidupku ‘kan damai di kuburan, aku kesurupan *eh?*

Intinya mah anak SD zaman dahulu itu aya-aya waé. Biar teknologi pada masa itu belum ada media sosial apalagi internet, plesetannya pun bisa beredar dari Sabang sampai Merauke.

Jamrud – Surti Tejo

NB:

Mengandung konten dewasa. Bagi anak di bawah umur mending lewatin aja.

Jamrud itu band rock yang liriknya kocak. Salah satu hitsnya adalah Pelangi di Matamu yang jadi judul sinetron serupa di RCTI dulu. Ada salah satu lagu hits Jamrud yang ane inget betul.

Ini adalah video klip yang paling … parah. Ane baca salah satu komentar dari penonton di YouTube, lagu ini sebenarnya adalah kritik sosial terhadap kelakuan remaja yang pacaran kebablasan. Lagu ini gak bakal bisa diputer lagi di televisi mengingat liriknya aja udah menyentil.

pasang (pasang) alat (alat) kontraaaa-seeep-seeeeeh! *langsung kena semprit KPI*

Ane pertama kali liat video klip ini di MTV Ampuh. Ane yang masih polos ketawa-ketawa aja liat video klipnya yang kocak. Pas ane nonton lagi waktu kuliah, otak mesum ane langsung ngeh. Ane inget pas kuliah nonton video lagu ini lagi bareng temen ane di kelas. Reaksi temen ane …

mbak insyaf mbak

Temen ane yang pas waktu itu nonton bareng, Arie, kaget pas ane liatin video klip ini. Dia syok pas liat adegan “ena-ena” di dangau dengan kondom rasa vitacimin.

Jamrud – Waktuku Mandi

Lagi-lagi Jamrud lagi. Band yang satu ini memang terkenal dengan lirik nakal tapi nyentil. Ane ngakak setengah mampus pas pertama kali lihat video klip ini.

Intinya, miris bener orang itu pas mo mandi. Ini adalah lagu yang dulu paling sering ane puter gila-gilaan sendiri di kamar.

Naif – Piknik ’72

Jujur ane gak pernah tahu judul lagunya. Ane cuman inget lirik lagunya dari zaman TK.

makan roti buaya (dan kebayang sudah adegan makan roti buayanya)

Ane justru baru tahu judul lagunya itu pas nyari video klip dari lagu ini tadi. Lucu emang.

Koes Plus – Diana

Ane gak tahu tuh Diana Agustin Ekaputri aka si Dono melanggeng ke pelaminan sama si Ucup ato sama jejaka lain. Ah lupakan saja. Ane gak bakal ngegosipin si Dono untuk kali ini. Ane mau bahas kenangan berkaitan dengan lagu ini tentang si Dono.

Dulu pas zaman SD, si Dono itu kelewat tomboi. Makanya dia sering dianggap anak cowok daripada anak cewek. Hobinya beli lotek pake céngék 10 biji. Kebiasaan makan pedes yang kelewat nekat sampai dia dirawat di rumah sakit pas udah gedenya. Ane inget lagu ini sering ane plesetin buat ledek si Dono.

Diana, Diana, pacar Didi! (Didi itu sobatnya dari TK yang juga tetangga sebelah rumahnya)

Hasilnya, bersiaplah dengan sepatu melayang. Ane inget selalu jadi sasaran amukan si Dono pas nyanyi lagu itu.

Ebiet G Ade – Berita Kepada Kawan

Lagu ini mengingatkan ane akan satu hal … bulan puasa. Bentar lagi bulan puasa. Hanya tinggal menghitung minggu. Ane ingat iklan ini dulu menemani bulan puasa dengan cerita yang nyesek.

Buat yang pengen denger versi lengkapnya ya ada di bawah.

Intinya kalo lagi sedih, mending tanya aja pada rumput yang bergoyang.

Peterpan – Di Atas Normal

Dulu pas lagu ini pertama muncul, sempat ramai soal penampakan suara hantu yang muncul secara misterius di lagu ini. Kalo denger dari kaset ato CD, suara hantunya terdengar jelas. Itu yang saat itu lagi ramai diomongin temen-temen SD ane.

Lupakan soal ngomongin hantunya. Ane mo cerita yang kocak dari lagu ini.

Ane punya temen. Sebut saja Kakak. Dia paling tua di kelas. Gengnya sering ada akustikan main gitar di kelas. Ha? Anak SD akustikan? Dulu emang pas SD ada les gitar di sekolah kok. Kebetulan lagu ini. Pas lirik

kaki di kepala, kepala di kaki

dia mulai beraksi ngikutin lirik lagu itu. Pas coba ngikutin, brek. Cewek-cewek pada histeris liat celananya merosot terus keliatan kolornya. Sementara ane ngakak guling-guling pas liatin si Kakak yang celananya merosot.

Element – Rahasia Hati

Ini adalah lagu kebangsaan di rumah. Maksudnya lagu yang paling sering diputer orang-orang serumah pas ane masih kecil. Dulu lagu ini juga pernah jadi OST salah satu sinetron yang ada di SCTV. Zaman sinetron masih waras lho.

Ane inget lagu ini muncul pas zaman si Rifnun masih kecil. Kerjaannya di rumah nyanyi lagu ini mulu. Kalo versi si Rifnun liriknya kayak gini.

biya aku hayus mencin cang cing

Kalo versi ane pas waktu itu.

bila aku harus miceun tai dan berbagi tai itu hanya denganmu

Chrisye – Kisah Kasih di Sekolah

Sebenarnya ini adalah lagu daur ulang dari salah satu hitsnya Obbie Messakh. Tapi tetap mengena bagi ane yang saat itu masih kecil. Masa di mana ane masih polos dan sering plesetin lagu-lagu bareng temen-temen.

Ane inget plesetan yang sering ane nyanyiin bareng temen-temen waktu SD.

Sungguh aneh tapi nyata takkan terlupa

Kisah kasih di kuburan, dengan si pocong

Ya masa kecil memang ada pahit dan ada manisnya. Ada yang konyol juga malu-maluin. Ini cerita ane tentang lagu dari masa kecil yang berkesan di ingatan ane. Apa cerita teman-teman? Ditunggu komentarnya ya :3

Pemburu Kuliner: Bumi Orange

Berhubung ini konsep lama yang terabaikan….

^ entah kenapa BGM-nya ini mulu yang nongol

Buat yang gak tahu lagu jadi BGM dari kata “terabaikan” ini, itu dari game DJMAX Technika. Dulu ane sering main di Timezone deket rumah ane dulu dan lagu ini yang selalu jadi lagu pertama. Kalo gak salah ESTi itu salah satu kru dari soundTeMP. Itu lho yang bikin OST Ragnarok yang legendaris.

^ saking legendarisnya, bisa jadi referensi buat lagu pernikahan!

Bicara soal rumah … ane gak bisa main DJMAX apalagi DDR ato Pump It Up kayak dulu. Dulu kalo susah banget olahraga mainnya ke Timezone dengan motivasi main biar bisa kurus. Lah di rumah ane yang sekarang mana ada kayak gitu. Jangankan Timezone buat olahraga cara santai, jalanannya aja jelek buat dipake naik sepeda keliling. Adanya ane malah celaka terus nyemplung ke selokan kayak banjir deket tempat sodara kemaren. Satu-satunya hiburan ya berburu kuliner.

