Kenangan Itu Masih Berada di Sini

Ane inget tulisan pendek yang ane buat sebagai tulisan curcol nyerocos gak jelas buat latihan menulis yang mulai menggunung dalam folder pribadi. Emak ane sampe nanya.

“Nulis aja mulu. Kenapa gak dimasukin ke penerbit?”

Alasannya ane malu. Ane itu pemalu berat dalam masalah mempublikasikan karya. Ane bukannya takut akan kritikan. Ane cuman malu pas cerita ane dibacain orang.

Ini cerpen ketiga yang ane publikasikan di jurnal ane. Ceritanya udah kelar dari lama tapi baru diunggah sekarang. Sebenarnya sih ini side story dari karakter novel yang ane masih buat. Cuman berhubung ane gak mau nyertain romance sebagai genre utama apalagi subgenre, jadilah ane bikin terpisah. Sedikit penjelas buat memahami cerita. Sebenarnya latar tempatnya itu “era middle earth tapi di masa depan”.

Jadi … mohon bimbingannya.


“Apa boleh aku meminta sebuah permintaan?”

“Katakan saja. Aku akan melakukannya.”

“Berjanjilah padaku jika kau akan terus berada di sisiku. Ingat. Janji jari kelingking.”

******

Rasanya sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya. Bagaimana kabarnya dan entah apa yang ia lakukan di kehidupan berikutnya. Apa tempatnya di sini? Sudah lama sekali aku tak berkunjung ke desa. Entah apa yang terjadi selama ribuan tahun ini. Aku nyaris tak mengenali keadaan tempat tinggalku dulu. Wilayah desa bukanlah desa lagi. Daerah yang dahulu menjadi ladang penduduk kini bersatu dengan bagian desa. Aku masih melihat sebuah kastil tua yang masih tegak berdiri di pusat dengan kawasan pemukiman centaur di sebelah barat. Mereka terlihat sesekali lalu lalang di desa. Kini desa menjadi desa wisata yang penuh sesak oleh para turis. Ornamen-ornamen modern pun seakan mewarnai desa kecil ini tanpa merusak keindahan desa. Tak ada lagi perang saudara. Semua hidup damai. Baik itu manusia, centaur, para elf, turis-turis yang datang, dan tunggu. Sejak kapan aku melihat satyr di sekitar sini? Setahuku para satyr mengungsi akibat perang saudara dan serangan monster.

“Tuan ingin mengikuti tur di tempat ini?” tanya seorang satyr bertubuh kecil menyodorkan selembar peta padaku dengan senyuman selebar danau di selatan desa.

“Tidak. Satyr muda, bisakah kau tunjukkan padaku di mana letak Kuil Astoria?”

“Kuil Astoria! Aha! Tiga keping perunggu!”

Gajiku dalam sehari bisa habis dalam beberapa jam di tempat ini. Satyr kecil ini benar-benar pandai menguras dompetku. Kuil Astoria masih seperti dulu. Berada di atas bukit dan cukup jauh dari kastil. Kuil ini berada di perbatasan desa sebelah utara. Tak jauh dari markas Petugas Pelindung Desa. Tempat ini menjadi tempat populer kedua setelah monumen perdamaian centaur di tepi barat. Mataku tertuju pada sebuah gua kecil yang tersembunyi di dalam hutan. Kudengar makhluk mistis hidup di dalamnya. Menurut desas-desus di zamanku itu adalah sarang serpent. Ia sering menjelma sebagai sosok wanita cantik untuk menarik mangsanya. Bicara soal makhluk mistis, merepotkan juga hidup seperti ini. Untung saja mereka tidak menyadari aku ini siapa.

Kuil Astoria, benteng pertahanan terakhir di desa. Satyr kecil itu kemudian membawaku beserta turis lain mengunjungi sebuah bangunan kecil di tepi kuil.

“Tempat ini adalah makam seorang pendeta legendaris yang sempat hidup di desa ini. Ia adalah sosok yang berhasil menghentikan perang di desa.”

Ketika satyr itu menjelaskan tentang makam pada turis, aku menepi. Berjalan menuju ke luar rombongan. Seketika aku mendengar bunyi lonceng lembut seperti tertiup angin. Tak ada seorang pun yang membawa lonceng di antara para turis. Sejak kapan ada banyak toko suvenir di sini? Tak ada toko bunga di sini.

Ketika rombongan telah pergi, kutaruh seikat bunga dandelion di atas pusara. Dandelion. Hanya itu yang kutemukan di hutan. Sebuah pusara kecil dengan marmer seputih susu berukiran “Cattleya N. Raymist”. Aku tidak dengar apapun perkataan satyr kecil si pemandu wisata. Aku samar mendengar jika jasadnya dibawa dari hutan lalu dimakamkan di sini. Sekilas aku memandangi pusara yang seakan tersenyum kembali padaku.

******

Hari pertama di mana aku bertemu pertama kali dengannya. Hari itu aku baru saja datang ke istana sebagai kurir istana. Ada sebuah kawasan tempat tinggal khusus para pegawai istana tinggal. Hari itu pun aku terdiam. Seorang gadis berambut coklat panjang tiba-tiba menghadangku dengan pisau dapurnya.

“Hei! Kau gila menyodorkan pisau dapur pada orang yang baru datang!”

“Siapa kau? Apa kau ini penyusup yang sengaja menyamar sebagai pegawai istana?”

“Aku? Memangnya orang sebodoh diriku ini seorang penyusup? Gadis aneh.”

Ia lalu tertawa terbahak-bahak persis seorang lelaki. Seorang wanita bertubuh gempal dengan celemek belepotan pun datang.

“Cattleya! Jangan kau menodongkan pisau pada orang tak dikenal! Kembali ke dapur!”

Itulah pertemuan pertama dengan gadis aneh itu. Ialah Cattleya kecil yang seperti lelaki di balik penampilannya yang manis. Cukup manis untuk ukuran anak pelayan dapur istana. Pipinya bersemu kemerahan dengan sedikit bintik menghiasi wajahnya. Senyumannya selebar gerbang istana. Rambut panjangnya sering ia tutupi dengan topi pelayan. Ia tidak semahir para pelayan lain. Tidak heran ia dipindahkan begitu saja ke dapur istana bersama sang ibunda. Ia sangat mahir memainkan pisau dapur. Tidak heran jika.

Tek! Tek! Tek!

Pisau-pisau itu nyaris mengenai pipiku.

“Hei! Ini kue yang akan dikirim pada utusan kerajaan Galen! Apa kau tidak ingin yang mulia marah?!”

“Kupikir kau datang untuk mengerjaiku lagi.”

Tahun demi tahun berlalu. Rasanya gadis koki itu semakin besar. Tampaknya ada sesuatu yang aneh dari diriku. Tiba-tiba saja aku meminta salah seorang kusir istana mengirimkan sepucuk surat padanya. Ia pun membalas.

Dasar bodoh! Merayu seorang gadis pun tak bisa. Lelaki macam apa kau ini?

Dan di balik surat itu ia menjawab.

Temui aku di tepi danau malam ini. Hanya kau sendiri. Awas jika kau meminta bantuan kusir lagi.

Temui aku di tepi danau? Apa jangan-jangan ia akan menjadikanku sasaran lempar pisau? Rupanya tidak. Wajahnya kali ini semerah tomat segar yang kuantar ke dapur istana.

“Apa kau yakin jika kau benar-benar menyukaiku?

Apa kau tahu aku ini tidak secantik dayang istana lain? Aku juga tidak semanis mereka. Apa yang menarik dariku hingga kau bisa menulis hal seperti itu?”

“Aku tidak tahu. Aku suka gadis yang apa adanya sepertimu. Itulah yang membuatmu begitu menarik. Aku suka sosok gadis yang sederhana dan jujur.”

Seketika lidahku lancar mengutarakan isi hatiku padanya. Meskipun harus dilempari sayur mayur atau pisau setiap jam makan siang. Meskipun aku harus menjinakkan dia agar tidak bertingkah seenaknya. Meskipun aku harus mengejarnya ketika ia berlari ke hutan seorang diri. Meskipun aku harus mempermalukan diriku dengan surat yang aku sendiri tidak yakin dikirimkan pada seorang gadis.

“Kaulah satu-satunya lelaki di istana yang jauh lebih memahamiku dibandingkan siapapun, Ritter. Aku tahu kau selalu mengamatiku dari celah dapur setiap selesai bekerja. Aku tahu jika kaulah yang menaruh karangan bunga itu di depan pintu kamarku. Aku tahu jika kaulah orang yang berusaha meyakinkan putra mahkota jika aku itu tidak bersalah. Aku tahu jika kau selalu mengawasiku di saat aku … aku tak yakin. Aku tak tahu kenapa semakin lama rasa ini semakin aneh dan tidak masuk akal. Aku tak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta pada kurir bodoh seperti dirimu.”

Aku begitu bodoh ketika aku menulis surat untuk melamarnya tanpa berpikir matang. Aku tak tahu harus bicara pada siapa. Kedua orang tuaku sudah membuangku. Kedua orang tua angkat elf yang mengasuhku selama ini tinggal jauh dari desa. Ketika musim dingin tiba, kusempatkan diriku mengunjungi mereka. Mereka tidak tahu jika aku sudah menikah di desa.

“Apa kau yakin dengan menikahi seorang manusia?” tanya ibu angkatku.

“Apakah salah jika aku menikahinya? Bukankah banyak darah campuran yang hidup di desa?”

“Bukan begitu, Ritter. Secara naluriah kau itu adalah musuh alami para manusia. Bagaimana bisa mereka menerima pernikahan ini? Apakah istrimu dan keluargamu tahu akan hal ini? Apa kau tidak berpikir apa jadinya jika mereka tahu siapa kau?” tanya ayah angkat.

Aku terdiam. Apakah keputusanku salah untuk menikahinya? Terlebih ketika aku tahu dua bulan kemudian ia sedang mengandung anakku. Semua perasaan itu bercampur aduk di kepalaku. Kedua orang tua angkatku telah memberi peringatan namun kuabaikan. Entah akhir-akhir ini aku merasa tak bisa mengendalikan diri di saat malam menjelang. Aku tak bisa meninggalkan istana sendiri, terlebih saat ia tengah mengandung. Bagaimana jika centaur atau mereka menyerang istana? Bagaimana jika suatu saat nanti aku … aku sendiri yang mengakhiri hidup keduanya? Aku takut. Aku tak ingin hidup seperti ini. Menderita setiap malam tiba. Setiap malam aku pergi meninggalkan desa untuk menenangkan diri.

Semua seakan seperti hujaman tombak di dada. Ketika mengetahui jika orang yang sangat kucintai suatu saat nanti akan membunuhku dengan kedua tangannya. Cattleya memang seorang dayang istana dan hidupnya berubah dalam semalam. Ketika kepala pendeta memutuskan untuk memilih seorang dayang istana menjadi seorang kepala pendeta berdasarkan pergerakan bintang, hal itu sangat mengejutkan. Bahkan para biarawati yang akan menjadi calon pendeta pun terperanjat. Termasuk aku. Aku tak menyangka takdir akan berubah secepat ini. Apakah ia masih tetap mencintaiku seperti saat ia masih menjadi seorang dayang istana?

Ia bahkan pergi meninggalkan istana dalam kondisi mengandung, suatu hal yang tabu untuk seorang pendeta. Beruntunglah Cattleya bertubuh kurus dan tertutupi oleh gaun pendeta yang longgar. Kami tidak bisa bertemu sesering dulu. Aku sibuk dengan tugas-tugas istana sementara dia sibuk akan rutinitasnya sebagai pendeta. Aku begitu khawatir dengan anakku. Apakah ia bisa bertahan hingga hari itu tiba?

Di sela-sela kesibukannya, Cattleya masih sering mengunjungi istana. Menemui kedua orang tuanya dan diriku. Suatu hari ibu mertuaku bertanya saat aku tidak bertugas.

“Ritter, apa kau yakin akan terus seperti ini? Bagaimana jika suatu saat nanti kuil tahu? Ibu khawatir dengan kalian berdua.”

“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku dan Cattleya semakin jarang bertemu. Ia bilang tidak apa-apa.”

“Ritter, bawakan ini,” ibu mertua memberikanku sebuah keranjang yang aku tak tahu apa isinya. “Berikan ini padanya. Ibu takut hal buruk terjadi padanya dan anakmu.”

Pertama kali kakiku menginjak wilayah kuil sebagai seorang kurir. Cattleya yang kukenal benar-benar berbeda. Ia begitu anggun dan kuat ketika berada di sana. Berbeda dengan dirinya yang usil dan seenaknya di istana. Dengan pisau dapur dan sayur mayur tersedia setiap saat. Ia hanya menyunggingkan senyuman tipis di hadapanku. Persis ketika aku bertemu dengan permaisuri ketika menghadap raja. Ia kemudian berbisik pelan.

