Cerita Anak Magang

Sebenarnya tulisan ini masih nyambung sama tulisan yang kemarin. Intinya curhat tentang pentingnya dokumentasi.

Dokumentasi dalam apapun bidang yang kita geluti itu sangat berguna. Terlebih bagi orang lain yang akan meneruskan jalannya sebuah sistem, memelihara suatu hal, atau mempelajari hal/sistem tersebut.

Rasanya ane menelan liur sendiri yang bilang ogah kerja. Ini kali kedua di tahun ini dengan alasan klasik juga … modal habis untuk dagang. Setelah bergulat dengan neraca minus hampir tiga bulan belakangan ini, modal ane untuk dagang habis. Wayahna ane kerja pun buat modal dagang lagi (ditambah main SDVX, alasan absurd penulis lainnya). Tulisan ini sebenarnya pengalaman pribadi ane sebagai anak magang di salah satu perusahaan tepat hari pertama bekerja.

Jujur aja ane masih rada ngantuk soalnya masih capek. Ini aja nulis pas bangun tidur.

Admin. Pekerjaan klasik dengan klasifikasi pendidikan minimal SMA. Selalu dibutuhkan di bidang apapun ranah pekerjaan yang kita geluti. Pekerjaan admin itu sebenarnya sederhana: memastikan sistem berjalan dengan seharusnya dengan melakukan proses pengawasan pada suatu bidang.

Contohnya bidang produksi makanan. Kita harus hitung modal, bahan baku, dan persediaan di gudang sebelum kita mulai produksi makanan untuk kita jual di pasar. Kalo gak ada proses administrasi, kita gak bakal tahu produktivitas harian, jumlah stok bahan yang tersisa, pemasukan dan pengeluaran, juga tahu proyeksi keuntungan kita ke depannya. Kok contohnya gini ya? Pengalaman pribadi dagang sih.

Kemaren ane magang sebagai admin. Lagi-lagi dengan komputer, tanpa Scrivener, dan kudu muter-muter. Bukan muter-muter otak buat sinkronisasi desain karakter sama naskah apalagi biar tulisannya ada rima. Muter-muter di sini ya ane bolak-balik cek gudang sama pembukuan karena laporannya bermasalah.

Hari itu ane merasa mata kuliah Proyek dan dosen rewel (malah cenderung “saklek”) soal tracing kode itu ada gunanya … kudos buat ceramah Steve Jobs yang pernah ane tonton pas mata kuliah Proyek!

Apa hubungannya tracing dan laporan? Semua bermula dari menyisir masalah. Ane berulang kali dimarahi bos gara-gara tiga hal.

Pertama, short term memory ane payah. Bosnya greget pas tahu anak buahnya rada-rada pelupa.

Kedua, info dumping. Pantesan hal ini hukumnya haram di dunia kepenulisan. Info dumping itu adanya bikin pusing orang. Bayangin aja banyak informasi masuk sekaligus lalu diproses dalam waktu singkat. Adanya keblinger iya, mabok iya, dan gampang lupa iya.

Bos ane jelasin semua tentang cara kerja administrasi perusahaan sekaligus dalam waktu 5 menit. Oke. Rasanya kepala ane pengar dan butuh es batu satu baskom.

Ketiga, laporan salah mulu. Dua hal emang murni faktor kedodolan ane (faktor 1 dan 3). Mungkin karena ane gak biasa dengan sistemnya dan … pembukuan sebelumnya salah total. Minus dokumentasi jelas yang menerangkan “oh itu harusnya gini” dan “panduannya di sini”.

Administrasi itu salah satu bagian vital dalam pemeliharaan sistem. Jangankan soal ngurusin bisnis orang. Urusin komputer sendiri aja bingung kalo gak ada catatan yang jelas. Itu sebabnya dokumentasi sangat dibutuhkan. Biar apa? Ada perubahan pun orang baru masih bisa mengikuti.

Jangan kayak kasus ane kemaren.

Ane cek buku besar terus periksa barang ke gudang. Ada beberapa barang yang datanya tidak sinkron dengan sistem. Berasa ketemu error null pointer exception dah. Deklarasi variabelnya apa eh eksekusinya … tepok jidat. Ane juga bosen kena omel si bos mulu tau!

Saat itulah naluri tracing mendadak muncul. Cek biang kerok dari modul A … eh salah. Catatan laporan hari ini yang kena semprit bos. Periksa variabel x … eh tanggal kemaren. Cek alamat yang ditunjuk sama pointer sekaligus pointer-nya … eh item dari gudang sama laporan bulan kemaren deng. Ini ngoding ato benerin laporan sih? *tepok jidat*

Dokumentasi itu harus mencatat setiap perubahan sistem. Itu sebabnya dalam program pun ada yang namanya log. Sebuah catatan yang merekam perubahan sistem dalam kurun waktu tertentu. Kesalahan fatal yang ane temukan dan bikin waktu sangat gak produktif di kantor itu adalah masalah pembukuan yang tidak konsisten.

Memperbaiki isi variabel itu jauh lebih mudah daripada harus ganti variabel. Itu bisa mengacaukan sistem dan pengguna pemula jika tidak ada perubahan yang tercatat jelas. Alasannya ya dua-duanya bingung. Ini maksudnya apa sih? Pikir mereka selagi membaca data dari sistem.

Kesalahan paling fatal dari pembukuan oleh admin sebelumnya adalah inkonsistensi dan tidak ada catatan yang jelas tentang perubahan dalam sistem. Itu yang bikin bos mesem-mesem pengen nimpuk pas liat anak magangnya mabok lem selagi bikin laporan.

Hal yang bisa ane pelajari dari kejadian kemaren.

Pertama, deklarasi variabel … eh nama item deng. Data dalam pembukuan harus konsisten dengan data dalam sistem. Berhubung sistem di kantor masih manual, gak ada “komputer galak” yang bakal “cerewet” gara-gara salah masukin data! Mau gak mau ya kudu buat laporan lagi dari awal. Itu membuang waktu banget dan gak produktif.

Solusi ane saat itu: balik lagi ke gudang, cek nama satu persatu item sesuai nama yang ada di gudang. Kalo bos ngamuk lagi, ane bakal bilang, “Datanya di laporan udah disamain sama di gudang biar gak bingung!”