Yup, sesuai judulnya ane bakal bahas soal berburu kuliner di Bumi Orange. Tempat yang kalo sekalinya banjir itu rese banget. Kemaren udah mumet lepasin sampah nyangkut dari rantai. Ya semoga aja pasar yang potensial seperti ini bikin warganya peduli. Seenggaknya sih peduli akan drainase dan pengelolaan sampah yang masih aja buang sampah sembarangan. Soalnya ya pembeli mau gak ngacir gimana kalo pas mo belanja eh kebanjiran.

NB:

Ini cuman rekomendasi ane buat nongkrong ato beli jajanan di Bumi Orange. Seperti ulasan ane sebelumnya, tulisan bersifat relatif bergantung pada selera pribadi. Jadi yang ane bilang enak itu belum tentu enak bagi orang lain.

Hal-Hal Sepele Mengenai Bumi Orange

Orang-orang lebih banyak tahu soal Bumi Orange yang banjir sama banyak jajanan enak. Nah, ane mo berbagi tips soal jajan dan nongkrong di sana.

Budget yang kudu dibawa? Minimal 20k. Itu pun sudah puas beli ini itu ditambah minum. Jajanan di sana murah dan enak.

Waktu yang tepat buat main ke sana? Ada dua pasar yang dikenal di sini. Pasar di setiap sore dan pasar hari Minggu. Mo hari biasa ato bulan puasa pun jadwalnya sama.

Ane saranin kalo mampir sore-sore itu mending di atas jam 4 sore. Dulu enak ba’da Ashar udah banyak pedagang. Eh sekarang malah sorean -.-”

Nah, pas hari Minggu ane saranin udah mampir dari jam 6. Soalnya pedagang udah siap-siap di sana dari ba’da Subuh. Udah gitu masih bisa ikut senam yang mulainya sekitar jam 7. Badan seger iya. Makanan enak di kantong pun dapet :d

Buat yang pengen datang agak siangan, ane saranin dateng sebelum jam 10 pagi. Soalnya di atas jam 10 dagangannya udah dikit jadi gak banyak pilihannya.

Rekomendasi Ane

Nah, ini rekomendasi ane buat jajan di sana.

Pertama, angkringan. Itu salah satu pedagang pertama yang udah lama berdagang di pasar sore. Dulu pedagangnya gak banyak. Ada sate maranggi yang sekarang pindah ke deket ITB, soto, nasi goreng, sama angkringan. Sudah jelas angkringan terkenal dengan makanan murah meriah tapi kenyang.

Hal yang menarik dari angkringan ini adalah … sambelnya. Ane aja yang penyuka pedas ditambah vonis dokter aja gak sanggup makan sambel di sini banyak-banyak. Rasa sambelnya pas cuman pedesnya aja yang rese.

Kedua, Orange Bubble. Tempatnya itu di sebuah rumah yang juga rumah dari pemilik usahanya. Kalo dari gerbang Orange itu di sebelah kanan jalan. Petunjuknya ada sebuah meja tepat di depan kedainya dan kelihatan banget dari jalan. Ada plangnya terus tempat nongkrongnya. Di sana harganya terbilang rasional dengan rasanya. Harganya mulai dari 7k dan bebas tambah topping apa saja sesuai selera. Pantesan aja anak-anak sekolahan betah nongkrong di sana.

Rekomendasi ane sih … berhubung ane suka yang aneh-aneh jadi rasa apel. Kudu dicoba buat coba rasa yang antipasaran.

Ketiga, tukang ayam goreng dengan tenda merah. Sekilas sih mengingatkan ane akan Ayam Bejek Ciwaruga dengan jam buka nyelenehnya. Kebanyakan penjual ayam goreng mulai berdagang dari sore. Nah, tukang ayam goreng yang satu ini mulai berdagang dari sekitar jam 12. Soal rasa dan harganya meujeuh lah. Harga mulai dari 13k sudah termasuk nasi.

Keempat, Mie Pangyam. Belakangan ini emang lagi tren soal mi pangyam. Padahal mah mi ayam pake taburan pangsit. Buat yang pengen coba ya bisa mampir ke sini. Ane biasa coba beli di sini tanpa pake saos botolan ala tukang bakso yang jadi bumbu dasarnya. Soal rasa ya lumayan dan taburan ayam suwirnya pun gak kering apalagi liat. Harga mulai dari 8k per porsi.

Di sana gak cuman jual itu kok. Ada juga seblak, kwetiau, dan mie yamin. Lagi-lagi ane ngomongin soal sambel. Sambel di sini pedasnya … masih di bawah sambel angkringan tapi sama-sama bikin bibir panas. Jadi gak disaranin banyak-banyak buat yang punya riwayat penyakit maag.

Kelima, telur gulung bihun yang cuman jualan di sore hari. Pedagangnya berjualan naik motor. Setusuk harganya sekitar 1k tapi ane saranin bawa duit minimal 5k. Ada pilihan beragam bumbu yang bisa kita pilih sesuai selera. Bumbu klasik saos cair ato bumbu tabur pun terserah kita.

Ane gak bisa ngasih banyak rekomendasi soalnya pedagang di sana masih sedikit. Uniknya, pasar di sana masih bertumbuh. Bahkan berdasarkan pengamatan ane pas mampir ke sana, setiap bulan pasti ada pedagang baru. Entah itu pedagangnya berasal dari penduduk Bumi Orange asli ato komplek sekitar seperti Permata Biru. Jadi daftar ini bisa berkembang apabila ada pedagang baru lagi.

Awas, Lingkungan Kita Beracun!

Tunggu. Maksudnya beracun di sini beracun yang emang bener ada racunnya ‘kan? Iya. Ane ngomongin soal lingkungan kita yang tercemar.

Apa ini clickbait? Gak. Ane emang mau bahas soal lingkungan beracun.

Perlu ane jelaskan sebelum curhat panjang lebar dikali tinggi mengenai masalah ini. Ane mau cerita soal racun dalam lingkungan kita. Racun yang kita kenal ada dua jenis.

Pertama, racun yang jelas secara fisik. Contohnya racun tikus, polusi, limbah B3, dan kopi Vietnam campur sianida ala chef Jessica.

sumber: Web Top News

maaf, saya sudah insyaf jadi tolong doakan saja yang terbaik 🙂

Kedua, racun yang tidak jelas secara fisik. Contohnya adalah emosi negatif, lingkungan pergaulan tidak sehat, dan doktrin-doktrin buta tanpa landasan jelas menganggap dirinya yang paling benar.

Berhubung udah banyak tulisan bahas racun yang pertama, ane mau sentil soal racun yang kedua.

Adik ane, si Rifnun, sering curcol soal kebiasaan bangsa ini yang gak akan bisa maju-maju. Ada banyak faktor yang bikin bangsa ini gak maju. Salah satunya ya lingkungan terkecil kita itu beracun. Gak cuman racun berasal dari aktivitas rumah tangga seperti bakar sampah seenak jidat atau limbah industri dari pabrik dekat rumah kok. Ada racun yang berwujud dalam bentuk KDRT. Ada racun yang berbentuk lingkungan seperti “kejebak dari lahir” tinggal di kawasan preman ato prostitusi. Ada racun berbentuk debat kusir tiada henti urusin politik tanpa aksi nyata. Ada yang berwujud fanatisme buta menganggap dirinya yang paling benar. Padahal seinget ane, fanatisme itu malah dilarang oleh agama. Ada yang berwujud secara pelan-pelan seperti pengaruh teman sebaya.