“Temui aku di tepi danau malam ini.”

Malam. Aku sangat membenci malam. Ia kemudian berbicara denganku di bawah naungan pohon poplar di tepi danau. Dengan kepala bersandar pada bahuku.

“Ritter. Aku lelah. Aku lelah jika harus seperti ini. Aku rindu masa-masa di istana dulu.”

“Kau adalah seorang pendeta. Tidak baik lari dari kewajibanmu.”

“Aku lelah. Bisakah aku bersandar di bahumu sebentar saja. Aku rindu saat itu. Ingatkah kau di sini kau benar-benar melamarku? Apa kau tahu suasana hari itu begitu syahdu?”

Kuberanikan diri untuk jujur di hadapannya. Perasaan itu semakin bercampur aduk. Apakah ia akan tetap mencintaiku apa adanya?

“Cattleya,” ia menoleh. Dengan wajah yang sama seperti pertama kali bertemu.

“Menurutmu bagaimana. Jika aku adalah salah seorang di antara mereka, apa kau masih mencintaiku?”

“Dasar bodoh! Kau masih tidak berubah. Kau ini manusia terbodoh yang pernah kutemui, Ritter Nomia! Mustahil mereka bisa hidup di tengah-tengah manusia dengan menyembunyikan jati dirinya. Mana mungkin ada monster yang sengaja mengakui jati dirinya di hadapan seorang pendeta? Jika ada ia jauh lebih bodoh darimu.”

Pantulan rembulan begitu indah ketika menatap dari danau. Pantulannya terlihat seperti butiran-butiran kristal berpadu menjadi satu dengan bintang-bintang. Mewarnai pekatnya biru malam. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Aku bahkan tak menyadari jika ia tertidur di bahuku. Tertidur begitu pulas dengan wajah polosnya. Sesekali ia tersenyum dalam tidur. Andai saja aku bisa memilih. Aku lebih memilih hidup sebagai manusia dibandingkan seperti ini. Cattleya, maafkan aku. Aku memang bodoh.

Hari demi hari kulalui dengan keheningan. Menutup rapat semua rahasia dari orang-orang terdekat. Terlarut dalam rutinitas pekerjaan yang kulakukan setiap hari. Sebisa mungkin mengambil pekerjaan ke luar desa untuk melupakan semua ini. Semua ini terbalas tuntas sudah. Seorang bayi kecil pun lahir ke dunia. Lahir secara diam-diam dengan bantuan seorang dayang istana teman kami di hutan.

“Lucunya anak ini. Ia persis seperti bapaknya.”

Sesosok bayi dengan pipi tembam nan menggemaskan pun lahir. Senyumannya begitu riang. Seakan tak tahu apa yang akan terjadi di kehidupannya kelak. Sekilas ia mirip denganku karena berambut hitam. Menurutku ia begitu persis dengan ibunya. Sorot matanya dan cara ia menyunggingkan senyum seakan mengobati rasa rinduku padanya. Cattleya sengaja menitipkan anak ini padaku dan keluarganya.

Bocah lelaki kecil itu tumbuh besar. Dengan mata cerah dan kulit semulus sang ibu.

“Ayah! Ayah! Ayo kita main!”

“Tunggu sebentar ya, Nak. Ayah harus menjemput ibu dulu.”

“Benarkah? Ibu akan pulang? Apa ibu akan membawa hadiah?”

Aku sengaja berbohong di depan anakku. Aku tak ingin ia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya kelak. Aku takut jika ia akan sepertiku. Ia mewarisi bakat diriku dalam fisik manusianya. Aku takut jika ia tahu, apakah ia akan membenciku dan ibunya? Kurasa dengan membesarkan anakku sebaik mungkin hal itu mustahil terjadi.

“Ibu sudah kembali dari menemani paduka ratu?”

“Ibumu sudah kembali, Nak.”

Ia pun berlari menuju Cattleya yang datang dengan membawa bahan makanan di belakang. Tahun demi tahun berlalu namun tak ada yang berubah. Ia masih seperti seorang pelayan muda istana dengan ekspresi riang dan seenaknya. Anakku sangat merindukannya. Aku tak bisa mengatakan jika ia seorang pendeta. Aku hanya bercerita ia menjadi dayang istana yang melayani paduka ratu. Sejak paduka ratu jatuh sakit, beliau selalu pergi ke luar desa untuk berobat. Anakku percaya begitu saja jika ibunya pergi mengantar paduka ratu berobat.

“Ayah, semoga saja paduka ratu cepat sembuh. Aku rindu pada ibu. Kapan ibu akan kembali pulang?”

“Ayah juga tidak tahu.”

Ibu mertuaku datang membawa makanan untuk kami. Beliau lalu mengajakku berbicara di halaman belakang.

“Ritter. Ibu tahu ini keputusan yang sulit. Anakmu kini sudah besar. Kita tak bisa selamanya menutupi hal ini.”

“Aku tahu. Berkali-kali ia meminta ingin bertemu dengan ibunya. Aku tahu kediaman paduka ratu saat ini tak jauh dari kuil jadi aku masih bisa bertemu dengan Cattleya di sana.”

“Bagaimana jika kau mengajaknya ke sana? Tidak apa ‘kan jika kau membawa anakmu ke sana. Mereka takkan mengira dia itu anak seorang pendeta. Mereka mungkin akan mengira jika ia adalah asistenmu.”

“Benar juga yang ibu katakan.”

Keesokan harinya aku berjanji pada anakku untuk menemui ibunya. Ia amat senang. Saking senangnya ia tak bisa tidur.

“Ayah, aku tak sabar ingin bertemu dengan ibu. Ayah bilang jika aku membantu ayah bekerja aku bisa bertemu ibu.”

Aku hanya membalas dengan sebuah senyuman malam itu. Anakku seakan tak sabar. Kulihat matanya berbinar-binar dan tak bisa memejamkan mata. Kukecup keningnya malam itu lalu pergi diam-diam. Menenangkan diri di tepi danau, bermandikan cahaya rembulan nan penuh malam itu. Danau. Sebuah tempat penuh kenangan bagi kami. Saat aku melamarnya, menghabiskan waktu bersama, lalu tertidur bersama di bawah pohon. Danau itu memang terlihat begitu indah di malam hari. Permukaan airnya memantulkan cahaya langit bak kristal. Suasananya amat hening. Danau itu adalah perbatasan antara wilayah manusia dan centaur tinggal. Malam ini begitu syahdu hingga membuatku tak kuasa menahan tangis.

“Cattleya!” aku terduduk tak kuasa menahan bebanku malam itu. Kini aku terduduk sendiri, di tempat biasa kami menghabiskan waktu untuk bersama. Andai aku bisa memutar waktu. Aku ingin ia tetap di sisiku. Cattleya, andai saja kau tahu perasaanku saat ini. Aku sangat merindukanmu. Kini aku sendiri. Aku tak tahu pada siapa aku harus mencurahkan isi hati.

Meskipun aku bisa hidup ribuan tahun lamanya, lebih baik aku hidup sebagai manusia agar aku bisa tetap terus bersamamu hingga kami menua lalu terpisah untuk selamanya.

******

Aku masih ingat tempat-tempat di sini. Ini adalah monumen peringatan korban perang. Aku tahu tak hanya para centaur yang menjadi korban, terdapat pula manusia, satyr, dan goblin yang turut terkena imbas perang saudara itu. Desa ini tetaplah ramai. Aku masih melihat gerobak dan kereta kuda lalu lalang di desa ini. Maklum, ini adalah desa wisata. Tak boleh ada satu pun kendaraan modern yang memasuki desa ini kecuali sepeda. Mobil pun terparkir rapi di sebuah lapangan tak jauh dari markas Pasukan Pelindung Desa.

Aku berjalan menuju selatan desa. Itu adalah Danau Kristal, begitulah warga menyebutnya. Pantulan cahaya di permukaan danau terlihat laksana kristal. Tempat ini tertata. Banyak pondok-pondok kecil dari kayu dibangun di dekat danau. Ada kamar mandi umum, penjaja makanan, dan tempat itu masih ada. Aku bahkan bisa melihat diriku dengan Cattleya saling berkejaran di antara pepohonan di tepi danau. Aku hanya bisa melihat bayangan itu dan aku tak bisa menyentuhnya. Cattleya sudah tenang di alam sana. Saat kupandangi permukaan danau, aku hanya bisa menangis.

Sebagian besar waktuku bersamanya dihabiskan di sini. Seluruh tempat ini menyimpan kenangan tentang dirinya. Kulihat pohon itu. Apakah masih ada? Sudah tidak ada. Aku ingat di pohon itu aku dan Cattleya menuliskan nama kita pada pohon. Namun ada satu tempat di danau yang dipenuhi para turis dengan kameranya, tertulis “monumen cinta” pada sebuah papan tertancap kuat di tanah. Kulihat pula tulisan di bawahnya, barangsiapa yang menuliskan nama kekasihnya di sini cinta mereka akan abadi hingga maut memisahkan. Kulihat sepasang anak manusia berfoto di samping monumen itu. Aku tak sadar jika monumen itu terdapat sebuah relief bertuliskan

Aku akan terus menantimu di sini, Ritter

Kini pohon itu berubah menjadi sebuah monumen.

“Ayah.”

Kupikir aku mendengar anakku memanggil dari belakang, saat berbalik aku hanya melihat sesosok pria dewasa dengan senyum dan sorot mata persis dengan Cattleya. Apakah anakku masih hidup? Jika ia sudah meninggal, aku tak tahu di mana ia disemayamkan. Aku meninggalkan ia saat ia masih kecil. Bahkan aku belum sempat mengucap kata perpisahan. Aku tak tahu bagaimana wajahnya saat ia tumbuh besar.

******

“Ayah, ibu kapan datang?” tanyanya dengan wajah tak sabar saat berada di gerobak. Aku diminta mengantar tong-tong ini ke kuil. Kumanfaatkan saja kesempatan ini untuk mengajak anakku menemuinya.

“Ayah, di mana ibu? Ayah! Aku tak bisa melihat!” aku tersenyum melihat anakku yang sedang dikerjai oleh ibunya. Ia tak sadar ibunya berada di dekat gerobak lalu menutup kedua matanya.

“Ibu!”

“Kau sekarang berat juga!” ucap Cattleya sambil menggendongnya dengan pakaian pelayan. Biarkan saja mereka. Aku harus mengangkat tong-tong besar ini. Lagipula anakku sangat merindukan ibunya. Namun entah kenapa. Aku tak bisa meraihnya. Menyentuh wajahnya ketika ia tengah menangis. Memeluknya saat aku merindukannya. Bahkan saat aku berdiam di tempat biasa, tepi Danau Kristal kala malam menjelang.

“Ritter, apa sekarang kau tidak mencintaiku? Kenapa akhir-akhir ini kau selalu menjaga jarak dariku? Apa karena kini aku adalah seorang pendeta sehingga kau takut?”

Iya. Hanya itu. Aku tak bisa mendekatimu lagi. Aku sangat merindukanmu namun aku tak bisa. Sekujur tubuhku terasa sakit. Sebenarnya aku tak tahan. Duduk di sampingmu membuatku amat tersiksa. Kau seakan memancarkan aura pembasmi yang membuat tubuhku seakan terkena hujaman pisau-pisau yang biasa kau lempar semasa dulu.

“Ritter? Tubuhmu pucat. Apa kau sakit?”

Jangan, Cattleya. Jangan! Kumohon! Hentikan! Aku tak bisa berbuat apapun saat ia berhasil meraih tanganku, menahannya, lalu menyentuh dahiku dengan tangan lembutnya. Kumohon. Kau benar-benar menyiksaku. Kenapa? Kenapa? Apakah ini hukuman karena aku terlalu mencintainya?

“Astaga. Tubuhmu demam. Apa perlu kubawa kau ke tabib?”

“Ja-Jangan.”

“Kau masih ingin menyembunyikan soal pernikahan kita?”

Tidak hanya itu.

Aku tak ingin kau terluka.

Kau mungkin mengatakan aku ini bodoh sebelumnya. Tapi itulah kenyataannya. Aku berusaha memberitahumu namun kau anggap aku ini bercanda. Aku bukan seorang kurir istana biasa seperti yang kau kira selama ini. Aku adalah bagian dari mereka yang selalu kau buru setiap malam tiba. Aku tak ingin menyakitimu. Maafkan aku karena selama ini aku ….

“Ibu. Bisakah aku menginap malam ini?”

“Cattleya, bukankah kau ada rutinitas di luar?”

