Tayangan Lama Rasa Baru, Itu Bukan Remake

Bicara soal remake, ane kurang greget nonton MacGyver versi remake. Kangen MacGyver lawas yang biasa nongol di Trans7. Bukannya ane gak suka versi terbarunya. Ane kurang merasakan karakter Angus MacGyver sama ceritanya yang lebih baik di versi lawasnya.

sumber: The Best Damn Nerd Show

apa perlu minta Trans7 tayangin ulang seperti halnya tayangin ulang Empress Ki?

Bicara soal apapun yang bersifat jadul. Entah itu acara televisi, film, bahkan iklan sekalipun pasti ada yang berkesan di masa kecil kita. Belakangan ini ane malah doyan nonton segala sesuatu berbau jadul.

Berawal dari depresi malah jadi seneng nonton segala sesuatu berbau jadul. Pertamanya sih dari iklan lawas yang ada di YouTube. Salah satu saluran yang terkenal adalah Sanggar Cerita, saluran yang terkenal dengan iklan-iklan jadul Indonesia mulai dari era Manasuka Siaran Niaga pada tayangan Dunia Dalam Berita TVRI (dan ane pun baru tahu itu adalah era terakhir TVRI menayangkan iklan) hingga era awal 2000an. Salah satu hiburan ane di saat ane depresi berat setahun silam.

^ credit: akun YouTube Sanggar Cerita. Jangan lupa like dan subscribe. Ntar dipeluk sama mamih Sophia Latjuba dan Dessy Ratnasari XD

Tayangan lawas memang berkesan. Itu kalo dibuatnya dengan bagus. Setiap zaman pasti ada yang baik dan buruknya. Hal yang terbaik akan dikenang dan yang buruk pun terlupakan. Hal yang menarik dari tayangan lawas adalah mereka adalah orang-orang niat di samping keterbatasan dana dan teknologi yang ada. Contohnya film horor lawas Indonesia yang bisa bikin orang merinding disko *maaf Papa Bebi* tanpa harus membuat orang-orang jump scare. Properti yang dipakai pun sederhana: gincu sebagai efek darah, bilatung, ulat, kodok, sampai buaya hidup. Jika ingin ditambahkan buaya buntung dan buaya darat pun, leh ugha.

Belakangan ini sedang tren, baik di Indonesia maupun di dunia, membawa kembali nostalgia itu pada pemirsa. Tidak peduli mereka hidup di zaman saat tayangan tersebut itu sedang populer ataupun pemirsa baru yang berada di zaman now. Metode yang dihadirkan itu bertujuan tidak hanya untuk membangkitkan nostalgia semata. Ada yang sukses dan adapula yang tidak sebaik tayangan aslinya.

Cara untuk membangkitkan kenangan dari generasi sebelumnya dan rasa penasaran generasi muda itu beragam. Ada yang dikumpulkan dari sumber aslinya seperti pemilik saluran YouTube Sanggar Cerita. Ada yang menayangkan ulang versi asli dengan rasa kekinian (baca: remake) seperti MacGyver yang saat ane menulis baru tayang season ke-2. Adapula yang membuat kinclong versi lawas tanpa mengurangi cerita seperti sebagian film lawas yang tayang di ANTV dan Trans7 pada tengah malam.

Istilah dalam bahasa Indonesianya bisa jadi restorasi namun dalam istilah bahasa Inggris dikenal remastered. Jika ane menggunakan kedua istilah itu dalam tulisan ini, intinya sama saja.

Banyak film Indonesia yang direstorasi akhir-akhir ini. Hal itu menjadi bukti dari kecintaan sineas muda Indonesia yang ingin menyelamatkan sejarah Indonesia yang terekam dalam bentuk film. Film pertama yang direstorasi adalah film Lewat Djam Malam pada tahun 2012. Keberhasilan restorasi film tersebut tidak membuat para sineas muda Indonesia puas. Pada tahun 2016, SA Films berhasil melakukan restorasi pada film Tiga Dara karya Usmar Ismail. Film tersebut menjadi film Indonesia pertama hasil restorasi pertama yang tayang dalam format 4K. Film Tiga Dara pun mendapat predikat film restorasi 4K pertama di Asia yang bisa dilihat oleh umum.

