Andai Ane Jadi Pemilik Sekolah

Cita-cita ane sekarang pengen jadi pengusaha. Alasannya terlalu naif.

Ane pengen lebih banyak sedekah daripada konsumsi pribadi. Biar kayak para sufi di zaman dulu dan Bill Gates di zaman sekarang. Selain itu ane pengen bangun daerah tempat ane tinggal. Ane pernah ngerasain ditolak  di tempat yang justru deket banget dari rumah. Ane pengen bangun usaha yang memberdayakan warga sekitar biar mereka gak nganggur, gak kena macet, bisa makan siang ato sholat berjamaah di rumah pas lagi istirahat, sama membantu usaha masyarakat sekitar agar lebih maju.

Sayangnya ya sekarang ane kepaksa kerja. Jujur banget dalam hati ane pengen ikut acara pengembangan bisnis dari pemerintah kayak pameran sama pelatihan. Tapi ya gimana lagi, faktor orang tua lebih dominan *dan ane kudu balik terapi pas udah gajian nih*. Ane mo coba dulu bertahan paling lama setahun. Buat ngumpulin modal dagang lebih besar biar gak mentok dagang pulsa sama nitip warung mulu.

Ada orang yang bilang gini.

Biar bikin hidup lo lebih hidup, lo harus punya cita-cita lain setelah salah satu impian lo tercapai.

Apa yang bakal ane lakukan setelah jadi pengusaha restoran?

Punya rumah ala Harvest Moon di atas gunung. Pas kemaren coba ngangon sapi sama embe bareng si Uli di rumah mang Marino, asyik juga punya rumah di peternakan. Bahkan ane liat di luar negeri pun, banyak restoran dengan bintang Michelin yang berada di pedesaan. Berdampingan dengan perkebunan, peternakan, ladang-ladang warga, dan pelelangan ikan. Bahkan chef-nya pun punya peternakan dan kebun sendiri di rumahnya.

Ane juga pengen bikin sekolah. Alasan sebenarnya adalah revolusi pendidikan.

Belakangan ini revolusi pendidikan gencar dilakukan di negara-negara maju. Mereka sadar ada yang salah dari sistem pendidikan mereka. Contohnya di Korea Selatan banyak pelajar yang bunuh diri karena tekanan pelajaran di sekolah. Salah satu negara yang berhasil merombak sistem pendidikan mereka adalah Finlandia. Sistem pendidikan mereka yang aneh justru lebih membuat para pelajar di sana lebih berkualitas sewaktu kembali ke masyarakat (baca: bekerja).

Di Indonesia sendiri banyak kasus mengenai pendidikan. Mulai dari carut marut pendaftaran sekolah sampai realita di kelas yang bikin si muridnya kesel setengah mampus. Sekolah yang sejarah mencatat bermula dari waktu luang menjadi mimpi buruk. Kasus bully di sekolah, tekanan akademik, waktu istirahat yang irasional, dan mengabaikan hak-hak murid juga guru di sekolah.

Ane kepikiran hal ini gara-gara keseringan kena semprit Pak Dewo di kelas. Apa itu belajar? Kenapa kita harus belajar? Kenapa beliau sering mengatakan “mahasiswa kurang belajar”? Bagaimana seharusnya belajar yang benar itu? Banyak pertanyaan yang muncul di benak ane ketika harus menghadapi omelan beliau di kelasnya. Berawal dari matematika dasar dan harga mutlak, kini berakhir jadi memikirkan segala hal yang sepele berkaitan dengan belajar.

Benar kata orang, belajar di usia yang mulai menua lebih sulit daripada masa muda. Hal itu kini mulai ane rasakan di bidang tertentu. Ane lebih mudah belajar tentang matematika dasar yang penuh analogi daripada belajar struktur bahasa dalam perspektif logika. Emang ane itu oon dan kurang belajar hingga akademik terseok-seok di samping kondisi fisik yang melemah. Tapi orang yang lebih oon lagi adalah orang yang nyadar dirinya oon dan gak mau berubah.

Apa itu cerdas? Pikiran ane pun nyasar ke sana gara-gara memikirkan omongan Pak Dewo. Apa ia harus mendapatkan nilai 100 dalam Matematika? Apa dia harus bisa merangkai kata-kata gombal melebihi kualitas syair Kahlil Gibran? Apa dia harus dapat semua nilai bagus di lembar SKHUN dan ijazah? Saat itu ane ingat cerita waktu mentoring dulu. Cerita soal Ali bin Abi Thalib yang diuji kecerdasannya oleh salah seorang sahabat Nabi.

Singkat cerita beliau bisa menjelaskan suatu masalah dari beragam sudut pandang yang berbeda. Ane sadar. Orang yang cerdas itu harus seperti Ali bin Abi Thalib. Ia harus tahu betul masalah yang ia hadapi agar bisa memecahkan masalah tersebut sampai tuntas.

Bahkan tadi pun ane berpikir sekolah seperti apa yang bakal ane bikin. Apakah sekolah seperti Sekolah Masjid Terminal, Sekolah Darurat Kartini, atau Kandank Jurank Doank? Bagaimana gurunya? Siapa muridnya? Apa yang harus mereka pelajari?

Ane pengen buat sebuah SD. Bukan sekolah berbasis agama tapi terbuka untuk umum. Gak pake seragam biar yang miskin gak keberatan beli seragam. Sekolah alam biar mereka bisa bermain santai seiring dengan arti sekolah yang sebenarnya itu “waktu luang”. Buat kurikulum pun kurikulum sendiri tapi hasil akhir tetap sesuai dengan SKL dari pemerintah.

Ane bakalan ngasih ujian pas kelas 4 SD. Idenya dari SD di Jepang. Kurikulumnya terintegrasi kayak di Finlandia. Pas kelas 1 sama 2, ane cuman pengen mereka fokus belajar tentang agama, budi pekerti, etika, sama bersenang-senang sebagai anak-anak. Masa iya bocah bawa kebanyakan LKS ama diem mulu di kelas? Adanya nambah bongkok iya, beke juga iya. Terus juga masalah orang-orang di Indonesia itu cuman kurang beretika. Banyak orang pinter sama alim tapi cuman sebatas di bibir tanpa diterapkan dalam keseharian.