“Aku tak bisa membiarkan suamiku yang sedang sakit. Tidak apa-apa aku di sini melakukan kewajibanku sebagai seorang istri.”

“Cattleya, jangan. Bagaimana dengan keadaan desa saat kau tinggalkan?” lalu aku berusaha membujuknya agar pergi.

“Kau sakit. Kenapa kau lebih memikirkan diriku dibandingkan dengan dirimu, Ritter? Lagipula sudah lama sekali kita tidak bersama. Aku juga rindu dengan suasana rumah. Aku rindu pada ibu, kau, dan anak kita.”

Sorot matanya menyiratkan rasa kesepian dan kesedihan nan mendalam. Hidup laksana burung dalam sangkar emas. Itulah singkatnya kehidupan pendeta. Mereka dipuja dan disanjung laksana raja. Bahkan keluarga kerajaan pun sangat menghormati mereka. Singkatnya, mereka adalah sekelompok wanita suci dengan segala kemewahannya. Namun di dalamnya, mereka begitu kesepian. Seperti halnya Cattleya saat ini.

Rasa sakit ini. Hawa panas yang menusuk tulang. Rasa lapar yang semakin kuat. Berkali-kali aku nyaris tak dapat bernafas untuk menahannya.

“Ritter, kau tidak apa-apa?” seketika ia terjaga.

“Kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja.”

Kulihat ia dengan sabar menungguku di kamar lalu tak sadar jika ia tertidur tepat di perutku. Aku bisa mengelus rambut coklatnya. Rambutnya jauh lebih mulus dibandingkan saat ia masih kecil. Begitu lembut saat dibelai lalu terjatuh lemas. Pipinya masih semerah dulu. Tak apalah jika tubuhku kesakitan saat menyentuhmu. Mungkin sentuhan ini adalah sentuhan terakhir yang bisa kulakukan. Suatu saat nanti kita takkan pernah seperti ini lagi.

AAARRGGGH!

Kumohon. Jangan sekarang. Sontak itu membuat Cattleya terbangun.

“Ada apa?”

“A-A-Aku ingin ke kamar kecil.”

“Cepatlah kembali. Keadaan di luar berbahaya saat malam.”

Kamar kecil berada di luar rumah dan tak jauh dari sumur. Maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Kuberlari sambil menahan semua rasa sakit ini. Sebisa mungkin. Sejauh mungkin. Aku tak ingin ia melihatku seperti ini. Itu semua karena aku sangat menyayangimu. Aku tak ingin melukai siapapun.

Semua ini membuatku gila. Suara ledakan dari sebelah tenggara wilayah centaur. Suara raungan monster yang kelaparan lalu memuntahkan tembakan cahaya penghancur hutan. Kumpulan awan tebal tersibak, memancarkan kecantikan bulan purnama. Tubuhku terduduk. Rasa sakit ini. Aku tak mau lagi. Aku tak ingin hidupku terus … terasa lapar. Kesadaranku mulai hilang sedikit demi sedikit. Syukurlah aku berada jauh dari desa. Tenggorokanku amat gatal. Aku tak sadar berjalan ke arah desa dan aku tak ingat apapun lagi.

Cattleya, mungkin ini kali terakhirku bisa memandangimu dari dekat. Aku tak yakin, setelah malam ini kita takkan seperti dulu lagi. Aku rindu saat sebilah pisau nyaris mengenai pipiku. Aku rindu suaramu saat mengataiku “bodoh”. Aku rindu senyumanmu nan teduh itu. Aku rindu dengan sikapmu yang selalu ceria walaupun didera masalah. Setelah malam ini, aku takkan bisa menyentuh atau mendengar suaramu.

“Hentikan!”

Cattleya! Pergilah! Aku tak ingin kau melihatku seperti ini! Saat mendengarnya, air mataku tak sadar membasahi pipi. Ia mengenakan pakaian rumah bersama seorang pendeta di dekatnya.

“Nona Cattleya, minggirlah. Nona tak bisa melawannya saat ini. Ia terlalu kuat untuk dihadapi.”

“Jangan, Gray! Aku merasakan ia tidak berbahaya. Kemampuannya memang jauh lebih kuat tapi ia takkan mengancam desa.”

“Nona, ia itu monster. Jika nona seperti ini, cepat atau lambat ia akan mendekati desa!”

Lakukan saja. Aku tak sanggup jika harus terus hidup seperti ini.

Aku mencintaimu namun aku tak bisa terus bersamamu. Lakukan saja. Aku pasrah. Jika kita berjodoh, mungkin kita akan bertemu lagi di kehidupan berikutnya. Aku ini monster ‘kan? Sosok yang seharusnya kau basmi. Apakah ini adalah hukuman karena aku menyukaimu? Jika aku tahu dari awal, aku akan menghindar. Aku tak ingin melihatmu bersedih.

Crat!

Kenapa? Kenapa kau lakukan ini? Cattleya! Seharusnya kau segera membasmiku. Aku baik-baik saja selama kau tidak terluka. Darah ini. Darah ini. Kenapa?

KENAPAAAAAAA???????????????????

Aku melukainya. Aku tak sengaja melukainya. Segera kuraih tubuhnya dengan kedua tanganku.

“Jika kau berani macam-macam dengan nona Cattleya, kubunuh kau!”

“Gray.”

Sontak pendeta muda itu tak bisa berkata apapun. Aku ini payah. Melindungi istriku saja aku tak bisa. Benar, aku ini bodoh seperti yang selalu ia katakan.

“Dasar bodoh. Jadi, inikah yang selama ini kau ingin katakan padaku?”

Maaf. Setiap kali aku menanyaimu hal itu, pastilah kau menganggap itu hanya candaan. Aku selalu cemas suatu saat nanti hal yang kutakutkan pun tiba. Jika kau tahu itu, apa kau masih menyayangiku sama seperti sosok kurir istana bodoh yang selama ini kau kenal?

“Sudah kubilang, hanya monster bodoh yang mengakui jati dirinya di hadapan seorang pendeta. Ironis memang. Aku heran, kenapa harus kau? Aku tak mengerti. Kau bahkan terlihat ‘lebih manusiawi’ dari mereka.”

Saat ia bicara, aku tak kuasa menahan tangis. Kubiarkan Cattleya terbaring di tanah. Lakukan saja. Tidak apa-apa. Aku lebih bahagia jika kau selamat. Selamat tinggal semuanya. Selamat tinggal Cattleya. Terima kasih. Terima kasih telah melepaskan penderitaanku selama ini. Secercah cahaya muncul dan aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya.

******

Menara kastil adalah objek wisata favorit selain Danau Kristal. Tempat itu menyuguhkan pemandangan terbaik dari seluruh desa. Kulihat sepasang muda-mudi bercengkrama sambil menikmati panorama desa dari atas menara. Seketika pandanganku samar, berganti dengan desa di masa lalu. Kini pasangan itu terlihat seperti diriku dan Cattleya. Aku ingat. Ketika istirahat, kadang ia membawaku ke puncak menara kastil.

“Hei. Tidak apa-apa kita berada di sini? Bagaimana jika nanti kepala dayang istana mencarimu?”

“Tenang saja. Ini jam istirahat. Hei! Lihat! Danau terlihat cantik jika dilihat dari sini. Sayangnya perang masih terus berlanjut di sebelah sana. Kapan perang itu akan berakhir? Aku tak ingin setetespun darah mengalir lalu merusak keindahannya.”

Saat itu kami baru saja menikah. Ia masih amat muda saat itu. Usia kami hanya terpaut tiga tahun. Bisa dibilang aku masih kecil jika diukur dengan skala makhluk mistis.

“Aku belum pernah mendengar hal-hal detil tentangmu padahal kita sudah kenal lama. Apa kau memiliki cita-cita?” ia saat itu begitu manis.

“Aku … aku hanya ingin menjadi seorang saudagar sukses agar aku bisa berkeliling dunia. Kau sendiri?”

“Aku akan menjadi seorang koki terhebat istana! Aku akan melayani tamu-tamu kehormatan dan mereka memuji hidanganku yang amat lezat. Keren ‘kan?” aku hanya membalas dengan senyum.

“Ritter. Ayo kita berjuang mewujudkan mimpi kita!” ia begitu bersemangat saat mengucapkannya. “Apa boleh aku meminta sebuah permintaan?”

“Katakan saja. Aku akan melakukannya.”

“Berjanjilah padaku jika kau akan terus berada di sisiku. Ingat. Janji jari kelingking.”

“Kau yakin,” Cattleya mengangguk.

“Kita harus tetap bersama sampai kita berhasil mewujudkan cita-cita itu.”

Cita-cita itu pun tak pernah terlaksana. Semua hanya menjadi angan. Garis kehidupan kami tidak seperti cita-cita yang kami utarakan dulu. Aku ingat saat kami diam-diam bertemu di tepi danau saat malam tiba. Itu adalah hari pertama ia kabur dari kuil hanya untuk menemuiku.

“Hei. Aku tak yakin apa kita memang berjodoh di kehidupan mendatang? Jika iya, bisakah kau menungguku hingga saat itu tiba. Andai aku bisa memilih, aku ingin menjadi orang biasa di kehidupan selanjutnya agar bisa tetap bersamamu.”

“Apa kau terbebani dengan situasi kuil?” ia mengangguk.

“Aku tak bisa bermain pisau sepuasnya di sana. Kenapa seorang pendeta tidak boleh menikah? Apa mereka tidak kesepian hidup melajang sendiri? Padahal hidup terasa jauh lebih lengkap jika kita bersama orang-orang yang kita sayangi. Iya ‘kan?”

Itulah yang kupikirkan saat mataku tertuju ke arah danau.

“Tuan Ritter.”

Rasanya ada yang memanggilku. Cattleya! Aku melihat ia tersenyum jahil dengan seragam pelayannya. Lengkap dengan penutup kepala dan sarung pisau yang menyatu dengan ikat pinggangnya.

“Tuan, ini aku.”

Ternyata bukan. Aku ingat gadis itu. Ia Rosalie, gadis perangkai bunga yang juga pelanggan tetap jasa kurir di kota. Ia masih muda namun ia dipercaya untuk membuat rangkaian bunga untuk acara-acara besar. Kuakui ia begitu mahir. Setiap rangkaian ia buat dengan teliti dan rapi. Kupikir ia datang kemari untuk berlibur bersama keluarganya. Setahuku ia adalah anak orang kaya.

“Apa tuan juga sedang berlibur? Tempat ini begitu indah. Aku tahu desa ini dari kakakku.”

“Iya. Apa kau tahu desa ini adalah kampung halamanku? Rasanya aku seperti kembali ke rumah setiap mengunjunginya.”

Waktu serasa terhenti saat aku menatapnya, berdiri manis sambil bersandar pada dinding kastil. Melihat ke arah pemandangan sekeliling desa dari ketinggian. Cattleya, andai saja kau masih hidup. Desa sudah banyak berubah sekarang. Desa lebih nyaman untuk ditinggali. Kau tak perlu khawatir untuk membasmi monster setiap malam. Keberadaan mereka lebih sulit ditemui dibandingkan dulu.

“Ritter.”

Seakan-akan kudengar sayup-sayup ia memanggilku lembut. Ah, itu hanya perasaanku saja.

“Nona Rose, apa nona pergi sendiri ke sini?”

“Aku kemari bersama bibi Lillia. Bibi Lillia takut ketinggian jadi bibi tak bisa pergi ke puncak menara bersamaku. Bibi sedang melihat-lihat museum kastil di bawah.

Tuan, aku merasa tempat ini terasa tidak asing. Lihat, aku bahkan tidak berada dalam grup pemandu wisata atau membawa peta. Rasanya aku seperti hafal betul tempat ini. Aneh sekali.”

Apa jangan-jangan itu kau? Apa kau benar-benar memenuhi janji itu?

“Rasanya setiap aku pergi, aku selalu bertemu dengan tuan. Bibi Lillia pernah bilang padaku. Pertemuan yang tidak pernah disengaja dengan orang yang sama berturut-turut bisa jadi berjodoh.”

Cattleya.

“Tuan, apa tuan sedang menangis?”

Iklan

Sedap Malam

Sedikit sesi free talk. Ini adalah cerpen yang paling lama ane selesaikan. Biasanya kalo bikin cerpen sih paling lama juga satu minggu. Ane bikin konsep cerita pas Caution #6 sekitar tahun 2015 dan baru kelar bulan Mei 2017. Ada sebabnya ane gak bisa nulis ini sekali beres. Cerita ini emang murni terinspirasi dari pengalaman zaman SMK ane yang gado-gado saat ane sedang jatuh cinta. Memang ada beberapa bagian cerita yang gak sesuai dengan kisah aslinya malah ane jadiin genre drama. Soalnya ane emang agak sulit melupakan kenangan masa lalu terutama tentang Ikki. Kakak kelas yang juga temen main ane saat itu. Singkatnya gara-gara masalah cinta ya silaturahim terputus total.

