Anda Kurang Istirahat

Salah satu ciri kita kurang istirahat itu sekalinya istirahat langsung kebablasan. Pernah ngalamin juga? Berarti kita senasib.

Teori dalam dunia neurosains mengatakan sebaiknya bila melakukan sebuah kegiatan ya kita selingi dengan istirahat. Faktanya … di Indonesia boro-boro begono. Jam istirahat aja jadi kepake serius. Begitu pula dengan nasib ane yang terjebak dalam lingkaran setan tanpa istirahat.

Kondisi ane sekarang antara pusing pala Barbie, burnout, dan bosen. Serius. Banyak proyek keteteran karena ketiga hal itu ditambah masalah kesehatan. Malah keduluan sama orang lagi pasang takarir Oeroeg di YouTube.

Hal itu diperburuk lagi dengan kondisi keuangan. Dagang udah stabil tapi … piutang di orang banyak banget. Sekalinya ane tagih pun ada aja alasannya. Ini niat buat ngebangkrutin usaha orang ato bijimane sih? Derita jadi orang baik :d

Mau jalan-jalan tekuni hobi gambar pemandangan sama foto alam duit gak ada.

Diajak nongkrong ama temen ya ane malu. Sekalinya main ke mal dan restoran mahal. Padahal selera ane sih gak jauh dari warteg, warung nasi pinggir jalan, sama rumah makan Padang yang murah. Biar kata lidah ane itu bawel soal makanan apalagi menu luar negeri, realistis aja. Mending makan di warteg. Bayar 50k dah puas pake minum, kerupuk bisa ambil sebungkus gede, ada kembalian buat nabung, dan bisa buat sumbangin ke masjid. Itu pun makanannya kalo gak sayur waluh, kangkung, ato toge yang seporsinya murah!

Disuruh jalan-jalan sama ortu, males. Realistis aja. Rumah ane sekarang jauh ke mana-mana. Biasanya Margahayu Rawa sekarang Bandung coret. Ongkos yang semula minimalis dengan mengandalkan trayek bus kota jadi dua kali lipatnya. Belum lagi ane orangnya laper mata liat makanan aneh. Bawaannya pengen jajan terus ulas mulu di jurnal.

Di rumah juga serba salah. Jadilah bingung, pusing, sakit kepala (gara-gara masalah duit), dan burnout. Parahnya lagi ane itu introvert dengan kadar energi internal yang bermasalah. Ane kurang istirahat. Bukan berarti tidur terus masalah kelar. Istirahatin mental sama pikiran juga.

Capek fisik masih bisa pulih dengan istirahat. Capek mental? Itu lebih lama pulih daripada capek fisik. Biar kata fisiknya prima tapi mental amburadul ya bawaannya malas tingkat dewa. Serius. Kadang rasa malas gak cuman muncul dari “emang pada dasarnya kita males”. Rasa malas itu bisa bermula dari kurang istirahat yang efektif dan kelelahan mental.

Cara mengatasinya yang paling efektif itu dengan time management yang bener. Belakangan ini pengaturan waktu ane kacau balau karena kelelahan mental dan fisik sekaligus. Udah enak kemaren pas pake Podomoro masih bisa sante eh … huh. Nasib siapa yang bisa tebak?

Kondisi ane sekarang lebih parah dari kemaren waktu masih kena depresi ato teratur dengan Podomoro eh Pomodoro. Masalahnya ada bayi di rumah ane yang gak bisa ditinggal biar ke WC. Udah gitu kudu cover dance di depan bayi sambil setel dangdut biar anaknya diem.

Intinya. Capek? Istirahatin aja. Istirahatnya kudu yang efektif, bisa bikin fisik dan mental kita lebih baik, dan tentunya nyaman dengan cara kita sendiri. Fuh. Kapan ane bisa jadi diri sendiri kalo kek gini mulu? *tepok jidat*

Iklan

Tangisan Takkan Menjadi Tinta

Lidahku kelu bila berucap di depan ratusan pasang mata bergulir tepat di dadaku. Lilitan pagar kawat berduri menghimpit dari segala penjuru, bergerak cepat dalam hitung mundur mendorongku dari kejauhan. Bilah-bilah jati podium meninggi lalu runtuh senti demi senti menembus helai-helai awan genggang. Aku tak dengar lagi laju serpihan bersama orkestra angin dan bumi bertempo 10 m/s2. Gema tawa-hantu menusukku sebagai earworm. Tawanya berputar sukarela setiap detik membuat langkahku terkesiap. Sesaat tubuhku berada dalam langkah kritisnya. Kristal es meniadakan perasaan apapun di ujung jari-jengkol kakiku. Bersamaan waktu bergulir dengan semua kekacauan berkecamuk dalam pikiran mendistorsi pandanganku dari realita. Itulah yang kurasakan kala harus menginjakkan kaki di atas podium. Selama itulah pita suara turut menjadi sasaran empuk bagi kawat berduri mencekik leherku.

Aku adalah aku. Bukan Bubu kecil yang bersikukuh di hadapan Nick dan Larry mencari bayi kadal. Namaku itu sebangsa dengan Budi, Bambang, Ruri, ataupun Amir yang bahkan guru SD pun menganggap mereka sudah berlalu. Aku laksana seorang gadis dengan mawar merah dalam iringan biola menyayat ESTi. Antara terlupakan, dilupakan, atau memang tidak sengaja khilaf. Satu-satunya cara bagiku untuk eksis adalah bicara. Berkata “ah” saja lidahku lebih buruk dari orang bisu. Mereka pergi sebelum aku sempat bicara.

Orang bijak bestari pernah berkata, “Ketika sebuah pikiran sulit menjadi ucapan, tulislah pikiranmu agar lekas abadi.”

Ia benar. Ketika pikiran jauh lebih cepat daripada lidah, tulislah. Tangan takkan pernah berkhianat dengan pikiran kita. Menulis adalah sebuah portal menuju dunia tak terbatas. Dunia di atas hamparan kanvas putih dengan beraneka peluang rupanya. Kanvas putih ini kini adalah duniaku. Setiap pikiran bisa kuabadikan begitu sempurna. Begitu nyata hingga batas antara realita dan imajinasi pun tak bisa kubayangkan. Aku bisa berdiri di ujung pelangi mencari kuali emas permata lalu berpindah ke ujung kaki langit memandangi indahnya lukisan Tuhan Maha Agung di kala senja menjelang. Aku bisa bernyanyi riang di antara sekawanan ikan-ikan kecil tanpa rasa takut menyeberangi arus lautan. Aku bisa melesat melampaui cahaya melintasi dimensi ruang dan waktu di jagad raya luas sana.

Aku hanya … lagi-lagi layaknya seonggok makanan hangat di sudut meja dari sebuah kedai kecil. Berharap akan kedatangan sendok-sendok lapar atau kritikus yang mencicipiku walau sesuap. Berdiam di antara deretan restoran Michelin dan tempat makan rumahan. Sekuat apapun aku bicara, mereka berpaling. Rasanya aku ingin menutup kedai kecil ini yang kubangun dengan cinta. Bagaimana aku bisa tahu bila tak seorang pun datang untuk singgah? Sayur mayur segar itu lambat laun akan layu. Mata ikan kuning cerah lambat laun akan memerah. Warna-warna indah dari dindingnya lambat laun akan mengelupas. Aku mungkin tak sanggup lagi untuk berdiri tegap di atas kedua kakiku. Aku mungkin saja kehilangan kebahagiaan di ujung jari setiap kali menginjakkan kaki di dapurku. Berharap aku bisa berbagi kebahagiaan pada siapapun yang singgah walau dalam hidangan sederhana.

