Tolong Bantu Kami Lepaskan Diri dari Jerat Pornografi! (Bagian Kedua)

Lanjutan tulisan dari bagian sebelumnya karena masalah teknis. Buat teman-teman yang belum baca bagian pertamanya, ane sarankan agar baca bagian pertamanya biar jelas duduk perkaranya.

Yuk kita sebagai sesama perempuan diskusi di sini. Teman-teman boleh cerita pengalaman soal perjuangan teman-teman melaluinya fase gelap itu. Kita ngobrol aja biar perasaan kita jauh lebih lega.

******

Fanservice Beda Tipis

sumber: webtoon Let’s Play

Apa itu fanservice? Singkatnya itu “cuci mata” dalam literatur atau penampilan secara langsung demi memuaskan dahaga para fans. Bikini, badan six-pack, baju berlekuk ala Betty Boop, belahan dada, hingga tampilan sehabis mandi menjadi bentuk umum yang biasa menjadi cuci mata bagi para fans. Fanservice sesekali tidak apa asalkan tidak mengurangi kualitas dari sebuah karya.

Kata siapa fanservice hanya milik kaum laki-laki? Bahkan perempuan pun tidak lepas dari fanservice. Lantas. Apa bedanya dengan laki-laki?

Laki-laki: mimisan sama ngiler.
Perempuan: mimisan, ngiler, histeris gak jelas, kebawa sampe mimpi, dan ngarep lebih.

Kenapa reaksi perempuan bisa lebih banyak daripada laki-laki? Laki-laki masih menjaga citra mereka di mata orang lain sekaligus punya kesibukan yang lebih penting ketimbang memperhatikan hal itu. Selain itu perempuan lebih banyak hidup di dalam dunia mereka jadi wajarlah mereka seperti itu.

Bagaimana reaksi laki-laki apabila melihat fanservice?

capek deh

Kenapa laki-laki bisa berpikir seperti itu? Mereka terlalu sering melihat fanservice sehingga reaksi mereka datar atau cenderung mengabaikannya. Anehnya, kasus itu terbalik pada perempuan. Mereka begitu histeris melihat pola fanservice yang hampir serupa berulang kali.

Pahitnya Cinta Manisnya Dosa

Judul dari bagian ini memang ane ambil dari salah satu judul film lawas Indonesia, Pahitnya Cinta Manisnya Dosa (1978). Film yang dibintangi oleh Yenny Rachman, Boy Tirayoh, dan drg. Fadly ini singkatnya menjelaskan tentang “pengorbanan” Mia demi menolong keluarganya. Singkatnya ini adalah film bertopik dewasa dengan cerita yang miris.

Kebetulan ini pas banget dengan topik yang bakal kita bahas selanjutnya.

Pahitnya cinta manisnya dosa tidak semata-mata menjelaskan judul sebuah film. Itu menggambarkan keadaan kita yang mulai terjerumus dalam jeratan pornografi. Dosa yang tampak manis setelah terkemas manis di dalam khayalan dunia perempuan. Dosa yang bersembunyi di balik indahnya hamparan bunga bermekaran pada sebuah kastil putih milik seorang pangeran tampan dari kerajaan seberang.

Ada yang bilang kisah romantis di masa sekarang layaknya pornografi dalam balutan permen ala California Gurls-nya Katy Perry.

Bahkan setelah membaca komentar dari para penonton YouTube di halaman ini, mereka lebih menyarankan untuk membuka Pornhub. Lelucon mereka memang beralasan.

Banyak di antara mereka yang pada masa lagu ini rilis masih berusia belia. Mereka kerap dimarahi guru dan orang tua mereka karena menyanyikan lagu ini. Mereka kemudian menonton kembali video klip ini setelah dewasa. Saat itu mereka paham maksud dari guru dan orang tua mereka. Menurut mereka, tayangan di Pornhub masih jauh lebih baik daripada dunia permen yang memperhalus lirik-lirik nakal dari lagu ini.

Begitupun dengan pornografi. Banyak orang yang terjerumus ke dalamnya karena ketidaksengajaan. Semua dikemas secara manis semanis negeri permennya Katy Perry tanpa tahu dampak jangka panjangnya. Merasa kurang puas dengan fanservice, mereka mencari jalan lain untuk memuaskan dahaganya. Ada yang mencari gambar syur, menonton tayangan ehem, bahkan lebih buruk lagi menjadi kreator dari konten-konten seperti itu.

Bermula dari Lepas Tanggung Jawab

Pornografi sama berbahayanya dengan narkotika. Sayangnya itu jauh lebih sulit untuk sembuh dibandingkan dengan narkotika. Para pecandu narkotika bisa sembuh setelah melalui fase sakaw. Pornografi tidak memiliki fase detoksifikasi seperti halnya sakaw. Usaha bagi para mantan pecandu dan terapis jauh lebih besar daripada kasus narkotika.

Kenapa trilogi Fifty Shades begitu dikecam di kalangan klub buku? Karena mereka peduli dengan kita sebagai pembaca. Orang-orang di klub buku selalu memilih buku terbaik. Mereka ulas dengan penilaian objektif sebagai acuan bagi para pembaca yang kebingungan untuk membaca buku bagus sesuai selera mereka. Bahkan ada salah satu akun yang terang-terangan memotret seperti ini di laman Goodreads.

sumber: Goodreads

Kadang kita juga melihat ada penulis atau pembuat konten yang tidak bertanggung jawab dengan menempatkan hal buruk di tempat yang salah. Kasus seperti ini muncul di Wattpad. Ironisnya, untuk konten berbahasa Indonesia sendiri pembuatnya serampangan menampilkan jelas konten seksual. Hal yang jelas-jelas terlarang dalam aturan main Wattpad. Mulai dari sampul, deskripsi yang terlalu frontal, hingga ane kesel. Kurang ajar emang. Tiap buka Wattpad malah disodorkan rekomendasi seperti itu jadi ane bisa tahu. Parahnya banyak pembuat genre tersebut adalah bocah di bawah umur. Ane tersentak membaca komentar dari para pengguna senior di sana. Bahkan ada beberapa pengguna senior membuat suatu komunitas pemberantas pornografi yang tidak hanya melaporkan konten-konten nakal tersebut, tetapi juga mendidik pembaca agar lebih cerdas dalam memilih bacaan mereka.

Fenomena di Wattpad tadi memang mencerminkan keteledoran kita sebagai penulis atau pembuat konten tanpa memperdulikan keadaan. Apa kita mau adik bahkan anak-anak kita kelak membaca hal seperti itu? Atau lebih buruk lagi mempraktikkan hal yang mereka lihat? Hal seperti itu jarang menjadi sorotan bagi para pembuat konten di negeri kita.

Contoh yang bagusnya itu Raditya Dika. Ada salah satu vlog lamanya (ane lupa video yang mana) yang bercerita soal proses kreatifnya sewaktu membuat konten dari materi stand up, buku, sampe vlog-nya. Kalo kita ikuti Raditya Dika dari era Kambing Jantan muncul pertama kali, tahu ‘kan gaya penuturannya kayak gimana? Dia cerita juga di vlog-nya, ada orang tua yang protes gara-gara anak kecil juga nonton channel YouTube-nya. Sejak saat itu dia mikir lagi mengenai konten tepat sesuai usia. Emang ada fans yang menyayangkan hal itu mempengaruhi kualitas guyonan dan kontennya. Toh Raditya Dika dengan gayanya yang sekarang aja kualitas kontennya malah lebih bagus.