Judulnya Sedap Malam itu keinspirasi dari waktu kompen dulu. Gak enaknya kompen tuh kudu merelakan waktu libur semester buat “dikerjain” dosen demi mengganti jam kehadiran. Enaknya kompen tuh koneksi internet melimpah yang ane gunakan buat unduh. Sedap Malam aka Polianthes tuberosa sebenarnya nama bunga yang jadi salah satu judul lagu doujin Jepang.

Singkatnya lagu ini cukup mewakili emosi yang ada dalam cerita *alah lebai*. Ane sendiri pun menggunakan referensi lagu ini untuk mendapatkan emosi yang tepat.

Tidak usah banyak basa-basi, selamat berkomentar. Kalo dibaca sambil dengerin BGM-nya pun boleh.


Polianthes tuberosa, begitulah nama ilmiah dari si putih ini. Bunga yang selalu bertengger manis di dalam vas menjelang akhir bulan Ramadhan. Bunga putih dengan ujung kuncup merona kemerahan. Tak sekalipun aku pernah melihatnya mekar secara langsung. Ya, umur bunga ini tidaklah panjang sesaat setelah mekar.

“Er, ngapain pasang bunga sedap malam di situ? Mau mancing kunti?”

Dan itu adalah Maya, tetangga kostku. Ia kerap kali mampir untuk sekedar meminjam barang atau kerja kelompok.

“Gak. Aku gak percaya hal-hal klenik kayak gituan. Memangnya salah kalo aku merangkai bunga di kamar?”

Terus saja Maya menggodaku di kamar, “Tumben kamu mendadak feminim gitu. Kemaren potpourri sekarang vas bunga. Kesambet? Ah ingat, gara-gara ngeceng temenmu yang jadi kakak tingkat di kampus ya!”

“Dia cuman temen SMP kok.”

“Ih boong. Kenapa mendadak jadi feminim gitu?”

Kenyataannya, hanya ada satu orang yang namanya terukir indah di dalam hati. Senyumannya yang tipis dan tulus terus membius kepalaku.

******

Pertengahan tahun 2009. Tidak ada jalan lain selain pergi ke sekolah itu. Sebenarnya aku ragu untuk mengambil langkah pertama menuju tempat itu. Sekolah Menengah Kejuruan menjadi satu hal yang tidak pernah terlintas di benakku sebelumnya. Sekolah yang mulanya kuanggap hanya sekolah bagi kalangan warga pinggiran. Terbayang sudah stigma itu begitu kuat sejak SMP. Mereka selalu mencaci SMK yang dikenal sebagai benihnya tawuran, sarangnya para gadis berpakaian ketat dengan dandanan lebih buruk dari badut, dan orang-orang kampungan berlagak kekinian.

Erika Widyanti, biasa dipanggil Erika atau cukup Er, nama kecil itu disematkan pada diriku sesaat setelah adzan berkumandang di telingaku. Sesuai namanya, kau bisa menebak jika aku ini anak tengah. Anak yang selalu diharapkan berprestasi setiap saat. Sayangnya semua terhenti ketika aku memasuki sekolah elit itu, SMP Negeri 80 Bandung. Sekolah yang dikenal dengan disiplin dan akademik ketat hingga membuatku begah lalu ingin melawan gerak peristaltik untuk “mengeluarkannya”. Kehidupan sekolah keras diiringi persaingan rasa kawah Candradimuka membuatku terseok-seok hingga akhirnya terjungkal dari puncak prestasi yang senantiasa dibanggakan kedua orang tuaku. Teman dan kawan pun hanya berbatas beberapa nanometer, menyisakan persahabatan penuh muslihat nan busuk. Akhirnya, aku menjadi salah satu murid dengan prestasi bontot dalam satu angkatan. Ya, kasarnya aku tidak diterima di SMA negeri manapun karena passing grade yang lebih rendah dari batas masuk SMA pinggiran sekalipun.

Hingga saat itulah guru BK menyarankanku untuk memasuki SMK. Sekolah yang sesuai dengan bakatku selama ini: menggambar.

“Kalo masuk SMK, bakatmu lebih terarahkan. Bapak tahu selama ini kau berbakat dalam bidang seni. Kenapa tidak diteruskan?” saran guru BK dengan senyuman teduh yang akan kurindukan setelah lulus. Ruang BK adalah pelarianku selama SMP untuk meluapkan rasa sesak selama tiga tahun menimba ilmu. Satu-satunya orang yang tulus menerimaku apa adanya hanyalah guru BK.

Sayangnya, keputusanku ini berubah petaka. Petaka yang membuahkan rasa penyesalanku hingga saat ini. Beberapa menit menjelang pendaftaran berkasku dengan sengaja ditukar oleh kedua orang tua. Mereka seakan tak ingin melihat anaknya menjadi apa yang ia impikan, seorang komikus terkenal yang suatu saat nanti mengharumkan Indonesia dengan karyanya. Hal yang sangat dibenci kedua orang tuaku lalu membuangku pada dunia antah berantah lebih buruk: jurusan dengan seragam berwarna merah. Walaupun aku diterima, aku tidak merasa bahagia. Aku tidak hanya terseok-seok; kini aku rata dengan wajah mencium tanah.

Inilah sekolah yang selama 4 tahun ini membuatku jauh lebih tersiksa secara batin, SMK Negeri 30 Bandung. Terdampar di jurusan dengan seragam warna merah, Rekayasa Perangkat Lunak, membuat kepalaku memuai hingga kehilangan elastisitasnya. Tinggal beberapa detik saja sebelum memuntahkan “jamur” layaknya pemandangan kota Hiroshima dari langit tanggal 6 Agustus 1945. Begitulah kehidupan SMK, kau bisa mengetahui seseorang hanya dari seragam yang menjadi ciri khas jurusan. Kadang aku merasa iri dengan seragam kuning yang lalu lalang di koridor. Andai saja aku bisa bertukar posisi dengan mereka, itulah yang selalu kulihat dari balik jendela. Warna kuning berarti jurusan Desain Grafis, jurusan yang begitu disarankan guru BK untukku dan kini hanya angan-angan.

Enam bulan lamanya aku mencoba bertahan.

Apa itu algoritma?

Apa itu larik?

Apa gunanya seleksi dan iterasi?

Apa itu pointer? Otakku bahkan tertarik mencicipinya.

Aku hanya bisa bertahan dengan pelajaran umum seperti Matematika dan Bahasa Inggris. Itu hal yang benar-benar kubisa.

“Erika! Keluar!” dan lagi-lagi aku tertangkap basah sedang menggambar di tengah seriusnya guru menjelaskan peta Karnaugh lengkap dengan gerbang logikanya. Aku hanya mengubah gambar gerbang AND yang membosankan menjadi seorang penyihir yang terbang dengan riangnya menggapai angkasa. Berhiasi rembulan berbentuk gerbang logika OR dan taburan bintang dari gerbang NOT.

Saat itu kuputuskan untuk kabur ke ruang perkumpulan jurusan. Memang di SMK memiliki wadah penghubung antarmurid dalam satu jurusan, persis seperti himpunan jurusan di kampus namun jauh lebih sederhana. Mereka tidak mengenal gengsi layaknya himpunan. Hanya ada wadah untuk saling berbagi dan silaturahim sambil mengembangkan organisasinya masing-masing. Saat itu hanya ada kang Rian, kakak kelas yang kuanggap seperti kakak angkatku di sekolah. Murid kelas 3 yang pertama kali kukenal karena kebodohanku sewaktu menunggu giliran tes fisik.

“Punten, Kang. Apa di sini ada komunitas otaku?” mengingat kebodohanku yang bersuara lantang nan kikuk itulah lantas membuatku ingin tertawa. Beruntunglah kang Rian bukanlah tipe orang yang serius menanggapi lelucon memalukan itu.

“Hadeh, Neng. Bukannya ada kelas?” dan aku tahu kang Rian itu adalah salah satu orang yang pandai dalam masalah pemrograman. Aku selalu berusaha untuk mengejar ketertinggalan dengan bertanya padanya, satu-satunya orang yang nyaman untuk kuajak bicara di sekolah. Hal yang kadang membuatku kesal karena selalu dianggap orang-orang layaknya sepasang kekasih.

“Diusir lagi, Kang.”

“Gambar boleh tapi bukan di kelas Pak Ibing. Geus apal si Pak Ibing téh teu resep kana budak nu sok heureuy di kelas. Akang juga teu wani mun aya Pak Ibing mah.”

Salah satu alasanku bisa dekat dengan kang Rian karena sama-sama senang menggambar. Setidaknya aku tidak merasa sendiri di sekolah.

“Akang, lagi ngapain?”

“Lagi bikin game. Pasti dék minta diajarkeun nya?”

“Ah, si akang mah apalan waé. Ajarin dong.”

Bicara soal SMK, sebenarnya setiap murid diwajibkan mengikuti satu ekstrakurikuler wajib. Maksudnya ialah Pramuka, PMR, dan Paskibra, sisanya bebas tergantung kita. Sebenarnya aku hanya mengisi PMR karena terpaksa. Mau bagaimana lagi, toh waktu pemilihan ekskul hanya satu hari dan aku sama sekali tak tertarik. Itulah sebabnya aku lebih aktif di organisasi jurusan yang menjadi rumah keduaku di sekolah.

Tapi semua berubah ketika salah satu temanku di organisasi jurusan, Asti, sengaja menarikku untuk ikut latihan rutin.

Cenah miluan PMR. Latihan atuh sesekali mah.”

“Duh, Ti. Malu euy. Aku mah gak pernah latihan dari awal.”

Ya sudahlah. Berhubung ia sudah menarikku dengan tenaga gajah hingga ke ruangan ekskul, aku hanya bisa pasrah. Aku bukanlah Asti yang sejak SMP mengikuti ekskul serupa. Aku hanya … mengikuti ekskul DKM semata-mata hanya ingin belajar robotika.

******

“Er. Ini siapa?”

Maya! Itu buku sketsa mahal! Aku belum punya uang untuk membeli isi ulangnya lagi. Hidup sebagai anak kost mau tidak mau membuatku harus menjadi segesit manajer, seteliti akuntan, serajin pembantu rumah tangga, dan tidak lupa dengan insting ibu rumah tangga yang wajib dimiliki setiap anak kost—khususnya dalam berburu barang-barang diskon, soal itu memang ibu rumah tangga jagonya.

“Wih. Keren juga gambaranmu, Er. Sayang aja gitu. Kenapa gak masuk jurusan Seni Rupa ato Arsitektur sekalian? Malakah tersesat di Informatika,” dan Maya pun seenak jidat merebahkan diri di atas ranjang yang baru kurapikan. “Eh, ini siapa? Kakak tingkat itu? Gak nyangka. Diem-diem bikin ginian ditaruh di buku sketsa. Siapa dia? Cowok imajiner 2D kayak di Touken Ranbu ato semacamnya?”

“Um,” dan saat itulah mataku terus tertuju pada kuncup sedap malam yang kemerahan di tepi jendela.

******

Itu adalah Muhammad Rifki Tanudiredjo, seorang peranakan Tionghoa – Jawa yang hanya terpaut satu tingkat di atasku. Sebenarnya ia lebih tua dariku hanya beberapa bulan dengan tingkah polah seakan-akan usianya jauh lebih muda. Itulah yang membuatku nyaman hanya dengan memanggil nama panggilannya, Ikki. Sosok berkulit putih tinggi dengan sorot mata polos dan rambut hitam ikalnya yang khas. Tidak hanya itu, ia adalah sosok yang nyentrik.

Hari itu Asti sangatlah “menyebalkan”. Aku yang benar-benar awam akan dunia kepalangmerahan pun terperosok jauh ketika pelatih tiba-tiba saja menarikku pada kumpulan murid yang jumlahnya bisa dihitung jari. Ada tiga divisi yang dikenal dalam PMR: tandu dengan kecepatan tangan dan kekuatan; pertolongan pertama dengan tangan lembutnya menyentuh nurani sembari merawat setiap pasien begitu cekatan; perawatan keluarga layaknya seorang ibu kedua dibangun dalam diri. Aku memang tidak bisa mengelak ketika pelatih mendorongku pada kelompok yang tengah mempelajari perawatan keluarga, sebuah kelompok dengan anggota dalam hitungan jari pun terlihat jelas. Alasannya? Akhirnya datang juga. Kau adalah bidadari yang dikirim Tuhan untuk menghiasi regu kami.

Saat itu merupakan kali pertama aku bertemu dengannya.