Berat rasanya memandangi diriku yang membesarkan kata-kata dengan penuh cinta. Mengasah untaian simbol demi simbol menjadi senjata nan tajam. Sesak dan sedih. Aku tak ingin bersedih lagi. Aku sudah berjuang untuk bertahan. Seberapa kuat aku mengeluh, tangisanpun takkan berubah menjadi tinta yang akan menopangku hidup. Ia akan lenyap seiring waktu berjalan tanpa jejak.

Tolong Bantu Kami Lepaskan Diri dari Jerat Pornografi! (Bagian Kedua)

Lanjutan tulisan dari bagian sebelumnya karena masalah teknis. Buat teman-teman yang belum baca bagian pertamanya, ane sarankan agar baca bagian pertamanya biar jelas duduk perkaranya.

Yuk kita sebagai sesama perempuan diskusi di sini. Teman-teman boleh cerita pengalaman soal perjuangan teman-teman melaluinya fase gelap itu. Kita ngobrol aja biar perasaan kita jauh lebih lega.

******

Fanservice Beda Tipis

sumber: webtoon Let’s Play

Apa itu fanservice? Singkatnya itu “cuci mata” dalam literatur atau penampilan secara langsung demi memuaskan dahaga para fans. Bikini, badan six-pack, baju berlekuk ala Betty Boop, belahan dada, hingga tampilan sehabis mandi menjadi bentuk umum yang biasa menjadi cuci mata bagi para fans. Fanservice sesekali tidak apa asalkan tidak mengurangi kualitas dari sebuah karya.

Kata siapa fanservice hanya milik kaum laki-laki? Bahkan perempuan pun tidak lepas dari fanservice. Lantas. Apa bedanya dengan laki-laki?

Laki-laki: mimisan sama ngiler.
Perempuan: mimisan, ngiler, histeris gak jelas, kebawa sampe mimpi, dan ngarep lebih.

Kenapa reaksi perempuan bisa lebih banyak daripada laki-laki? Laki-laki masih menjaga citra mereka di mata orang lain sekaligus punya kesibukan yang lebih penting ketimbang memperhatikan hal itu. Selain itu perempuan lebih banyak hidup di dalam dunia mereka jadi wajarlah mereka seperti itu.

Bagaimana reaksi laki-laki apabila melihat fanservice?

capek deh

Kenapa laki-laki bisa berpikir seperti itu? Mereka terlalu sering melihat fanservice sehingga reaksi mereka datar atau cenderung mengabaikannya. Anehnya, kasus itu terbalik pada perempuan. Mereka begitu histeris melihat pola fanservice yang hampir serupa berulang kali.

Pahitnya Cinta Manisnya Dosa

Judul dari bagian ini memang ane ambil dari salah satu judul film lawas Indonesia, Pahitnya Cinta Manisnya Dosa (1978). Film yang dibintangi oleh Yenny Rachman, Boy Tirayoh, dan drg. Fadly ini singkatnya menjelaskan tentang “pengorbanan” Mia demi menolong keluarganya. Singkatnya ini adalah film bertopik dewasa dengan cerita yang miris.

Kebetulan ini pas banget dengan topik yang bakal kita bahas selanjutnya.

Pahitnya cinta manisnya dosa tidak semata-mata menjelaskan judul sebuah film. Itu menggambarkan keadaan kita yang mulai terjerumus dalam jeratan pornografi. Dosa yang tampak manis setelah terkemas manis di dalam khayalan dunia perempuan. Dosa yang bersembunyi di balik indahnya hamparan bunga bermekaran pada sebuah kastil putih milik seorang pangeran tampan dari kerajaan seberang.

Ada yang bilang kisah romantis di masa sekarang layaknya pornografi dalam balutan permen ala California Gurls-nya Katy Perry.

Bahkan setelah membaca komentar dari para penonton YouTube di halaman ini, mereka lebih menyarankan untuk membuka Pornhub. Lelucon mereka memang beralasan.

Banyak di antara mereka yang pada masa lagu ini rilis masih berusia belia. Mereka kerap dimarahi guru dan orang tua mereka karena menyanyikan lagu ini. Mereka kemudian menonton kembali video klip ini setelah dewasa. Saat itu mereka paham maksud dari guru dan orang tua mereka. Menurut mereka, tayangan di Pornhub masih jauh lebih baik daripada dunia permen yang memperhalus lirik-lirik nakal dari lagu ini.

Begitupun dengan pornografi. Banyak orang yang terjerumus ke dalamnya karena ketidaksengajaan. Semua dikemas secara manis semanis negeri permennya Katy Perry tanpa tahu dampak jangka panjangnya. Merasa kurang puas dengan fanservice, mereka mencari jalan lain untuk memuaskan dahaganya. Ada yang mencari gambar syur, menonton tayangan ehem, bahkan lebih buruk lagi menjadi kreator dari konten-konten seperti itu.

Bermula dari Lepas Tanggung Jawab

Pornografi sama berbahayanya dengan narkotika. Sayangnya itu jauh lebih sulit untuk sembuh dibandingkan dengan narkotika. Para pecandu narkotika bisa sembuh setelah melalui fase sakaw. Pornografi tidak memiliki fase detoksifikasi seperti halnya sakaw. Usaha bagi para mantan pecandu dan terapis jauh lebih besar daripada kasus narkotika.

Kenapa trilogi Fifty Shades begitu dikecam di kalangan klub buku? Karena mereka peduli dengan kita sebagai pembaca. Orang-orang di klub buku selalu memilih buku terbaik. Mereka ulas dengan penilaian objektif sebagai acuan bagi para pembaca yang kebingungan untuk membaca buku bagus sesuai selera mereka. Bahkan ada salah satu akun yang terang-terangan memotret seperti ini di laman Goodreads.

sumber: Goodreads

Kadang kita juga melihat ada penulis atau pembuat konten yang tidak bertanggung jawab dengan menempatkan hal buruk di tempat yang salah. Kasus seperti ini muncul di Wattpad. Ironisnya, untuk konten berbahasa Indonesia sendiri pembuatnya serampangan menampilkan jelas konten seksual. Hal yang jelas-jelas terlarang dalam aturan main Wattpad. Mulai dari sampul, deskripsi yang terlalu frontal, hingga ane kesel. Kurang ajar emang. Tiap buka Wattpad malah disodorkan rekomendasi seperti itu jadi ane bisa tahu. Parahnya banyak pembuat genre tersebut adalah bocah di bawah umur. Ane tersentak membaca komentar dari para pengguna senior di sana. Bahkan ada beberapa pengguna senior membuat suatu komunitas pemberantas pornografi yang tidak hanya melaporkan konten-konten nakal tersebut, tetapi juga mendidik pembaca agar lebih cerdas dalam memilih bacaan mereka.

Fenomena di Wattpad tadi memang mencerminkan keteledoran kita sebagai penulis atau pembuat konten tanpa memperdulikan keadaan. Apa kita mau adik bahkan anak-anak kita kelak membaca hal seperti itu? Atau lebih buruk lagi mempraktikkan hal yang mereka lihat? Hal seperti itu jarang menjadi sorotan bagi para pembuat konten di negeri kita.