Nah, bagaimana cara kita mengatasinya? Sama aja kok kayak penanganan racun dan limbah pabrik. Pilah, olah, lalu buang dengan baik tanpa merusak lingkungan. Jangan lupa dengan AMDAL, penataan pusat pengelolaan limbah yang baik, pemeliharaan rutin, kurangi penggunaan racun yang dirasa gak perlu, dan gantilah yang lebih baik bagi diri kita juga lingkungan kita.

Apa aja sih pertanda dari lingkungan kita yang mulai beracun? Ane jelaskan dalam poin-poin singkat.

  1. Hal sepele lumrah dibicarakan.
  2. Lebih banyak mulut daripada telinga apalagi di lingkungan terdekat kita.
  3. Semua orang selalu memandang kita salah tapi kita tahu salahnya di mana. Mereka juga gak mau ngasih tahu apalagi ngasih solusi agar kita jadi lebih baik.
  4. Semua yang salah jadi lumrah. Contohnya ya ibu-ibu yang doyan bergosip ria.
  5. Lelucon yang tidak sepatutnya. Lucunya itu bisa dibilang lebih menjurus pada tindakan sarkasme yang merugikan orang lain.
  6. Merasa dirinya lebih baik dan tidak mau terbuka dengan kritik/saran.
  7. Banyaknya kekerasan baik secara fisik maupun lisan.
  8. Rumah berasa hidup di zaman penjajahan. Niatnya pengen santai eh malah jadi kerja rodi dan romusha.
  9. Banyak hal yang tidak baik dilihat oleh mata. Contohnya ya … sebutin gak ya?
  10. Lebih banyak nyinyir daripada apresiasi apalagi bantuin. Contoh nyatanya adalah para ilmuwan yang sekolah di luar negeri namun enggan balik lagi gara-gara itu.
  11. Potensi baik dipangkas lebih pendek daripada bonsai.
  12. Semua hanya melihat dari sisi negatif jadi secara tidak langsung membentuk pola pikir yang negatif akan suatu peristiwa. Contohnya adalah proporsi berita di televisi yang lebih banyak negatif daripada positifnya.
  13. Perdebatan menjadi kebutuhan primer yang sama pentingnya seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Kenapa ane bilang semua ini beracun? Paling banyak yang nyinyir gak masalah. Efeknya itu paling kerasa apabila kita terjun langsung ke masyarakat, bagi pertumbuhan anak-anak, dan beberapa tahun mendatang. Ane pernah lihat video viral tentang seorang anak kecil nonton acara dangdutan dalam sebuah pesta pernikahan. Ia berada tepat di bawah panggung saat si penyanyi dangdut bergoyang seronok hingga memperlihatkan pakaian dalamnya. Bagi warga itu hal yang lumrah. Tapi gimana dengan si anak kecilnya? Apa udah gedenya dia jadi anak yang mesum ato lebih ekstrim lagi jadi *maaf* penjahat kelamin? Generasi micin dan kids jaman now yang jadi sindiran di internet pun ya salah satu faktornya adalah lingkungan yang beracun tadi.

Nah, kita sudah coba berusaha. Bagaimana kalo kita sudah berusaha tapi gak ada perubahan? Jangan bersedih. Tuhan bersama kita kok. Kita tetap sabar. Pas ada kesempatan, kita minta bantuan pihak ketiga yang benar-benar netral untuk membantu menangani masalah kita. Biar kita ada dukungan secara moral, spiritual, dan mental agar tetap tegar memutus mata rantai lingkungan beracun itu. Jangan sungkan buat curhat ke teman terdekat. Jangan sungkan mengadu pada konselor, terapis, psikolog, pemuka agama, bahkan pihak berwajib mengenai masalah kita. Harus tetap konsisten untuk berubah biarpun kecil. Itu lebih baik daripada diam dan membiarkan keburukan begitu saja. Toh kebaikan itu menyebar seperti wabah penyakit. Biar kecil tapi bisa berdampak besar bagi lingkungan kita bahkan kemajuan suatu bangsa.

Ini bukan zamannya lagi kita hidup di lingkungan yang beracun seperti sekarang. Ini saatnya kita bangkit agar jadi lebih baik. Tetap ingat mulailah dari diri sendiri dengan hal-hal kecil yang bisa kita lakukan saat ini juga.

Memandang Alay dari Bawah Bukit

Sebenarnya itu permainan kata dari lirik lagu Pemandangan.

Memandang alam dari atas bukit…

Jadi ane bakal cerita tentang fenomena 4l4y. Bukan tentang “apa sih 4l4y?” melainkan ya “kenapa sih 4l4y?”. Mending kita tanya Lolita dulu sebelum mulai.

Kata Lolita dalam lirik lagu Alay,

Alay adalah anak layangan suka kelayapan dilihatnya jijay.

Alay itu singkatnya adalah orang yang tinggal di diskotik. Bukan diskotik dalam artian secara literal melainkan di sisi kota saeutik. Mun teu ngartos basa Sunda mah kieu. Singkatnya orang 4l4y itu adalah penduduk yang tinggal di pinggiran kota. Alasan mereka disebut “anak layangan” pun masuk akal juga. Rata-rata orang yang tinggal di kawasan tersebut memiliki warna kulit cenderung lebih gelap dibandingkan penduduk kota umumnya akibat terkena sengatan matahari.

Jauh sebelum istilah 4l4y mulai naik daun di awal tahun 2010 (kalo gak salah sih lagu Alay juga tenar pas masa itu), kita sudah mengenal kata-kata yang berkonotasi serupa. Tiap masa memiliki kosa kata unik tersendiri. Ane cuman tahu kampungan, norak, kamseupay, katro, ndeso, dan udik.

Melihat Alay dari Film

Benar kata salah satu kritikus film mengenai film adalah produk budaya. Film dapat mencerminkan potret dari kehidupan di suatu masa secara akurat. Mulai dari latar belakang sosial, budaya, politik, hingga fenomena lazim yang ditemukan di masanya. Contoh paling jelasnya adalah kartun Scooby Doo. Ciri khas dari kartun ini benar-benar menggambarkan suasana yang lumrah ditemukan di era tahun 60-an. Mulai dari gaya berpakaian Mystery Inc, peralatan yang digunakan, cara mereka menggambarkan suatu masa, hingga budaya-budaya populer yang tersemat di dalam setiap episodenya.

sumber: Fanpop

yaiks! *sambil ngacir pas liat hantu*

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Fenomena 4l4y mulai berakar dari era keemasan film Indonesia, era 80-an. Pada masa itu banyak bermunculan karakter-karakter yang terindikasi mengalami gejala kampungan. Contohnya beberapa karakter yang diperankan oleh Ida Kusumah. Siapa yang tidak kenal artis yang satu ini? Semasa hidupnya beliau membintangi banyak judul film dan sinetron. Beliau identik dengan peran-peran yang selalu bicara dalam dialek Sunda.

sumber: Liputan 6

hebring euy!