Ada contoh lain yang kudu kita tiru juga. Kali ini datang dari dunia webcomic. Ane nemu ini pas lagi cari komik selingan biar gak bosen. Nama komiknya Randomphilia. Komiknya udah tamat di Line Webtoon versi Bahasa Inggris. Sesuai namanya, komiknya emang random. Sebangsa sama Tahilalats lah. Ada hal yang menarik dari si pengarangnya. Di awal kemunculannya aja, dia bikin chapter yang isinya permintaan maaf. Dia gak tahu kalo Webtoon itu banyak pembaca dari usia anak-anak sampe remaja. Untungnya dia sadar pas chapter-nya masih dikit jadi gak jadi sensasi kayak kasus Fifty Shades. Buat yang penasaran dengan chapter hilang itu, banyak kok bertebaran di situs manga scan.

Pornografi itu bukan masalah yang remeh. Ini serius mengingat di masa sekarang orang tua lebih bebas membiarkan anak-anak mereka mengakses internet di usia dini.

Coba Pikirkan (Pengakuan Jujur dari Korban)

Kenapa judul bagiannya seperti ini? Ya. Memang ini adalah tulisan jujur dari unek-unek di kepala dan perasaan ane yang sesak. Ane bahkan mengatakan pada tulisan sebelumnya. Ane pengen nangis.

Awal mula jerat ini dari lingkungan pergaulan. Memang ane besar di lingkungan yang mayoritas laki-laki. Bahkan banyak teman dekat ane yang laki-laki. Banyak di antara mereka yang mesum. Ane penasaran dengan obrolan mereka lalu iseng cari tahu. Dulu ane pernah baca majalah Playboy online. Tapi itu hanya sekali dan gak pernah buka lagi. Ane tahu posisi ane sebagai perempuan. Mereka akan memandang jijik bila ada perempuan seperti itu di antara mereka. Pada saat itu pun ane masih mendalami ilmu agama. Keduanya masih membentengi diri ane agar tidak melakukan kebodohan untuk kedua kalinya.

Semua kacau semenjak ane berusaha berbaur di tengah perempuan. Teman masa kecil ane yang mayoritas laki-laki pun bukan karena faktor lingkungan semata. Trauma masa kecil yang membuat ane kesulitan bergaul dengan perempuan sebaya. Secara topik pembicaraan pun ane memang sulit bergaul. Ane tomboi, kutu buku, lebih senang baca National Geographic daripada teenlit, lebih senang oprek PC daripada narsis di jejaring sosial, lebih senang jalan-jalan daripada nongkrong, dan ditambah trauma masa kecil yang bikin lebih sulit ngobrol. Ane mulai belajar bergaul dari literatur perempuan dan … astaghfirullah. Kenapa ini jauh lebih susah daripada sewaktu masih main sama anak laki-laki kayak dulu?

Tulisan ini pun ane buat selagi masih pergulatan batin melawan hal itu. Ane juga bingung. Kenapa dunia perempuan bisa lebih buruk daripada laki-laki? Bukankah kita ini calon istri dan ibu dari anak-anak kita? Bukankah kita ini berlian bagi keluarga dan suami kita kelak? Bukankah pepatah mengatakan bila rusak seorang perempuan maka rusaklah satu keluarganya?

Ane lelah hidup seperti ini terus. Racun itu terus menghantui ane di balik harumnya bunga poppy. Ia datang bersama keindahan yang semakin menggeragoti diri. Beruntunglah ane masih dalam tahap awal. Bekal agama sejak kecil ditambah pengalaman hidup di antara komunitas laki-laki mengajarkan ane banyak hal termasuk cara untuk berpikir jernih. Berada di tahap awal pun berjuang sesulit ini apalagi jika sudah terperosok lebih dalam! Butuh berapa lama bagi teman-teman agar kita sadar dan kembali diterima di masyarakat terlebih orang-orang yang kita sayangi?

Teman-teman, apa kita tidak bosan hidup seperti ini terus? Apa teman-teman tidak bosan banyak waktu yang tersita hanya untuk hal itu? Apa teman-teman merasa kehilangan waktu bersama orang yang kita sayangi? Apa teman-teman merasa kehilangan gairah akan hal-hal yang kita sukai dan tekuni sejak lama? Apa teman-teman merasa prestasi teman-teman selama ini sia-sia hanya karena hal itu? Apa teman-teman sayang akan diri kalian lalu membiarkan anak kecil dan orang dewasa di dalam diri kita menangis sedih melihat keadaan kita?

Bayangkan bila teman-teman melihat orang yang kita sayangi seperti itu. Masihkah teman-teman mau membiarkan mereka menyendiri begitu saja? Bergulat sendiri dengan dunianya lalu kita semakin buat ia menyendiri oleh prasangka kita? Apa teman-teman ingin menyelamatkan mereka? Apa teman-teman ingin melihat mereka kembali seperti mereka yang kita kenal dulu? Apa teman-teman ingin orang lain akan bernasib sama seperti mereka di masa depan?

Tidak.

Tidak.

Tidak boleh ada lagi hal yang sama terulang di masa depan. Laki-laki atau perempuan. Pornografi semakin mengancam kita lebih berbahaya daripada narkotika. Cukup lingkaran setan itu hanya berhenti pada kita. Selamatkan diri kita agar lebih banyak menyelamatkan orang lain dari lingkaran setan tersebut. Ayo kita bangkit. Ayo kita kembali berprestasi seperti dulu lagi. Ayo kita buat karya terbaik yang lebih sehat, positif, dan memberi dampak baik bagi kemajuan sesama.

Ayo kita jujur mulai dari sekarang. Ya. Memang kita pernah melihat hal itu. Kita ingin berubah. Kita harus jujur dan lebih terbuka pada diri sendiri. Minta tolong orang yang lebih berpengalaman untuk memecahkan masalah kita. Bisa orang tua, sahabat, pemuka agama, atau konselor yang menurut kita nyaman. Tobatlah selagi masih sadar. Bukan tobat sambel ye tapi tobat ditambah membuat konten lebih positif bagi kita. Konten yang bisa memberdayakan dan mencerdaskan perempuan. Konten yang menawarkan fantasi sesaat yang sesat dan tidak sehat. Yuk kita sama-sama perangi pornografi dengan saling mengulurkan tangan mengajak, membantu, dan membimbing teman-teman kita yang senasib dengan kita dulu.

Iklan

Kisah Lama yang Terulang Kembali

Rasanya ane ingin kabur dari rumah. Ane sudah tidak tahan lagi. Mending ane tidur beralaskan tikar di toko sambil berdagang daripada harus lama-lama berada di rumah. Itu jauh lebih bahagia daripada sekarang. Memang sama-sama melelahkan. Itu lebih baik daripada batin harus tersiksa di dalam penjara bernama rumah.

Orang-orang di rumah sering bilang ane kayak kesetanan tiap kali makan. Belakangan ini kondisi mental ane sedang di titik yang sudah rendah, rapuh, dan goyah. Hal yang melelahkan dan tentunya malah lebih merangsang nafsu makan ane sampe tiga kali lipat. Dua porsi Indomie jumbo saja tidak cukup untuk makan. Padahal biasanya ane sudah kenyang dengan Indomie jumbo. Begitu pula dengan porsi standar tukang nasi goreng yang mentung.

Ane sudah lelah dengan selama ini diam dan sabar. Ane sudah lelah harus mengutamakan orang lain di atas diri ane sendiri. Belakangan ini ane sering berontak. Mulai dari tidur hampir seharian sampai berusaha kabur dari rumah. Ane sudah muak dengan orang tua yang selalu “menyiksa” ane secara batin. Lebih baik ane hidup susah di luar sana daripada harus berada di rumah. Ane tidak peduli bisnis morat-marit atau keadaan ekonomi yang lebih membuat batin menjerit. Itu membuat ane lebih bahagia daripada harus menjadi boneka yang selalu ditarik layaknya marionette. Ane tidak bisa bicara isi hati ane secara gamblang. Ane tidak bisa menjadi diri sendiri. Ane kesulitan mengejar mimpi yang selalu saja disetir oleh “tali” di kedua tangan dan kaki ane.