Contoh yang bagusnya itu Raditya Dika. Ada salah satu vlog lamanya (ane lupa video yang mana) yang bercerita soal proses kreatifnya sewaktu membuat konten dari materi stand up, buku, sampe vlog-nya. Kalo kita ikuti Raditya Dika dari era Kambing Jantan muncul pertama kali, tahu ‘kan gaya penuturannya kayak gimana? Dia cerita juga di vlog-nya, ada orang tua yang protes gara-gara anak kecil juga nonton channel YouTube-nya. Sejak saat itu dia mikir lagi mengenai konten tepat sesuai usia. Emang ada fans yang menyayangkan hal itu mempengaruhi kualitas guyonan dan kontennya. Toh Raditya Dika dengan gayanya yang sekarang aja kualitas kontennya malah lebih bagus.

Ada contoh lain yang kudu kita tiru juga. Kali ini datang dari dunia webcomic. Ane nemu ini pas lagi cari komik selingan biar gak bosen. Nama komiknya Randomphilia. Komiknya udah tamat di Line Webtoon versi Bahasa Inggris. Sesuai namanya, komiknya emang random. Sebangsa sama Tahilalats lah. Ada hal yang menarik dari si pengarangnya. Di awal kemunculannya aja, dia bikin chapter yang isinya permintaan maaf. Dia gak tahu kalo Webtoon itu banyak pembaca dari usia anak-anak sampe remaja. Untungnya dia sadar pas chapter-nya masih dikit jadi gak jadi sensasi kayak kasus Fifty Shades. Buat yang penasaran dengan chapter hilang itu, banyak kok bertebaran di situs manga scan.

Pornografi itu bukan masalah yang remeh. Ini serius mengingat di masa sekarang orang tua lebih bebas membiarkan anak-anak mereka mengakses internet di usia dini.

Coba Pikirkan (Pengakuan Jujur dari Korban)

Kenapa judul bagiannya seperti ini? Ya. Memang ini adalah tulisan jujur dari unek-unek di kepala dan perasaan ane yang sesak. Ane bahkan mengatakan pada tulisan sebelumnya. Ane pengen nangis.

Awal mula jerat ini dari lingkungan pergaulan. Memang ane besar di lingkungan yang mayoritas laki-laki. Bahkan banyak teman dekat ane yang laki-laki. Banyak di antara mereka yang mesum. Ane penasaran dengan obrolan mereka lalu iseng cari tahu. Dulu ane pernah baca majalah Playboy online. Tapi itu hanya sekali dan gak pernah buka lagi. Ane tahu posisi ane sebagai perempuan. Mereka akan memandang jijik bila ada perempuan seperti itu di antara mereka. Pada saat itu pun ane masih mendalami ilmu agama. Keduanya masih membentengi diri ane agar tidak melakukan kebodohan untuk kedua kalinya.

Semua kacau semenjak ane berusaha berbaur di tengah perempuan. Teman masa kecil ane yang mayoritas laki-laki pun bukan karena faktor lingkungan semata. Trauma masa kecil yang membuat ane kesulitan bergaul dengan perempuan sebaya. Secara topik pembicaraan pun ane memang sulit bergaul. Ane tomboi, kutu buku, lebih senang baca National Geographic daripada teenlit, lebih senang oprek PC daripada narsis di jejaring sosial, lebih senang jalan-jalan daripada nongkrong, dan ditambah trauma masa kecil yang bikin lebih sulit ngobrol. Ane mulai belajar bergaul dari literatur perempuan dan … astaghfirullah. Kenapa ini jauh lebih susah daripada sewaktu masih main sama anak laki-laki kayak dulu?

Tulisan ini pun ane buat selagi masih pergulatan batin melawan hal itu. Ane juga bingung. Kenapa dunia perempuan bisa lebih buruk daripada laki-laki? Bukankah kita ini calon istri dan ibu dari anak-anak kita? Bukankah kita ini berlian bagi keluarga dan suami kita kelak? Bukankah pepatah mengatakan bila rusak seorang perempuan maka rusaklah satu keluarganya?

Ane lelah hidup seperti ini terus. Racun itu terus menghantui ane di balik harumnya bunga poppy. Ia datang bersama keindahan yang semakin menggeragoti diri. Beruntunglah ane masih dalam tahap awal. Bekal agama sejak kecil ditambah pengalaman hidup di antara komunitas laki-laki mengajarkan ane banyak hal termasuk cara untuk berpikir jernih. Berada di tahap awal pun berjuang sesulit ini apalagi jika sudah terperosok lebih dalam! Butuh berapa lama bagi teman-teman agar kita sadar dan kembali diterima di masyarakat terlebih orang-orang yang kita sayangi?

Teman-teman, apa kita tidak bosan hidup seperti ini terus? Apa teman-teman tidak bosan banyak waktu yang tersita hanya untuk hal itu? Apa teman-teman merasa kehilangan waktu bersama orang yang kita sayangi? Apa teman-teman merasa kehilangan gairah akan hal-hal yang kita sukai dan tekuni sejak lama? Apa teman-teman merasa prestasi teman-teman selama ini sia-sia hanya karena hal itu? Apa teman-teman sayang akan diri kalian lalu membiarkan anak kecil dan orang dewasa di dalam diri kita menangis sedih melihat keadaan kita?

Bayangkan bila teman-teman melihat orang yang kita sayangi seperti itu. Masihkah teman-teman mau membiarkan mereka menyendiri begitu saja? Bergulat sendiri dengan dunianya lalu kita semakin buat ia menyendiri oleh prasangka kita? Apa teman-teman ingin menyelamatkan mereka? Apa teman-teman ingin melihat mereka kembali seperti mereka yang kita kenal dulu? Apa teman-teman ingin orang lain akan bernasib sama seperti mereka di masa depan?

Tidak.

Tidak.

Tidak boleh ada lagi hal yang sama terulang di masa depan. Laki-laki atau perempuan. Pornografi semakin mengancam kita lebih berbahaya daripada narkotika. Cukup lingkaran setan itu hanya berhenti pada kita. Selamatkan diri kita agar lebih banyak menyelamatkan orang lain dari lingkaran setan tersebut. Ayo kita bangkit. Ayo kita kembali berprestasi seperti dulu lagi. Ayo kita buat karya terbaik yang lebih sehat, positif, dan memberi dampak baik bagi kemajuan sesama.

Ayo kita jujur mulai dari sekarang. Ya. Memang kita pernah melihat hal itu. Kita ingin berubah. Kita harus jujur dan lebih terbuka pada diri sendiri. Minta tolong orang yang lebih berpengalaman untuk memecahkan masalah kita. Bisa orang tua, sahabat, pemuka agama, atau konselor yang menurut kita nyaman. Tobatlah selagi masih sadar. Bukan tobat sambel ye tapi tobat ditambah membuat konten lebih positif bagi kita. Konten yang bisa memberdayakan dan mencerdaskan perempuan. Konten yang menawarkan fantasi sesaat yang sesat dan tidak sehat. Yuk kita sama-sama perangi pornografi dengan saling mengulurkan tangan mengajak, membantu, dan membimbing teman-teman kita yang senasib dengan kita dulu.

Obrolin Topik Cara Ane

Nah, sesuai dengan judulnya, kita bakalan ngobrol panjang lebar kali tinggi mengenai ngobrolin suatu hal. Tapi ngobrol yang ane maksud ini bukan dalam artian ngobrol basa-basi-busuk. Ngobrol di sini dalam artian menulis artikel atau apapun dengan tema nonfiksi. Tanpa basa-basi-busuk macam tulisan ane sebelumnya, mari kita mulai sesi curhatnya.

Lebih Gampang Mana, Fiksi atau Nonfiksi?

Dulu ane jawab fiksi. Seiring berjalannya waktu ane malah bilang lebih gampang nonfiksi. Cuman tanggung jawabnya lebih berat dalam menulis nonfiksi.