Salah satu karakter yang paling ane inget itu pas beliau membintangi karakter ibunya Vera dalam film Catatan Si Boy IV. Ane ingetnya bukan karena logat Sunda nu kentel. Karakternya itu mentang-mentang suaminya OKB aka orang kaya baru, eh tingkahnya malah … singkatnya ya kayak ada orang kampung yang baru nemuin emas segepok jatuh dari langit.

Orang Kampungan versus Orang Kotaan

Jujur ane paling kesel sama orang kota. Soalnya mereka selalu menciptakan pembicaraan aneh-aneh yang berlagak sok keren padahal sama-sama 4l4y juga. Bedanya mereka selalu memandang orang lain yang “lebih rendah” secara status dari mereka dengan julukan yang ya biarkan saja mereka berkata apa.

Harusnya gak gitu-gitu juga kalee. Mentang-mentang status sosial lebih baik malah seenak jidat menjuluki anak orang. Toh Tuhan juga gak pernah menilai orang dari status sosial. Tuhan hanya melihat seseorang dari amal ibadahnya semata.

Biang Keroknya 4l4y

Soalnya kalo gak ditangani adanya malah bikin malu diri kita sendiri. Anggap aja kayak orang penderita chuunibyou aka sindrom-delusi-kelas-delapan-dengan-khayalan-gak-jelas yang sudah insyaf eh aibnya dibuka lagi.

Sebenarnya ada satu kata yang menggambarkan secara garis besar fenomena 4l4y yang makin ke sini makin menjadi-jadi.

Kesenjangan

Apa itu kesenjangan? Ane kutip dari KBBI versi luring.

ke·sen·jang·an n 1 perihal (yg bersifat, berciri) senjang; ketidakseimbangan; ketidaksimetrisan; 2 jurang pemisah:- antara si kaya dan si miskin semakin lebar

Kesenjangan di sini gak cuman soal ekonomi. Pendidikan juga perkembangan teknologilah yang juga menjadi akar dari kasus 4l4y.

Pas ane nulis ini, ane sambil nonton Si Badung di TV kabel. Film anak-anak yang menceritakan sekelompok anak badung tapi banyak kalimat-kalimat yang menyentil kehidupan di masa sekarang. Mulai dari anak-anak yang tidak mau belajar terus maunya main-main aja hingga guru yang lebih menjurus pada karyawan daripada sebagai seorang pendidik. Pantesan aja di masa itu film ini panen nominasi FFI. Ternyata hal yang disentil dalam film lawas ini malah kejadian di masa sekarang.

Akar dari fenomena 4l4y ini adalah era Pak Harto di masa Orde Baru. Tepatnya di awal era 80-an yang menjadi puncak dari kemajuan perekonomian Indonesia. Siapa sih yang gak kenal dengan meme ini?

sumber: meme Indonesia

uena’e zamane bapake toh

Memang hidup di Orde Baru itu emang gak enak. Semua serba dibatasi termasuk kebebasan untuk mengutarakan pendapat. Tapi di sisi lain hidup di Orde Baru enak di mata generasi di atas orang tua kita. Perekonomian Indonesia stabil. Swasembada pangan. Keamanan terjamin. Orang miskin masih bisa makan enak dan tidur nyenyak. Banyak kebijakan Pak Harto yang bikin masyarakat kesel seperti kasus petrus aka penembakan misterius. Tapi ada juga kebijakannya juga yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Salah satunya ane baru tahu kalo Pak Harto sempat melarang lagu-lagu mellow galau mendayu-dayu di akhir tahun 80-an. Alasan beliau pun sederhana: bikin orang Indonesia gak produktif. Liat aja anak muda zaman sekarang. Contohnya cewek aja. Mereka mudah baper apalagi terlena fantasi cogan drakor, novel di Wattpad, sama webtoon.

Ane pernah baca satu tulisan opini yang dibukukan di perpustakaan. Salahnya Indonesia pada masa itu adalah terlalu cepat melakukan pertumbuhan ekonomi tapi tidak diiringi dengan pertumbuhan sumber daya manusianya. Ah kata siapa? Orang-orang zaman dulu lebih pinter kok. Cuman ya karena itu tadi. Mentang-mentang liat emas segepok jatoh dari langit, orang Indonesia malah terlena dan enggan untuk belajar. Akhirnya ilmu di sekolah jadi pepesan kosong. Mereka lebih seneng hedon daripada belajar.

Toh ngapain juga capek-capek belajar kalo duit dan kestabilan ekonomi udah ada di depan mata, pikir kebanyakan masyarakat kita pada saat itu.

Mereka gak sadar pola hidup seperti itu tertanam di alam bawah sadar dan memperparah kondisi mereka ketika pemerintahan Orde Baru jatuh di tahun 1998. Ane jadi inget lelucon temen-temen sekelas ane pas zaman SMK. Berhubung di sana cowok-cowoknya malah lebih rajin ngegosip daripada anak-anak ceweknya ya ane tahu dikit lah lelucon mereka.

Kadé mun cari awéwé geulis. Gayana wé hadé tapi imahna nyungsep dina gang.

(terjemahan bebasnya: cewek itu gayanya doang selangit padahal rumah di gang senggol)

Kebanyakan orang Indonesia itu pola pikirnya begitu. Paling yang tidak terkontaminasi parah itu di pedesaan dengan kondisi alam sulit nan indah dan lekat dengan budaya mereka yang religius.

Di Bandung sendiri ada istilah “diskotik”. Bukan diskotik tempat dugem ye. Diskotik itu sebenarnya singkatan yakni di sisi kota saeutik. Maksudnya adalah pemukiman rural yang berada di tepi perkotaan. Biasanya penduduk yang tinggal di sana adalah pendatang yang sulit mencari tempat tinggal di kota akibat harga tanah perkotaan yang mahal. Mereka ingin hidup layaknya orang-orang kota. Tapi ya apa daya. Secara ekonomi tidak begitu baik, pendidikan rendah, dan diperparah dengan pola pikir “gaya aja dulu, isi otak belakangan”. Akumulasi dari hal-hal itulah yang menjadi biang kerok merebaknya fenomena 4l4y.

Parahnya lagi mereka bangga dengan status itu. *tepok jidat*

Hidup di Kota Bak Kura-Kura yang Mengejar Kelinci

Eits, kata siapa cuman orang miskin yang bisa 4l4y? Orang kaya juga bisa keles. Contoh yang seperti ini banyak ditemukan dalam sinetron. Salah satunya ada dalam sitkom OKB yang pernah tayang di Trans7 beberapa tahun silam. Sesuai dengan judulnya, sitkom OKB memang menceritakan kehidupan tentang “orang kaya baru”. Gegar budaya yang dialami oleh keluarga Parto menjadi fokus utama di setiap episodenya.

Sitkom OKB masih memperlihatkan sifat kalem dari orang kaya baru. Versi lebih ekstrimnya? Coba sesekali lihat film Lenong Rumpi 2. Pindah rumah ke komplek elite aja kudu ritual keliling satu komplek. *gubrak*

Ane inget lagi lelucon di internet. Kali ini adalah tips membedakan orang kaya beneran dan orang kaya “jadi-jadian”.