“Ki, latih dia. Gue mo hasut orang lagi biar masuk regu PK,” tatapan mata itu sangatlah tidak asing. Sorot mata layaknya tokoh anime dengan mata berbinar dari balik topi bersimbol palang merahnya, tersenyum licik laksana musang, dan tidak lupa diiringi aura jahat yang terlukis kuat sewaktu menyeringai.

Aku memang terpisah dari anggota regu PK yang lain. Hanya aku dan Ikki. Tapi kenapa dia memandangiku seperti itu? Terbayang sudah wajah Ernest Prakasa sewaktu ia berusaha melotot di hadapanku. Ia adalah senior paling kacau yang pernah kutemui, kontras ketika aku melihat kakak kelas yang selama ini akrab di organisasi jurusan. Ia jauh dari kata “berwibawa”. Toleh saja cara ia berpakaian dengan begitu santai, hanya mengenakan seragam merah kedodoran bertelanjang kaki duduk manis mengulum permen loli di atas meja kayu tua bercoretkan nama-nama geng motor. Ia sangatlah cerdas menutupi tubuh kurusnya dengan baju kedodoran. Setidaknya itulah yang membuat tubuhnya lebih berisi.

“Anak baru ya. Pernah ikut PMR?” aku menggeleng.

“Tahu PK?” tidak. Jangan wajah itu lagi. Ikki tak habisnya mengocok perutku hanya memandangi wajah dari jarak selebar satu meja. Ia tidak mengendalikan ekspresinya di saat yang tepat. Terbayang sudah wajah Hachiko memelas, menanti sang tuan yang tak kunjung datang di tengah penantian di tepi stasiun. Dalam hatiku pun berkata, “Bisakah kau sedikit lebih serius?”

Kupikir ia bertanya hal itu karena aku ini awam. Ternyata, kedua tangannya yang lembut menyentuhku dengan sebatang permen loli rasa stroberi di bawahnya.

“Ambil aja. Gak apa-apa kalo makan pas latian mah. Sok mau nanya apa? Da akang mah gak bakalan gigit.”

Pertemuan pertamaku dengannya memang konyol. Wajah kekanakan nan riang dengan senyuman lebar selalu menjadi akhir pembicaraan yang ia lakukan. Cara bicaranya yang cepat terkadang sulit dimengerti. Beruntunglah aku terbiasa dengan karakter gadis tsundere yang kerap berbicara cepat dari anime yang kutonton. Bagaimana aku bisa mengenali namanya? Ia adalah sahabat kakak kelasku di organisasi jurusan. Selama ini aku nyaris melihat ia mengenakan baju dengan bordiran nama terjahit manis tiga jari di atas dada. Jika saja ia tidak memintaku untuk mengembalikan komik One Piece pada kang Aip, barangkali aku takkan mengenalnya lebih dekat.

Rasanya aku bahkan sudah lupa jika aku bisa bertahan hingga kelas 2. Padahal kemarin aku merasa tidak nyaman dengan apa yang kulakukan saat ini.

“Neng, mesem-mesem mulu. Suka ama akang ya?” kali ini kang Rian menggodaku saat aku belajar memahami perspektif sepulang sekolah di ruang organisasi jurusan. Belum selesai sudah tarikan garis tiga titik hilang dikerjakan di atas kertas.

“Ih, akang mah ke-ge-er-an. Tadi malem mimpi ketemu Hei. Aduh gantengnya bikin meleleh.”

“Dimimpiin tokoh anime aja kayak gitu apalagi dimimpiin orang yang disukai. Dasar.

Neng, hirup téh lain dina anime. Ieu dunya nyata tong disaruakeun jeung dunya 2D. Cari atuh kabogoh mah.”

“Akang mah! Mendingan ama cowok 2D daripada 3D!”

“Kang Rian!” dan seruan melengking khas itu terasa tidak asing. Bukankah ia senior-tanpa-nama itu?

Kadieu, Ki!”

“Wih ada si Er.”

“Kalem , Ki. Si Erika mah teu ngagégél mun kertasna teu diruksak mah. Masalah jeung Pak Purnomo deui?”

Rasanya aku merasa aneh. Aku memang terbiasa berlatih berdua saja dengan Ikki pada latihan rutin setiap Sabtu. Memandangi wajah polos yang terkadang salah ekspresi itu pun aku terbiasa. Hubungan kami berubah lebih akrab sejak saat itu. Kami lebih sering tertawa bersama di sela-sela berlatih. Tak jarang pula aku terkena jitakannya yang tak kusangka kuat juga untuk ukuran lelaki kurus setiap aku salah sewaktu praktik. Tapi perasaan ini. Kenapa irama jantungku berubah tak beraturan ketika ia berada di dekatku?

“Kang, bisa bantuin bikin report pake Java gak? Ikki udah bikin report tapi aneh. Gak ada masalah sih di database-nya cuman setiap kali coba run, selalu saja dapet error cannot retrieve field from database’ mulu.”

Laptop-nya mana? Akang pengen liat kodingan Java-nya.”

“Bentar, Kang. Laptop-nya ada di kelas.”

Apa ini sebenarnya? Rasanya ini membuatku semakin bingung.

“Er, itu bikin gedung ato rumah jamur? Narik garis tengahnya masih salah jadi gak proporsional.”

“Eh iya. Bener.”

Perasaan itu tidak hanya datang sekali.

Hari Sabtu pun tiba. Saat itu kelasku pulang lebih cepat. Aku bosan menanti jeda antara jam pulang dengan latihan yang lama. Kuputuskan berjalan menuju ruangan ekskul PMR untuk menyendiri, tidak lupa dengan “senjata” pensil beragam ketebalan dan buku sketsa. Satu hal yang terus saja menggantung di kepalaku.

Ruangan PMR terasa khas dengan rangkaian bunga dalam jambangan bening di dekat jendela. Satu bunga yang selalu terselip di antara rangkaian bunga itu adalah sedap malam. Sayangnya aku bukanlah orang pertama yang datang di sana. Kulihat Ikki duduk manis dengan roman serius, suatu hal yang langka tertangkap sudah dari kedua bola mataku. Kedua matanya terpaku pada laptop ASUS putih ditaruh di atas meja kayu lipat kecil. Memang meja kayu tersebut adalah properti milik ekskul yang selalu diselipkan di antara rak. Barangkali ia sedang membuat program, pikirku saat itu. Aku tahu akhir-akhir ini Ikki sering menemui kang Rian akibat kendala yang harus ia hadapi dalam membuat program Java. Kedua kakiku yang gatal ingin segera menghampirinya. Hipotesisku salah besar: ia memegangi sebuah graphic pen ditorehkan begitu lentur di pangkuannya.

“Keren banget!” kini mukanya semerah tomat, menghasilkan sebuah coretan bertekanan cepat pada layer Photoshop yang ia kerjakan. Ia memang berbeda dariku ataupun kang Rian dalam masalah gaya pewarnaan. Aku lebih menyukai pewarnaan manual monokrom yang kugeluti sejak SMP. Lain halnya dengan Ikki dan kang Rian yang menyukai computer graphic alias pewarnaan digital.

Kulirik gambar pada layer itu begitu tidak asing. Jika firasatku memang benar, apa mungkin?

“Akang. Apa akang bikin lukisan vas bunga itu pakai Photoshop?” dan baru kali ini aku melihat seorang digital artist yang tidak membuat karya dari sketsa kasar di atas kertas. Di sela-sela pelajaran tambahan mengenai pemrograman sepulang sekolah pun, aku sering melihat kang Rian mengajariku sambil menunggu sketsa yang ia buat di-scan. Aku bahkan tidak bisa menggambar langsung begitu saja pada aplikasi pengolah gambar.

“Ah. Iya,” jawabnya dengan malu-malu.

“Oh ya. Aku penasaran, Kang. Aku melihat bunga-bunga lain disusun bergantian setiap minggu. Kenapa di sini selalu ada bunga sedap malam? Padahal ini bukan lebaran lho.”

“Kau memperhatikan hal itu?” dan aku pun mengangguk. “Akang memang suka bunga. Memang ini terdengar konyol. Di antara semua bunga, akang memang suka dengan bunga itu. Bunga yang hanya mekar di malam hari. Akang suka wanginya yang lembut. Kau tahu, kita bisa menciptakan wangi yang unik dengan kombinasi bunga yang tepat.”

Sesaat aku tak bisa membayangkan bahwa Ikki adalah sosok lelaki yang lembut. Tangannya yang lentik membuatku iri. Andai saja ia bukan seorang lelaki, ia bisa menjadi kakak angkatku selama di sekolah. Andai saja. Ya, andai saja.

Andai saja di saat aku bertemu dengan dia, perasaanku masih selugu saat pertama kali bertemu dengannya. Terbayang sudah senyuman lebar dengan gigi gingsul putih yang membuatnya lucu. Terbayang sudah kedua mata sipit yang seakan selalu tersenyum layaknya karakter 2D. Permen loli saat latihan, ekspresi konyol saat ia mulai marah, hingga suhu badan setinggi 40 derajat sesaat setelah berbuka puasa. Di tengah sukacita selepas adzan maghrib, semua orang kebingungan sekembalinya dari masjid.

Buka bersama menjadi sebuah “kewajiban” di bulan puasa. Sayangnya aku sedang berhalangan. Aku hanya bisa meratapi hidangan berat yang boleh dimakan setelah semua selesai sholat berjamaah. Aku duduk manis di ruang kelas tempat biasa kami berlatih di gedung belakang. Semua bangku dan meja panjang disulap menjadi meja-meja prasmanan sederhana dengan cantik. Di sampingku adalah tempat penitipan tas darurat. Bagian tengah kelas diisi oleh hamparan tikar bambu tua dalam kondisi yang masih baik.

Saat itu kulihat Ikki. Ia berjalan seperti seekor kucing liar yang mencari makanan, bersiap dengan pandangan usil untuk mencuri start. Aku tahu Ikki itu memang nyentrik. Badan kurus memperlihatkan tulang dengan urat-urat lebih menonjol dari otot dagingnya menjadi pertanda nyaris sesuap nasi berubah menjadi otot yang tumbuh di badannya. Aku tak mengerti hal yang biasa ia lakukan karena ia misterius. Satu hal yang kuingat, ia memiliki nafsu makan yang menggila. Ia sanggup menghabiskan tiga porsi nasi beserta lauk pauk ukuran besar. Barangkali itulah yang membuat ia kucing-kucingan, pikirku saat itu. Kulihat di ujung meja prasmanan ada semangkuk besar berisi sop buah. Tidak lupa dengan gelas-gelas plastik seukuran 300 ml yang biasa digunakan untuk air mineral. Sebelumnya aku melihat Ikki mengambil sop buah sewaktu berbuka. Saat ia mengambil gelas berikutnya, plak, Ikki sudah tak sadarkan diri.

“Astaghfirullah. Dia demam,” kata salah seorang alumni yang turut diundang saat itu. Acara buka puasa berubah menjadi sesuatu yang membuat kami cemas. Ikki dibawa ke ruang ekskul dalam kondisi tak berdaya. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Entah perasaan itu, rasanya semakin kuat.

Ketika baris demi baris query berubah menjadi kata-kata yang menyesakkan dada, itulah saatnya aku harus bertanya.

“Akang.”

“Ya neng?” kang Rian menoleh ke belakang di ruang ekskul jurusan. Saat itu hanya ada berdua. Aku baru selesai ulangan Basis Data. Guru meminta siapapun yang sudah selesai harus keluar. “Gimana ulangannya? Bisa?”

“Bisa sih. Cuman ya … rada aneh aja pas bikin trigger.”

“Kalo bikin trigger mah kudu bener pas waktu bikin select-nya. Kalo gak mah bisa kacau. Bukannya kemaren udah akang ajarin?”

“Masalahnya bukan itu. Tadi gak fokus aja pas bikin select.”

“Wajar neng kalo datanya makin kompleks mah, emang kudu teliti buat bikin query select.

Akang liat mah akhir-akhir ini neng Erika asa gak semangat. Kenapa? Ada masalah lagi sama gurunya?”

“Gak tau aja sih. Perasaan rada-rada aneh aja. Asa kumaha kitu.”

Aku memang tidak pernah bisa menjelaskan perasaanku dengan detil. Tapi kang Rian, dengan senyuman ajaibnya, bisa mengetahui itu.

Matakna tong kana 2D waé atuh neng. Itu mah namanya jatuh cinta. Akang tahu kok dari muka neng. Dikirain téh emang masalah ama database.”

******

Hei, namanya hanya satu suku kata. Seorang pria Tionghoa dengan rambut hitam pekat yang lemas. Kulitnya putih pucat dengan sebuah topeng putih bergaris ungu menutupi wajahnya pada beberapa kesempatan. Ia terlihat tampan dengan jubah hitam panjangnya namun ia lebih manis saat berseragam sekolah. Senyumannya bisa mengalihkanku sejenak dari realita.