Kedua, biar short term memory payah dan ceroboh sekalipun ya kudu catet lah. Ingat. Dokumentasi yang kita buat itu bisa jadi penolong orang lain yang bakal menggantikan posisi kita di perusahaan kelak. Gara-gara itu, ane tidur selama dua jam di kantor saking gak tahu kudu ngapain sama gak ada petunjuk buat tugas hari ini.

Ketiga, ngoding ato gak ya tracing kudu jalan terus. Kalo kita salah pembukuan dari awal, kita bakal ngerepotin admin selanjutnya. Lebih buruk lagi: kerugian terselubung bagi perusahaan. Itu sebabnya ada lelucon berkaitan tentang akuntansi.

Salah satu digit, udah kelar satu perusahaan!

Bayangin saja kalo kita kerja di perusahaan besar multinasional. Kurs dolar 15k tuh. Misal kita beli barang impor untuk kebutuhan produksi terus salah catet. Berapa banyak duit perusahaan yang hilang gitu aja? Jual ginjal aja belum tentu bisa nutupin kerugian perusahaan lho.

Itu sebabnya pekerjaan jadi admin dan akuntan itu berat. Biar kata tamatan SMA/SMK/Aliyah juga. Tapi gak nyuruh jokiin sama Dilan buat ngerjain tugas. Adanya Dilan yang digaji eh kita yang dipecat *gubrak*. Hal yang bikin berat itu sebenarnya ketelitian dan kejujuran. Tanpa dua hal itu, karir dan reputasi kita bisa tamat.

Itu sebabnya ane lebih seneng bisnis punya sendiri. Tanggung jawab kerja di orang jauh lebih berat daripada tanggung jawab di unit usaha yang kita rintis sendiri.

*ya masalahnya modal belum ada lanjut bisnisnya gimana, Neng?*

Okelah segini curhat panjang lebar kali … gak tinggi juga sih. Soalnya masalahnya lebih condong jadi poligon daripada bangun datar biasa. Bentar. Perasaan poligon itu sepeda deh. Lupakan saja pun ane yang absurd dan garing itu.

Merasa tulisan ini gak berguna? Bisa kok didaur ulang jadi ASCII art. Soalnya di Bandung kebanyakan bungkus gorengan dari nilai UN jeblok kok.

Iklan

Dokumentasi itu Sulit

Ane inget waktu kuliah dulu. Kakak tingkat ane nanya soal menulis. Saat itu ane bilang gini,

Lebih gampang nulis cerpen daripada dokumentasi.

Ane

Cerpen itu sulit. Kudu cek koherensi antarparagraf untuk menghindari “gak nyambung” alias plot hole. Kudu susun karakter sama latar yang jelas. Selain itu kudu memoles kalimat yang tepat biar efeknya lebih jleb di benak pembaca. Tapi menulis dokumentasi … rasanya jauh lebih sulit.

Dokumentasi itu beda tipis dengan artikel. Kudu punya pengetahuan yang cukup atau riset mendalam sebelum menulis. Belum termasuk tanggung jawab moral dan pemilihan diksi yang kita gunakan pun lebih selektif daripada menulis cerpen.

Kenapa tiba-tiba kepikiran soal dokumentasi? Sebenarnya pengalaman pribadi instal Linux yang justru menyentil ane lagi dalam membuat sebuah tulisan.

Salah satu kelemahan terbesar dalam dunia pemrograman adalah dokumentasi. Beberapa waktu silam sempat ramai meme di 1CAK soal deretan skripsi yang runtuh di tong sampah. Di antaranya jelas ada skripsi dari jurusan Komputer/Informatika yang mengandung dokumentasi dari program yang mereka buat.

Setiap program pasti membutuhkan sebuah dokumentasi. Tujuannya pun sederhana: mempermudah pemeliharaan sistem. Pengembang program dan tester bisa tahu bagian yang perlu mereka periksa dari dokumentasi. Lebih menghemat waktu daripada harus menelisik baris demi baris kode. Pengguna bisa tersenyum lebar melihat program kesayangannya berjalan dengan baik. Lagi-lagi berkat dokumentasi.

Dokumentasi pun ada dua jenis. Ada yang bersifat seperti panduan. Contohnya panduan penggunaan motor yang kita dapatkan setelah membeli motor dari dealer. Ada juga dokumentasi yang “tidak tertulis”. Pernahkah kita arahkan pointer (atau penunjuk dengan tanda panah di layar komputer) di atas sebuah gambar/tautan di internet lalu muncul sebuah tulisan kecil di bawahnya? Atau pernah kita main game dengan panduan karakter imut yang membantu kita menyelesaikan misi? Itu adalah contoh bentuk dokumentasi yang “tidak tertulis”.

Salah satu dokumentasi terbaik yang pernah ada adalah resep masakan. Tahapannya jelas, mudah dipahami, dan bisa membimbing orang yang tidak ada keahlian memasak sama sekali. Bahkan bisa membimbing orang asing dari belahan dunia berbeda tanpa harus ke tempat asal resep itu. Contohnya orang Bandung membuat canja de galinha di dapurnya.

Kita tidak perlu tahu soal julienne, mirepoix, tangzhong, aquafaba, atau istilah-istilah lain dalam dunia kuliner. Lakukan saja sesuai dengan takaran dan tahap-tahap yang ada. Berhasil atau gagal, itu tergantung cara kita mengikuti setiap tahapnya. Toh teknik memasak dan pembendaharaan istilah tersebut akan bertambah seiring berjalannya waktu.

Dokumentasi boleh abstrak. Abstrak pun harus dalam kalimat sesederhana pola S-P atau S-P-O. Tetap mendorong kita untuk berpikir tanpa harus menghilangkan hal-hal teknis. Contoh abstraksi yang baik layaknya ayat-ayat Al Qur’an dan tulisan karya Ernest Hemingway. Tuliskan inti dari pikiran yang kita sampaikan dalam bahasa sederhana. Hal yang bisa kita pelajari dari keduanya.

Bagian tersulit dari menulis bukanlah menuangkan kata-kata di atas tulisan. Bukan pula memainkan diksi lalu membentuk sebuah kalimat menjadi indah dibaca. Kesulitan terbesar dalam membuat dokumentasi: agar orang lain bisa paham maksud kita tentang suatu hal. Itu sebabnya hal ini bisa menjadi bahan ujian calon pegawai bagian penjualan Apple. Menjelaskan sesuatu yang kita pahami agar orang lain juga paham itu tidak mudah. Terlebih bila menjelaskan hal itu di mata orang awam.