Ane juga gak bakalan ngasih banyak bahasa. Gak peduli bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Mandarin, apalagi bahasa Indonesia. Bahasa asing (termasuk bahasa Indonesia) ane bakal kasih bertahap dari kelas 3 SD. Biarin mereka ngomong bener dulu pake bahasa daerah daripada kecampur-campur malah ngerusak bahasa dan kedengeran 4l4y. Bahasa pengantar pas awal juga bahasa daerah. Soalnya banyak kearifan lokal juga ajaran agama yang disampaikan dalam bahasa daerah. Toh di Indonesia percuma belajar bahasa Inggris dari TK tapi tenses, pronunciation, sama grammar aja gak lebih baik dari native speaker yang masih SD.

Belakangan ini banyak orang tua yang pengen anaknya hafizh Qur’an. Ane emang sengaja gak ngasih program hafizh. Ane pengennya mereka jadi pengamal Al Qur’an. Bedanya mengamalkan itu hafizh yang langsung praktek. Tingkat tertinggi dari ilmu pengetahuan itu mengamalkan yang sudah kita pelajari lalu mengajarkannya pada orang lain. Hafalan mereka juga terintegrasi dengan materi pelajaran. Ane sengaja gak nulis itu biar sekolahnya tetap sekolah umum yang netral. Selain itu tujuannya biar mereka lebih paham ajaran agama dengan benar. Toh teroris itu bermula dari pemahaman agama yang cetek.

Gurunya sih ane pengen yang hafizh. Lebih bagus lagi lulusan ilmu umum yang hafizh juga. Soalnya biar bisa mengintegrasikan hafalan dengan kurikulum sekolah. Ane juga pengen guru yang punya latar belakang relawan ato orang asli daerah. Biasanya mereka itu paling bersemangat buat mengembangkan pendidikan. Ane juga butuh guru dengan latar belakang Psikologi, Pedagogi, atau Kedokteran. Biar kondisi fisik sama mental anak-anaknya lebih terpantau.

Kurikulumnya pun lebih banyak menggunakan aktivitas fisik. Mereka juga harus sering kena sinar matahari pagi (mun dina basa Sunda mah nganeut moyan) yang baik untuk pertumbuhan. Mata pelajaran pun gak banyak tapi sifatnya tematik setiap minggu. Misal temanya pasar. Muridnya belajar Matematika sama IPS dari simulasi perdagangan di pasar. Nah tema berubah tiap minggu biar bisa gak bosen sama menyesuaikan sama target hafalan mereka. Belajar Matematika pun gak dari kelas 1. Paling cuman dikasih pengenalan kayak ngitung buah. Anaknya lebih banyak main karena ada pelajaran tentang kemampuan bertahan hidup. Misalnya memasak, menjahit, bercocok tanam, mencuci, berbisnis, prakarya, life hack, dll. Ane juga pengen sekolah itu berbasis literasi. Minimal literasi Qur’an deh. Soalnya Indonesia merupakan negara terendah kedua dalam masalah literasi.

Jam sekolah sih pengennya pulang ba’da Zuhur. Kayak sekolah di zaman dulu. Jadi masih ada waktu buat mereka main, belajar, ngaji, istirahat, les tambahan, sama bantu orang tua di rumah. Paling kalo sore pun ba’da Ashar. Sudah termasuk pemantapan buat kelas 6 sama sholat berjamaah. Jam pelajaran pun lebih ramah anak. Idenya dari ilmu neurosains sama teknik Pomodoro. Setiap interval tertentu pasti ada istirahat kecil biar otaknya gak mabok sama bisa rebahan sebentar.

Harapan ane sih SD itu bisa jadi angin segar bagi pendidikan kita. Sekolah berbasis alam dengan uang sekolah yang ramah masyarakat miskin dan kualitas terbaik. Lulusannya pun bisa berguna di masyarakat dan menjadi agen perubahan bagi lingkungan mereka.

Moga aja khayalan ini bisa kecapaian. Āmīn.

Iklan

2019 Ganti Internet

Belakangan ini lagi rame soal “2019 ganti presiden” di media sosial. Siapapun presiden yang terpilih, semoga saja kebijakannya lebih memihak rakyat.

Banyak orang yang bilang, termasuk temen-temen ane yang aktivis di statusnya, soal pemerintahan sekarang yang ngaco. Hal yang paling kerasa dari rakyat kecil adalah harga semakin mahal, gaji yang ada gak cukup buat memenuhi kebutuhan sehari-hari, apa-apa susah, dan kurs dollar makin naik. Di samping perasaan lega setelah hutang lunas di era SBY (seingat ane dari berita, negara hanya bayar bunga pinjaman yang lebih gede dari hutangnya dan masih belum lunas) eh hutang nambah lagi. Tapi ane gak bakal omongin soal politik. Ane cuman ngomongin soal internet.

Hal yang paling kerasa banget di mata anak muda dari pemerintah sekarang cuman dua: kurs dollar sama internet. Soalnya anak muda gak pernah lepas dari gadget.

Ane inget dulu pernah nanya soal harga kamera DSLR yang dijual di Jonas. Ane bingung liat harganya yang aneh di etalase. Kata pegawainya, harga kamera DSLR itu bergantung sama kurs dollar jadi harganya gak pasti. Jangankan harga kamera DSLR, dari HP baru sampe GoPro pun kadang ada yang pasang harga gitu di etalase.

Itu tadi hubungannya kebijakan pemerintah sama perangkat elektronik. Apa hubungannya dengan internet?

Indonesia adalah salah satu negara dengan koneksi terlemot di dunia tapi anehnya dalam jumlah pengguna internet paling aktif salah satu yang terbesar di dunia. Ane pernah baca dari laporan Akamai, peringkat Indonesia sempat naik di era SBY tapi menurun di era sekarang. Apa yang bikin koneksi internet lemot? Ane pernah dijelasin sama dosen dengan bahasa yang singkat.