Pertama. Tanggung jawab moral. Pernah denger kasus Anggito Abimanyu yang sempat rame beberapa tahun silam? Kasusnya sederhana: plagiarisme salah satu opini di surat kabar nasional. Gara-gara masalah itu, beliau terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dosen UGM.

Tanggung jawab moral bikin tulisan nonfiksi itu gede lho. Salah sedikit aja bisa jadi masalah apalagi di masyarakat serba salah macam kondisi masyarakat kita sekarang. Apalagi di ranah sensitif seperti akademik, religi, dan politik. Dulu pas ane masih SMP, ane masih berani nulis tema tentang agama dan politik di jurnal ini. Salah satunya ya curhatan bocah SMP yang mengkritik kebijakan kenaikan BBM. Tapi tulisan lama ane sengaja hapus biar gak mengundang kontroversi.

Kedua. Tulisan kita itu lebih abadi daripada usia kita. Jangan sampai tulisan kita bikin pengaruh buruk buat generasi mendatang seperti halnya kasus trilogi Fifty Shades. Tulisan kita itu bisa jadi ladang amal ibadah selama kontennya itu bermanfaat bagi banyak orang. Makanya di akhir tulisan ane sering ada kalimat “kalo gak bermanfaat pun masih bisa jadi bungkus gorengan” juga. Jangan salah, di balik kalimat lelucon itu filosofinya dalem lho.

Ketiga. Kredibilitas sumber dari tulisan kita. Apa sebelum ane ngobrol panjang lebar kali tinggi itu ane gak riset? Ane riset dulu lah. Makanya ada beberapa tulisan serius ane yang panjang banget dan butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Berhubung kemasannya sengaja dibikin santai, ane sengaja gak taruh daftar pustaka. Paling ane kasih tautan tulisan aslinya kalo ada sumber dari internet.

Penyajian yang Bercanda

Ciri khas dari tulisan serius ane di jurnal ini emang gak pernah serius. Karya serius itu hanya berlaku untuk tugas sekolah, kuliah, dan karya ilmiah. Ane sering kasih referensi budaya populer biar lebih paham. Soalnya ane belajar dari statistik pembaca, kebanyakan demografi pembaca yang nyasar ke sini itu anak muda.

sumber: Photobucket

bikin tulisan terlalu serius, sungguh ter-la-lu!

Biar pembacanya gak bosen, ane sering pasang gambar acak dari internet. Misalnya buat jelasin satu hal, ane biasa pake foto babeh Jaja Miharja. Soalnya babeh Jaja Miharja itu sudah terkenal dengan jargonnya “apaan tuh?”

sumber : pikiran-rakyat.com

apaan tuh?

Jargon ini dipopulerkan oleh babeh Jaja Miharja sewaktu menjadi pembawa acara Kuis Dangdut di TPI (sekarang MNCTV).

Kalo ane cerita soal hal yang bikin kaget, biasanya muncul gambar ini.

woot?

Sumbernya itu dari salah satu episode NG Ramune, salah satu anime lawas. Kebetulan posenya konyol jadi ane sering pake buat ekspresi kaget. Ini juga bisa dikatakan easter egg. Soalnya hampir semua akun pribadi milik ane pake avatar ini. Pengecualian buat jurnal yang avatar-nya Pecola dan akun media sosial ane pake foto “pika”.

ane serius, emang ada hewan namanya pika

Kenapa bikin tulisannya gak serius? Biar gak bosen. Ane juga bukan tipe orang serius. Santai kayak di pantai!

Di saat ane bingung soal voice sama tone di fiksi, ane udah dapet hal itu lebih dulu di nonfiksi. Voice ane di dunia nyata gak jauh beda kayak gini.  Tone bawaan ane itu emang bercanda. Singkatnya tulisan nonfiksi ane itu seakan lagi ngobrol biasa sama temen-temen tapi melalui media tulisan. Itu bisa jadi salah satu cara biar orang lain tahu isi pikiran ane secara gamblang. Kenyataannya pikiran ane itu lebih cepet daripada omongan. Kadang suka gak nyambung omongan sama pikiran. Cara lebih aman buat luapin unek-unek? Menulis.

Kalo dulu gak kena semprit dosen pas lagi presentasi, mungkin ane gak bakal sadar voice sama tone dalam menulis.

Bekal Berguna buat Teman-Teman

Buat temen-temen yang pengen bikin tulisan nonfiksi receh tapi nagih, ane bakal bagikan resepnya.

Buatlah Tulisan dengan Volume

Balik ke rumus Matematika SD. Sebutkan rumus menghitung luas dan volume! Mulai lupa-lupa inget? Oke kita bakal nostalgia masa-masa SD lagi.

Rumus menghitung luas: panjang x lebar
Rumus menghitung volume: panjang x lebar x tinggi

Sebenarnya maksud ane tadi itu pun. Ane sengaja mempermainkan ungkapan “panjang lebar” dengan rumus menghitung luas. Tapi permainan kata itu ada maksudnya.

Perhatikan perbedaan kedua rumus Matematika SD itu. Apa yang membedakan keduanya? Kedalaman dengan kata lain tinggi. Perasaan itu beda deh. Sebenarnya konsep kedalaman sama tinggi itu sama. Bedanya cuman berada di titik ukur.

Kalo pake istilah garis bilangan sih, titik ukur itu angka nol. Tinggi itu bilangan positif. Kedalaman itu bilangan negatif. Tinggi itu untuk menunjukkan ukuran suatu benda di atas tanah dari tempat kita berpijak (bilangan positif). Kedalaman itu menunjukkan ukuran suatu benda di bawah tanah dari tempat kita berpijak (bilangan negatif).

sumber: ccuart.org

Apa hubungannya rumus matematika tadi dengan menulis? Kalo kita menulis panjang lebar tapi tidak ada kedalaman dari tema yang kita bahas, tulisan itu gak menarik. Singkatnya kayak selebaran yang dibagiin sama SPG kita ambil karena dia cantik tapi pas udah jauh dibuang gitu aja. Kenapa kita butuh kedalaman dalam tulisan? Soalnya tulisan pun ada masanya.

Tulisan yang mendalam itu lebih bertahan lama di mata pembaca. Apalagi kalo tulisannya membahas suatu hal secara menyeluruh, bisa jadi bahan buat referensi. Contohnya salah satu blog tentang Sailor Moon. Apa Sailor Moon masanya udah lewat? Ya. Popularitasnya udah kalah sama Madoka dan Pretty Cure. Tapi blog itu membahas semua hal berkaitan tentang Sailor Moon mulai dari segi cerita hingga fakta-fakta uniknya.

Apa blog itu tetap banyak pengunjung biar masanya udah lewat? Iya. Blog itu masih tetap dikunjungi fans Sailor Moon, bukan fans yang penasaran sama Sailor Moon, dan orang lain yang tertarik untuk mengulas soal Sailor Moon lebih dalam.

Tulisan tentang Sailor Moon memang receh di kalangan sebagian orang. Tapi itu bisa bertahan karena punya volume konten yang berbobot.

Pelajari Feynman Technique

Siapa Feynman? Richard Feynman adalah peraih Nobel kategori Fisika atas teorinya di bidang fisika kuantum. Hal yang menarik dari beliau bukan penghargaan Nobelnya, melainkan cara beliau mengajar di kelasnya. Tipe dosen idaman mahasiswa deh.

Cara beliau mengajar itu prinsipnya sederhana.

Kalo kita gak bisa jelasin suatu hal secara sederhana, berarti tandanya kita gak paham.