Tidak semua orang itu seperti Hemingway. Tidak semua orang bisa dan mau membuat dokumentasi yang baik. Dokumentasi yang baik akan membantu kita menyelesaikan masalah. Sebaliknya, buruknya dokumentasi justru akan mendorong kita ke dalam lembah masalah.

Duh kesentil lagi deh. Kenapa sih nulis yang kayak gini mulu berasa kena serangan balik? ._.

Contoh menarik yang bisa kita pelajari tentang dokumentasi adalah dokumentasi tentang Linux. Apa ada dokumentasi yang jelas dan mudah dipahami bagi orang awam? Bahkan man (perintah berisi dokumentasi) sekalipun kadang terlalu teknis.

Beruntunglah kita masih punya koneksi internet. Kita bisa lihat dokumentasi ramah pemula seperti Wiki. Bila tidak ada koneksi internet, itu bisa jadi masalah. Tidak banyak buku di luar sana (baca: perpustakaan lokal, Gramedia, dan toko buku kesayangan lain) yang menyediakan buku Linux ramah pemula. Jangankan untuk buku tentang Linux. Buku tentang Windows yang beredar di pasaran pun isinya tidak jauh beda dari trik-trik pemula di internet.

Bagaimana cara menulis dokumentasi yang baik? Ane pun gak bisa bicara banyak. Mending baca Writers Digest. Kalo niat pun kuliah jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia sekalian. Itu untuk memperbaiki cara kita menulis dalam bahasa Indonesia bukan bahasa Java (dan maksudnya pun), C, Parseltongue, apalagi Sindarin.

Hal yang bisa ane pelajari dari menulis panjang lebar tanpa tinggi ini ya gini. Kalo kita pengen jadi penulis yang baik, banyak praktik menulis. Semakin tinggi jam terbang kita dalam menulis, semakin refleks cara kita dalam menyusun kalimat. Hal itu sangat terasa dalam menulis apapun termasuk dokumentasi. Itu pun dengan syarat. Kita kudu menulis sambil mempraktikkan hal yang kita pelajari dari teori menulis. Toh seperti kata para penulis terkenal.

Menulis itu tidak lepas dari membaca (dan belajar).

Apapun pekerjaan yang kita lakukan, jangan lupa menulis dokumentasi. Dokumentasi bisa menjadi panduan, teman bagi kita untuk bertanya, bacaan yang kaya untuk kita lebih mempelajari suatu hal secara gratis, dan pengontrol kualitas.

Terlalu panjang dan rada bolak-balik dekok ya? Iya. Soalnya ane masih belajar soal ini. Ya cuman ini yang bisa ane obrolin. Pengingat buat diri sendiri juga sih biar nulis gak seenak jidat. Intinya dokumentasi yang baik itu kudu …

Bahasa sederhana dan komunikatif. Biar orang lain yang tidak punya latar belakang teknis pun paham cara menggunakannya dan mempermudah pemeliharaan.

Lengkap dan menyeluruh. Menjelaskan semua hal berkaitan dengan cara kerja suatu benda. Tidak apa-apa hanya menjelaskan deskripsi singkat dari suatu hal. Selama semua bagian memiliki catatannya sendiri disertai contoh yang mudah dipahami, pengguna tidak akan kesulitan untuk menggunakan suatu benda.

Tidak membodohi. Maksudnya gini. Tahu walkthrough alias panduan buat main game ‘kan? Panduannya kadang memberitahu pemain (khususnya pemain pemula)¬† hal remeh yang sebenarnya pemain pun bisa memutuskannya sendiri. Misalnya ada peti harta di tengah jalan terus pembuatnya bilang “ambil itu!”. Justru hal yang semacam itu tidak bagus. Sama saja dengan kita membiarkan mereka tidak bisa menelaah setiap informasi yang ada.

Mudah untuk ditemukan. Contohnya karakter imut yang memandu kita selama bermain game. Dokumentasi yang baik selalu disimpan di tempat strategis. Bukan di titik buta dari pandangan seseorang apalagi di gudang. Jadi bila kita mengalami kendala, dokumentasi selalu siap membantu mencerahkan pikiran kita yang kusut.

Mungkin segini aja sih cerita panjang lebar kali tinggi soal dokumentasi. Ane juga kudu belajar lagi soal menulis biar lebih banyak orang yang merasakan manfaat dari tulisannya. Gak cuman jadi bungkus gorengan yang untungin tukang gorengan apalagi penjual plastik di pasar. Udah ah, belajar lagi.

Ada yang pengen didiskusiin rame-rame? Tinggalkan jejaknya yang sopan di kolom komentar ya :3

NaNoWriMo: Target Masih Setengah Jalan

Ekspektasi: tahun ini novelnya kelar.

Realita: baru setengah jalan. *gubrak*

Akhirnya tiap malam kejar target pun ada hasilnya. Bikin outline udah tapi eksekusi setengah jalan. Semakin ane nulis, ane nyadar banyak plot hole dari naskah asli yang rencananya dari NaNoWriMo 2017. Waktu mo ikut keburu sakit. Ane pikir kagak ada orang Indo di sonoh. Makanya ane undur penyelesaiannya tahun ini. Tahun kemaren buat godok karakter sama latarnya.

Akhirnya … jengjeng!

nanowrimo-sertificate-ane
yeah, yippie! *dengan gaya kurcaci Harvest Moon dikasih hadiah*

Nama di sertifikat itu sebenarnya nama pena ane yang mulanya dari pseudonym tiap kali daftar akun game online. Pika emang nama panggilan ane dari kecil kok. Judulnya pun gak niat. Itu sebenarnya nama file asli di Word. Saking gak ada ide terus kebetulan Winamp setel lagu ini …

… jadilah judulnya begono. Pas ditanya judulnya di situs NaNoWriMo, ane tulis aja nama file aslinya saking gak ada ide. Padahal masalah ceritanya bermula dari ingatan yang nongol gitu aja di depan mata.