Anggaplah internet itu sebagai jalan raya dan pengguna sebagai mobilnya. Kita sering kesel liat jalanan macet setiap hari terutama di kota-kota besar. Jumlah kendaraan semakin bertambah tapi jalannya masih gitu-gitu aja. Akhirnya kita lama sampai ke tempat tujuan. Begitupun internet. Emang enak lewat jalan yang penuh sesak kayak lagi mudik? Gak lah.

Kenapa internet di Indonesia lemot banget? Kasusnya sama kok kayak jalan raya yang selalu macet di kota besar. Pembangunan jalan tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah kendaraan ditambah kurang pemeliharaan.

Ane inget pas era SBY, pembangunan jaringan fiber optik gencar dilakukan. Gak cuman untuk memenuhi kebutuhan acara besar seperti KTT di Bali dulu yang banyak digelar selama pemerintahan SBY, buat kenyamanan kita juga. Dulu pake torrent enak, unduh dari server IIX kenceng, apalagi pake XDCC. Sekarang buat unduh dari server IIX aka lokal juga empot-empotan. Malah berasa nostalgia masa-masa SMP di musim lebaran.

Ane inget pas zaman SMP. Pake IDM, buka YouTube, ato main Audition diamuk satu warnet. Untung pas zaman SMK koneksi internet meningkat drastis. Di warnet yang dulu paling mentok 40 kbps (plus diamuk) pake IDM pun meningkat sampe menyentuh 1 Mbps pake IDM. Buka YouTube lancar, internet stabil biar lebaran, dan di kampung pun masih ada sinyal. Lebaran kemaren aja sodara ane frustasi setengah mampus. Jangankan buat main Mobile Legends, kirim pesan WhatsApp aja pending mulu padahal sinyal 4G mentok.

Kalo di era kemaren banyak protes soal internet positif tapi internet jalan terus, sekarang protes soal 4G lemot dan iklan aneh-aneh jalan terus. Bahkan sempat ramai petisi orang tua gara-gara halaman depan YouTube berubah jadi bokep.

Daripada ribut-ribut soal ganti presiden, mending kita ribut soal internet. Orang Indonesia itu ketergantungan banget sama internet. Kalo internet gak lancar, gimana bisa nonton drakor, main game, bisnis daring, cek pergerakan saham di bursa, apalagi mewujudkan smart city!

Antara Wagyu dan JCo

Belakangan ini ane bingung soal berita yang tersebar di internet mengenai JCo. Katanya sih gak ada sertifikasi halalnya. Bener ato gaknya sih mending klarifikasi langsung sama MUI pusat.

Toh sebenarnya sertifikasi halal itu gak gampang. Apalagi dengan toko sekelas JCo dengan beragam pilihan menu yang tersedia.

Seinget ane, ambil contoh menu burger donatnya, buat sertifikasi halal itu kudu diperiksa dari hulu sampe hilir. Mulai dari pemeriksaan kesehatan hewan pedaging, pemeriksaan sertifikasi halal dari rumah potong hewan mitra bisnis, pemeriksaan sertifikasi dari importir kalo pake daging impor, hingga inspeksi cara masaknya langsung di toko. Makanya di luar negeri sendiri, sertifikasi halal itu dianggap standar internasional. Gak cuman meyakinkan konsumen yang muslim sih, standar mutu produk halal yang ketat menjamin produk berkualitas berada di tangan konsumen.

Ane jadi ingat tulisan ane soal debat dengan kakak ane. Kali ini debat ronde ketiganya: masalah halal dalam makanan.

Seingat ane, halal itu dilihat dari sumber dan proses mendapatkannya. Misalnya babi yang disembelih sama muslim tetep aja haram apalagi beli daging sapi pake duit hasil korupsi.

Ane sih termasuk orang yang gak gampang percaya gitu aja sama broadcast di internet. Pengalaman membuktikan lebih banyak kabar burung daripada benernya. Itu jadi salah satu alasan ane mengurangi aktivitas di jejaring sosial. Soal JCo sih mending minta klarifikasi langsung dari sononya aja.

Bagaimana dengan wagyu yang jelas-jelas dikasih makan pake campuran sake? Kalo di Jepang sih jelas haram. Soalnya yang sembelihnya nonmuslim ditambah prosesnya yang kayak gitu. Nah kalo di Indonesia sih wallahu ‘alam. Soalnya bukan orang Lampung jadi gak bisa kepoin langsung peternakannya.

Eh malah berantem lagi gara-gara wagyu.

Masalah halal itu sama sensitifnya kayak ngomongin pelakor. Belajar masak itu penting biar kagak dikibulin sama pedagang dan restoran nakal di luar sono. Toh halal itu sama aja dengan hak konsumen.

Ada masalah soal halal bisa lapor ke MUI sama YLKI. Ada broadcast gak jelas soal isu halal haram ya mending gak usah percaya. Selidiki dulu faktanya di tempat itu sama MUI biar lebih tenang. Kalo ada yang aneh-aneh bisa lapor juga ke YLKI, BPOM, sama polisi. Biar kita tenang dan gak ada orang lagi yang jadi korban.

Intinya jadi tukang jajan cerdas dikit lah. Jangan cuman tahunya isu sama tempat kongkow yang cocok buat selfie lah.

Jalan, Fenomena Mudik, dan Cars

Lagi enak-enak nonton konser Via Vallen eh malah gangguan. Ya sudahlah ane setel TV kabel. Ane bingung mo nonton apa. Soalnya di luar jadwal tayangan yang biasa ane tonton. Biasanya ane setel TV kabel buat nonton film Indonesia jadul, acara masak, film, sama anime. Harusnya sih tulisan ini udah kelar. Cuman ya terhenti gara-gara asyik nonton Cars 3.

Tulisan ini gak kepikiran pas lagi nonton Cars 3 di Fox Movies. Ide bikin tulisan ini kepikiran pas ane lagi ngobrol sama Teh Fitri, sodara ane, pas lagi ngumpul di rumah Ua Oso.