Orang kaya beneran itu gak bakal bicarain kekayaan mereka di luar komunitasnya. Mereka sebisa mungkin tampak merendah di hadapan orang lain karena tidak mau dicap pamer apalagi sombong.

Orang kaya “jadi-jadian” itu selalu membanggakan kekayaan mereka di hadapan orang lain. Sifat itulah yang membuat mereka dianggap sebelah mata di antara masyarakat umum apalagi orang kaya beneran.

Contoh yang ane inget itu temen sekelas ane pas masih ngampus dulu, Diaz. Keturunan Tionghoa asal Subang yang bisa dibilang cuek bebek. Gayanya biasa aja padahal orang tuanya adalah orang kaya. Biar dia punya mobil sendiri dan bisa pergi ke kampus bawa mobil, dia lebih sering nebeng motor temennya ato bawa motor sendiri. Dia baru bawa mobil kalo pulang ke Subang ato disuruh anak-anak buat angkut keperluan kelas. Waktu itu ane ngobrol sama dia kalo sebenarnya dia itu orangnya gak suka hedon. Orangnya nyante aja berasa kayak bukan orang tajir.

Sayangnya pola pikir orang-orang golongan menengah ke bawah tidak seperti itu. Mereka ingin memaksakan diri berbaur dengan golongan elite tapi ya gak kesampean. Malah jatohnya jadi 4l4y karena minimnya faktor pendidikan. Ya salah sendiri juga duit buat belajar yang bener dipake buat beli peralatan make up, catokan, bahkan nyalon.

Ane jadi inget cerita Bunda Susi, guru PKn SMK yang juga Wakasek Kesiswaan pada masa itu. Beliau pernah cerita di kelas soal beliau pernah menangkap basah salah satu murid yang menunggak SPP 3 bulan. Eh tahunya duit SPP malah dipake buat pasang hair extension sama nyalon. Orang tuanya yang secara ekonomi tidak mampu pun syok pas tahu anak mereka dipanggil ke sekolah. Mereka sudah banting tulang sampe minjem duit sana-sini buat bayar SPP eh tahunya ….

sumber: Photobucket

duit SPP dipake buat nyalon, sungguh … ter-la-lu!

Okelah anggap diri kita itu orang miskin yang tinggal di kawasan padat penduduk. Okelah secara ekonomi kita itu menengah ke bawah. Okelah secara pendidikan pun SD gak tamat. Apa kita bisa mengubah nasib kita? Bisa. Kita tahu secara ekonomi dan pendidikan kita itu hanya kura-kura. Jangan memaksakan diri jadi kelinci. Jadilah diri sendiri dengan kerja keras dan belajar. Kita boleh ngayal jadi kelinci tapi jadikan itu sebagai motivasi agar lebih maju.

Diledekin orang sekampung gara-gara jadi anak rajin? Bodo amat! Cuek aja. Selama kita bener ya ngapain kita malu? Toh pendidikan itu jauh lebih baik daripada gaya. Pendidikan dapat menciptakan tren tapi tren sendiri itu tidak bisa menciptakan sebuah pendidikan. Kalo bisa ya jadi agen perubahan bagi lingkungan kita. Contoh nyatanya adalah seorang di Solo yang berhasil mengubah lokalisasi di sana (ane lupa namanya, dulu ane pernah nonton di TV) menjadi kawasan industri produktif yang bisa menutup total lokalisasi tersebut. Bahkan ane sendiri yang sering mudik ke Solo pun gak tahu kalo di sana pernah ada lokalisasi.

Ah tapi sekolah ‘kan mahal. Lebih mahal mana dengan memenuhi gaya hidup tersier? Contoh sederhananya adalah sebatang rokok. Ane pernah baca artikel mengenai kehidupan orang miskin di Jakarta. Kalo gak salah, rata-rata orang miskin di Jakarta memiliki penghasilan sekitar 20 ribu rupiah perhari. Anehnya sebagian besar dari penghasilan mereka dihabiskan untuk membeli rokok. Satu-satunya cara untuk mengentaskan kemiskinan dan menghindarkan diri dari perilaku 4l4y ya hidup sewajarnya, sederhana, dan syukuri apa adanya. Toh peranakan Tionghoa biar tajir juga memang sengaja didik anak mereka prihatin agar mereka lebih bijak menyikapi kekayaan.

Apa boleh “nakal” dikit dengan memenuhi kebutuhan tersier? Boleh sebagai penghargaan bagi diri sendiri karena mau bersabar. Tapi ya inget sama kondisi keuangan kita juga.

Sebenarnya 4l4y bisa diberantas dengan pendidikan. Sekarang udah zamannya internet. Biar kata orang Indonesia gak melek buku, toh masih bisa belajar lewat internet. Udah gitu ya gak usah maksain jadi kelinci alias tuturut munding. Toh kelinci aja bosen jalannya terlalu cepet. Contohnya aja para petinggi Silicon Valley, tempat yang terkenal dengan inovasi dan teknologinya di Amerika, malah sengaja menyuruh anak-anaknya jauh dari teknologi dan kehidupan modern kok.

Lha kok bisa tahu? Makanya baca. Jangan cuman baca status mantan terus galau mulu. Udah gak zaman deh. Lebih baik kita maju dari zaman 4l4y jadi orang yang lebih baik lagi.

Fisika Buat Gantung Jemuran

Ane inget perkataan Pak Agus, salah satu guru di tempat les dulu yang juga penulis. Beliau ketawa pas ane liatin jurnal ane gara-gara ngomongin fisika tapi buat gantung jemuran. Emang bener? Ane serius.

sumber: Shramik Enterprises

gantungan jemuran pun ada fisikanya

Fisika adalah pelajaran dari anak SMK jurusan IPA (secara teknis sih begitu, kelompok Teknologi dan Rekayasa = IPA) yang paling sering kepake dalam keseharian. Fisika sering muncul ketika kita melakukan aktivitas rumah tangga seperti menyapu rumah, mengepel lantai, hingga mencuci.

Apa ini tulisan clickbait? Gak. Ane memang mau nulis tentang pemanfaatan materi fisika di sekolah untuk menjemur pakaian yang efektif. Tulisan ini ane buat berdasarkan pengalaman pribadi ane selama mencuci.

Musim hujan gini ane kesel. Sekalinya cuci baju banyak, cuciannya baju dengan bahan-bahan yang tebal seperti jaket, eh pas udah dijemur pun langsung hujan. Sementara itu di rumah ane yang sekarang pun tempat jemurannya gak sebaik rumah ane dulu. Emang sih sama-sama tertutup jadi aman biar ada hujan gede juga. Cuman ya hasil baju yang dijemur pun gak maksimal dan sering bau apek. Soalnya area maksimum yang mendapat sinar matahari secara efektif itu luasnya gak lebih dari 1 m2.

Bagaimana cara menyiasati masalah itu? Itu gunanya pelajaran Fisika yang kita gunakan selama di bangku sekolah. Modalnya pun gak usah Fisika lanjut. Cukup mekanika sederhana dan materi kalor yang udah kita kenal dari SD juga SMP.

Mulai Menjemur Pakaian

Alat yang kita butuhkan pun hanya peralatan yang biasa kita gunakan untuk menjemur pakaian: tiang jemuran, gantungan baju, penjepit pakaian. Jika ada tambahan pun itu hanya katrol.