NaNoWriMo itu emang rada … capek dan butuh konsentrasi. Apalagi pas kemaren kemakan tiga hari buat benerin laptop doang. (instal ulang, baterai, atur jaringan, dll) Satu hari emang gak nulis sama sekali gara-gara sakit. Tapi ada hikmahnya buat temen-temen yang pengen ikutan ini.

Kalo yang ane rasain sih, kita jadi ngehargain setiap waktu dan kata. Inget kata. Kejar target aja dulu baru kualitas dan penyuntingan cerita belakangan. Soalnya kalo kita nulis sambil edit, kapan kelarnya? Mana target 50k kata di depan mata pula. Waktu cuman sebulan (itu pun jika masih diberi kesempatan sama Tuhan dengan kondisi sehat wal afiat). Stres emang kayak nugas sama nyusun skripsi/TA. Bedanya ini bisa jadi lebih menyenangkan bila ketemu timing-nya.

Lakukan saja mumpung masih ada kesempatan. Kalo kita mengulur waktu, kita mungkin bakal kehilangan flow-nya. Itu bukan kata ane. Ane kutip dari salah satu kalimat Mathiu Silveberg waktu di Floating Fortress. Tips itu berlaku banget dalam proses menulis selagi NaNoWriMo. Soalnya pas kita dapet timing yang tepat, kita bisa terbawa arus cerita. Nulis lancar terus tau-tau target udah kelewat.

Gimana cara ketemu flow? Tetap menulis. Bodo amet biar lagi kondisi mandeg terus tulisannya ancur. Toh habis tulisan ancur dan mandeg itu kadang berujung pada flow yang bikin kita lupa nulis. Ingat: NaNoWriMo itu ditarget.

Berhubung ane itu tipe orang yang rada alergi dengan kata deadline, ada cara lain buat memaksa menulis di bawah tekanan. Tips ini berlaku juga buat temen-temen yang lagi nugas.

Ane biasa nulis pake timer. Ane sering banget pake teknik Pomodoro buat menyelesaikan tulisan. Butuh penjelasan singkatnya? Nah ini dia penjelasan beserta sedikit curhatan ane tentang manfaatnya. Itu hal yang pertama kali ane cari pas instal ulang Linux. Soalnya kalo gak dibatesin pake timer, ane gak bakalan tahu produktivitas kata tiap jam. Itu penting banget buat alokasi waktu sama prediksi target menulis setiap harinya. Jadi waktu gak kebuang percuma.

Misal, per satu Pomodoro (satu Pomodoro = 25 menit) tulisan yang ane buat itu rata-rata 350 kata. Berarti per satu siklus (= 4 Pomodoro) itu ane bisa menulis sebanyak 1400 kata. Buat menyelesaikan target NaNoWriMo (50k kata) tepat waktu itu kita kudu menulis rata-rata 1,6k kata per hari.

Kalo kita pengen lebih cepet kejar target, berarti perbaiki produktivitas menulis kita. Biar kita sibuk pun nulis tetep jalan terus dalam waktu terbatas. Caranya bisa macem-macem.

Misalnya bikin contekan desain karakter. Gak masalah kok kita bikin desain karakter ato worldbuilding duluan. Justru itu disaranin banget biar waktu menulis kita di bulan November lebih produktif.

Mau jadi typing ninja juga sangat-sangat-sangat boleh. Banyak kok aplikasi yang khusus untuk mengasah kemampuan mengetik kita. Contohnya game TyperShark. Ato gak ya minta tolong sama temen/sodara yang pinter ngetik (khususnya yang punya latar belakang jurusan dengan embel-embel “administrasi”, itu ada satu pelajaran/matkul khusus buat belajar ngetik!) buat ngajarin kita.

Tendang aja setan namanya “edit di tengah jalan” dari proses menulis kita. Gara-gara setan ntuh tulisan ane berkurang hampir 2k dari total seharusnya. Terakhir nulis buat verifikasi NaNoWriMo itu sebanyak 50.649 kata. Berapa banyak waktu yang kebuang percuma gara-gara “edit di tengah jalan”?

Apa novelnya belum beres? Masih jauh dari kata beres. NaNoWriMo itu sebenarnya kawah Candradimuka kita buat latihan menulis dan menuntaskannya. Sekalinya kita puas dengan pencapaian kita …

Rasanya pengen ketawa ala-ala Kefka gitu.

Udah ah istirahat dulu ngetiknya. Lanjut main FF VI dulu. Besok baru nulis lagi.

NB:

Sesuai janji, ane tambahin tautan ke tulisan tentang Pomodoro. Semoga sukses dengan menulisnya ya :3

Curhatan si Penulis

Setelah si penulis berkelana di dunia antah berantah mencari cara menaklukkan anak penguin, akhirnya si penulis nyasar di satu komunitas pemelihara penguin: Linux Mint.

Sebenarnya sih baru dua hari make (dan itu pun mengorbankan tiga hari NaNoWriMo gara-gara urusan pribadi ditambah malamnya kepake benerin laptop doang). Baru dua hari install.

sumber: koleksi pribadi

Sedikit curcol. Sebenarnya ane galau pas mampir ke Distro Watch. Linux Mint ato MX Linux ya? Belum lagi kalo instal ulang lagi kudu backup data. Mana data pribadi, buku digital, sama koleksi film ane banyak lagi. Belum lagi proyek menulis ane udah pada pindah ke Scrivener. Sayang euy 42k kata mah. Sakedik deui anggeus NaNoWriMo.

Setelah membandingkan banyak hal di internet, akhirnya ane adopsi anak penguin Linux Mint. Moga aja gak perlu instal ulang lagi. Bisa mengobati rasa kangen tipikal orang gagal move on dari XP macam ane.

Ane instal ulang pake Linux Mint 19 (Tara, bukan Tara Basro ye) versi Cinnamon. Biar kata laptop ane gak jadul amet (keluaran 2015), ane pengen OS yang enteng tapi nyaman untuk digunakan. Pengalaman pas SMK dulu banyak mengajarkan ane soal pentingnya performa dan pemeliharaan laptop. Biarin penampilan ala XP juga, toh yang penting laptop dipake buat kegiatan harian gak bermasalah.