Ane pernah baca tulisan lawas. Ane lupa sumbernya koran, majalah, ato internet. Tulisannya berkata Indonesia bikin jalan tol duluan tapi ironisnya jalan tol di Malaysia jauh lebih banyak daripada di Indonesia. Masalahnya di Indonesia cuman satu kok: pembebasan lahan yang bikin pemerintah geleng-geleng.

Bersyukurlah buat generasi 90-an yang lahir di Jakarta, Bandung, “Bandung Coret” (orang Bandung pasti ngerti maksudnya apa), Cimahi, Purwakarta, Bogor, Semarang, Cirebon, dan Surabaya. Kita sudah kenal jalan tol jauh sebelum kita lahir. Semua kota itu adalah kota-kota yang menjadi jalur perlintasan tol-tol lawas. Salah satunya tol Padaleunyi.

Seperti singkatannya tol ini memang menghubungkan jalur dari ujung Cileunyi sampai ujung Padalarang. Sebenarnya sih gak Padalarang banget melainkan perbatasan Padalarang sama Cimareme. Toh setiap ke rumah Ua Oso di Cijerah pun sering lewat sana. Ane inget waktu TK dulu pernah nanya ke Babeh.

“Beh, kok lewat jalan tol? Kenapa gak lewat patung ikan?” rengek ane di dalam mobil.

Dulu waktu ane kecil, ane inget sering nangis gara-gara gak lewat Patung Ikan. Nama salah satu patung di Bandung yang sampai sekarang ane gak tahu sejarahnya. Ane baca artikel di situs Serba Bandung tadi. Patung itu sudah ada sejak tahun 1993. Jadi udah ada sebelum ane lahir (baca: ane kelahiran ’94 kok). Patung itu diresmikan oleh walikota Bandung saat itu, Ateng Wahyudi. Berdasarkan cerita orang-orang, patung itu menandakan bahwa di masa lalu daerah sekitar Tegalega memang banyak ditemukan ikan mas.

Sayangnya patung itu sekarang udah gak “mancur” lagi kayak dulu. Ane ingat waktu kecil dulu. Cuman liat air mancur dari mulut si ikan dari balik jendela mobil pun udah bikin ane jingkrak-jingkrak kegirangan. Ane sering minta dikuncir setinggi pancuran air dari si mulut tiga ikan sekawan itu.

patung-ikan-moh-ramdhan
sumber: Serba Bandung

lokasinya di persimpangan jalan Moh. Ramdhan, deket Tegalega

Jalan tol memang cepat. Bisa menghubungkan dari rumah di Margahayu Rawa sampai ke Cijerah. Tidak perlu mengeluh dengan kemacetan by pass, lamanya stopan di jalur lingkar selatan (baca: dari jalan Peta, lewat simpang Jamika, sampe ujung persimpangan tol Pasir Koja), dan tentunya “bau tai kuda” Pola Cijerah. Hal yang selalu Babeh keluhkan tiap kali mau ke rumah Ua Oso.

Ane punya kebiasaan aneh sejak kecil. Gak cuman lebih senang foto objek daripada difoto. Ane sering duduk di jok paling belakang mobil. Alasan bodohnya sih biar enak tidur. Ane juga sering mengamati apapun objek di depan mata dari balik jendela mobil. Mulai dari Patung Ikan, reklame di pinggir jalan, baterai ABC besar di pinggir jalan provinsi Jawa Tengah, patung polisi bercat pudar, sampai pemandangan alam hijau menghampar di sepanjang jalanan. Justru ane lebih mengingat jalan dari suatu tempat hanya dengan memperhatikan pemandangan di sekitarnya daripada menghafal urutan nama jalan.

Sewaktu ane kecil, ane selalu bertanya-tanya.

Kenapa si Babeh tiap kali mudik pake mobil gak pernah lewat Pantura?

Kenapa berita mudik di televisi sering sorotnya Pantura mulu?

Ane baru sadar alasannya sewaktu ane masuk sekolah. Rumah si mbah ada di Solo. Jalur terdekat dari Bandung ya lewat jalur selatan. Mengikuti tanjakan Nagreg, berkelok-kelok melintasi Malangbong, melihat gentong-gentong besar di kawasan Gentong (sampe sekarang ane gak ngerti kok namanya Gentong, apa gara-gara banyak produksi gentong di sana?), naik turun bak rollercoaster di kawasan Ciamis, dan sampailah di hamparan patung tunas Pramuka berjajar di sekitar Purworejo. Sebelum akhirnya memacu di “lintasan balap” Yogyakarta dan berakhir di Solo. Hal yang biasa ane lalui kalo sekeluarga gak naik kereta Lodaya.

Hal yang ane sukai dari jalur selatan adalah pepohonan. Hijau, teduh, dan berasa pulang ke rumah. Pantesan orang Sunda mudah mager liat pemandangan alam di sekitarnya. Melihat pepohonan menjadi hiburan setelah bosan melihat hutan beton seharian. Kadang pohon berganti rumah, deretan kuburan berselang pohon kamboja, hamparan sawah seakan tak berujung, perbukitan lembut, dan melihat mobil lain di seberang dari ujung jurang.

Kemudian proyek lama itu pun berjalan. Proyek tol Trans Jawa sebenarnya ada sejak era Orde Baru. Baru terealisasikan di era sekarang karena masalah tanah. Orang-orang berbondong-bondong melalui jalanan lurus lengang yang seakan tak berujung. Dari ujung Merak sampai ujung Madura. Tidak kalah lebar dari jalan raya Pos-nya Daendels. Biar jalanannya setengah jadi pun tak masalah. Pikiran ane yang semula senang karena akan melalui jalur selatan lagi pun buyar.

Tiga tahun belakangan ini selalu lewat Pantura. Meskipun mulanya di setiap pulang ke Bandung mampir ke Kutoarjo, ujung-ujungnya Pantura dan tol lagi. Jalan tol memang bagus tapi gersang. Ane lebih senang memandangi pemandangan tol Padaleunyi, tol Palimanan-Kanci, dan tol Semarang yang hijau. Sejauh mata memandang bersekat pepohonan rimbun.