Ada penjelasan rincinya di internet buat temen-temen yang penasaran banget dengan hal ini. Kudu banget buat dipelajarin!

Teknik ini gak cuman kepake buat mengajarkan orang lain. Kita juga bisa menerapkan teknik ini buat belajar dan menulis nonfiksi.

Apa nulis tulisan nonfiksi itu kudu pake bahasa ilmiah njelimet dan bikin otak kita jungkir balik? Gak kok. Coba deh bikin tulisan nonfiksi bertema berat dengan bahasa receh dan kosa kata standar ala bocah. Bisa kok selama paham topik yang bakal kita bahas.

Riset, Riset, dan Riset

Menulis nonfiksi bagai sayur tanpa garam bila tanpa riset. Tapi riset seperti apa yang kudu kita lakukan?

Riset mengenai topik pembicaraan yang bakal kita ulas. Itu mah jelas. Buat memperdalam pengetahuan kita sebelum membahas suatu hal. Lebih baik salah pas riset daripada salah fatal pas tulisannya udah jadi.

Riset mengenai sasaran pembaca. Perhatikan betul sasaran pembaca dari tulisan kita. Berhubung sasaran pembaca ane di jurnal itu anak muda, jadilah bahasanya receh dan gak serius.

Riset mengenai kebutuhan pembaca. Sebenarnya si pembaca itu maunya apa sih? Jangan sampe kita kayak stasiun TV memperlakukan emak-emak kita. Butuhnya apa eh malah dibodohin. Contohnya acara masak. Acara masak yang segmentasinya orang sibuk sama ibu rumah tangga itu beda banget. Kalo gak percaya, analisis acara Urban Cook dengan Aroma di YouTube. Kenapa Urban Cook pendekatannya seperti itu ya karena sasaran tayangannya itu buat penduduk kota besar yang serba sibuk. Beda dengan Aroma yang sasarannya lebih ke ibu rumah tangga dengan waktu lebih luang.

Jangan lupa lakukan pengujian. Buat tulisan di blog itu lebih gampang soalnya ada fitur analytic bawaan. Kita analisis nih tema tulisan beragam dan reaksi pembaca. Sukses gak? Kalo sukses, berarti jalan teman-teman untuk meraih pembaca sudah ada di depan mata. Gak sukses ya benahi lagi kualitas dari konten kita dan perjelas riset yang sudah kita lakukan.

Menulislah dari Hati

Tips ini emang klise tapi ane bakal perjelas lagi maksudnya.

Buatlah tulisan dengan jujur dari lubuk hati kita tanpa embel-embel ini itu. Dari tulisan aja bisa ketahuan kok siapa diri kita. Kalo kita gak jujur sama diri kita sendiri, bakalan susah buat lanjutin tulisan kita ke depannya.

Beda lho tulisan yang dibuat oleh penulis komersil dengan penulis idealis. Dari cara ia menutur kata dan merangkai makna demi makna pun sangat berbeda. Penulis yang idealis lebih jujur dengan dirinya. Temanya murni, menyentuh, walau dengan kalimat sederhana. Persis seperti kasih sayang orang tua kita.

Apa penulis idealis bisa menghasilkan karya komersil? Bisa. Mereka punya kualitas lebih di atas para penulis yang hanya memikirkan unsur komersial semata. Tulisan mereka tidak lekang dimakan zaman dan menjadi potret kecil dari keberadaan dirinya selama di dunia.

Contoh tulisan yang ane buat secara jujur itu tulisan tentang depresi dan pornografi. Itu sebenarnya luapan dari perasaan ane yang sampai sekarang masih berjuang mengalahkan dua monster perenggut kebahagiaan ane. Tujuan ane bikin tulisan itu bukan pengen menaikkan jumlah pembaca. Ane cuman pengen gini. Jangan sampe ada kasus seperti itu terulang lagi di masa depan. Biarlah ane menjadi korbannya. Jadikan ini bahan pelajaran bagi diri ane juga kita di masa sekarang.

Menulis itu tidak hanya sekedar merangkai kata demi meluapkan isi pikiran kita. Menulis itu adalah cermin dari perasaan dan kondisi kita sekarang. Sebaik-baiknya tulisan adalah tulisan yang bisa bermanfaat dan menginspirasi orang lain agar hidup lebih positif. Biar kata tulisan ane tidak berguna bagi teman-teman, tulisan ini jauh lebih berharga di mata tukang gorengan. Lumayan nambah stok kertas gratis lagi buat bungkus gorengan.

Akhir kata, tetap menulis dan ditunggu ya karya teman-teman.

Antara Hemingway dan Guru Bahasa Indonesia

Siapa Hemingway? Kok namanya sering denger ya?

Ernest Hemingway adalah nama dari salah satu penulis ternama dari luar negeri. Beliau terkenal karena tulisannya yang singkat, padat, dan jelas. Hal itu dipengaruhi oleh latar belakangnya sebagai seorang jurnalis. Seorang jurnalis dituntut harus bisa memaparkan informasi secara jelas dan mudah dipahami siapa saja.

Kebayang ‘kan ane mo bahas apa? Judulnya aja udah keliatan mo ngebahas itu kok. Kita bakalan diskusi soal belajar menulis dan pentingnya sebuah kalimat.

Gara-gara kesel sama pembaca di Wattpad gak naik-naik, akhirnya ane cari cara buat promosi karya sendiri di internet. Selama ini tiap ane perbaharui status di jejaring sosial pun gak efektif (abisnya filter bubble sih! :w). Satu-satunya media yang paling aktif ane gunakan cuman jurnal ini sama WhatsApp. Tapi ya masa sih promosi buku di forum wirausaha? Mending kalo bukunya udah jadi.

Nah, kekesalan ane pun berujung pada satu hal … content marketing. Ane masih belajar soal itu jadi gak bisa berbagi banyak sama temen-temen pembaca. Intinya content marketing itu pemasaran dengan menggunakan konten yang bagus dan bermanfaat bagi orang lain (dan tanpa “mempromosikan diri” seakan-akan produk kita itu sponsor dari kontennya). Contoh yang terkenal adalah … Michelin Guide.

sumber: Fine Dining Guide


Ane baru tahu itu content marketing belakangan ini. Ane cuman tahu dari berita kemaren soal Gordon Ramsay nangis gara-gara bintang dari salah satu restorannya turun. Bagi sebagian chef, penilaian Michelin adalah salah satu pencapaian tertinggi bagi restoran mereka (bahkan harga diri!).

Apa Michelin dagang ban di sana? Gak. Mereka cuman promosi soal hotel dan restoran terbaik dari setiap negara dengan ulasan yang independen.

Salah satu kunci dari content marketing itu ya konten. Apa yang bakal kita kasih tahu ke orang banyak? Konten yang kita buat itu kudu berkualitas. Gak asal jadi kayak nempelin cap di kertas.

Nah, pas lagi belajar soal content marketing, ane nemu salah satu aplikasi yang berguna bikin konten. Hemingway Editor. Aplikasi ini berbasis daring/luring. Cuman yang gratisan itu versi daringnya T.T

Aplikasi ini bener-bener bantu kita buat menulis khususnya dalam bahasa Inggris. Emang ada proyek lama yang belum ane wujudkan soalnya prioritas ane sih kelarin satu novel aja dulu. Proyek itu sebenarnya seri tulisan sama vlog yang memperkenalkan tentang kuliner Indonesia. Ane iseng bikin naskah kasarnya di sana. Berhubung dulu ane pernah riset soal lalap, jadi ane bikin konten tentang lalap dalam bahasa Inggris. Pas baca naskah tentang lalap, ane jadi kepikiran soal belajar Bahasa Indonesia di kelas.