Berhubung sekarang hari Kamis, biasanya ane cek mangascan. Biar sekalian baca unOrdinary (kalo konversi waktu server webtoon Amerika sih jam 12-an udah ada). Ane bingung sama Firefox bawaan Linux Mint. Kok gak ada iklan aneh-aneh ya? *masih cari tahu kenapa* Ane gak instal extensions apapun (biasanya ane instal AdBlock Plus sama HTTPS Everywhere). Kemaren pas coba icip Vivaldi sama Firefox tanpa extensions masih ada iklan di MangaStream. Ane coba ke situs yang biasa sarang iklan.

Percobaan pertama: IndoXXI. Biasanya berat buka ini gara-gara banyak iklan aneh-aneh dan pop up. Masa nonton City Hunter The Movie aja lag sama pop up-nya amsyong deh. Itu buka di warnet yang koneksinya kenceng. Sejak saat itu ane kapok buka situs itu lagi. Pas tadi buka, ada sih iklan aneh-aneh yang selalu lolos dari adblock. Tapi gak ada pop up.

Percobaan kedua: Mangapark. Satu dari sekian situs mangascan yang gak kena razia pemerintah. Kalo gak pake adblock, asli ganggu banget. Iklan nutupin halaman situsnya dan kudu ditutup satu-satu. Ane scroll ke bawah dan …

timid-chikako
sumber: Toei

Chikaaaa~ *sambil histeris gak jelas di depan laptop*

Setelah hiatus dua tahun lamanya, akhirnya kembali juga! Itu pun ada informasi resmi dari pengarangnya. Mulai edisi depan, World Trigger pindah ke Jump SQ. Itu lebih baik daripada pengarangnya maksain terus hiatus lama. Selain itu juga lebih baik buat pengembangan cerita dan karakter.

Akhir kata … akhirnya gak lag parah pas ngetik pake editor WP. Tumben. Apa mungkin OS-nya juga ngaruh kali ye? Habis ini ane kudu buktiin hipotesis ane.

Apa bener Firefox bawaan Linux Mint itu berasa Opera sekarang dengan adblock bawaan?

pikiran naif ane

Ane juga kudu lanjut nulis. Buat temen-temen yang buka tautan dari Wattpad terus nyasar di jurnal ini, ane emang beneran sakit kok. Belakangan ini depresi ane mulai kumat lagi jadi butuh waktu rada lama (berhubung ane INFP) buat balik ke kondisi semula. Insya Allah bakal lanjut kok. Soalnya di draft aslinya … dikit lagi tamat.

Curhatan Pake Linux

Tumben baru nongol lagi. Ke mana aja? Sebenarnya ada tiga alasan ane jarang nulis di sini.

Pertama, neraca pemasukan masih minus. Kemaren udah ngobrol sama Ua soal dagangan dan masih aja belum ada perkembangan. Jadilah ane irit-irit pake internet.

Kedua, ane lagi kejar target NaNoWriMo. Sebenarnya ada satu novel yang belum ane kelarin dari November tahun kemaren. Harusnya keitung NaNoWriMo 2017 tapi molor jadi 2018. Soalnya waktu itu ane gak serius. Novel itu sebenarnya ane bikin bukan untuk publikasi. Itu buat hibur diri sendiri yang jenuh kudu bed rest di seharian penuh gara-gara sakit parah ditambah depresi kambuh lagi. Eh tahunya keasyikan nulis.

Ketiga, ini paling penting. Laptop ane rada bermasalah sejak instal ulang. Ane iseng instal ulang pake Linux. Ini emang curhat yang isinya bahas pengalaman ane pake Linux di mata pengguna biasa yang masih dikit-dikit nyontek pake man sama nanya si mbah.

Kenapa Pake Linux?

Alasan ini bisa klise tergantung orang yang jawab. Kalo alasan ane sih: gara-gara kesel main FF VI grafisnya patah-patah! Puas?

Hah? Main FF doang kok ujung-ujungnya pasang Linux? *gagal paham*

Belakangan ini ane lagi demen main game PS lawas. Berhubung PS ane rusak ya kudu pake emulator. Biasanya sih main di HP. Kebetulan HP ane rada masalah jadi pindahin data ke laptop. Ane pikir masalah berakhir, tahunya lebih parah.

Ternyata driver VGA yang ane pake itu bermasalah soalnya seri lama. Sialnya lagi, driver terbarunya udah gak support di Windows 8.1 *hem* dan kudu upgrade ke 10. Pantesan gak bisa main PUBG.

Kok bisa ujung-ujungnya jadi Linux sih? Gara-gara masalah di patch Windows 10 versi Oktober 2018. Asalnya mo ganti 10, cuman ya pas ane mo benerin laptop tuh lagi rame kasus itu. Gimana ntar ane lanjutin NaNoWriMo kalo data ngilang abis update kelar? Belum lagi novel di Wattpad yang istirahat dulu. Backup di laptop lama (aka si Turion) pun itu jauh banget.

Okelah. Ane iseng pake Linux. Titik. Emang sih masih ada masalah cuman itu … bawaan pabrik. Kenapa kudu seri laptop ane yang masuk daftar korban bug gara-gara update BIOS Lenovo? ._. (versi update terakhir pas lagi ane nulis itu 2015)

NB:

Untungnya masalah laptop ane semenjak instal Linux tuh cuman gak bisa sleep tiap nutup layar laptop. Gak parah banget kayak seri Lenovo korban lainnya. Dulu pas masih dual-boot gak masalah deh. Kayaknya masalahnya baru kelar kalo Lenovo update BIOS lagi. Jadi kalo mau instal Linux tapi pake laptop Lenovo, mikir dua kali sebelum jadi masalah.

Pertimbangan Sebelum Instal

Kenapa ane tekenin ini? Soalnya distro aka variasi Linux itu banyak banget! Lebih banyak daripada personel JKT48. Bingung ya? Sama. Beda kayak Windows, Mac OS, ato turunannya BSD yang keitung jari. Banyak jenisnya pun gak kayak Indomie di etalase toko yang bisa kita makan sesuai selera. Beda distro beda segmen sama fungsinya lho. Masih bingung juga? Selama ada internet, majalah komputer, sama orang terdekat yang lebih ngerti soal Linux ya gak masalah.