Kabar buruknya adalah ane itu introvert, tsundere, memiliki masa lalu kelam yang membuat ane sulit membuka diri, dan banyak pengalaman buruk yang membuat ane tidak percaya pada orang lain termasuk keluarga. Teman curhat ane pun hanya Allah dan catatan harian.

Sifat pemberontak ane mulai muncul saat kuliah. Efek samping dari beban kuliah ditambah kehidupan kampus yang berat. Ane bisa mengenali seseorang hanya dengan merasakan aura dan bahasa tubuh seseorang saat sedang bicara dengan ane. Ane bisa tahu orang mana saja yang memandang remeh ane, orang yang dekat karena ada maunya, dan orang baik yang tulus menjalin pertemanan. Ane mulai sadar selama ini bukan ane yang salah, melainkan lingkungan ane yang salah. Itu semua gara-gara Risa, temen sekelas ane di kampus. Ia yang mengenalkan ane pada dunia life hacking. Salah satu situs yang membahas soal life hacking adalah Lifehack. Ane memang kutu buku tidak peduli medianya. Ane kemudian menemukan sebuah artikel menarik yang tidak sengaja ane temukan di sebuah situs tentang life hacking. Artikel mengenai toxic parents yang saat ane membacanya pun langsung nangis. Ane yang penasaran dengan tema tersebut langsung nyari tahu tentang itu. Akhirnya ane nemu buku Toxic Parents yang ditulis oleh Susan Forward meskipun itu hanya versi digitalnya. Andai saja buku itu ada di salah satu rak Gramedia ato Palasari, ane bakal beli buku itu terus pakai buat “menampar” orang tua ane. Begitupun jika ada donatur baik hati yang menyumbangkan buku itu ke Perpustakaan Daerah, ane doakan semoga amal baik selalu menyertai donatur karena buku itu bakal banyak menyelamatkan anak-anak (bahkan ABG apalagi young adult macam ane) dari jeratan toxic parents.

Alasan ane ingin kabur dari rumah bukan karena emosi seperti waktu dulu. Ane sudah tidak kuat dengan lingkungan beracun bak lingkaran setan di rumah ane. Bahkan dulu tempat pelarian ane kabur itu selalu ke masjid. Masjid yang letaknya jauh dari rumah untuk menenangkan diri. Mungkin karena waktu kecil ane dekat dengan kehidupan masjid makanya tiap kabur pasti ke sana.

Salah satu cara untuk memutus rantai toxic parents adalah putuskan hubungan dengan orang tua. Bukan berarti kita harus memutus silaturahim. Malah di buku Toxic Parents yang ane baca pun menjelaskan pentingnya silaturahim untuk meluruskan pemahaman orang tua yang salah dan berkonfrontasi mengenai masalah kita. Ane baru sadar ternyata masalah yang ane alami selama ini ada kaitannya dengan masa kecil ane yang kurang bahagia. Sayangnya ane masih lemah dalam melakukan hal itu jadi ane berpikir untuk kabur dari rumah sejauh mungkin. Tidak hanya untuk mencari ketenangan, tetapi ane ingin fokus dalam usaha. Ane paling tidak suka diatur oleh orang yang tidak tahu betul bisnis ane selain pakarnya. Menyebalkannya adalah orang tua ane terlalu ikut campur dalam masalah bisnis ane. Ane nyaris menganggur selama beberapa bulan karena modal yang sengaja ditahan. Ane masih bisa terima saran dari pelanggan, teman sesama wirausahawan, dan pakar dari bidang bisnis karena itu sifatnya membangun. Ane bukan anak kecil apalagi boneka marionette yang bisa digerakkan sesuka hati. Ini siapa coba ikut-ikutan bisnis orang terus bergerak kayak jelangkung?

Memutus ikatan benang dari penggerak boneka memang tidak mudah. Butuh keberanian dan tekad yang kuat untuk lepas dari jeratan tersebut. Seperti halnya elektron yang membutuhkan energi besar hanya untuk “kabur” dari ikatan atom. Kalau kita tidak berani untuk memutusnya, kapan nasib kita akan berubah? Apa kita akan dihantui oleh penyesalan dari hal-hal yang tidak seharusnya kita pikul? Apa kita malah lebih tertekan lalu jadilah lingkaran setan berikutnya ketika kita sudah berumah tangga? Putuskan tali itu sebelum terlambat. Kita tidak pernah tahu akhir cerita dari kehidupan kita jika kita tidak berusaha menulisnya secara tuntas dengan tambahan aksi.

Catatan Akhir Tahun Keseharian Ane

Rasanya membosankan juga neraca selama dua bulan ini minus. Penghasilan minim karena tidak ada modal. Pengeluaran banyak tapi pemasukan nihil. Ane mau nangis karena kondisi keuangan. Bukan karena di usia ane yang bentar lagi bertambah (dan berkurang satu tahun jatah hidup pula) ane masih lajang.

Awal tahun diawali oleh depresi dan diakhiri oleh depresi. Faktornya pun berbeda. Awal tahun itu puncak dari tingkat stres ane yang bertahun-tahun lamanya persis seperti gunung es. Harusnya masih kontrol ke psikiater tapi entah kenapa orang tua ane lebih peduli dengan gengsi mereka untuk keliling Indonesia daripada kesehatan anaknya sendiri. Faktanya depresi adalah penyakit keempat mematikan yang paling banyak diderita oleh penduduk Indonesia terutama di kawasan perkotaan. Alasannya pun masuk akal. Stroke, kanker, dan penyakit jantung memang mematikan. Depresi bisa membuat seseorang mengakhiri hidupnya jika tidak ditangani dengan serius dan diiringi lemahnya iman dari penderitanya. Dua bulan pertama ane di tahun ini, ane nyaris tidak bisa senyum ataupun tidur nyenyak. Pas sholat pun bawaannya sering nangis tiba-tiba. Kondisi terbalik dialami di akhir tahun.

Depresi yang sudah selama ini tenang kambuh lagi karena masalah keuangan. Ane ingin sekali berdagang tapi modal tidak ada. Sudah empat kali coba bisnis dengan neraca minus ditambah tidak laku di pasaran. Saat itu masih bisa bangkit karena modal produksi pun masih ada. Entah itu uang ataupun stok bahan baku yang tersisa. Ane tahu meminta modal sama orang tua itu jauh lebih ribet daripada birokrasi urus hal-hal berkaitan dengan kependudukan di negeri ini. Ane pun tertarik ingin mengambil kredit yang ditawarkan Pemkot Bandung dengan modal minim sebagai permulaan. Ada kredit yang ditawarkan melalui BPR Melati dan adapula kredit BMT melalui masjid. Sayangnya ane terlalu lemah dengan bujuk rayu manis (padahal busuk) orang tua ane yang notabene seorang programmer PHP tanpa harus sekolah di jurusan Informatika dan belajar dari algoritma sampai natural language processing. Sampai sekarang ane tidak bisa berbuat apapun karena tidak ada modal produksi. Ane hanya bisa gigit jari sambil main game dan berulang kali marah ingin kabur dari rumah terus jual laptop buat modal produksi. Masa bodoh harus menumpang di kostan teman yang lokasinya berada di belakang pasar Kiaracondong. Hidup susah dengan berdagang itu jauh lebih baik daripada harus tinggal di rumah nyaman namun membusuk perlahan.