Tahun ketiga, aku bahkan tidak sadar bisa lolos dari jurang neraka ini. Andai saja hidup seperti berada dalam anime. Bisa saja aku harus tinggal satu kost dengannya. Kupandangi wajah tampan yang terus menyemangatiku untuk bertahan. Sayangnya itu hanya angan-angan. Sebagian orang memandangku aneh karena hal itu, termasuk juga kang Rian. Aku tidak tertarik akan setiap cowok tampan yang kutemui. Walaupun kelasku sendiri adalah salah satunya.

Entah kenapa aku merasa dadaku sesak. Aku hampir tak bisa berjalan dengan benar di lorong sekolah. Tak pernah kulihat tapi rasanya seakan dekat.

“Dasar maniak 2D. Gak pernah pacaran ya?” aku hanya membayangkan senyuman jahil kang Rian dari balasan pesan singkat di HP. Kang Rian yang dua tahun lebih tua dariku kini sudah lulus. Rasanya aku merindukan saat-saat sepulang sekolah sekedar untuk melarikan diri dari tugas. Belajar bersama kang Rian lalu tertawa bersama anak-anak ekskul jurusan yang lain. Bahkan aku mendapat banyak hal baru selama di ekskul jurusan. Semuanya sebelum Ikki datang. Jedut!

“Ah si eneng mah ceroboh waé,” aku lupa dengan keberadaan rak dinding tempat biasa menaruh buku-buku komputer di atas kepala saat itu.

Sekarang kang Rian sudah kuliah sambil bekerja sebagai programmer dan ilustrator lepas. Aku sudah jarang bertemu dengannya karena ia sedang sibuk. Tapi Ikki, setiap praktikum kelasnya selalu bersebelahan. Rasanya aku tidak merasa nyaman dengan rasa ingin melarikan diri setiap menatapnya.

“Eneng mah masih polos. Kebanyakan perempuan zaman sekarang jatuh cinta sedikit narsis di Facebook sama Twitter. Kalo emang beneran suka mah gak usah dipendam juga.”

Aku melihat kang Rian dengan santai mentraktirku makan di restoran. Katanya syukuran gaji pertama. Di bayangannya teringat adik angkatnya yang selalu mengganggu saat membuat program.

“Udah, jangan mikirin 2D mulu. Hidup mah nikmati sajalah.”

Di saat aku mulai jujur akan hal ini, dunia serasa pecah. Tangan lentiknya meraih gadis di sampingnya dengan lembut. Kutahu ia adalah ketua ekskul PMR, teh Anita. Tepat di saat aku sedang pergi bersama kang Rian.

“Sabar neng,” rasanya aku ingin menumpahkan ini di bahu kang Rian. “Daripada eneng galau mah, kenapa gak belajar aja yang serius? Sebentar lagi UN sama sidang TA. Siapin judul juga dari sekarang.”

Kang Rian benar. Hidup ini tidak sesempit sebuah romansa. Masih ada kenyataan pahit yang menghadang di depan mata sebentar lagi. Pertaruhan sebenarnya dari jurang neraka ini baru dimulai. Ujian nasional menjadi salah satu yang membuat murid kelas XII sepertiku memancarkan aura muram. Masalahnya kami tidak dibekali latihan yang cukup untuk istirahat dengan persiapan UN karena waktu habis untuk membuat tugas-tugas program yang semakin berjibun. Hanya satu yang menakutkan lebih menakutkan dari itu, tugas akhir. Ujian nasional mata pelajaran kejuruan hanya nama halusnya. Untung saja aku tidak merasakan perasaan kepalaku ingin meledak di tahun terakhir. Aku berada dalam dua angkatan terakhir program studi 4 tahun. Artinya, hanya UN teori yang diujikan tahun ini.

Terlepas dari itu, dadaku masih terasa sesak. Setiap perkataan guru dalam kelas tambahan persiapan UN terus melayang-layang di kepala. Ia tidak bisa kuraih dengan mudah. Saat aku berhasil menggenggamnya, ternyata hanyalah bayangan semu. Entah kenapa otakku kini mulai bermasalah dengan akademik, setidaknya suatu hal yang bisa kubanggakan di samping kemampuan pemrogramanku yang payah. Teman-teman sekelas mengenalku sebagai ahli matematika dan nona-luar-negeri karena kemampuan bahasa Inggrisku di atas rata-rata teman sekelas. Sayangnya saat sesi listening, semua menjadi buyar. Perasaan itu muncul ketika Ikki lewat di lorong kelas lalu tak sengaja melirik ke dalam. Pertemuan pertama semenjak murid kelas XIII pergi merantau ke industri untuk menunaikan tugas bernama PKL. Percayalah. Aku pasti bisa melalui ini agar lolos dari jurang neraka bernama perangkat lunak. Walau sebenarnya terasa hati ini diremas sampai puas.

Separuh hatiku melayang tatkala aku melihat teh Anita duduk di dekat ruangan ekskul PMR dengan gundah. Apa mungkin karena uang dari sekolah yang tak kunjung datang sewaktu lomba hanya tinggal menghitung hari? Aku memang tidak aktif lagi dalam ekstrakurikuler manapun, itu semua karena sekolah yang melarang. Semua murid kelas XII memang tidak diperkenankan aktif secara organisasi. Tapi untuk sekedar membimbing atau melatih itu tak jadi masalah.

“Teh, gimana lomba?”

“Asli teteh bingung. Teteh udah sibuk sama tugas di kantor sekarang harus mikir dua kali soal lomba. Proposal juga ditolak mentah-mentah sama sekolah. Jadi ya teteh sama temen-temen yang lain patungan buat biaya lomba. Untung aja masih ketolong sama uang kas yang tetep jalan. Sayangnya teteh daftar di menit terakhir dan harusnya sekarang ada technical meeting. Anak-anak gak pada tahu informasinya makanya teteh juga bingung.”

Di mata sekolah, PMR adalah ekskul anak tiri. Prestasi yang gemilang di hampir setiap lomba—termasuk juara kedua dengan regu PK dan lomba gambar bertema palang merah yang kujuarai—namun tak sedikitpun ditoleh oleh sekolah. Melihat wajah muram seusai dari ruangan wakil kepala sekolah bidang Kesiswaan menjadi hal yang lumrah. Kami lebih sering berusaha mengikuti lomba dengan uang seadanya. Entah itu dari hasil patungan alumni, kakak kelas, hingga uang kas. Bahkan teh Anita yang kini sudah PKL pun was-was. Siapa lagi yang akan menopang ekskul dan prestasi sepeninggal mereka, generasi emas PMR yang juga salah satu donatur terbesarnya.

Itu adalah kang Dirga, pesaing terberat teh Anita dalam divisi tandu. Keduanya memang sering mendulang piala di masanya. Kang Dirga juga sekarang sedang PKL. Kulihat wajah cemas tersirat bercampur sendu saat sedang menarik nafas.

“Dir, gimana technical meeting-nya?”

“Aman. Untung aja tadi gak telat ke sana. Nih udah bawa penjelasan teknis buat lomba minggu depan. Tar deh dijelasinnya.

Kamu sih nelpon pas lagi sibuk banget di kantor. Hari ini si bos lagi baik buat izinin keluar bentaran. Tapi, Nit. Liat si pétét gak? Dia udah tiga hari gak masuk kantor. Liat absensinya pun gak ada keterangan.”

Jika kang Dirga mengatakan pétét, pastilah itu Ikki. Hanya Ikki yang bermata sipit seakan-akan ia sedang tersenyum setiap saat.

“Mana urang tau, Dir. Udah jelas beda kantor. Ngapain juga nanya?”

“Namanya juga pacar jadi minimal tahu lah kabarnya.”

Kang Dirga benar-benar menyirami perasaanku dengan alkohol 70%. Di satu sisi aku merasa sedih, namun di sisi lain terasa amat sakit. Tepat di saat aku ingin melupakan rasa sakit itu. Semuanya mengarah padaku begitu saja.

Kang Dirga yang menggulung laporan teknis lomba duduk di depan pintu lalu bertanya, “Er, perasaan aku liat-liat asa deket banget sama si pétét. Tahu gak dia sekarang ke mana?”

“Meneketehe. Lagian ngapain juga peduli sama urusan orang.”

“Cih. Biasanya nempel kayak perangko gitu sekarang malah dijutekin. Lagi cemburu ya?” cih, perkataan kang Dirga memang benar. Benar-benar mengiris dengan lambat hingga terasa pedihnya.

“Setahu urang mah, budak éta keur gelut jeung bapana. Teuing urang gé teu apal. Da si budak éta mah jol wé leungit mun ditanya kunaon gé. Lain carita mun si Er nu nanya. Asa budak éta téh ngan wani nyarita ka si Er. Er, ai budak éta sok nyarita kénéh?

Tara. Abi karék ningal Salasa kamari.”

Da pas Selasa mah dia emang ada bimbingan makanya ke sekolah juga. Itu pun kali terakhir urang ningal di kantor.”

Sebenarnya dada ini sesak mengetahui ia telah menghilang. Sebagian diri ingin membantu teh Anita dan kang Dirga. Sayangnya perasaan terdalamku berkata tidak. Sepedih apapun, aku harus bisa melupakannya. Aku harus lulus apapun yang terjadi.

Tahun keempat, aku bisa melaluinya. Aku memang payah dalam pemrograman. Setidaknya aku bisa … menjadi lebih baik di kantor. Sayangnya tak ada satupun yang bisa kukerjakan. Melelahkan juga menjadi seorang pemagang di tempat PKL dengan tanpa tugas. Apa yang bisa kuisi dengan jurnal pada hari ini? Berbagi koleksi anime dengan Hanif, rekan baru yang kukenal dari tempat PKL, mungkin?

“Nif, ada Darker Than Black season 2 gak? Sayang waktu itu nonton di TV kabel tapi kepotong-potong.”

“Gak terlalu suka anime sci-fi. Coba cari aja di Nyaa ato gak BakaBT. Siapa tahu ketemu.

Kalo mau ngikutin anime season ini, mending nonton Btoom, Little Busters, Chuunibyou, ato Sakurasou. Pokoknya jangan nonton SAO. Itu sinetron berkedok anime.”

Aku memang jarang menonton anime lagi semenjak masuk SMK. Setidaknya dengan keberadaan Hanif, aku tidak ketinggalan season terbaru. Kadang aku merasa anime sekarang terlalu banyak fanservice dan kurang memiliki cerita yang sekuat dulu. Kulihat Hanif tampak mengerjakan sebuah aplikasi Java di samping jam-jam yang sama menganggurnya. Berkat Hanif-lah, aku sekarang mulai tahu jadwal acara cosplay terkini dan tentunya saimoe. Walaupun banyak tokoh anime yang lebih tampan dari daftar nominasi saimoe untuk karakter cowok, tetap saja hanya Hei yang masih bisa meluluhkan hatiku.

Kulihat kang Rian mengirimiku pesan singkat yang kini dari aplikasi. Saat itu sedang ramai-ramainya anak muda menggunakan aplikasi pesan singkat. Saat itu kang Rian mengajakku untuk mendukungnya dalam acara Pasar Komik Bandung. Semacam comiket yang diadakan di Bandung. Kali ini aku juga mengajak Hanif.

“Untung saja di sini doujin-nya masih waras.”

“Memangnya doujinshi itu hanya yaoi?”

“Siapa tahu. Aku kesal setiap mampir ke acara semacam ini pasti terkontaminasi oleh pikiran liar para fujoshi. Itu jauh lebih membuatku sakit mata dibandingkan dengan episode SAO.”

Untung saja di sini hal itu masih dianggap “penyimpangan sosial”. Jika tidak, apa mungkin aku akan … kang Rian melambaikan tangan padaku dari booth-nya. Sebuah meja kecil bertaplak hitam di bawah naungan tenda.

“Hei. Sekarang keliatan agak kurusan. Pusing karena ngoding atau begadang demi pacar 2D?”

“Akang mah. Ih, akang sekarang sudah ada peningkatan.”

“Ya iyalah. Harus gitu dong.

Ini promosi dari tim game akang. Kebetulan akang itu emang ilustrator dan game designer di sini. Sekalian dipilih pernak-perniknya,” ternyata itu hanya promosi gratisan untuk membeli pernak-perniknya. Dasar. Kulihat beberapa karakter yang kukenal di sana. Ada Vent, Lotte, Dorothy, dan tentunya si Juki yang konyol. Andai saja aku tahu tempat membuat gantungan kunci seimut ini.

Kemudian dengan jahilnya akang berbisik, “Neng, udah lupa sama si itu?”