Nah, gimana kalo kita pengen instal ulang Linux tapi masih awam cara menjinakkan “si penguin yang terbuang dari Madagascar itu”? Ada beberapa distro yang segmentasinya khusus untuk pengguna biasa aka orang awam. Contohnya Linux Mint, Ubuntu, sama elementary.

Kalo ada yang suruh instal Gentoo, abaikan saja. Gentoo itu bukan untuk pemula.

pengguna Linux veteran di salah satu forum

Gimana dengan ane? Kalo ane sih masih tetep pake Ubuntu versi LTS. Soalnya Linux itu dikit-dikit update dan … duit ane terbatas buat beli kuota. Selain itu dengan adanya fitur LTS, kita masih bisa dapet update sampe 5 tahun ke depan. Sejauh ini ane baru tahu distro buat pengguna biasa yang update-nya jangka panjang kayak Ubuntu sama Fedora. Jadi ya buat tim irit kuota gak harus dikit-dikit update apalagi unduh ISO buat instal ulang tiap ada update OS terbaru.

Selain itu, kita juga kudu tahu tipe dari komputer kita. Gampangnya gini. Ada dua tulisan di toko ato halaman unduh dari distro-nya. Bedanya cuman dua digit angka.

Ada angka 86 biasanya buat komputer dengan RAM < 4 GB ato PC lawas. Ini bukan jargon polisi di lapangan apalagi mobilnya Siti Badriah!

Komputer baru itu kebanyakan pake instalan dengan angka 64. Rata-rata RAM-nya di atas 4 GB.

Pengen performa komputer lawas tetep mulus serasa komputer baru? Ada kok distro Linux khusus untuk komputer lawas. Performanya gak kalah kece dari distro lain di komputer baru kok.

Bagaimana dengan Programnya?

Itu masalah kebanyakan orang yang pengen icip Linux. Kemaren ane denger cerita si Rifnun pas pinjem laptop buat try out daring. Dia bingung dengan program yang ada di Linux.

Ane pernah bahas ini sebelumnya di tips pake sotosop sama gim (biar adil ya dua-duanya ane sebut pake nama makanan semua). Sebenarnya apapun program yang kita pake itu alat. Sama aja kayak pensil biasa ato pensil mekanik buat nulis. Bedanya yang satu pake isi grafit nempel di batang kayu, satu lagi pake isi grafit 0,5 mm/0,75 mm/2 mm isi ulang.

Apapun alatnya, semua kembali ke pengguna dan kebutuhan. Carilah program alternatif yang sesuai dengan kebutuhan kita. Bukan karena ikut-ikutan orang.

Sebelum kita cari program alternatif di Linux, pertimbangin beberapa hal.

  1. Seberapa sering program itu kita pake?
  2. Fungsi dari program yang kita butuhkan itu hanya untuk melakukan rutinitas sehari-hari ato keperluan kantor/bisnis?
  3. Spesifikasi dari komputer kita. Terlebih lagi kapasitas hard disk sama SSD yang kudu kita kasih ruang juga buat backup.
  4. Kenyamanan pribadi. Entah itu kemudahan untuk menggunakan, fitur, atau tampilan antarmuka. Ane tulis di bagian terakhir pun karena ini sifatnya relatif.

Kalo kita udah mikirin keempat hal itu, kita cuman instal program yang seperlunya dan pasti kepake terus. Gak perlu dikit-dikit hapus program gara-gara hard disk sekarat.

Linux Itu Bandel

Emang bener. Diibaratin di game sih, Linux itu tipe karakter knight/paladin yang def-nya badak. Tapi itu bukan alasan bagi kita untuk lupa pemeliharaan dan perawatannya.

Kenapa ane nulis ini? Pengalaman pribadi gara-gara masalah sama laptop yang bikin kepala geleng-geleng.

Sejauh ini menurut pengguna lama Linux, penyakit di laptop itu cuman dua: masalah baterai sama kecerahan layar. Baterai bisa lebih nge-drop daripada Windows. Biasa ane pake Word sama dengerin white noise di Winamp aja bisa tahan sampe 8 jam di Windows. Eh pake Linux cuman buka Scrivener gak nyampe 3 jam ._.

Begitupun dengan pengaturan kecerahan layar yang kadang langsung maksimum tiap kali pasang charger. Cara mengatasi dua penyakit itu salah satunya dengan PowerTOP dari repository resmi distro.

Linux itu lebih mirip kayak bayi. Potensi tangguh tapi sensitif dalam masalah pemeliharaan. Salah sedikit gak cuman bisa bikin instal ulang, data ilang gaswat tuh! Banyak orang pake Linux dengan alasan klise bebas virus. Tapi Linux juga butuh pemeliharaan yang lebih rajin.

Kalo di Windows mah kudu rajin defragmenting data hard disk, bersihin cache, cek virus, disk cleanup, dll. Nah kalo di Linux itu “sampahnya” lebih gak kasat mata. Misalnya kita instal satu program dari repository. Ada tuh package yang gak kepake sama program ato sistem. Kalo gak dirapihin, bisa makan kapasitas hard disk. Bersihinnya pun kudu teliti karena dikit-dikit summon terminal, bash, ato apapun dengan “tampilan tulisan doang” yang typo dikit kena satu sistem. Kesannya nyeremin ya? Gak. Gunakan saja copy-paste! *gubrak*

Trik buat pemula tuh gini. Buat satu file khusus yang isinya perintah buat pemeliharaan PC sekaligus cara gunanya. Kalo ane sih suka unduh halaman situsnya langsung saking malesnya. Mau beres-beres? Copy-paste aja perintahnya, masukin password kalo diminta, terus enter.

Bentar, ada yang ketinggalan. Driver-nya gimana? Itu pertanyaan ane pas instal Linux doang. Kalo dulu sih kebantu dari driver Windows.

Linux itu gak harus instal driver. Sangat menolong orang dengan koneksi internet pas-pasan. Ane baca saran dari pengguna Linux lain di internet. Dia bilang instal driver itu gak perlu selama komputer kita baik-baik aja. Dia juga menyarankan instal driver kalo ada update kernel (aka “jantungnya” Linux). Soalnya kalo update  kernel pasti ada perubahan lagi termasuk cara kerja sistem menangani komputer kita.

Eh iya lupa. Butuh panduan untuk instalasi? Ane gak nulis hal ini jadi ane saranin tanya ke temen ato internet. Soalnya kalo nulis itu juga ya judul sama fokus tulisannya kudu dirombak lagi.