Sampai sekarang ane belum pacaran apalagi menikah. Persetan dengan tipe laki-laki bak pangeran. Tenang saja. Ane masih normal. Percuma saja ane berharap tipe lelaki ideal karena mereka pun tidak mau dengan ane yang berwajah pas-pasan. Tampang dan uang adalah kesan pertama yang meyakinkan. Itu sebabnya ane hanya memilih lelaki berdasarkan pemahaman agama. Ada banyak lelaki yang mencoba mendekati ane pun langsung ane tolak dengan sikap dingin dan cuek terhadap hubungan yang serius. Mereka tidak sesuai dengan kriteria ane. Ane hanya mencari lelaki yang pemahaman agamanya lebih baik dari ane dan seorang family man alias bapak rumah tangga. Ada kriteria tambahan pun hanya humoris. Orang lain tahu sekilas ane itu serius. Hanya orang terdekat ane yang tahu ane itu tipikal orang yang senang bercanda dan konyol. Selain itu ane jenuh melihat setiap hari yang diisi dengan pertengkaran. Kuburan dan masjid jauh lebih damai daripada sebuah rumah yang hampir setiap saat diisi oleh percekcokan dan amarah.

Selama tahun ini ane banyak belajar dari orang-orang baru dan lingkungan baru. Ane banyak belajar tentang dunia yang semula hanya sebatas ruangan dan komputer. Ane ikut berdesak-desakan di arena Pasar Komik Bandung yang jauh lebih ramai dari bayangan ane. Ane ikut kelas kepenulisan, public speaking, dan gambar di Perpustakaan Daerah. Ane bisa tahu semua proses di balik dapur penerbitan setelah berkunjung ke kantor Mizan yang ada di Cinambo. Ane banyak belajar tips-tips memasak dan membeli bahan baku dari komunitas wirausaha WUB Kota Bandung. Ane belajar mengasak teknik memasak dengan pelatihan kuliner. Tahun ini ane banyak belajar namun tidak tertekan seperti masa-masa sekolah ane dulu. Belajar sebenarnya adalah proses yang menyenangkan selama tidak ada standar irasional yang menghambat motivasi dan potensi belajar kita. Tentunya selama kita mau bertanya, mendengarkan, dan menghargai orang lain.

Soal kondisi di rumah, ane sudah tidak tahan. Ane jengah melihat kondisi rumah yang serba kacau. Babeh yang uring-uringan dan hobi marah seenaknya. Emak yang perfeksionis dan tidak bisa menerima toleransi kesalahan walau 0,01%. Statistika saja masih bisa menerima toleransi kesalahan sebesar 5%. Fobia ane yang semakin memperburuk kondisi kejiwaan ane yang baru pulih dari depresi. Belum lagi ditambah masalah dari kedua kakak ane yang sering memicu pertekaran di rumah. Kakak pertama ane dengan anak-anaknya yang super bandel dan tinggal di rumah selama bekerja di Bekasi. Untung saja Nara ikut ibunya. Bocah usil pengidap disleksia yang jadi biang kerok dari semua masalah di rumah itu sekarang tinggal di Bekasi. Kakak kedua ane dengan masalah mobil. Babeh punya mobil kesayangan, Honda HR-V generasi pertama yang dibeli secara inden dengan tipe limited edition. Hal yang mencolok dari tipe itu adalah warna. Itu adalah satu-satunya mobil HR-V berwarna biru metalik yang mudah ditemukan di jalanan kota Bandung. Sejauh ini ane belum lihat mobil HR-V warna biru metalik lagi dengan plat nomor Bandung yang berkeliaran di jalan raya ataupun jalan tol. Kata saudara ane yang kerja di dealer mobil pun harga mobil HR-V generasi pertama yang bekas masih tinggi. Babeh jual mobil itu ke kakak ane. Penyebab uring-uringan di rumah adalah masalah mobil. Babeh sangat merawat mobil itu sampai pengaturan mesinnya pun diperhatikan betul. Sewaktu mobil itu berpindah tangan, mobil kesayangannya berubah dengan setelan mesin yang tidak enak didengar dan ane tidak paham sisanya karena ane tidak paham soal otomotif. Soal Rifnun yang memang bermasalah dari kecil pun itu kasusnya kompleks. Tidak hanya karena masalah di rumah, tapi juga di sekolah yang menanganinya secara tidak tepat. Bisa dibilang ia adalah satu dari jutaan pelajar yang jadi korban pergantian kurikulum setiap tahunnya.

Soal kondisi fisik ane belakangan ini menurun drastis. Sekalinya sakit pun sakit yang fatal dengan waktu penyembuhan yang lama. Dua kali terkena tipes, satu kali terkena herpes yang dipicu oleh depresi, satu kali dislokasi kaki kiri, satu kali keracunan hebat yang sempat ane salah kira sebagai gejala liver, dan depresi yang bisa kambuh setiap saat dipicu oleh kondisi rumah juga zoofobia. Awalnya perasaan ane di awal tahun selalu suram dan galau. Alhamdulillah semenjak terapi dengan pendekatan agama dan latihan dari buku Toxic Parents juga La Tahzan, kondisi ane pun mulai membaik. Kondisi rumah ane boleh kacau tapi kondisi kejiwaan tidak boleh ikut-ikutan kacau.

Harapan ane di tahun depan hanya sederhana. Bisnis lancar, segera menikah, dan kehidupan pribadi lebih baik. Kehidupan pribadi sudah membaik ane bisa melakukan banyak hal yang bisa ane lakukan selagi masih hidup. Ane ingin keliling dunia belajar tentang kuliner baru lalu mencobanya dengan versi halal. Ane ingin jadi relawan yang bergerak di bidang sosial khususnya anak-anak. Ane ingin melakukan lebih banyak sedekah dari sebelumnya. Masih banyak rencana yang ingin ane lakukan dan pertama-tama harus selesaikan semua hal yang masih ane kerjakan sekarang.

Nonton Drakor dari Zaman SD

Bicara soal itu, ane serius. Semua bermula dari stasiun televisi bernama Indosiar. Sabtu dengan acara masak dan keluarga. Minggu dengan anime dari habis tayangan berita pagi sampe dzuhur. Senin sampai Jum’at sore biasanya nonton drama Asia. Ada juga sih yang tayang di akhir pekan kayak News no Onna sama Love Generation.

Pas zaman ane SD, kebanyakan drama Asia yang tayang di Indosiar itu drama Mandarin sama dorama. Mulai dari genre wuxia sampe romcom. Keberadaan drakor sendiri sebenarnya udah ada di stasiun televisi tetangga, SCTV, kalo gak salah Tomato sama Popcorn. Kedua drama yang dulu sempet ane kira adalah drama Mandarin asal Taiwan dan Hong Kong yang saat itu ramai muncul di televisi. Popularitas drakor di Indonesia pun mulai melejit semenjak kemunculan Winter Sonata dan Autumn In My Heart yang merupakan bagian dari tetralogi Endless Love. Saking ngehitsnya dua drakor itu di zamannya, makanya ane nulis di cerita yang ane buat itu novel favorit yang disukai main heroine adalah plesetan dari kedua judul drakor itu.

Ane tahu drakor dari zaman SD. Jauh sebelum menjadi tontonan umum kebanyakan cewek zaman sekarang. Saat itu ya ane nonton bareng kakak ane, si Bubu. Makanya sifat weeaboo insyaf ane kerap muncul ya emang selera nonton ane gak jauh beda ama kakak ane. Saat itu kakak ane masih kuliah. Jujur aja kakak ane itu seorang weeaboo dan fans berat drama Asia. Cuman lebih dominan fans drama Asia daripada weeaboo. Mulai dari era Jimmy Lin, Dicky Cheung, Takuya Kimura, Hideaki Takizawa, Bae Yong Joon, Won Bin, sampe Park Bo Gum pun kakak ane demen berat. Sekarang kakak ane itu janda beranak dua yang selalu diledekin sama anaknya, Nara.

Bubu, nontonnya Korea waé! *dengan logat Sunda kentel sambil ngamuk laptop dipake nonton drakor*

Lain lagi dengan adiknya, si Hiroko Gotoh KW super alias Uli.