“Ih, akang mah. Dia cuman temen satu kantor kok. Akhirnya aku bisa menemukan orang yang sebangsa denganku: sesama pecinta 2D.”

“Astaghfirullah. Bukannya insyaf waktu PKL, ini malah menjadi-jadi,” maafkan aku, Kang.

“Kalo pacarannya masih lama, gue duluan ya!” Hanif pamit menuju booth lain di sekitarnya.

Andai saja aku bisa seperti kang Rian, bisa menjalankan hobi di tengah penatnya dunia kode mengkode dengan lancar. Sayangnya aku masih belum selevel dengan kakak angkatku itu. Malu juga rasanya apabila mampir dengan tangan kosong. Lucu juga melihat Dorothy dalam gantungan kunci dengan penampilan super deformed dibandingkan dengan penampilan full size yang biasa kulihat.

Hanif barangkali sudah menghilang dari pandangan setelah matanya tertuju pada gerai minuman yang penuh sesak. Ah, sudahlah. Tempat ini begitu ramai. Rasanya tidak salah kang Rian mengajakku kemari. Aku merasakan aura yang seakan bisa membuatku tersenyum bahagia. Aku bisa bertemu dengan banyak orang, bertemu orang-orang baru dengan hobi yang sama, dan bisa berbincang dengan para pelaku di balik layar tanpa jarak. Anak-anak yang pergi tersenyum riang bersama orang tuanya. Para komikus dengan tingkah mereka yang unik untuk menyapa pengunjung. Pedagang yang tidak pernah luput membawakan barang dagangan melawan arus pengunjung. Seorang ilustrator yang tengah duduk santai menorehkan drawing pen-nya dengan tenang di atas kertas seukuran kartu pos seakan tak peduli seramai apapun suasananya.

Evening Primrose, rasanya aku tak asing dengan nama ini. Sebenarnya doujinshi adalah sesuatu yang legal selama mencantumkan sumber asalnya seperti fan fiction dan dijual dengan edisi terbatas untuk menghargai pengarangnya. Sayangnya di Indonesia hal itu masih belum begitu legal karena memang hal baru. Sejauh mata memandang, kulihat di sini para komikus dalam circle mereka banyak membuat karya asli seperti halnya kang Rian dengan karakter ada-ada sajanya. Jika ada doujinshi, itu pun bukan untuk dijual. Aku melihat contoh karya dari circle Evening Primrose yang diperlihatkan. Mataku terpaku sejenak melihat wallpaper yang selama ini menghiasi laptop adalah karya dari circle ini. Aku hanya iseng mengunduhnya lewat bantuan Google. Selama itu adalah Hei, itu bukan masalah. Toh aku pun takkan menggunakan itu untuk kepentingan komersial.

“Keren juga Hei di sini. Buatan circle ini juga?”

“Iya. Itu karyanya zauberer, salah satu artist di sini. Dia kebetulan lagi mampir ke booth sebelah. Ini masih ada karya lainnya. Silakan dipilih.”

Kulihat karyanya dalam portofolio selalu berubah dengan menonjolkan ciri khasnya: pemilihan palette warna lembut seperti kebanyakan anime zaman sekarang. Bukan berarti ia tidak bisa menghasilkan karya dengan paduan warna-warna tegas dan berani. Pada karyanya yang lain ia berhasil menonjolkan hal itu dengan sempurna. Seorang profesional dengan jam terbang tinggi bisa menghasilkan karya sebaik itu. Tapi ini, Polianthes tuberosa dengan efek lukisan cat air yang kulihat benar-benar tidak asing.

“Nah, katanya pengen ketemu sama artist-nya.”

Aku terpaku dalam diam. Haruskah aku bahagia ataukah menangis? Permen loli merah rasa stroberi menyembul dari balik pipi kurusnya. Jari jemari lentik yang selembut bayi. Mata sipit yang seakan selalu tersenyum setiap saat. Kenapa rasanya aku … ?

******

“Wah, Er. Ngoding aja udah berat lho. Ini juga nyambil bikin komik.”

Maya tidak sengaja melihat setumpuk kertas dengan sketsa berpensil biru terang di atas meja yang belum kurapikan. Ia bersanding dengan laptop yang sengaja kumatikan untuk kalibrasi. Akhir-akhir ini kondisi baterainya tidak bisa diajak kompromi.

“Eh, tapi kalo kayak gini digaji gak?”

“Jadi komikus itu jalan terjal berbatu. Kalo pengen dapet uang gede sih lebih enak dari jualan program atau dagang sekalian. Setidaknya ya ada pemasukan tambahan biar sedikit mah.”

“Pernah coba kirim ke penerbit, Er?”

“Lah ini juga udah kontrak sama penerbit kok. Bikinnya gak sendiri. Kalo aku sih yang bagian bikin cerita sama storyboard terus habis itu ya dikirim ke temen. Kalo lagi sibuk kirim lewat e-mail. Kalo gak ya paling dikasihin langsung aja.”

“Er. Kenapa? Kok diem aja?”

******

Saat itu aku benar-benar bingung. Hanif mengatakan ambil saja tawaran itu. Sejak PKL ya aku lebih dekat dengan Hanif. Bermula karena sesama nijikon, kini berakhir jadi teman dekat. Hanif memang satu sekolah denganku namun berbeda kelas saja.

“Ambil aja. Mumpung keterima SNMPTN. Jarang-jarang lho dari SMK bisa tembus ke jurusan Informatika lagi. Er, minta ciprat berkahnya dikit lah buat SBMPTN.”

Matakna sholat. Minta berkah ke orang téh musyrik tau.”

“Sholat mah tong ditanya. Urang mah teu hilap jeung sunnahna.”

“Ya berarti kalo ibadah udah mah tinggal usaha aja yang dikencengin, Nif. Mun can katarima kénéh mah hartina can jodona wé di dinya. Siapa tahu Allah punya rencana yang lebih baik buat Hanif mah wallahu ‘alam.”

Aku tidak mengerti. Bagaimana bisa aku diterima di sebuah universitas ternama padahal aku tidak benar-benar mahir dalam masalah pemrograman? Kebanyakan orang mengatakan, SNMPTN itu sama saja seperti lotre. Sifatnya untung-untungan. Orang pandai sekalipun belum tentu bisa lolos dibandingkan dengan orang yang beruntung. Pilihanku ini sebenarnya bukan karena sembarang memilih anak panah. Aku sudah bicara dengan kang Rian sebelumnya.

“Neng mah aneh. Akang akui eneng emang lemot dalam masalah ngoding.”

“Akang mah jangan digituin juga kali!” kadang bercandaan kang Rian benar-benar membuatku kesal.

“Tapi bukan berarti eneng tidak punya kelebihan ‘kan? Eneng dulu pernah cerita waktu SMP pernah ikut DKM semata-mata ingin belajar robot. Akang juga bingung soal ekskul DKM SMP eneng yang punya divisi robotika. Akang lihat selama ini setiap kali eneng ngobrol soal komputer bareng anak-anak, ujung-ujungnya eneng ngomongin soal jaringan sama hardware. Soal merakit PC aja eneng lebih jago dari akang. Kadang akang merasa bingung juga. Eneng itu pengennya di Desain Grafis tapi keahliannya anak TKJ terus nyasar di RPL. Kenapa gak diseriusin aja pas kuliah?

Toh selama akang kuliah pun ya akang sadar. Dunia komputer gak sesempit pemrograman doang. Masih ada bagian hardware, manajemen, desain, pengelolaan data, keamanan, kecerdasan buatan, robotik, sistem informasi, game, pencitraan digital, forensik digital, hingga belajar bahasa pun ada kok. Sayang aja sih lihat potensi adik-adik kelas kesayangan akang hanya dipukul rata ‘bisa ngoding’ tapi bakat yang lain gak pernah dikasih kesempatan untuk berkembang.”

“Lho, dikirain jurusan Informatika ngoding doang, Kang.”

Ceuk saha? Nanti juga kenal kok sama yang akang ceritain tadi. Sekarang mah balik lagi ke eneng. Saran akang mah ikutin kata hati eneng aja gimana terus banyakin ibadah biar gak bingung. Insya Allah ya mun geus jodo mah teu kamana. Udah gitu usaha. Simpel ‘kan?”

“Oh ya, Kang. Akang téh nyambil gawé juga ‘kan? Gimana caranya seimbangin waktu antara kerja sama kuliah? Padahal jadi programmer freelance sama ilustrator itu ‘kan pasti nyita waktu banyak.”

“Cie yang keterima gara-gara CLBK. Gaya lah bisa masuk Evening Primrose. Itu circle terkenal lho. Orang-orang di sana akang akui emang produktif dan kebanyakan sudah master di bidangnya dengan jam terbang yang tinggi juga. Setahu akang mereka juga emang lagi merilis karya di salah satu penerbit ternama.

Intina mah nya neng, jangan ambil kerjaan kalo emang lagi banyak tugas. Fokus aja tugas kuliah dulu baru kerjaan. Toh mereka juga ngerti kok. Selain itu kudu bisa luangin waktu untuk istirahat sama ngerjain tugas pas jam senggang. Sebisa mungkin jangan kerjain pekerjaan pas Sabtu Minggu. Namanya juga manusia pasti butuh istirahat lah. Jaga kesehatan juga. Stamina buat ngerjain tugas kuliah lebih gede lho.”

Rasanya mendapati pengumuman kelulusan SNMPTN serasa mendapat durian runtuh. Tiada henti pesan masuk ke dalam ponselku hanya untuk mengucapkan selamat. Berita itu sudah menyebar dengan cepat di kalangan orang-orang terdekatku. Termasuk sebuah pesan yang selama ini tak kusangka.

Hari Ini

13.00

zauberer

Gaya euy bisa keterima SNMPTN di Universitas X. Selamat ya.

Terima kasih.

Aku memang bukanlah lulusan SMK terbaik seperti halnya Hanif. Setidaknya kini aku bangga sebagai statusku sebagai seorang maba. Status yang selama ini dikatakan mustahil diterima di Universitas X karena status alumni SMK. Secara akademik memang tidak sebaik murid-murid SMA yang terbilang kompetitif dalam seleksi perguruan tinggi. Bahkan di angkatanku, hanya aku yang lolos SNMPTN di sana.

Kupikir tahun pertama ospek kampus dipenuhi perpeloncoan seperti yang dikatakan media. Ternyata semua salah setelah aku menjalani kehidupan baru sebagai mahasiswa. Banyak kenangan menyenangkan di sana. Aku tidak bisa ikut serta dalam UKM seperti mahasiswa lain. Aku hanya bisa fokus dengan himpunan di samping kewajibanku sebagai mahasiswa dan seorang freelancer. Semua itu yang kujalani hingga saat ini. Maya, tetangga kost yang sering main ke kamar, tahu betul suka duka menjadi anak Informatika. Walau ia sendiri anak Sastra Jepang, ia sering menyemangatiku di saat aku bosan. Kehidupan kampusku yang bahagia perlahan berubah menjadi suram. Tepat saat itu.

Genap saat itu menginjak tahun keduaku di universitas. Himpunan dan kuliah memang sama melelahkannya. Tapi rasanya ada yang kurang tanpa kedua hal itu. Jangan salah, aku masih tidak lupa akan tugas-tugasku di Evening Primrose. Sudah enam bulan setelah kami berkumpul untuk membicarakan konsep tentang komik yang akan dikerjakan. Pihak penerbit mulai menanyakan soal komik baru yang akan kami rilis. Setelah komik kami sebelumnya, Kembang Gula Kehidupan SMA, menjadi komik terlaris di pasaran. Bahkan seorang produser tertarik untuk mengangkatnya ke layar perak! Itu adalah kesempatan yang sangat langka mengingat dunia komik Tanah Air baru saja bangun dari mati suri. Rasanya aku bangga menjadi salah satu bagian dari mereka. Walau IPK sendiri memang tidak begitu bagus ya setidaknya masih ada yang bisa dibanggakan selain MKU dan mata kuliah berkaitan dengan sistem komputer.

“Gaya euy udah mau difilmkan lagi,” puji kang Rian sewaktu lagi-lagi ditraktir di rumah makan Padang Uda Jaya, tempat makan enak murah meriah yang lokasinya tidak jauh dari SMK.

“Wah, gak nyangka ada kang Rian di sini. Pantes wé asa semanget ka sakola.”

“Cie yang CLBK,” kang Rian segera menyesap segelas es jeruk yang ia pesan. “Asa tara ningal, Ki. Kamana waé?”

Keur riweuh di kampus, Kang. Ini juga baru pulang KKN. Si Er kerjaannya ngomongin akang terus di sana. Gimana kerjaan, kang? Lancar?”

“Alhamdulillah, Ki. Lancar.”