Ngapain juga jemur pakaian pake katrol? Waras ceu? Waras kok. Lagian ane nulis di rumah bukannya di Riau 11.

Katrol itu berguna untuk mengangkat cucian ke area jemuran kita. Sebenarnya sih ane udah protes ke Emak ane buat pasang katrol ke area jemur eh malah gak digubris. Hal itu sangat berguna banget buat orang yang area jemurnya itu di bagian paling atas rumah. Khususnya buat orang yang sudah lanjut usia, anak-anak yang belajar mencuci pakaian sendiri, ibu hamil, dan orang yang pernah punya cedera macam ane. Jadi kita gak perlu capek-capek gotong jemuran ke lantai atas rumah. Kalo mau turunin pun tinggal simpen di keranjang ato baskom yang hubungkan dengan katrol. Mudah ‘kan?

Pakaian Berwarna dan Pakaian Putih

Ada gunanya tips yang ada di belakang bungkus deterjen. Pisahkan pakaian berwarna dan pakaian putih sebelum dicuci. Tips itu sangat berguna dalam kasus ini. Jadi sebelum mencuci, pastikan kedua pakaian itu sudah kita pisahkan terlebih dahulu.

Kenapa kita harus pisahin pakaian itu? Gak cuman buat mengatasi kelunturan pas dicuci kok. Itu dia gunanya materi Fisika di sekolah. Setiap warna memiliki karakter berbeda dalam menyerap panas. Semakin cerah warna pakaian yang kita jemur, semakin besar peluang cahaya dan panas untuk dipantulkan kembali. Begitu pula sebaliknya. Semakin gelap warna pakaian yang kita jemur, semakin banyak pula cahaya dan panas yang diserap oleh pakaian. Hal itu juga yang mempengaruhi cepat atau lamanya pengeringan pakaian.

sumber: St Croix Cleaners

baju aja bisa gandengan, kamu kapan? :d

Masih gak percaya? Coba kita lakukan percobaan sederhana dengan baju kotor yang sedang kita cuci. Ambil dua baju dengan bahan yang sama seperti katun. Pastikan kedua baju itu memiliki warna berbeda. Jemur kedua baju itu di waktu bersamaan lalu amati baju tersebut. Baju mana yang lebih kering? Cara mudah untuk mengetahuinya cukup dengan menggunakan sentuhan tangan.

Pakaian Tebal dan Berat

Jujur ane males banget kalo cucian ane mengandung bahan-bahan tebal. Contohnya jaket, selimut, dan celana jeans. Capek tau peresnya! Udah gitu ya boros air juga pas musim hujan pun gak cepet kering.

Masalahnya di musim hujan seperti ini pasti kita banyak pake jaket. Entah itu untuk sekedar menghangatkan tubuh ato jaket tahan air yang bisa kita gunakan di musim hujan. Gimana caranya dengan kondisi sinar matahari terbatas tapi jaket tetep kering? Itu dia fungsinya kalor.

Apabila ruang jemur di rumah kita berada di luar ruangan, itu enak. Jaket, selimut, celana jeans, sampe bantal bau jigong pun bisa cepet kering. Masalahnya kita menjemur di dalam ruangan dengan luas permukaan tempat yang terkena sinar matahari langsung itu sangat terbatas. Bagaimana cara mengatasinya? Cuci duluan. Jangan lupa pisahkan warna gelap dan terang agar baju kita lebih kering maksimal. Taruh bahan berat tersebut di tempat dengan sinar matahari yang melimpah.

Waktu adalah Cucian

Sebenarnya judul bagian ini adalah plesetan dari pepatah “waktu adalah uang”. Bicara soal memplesetkan pepatah, ane serius dengan judul ini.

Apa arti dari “waktu adalah uang”? Setiap detik itu sangat berharga. Begitu pula dengan plesetannya.

Waktu kita mencuci dan menjemur pakaian itu sangat berpengaruh. Apalagi dalam kondisi sinar matahari terbatas seperti musim hujan dan menjemur di dalam ruangan.

Semakin awal kita mencuci pakaian, semakin cepat pakaiannya kering. Pas bulan puasa aja, ane biasanya mencuci dari habis sholat Subuh. Gak cuman buat mengatasi antrean mesin cuci di rumah sih. Ane melakukan eksperimen kecil antara hubungan waktu mencuci dengan tingkat keringnya pakaian di hari setelahnya. Ternyata pakaian yang ane jemur di pagi buta itu jauh lebih kering dibandingkan dengan pakaian yang ane jemur di siang hari. Apa yang mempengaruhi hal itu? Lama waktu pakaian mendapat kontak langsung dengan sinar matahari.

Jika kita mencuci di pagi hari lalu menjemurnya, rata-rata waktu kering pakaiannya itu sore hari. Tidak peduli kita mencuci manual dengan tangan atau mesin cuci. Dalam kondisi matahari terbatas pun cukup memerlukan waktu satu hari penuh untuk kering sempurna.

Kalor, Massa, dan Luas Permukaan

Jujur aja pas SMP ane paling oon soal materi kalor. Sekalinya remedial pun udah gak kehitung banyaknya. Anehnya justru materi yang bikin ane kesulitan pas SMP dulu lebih berguna dalam masalah mencuci.

Kenapa judulnya seperti itu? Mari kita nostalgila nostalgia lagi materi kalor di SMP. Berhubung ane bukan orang yang pinter Fisika jadi penjelasannya ane sederhanakan sesuai yang ane inget dan paham.

Intinya kalor itu adalah perpindahan panas. Besar kalor yang diterima suatu benda itu bergantung pada suhu, massa suatu benda, dan kalor jenis.

Nah, apa hubungannya kalor, massa, dan luas permukaan saat mencuci? Jawabannya adalah sinar matahari. Pakaian kita mendapatkan panas dari sinar matahari dengan cara radiasi. Tingkat keringnya suatu pakaian itu sangat bergantung akan ketiga hal itu. Abaikan saja faktor tambahan seperti tekanan udara karena pada kasus ini kita menjemur di tempat jemuran yang sama. Masa iya jemur kolor di rumah tetangga apalagi di puncak gunung. Dicolong sama maling kutang bisa gawat tuh.

Anggap saja kita sedang mendidihkan air. Pancinya sama, kompor yang dipake sama-sama pake api besar, tapi jumlah airnya berbeda. Kenapa panci dengan air yang lebih sedikit lebih cepat mendidih daripada panci yang diisi air penuh? Jelas lah massa dari segelas air berbeda dengan massa dari 1 L air. Hal itu juga menjelaskan pula soal menjemur jaket yang lebih lama daripada menjemur kolor. Secara massa pun jaket jauh lebih berat daripada kolor. Makanya jaket bisa kering lama daripada kolor juga.

Bagaimana dengan luas permukaan?

Pernah lihat orang minum kopi pake cawan? Minum kopi bukannya pake gelas? Kok bisa? Itu emang beneran ada lho. Tepatnya di Aceh kawasan Meulaboh dan beberapa orang tua di kawasan Jawa. Di sana justru penikmat kopi minumnya pake cawan. Perhatikan baik-baik kopi yang diminum dari gelas dengan kopi yang diminum dari cawan. Kopi mana yang lebih cepat dingin? Jawabannya adalah kopi yang diminum dari cawan.

sumber: White Horse Coffee

ini cawan alias pisin alias saucers ala kids jaman now

Cawan memiliki luas permukaan lebih lebar daripada gelas. Itu sebabnya panas yang bebas dari kopi lebih banyak daripada di gelas. Singkatnya luas permukaan sangat berpengaruh pada penerimaan dan pelepasan kalor.