Ketika ane ngobrol di rumah Ua sama Teh Fitri, ane langsung kepikiran dengan Radiator Springs. Nama sebuah kota kecil dalam film Cars yang terlupakan seiring dengan pembangunan jalan tol. Saat itu acara silaturahim keluarga berubah menjadi perbincangan politik bagi bapak-bapak dan mobil bagi perempuan. Pertamanya ngomongin Tomica malah ujung-ujungnya jadi ngomongin jalan raya.

tomica-avanza-veloz-silver
sumber: eBay

kocak juga taruh ini di dalem Avanza

Waktu itu Teh Fitri bilang kalo Indonesia itu belakangan ini lebih mengutamakan pembangunan jalan tol daripada jalan raya biasa. Pas zaman pak Harto dulu, pembangunan jalan tol dan jalan raya itu sama seimbangnya. Ane tahu itu dari salah satu supir angkot Margahayu. Di Bandung sendiri, jalur by pass dengan tol Padaleunyi itu waktu pembangunannya pun berdekatan. By pass rampung di era 80-an sementara tol Padaleunyi rampung tahun 93.

Padahal bangun jalan nasional, provinsi, dan jalan desa itu jauh lebih penting bagi perekonomian setempat. Bayangkan saja setiap hari harus angkut telur dari peternakan di desa sambil melalui jalan jelek. Pasti telurnya tidak akan utuh 100% ketika sampai di pasar. Ane selalu kagum tiap balik ke tempat si mbah. Jalan desa masih bagus meskipun ada pembangunan jalan tol dekat desa. Begitupun dengan Yogyakarta. Jalan desa ato jalan kota pun sama mulusnya.

Jalan tol hanya menguntungkan orang kaya, itu kata Teh Fitri. Tarifnya pun tidak sedikit untuk bepergian dari Bandung sampe ke Solo. Ane ingat si Babeh kudu sediain uang e-Toll 600k buat ke Solo bolak-balik. Untungnya si Babeh gak lewat Padaleunyi terus bablas sampe Solo. Babeh masuk lewat Kertajati yang langsung tembus Cipali. Alasannya muter balik di samping tarif yang kudu dibayar pun tambah mahal. Itu belum termasuk uang bensin sama istirahat di rest area. Sementara dulu duit 600k itu sudah cukup buat istirahat di restoran sama beli oleh-oleh.

Jika semua orang terus lewat jalan tol, mereka mungkin akan lupa akan indahnya pemandangan alam sekitar di sepanjang perjalanan. Itu yang Sally katakan pada Lightning McQueen dalam film Cars. Setiap jalur punya keindahan tersendiri. Jalur Pantura memiliki hamparan pohon bakau berselang rawa tepi pantai di Tegal. Jalur selatan memiliki Garut Selatan dan Cilacap yang memiliki jalur ekstrim dengan pemandangannya menawan. Pantai di sana masih perawan. Cocok untuk selfie atau sekedar membidik kamera mengabadikan pemandangan.

Imbas pembangunan jalan tol paling terasa di mata para penjual oleh-oleh tepi jalan. Mereka adalah penduduk sekitar yang menjajakan produk khas daerahnya. Mata pencaharian mereka berada di jalanan. Menanti pengunjung yang sekedar singgah mencari buah tangan. Berkurangnya kendaraan yang lalu lalang perlahan melumpuhkan bisnis mereka. Lambat laun kawasan itu mungkin bisa sesenyap Radiator Springs tanpa ada penanganan yang tepat. Mungkin di masa depan kita lupa di Rajapolah ada sentra kerajinan tangan, Jatiwangi dengan genteng dan keramik, Cipacing dengan senapan angin, lanting bumbu beraneka rasa dari Kebumen, getuk goreng dan soto sokaraja dari Banyumas, semangkuk kecil sauto Tegal, enaknya sirup Tjampolay asli Cirebon, Jeniper khas Kuningan, kerajinan perak asli Kotagede, dan masih banyak cinderamata khas daerah lainnya.

Mudik adalah perjalanan kembali ke kampung halaman. Pemandangan sepanjang jalan adalah pengalaman yang berharga. Jangan sampai kenangan itu hilang oleh waktu akibat ego semata.

Bagaimana Cara untuk Menulis yang Jleb? Ane Sendiri pun Bingung

Apa judulnya itu click bait? Gak kok. Itu pengalaman pribadi.

Bicara soal tulisan tentang data detox, ane masih melakukannya. Ini adalah kali keempat ane bersihkan akun Facebook ane. Di sela-sela ane bersihin “aib” zaman 4l4y chuunibyou jahiliyah, ane dapet pesan dari Ricky. Dia salah satu temen satu guild ane yang nyaris gak ada kabar entah itu di grup anak-anak guild ato secara personal. Ane cuman ngobrol bentar lalu habis itu log out lagi. Akun Facebook itu adalah akun dengan paling banyak “aib” dibandingkan dengan jurnal ini.

Untungnya dulu gak sering nulis gara-gara koneksi internet terbatas. Ane ingat waktu pertama kali bikin jurnal ini sepuluh tahun yang lalu. Ane kudu ngantri menunggu jatah penggunaan internet gratis di Perpustakaan Daerah, satu-satunya tempat di masa itu dengan koneksi internet jauh lebih baik. Kadang ane kebagian kadang pula malah berakhir di ruang baca majalah untuk baca majalah tentang komputer.

Sementara kasus akun Facebook ya koneksi internet di Indonesia jauh lebih baik. Apalagi dengan trik niatnya Atfan dan Ali, temen ane di ekskul jurusan, ngakalin koneksi internet di SMK pake Cheat Engine (sekilas itu lelucon tapi bener-bener ngaruh). Banyak aib di sana mulai dari curhat gak jelas sampe sensasi ketahuan sama guru *tengsin ah, mending ngacir!*.