Bubu, pengen noton pelem Koleya! *dengan balelol sambil ngasih kode biar bisa nonton bareng*

Dulu, ngomongin drakor itu adalah hal yang sangat-sangat-sangat menyenangkan. Apalagi bareng si Ghia, temen SD ane. Dulu ane inget demen bener berantem ama si Ghia. Kasarnya itu dia adalah tipikal karakter cewek bongsor tukang bully yang biasa muncul di film-film. Ane tengil ditambah Ghia agresif. Awalnya berantem mulu eh rukunnya gara-gara Rain. Saat itu Ghia emang fans beratnya Rain. Mungkin dia salah satu fans pendukung pernikahan Rain dan Kim Tae Hee kemaren. Semenjak rukun ya ngomonginnya drakor mulu. Soalnya Ghia emang salah satu anak yang paling tajir di SD dulu dan jarang orang yang pasang TV kabel di masa itu. Di saat temen-temen ane yang lain berantem rebutan husbando dan terindikasi chuunibyou terutama lu, Mir!, ane sama Ghia ya recokin drakor yang tayang di TV.

Memang penyuka drakor lawas rasanya gimana gitu pas ngobrol. Berasa dunia milik sendiri. Sekarang ane gak merasakan serunya ngomongin drakor seperti saat ane SD dulu. Meskipun zaman sekarang itu lebih gampang buat nonton drakor. Dulu ya kudu pantengin jam-jam tertentu buat nonton. Kadang ada kalanya kesel gara-gara sehari gak tayang. Sekarang bisa tengok situs streaming kayak Netflix dan banyak fansub yang khusus terjemahin drakor. Padahal sekarang banyak forum bertebaran yang bahas soal drama Asia, khususnya drakor. Entah kenapa sekarang ane gak antusias seperti halnya ane  semasa SD dulu. Adanya biasa aja karena terlalu pasaran dan banyak yang karbitan.

Fans drakor dulu lebih mantengin cerita dulu baru cogan. Sekarang cogan dulu baru cerita. Ane kaget waktu baca salah satu komentar fans di IDWS soal A Gentleman’s Dignity. Intinya dia awalnya ogah nonton gara-gara pemainnya gak ada yang cogan. Padahal di masanya, Jang Dong Gun itu populer lho. Gak kalah keren sama Rain.

Fans yang dulu itu nonton mah ya nonton aja. Gak banyak komentar apalagi ngasih spoiler. Beda sama penonton sekarang yang cuman tahu drakor terkenal sama doyan spoiler. Jujur aja ane ketiduran nonton Goblin gara-gara kebanyakan spoiler. Belum lagi ane

Fans drakor yang sekarang sama kayak fans K-Pop sekarang, banyak yang karbitan. Ane jadi inget cerita soal bedanya orang kaya beneran sama orang yang pura-pura kaya. Orang kaya beneran cuman ngomongin Hermès di lingkungan pergaulannya sementara orang yang pura-pura kaya bicarain Hermès di hadapan semua orang. Begitu pula kenyataan yang ane lihat sekarang. Banyak orang yang ngakunya demen drakor tapi bicarain di orang yang gak ngerti soal drakor. Ghia aja gak mungkin ngomongin drakor di hadapan si Dono. Soalnya Dono emang gak terlalu demen drakor. Ghia yang masih SD saat itu pun lebih ngerti akan analogi orang kaya yang ane ceritain.

Seiring berjalannya waktu ane emang kehilangan hal itu. Ane jadi inget cerita temen SMP ane.

Dia itu ELF sewaktu ane SMP. Cita-cita dia nonton konser SuJu di Jakarta. Pas zaman ane SMP, gak banyak orang yang tahu soal K-Pop. Paling cuman penikmat drakor di Indosiar macam ane sama gamers yang doyan main (sebut aja deh plesetannya, udah terkenal kok game-nya) Ayobaper. Dari semua member SuJu, dia paling demen sama Siwon. Dia hafal betul semua lagu SuJu. Mau itu hits yang terkenal maupun yang gak. Ane inget dia sering bawa buku yang isinya semua lirik lagu SuJu.

Sewaktu ane masih SMP, jadi fangirl pun dicap sama miringnya seperti otaku ato weeaboo. Tapi dia gak peduli. Karakter aslinya yang emang agak preman bikin orang yang nyinyir pun malah diem. Dia cuek aja nyanyiin lagu hits SuJu di sekolah.

Seiring berjalannya waktu, K-Pop semakin dikenal orang. Anehnya dia bukannya malah seneng ada orang yang bisa diajak ngobrol soal SuJu. Dia curhat ke ane kalo dia gak merasakan kegembiraan seperti dulu lagi. Ia tidak merasakan sensasi yang sama lagi saat membicarakan Siwon oppa. Sejak saat itulah dia berhenti entah itu ngomongin soal drakor ato bicarain soal SuJu.

Memang, ada kalanya kita merasakan sesuatu yang spesial itu mendadak menjadi tidak spesial malah bikin eneg kayak cerita temen ane. Begitupun dengan kebiasaan ane nonton drakor. Dulu menanti jam 4 sore di Indosiar itu adalah hal yang sangat spesial. Buat yang gak tahu, itu adalah slot tayang drama Asia di hari Senin sampai Jum’at dulu. Sekarang nonton TV kabel yang 24 jam drakor nonstop jadi biasa aja.

Akhir kata, rasanya ane jadi kangen ama Ghia. Terakhir kontak pun pas zaman ane SMK.

Hal yang Tersulit adalah Belajar agar Lebih Baik

Jadi kepikiran ide soal belajar ke kampus-kampus padahal bukan mahasiswanya. Ane kira cuman di luar negeri yang bisa. Soalnya ane pernah baca biografi Steve Jobs soal beliau masih bisa ikut kelas Kaligrafi padahal udah berstatus DO. Ditambah lagi sesi free talk jeda musim kedua di webtoon Trump (webtoon yang di situs manga scan sendiri menuai kontroversi di kalangan pembaca barat gara-gara Donald Trump padahal webtoon-nya sendiri gak ada sangkut pautnya sama Donald Trump). Ane sendiri baru tahu kalo pengarang Trump sendiri, Lee Chae Eun, gak memiliki latar belakang sebagai orang desain seperti kebanyakan komikus. Ada sih komikus lain yang bukan orang desain seperti Randall Munroe, mantan programmer dan ilmuwan robotik NASA yang banting setir jadi komikus xkcd.

Di Indonesia sendiri pun ada yang niat seperti Steve Jobs dan Lee Chae Eun. Ane lupa namanya, cuman inget dia itu ngakunya “mantan Raisa” pas diwawancarai Michael Tjandra di acaranya. Dia adalah seorang pecinta alam inspiratif di samping tubuhnya yang cacat setelah jatuh dari arena panjat tebing setinggi 20 m. Latar belakangnya sama lagi kayak ane, sama-sama orang Informatika. Cuman ane versi sesat dia mah versi lurus. Satu hal yang bikin ane kaget adalah dia ngaku kalo dia itu tukang mabal semasa kuliah. Mabalnya gak tanggung-tanggung sampe satu semester. Biasanya mahasiswa mabal itu nongkrong di kantin, ke warnet satu game, ato ngumpet di ruang himpunan/UKM/kostan. Hal yang menarik dari dirinya adalah dia mabal ke UIN, UI, UGM, dan kampus-kampus lainnya untuk belajar hal baru. Malah dia bela-belain nyamperin dosen jurusan Sastra biar bisa belajar nulis. Ane baru tahu di Indonesia juga bisa kayak gitu.