Bagaimana jika ada dua benda memiliki massa yang sama? Kita coba lakukan eksperimen sederhana sewaktu menjemur pakaian. Jemur dua pakaian yang sejenis dengan posisi berbeda. Pakaian pertama kita jemur dengan melipat vertikal dan pakaian kedua dengan melipat horizontal. Pakaian manakah yang lebih cepat kering? Pakaian yang kita jemur lebih lebar lebih cepat kering.

Baju yang Menggantung

Bagaimana jika kita menjemur pakaian dengan gantungan baju? Pernah perhatiin orang lagi masak steik? Kenapa satu potong steik yang ketebalannya sama, massanya sama, tapi bisa beragam tingkat kematangan?

steak-doneness-for-noob
sumber: Pinterest

buat tambahan informasi tingkat kematangan steik

Jawabannya itu tadi. Kalor. Proses perambatan kalor itu ada yang jalurnya pendek dan ada yang panjang bergantung pada ketebalan, jenis partikel, luas permukaan, dan faktor lainnya yang mending tanyain aja pakar fisika. Baju yang digantung di jemuran pakaian lebih lama keringnya daripada baju yang dijemur di jemurannya langsung. Soalnya ada faktor tambahan seperti ketebalan. Panas gak langsung merambat dari ujung kaki ke ujung rambut. Panas merambat bertahap seperti halnya memanaskan air dan memasak steik.

Jadi gimana caranya biar cepet kering walau pake gantungan baju? Beri jarak antarpakaian. Gak cuma biar panas lebih cepat menyerap pada pakaian agar kering. Ada celah juga buat angin masuk terus melambaikan pakaian kita agar lebih cepat kering.

Memperhatikan Gantungan

Tadi kita udah jelasin soal cara menggantung. Sekarang kita kudu perhatiin gantungan. Lho? Ngapain coba? Biar jemurannya gak cepet roboh.

Pernah ngerasa tali jemuran sama gantungan gampang rusak? Sebenarnya itu karena kita salah menggunakan jemuran. Misalnya pake gantungan yang tipis untuk gantung jaket ato celana jeans. Terus pake gantungan yang bentuknya kayak payung buat jemuran yang lebih berat. Ya iyalah cepet rusak.

Gimana cara biar gantungan jemuran ato tali jemurannya lebih awet? Gunakan prinsip pesawat sederhana. Jangan taruh beban yang lebih berat daripada kapasitas maksimumnya. Selain itu beri persebaran seimbang antara pakaian yang dijemur. Jadi umur gantungan dan tali jemurannya bisa lebih awet.

Nah, segitu aja sih tips ane untuk menjemur pakaian. Semoga saja tipsnya bermanfaat juga materi Fisika yang ada di otak kita gak cepet bulukan. Jadi selamat mencuci 😀

Menulis: Sepuluh Tahun yang Tidak Mudah

Gak kerasa tepat hari ini ane masih menulis di jurnal ini. Tanpa ganti domain. Masih dengan tulisan yang ngelantur tapi ya apa adanya. Ane ngerasa semakin ke sini semakin ada perubahan terutama dari tulisan. Mulai dari awalnya galau terus nulis ngelantur gak jelas mulu soal cowok dan sekolah, sekarang malah jadi tulisan-tulisan remeh, ringan, tapi masih sedalam dulu.

Tulisan ane masih terpengaruh dengan gaya Kambing Jantannya Raditya Dika dan masih mencirikan sifat chuunibyou akut. Beberapa tulisannya ane hapus karena memang aib. Ane baru nyadar hal itu pas zaman SMK jadi ya buat apa tulisannya nongkrong. Saat itu ane belum belajar jadi pribadi nyaris anonim seperti di tulisan ane sekarang. Jujur aja di tahun pertama aja ane gak punya pengunjung tetap di jurnal ini. Ane inget bikin jurnal barengan sama temen ane tapi dia dalam waktu tiga bulan saja sudah meroket sampai 3k pengunjung. Sebut saja Ndit. Sohib ane dari zaman SMP yang masih belum insyaf dari dunia fujoshi. Bahkan ane baru dapet notifikasi dari WordPress soal pengunjung jurnal yang meningkat drastis sepuluh tahun kemudian.

Apa yang jadi titik balik ane dapet pengunjung banyak? Apa karena berteman dengan Bang Abdi, salah satu YouTuber gaming ternama, yang juga ngajarin SEO? Bukan karena itu juga sih. Apa karena semakin dewasa pengetahuan ane semakin luas? Gak juga.

Intinya untuk meningkatkan pengunjung dari tulisan kita itu butuh pola dan relasi.

Ya itu sebenarnya definisi tentang Matematika ala Pak Dewo. Cuman perkataan beliau itu bisa juga dipake untuk menulis. Berhubung ini tulisan spesial, jadi ane tulis tentang pengalaman dan suka duka ane mencari … pengunjung yang nyasar di jurnal ini.

Alatnya pun cukup konten, pengetahuan tentang SEO, ditambah intuisi.

Ane anggap orang-orang udah lebih jago soal main SEO aka search engine optimization. Jujur aja biar ane dulu punya latar belakang komputer tapi ane ndeso soal beginian. Singkatnya sih SEO itu kayak mainin tag, kategori, metadata, hingga tagar yang anak-anak zaman sekarang jauh lebih jago daripada ane.

Bagaimana cara bikin konten yang banyak bikin orang-orang mampir ke situs kita? Gak usah bikin tulisan dengan tema yang kontroversial, clickbait, apalagi remeh. Bikin aja tulisan dengan apa adanya diri kita. Lebih bagus lagi kalo kita memang pakar di satu bidang yang bener-bener kita kuasai banget, pernah ikut pelatihan kepenulisan/komunitas menulis, ato pinter ngegombalin anak orang. Biasanya yang jago gombalin anak orang tuh bisa bikin tulisan jauh lebih hidup dan kreatif.

Perlu promosi? Iya lah. Berhubung ane itu orangnya pemalu, jadi ane promosi di lingkungan terdekat ane.

Bagaimana cara kita mengemas tulisan agar pengunjung lebih banyak mampir? Berhubung orang Indonesia gak suka hal-hal ribet dan berat, kenapa kita gak sederhanakan sesuatu yang berat menjadi hal yang seremeh bungkus gorengan?

Contohnya tema tulisan kita itu politik dan agama. Dua tema yang paling sering dibicarain orang tapi lebih bikin orang baper saking sensitifnya. Daripada kita cuman latah tren yang lagi rame buat naikin pengunjung, kenapa kita gak sederhanain topik tersebut jadi lebih ringan untuk dibaca? Jujur aja ane masih gak berani kalo nulis soal dua hal itu. Kalo ada yang berhubungan dengan agama pun paling gak jauh dari tema tentang produktivitas, motivasi, dan makanan.