Hemingway Editor itu memiliki standar penilaian keterbacaan kalimat yang dibuat dengan algoritma unik. Jadi aplikasi itu bisa tahu karakter pembaca kita dari hanya dari tulisan kita. Target pembaca di sana itu ditulis dengan kelas dalam sekolah. Bahkan berdasarkan penilaian dengan algoritma tersebut, tulisan Ernest Hemingway sendiri tergolong untuk bacaan kelas 5 SD meskipun target demografinya orang dewasa. Semakin rendah tingkat pendidikan dari pembaca, justru tulisannya semakin bagus. Menurut situs Hemingway Editor juga, tulisan ideal buat pembaca itu lebih rendah dari kelas IX ato kelas 3 SMP.

Ini memang ironis mengingat masa-masa pembelajaran Bahasa Indonesia itu adanya lebih bikin bingung. Sebenarnya pengalaman pribadi waktu belajar materi majas. Sampe sekarang ane masih bingung dengan bedanya majas metafora, alusio, sama simile. Penjelasan dari guru dan contohnya pun hampir serupa. Bedanya apa? Mending kalo dibandingin sama personifikasi ato hiperbola yang jelas-jelas keliatan.

Pas ane masih sekolah, pelajaran favorit ane itu Bahasa Inggris, Matematika, sama Seni Rupa. Kok gak ada Bahasa Indonesia? Jawabannya bikin ngantuk. Pas SMK pun, ane lebih sering kepergok tidur di kelas Bahasa Indonesia daripada Bahasa Inggris. Lihat nilai UN SMP sama SMK pun masih lebih gede Matematika sama Bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia.

Hal yang paling dibenci dari pelajaran Bahasa Indonesia itu ada banyak. Ini berdasarkan pengalaman pribadi ya.

  • Suruh benerin ejaan. Biar ane bisa dikatakan grammar Nazi dalam bahasa Indonesia, tetap saja guru dan dosen yang lebih berkuasa!
  • Belajar majas. Terlalu banyak hafalan dengan definisi dan contoh hampir serupa yang justru bikin nambah bingung.
  • “Carilah pokok bahasan dari alinea X!” Lha ini tujuannya buat apa? Dari zaman SD sampe kuliah pun sering muncul dengan teks membosankan dan kurang berfaedah ._. Emang ane juga lemah pas ketemu soal teks panjang kayak gini di Bahasa Inggris gara-gara masalah vocabulary ditambah short term memory payah. Ane lebih menikmati soal Bahasa Inggris karena teksnya lebih menambah wawasan.
  • Kalimat efektif. Himpunan induk dari suruh benerin ejaan. Lagi-lagi guru dan dosen lebih berkuasa daripada editor!
  • Mengarang bebas pun serba salah. Emang ane paling seneng mengarang tapi ya dapet nilai jelek mulu dari guru tanpa alasan jelas (dan pukul rata tulisan ane gak nyambung!). Beda dari temen ane yang gak pernah bikin tulisan (baca: asal comot dari si mbah Google) tapi dapet nilai bagus. Udah capek-capek eh nyesek, men!

Pas ane ngetik tentang lalap di Hemingway Editor, ane justru lebih paham soal kalimat efektif di sana. Kok bisa ya tulisan ane dengan grammar pas-pasan dan vocabulary ala kadarnya bisa menjelaskan soal lalap secara gamblang? Penjelasannya pun lebih sederhana dan komplit daripada definisi lalap di Wikipedia bahasa Inggris lagi. Apa tulisan ane pake jampi-jampi?

Saat itu ane belajar tentang definisi kalimat efektif. Kalimat efektif itu gak semudah kalimat yang singkat, padat, jelas, dan sesuai dengan ejaan. Kalimat efektif itu intinya “gimana caranya biar pembaca itu ngerti sama penjelasan kita?”

Rasanya ane pikir kudu revolusi belajar bahasa di kelas. Kurikulumnya tidak salah, yang salah itu gurunya.

Tolong Bantu Kami Lepaskan Diri dari Jerat Pornografi! (Bagian Pertama)

Jujur aja pas ane ngetik judulnya aja mo nangis.

Candu memang nama salah satu jenis narkotika. Di samping itu, candu juga berarti suatu hal yang bisa membuat orang melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa sebab hingga menjadi sebuah “kebiasaan”. Candu itu kebiasaan buruk yang bisa menjerumuskan orang lain dalam maksiat, penyesalan, aib, putus asa, depresi, hingga … menganggap semua warna dalam kehidupan hanya sebatas rona dalam palet monokrom.

Berlebihan itu tidak baik.

orang tua kita

Beda Masa, Beda Cerita

Ane inget ada salah satu hadits yang intinya mengatakan “didiklah anak sesuai zamannya”. Benar tantangan setiap zaman itu berbeda-beda. Pola didik di era Victorian berbeda dengan pola didik di era Perang Dunia ke-2. Hal itu tampak jelas dari film dan literatur yang mencerminkan masa itu.

Ane emang belum tamat baca Pride and Prejudice. Baru sampe bab 4 terus baca berulang-ulang gara-gara vocabulary ane pas-pasan dan biar ngerti sama ceritanya. Ane cuman ikutin saran pembaca dari forum buku di internet buat referensi novel khususnya genre romance.

Pride and Prejudice merupakan salah satu literatur klasik bergenre romantis terbaik sepanjang masa.

orang-orang klub buku

Ada salah satu blog penulis yang menganalisis novel Pride and Prejudice dari sudut pandang kepenulisan. Ia ulas dalam tulisannya, inti novel tersebut itu “tips memilih lelaki yang tepat untuk jadi suami kita kelak”. Pas ane baca bab awalnya pun sudah menggambarkan jelas budaya yang berlaku pada masa itu. Seorang perempuan yang belum menikah sengaja disuruh sosialisasi sama orang tuanya biar bisa dapat jodoh. Perempuan itu lalu menimbang baik-baik setiap lelaki yang datang dan berusaha meminangnya. Berbeda dengan masa sekarang yang “langsung klop” dengan seseorang tanpa berusaha saling mengenal.

Contohnya masalah dalam Frozen. Masalah bermula dari ketidaksetujuan Elsa dengan hubungan Anna yang instan dan tiba-tiba minta restu untuk menikah. Wajarlah bila Elsa seperti itu. Sebagai seorang kakak, ia ingin hal yang terbaik bagi adiknya. Ia juga tidak tahu asal usul Hans yang tiba-tiba melamar Anna.

Bahkan dalam perjodohan sekalipun, kita tidak lantas menerima mentah-mentah begitu saja lamaran seseorang. Misalnya kita coba buat ta’aruf/minta tolong lewat mak comblang/aplikasi biro jodoh, apa kita terima setiap orang yang disodorkan begitu saja? Tidak. Kita pelajari dulu CV-nya (kalo kata orang tua mah, bibit-bebet-bobot-nya), pelajari karakternya, cara memperlakukan kita dan keluarga di mata orang lain, barulah kita putuskan untuk menikah atau pindah ke calon lain.

Sayangnya di masa sekarang lebih banyak perempuan yang seperti Anna daripada Liz.

Fantasi Liar, Media, dan Ketidakpuasan

Penjelasan lebih detilnya ada di tulisan ane sebelumnya. Ane cuman mo bahas hal lain yang menyebabkan faktor itu.

Kenapa kebanyakan perempuan zaman sekarang memiliki pola pikir seperti Anna? Ada beberapa faktor yang mendorong hal itu.