Pas kondisi kaki ane lebih baik ya ane pengen mampir ke universitas biar bisa kayak si pecinta alam. Setahu ane sih emang bisa. Dulu pernah diceritain sama Ima. Cuman kalo si pecinta alam itu belajar sastra secara serius, Ima minjem buku sama baca paper. Ane sih pengen belajar soal kepenulisan sama ngomik. Masih banyak pertanyaan yang gantung soal penulisan sastra yang mengalir, pengembangan cerita, sampai bermain matematika buat gambar isometrik yang skill-nya masih cacad.

Ketika orang lain bermasalah dengan cerita, justru ane bermasalah dengan karakter. Ane sering bingung menerjemahkan profil dari desain karakter ke gambar. Karakter yang masih gampang itu Killi. Dia itu pendek, tomboi, dan dadanya rata jadi gak perlu detail buat urusan gambar cewek. Masih bisa pake profil untuk anak-anak atau setelan karakter anime loli. Hal yang jadi masalah ya profil karakter yang ada di desain karakter itu tingginya 180 cm ke atas. Ane juga masih bermasalah dengan menghubungkan antara latar belakang sama gambar. Ane masih sering menemukan latar belakang yang jemplang dengan objek lain di sekitarnya (orang, kendaraan, sapu, tiang listrik, dll). Intina mah ane masih awam soal perspektif. Soalnya mau di mata pelajaran Seni Rupa apalagi Gambar Teknik belum sampe bab itu. Ane cuman baca materi isometrik pun dari modul Gambar Teknik yang entah hilang ke mana.

Begitupun masalah nulis. Ane sering melenceng dari desain karakter. Banyak karakter yang desainnya biasa aja terutama karakter si penjahatnya. Ane gak bisa bikin karakter penjahat yang kayak di film laga padahal cerita yang ane tulis sendiri pun temanya laga. Kebanyakan karakternya mirip kayak penjahat di pelem India *sebenarnya itu curcol penulis yang kzl tiap kali nonton pelem India berasa dunia itu isinya penjahat semua*. Paling gampang bikin karakter yang kelakuannya gak banget soalnya kehidupan di dunia nyata ane pun gak jauh dari orang-orang dengan karakter seperti itu. Apalagi soal karakter tsundere, toh penulisnya sendiri emang tsundere.

Kata orang, belajar itu emang gak enak dan membosankan. Ane serius. Makanya kids jaman now lebih tertarik pantengin Instagram Kylie Jenner ampe Awkarin daripada belajar daring via MOOC. Pas ane belajar lagi gambar ya kerjaan ane beneran geje. Berasa bocah yang lagi belajar pegang pensil.

Bikin benang kusut bareng si Uli sama Nara.

Bikin buletan gak jelas yang menuhin satu kertas.

Belajar narik garis sambil inget-inget materi Gambar Teknik pas zaman SMK.

Belajar bikin proporsi yang gak cuma main matematika tapi materi anatomi tubuh yang kudu hafal betul.

Bolak-balik hapus garis gara-gara salah narik perspektif.

Jujur aja otak ane mumet dan bawaannya pengen istirahat. Entah itu mainin game offline kayak Cytus, baca komik, nyetrika, ngaji, sampe pengen jalan-jalan naik sepeda. Memang belajar gambar yang serius sama mumetnya seperti belajar pemrograman. Bahkan belajar perspektif pun sama pusingnya seperti bikin analisis program dari use case scenario sampe rancang hubungan antarkomponen dengan component diagram dan itu pun harus konsisten di setiap diagram UML-nya. Setidaknya mumet itu terobati dengan rasa senang di tengah prosesnya. Ane mumet belajar program juga emang karena kepaksa tuntutan orang tua. Ternyata bener juga perkataan di salah satu panel Wind Breaker.

Belajar tanpa tujuan adalah sesuatu yang membosankan.

Sayangnya, pas belajar menulis pun ane masih kehilangan arah. Mending kalo gambar itu latihannya jelas. Ane banyak belajar dari kunjungan ke Pasar Komik Bandung kemaren. Jadi inget ane lupa nulis liputannya di jurnal saking capeknya di sana. Ane banyak tanya para mastah mengenai cara mengasah kemampuan dan latihan mereka. Porsi latihannya pun mulai dari gambar benang kusut sampe pemandangan utuh. Kalo ada satu bagian yang masih belum terasah, misalnya gambar detail tangan, ya turun lagi ke belajar menarik garis sama bentuk. Masalahnya pas menulis itu gak sejelas itu. Ane merasa masih lemah di deskripsi cerita. Ane pengen keluar dari zona nyaman ane sebagai penulis cerita genre drama dan tragedi. Shakespeare aja bisa bikin cerita genre komedi, drama, romantis, sampai tragedi tanpa mengurangi kualitas ceritanya. Ane pengen asah kemampuan menulis ane tapi pas ane ubek-ubek si mbah pun tidak menemukan porsi latihan spesifik seperti halnya belajar gambar. Ane masih gak tahu latihannya seperti apa.

Apa latihannya itu seperti belajar bahasa di SD? Misalnya belajar menulis kalimat berpola SPOK dalam Bahasa Indonesia atau belajar present tense dalam Bahasa Inggris.

Apa latihannya dengan menulis bebas seperti menulis protip pada jurnal ini?

Belajar memang kadang membosankan bila belajar secara otodidak. Setidaknya dengan belajar otodidak ataupun dengan seorang pendamping, contohnya teman, ya ane belajar bisa mulai dari titik awal ane. Gak kayak di institusi pendidikan formal Indonesia yang menyamaratakan kemampuan belajar seseorang dengan KKM dan silabus yang terbilang tidak adil. Kayak ikan aja dipaksa buat manjat pohon. Kalo belajar seperti konsultasi ke dokter ya bisa jelas masalahnya dengan solusi berupa porsi latihan yang tepat.

Di balik mumetnya belajar, latihan mirip bocah bikin benang kusut, dan berulang kali salah ya gambar ane ada kemajuan. Setidaknya mulai terlihat konsistensi tanpa meninggalkan style yang jadi ciri khas ane. Bicara soal style gambar sih ane banyak dipengaruhi pengarang manga shoujo seperti CLAMP, kartun Hanna Barbera yang dulu tayang di televisi, anime era 90-an, dan serial anak-anak seperti Curious George.

Tapi soal menulis masih jalan di tempat. Cara belajar ane lebih mirip orang yang merangkak di tengah cahaya nan temaram. Ajep-ajep gimana gitu. Makanya pas ane udah sembuh total pun ane pengen ke universitas buat belajar hal yang ane pengen kuasai. Ane masih punya kemauan belajar dan masih trauma buat kuliah lagi. Ane gak mau seperti ikan yang disuruh manjat pohon lagi dan ujung-ujungnya malah bikin kebiasaan malas tingkat dewa kumat lagi. Setidaknya belajar itu emang buat kebaikan ane biar jadi lebih baik.

Tapi gimana caranya ya? Mungkin kudu nanya dulu ke Ima.

Ketika si Ramune Kampret Kembali Menulis

Pertanyaannya …

why must me? (emang Balotelli aja yang bisa?)

Yup, judulnya ngapain nyempilin tokoh anime berotak miring yang agak kepedean itu? Mentang-mentang pas zaman jadi weeaboo akut itu salah satu husbando ente? Jujur aja sih kalo ditanya soal husbando, jawabannya cuman Ramune, Ginnosuke, Hei, dan Osamu. Satu dari anime ecchi rasa bocah, cogan kacamata tebel dari anime underrated yang pernah tayang di TVRI, tokoh anime peranakan Tionghoa yang cakepnya makin nambah pas senyum (dan pernah masuk daftar 100 cogan anime terganteng versi fans cewek), dan satu lagi bukan tipikal karakter tokoh utama kebanyakan manga shonen. Ane gak usah kasih tahu judul anime aja udah pada tahu kok. Tapi di antara semuanya ya yang paling sering nongol di jurnal ini cuman Ramune. Soalnya karakter Ramune itu ekspresinya emang kocak dan gak jauh dari penulisnya sendiri *gubrak*.