Hasilnya, kita bisa mengetahui perkembangan sejarah dan budaya yang terekam dalam film-film Indonesia lawas. Penonton pun semakin penasaran dengan film-film yang sempat tayang di masanya. Tidak hanya film-film lawas populer seperti film Warkop dan horor Suzzanna.

sumber: Photobucket

tidak tahu saya pernah main film, sungguh … ter-la-lu!

Begitu pula dengan anime. Ane sering melihat anime lawas yang mengalami prosedur serupa untuk diluncurkan sebagai edisi spesial. Tentunya dirilis dalam Blu-Ray dan format gambar terkini. Biasanya anime lawas yang mengalami proses restorasi serupa diluncurkan dalam kondisi tertentu seperti ulang tahun serial tersebut tayang atau ulang tahun pembuat serialnya. Contohnya Gundam SEED versi remastered yang ditampilkan dalam format HD.

Masalah restorasi film Indonesia adalah berpacu melawan waktu untuk menyelamatkan peninggalan sejarah berharga. Banyak film yang ditemukan dalam ruang arsip Sinematek dalam kondisi buruk. Entah itu terpotong, berjamur, hingga ditumbuhi kristal. Pihak Sinematek mengakui pada salah satu media bahwa kebanyakan salinan film yang mereka terima bukanlah fresh copy. Kondisi penyimpanan film pun memprihatinkan. Banyak gulungan rol film yang disimpan dalam wadah berkarat. Bukan tidak mungkin lagi lembaran rol film akan rusak oleh karat. Hal ini diperburuk dengan kondisi iklim Indonesia yang tropis. Idealnya, rol film disimpan dalam ruangan bersuhu dingin. Kondisi iklim di Indonesia memudahkan film menjadi cepat rusak oleh jamur. Jadi diperlukan perhatian ekstra untuk merawat semua koleksi film yang ada.

Masalah restorasi pada anime lawas adalah seluloid. Ane tahu proses di balik layar pembuatan anime lawas dari album book Sailor Moon yang ada di rumah. Pada paruh akhir edisi buku kedua dari album book Sailor Moon dijelaskan proses pembuatan animasi Sailor Moon. Mulai dari membuat sketsa di atas lembaran seluloid, memberi warna, menggabungkan lapisan demi lapisan lembaran seluloid untuk dijadikan satu adegan, hingga proses akhir seperti sulih suara.

sumber: koleksi pribadi

sayangnya buku yang kedua hilang setelah pindah rumah ._.

Sebelumnya ane mencari referensi tentang restorasi film dan anime, dua hal yang belakangan ini ane lihat di televisi. Ane terkejut ketika melihat hasil penelusuran di internet mengenai restorasi anime. Proses restorasi anime tidak semudah melakukan restorasi film. Hal itu dikarenakan banyak frame seluloid yang berpindah tangan setelah produksi. Setidaknya jika jatuh ke tangan kolektor jauh lebih baik. Kolektor akan merawat koleksinya sebaik pihak pengarsipan. Sayangnya ada yang ditemukan terkubur dalam tanah setelah anime tersebut selesai dibuat. Jika ada yang masih disimpan, itu pun disimpan dalam laboratorium film yang pernah menangani anime tersebut.

Rekaman adalah salah satu bentuk catatan berharga dalam peradaban manusia apapun jenisnya. Entah itu dalam gambar seperti film, iklan, dan animasi atau suara seperti pidato dan lagu. Setiap generasi perlu menghargai dan merawat hasil peradaban kita dengan baik agar tidak lekang dimakan zaman. Setidaknya dengan upaya restorasi dari tayangan lawas, kita bisa belajar banyak hal. Mulai dari tren, budaya, latar belakang yang terjadi pada tahun tersebut, hingga cara sineas mengekspresikan pikiran mereka.