“Si akang mah traktiran waé mun keur bungah téh. Kemaren gaji pertama, traktiran gara-gara keterima SNMPTN, traktiran ulang tahun akang, eh sekarang … cie yang lulus cepet terus cum laude.”

Kang Rian hanya menanggapi hal itu dengan santai. Dulu memang aku masih tak bisa menerima kenyataan bahwa Ikki lebih menyukai teh Anita dibandingkan siapapun. Seiring berjalannya waktu, aku sudah bisa merelakannya. Kini hubungan di antara kami mulai membaik seiring dengan pekerjaan yang kami lakukan. Lagi-lagi ia selalu melakukan kebiasaan yang sama seperti dulu, memberiku sepotong permen loli di saat aku sedang gugup. Ia juga masih sering bertelanjang kaki lalu berjalan-jalan saat sedang kumpul membahas komik di basecamp. Sekarang kami sama akrabnya seperti halnya antara aku dan kang Rian. Tapi kang Rian masih tetap menganggapku masih memiliki perasaan terhadapnya.

“Akang pamit dulu ya. Udah dicariin si bos nih.”

“Er, mau ke sekolah gak? Dicariin tuh sama anak-anak.”

“Kenapa gitu, Kang?”

“Masa gak tahu ada reuni PMR di sekolah? Sekalian mau bahas soal lomba lagi. Masih aja sekolah bikin ribet tiap mau lomba.”

“Emangnya akang turun langsung latih tim PK lagi?”

“Ya ‘kan tahu sendiri semenjak KKN akang lepas tangan dari tim PK. Bukan bicarain masalah itu sih. Kepengurusan PMR sekarang ngajuin proposal buat adain lomba PMR di sekolah tapi belum disetujui soal dana. Ganti kepala sekolah berapa kali pun tetep aja dana gak cair-cair selama wakaseknya gak diganti mah. Makanya alumni juga pada ngajakin kumpul gak cuman soal reuni tapi juga bakal bahas masalah itu.”

“Emang proposal buat lomba disetujuin?”

Ai si Er kamana waé? Lomba emang udah disetujuin. Cuman masalah dana belum cair aja padahal lomba tinggal tiga minggu lagi. Belum buat biaya publikasi, promosi ke sekolah-sekolah, bikin piala, sama hadiah. Akang aja yang KKN aja tahu soal itu.”

Hampura atuh, Kang. Kemaren konsentrasinya kepecah sama acara seminar di kampus yang diselenggarakan sama himpunan. Asli cape juga nanganin seminar nasional téh. Padahal cuman bagian humas doang tapi capeknya sama kayak seksi logistik.”

“Nah, kebetulan banget. Di sana lagi pusing soal humas tuh. Siapa tahu ada pencerahan setelah Er ke sana.”

Gedung sekolah memang tidak banyak berubah semenjak ditinggalkan dua tahun yang lalu. Hanya gedung yang saat itu sedang direnovasi kini sudah jadi. Ruang ekskul PMR sekarang sudah banyak berubah. Sekarang terlihat lebih rapi dari sebelumnya yang terasa berantakan. Aku memang tidak banyak mengenal alumni. Aku hanya mengenali teh Anita, kang Dirga, Asti, dan beberapa orang dari angkatanku yang hadir. Angkatanku memang bukanlah generasi emas seperti angkatan teh Anita, kang Dirga, bahkan Ikki. Soal urusan kekompakan, mereka jauh lebih baik. Bahkan angkatanku yang turut mendominasi jumlah alumni yang datang saat itu. Rapat berjalan lebih lama dari perkiraanku. Kulihat di saat jam istirahat pun wajah mereka masih tampak suram. Aku pergi bersama teh Anita untuk pergi makan siang.

“Er, Ikki sering cerita soal kamu. Kadang teteh ngerasa ia lebih perhatian sama kamu. Gak tahu kenapa.”

“Ah, itu mah perasaan teteh . Emang sejak kapan dia suka sama aku? Perasaan di pikirannya hanya ada teteh Anita seorang. Buktinya bisa bertahan sampe tiga tahun.”

“Ya teteh ngerasa iri aja kalo kalian berdua. Teteh aja sama Ikki gak bisa sedeket itu.”

“Itu mah tuntutan profesi. Lagipula aku sama Ikki di bawah naungan satu studio komik yang sama.”

“Apa? Komik? Sejak kapan dia bisa menggambar? Perasaan dia selalu bilang gambarnya itu jelek. Gambar pemandangan aja garisnya masih pétat pétot,” kulihat saat itu teh Anita sedang bicara sambil menirukan gaya Ikki.

Inilah yang sering membuatku bingung. Ikki selalu berkata gambarnya jelek padahal kemampuannya di atas rata-rata anggota Evening Primrose yang lain. Sampai sekarang pun aku masih tidak paham dengan jalan pikirannya mengenai gambar.

Saat itu aku dan teh Anita pergi menuju pujasera yang berada di seberang sekolah untuk makan lalu dilanjutkan sholat. Saat hendak membayar seporsi baso tahu, teh Anita terlihat sangat gelisah. Dompetnya tertinggal.

“Er, teteh balik ke sekolah dulu.”

“Gak usah, Teh. Biar aku aja yang bayar.”

“Gak apa-apa. Sekalian ngerecehin. Kalo tar bayar ke Er juga uangnya gede. Tunggu di sini ya.”

Entah perasaan ini membuatku sangat cemas. Kudengar suara rem mobil berdecit kencang di jalan depan. Jangan-jangan, teh Anita!

“Mang, tunggu bentar di sini.”

Kuberlari menerobos sela-sela kerumunan yang mengerubungi jalanan dan membuatnya macet sesaat. Rasanya aku khawatir dengan teh Anita. Kulihat teh Anita terduduk dengan wajah sangat syok hingga tak sanggup berkata apa-apa. Aku tak melihatnya begitu jelas oleh kerumunan orang yang anehnya tidak menolong teh Anita sama sekali.

“Teh, gak apa-apa?” lidahnya terlalu kaku untuk menjawab hingga kusadari percikan darah di pakaiannya. Astaga. Segera naluri pertolongan kulakukan. Tidak ada tanda-tanda fisik yang berarti selain kakinya yang terkilir. Darah itu. Kulihat teh Anita yang selama ini kukenal sebagai sosok perempuan tangguh mulai memperlihatkan pertahanan yang rapuh. Air mata mengalir begitu saja hingga aku tersadar. Darah itu mengalir dari tubuh sosok berkaus merah yang melindunginya dari kecelakaan. Aku harus tetap tenang. Ponsel. Di mana ponsel? Untung saja aku membawanya. Kulihat beberapa alumni yang baru saja kembali dari masjid tampak syok. Aku diminta untuk menjaga teh Anita sementara beberapa alumni pria termasuk kang Dirga mengawasi kondisi korban. Kang Dirga lalu berbalik mendekatiku yang tidak lepas dari rangkulan teh Anita yang basah.

“Nit, si pétét udah pulang. Tanda vitalnya sudah gak ada,” kang Dirga yang selama ini kukenal sebagai sosok lelaki cool pun tidak bisa menahan tangisnya.

Di saat terakhirnya, Ikki masih melindungi orang yang sangat ia cintai. Aku tak melihat jelas saat itu karena aku sedang menunggui baso tahu milik teh Anita yang sedang dibuatkan. Aku tidak menduga bahwa kebiasaan Ikki berubah belakangan ini adalah sebuah pertanda. Ikki selalu makan dulu baru sholat. Kali ini ia sholat dulu baru makan. Biasanya Ikki selalu mengulum permen loli saat sedang serius. Akhir-akhir ini kulihat Ikki yang rasanya aneh saat menggambar tanpa permen loli. Ikki hanya menggunakan pakaian berwarna merah di saat tertentu. Aku tahu warna merah adalah warna kesukaan teh Anita. Tak kusangka, kaus berwarna merah itu adalah pertanda terakhir bahwa ia akan pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Kutelpon saja ambulans untuk membuat perasaan teh Anita agar lebih baik. Reuni itu adalah reuni terakhir kami bersama Ikki.

******

Sudah genap dua tahun ia pergi meninggalkan kami. Kadang aku rindu saat-saat masih menjadi anak baru di PMR dengan senyuman yang selalu memberi semangat. Aku rindu dengan wangi bunga sedap malam yang selalu menyapa setiap kali memasuki ruang ekskul PMR. Aku juga rindu dengan lolipop yang selalu ia tawarkan. Senyumannya, gigi-gigi gingsul yang selalu terlihat jelas saat ia tertawa, aura ceria yang dipenuhi misteri, dan kadang aku masih mendengar suaranya terdengar di sela-sela kumpul bersama Evening Primrose.

Aku tak pernah bisa menyangka akhir dari cerita yang kualami sendiri. Tiba-tiba saja Hanif melamarku pada akhir tahun keduaku di universitas, suatu hal yang sangat mengejutkan mengingat saat itu kami sama-sama penyuka 2D. Bahkan ia mengatakan dengan terang-terangan tipe karakter idamannya alias waifu-nya adalah Chitoge. Ia sendiri adalah anggota #TeamChitoge saat Nisekoi belum tamat. Bahkan ia nekat datang ke rumah saat itu. Lucunya kami menikah sepulang KKN. Orang tuaku mungkin luluh dengan gigihnya usaha anak itu disertai dengan statusnya yang sudah berpenghasilan. Aku tahu ia adalah seorang penjual figma, nendoroid, dan seorang programmer berstatus mahasiswa seperti halnya kang Rian sewaktu kuliah dulu. Kampus kami memang berdekatan dan untuk menghemat pengeluaran ….

“Bisa gak sih gak berantem sehari aja?” Maya yang saat itu menggerutu di depan kamar kost terlihat kesal. “Kalau mau mojok pindah kost aja sekalian. Mentang-mentang ini kostan murah yang bisa bawa keluarga jadi aja seenaknya.”

“Ini lagi ribut soal Shokugeki. Dia pendukung garis keras team Erina. Cewek tsundere ganas kayak gitu mending ke laut aja.”

“Enak aja. Sudah banyak fakta membuktikan bahwa rambut gelap itu selalu kalah dengan tsundere blonde tahu. Pasti Tosh sengaja bikin plot biar Soma sama Erina,” dan bicara soal analisis, Hanif memang terlihat sangat serius.

“Dikirain ribut soal apaan ternyata ngomongin anime.”

Walau kenyataannya berstatus suami istri, tetap saja pasangan waifu dan husband 2D masih sama. Hanif masih setia dengan Chitoge sementara aku dengan Hei.

Ikki saat itu menjadi ilustrator utama dalam komik terbaru kami, The Eraser. Kehilangannya menjadi pukulan berat bagi kami. Tidak mudah mengganti seorang ilustrator yang sudah melekat kuat pada karakter tokoh dalam cerita itu. Kami putuskan saat itu dengan membuat sistem layaknya komik Amerika. Karakter dan style Ikki dijadikan acuan pembuatan karakter oleh artist lainnya untuk melanjutkan seri itu hingga tamat. Untung saja The Eraser tidak banyak menuai protes penggemar karena kemampuan anggota lain yang bisa meniru gaya Ikki secara persis. Seharusnya aku datang dalam peluncuran perdana komik The Eraser setelah selama ini dimuat berseri dalam majalah komik. Aku yang juga sebagai penulis skenario sebenarnya diundang. Sayangnya aku akan datang terlambat.

Aku tidak menyangka teh Anita bisa luluh di hadapan seorang kuudere seperti kang Dirga. Apa mungkin karena mereka selalu bersaing sejak zaman SMK lalu dipertemukan satu kantor lagi? Saat ini aku menghadiri resepsi pernikahan mereka baru pergi ke acara peluncuran The Eraser. Aku merasakan aura mereka seperti saat mereka saling berhadapan dengan tajam beradu kecepatan dalam pertandingan membuat tandu.

Saat itu aku menyadari bahwa hidup kita yang menjalankan namun Tuhan yang menentukan. Kita tak akan tahu apa yang terjadi di masa depan. Seperti halnya aku yang sekarang menikmati hidup sebagai seorang anggota circle Evening Primrose walaupun aku sendiri mahasiswi Informatika. Di samping juga sebagai teknisi komputer yang selama ini menjadi ranah laki-laki. Kang Rian benar soal itu. Sekarang aku malah menjadi ibu angkat dari anak kang Rian yang lucu. Aku juga tak menyangka menjadi nijikon akan membawaku pada cinta pertama dan tentunya cinta terakhir yang tak terduga. Cinta pertama memang tidak bisa dilupakan. Seperti halnya aroma sedap malam yang tertata rapi di sekitar pelaminan. Cinta terakhir adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri setiap detiknya.