Kesan Pake Linux

Ane jadi inget perkataan salah satu karakter di novel yang lagi ane tulis.

Aku sudah lama tidak latihan. Jadi apa bedanya aku dengan seorang amatir?

 Abay (Dari Mata, 2017-2018)

Singkatnya ane seperti itu. Udah lama gak oprek PC ya apa bedanya dengan amatir. Berhubung tulisan ini buat sesama amatir juga jadi ya kita ngobrol aja suka dukanya.

Pake Linux itu sebenarnya mudah selama kita tahu cara memodifikasinya. Perlu ngintip tampilan desktop ane?

sumber: koleksi pribadi

Sekilas ala Mac OS gitu ya? Padahal itu hasil oprek fitur extensions Dash to Dock dari GNOME. Sesuai dengan yang ane tulis, ane gak banyak instal aplikasi. Gak cuman gara-gara salah setting waktu pertama kali instal Ubuntu (ane pake versi 18.04 LTS), ane tahu aplikasi mana aja yang lebih dibutuhin buat keseharian.

Asing dengan salah satu icon di dock? Itu Scrivener versi Linux. Buat yang pake Windows ato Mac OS, coba deh. Mantep banget apalagi buat tipe penulis yang lebih fokus karakter daripada plot. Gak perlu banyak program cuman buat cek desain karakter. Mumpung sekarang lagi NaNoWriMo, manfaatin aja. Lumayan dapet diskon 50% buat beli lisensi Scrivener bagi peserta NaNoWriMo (dan ane incer itu!). Lisensinya berlaku buat satu rumah dan bisa dikasih ke temen yang lagi dikejar deadline. Enak ‘kan?

Sempet ngerasa gagal move on? Pas minggu awal instal Linux sih. Itu pun gara-gara masalah hardware (eh tahunya itu bug).

Soal aplikasi pun mo di Windows ato Linux pun hampir semuanya open source (minus Word doang). Paling susah cari program alternatif buat unduh. Ane emang demen nonton film dan liat video belajar masak di YouTube. Biasanya sih dari channel-nya Maangchi, Kokiku.tv, ato Jamie Oliver. Mau simpen video pentingnya agak susah soalnya waktu itu belum ada yang “senakal” FDM.

Pas pake Linux, program yang ane pake pun dikit. Masih ada gim buat desain sampul. Masih nulis jurnal ini pake si rubah api Firefox. Ada Scrivener versi Linux (dan LibreOffice bawaan Ubuntu pun seakan “dikacangin” sama Scrivener). Masih ada Audacity sama Shotcut buat edit video trailer di Wattpad. Ada PCSXR (dan akhirnya FF VI tanpa patah-patah, hohoho!). Ada Calibre buat baca e-book (bisa lanjut baca Kwee Cheng, Wiro Sableng, Water Margin, sama referensi novel lainnya). Bisa main PUBG lagi via Steam. Bisa lanjut belajar masak sama nonton film pake VLC. Proyek takarir tertunda pun masih kebaca di Aegisub. Unduh pun ada XDM yang gak kalah bandel dari FDM.

Tetep sih aplikasi Windows yang ngangenin itu cuman Notepad++, Touhou, game Windows XP (apalagi Pinball), Media Player Classic, sama KBBI luring (justru ane merana nulis tanpa ini!). Biar bisa jalan pake Wine pun tetep aja beda.

Apa kudu instal ulang lagi? Gak deh. Paling nunggu update BIOS dari Lenovo biar bener. Soalnya capek instal ulang mulu. Aplikasinya pun udah banyak yang cocok (minus VLC yang masih kurang bening daripada Media Player Classic dan tentunya KBBI).

Ane gak bilang sistem operasi ini yang terbaik. Ane bukan fanatik kayak orang-orang di internet sono. Ane cuman mau bilang, kalo emang kita cocok dengan sistem operasi ini ya lanjutkan. Abaikan kata orang mengenai keputusan kita. Pede aja. Toh gak bakal dosa cuman gara-gara pake Linux ato sistem operasi lain.

Masih pengen coba Linux? Silakan. Tapi ingat periksa kondisi PC kita sebelum instal ya. Apalagi buat pengguna Lenovo, itu wajib!

NB:

Ada perbaikan kecil. Abisnya Gutenberg ngehe. Masa udah capek nulis kalimat yang nongol malah berkurang? -.-“

Anda Kurang Istirahat

Salah satu ciri kita kurang istirahat itu sekalinya istirahat langsung kebablasan. Pernah ngalamin juga? Berarti kita senasib.

Teori dalam dunia neurosains mengatakan sebaiknya bila melakukan sebuah kegiatan ya kita selingi dengan istirahat. Faktanya … di Indonesia boro-boro begono. Jam istirahat aja jadi kepake serius. Begitu pula dengan nasib ane yang terjebak dalam lingkaran setan tanpa istirahat.

Kondisi ane sekarang antara pusing pala Barbie, burnout, dan bosen. Serius. Banyak proyek keteteran karena ketiga hal itu ditambah masalah kesehatan. Malah keduluan sama orang lagi pasang takarir Oeroeg di YouTube.

Hal itu diperburuk lagi dengan kondisi keuangan. Dagang udah stabil tapi … piutang di orang banyak banget. Sekalinya ane tagih pun ada aja alasannya. Ini niat buat ngebangkrutin usaha orang ato bijimane sih? Derita jadi orang baik :d

Mau jalan-jalan tekuni hobi gambar pemandangan sama foto alam duit gak ada.

Diajak nongkrong ama temen ya ane malu. Sekalinya main ke mal dan restoran mahal. Padahal selera ane sih gak jauh dari warteg, warung nasi pinggir jalan, sama rumah makan Padang yang murah. Biar kata lidah ane itu bawel soal makanan apalagi menu luar negeri, realistis aja. Mending makan di warteg. Bayar 50k dah puas pake minum, kerupuk bisa ambil sebungkus gede, ada kembalian buat nabung, dan bisa buat sumbangin ke masjid. Itu pun makanannya kalo gak sayur waluh, kangkung, ato toge yang seporsinya murah!