Iklan

Opera Sabun India yang Bikin Emak-Emak Perkasa

Ane emang seneng drama Asia gak peduli asal negaranya. Ane seneng nonton ATM 2 The Series, Hormones (adegan ena-ena di televisi nasional pas pagi-pagi … kelewat greget), Love Forward, Got To Believe (di Indo sih jadi Kaulah Takdirku), sampe serial biografi Imam Bukhari. Selama ceritanya gak menye-menye sama mbulet kayak kebanyakan sinetron India sih gak masalah.

Pertanyaannya, seneng nonton sinetron India juga? Ya selama ceritanya gak mbulet sama konflik saas-bahu ya ane tonton. Contohnya Naagin yang sekarang lagi tayang season 3.

Sebenarnya sinetron India udah lama nongkrong di televisi Indonesia dari zaman Mahabharata versi lawas. Itu zaman ane masih SD dan sering ditayangin ulang di Bandung TV. Memang sih gak rame kayak sekarang. Setidaknya pada masa itu ditayangin sampe tuntas gak terjegal gara-gara rating rendah. Satu hal yang ane inget adalah … ane sering diledekin Hanoman pada masa itu -.-” *hee Hanomaaaaan~!*

Ane penasaran. Apa sih yang bikin emak-emak pada doyan pantengin sinetron India sampe seharian penuh? Apa yang menjadi daya tarik dari sinetron India dibandingkan drakor apalagi sinetron?

Ane jadi inget cerita kocak soal salah satu wilayah di India yang lucunya melarang penayangan tayangan sinetron India (mau bahasa Hindi, Tamil, Telugu, Malayalam, dsb) tapi malah muterin drakor. Di sana malah lebih terkenal Lee Jong Suk daripada Mohit Raina saking populernya drakor di daerah itu.

Keterangan:

Sinetron India memang banyak diproduksi dalam bahasa Hindi. Mau buat konsumsi domestik melalui jaringan stasiun televisi nasional di India ato buat diekspor ke negara tetangga. Definisi bakal ane persempit menjadi “sinetron India dalam bahasa Hindi”.

Selain itu tulisan ini berdasarkan hasil pengamatan pribadi nemenin Emak ane nonton sinetron India di rumah.

Apapun yang Terjadi, Kudu Kelar Sampai Tamat

Gak pernah ada kasus sinetron India seperti sinetron Indonesia. Seburuk-buruknya rating dan ditinggal satu persatu pemainnya, tayangan harus berjalan terus. Gak ada ceritanya sinetron India yang ditamatin baru beberapa episode setelah tayang. Kasus terekstrim di Indonesia sih belasan episode setelah tayang.

Ini adalah hal unik yang ane gak pernah temuin di tayangan drama dari negara lain. Bahkan sinetron Indonesia sendiri pun mengadopsi pula sistem ini. Ya, India memang terkenal dengan show must go on dalam penayangan dramanya. Biasanya pemeran sinetron India diganti itu karena beberapa sebab. Ada yang ikut kompetisi seperti Jhalak Dikhhla Jaa aka Dancing with the Stars, ada yang jadwalnya bentrok dengan syuting film Bollywood, hingga pemeran aslinya meninggal dunia. Tokoh yang memerankan pemeran utamanya meninggal seperti pemeran Anandhi bukan berarti cerita keseharian keluarga Anandhi kudu tamat prematur. Pemeran Anandhi diganti dan cerita terus berjalan sampai tamat.