Ane baca satu persatu status ato komentar di akun ane. Ada status yang amit-amit jabang bayi, konyol, tapi ada status yang bener-bener bikin ane “kok bisa nulis kek gini sih?”. Salah satunya ane jadiin screenshot buat kenang-kenangan.

status-aneh-bin-ajaib
sumber: arsip pribadi

Ane inget status itu dibuat pas masih kuliah. Waktu itu dosen yang ane maksud di status ini (baca: Pak ST, dosen tsundere penyuka kucing) lagi marah-marah di kelas. Ane ingat beliau marah gara-gara satu kelas gak baca materi sebelum kuliah dimulai. Perkataan beliau ane abadikan jadi status. Pas ane baca status ini bertahun-tahun kemudian, ane mulai sadar soal perkataan ato tulisan ane yang kadang jleb di saat yang tidak tepat.

Ane jadi inget waktu PKL SMK dulu. Hanif, partner-in-crime ane di kantor, tampak kesel nungguin update game yang gak kelar-kelar di sela-sela ngerjain tugas kantor. Pas dia ngajak ngobrol, ane jawab gini.

“Buat apa game ada patch-nya jika sejak awal pun sudah sempurna?”

Mungkin jika kondisinya ane dan Hanif ketemu lagi di tempat PKL sewaktu kuliah perkataan ane bisa berbeda.

“Buat apa ada fase maintenance dalam perancangan sistem jika sejak awal program pun sudah deliverable?”

Ane sadar ketika melihat status lawas itu. Kata-kata bukanlah untaian huruf-huruf yang menjadi hiasan di atas kertas. Layaknya kaligrafi indah untuk kita pajang di dinding. Kata-kata adalah wujud ungkapan perasaan kita dalam bentuk aksara. Penulis sekelas Ernest Hemingway pun bisa memikat jutaan pembacanya dengan tulisan sederhana. Kesederhanaan itu kadang bisa mengantar kita menulis sesuatu yang jleb di samping pemahaman kita akan suatu konteks.

Ane gak bisa cerita panjang lebar lebih dari ini. Ane tahu. Ane tidak bisa menemukan cara untuk mengatakan pada orang-orang, “Gini lho cara bikin tulisan yang jleb.” Karena ane sendiri pun tak tahu bagaimana cara untuk menulisnya. Semudah itu.

 

 

Kapan Punya Guru Kayak Feynman?

Buat orang yang gak mudeng sama Fisika apalagi anak Fisika pun gak bakal kenal sama beliau. Ane juga baru tahu belakangan ini. Richard Feynman adalah seorang peraih Nobel di bidang Fisika atas penemuannya dalam fisika kuantum. Tapi jauh di luar bidangnya, beliau dikenal sebagai guru yang hebat. Tak heran orang Barat pun menjulukinya sebagai “The Great Explainer”. Bahkan cara beliau untuk belajar dan mengajarkan orang lain pun sampai sekarang masih digunakan … di belahan bumi sana.

Ane baru sadar ternyata ane itu oon. Gak semua bidang sih ane oon. Buktinya kemampuan memasak ane pun akhirnya bisa bikin orang-orang serumah bahkan Emak ane yang perfeksionis pun mau melirik buat icip lalu komentar soal masakan ane. Makanya tulisan di jurnal ini pun ada yang mendalam dan ada pula yang sebatas ujung kuku. Soalnya ane menguasai bidang tertentu namun kesulitan di bidang lain.

Emang sih ada yang bilang biar otak kita sama tapi kapasitas kemampuan bisa beda-beda. Ada yang jago matematika tapi kesulitan menulis surat cinta untuk si doi bahkan buat gombalin anak orang pun gak bisa. Ada yang jago dalam bidang bisnis tapi lemah di bidang seni. Boleh kita belajar semua hal tapi kudu tahu diri. Itu yang ane pelajari saat itu.

Belakangan ini ane merasa rada oon. Bukan karena masalah keuangan aja yang bikin ane mikir.

Ane pengen punya bisnis lancar tanpa ikut campur orang tua.

Pengen gitu sekali-kali pegang duit utuh 1 juta tanpa bentuk piutang di orang.

Pengen gitu jalan-jalan ke luar negeri buat belajar hal baru (dan tentunya pengen ngobrol sama sakuzyo di Comiket, ane pengen tahu motivasi yang mendorong dia jadi komposer sukses di usia muda).

Orang-orang di rumah selalu berpikir soal kerja, kerja, dan kerja. Padahal ane senang buat dagang karena bisa ketemu orang baru dan lebih memikirkan masa depan ane sebagai perempuan (baca: ujung-ujungnya balik ke dapur jadi istri sama ibu). Firasat ane pas SMK dulu benar. Lowongan kerja yang banyak justru lebih banyak di bidang desain.

Ane tahu itu ane emang oon di bidang tertentu. Ane sering marah-marah pas ngajarin orang di bidang tertentu. Ane juga belakangan ini merasakan kesulitan untuk belajar. Belajar otodidak memang gak gampang. Kerasa banget hal itu pas belajar bahasa Mandarin sama belajar untuk nulis.

Ane saat itu sadar. Ada yang salah dari diri ane. Ada yang salah juga dari sistem pendidikan di sekolah selama ini. Kurikulumnya sudah bagus tapi porsi dan eksekusinya tidak ramah murid. Wajarlah orang seangkatan kakak ane, orang tua, kakek-nenek, dan di atasnya jauh lebih cerdas dibandingkan dengan generasi milenial macam ane. Selain itu juga emang pada dasarnya kurang belajar.

Ane belajar tentang diri ane di saat terpuruk oleh depresi. Ane itu introvert. Pendiam. Kadang dianggap aneh karena cara belajar yang tidak biasa. Ditambah lagi ane punya penyakit aneh yang selalu muncul tiap kali belajar terlalu keras. Penyakit itu muncul dari SMP dan gejalanya kadang ngilang kadang nyiksa.

Ane ingin belajar tapi fisik ane terbatas. Okelah ane ubah strategi belajar. Ane tahu ane itu introvert. Cara berpikirnya secara fisiologis pun berbeda. Cara paling efisien bagi ane itu cuman satu.