Kenapa kita kudu jujur sama tulisan kita sendiri? Orang bisa tahu kok si A bohong ato gak cuman dari baca tulisannya. Toh sekarang era digital yang lebih mudah untuk membandingkan satu fakta dengan fakta yang lain dalam topik serupa. Selain itu juga berarti secara gak langsung kita sadar akan batas kemampuan kita. Oh kemampuan kita memang sampe segini ya tulis aja hal yang kita bisa. Lebih baik kita sampaikan pendapat kita meskipun hanya satu kalimat daripada diam sama sekali apalagi bersembunyi di balik topeng tren.

Kenapa kita kudu melawan arus? Tren pun ada masanya. Seperti halnya Maicih yang pada awalnya rame sekarang ya udah ganti ke tren Makuta terus BoCi. Tulisan kita kudu memiliki identitas yang kuat. Contohnya ane menulis masih pake kata “ane”. Cek aja tulisan awal ane di tahun 2008 yang masih hidup. Tiap ngobrol dalam tulisan pun ngomongnya “ane”. Nah, ciri khas itulah yang membuat tulisan kita masih tetep enak dibaca biar tren udah lewat aka basi. Ciri khasnya gak cuman dari gaya kita menulis, pembahasan konten dari sudut pandang berbeda, pengemasan materi yang ringan, hingga ulasan mendalam yang bikin tulisan kita ya beda tipis dengan paper namun dalam bahasa populer.

Kenapa kita kudu bikin tulisan yang lebih ringan? Orang Indonesia itu males baca apalagi yang berat-berat. Lebih buruknya lagi, kita sedang mengalami darurat literasi. Kondisi di negara kita bahkan jauh lebih buruk dari orang India apalagi Afrika dalam masalah semangat untuk membaca. Peringkat secara internasional pun nomor dua terendah di dunia, men! Kalo orang bisa berlama-lama pantengin akun gosip Instagram buat ngerecokin Lucinta Luna, kenapa kita gak bisa bikin konten yang mencerahkan pemikiran orang Indonesia dengan kemasan yang senyantai akun gosip? Orang Indonesia lebih cenderung senang dengan tulisan yang aplikatif, mudah dipahami, dan tidak bersifat retoris kayak nonton debat kusir di ILK.

Kenapa kita butuh intuisi? Soalnya menulis sama SEO juga gak cukup. Kalo cara yang ane lakukan dari 2014, tahun awal mula melonjaknya pengunjung jurnal ane, ane perhatiin statistik. Singkatnya ya masuk ke WP Admin kita ato gak ya langsung loncat ke bagian “statistik” pada halaman awal WordPress. Gak perlu sampe detail dengan metode analisis Bayesian apalagi sampe jadi bahan mining.

Lihat rata-rata pengunjung bulanan situs.

Lihat rata-rata pengunjung mingguan situs.

Lihat judul tulisan kita yang paling banyak dibaca oleh orang.

Lihat juga kata kunci yang paling sering digunakan oleh orang dalam mesin pencari dan berujung mampir ke situs kita.

Perhatikan pola dari keempat hal tersebut dalam kurun waktu tertentu. Terserah kita mau analisis berapa lama juga. Kalo ane sih dua bulan berturut-turut sebagai sampel. Ane perhatiin statistik bulan lalu dan bulan sekarang. Dua bulan yang cukup bagi ane untuk memprediksi pengunjung di bulan depan. Ane baca statistik pake perasaan.

Oh ternyata orang-orang banyak yang lihat tulisan berjudul “Tulisan Ini” dengan kata kunci “blablabla”.

Ternyata di daftar tiga teratas tulisan ane gini-gini-gini. Udah gitu statistiknya tergolong stabil di setiap minggunya.

Ternyata karakter dari tulisan tiga teratas itu gini. Berarti lain kali ane harus bisa lebih menyederhanakan tulisan agar bisa lebih menarik lagi di mata pembaca.

Sebenarnya, kalo kita benar dalam menginterpretasikan data, banyak hal yang bisa kita ketahui dari data. Contohnya ya statistik pengunjung. Kita bisa tahu karakteristik pembaca. Kita bisa tahu kelebihan yang dimiliki tulisan tersebut untuk mendongkrak jumlah pembaca. Kita juga bisa tahu kelemahan tulisan kita selama ini. Kita belajar mengekstrak tulisan tanpa meninggalkan jati diri yang kita bangun pada tulisan kita sebelumnya. Kita mulai melakukan evaluasi dan lebih banyak membaca.

Lho, apa hubungannya dengan membaca? Penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik. Baca dan tulis tidak terpisahkan layaknya siang dan malam. Semakin banyak kita baca, semakin banyak kita tahu. Bahkan ane pernah baca salah satu artikel kepenulisan di internet kayak gini.

Semakin banyak kita menulis. Semakin sadar pula kita itu bodoh.

Ha? Seriusan? Ane kenali nih musuh bebuyutan dari seorang penulis yang paling kuat. Perkenalkan. Namanya mandeg. Biasa dipanggil writer’s block. Kalo kita udah nulis banyak hal tapi intinya sama aja, ya ane ucapkan selamat. Kita sudah ketemu sama si doi. Itu tandanya pengetahuan yang kita miliki itu apa sih. Cetek banget. Masih dangkal. Masih butuh belajar. Emang udah lulus SMA ato kuliah berarti belajar udah kelar? Gak. Belajar itu kudu dilakukan sepanjang hayat masih dikandung badan.

Kenapa kita kudu belajar sama baca? Pada konteks ini agar tulisan kita lebih kaya. Gak apa-apa kalo kita itu seorang weeaboo yang doyan nulis segala sesuatu berbau anime di jurnalnya. Ato mungkin ya penggemar berat drama Korea yang doyan banget obrolin soal kehidupan oppa sama bias mereka. Ato mungkin penulis serius macam Ipul, temen ane yang curhat gara-gara pengunjung situsnya gak naik-naik. Gak apa-apa tulisan kita temanya seperti itu tapi kita harus memperkaya diri kita dengan pengetahuan agar tulisan kita tetap renyah, segar, menarik, bervariasi, dan masih tetep dengan gaya kita banget.

Curcol dikit ye. Ane pernah nulis tentang fujoshi. Bukan definisi fujoshi apalagi ciri-ciri fujoshi akut. Ane nulis fujoshi dari sudut pandang yang lain: bokep dan perempuan. Itu salah satu tulisan paling berat yang pernah ane tulis ditambah riset dengan fakta yang bikin ane syok. Hal yang ane langgar setelah selama bertahun-tahun konsisten berusaha meninggalkan hal itu. Ide tulisan itu kepikiran dari beberapa temen ane yang fujoshi, fenomena trilogi Fifty Shades of Grey, artikel yang bertema serupa dari majalah Kartini, juga blog salah satu fans Sailor Moon yang mengulas fakta unik Sailor Moon dari sudut pandang seorang feminis. Ternyata topik yang nongol di komunitas otaku pun bisa menjadi tulisan yang berbeda jika kita lihat dari sudut pandang lain. Hal itu bisa kita lakukan dengan belajar dan banyak membaca.

Berhubung tulisan ane mulai kepanjangan terus ntar pada bosen ya ane cukupkan sampai di sini. Mohon maaf kalo tipsnya kepanjangan gara-gara kebanyakan curcol. Maklum lah namanya orang ndeso yang situsnya baru rame setelah 10 tahun menulis.