Pertama, media. Kita bisa belajar dari era film bisu, novel, dan literatur budaya mengenai potret perempuan masa lalu. Bagaimana mereka memotret keadaan perempuan di masanya? Bagaimana pengaruh media terhadap citra perempuan di suatu masa?

Misalnya tentang Audrey Hepburn. Sampai sekarang Audrey Hepburn terkenal dengan ciri khasnya dalam mode. Salah satu ikon yang khas adalah setelannya dalam film Breakfast at Tiffany’s (1961). Pada masa itu para perempuan berbondong-bondong meniru gaya Audrey Hepburn dalam berbusana.

Kedua, perlawanan terhadap stereotipe perempuan. Di masa lalu, feminis hanya berjuang agar perempuan bisa mendapat hak dasar mereka seperti mendapat pendidikan dan memilih pemimpin dalam pemilu setempat. Seiring perkembangan zaman, pergerakan feminis yang semula hanya untuk meminta hak mereka di masyarakat menjadi lebih buruk. Bahkan di kalangan sebagian perempuan sendiri pun mengatakan feminis itu “Nazi modern dalam kedok aktivis”. Jadi perjuangan mereka yang melenceng justru malah menjerumuskan perempuan dari kodratnya semula.

Ketiga, kehampaan dalam hidup. Masyarakat modern sekarang justru merasa hampa dalam hidup mereka. Hal yang banyak dirasakan negara maju namun tidak untuk negara dunia ketiga. Negara dunia ketiga memang masih berkembang dan memiliki masalah kompleks yang sulit untuk mereka pecahkan sendiri. Contohnya Indonesia yang masih ribut karena hal sepele, fanatisme buta, birokrasi benang kusut, urusan perut sendiri, dan perebutan kekuasaan. Ironisnya semua hal yang masyarakat modern cari semuanya berada di negara dunia ketiga: kepuasan batin, kedamaian, seni untuk bahagia, kehangatan keluarga, masyarakat yang hangat, dan kedekatan intim dengan Sang Pencipta.

Terakhir, ini alasan yang paling klise dan umum. Media membentuk persepsi seorang laki-laki di mata perempuan. Setiap bangsa dan masa memiliki preferensi mereka sendiri dalam memandang laki-laki. Ketika melihat media dengan para lelaki tampan di luar sana, secara tidak langsung pola pikir kita mengarah pada gambaran lelaki tampan tersebut. Otomatis bila bertemu dengan lelaki di luar dari bayangan para perempuan.

Amit-amit jabang bayi punya suami kek gitu!

Perempuan yang seleranya selevel oppa Korea

Faktanya justru lelaki tampang pas-pasan banyak yang dapat istri cantik bahkan bule! Lebih beruntung lagi bila mereka dapat gadis Arab yang minimal lulusan S2.

Di Balik Kisah Romantis

Ane pernah bahas juga topik semacam ini di tulisan sebelumnya. Ane cukup nambahin hal yang masih berkaitan tapi tidak ditulis di tulisan sebelumnya. Ane persempit lagi fokus tulisannya pada genre sejuta perempuan: romance.

Ane baru tahu fakta unik di balik genre romance. Di masa lalu, genre ini tidak berfokus pada kisah asmara dua insan semata. Epik heroik seorang pahlawan dalam menaklukkan sebuah wilayah atau lawan-lawannya termasuk dalam cakupan genre ini. Definisi lebih jelasnya bisa cek di internet atau buku lawas mengenai sejarah genre romance.

Apa Romeo dan Juliet masih tergolong dalam genre romance berdasarkan definisi lawas ini? Ya.

Kenapa perempuan sangat menyukai genre ini dibandingkan dengan drama, chicklit, fiksi umum, atau genre lainnya? Itu tadi. Alasan klise mengenai ekspektasi laki-laki tidak sesuai harapan.

Ane pernah baca soal bedanya introvert sama extrovert dalam hubungan asmara. Keduanya itu berbeda. Jadi jangan samakan stereotipe tentang introvert dan extrovert! Ada yang seneng basa-basi busuk tapi ada yang seneng bicara serius. Ada yang bisa bikin jantung perempuan berdetak tidak karuan dan ada juga yang datar terus bilang “oh”. Ada salah satu kepribadian MBTI yang bisa bikin perempuan meleleh: INFJ.

Masalahnya populasi penduduk dengan kepribadian INFJ itu populasinya 1% dan terkenal sebagai salah satu kepribadian misterius. Nah bagaimana bila harapan mereka tidak terpenuhi? Salah satu fungsi hiburan adalah melarikan diri dari realita yang kadang berbanding terbalik dengan pemikiran naif kita. Pelarian kita sebagai perempuan adalah literatur yang banyak dibuat dari kita-oleh kita-untuk kita. Salah satunya literatur genre romance. Justru di balik indahnya romantisme dari setiap rangkaian cerita, ada sebuah lembah gelap tersembunyi dalam jubah indah berkilauan bernama romantisme.

Gaya penulis menuturkan kata demi kata menjadi rangkaian indah cerita mereka berbeda satu sama lain. Cara bertutur seorang komikus akan berbeda dengan seorang novelis. Begitu pula cara bertutur penulis novel klasik berbeda dengan penulis modern. Semua dipengaruhi oleh hal-hal di sekitar kehidupan si penulis itu. Bacaan, ajaran agama, kehidupan sosial-budaya setempat, hal-hal lumrah di masanya, pandangan politik, hingga hal lain dapat mempengaruhi cara tutur mereka. Mulai dari pembingkaian setiap adegan dalam cerita hingga tema yang mereka usung sepanjang jalannya cerita. Tapi tanpa kita sadari, banyak penulis genre romance terjebak dalam klise atau pakem cerita yang membentuk pola pikir kita sebagai perempuan.

Antara Fujoshi dan Fifty Shades

Kenapa ane banyak menyinggung soal fujoshi dalam tulisan? Sebenarnya itu fenomena menarik jika kita lihat dari sudut pandang seorang perempuan.

Kesamaan antara fujoshi dan Fifty Shades adalah erotica. Genre irisan antara romance dan pornografi. Bedanya fujoshi adalah salah satu fandom perempuan sementara Fifty Shades adalah salah satu literatur erotica. Keduanya muncul dengan kontroversi. Fujoshi dianggap merusak sebuah fandom karena imajinasi liar mereka. Seri Fifty Shades pun dianggap merusak masa depan literatur (dan pembacanya) di kalangan lingkungan klub buku, kritikus literatur, psikolog, pemuka agama, dan aktivis perlindungan anak.

Trilogi Fifty Shades bermula dari sebuah fan fiction Twilight dengan nuansa BDSM kental. Ironisnya di kalangan pelaku BDSM sendiri pun menganggap hal yang tercermin dalam buku tersebut tidak sesuai dengan “aturan main mereka”. Tidak hanya masalah BDSM yang menjadi fokus kritik dari berbagai kalangan, tetapi juga buruknya narasi penceritaan, penggambaran karakter perempuan lemah, tidak adanya pendalaman karakter/plot, hingga adegan pembalut wanita yang kontroversial. Bahkan lelaki manapun akan berpikir dua kali sebelum berhubungan badan sewaktu tahu perempuannya sedang haid!

Fujoshi sebenarnya adalah kata bermakna peyoratif bagi “perempuan mesum”. Perempuan mesum di sini maksudnya fans dari genre yaoi dan yuri, subgenre dari pornografi. Fantasi mereka yang liar dan melampaui batas justru membuat orang lain jijik. Bahkan ada sebuah survei yang dilakukan oleh kalangan penyuka anime di Indonesia mengatakan mayoritas penonton laki-laki enggan menonton anime dengan tokoh mayoritas laki-laki/bertema olahraga. Alasannya mereka risih dengan keberadaan fujoshi yang justru membuat kesenangan menonton anime buyar seketika.