Disuruh jalan-jalan sama ortu, males. Realistis aja. Rumah ane sekarang jauh ke mana-mana. Biasanya Margahayu Rawa sekarang Bandung coret. Ongkos yang semula minimalis dengan mengandalkan trayek bus kota jadi dua kali lipatnya. Belum lagi ane orangnya laper mata liat makanan aneh. Bawaannya pengen jajan terus ulas mulu di jurnal.

Di rumah juga serba salah. Jadilah bingung, pusing, sakit kepala (gara-gara masalah duit), dan burnout. Parahnya lagi ane itu introvert dengan kadar energi internal yang bermasalah. Ane kurang istirahat. Bukan berarti tidur terus masalah kelar. Istirahatin mental sama pikiran juga.

Capek fisik masih bisa pulih dengan istirahat. Capek mental? Itu lebih lama pulih daripada capek fisik. Biar kata fisiknya prima tapi mental amburadul ya bawaannya malas tingkat dewa. Serius. Kadang rasa malas gak cuman muncul dari “emang pada dasarnya kita males”. Rasa malas itu bisa bermula dari kurang istirahat yang efektif dan kelelahan mental.

Cara mengatasinya yang paling efektif itu dengan time management yang bener. Belakangan ini pengaturan waktu ane kacau balau karena kelelahan mental dan fisik sekaligus. Udah enak kemaren pas pake Podomoro masih bisa sante eh … huh. Nasib siapa yang bisa tebak?

Kondisi ane sekarang lebih parah dari kemaren waktu masih kena depresi ato teratur dengan Podomoro eh Pomodoro. Masalahnya ada bayi di rumah ane yang gak bisa ditinggal biar ke WC. Udah gitu kudu cover dance di depan bayi sambil setel dangdut biar anaknya diem.

Intinya. Capek? Istirahatin aja. Istirahatnya kudu yang efektif, bisa bikin fisik dan mental kita lebih baik, dan tentunya nyaman dengan cara kita sendiri. Fuh. Kapan ane bisa jadi diri sendiri kalo kek gini mulu? *tepok jidat*

Tangisan Takkan Menjadi Tinta

Lidahku kelu bila berucap di depan ratusan pasang mata bergulir tepat di dadaku. Lilitan pagar kawat berduri menghimpit dari segala penjuru, bergerak cepat dalam hitung mundur mendorongku dari kejauhan. Bilah-bilah jati podium meninggi lalu runtuh senti demi senti menembus helai-helai awan genggang. Aku tak dengar lagi laju serpihan bersama orkestra angin dan bumi bertempo 10 m/s2. Gema tawa-hantu menusukku sebagai earworm. Tawanya berputar sukarela setiap detik membuat langkahku terkesiap. Sesaat tubuhku berada dalam langkah kritisnya. Kristal es meniadakan perasaan apapun di ujung jari-jengkol kakiku. Bersamaan waktu bergulir dengan semua kekacauan berkecamuk dalam pikiran mendistorsi pandanganku dari realita. Itulah yang kurasakan kala harus menginjakkan kaki di atas podium. Selama itulah pita suara turut menjadi sasaran empuk bagi kawat berduri mencekik leherku.

Aku adalah aku. Bukan Bubu kecil yang bersikukuh di hadapan Nick dan Larry mencari bayi kadal. Namaku itu sebangsa dengan Budi, Bambang, Ruri, ataupun Amir yang bahkan guru SD pun menganggap mereka sudah berlalu. Aku laksana seorang gadis dengan mawar merah dalam iringan biola menyayat ESTi. Antara terlupakan, dilupakan, atau memang tidak sengaja khilaf. Satu-satunya cara bagiku untuk eksis adalah bicara. Berkata “ah” saja lidahku lebih buruk dari orang bisu. Mereka pergi sebelum aku sempat bicara.

Orang bijak bestari pernah berkata, “Ketika sebuah pikiran sulit menjadi ucapan, tulislah pikiranmu agar lekas abadi.”

Ia benar. Ketika pikiran jauh lebih cepat daripada lidah, tulislah. Tangan takkan pernah berkhianat dengan pikiran kita. Menulis adalah sebuah portal menuju dunia tak terbatas. Dunia di atas hamparan kanvas putih dengan beraneka peluang rupanya. Kanvas putih ini kini adalah duniaku. Setiap pikiran bisa kuabadikan begitu sempurna. Begitu nyata hingga batas antara realita dan imajinasi pun tak bisa kubayangkan. Aku bisa berdiri di ujung pelangi mencari kuali emas permata lalu berpindah ke ujung kaki langit memandangi indahnya lukisan Tuhan Maha Agung di kala senja menjelang. Aku bisa bernyanyi riang di antara sekawanan ikan-ikan kecil tanpa rasa takut menyeberangi arus lautan. Aku bisa melesat melampaui cahaya melintasi dimensi ruang dan waktu di jagad raya luas sana.

Aku hanya … lagi-lagi layaknya seonggok makanan hangat di sudut meja dari sebuah kedai kecil. Berharap akan kedatangan sendok-sendok lapar atau kritikus yang mencicipiku walau sesuap. Berdiam di antara deretan restoran Michelin dan tempat makan rumahan. Sekuat apapun aku bicara, mereka berpaling. Rasanya aku ingin menutup kedai kecil ini yang kubangun dengan cinta. Bagaimana aku bisa tahu bila tak seorang pun datang untuk singgah? Sayur mayur segar itu lambat laun akan layu. Mata ikan kuning cerah lambat laun akan memerah. Warna-warna indah dari dindingnya lambat laun akan mengelupas. Aku mungkin tak sanggup lagi untuk berdiri tegap di atas kedua kakiku. Aku mungkin saja kehilangan kebahagiaan di ujung jari setiap kali menginjakkan kaki di dapurku. Berharap aku bisa berbagi kebahagiaan pada siapapun yang singgah walau dalam hidangan sederhana.

Berat rasanya memandangi diriku yang membesarkan kata-kata dengan penuh cinta. Mengasah untaian simbol demi simbol menjadi senjata nan tajam. Sesak dan sedih. Aku tak ingin bersedih lagi. Aku sudah berjuang untuk bertahan. Seberapa kuat aku mengeluh, tangisanpun takkan berubah menjadi tinta yang akan menopangku hidup. Ia akan lenyap seiring waktu berjalan tanpa jejak.