Sudahlah basa-basinya. Lagian ane bisa seneng kembali menulis. Entah si Emak kesambet apa lagi ya sampe tiba-tiba pasang internet (lagi) di rumah. Dulu sih ane mikirnya buat main game. Sekarang mah buat unduh drakor, film, sama anime aja kudu mikir dua kali. Kasihan juga Babeh yang udah pensiun kudu bayar tagihan internet bengkak sama tukang nonton macam ane. Lagipula ane belum dapet penghasilan lagi gara-gara “jatuh gak elit” di tangga.

Yup, sekarang ane mulai berdagang. Emang sih masih taraf kecil-kecilan alias nitip di warung. Modal pun ane sebisa mungkin kumpulin dari uang tambahan dikasih Emak. Alasannya ya tahu sendiri lah orang tua ane itu programmer yang lebih hebat dari para finalis TopCoder dalam masalah PHP. Ditambah kata mentor pas pelatihan wirausaha kemaren, sebisa mungkin jangan sampe terlibat hutang (dalam konteks ini pinjaman bank juga termasuk) pada pihak ketiga dalam merintis usaha. Sayangnya pas lagi ane sedang dalam keadaan yang lagi bersemangatnya buat berbisnis, eh malah kaki kena dislokasi. Padahal rencananya, sebelum ane jatuh ya ane emang mau pergi ke pasar pas besoknya buat belanja bahan dagangan.

Kaki kiri ane itu langganan banget terkilir dari zaman SD sampe sekarang. Terakhir kali jatuh sehabis kumpul himpunan pas masih semester 2 ngampus. Mungkin gara-gara sering banget jatuh makanya kondisi sendi di kaki kiri rada-rada gak stabil sampe kasusnya separah kemaren. Pantes aja sakitnya cetar membahenol, toh posisi ujung tulang kering ane pada sendi di mata kaki bergeser ada kali sekitar 2 cm mah. Ane istirahat total dari dagang selama hampir sebulan (sampe saat ane nulis sekarang pun masih belum pulih benar) dan gak ada pemasukan. Kerjaan ane sekarang ya gak jauh dari nulis, baca komik, bikin webtoon (baru storyboard di kertas dan belum dipindai soalnya gak ada “tikus” buat oprek pake GIMP), nonton anime hasil malak dari Riko *soal koleksi pelem, sepupu terdekat ane memang gudangnya =w=)b*, dan latihan squat beserta jongkok disuruh sama ahli tulang aka fisioterapis tradisional. Toh emang itu latihannya biar cepet sembuh sama sendi di mata kaki bisa berfungsi normal.

Bener kata orang, waktu adalah pembunuh yang tidak terlihat. Ane ngerasain betapa jenuhnya hidup ane selama sebulan. Ane sudah mulai move on dari kegagalan akademik pas ngampus tapi kadang ane merasa sedih pas lihat berisiknya chat grup kelas yang lagi persiapan wisuda. Ane sedih aja di saat harusnya barengan lulus tahun ini ya langkah ane terhenti di permulaan semester 5. Tinggal dua semester lagi ane lulus di saat ane sedang menikmati benar masa PKL dulu. Ane juga dibuat puyeng gara-gara biasanya ada pemasukan dari uang hasil nitip dagangan eh malah satu bulan gak dagang. Sampe kang Rian aja nanyain soal ane ngilang dari bulan puasa kemaren.

Bicara soal ane ketemu lagi sama kakak angkat ane dari zaman SMK itu, toh emang jarak kantornya ke rumah ane ada lah sekitar 100 m mah. Kemaren ketemu deket masjid yang jaraknya cuman dua rumah dari rumah ane atau sekitar 10 m mah. Ya mo gimana bisa belanja ke pasar apalagi ngacir, kondisi kaki ane masih belum waras gini T.T

Ane mau lanjutin cita-cita masa kecil ane jadi komikus, toh gak ada kata terlambat buat belajar. Komikus dan penulis sih hanya sampingan untuk membunuh rasa bosan setelah beres produksi barang dagangan. Anggap aja amal jariyah toh pekerjaan yang berkaitan dengan literasi emang kurang dihargai di Indonesia. Bukan kata ane lho. Itu kata Pak Ichsan, mentor kelas Kepenulisan di Perpustakaan Daerah yang juga seorang penulis. Ane mau belajar apa yang ane mau. Toh belajar tanpa tujuan adalah sesuatu yang sangat membosankan. Itu bukan kata ane. Itu kata sodaranya Jay di salah satu episode Wind Breaker.

Ane mau asah hafalan Qur’an ane biar gak kalah sama anak-anak Palestina.

Ane mau belajar masak, matematika, akuntansi, sama manajemen dasar biar bisnis tetep lancar.

Ane belajar soal pendalaman karakter sama penguatan cerita biar novel 10 tahun belum kelar sama webtoon yang lagi dibikin cepet kelar. Padahal menurut ane sih novel yang belum kelar itu cocoknya jadi komik. Sayangnya berhubung latarnya itu “middle Earth di masa depan” ya kemampuan gambar ane buat adegan gelut mah belum keasah. Paling bisanya pas adegan Julie sama Killi berantem tangan kosong.

Ane mau belajar bahasa asing lebih dalem lagi. Emang sih bahasa asing yang paling ane kuasai itu bahasa Inggris dan itupun pasif gara-gara keseringan baca modul ngoding, paper, manga scan, sama nonton film. Bahasa Arab, Jepang, sama Spanyol pun belajarnya gak tuntas. Bahasa Arab ane belajar dari temen ane yang bisa bahasa Arab dan sepotong-sepotong dari terjemahan Al Qur’an. Bahasa Jepang belajarnya gara-gara dulu masih weeaboo belum insyaf ditambah sering buka Wakan buat belajar kanji biar pas typesetting bener.

Setahu ane pas ane masih nyemplung di dunia fansub, kebanyakan fansub di Indonesia itu masih indirect translation alias terjemahannya dari bahasa lain. Pada kasus kebanyakan anime, drakor, sama film, kebanyakan ambil takarir dari bahasa Inggris. Nah, alasan ane belajar kanji saat itu biar pas nerjemahin kalimat dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia itu lebih ketangkep konteksnya terlebih pas typesetting. Emang pengetahuan kanji ane masih dasar sebatas yang ane pelajari dari Wakan. Ane imbangi masalah itu dengan ditambah referensi terkait anime itu biar gak salah terjemahin. Setidaknya ane bisa menerjemahkan bahasa Inggris dari takarir HorribleSubs, kebanyakan sumber terjemahan anime di fansub lokal yang bahasanya kadang sama horrible seperti nama fansub-nya, dengan benar tanpa mengurangi konteksnya.

Bahasa Spanyol pun belajar dari keseringan nonton Dora The Explorer versi bahasa Inggris dan masih taraf yang anak-anak. Belum lagi bahasa Sunda sama bahasa Jawa. Bahasa Jawa sih gara-gara sering pake pun makanya ane bingung kudu import java.lang.*; dulu biar ngerti masalah kromo yang lebih rieut dari undak usuk basa dina basa Sunda.