Study smart not study hard.

Cara itu adalah teknik belajar paling ramah introvert. Karakteristik orang introvert sewaktu belajar itu sering melihat sesuatu dalam gambaran besar yang melibatkan pula banyak bagian otak. Jadi mereka bisa paham suatu hal secara menyeluruh dari beragam sudut pandang. Itu yang menyebabkan orang introvert berasa orang lemot dalam belajar. Hal itu memang memerlukan proses, konsistensi, dan kesabaran.

Di saat ane cari tahu cara belajar cerdas, ane menemukan informasi tentang Feynman. Seorang guru hebat yang bisa menyederhanakan materi fisika kuantum kompleks di depan orang awam. Prinsip beliau untuk belajar dan mengajarkan orang pun sederhana. Kita pelajari satu hal yang menarik bagi kita, pura-pura jadi guru di kelas terus ngajarin banyak orang, balik lagi ke buku kalo mandeg, lalu ajarkan pada orang lain dalam kalimat sederhana. Jangan lupa kita catat proses pembelajarannya. Terserah mau di buku ato aplikasi juga.

Satu hal yang bikin ane mikir lagi adalah kalimat sederhana. Einstein aja bilang kalo gak bisa bicarain satu hal yang kita kuasai pake kalimat sederhana ya berarti emang gak paham. Ane ngerasa hal itu banyak ditemuin di sekolah. Dari zaman SD sampe ngampus. Saking bingungnya malah ane langsung loncat ke buku level paling abstrak (baca: buku sumbernya langsung) biar ngerti. Kadang semua itu gak ada jawaban dan bikin ane tambah bingung. Ada buku yang bagus untuk jadi referensi karena penyampaiannya. Misalnya seri Head First untuk pemrograman dan Campbell buat Biologi.

Kadang kita sebagai seorang murid merasa guru itu kayak bicara sama tembok. Kadang juga kayak ngasih wortel, seledri gede, bawang bombai, sama pisau terus ngasih tahu “ini buat mirepoix” tanpa ngasih tahu cara potongnya, ukurannya segede apa, dan ngapain kudu repot-repot kayak gini. Sejatinya guru yang baik itu adalah guru yang pandai. Pandai untuk mencerdaskan diri sendiri apalagi orang lain. Pandai untuk menyederhanakan hal besar menjadi ekstrak yang lebih mudah untuk kita cerna.

Ah, kapan gitu di sini ada guru kayak gitu? Daripada ngayal mending kita praktik aja. Minimal untuk belajar bagi diri kita sendiri. Maksimal agar jadi guru yang lebih baik.

Soal UN Level Insane

Kamfret akun Rizon ane udah dihapus sama sistem. Gara-gara udah lama gak unduh anime di fansub jadi aja kehapus. Semenjak ane langganan lagi TV kabel, ane jarang unduh di fansub. Buat yang doyan unduh via XDCC dari fansub yang mangkal di channel Rizon (HorribleSubs, Commie, FFF, dan fansub lokal), jangan lupa tetep gunakan akun itu. Kalo gak aktif selama tiga bulan berturut-turut ya wassalam. Sayang tuh akun udah ane pake selama 5 tahun T.T

Kesel ya ane turun buat nonton. Wih tumben si Emak nonton TVRI. Jujur aja di antara semua stasiun televisi, berita TVRI paling waras. Pantesan aja sering dapet penghargaan KPI dan masyarakat mulu. Proporsi berita seimbang ditambah sinematografi yang niat dari TVRI daerah berasa nonton berita itu kayak cuci mata. Sayangnya kamera Pak Oka Sayuti harus segera dipensiunkan agar tidak kalah dari TVRI daerah tetangga. Apa jangan-jangan kameramen TVRI Jabar itu sudah pensiun terus kameranya belum diganti ya?

NB:

Kok kayak asbun ya? Itu nama bapak temen ane yang paling banyak meliput berita di TVRI Jabar. Makanya ane hafal juga. Gak cuman karena kumisnya yang beda tipis dari bapaknya Flint Lockwood juga sih.

Pas nonton TVRI, ane lihat running text yang isinya wacana soal UN yang menambah soal dengan daya nalar tinggi. Tunggu sebentar.

Woot?

Daya nalar tinggi?

Gile lu, Ndro! *dengan gaya Kasino yang kaget di film-film Warkop*

Ane bersyukur sudah ngalamin UN terakhir 6 tahun yang lalu. Soal SBMPTN aja yang dibuat dosen bikin ane geleng-geleng tujuh keliling apalagi soal UN daya nalar tinggi.

Oke, ane bakalan curhat panjang lebar dikali tinggi tentang UN. Perasaan panjang lebar kali tinggi mulu. Emangnya ngerjain soal volume prisma apa? Daripada obrolannya melebar ngelantur gak karuan, mending diperdalam aja biar ngerti maksud cerita geje ane itu apa.

Ujian Nasional. Selalu ada kata bocoran iya. Jadi inget insiden pas UN SMP di jalan Kalimantan yang terciduk oleh Reportase Trans TV.

Jual beli soal? Gosipnya begitu. Percuma aja ada pokis yang jagain soal toh soalnya udah bocor duluan.

Jadi bungkus gorengan? Kadang-kadang. Sekolah yang baik selalu menyimpan soal UN untuk latihan buat anak kelas IX SMP dan XII SMA.

Tingkat kesulitan? Lebih membingungkan daripada game. Game aja jelas kok tingkat kesulitannya easy, medium, hard, sama insane. Tapi bukan level ala Touhou juga sih.

Kalo wacana tersebut jadi untuk UN tahun depan, kacau dah. Kasihan sama anak sekolah zaman sekarang. Pantesan aja jadi kayak generasi Awkarin cs. yang doyan dugem dan lupa belajar. Toh pulang sekolah aja sore banget kayak pulang kantor. Dulu pas zaman ane SMK itu ada tiga alasan pulang sore.