Kemunculan fenomena tersebut berawal dari seksualisasi gambaran pria di media. Kata siapa hanya perempuan yang menjadi target seksualisasi dalam media massa? Seksualisasi karakter, dengan kata lain fanservice dalam istilah anime, secara tidak langsung membentuk gambaran kita akan seorang yang “ideal”. Pada kasus laki-laki itu pria yang tampan, seksi, nakal, memiliki senyuman sensual, berstatus mapan secara finansial, tapi bisa memanjakan perempuan. Contohnya Edward Cullen dalam Twilight. Banyak karakter vampir yang sudah dikenal masyarakat. Kenapa Edward bisa lebih banyak memikat kaum hawa dibandingkan dengan Count Dracula? Jawabannya adalah itu tadi. Fisik yang memuaskan hasrat para wanita kesepian di luar sana.

Fantasi Melampaui Batas

Ane pernah baca artikel menarik di internet mengenai sudut pandang laki-laki. Satu artikel membahas tentang sudut pandang lelaki pada umumnya. Satu lagi sudut pandang “maho”. Keduanya disodorkan literatur perempuan. Bagaimana reaksi mereka?

Apa mereka hanya berpikir laki-laki itu isi pikirannya hanya hubungan intim? Laki-laki terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka di luar sana. Itu sebabnya laki-laki hanya bicara topik yang umum seperti kehidupan kantor dan olahraga.

reaksi seorang pria membaca salah satu rubrik Cosmopolitan

Imajinasi para perempuan terlalu liar. Kami tidak pernah melakukan hal-hal sampai seperti seliar itu.

reaksi seorang maho menonton yaoi

Jika para lelaki saja bisa berpendapat seperti itu, berarti ada yang salah dengan pola pikir kita sebagai perempuan. Anehnya mereka menganggap itu sebagai hal yang lumrah. Secara tidak langsung fantasi mereka mendorong mereka pada jerat lembah hitam pornografi.

Kasus laki-laki dan perempuan memandang pornografi itu sangat berbeda. Hal itu dipengaruhi pula dari sudut pandang mereka memandang pornografi.

Ane memang besar di komunitas yang mayoritas anggotanya adalah laki-laki. Ane amati perilaku dan kebiasaan mereka. Beberapa dari mereka hanya menganggap melihat pornografi adalah ciri lelaki normal dan dewasa. Bahkan anak alim sekalipun pernah sekali melihat pornografi. Ane pernah mendengar salah satu pengakuan sobat lelaki ane. Dia pernah menonton sekali video porno lalu setelah itu ia hapus dan tidak pernah menontonnya lagi.

Apa mereka terus membicarakan hal itu seperti halnya dalam pikiran para gadis? Tidak. Laki-laki lebih senang membicarakan hal-hal yang menurut mereka “cowok banget”. Tidak jarang pula ada yang curhat urusan asmara layaknya seorang gadis.

Memang ada laki-laki yang kecanduan pornografi. Tapi apa mereka berpikir setiap saat soal itu? Jawabannya tidak. Kesibukan mereka justru mencegah pikiran tersebut muncul. Laki-laki memang lebih aktif secara fisik dibandingkan dengan perempuan. Itu sebabnya banyak topik pembicaraan berkaitan dengan olahraga, karir, otomotif, hobi, musik, hingga perjalanan. Kadang di mata lelaki pun nama bintang porno menjadi bahan lelucon.

Hal itu berbanding terbalik dengan perempuan. Masalah mereka jauh lebih kompleks daripada laki-laki. Lelucon terkenal di kalangan laki-laki mengatakan perlu satu buku penuh untuk memahami seorang perempuan. Itu pun hanya jilid pertama dan belum mencakup masalah mereka secara keseluruhan.

Kenapa para lelaki sekalipun mengatakan hal itu? Perempuan lebih menyimpan banyak tekanan dibandingkan dengan laki-laki. Faktor keluarga, cara pandang laki-laki memperlakukan mereka, norma yang berlaku di masyarakat, stereotipe seorang perempuan ideal, hingga konflik internal dengan sesama perempuan pun mempengaruhi kondisi mereka. Mereka tidak bisa sebebas laki-laki untuk menjadi dirinya. Mereka kadang harus memasang topeng demi menjaga nama baik keluarga dan menjadi perempuan ideal di mata masyarakat. Bahkan untuk sekedar meluapkan masalah di dada mereka, sesama perempuan pun bisa menjadi masalah. Tidak seperti laki-laki yang menganggap pertemanan di antara mereka seperti ikatan darah persaudaraan, pertemanan di antara perempuan memiliki ikatan kompleks dan kadang berlandaskan muslihat. Karena itu tadi, perempuan itu lebih sering memakai “topeng” di hadapan banyak orang.

******

Buset buat jelasin hal ini aja bisa sampe ngelag gini. Kalo aja Gutenberg di WP bisa kayak editor dulu yang dikit-dikit gak harus pake koneksi internet. Soalnya internet lagi naik turun.

Okelah cukup segini pembahasan ane. Buat teman-teman yang masih penasaran, bagian keduanya sudah siap. Sampai jumpa di bagian berikutnya.

Kembalinya si Nama Legendaris

Kejadian baru tadi banget.

Alkisah ane bangun di malam hari gak bisa tidur. Bingung mo unduh film sama bosen nonton anime/film Indonesia jadul mulu, ya sudah ane lanjutkan buat belajar. Udah lama banget ane lupa dengan kelas pelajaran bahasa (Sunda lemes, Inggris dialek Briton, Arab, Mandarin standar, sama Jepang) sama Matematika (padahal ane belajar biar bisa main forecasting buat keperluan dagang) daring gara-gara keasyikan ujicoba resep dagangan yang rasional secara harga dan rasa. Ditambah lagi ane kudu kejar deadline biar novelnya tahun ini kelar *amin* sekalian coba icip NaNoWriMo.

Nah, ane belajar lagi Matematika di Khan Academy. Mending level ane turun ke level kelas 3 SD (lanjutin latihan kemaren) sama mau belajar lagi. Soalnya ane tahu vocabulary pas-pasan hanya untuk ngerjain soal Matematika (ditambah skill ane terjun bebas dari Kalkulus ke Aritmetika gara-gara sering gak kepake). Bahkan soal gampang seperti nanya selisih pun sering ane salah jawab gara-gara salah artiin kalimat!

Ane buka lagi laman Khan Academy dan … bingung. Jujur ane bingung gara-gara desain antarmuka situsnya berubah total. Ane kira koneksi internetnya lagi labil makanya gak muncul-muncul eh tahunya -.-” Untung aja materi terakhir yang ane pelajari itu masih kesimpan. *fyuh, alhamdulillah*

Pas tadi ane ngerjain soal ….


sumber: Khan Academy

woot?

Apa? Budi? Sejak kapan nama klasik buku pelajaran SD itu go international kayak Anggun, Agnes, sama Made? Sejak kapan? Apa bosen gara-gara gak terkenal di Indonesia makanya pindah ke luar negeri?

Memang si Budi senasib dengan Bambang, Tono, Udin, Ruri, Amir, dan Amrin yang terlupakan dari buku tulis pelajaran di Indonesia. Mari kita selamatkan si Budi dengan hashtag #KembalikanBudi di buku pelajaran dan nama anak Indonesia! Hidup Budi!