Kalo belajar yang berkaitan dengan bertapa di padepokan ngoding selama bertahun-tahun? Mau dilupakan? Ane cuman mau belajar soal security (terutama mengenai penyakit komputer dari virus, trojan, dan saudara-saudaranya), administrator PC (entah itu pake cara manual dengan tikus ataupun bermain dengan shell), sama pencitraan digital. Alasan terakhir itu paling kocak. Ane bukan mau bikin tugas OpenCV kayak pas zaman PKL dulu, melainkan biar ane pas ngerjain webtoon lebih paham sama fungsi-fungsi yang ada di sotosop ama gim *alasan ngaco macam apa ini?*. Bodo amet kata orang mau dikatain aneh gara-gara pake GIMP padahal biasanya orang pake SAI (kebanyakan weeaboo) dan Photoshop. Ane emang gak mau bergantung pada satu tool biar istilahna mah “tak ada rotan akar pun jadi”. Emang sih fitur yang biasa dipake di aplikasi pengolah grafis itu palette warna, Gaussian blur, HSL, curves, sama levels. Ane masih penasaran dengan celetukan Pak Dewo soal fungsi tangen yang memang terbukti bisa menajamkan gambar tanpa rasa bersalah (berkat itulah ane gak perlu capek-capek buat bersihin gambar hasil scan buat raster). Ane penasaran kenapa tiap pake picker di sotosop ada “color safe” segala. Cara kerja mask sama multiply yang biasa dipake para mastah CG buat masalah coloring. Masih banyak lagi pertanyaan yang melayang di kepala tiap pake soto/gim *ini aplikasi ato nama makanan ya?* yang tidak bisa terjawab dengan tutorialnya saja.

Tambahannya lagi biar bisa encode film dan anime tanpa harus mengorbankan PC lebih parah lagi. Itu alasan yang lain buat belajar pencitraan digital. Biar bisa encode tanpa rasa bersalah :v

Ya beginilah kerjaan ane untuk mengisi kebosanan. Mending lanjut nulis lagi aja biar novelnya cepet kelar.

Saudara di Luar Palestina

Lagi-lagi linimasa ane dipenuhi dengan foto konflik di Palestina. Dalam hati ane berkecamuk. Ane gak bisa berbuat apa-apa. Duit buat donasi gak punya. Kemampuan ane umtuk membantu relawan pun gak punya. Secara psikologis ane masih dalam penyembuhan trauma dan masih rapuh. Tapi ane hanya bisa berdoa.

Ya Allah, kembalikan senyum mereka agar tetap optimis dalam menjalankan setiap hari mereka. Berikan mereka tempat yang layak sesuai dengan amal mereka. Pertemukan mereka dengan orang-orang soleh dan keluarga mereka di surga-Mu kelak.

Ane tahu kalo rakyat Palestina itu orang yang baik, tegar, dan soleh. Hidup mereka yang berat di tengah konflik masih mereka jalani dengan ikhlas. Kadang ane merasa kalo ane itu masih kalah sama mereka. Di saat yang bersamaan, mereka tidak takut dengan desing peluru yang setiap saat bisa menembus jantung mereka. Sumber kebahagiaan terbesar mereka adalah Allah dan mereka pantang menyerah untuk menggapai ridho-Nya baik di dunia maupun akhirat. Di saat penduduk Indonesia kesel liatin antrean bank yang lama, mereka sibuk belajar Al Qur’an dan setor hafalan di bank. Di saat guru di negeri ini masih pusing dengan hidup mereka yang tidak adil, seorang guru Palestina berhasil menorehkan prestasi karena sukses mengangkat semangat anak-anak korban konflik agar mau bersekolah tanpa rasa takut menyelimuti mereka.

Tulisan ane lagi-lagi melanggar pantangan ane untuk menulis yang “terlalu berat”. Tulisan ini murni bentuk kekesalan ane yang saat ini membayangkan andai ane itu pengungsi Palestina yang selamat di pengungsian dan tahu keadaan di luar sana.

Ane membayangkan apabila zaman perang dahulu dengan situasi kekinian. Apa jadinya jika saat perang Badar, perang Trafalgar, holocaust pada perang dunia ke-2, perang Diponegoro, pemboman Hiroshima, dan perang Vietnam sudah ada jejaring sosial? Di saat para mujahid yang gugur syahid di perang Badar menjadi sumber like oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Di saat warga Hiroshima yang terpukul akan kedahsyatan bom atom menjadi tontonan yang lumrah dan viral di jejaring sosial. Di saat warga Vietnam tersiksa dengan agent orange, mereka memanfaatkan hal itu demi meraup follower sebanyak-banyaknya.

Kita bisa mengutuk bani Israil yang selama ini menindas mereka dengan peelakuan keji. Tapi bukankah kita sama saja dengan mereka apabila kita “memanfaatkan” penderitaan saudara kita nan jauh di Palestina? Di mana hati nurani kita? Apa kita tak pernah berpikir perasaan keluarga mereka di pengungsian yang tahu kondisi kerabat mereka dijadikan “kacang goreng” di media massa dan internet?

Palestina kembali berduka namun ini bukan saatnya untuk menabur garam apalagi fosfor putih di atas lukanya. 

Ane pernah baca dari buku tentang Room to Read, sebuah organisasi nirlaba internasional yang bergerak di bidang pendidikan. Mereka menggalang donasi bukan dengan memperlihatkan penderitaan namun dengan memperlihatkan harapan dan kerja nyata. Kenapa kita tidak meniru cara mereka untuk menggalang donasi untuk Palestina? Daripada kita memajang foto-foto tangisan rakyat Palestina yang kehilangan kerabatnya, bukankah lebih baik kita memajang foto para pengungsi yang sedang fokus belajar Al Qur’an di kemah pengungsian yang sudah didirikan. Ato gak ya kondisi terkini pembangunan rumah sakit dari donasi kita di Palestina.

Kalo memang pengen jihad jadi pejuang perang ya niatnya kudu lillahi ta’ala sesuai kemampuan kita. Kalo gak sadar diri adanya malah jadi ngebebanin mereka dan mirip teroris di luar sono yang pemahaman agamanya sendiri cuman di kulitnya. Pake bahasa game mah, mun tipe melee ya jihad dengan kemampuanmu sebagai penyerang melee. Gak lucu aja kalo disuruh jadi range apalagi carry.

Kalo gak bisa donasi ato jadi pejuang perang, jadi relawan lapangan pun bisa. Tim medis, guru, psikolog, psikiater, ustadz, dapur umum, dan pelawak sangat dibutuhkan di sana. Lah kok ane bisa nulis pelawak ya? Ane jadi inget cerita pemain sirkus yang jadi relawan di Suriah dan menjadi salah satu korban saat penyerbuan di Aleppo kemarin. Setidaknya kedatangan pelawak bisa meringankan penderitaan mereka terlebih pada anak-anak.

Belum sanggup bantu apapun, doa adalah senjatanya orang beriman. Ingat mereka di setiap doa yang kita panjatkan. Percaya deh sama Allah. Allah bakal mengabulkan doa kita selama kita berdoa dengan tulus, benar, dan jangan lupa diulang-ulang doanya ya. Eits berhubung ane nulis ini pas hari Jum’at, berdoa aja mumpung hari Jum’at itu salah satu waktu yang baik untuk berdoa.

Like dan share bukanlah solusi. Tindakan nyata sekecil apapun bagi saudara kita di Palestina itulah solusinya. Berhentilah untuk terus menjadikan mereka objek tontonan seperti lihat orang jatuh akibat kecelakaan di pinggir jalan. Berhentilah menyiarkan berita tentang mereka dari sudut negatifnya saja. Apalagi sampai memancing di air keruh alias cari kesempatan dalam kesempitan. Ane jadi inget curhatan temen ane yang kesel waktu jadi korban kecelakaan motor. Bukannya ditolongin eh malah dia diliatin orang-orang terus barang berharganya diambil. Coba deh bayangin berada di posisi rakyat Palestina dengan analogi kecelakaan motor yang ane ceritain tadi. Enak gak kalo digituin?

Buat saudaraku di Palestina, tetap semangat karena Allah tidak tidur. Tapi buat para oknum yang masih aja ngeyel kayak gitu, semoga diberi hidayah oleh Allah. Masa ngaku saudara tapi kelakuan kayak bukan saudara sih. ‘Kan ngaco kalo gitu mah.