Pertama emang ane sekolah siang. Dulu sekolah ane emang lagi renovasi total makanya kelasnya gantian sama jurusan lain.

Kedua ada pemantapan. Iyalah pasti pulang sore ini.

Ketiga ada persiapan buat acara ekskul sampe malem. Ane pernah nyampe di rumah jam 10 malem buat latihan drama sama persiapan lomba di sekolah.

Ya mana bisa ada waktu istirahat sama belajar kalo pulang aja berasa anak kantor. Ane pernah baca dari salah satu komentar video YouTube mas Hansol tentang kehidupan muslim di Korea, TKI yang kerja di pabrik Korea itu masih bisa sholat dengan leluasa soalnya tiap ada kebijakan dari beberapa pabrik di sana yang menyatakan setiap dua jam sekali pasti ada istirahat 15 menit. Padahal itu jam kerja reguler kayak perusahaan pada umumnya. Lah ini sekolah berasa orang kantoran tapi rodi nyaris tanpa istirahat. Pantes aja banyak generasi micin. Jangankan buat belajar. Buat rebahan bentar di atas kasur benar-benar istirahat pun susah.

Padahal berdasarkan temuan dari ilmu neurosains, otak itu baru bekerja maksimal kalo di setiap aktivitas kita yang menggunakan otak itu diberi jeda waktu istirahat singkat untuk mengistirahatkan otak dan memulihkan kembali kondisi mental kita. Contohnya setiap belajar dua jam, beri waktu istirahat bagi diri kita 15 menit. Istirahatnya ya bener-bener istirahat bukan pantengin akun gosip Instagram. Terserah mau sholat, jalan-jalan, makan, olahraga ringan, ato mager bentar di atas sofa juga.

Ane bisa prediksi banyak murid yang bakal gagal jawab soal UN dengan tingkat nalar tinggi. Kecuali pelajar dari sekolah Kristen yang mayoritas peranakan Tionghoa, pelajar yang pernah icip MOSI/OSN/olimpiade sains internasional, pelajar dari sekolah internasional, dan pelajar dari desa yang belum terkontaminasi budaya racun ala Awkarin. Kalo gak percaya ya liat aja proporsi mahasiswa yang diterima di PTN ternama. Kebanyakan peranakan Tionghoa sama orang asli daerah yang lolos daripada penduduk kota besar. Soal SBMPTN itu emang membutuhkan nalar tinggi (dan sedikit akal bulus) kok.

Kita pengen pelajar bisa mengerjakan soal nalar sulit. Entah itu dalam bentuk soal UN ato SBMPTN. Kita pengen naikin peringkat kita dalam penilaian internasional (ane lupa namanya yang jadi tolak ukur pemerintah buat bikin kurikulum). Kita pengen pemerataan pendidikan dari Sabang sampai Merauke. Caranya cuma dua. Berikan murid untuk istirahat dan reformasi guru.

Ane jadi inget sindiran yang diucapkan Pak Djarir dalam film Si Badung.

Guru itu adalah seorang pendidik.

Gimana mo ngerjain soal susah kalo masih ada guru yang nakal? Para murid menanti mereka dengan antusiasi di dalam kelas, mereka ngacir belanja pas jam mengajar. Ane suka miris liatin guru yang ane kenal ngajar di kelas lain lagi mabal dari jendela angkot. Bahkan ada seorang guru yang tertangkap basah berselingkuh dengan salah satu wakil kepala sekolah oleh teman ane sewaktu SMK.

Guru selalu berdalih ini dan itu. Mereka dulu pernah menjadi seorang murid juga. Kenapa mereka tidak mewujudkan cita-cita semua murid dengan menjadi guru yang baik?

Murid tidak minta ini itu. Hanya butuh guru yang memahami mereka dan mendidik mereka dengan tulus.

Guru yang benar-benar tulus hanyalah guru asli di daerah terpencil, guru sukarelawan dari mahasiswa, guru TK, guru ngaji keliling, dan guru honorer. Mereka yang tidak lupa jati diri mereka di tengah keterbatasan. Kurikulum boleh berganti tapi tidak dengan pengajaran. Pengajaran tulus dari hati lebih berkesan di hati murid dan membuat si murid lebih termotivasi untuk belajar. Ketulusan membuahkan inovasi yang bisa murid-murid rasakan dan perlahan mengubah masyarakat. Ruangan kelas sederhana dan alat bantu seadanya bukanlah penghalang. Banyak murid yang sukses berawal dari sekolah darurat.

Sebenarnya banyak sekali guru di Indonesia yang cerdas. Tidak semua guru bisa menerjemahkan pengetahuan mereka pada murid-murid. Para guru ingin dekat dengan murid. Cara mereka untuk mendekatkan diri pun salah. Mereka menolak pertanyaan bahkan menertawakan murid yang bertanya apapun termasuk pertanyaan bodoh. Mereka bicara hanya untuk dirinya sendiri di kelas tanpa peduli anak didik yang seperti seekor anak ayam tersesat dari induknya. Mereka membiarkan si kura-kura belajar layaknya seekor kelinci. Mereka memberi si pendek kursi yang kakinya pun tidak sampai untuk menyentuh tanah. Mereka tidak ada di saat muridnya meminta tolong sewaktu diganggu oleh teman sebayanya. Hanya ada amarah. Pukulan keras. Sifat tak acuh yang mengerdilkan si murid.

“Ah, persetan dengan sekolah!” ia bergumul kesal meninggalkan bangku kelasnya.

Pendidikan adalah hal yang gampang-gampang susah. Percuma saja cerdas tanpa hati. Satu-satunya cara agar murid bisa memecahkan soal bernalar tinggi hanyalah pendekatan guru dari hati yang dituangkan dalam bentuk pengajaran di kelas. Pendekatan dari hati untuk menjelaskan konsep dasar bagi si kura-kura agar bisa sejajar dengan kelinci. Menyederhanakan materi rumit agar si kelinci tetap bersenang-senang dan si kura-kura tetap bisa mengikuti kelas tanpa tekanan.