India memang dikenal dengan hal-hal aneh terkait tokoh dalam ceritanya. Hal itulah yang menginspirasi sinetron Indonesia melakukan hal serupa. Toh produsernya doyan nonton sinetron India. Bukan kata ane, itu kata seorang penulis skenario sinetron yang tidak mau diungkapkan identitasnya pada majalah Vice Indonesia. Ammar Zoni tersandung kasus narkoba bukan berarti Anak Langit tamat. Nah, biasanya buat memperkenalkan tokoh utama atau pemeran pendukung yang baru banyak caranya. Ada yang diceritain diculik, ada yang diceritain meninggal tahunya selamat terus mukanya ancur jadinya kudu oplas, ada yang muncul dari balik siluet, ada yang berjalan layaknya episode biasa seperti halnya kemunculan Toral Rasputra sebagai Anandhi, dan masih banyak cara untuk memperkenalkan tokoh yang sama dengan pemeran yang berbeda.

Penjara Kepenuhan Jadi Penjahatnya Banyak

sumber: ane, dibuat pake memegenerator

sinetron India kurang greget tanpa antagonis

Siapa yang tidak kenal ulah si Nenek Tapasya yang ngeselin tapi malah dikangenin? Rasanya bukan Uttaran tanpa kata-kata pedas dan nyebelin dari si nenek yang satu ini.

sudah wisuda yeay, ngapain kzl skripsi ditolak :v

Yup, nenek yang satu ini tipikal karakter antagonis yang lebih sering jadi bumbu penyedap daripada penjahat besar utama cerita. Di awal memang dia sebel sama Ichcha tapi bukan berarti dia tidak bisa rukun dengan Damini, ibunya Ichcha, dan Meethi, anaknya Ichcha, di season kedua. Nenek ngeselin yang satu ini terkenal dengan jargon “Demi Dewa!” dan “Bantu Kami Dewa” yang lebih sensasional dari “Demi Tuhan” versi Arya Wiguna.

Masih ingat dengan wajah ini? Jika tidak, selamat datang di dunia meme Indonesia!

Kalo kids zaman now ingat sosok Nenek Tapasya, anak zaman heubeul ingatnya Tuan Takur. Sosok yang kerap menjadi polisi rese dan selalu mengganggu tokoh utama apapun judul tayangannya.

Sosok antagonis dalam sinetron India merupakan bumbu wajib yang kudu banget ditambahkan dalam cerita. Gak selalu sinetron India membutuhkan antagonis. Contohnya Balika Vadhu yang justru tokoh antagonisnya memang korban keadaan di lingkungan sekitar. Nenek Kalyani yang kelihatannya antagonis padahal sebenarnya gak. Toh dia kelihatan antagonis di hadapan penonton karena murni berbeda prinsip dengan tokoh lainnya.

Biasanya tokoh antagonis di serial India itu adalah … mertua. Yup, pola seperti ini kerap ditemukan dalam genre saas-bahu yang berfokus pada kehidupan satu keluarga. Biasanya mertuanya itu seorang yang religius dan beda tipis sama Nenek Tapasya. Cuman Nenek Tapasya lebih condong ke nenek-nenek ngeselin kocak daripada tokoh penjahat sungguhan. Kalo gak mertua, tokoh antagonisnya itu orang terdekat si tokoh utama yang terbakar api cemburu lalu melakukan segala hal untuk mencapai ambisinya. Contohnya Kalawati di Nakusha yang motif di balik kejahatannya adalah dia cemburu dengan Dutta yang merupakan seorang anak angkat namun memiliki kasih sayang penuh dari ibunya.

Tokoh antagonis di awal memang sudah jelas. Seiring dengan berjalannya waktu, tokoh antagonisnya pun malah bertambah banyak. Modus yang dilakukan tokoh antagonis yang muncul sesudahnya biasanya melakukan segala cara. Mulai dari menusuk tokoh utama dari belakang hingga melakukan kejahatan pada tokoh antagonis yang muncul di arc sebelumnya. Tokoh antagonis ada juga yang berubah jadi netral seiring berjalannya waktu seperti Nenek Tapasya. Ada juga yang tokoh antagonisnya memang jadi bumbu lelucon seperti bibi Urmila yang selalu ketangkap basah sama bibi Kokila.

Demi Rating! Bukan Kata Nenek Tapasya

Bicara soal tokoh antagonis yang kebanyakan, rasanya bikin orang-orang greget dan kesel. Ane pernah baca artikel yang mewawancarai salah satu pemeran antagonis yang sering muncul di sinetron, ane lupa siapa artisnya. Dia mengaku sering banget dihujat dan diumpat setiap lagi bepergian ke tempat ramai seperti mal. Dia dikatai seperti itu malah senyum-senyum aja. Dia bicara pada media kalau banyak orang yang sebel sama dia berarti aktingnya sangat bagus hingga dikenal masyarakat sebagai “si penjahat” dalam sinetron.

Keberadaan tokoh antagonis itu emang bikin greget. Apalagi kalo ceritanya berakhir dengan cliffhanger alias gantung di akhir episode pada bagian tokoh antagonis sedang beraksi. Semakin greget sebuah cerita biasanya berbanding lurus dengan rating yang diterima suatu acara. Biasanya ibu-ibu itu doyan banget ngerumpi. Acara semakin rame pasti banyak dibicarain. Normalnya cewek emang gak mau kalah dan pengen eksis. Ujung-ujungnya ya ngikutin hal-hal yang jadi topik pembicaraan.

Tak heran. Sinetron India identik dengan episode yang panjang. Minimal lima puluh lah.

sumber: 1CAK

Namun apa yang terjadi sebenarnya di balik episode sinetron India yang ratusan? Apa prosesnya sebanyak lapisan wafer Tango?

India memang gak sembarangan dalam bikin sinetron. Di balik sinetron yang episodenya ratusan bahkan ada yang nembus ribuan, ternyata ada kerja sama tim yang solid dalam rumah produksinya. Mereka sering mengadakan rapat hanya untuk membahas soal rating. Produser mencari tahu tren yang sudah ada atau belum ada di televisi. Pihak rumah produksi melakukan analisis soal rating lalu hasil analisis tersebut diutarakan dalam rapat. Penulis skenario memaksimalkan bagian yang dianggap memerah rating yang besar seperti cerita yang berfokus pada keluarga besar. Sutradara pun tidak mau kalah dengan mengambil gambar yang sebisa mungkin menarik simpati penonton. Kerja sama tim yang kompak membuat sinetron India pun tetap bertahan dan menjadi raja di negerinya. Bahkan aktor dan aktris Bollywood pun kerap muncul untuk mempromosikan film terbaru mereka dalam tayangan sinetron yang sedang tayang.

Nah, kapan di Indonesia bisa seniat di India dalam produksi sinetron? Maksudnya ambil yang positif buang yang negatifnya lho.

Artisnya pun Gak Selalu Kenal

Itu adalah pengakuan jujur dari artis India yang belakangan ini banyak datang ke Indonesia. Ane pernah baca tulisan yang dimuat di laman UC News, ternyata sesama artis India banyak yang tidak saling mengenal. Hal itu dikarenakan jadwal syuting mereka yang padat untuk sinetron yang kejar tayang. Jika ada yang kenal pun pasti melalui pihak ketiga. Misalnya acara Big Brothers yang populer di India dan ketemu lewat Pesbukers.

Iringan BGM yang Selalu Ada

Satu yang khas dari sinetron India adalah BGM aka musik latar. Ada yang asli dibuat untuk sinetron itu, ada yang muncul di judul sinetron lainnya, dan adapula yang diambil dari film Bollywood terkenal.

^ lagu ini aslinya dari film Bollywood, cuman di Indonesia banyak yang kenal lagu ini dari Ranveer dan Ishani aka Meri Aashiqui Tum Se Hi.

Satu hal yang unik dari BGM sinetron India adalah jarang ditemui adegan yang bebas dari BGM. Berbeda dengan drama Korea, dorama Jepang, teleserye Filipina, bahkan sinetron Indonesia. Selain itu banyak BGM yang suara instrumennya dari suara manusia. Contohnya BGM Uttaran yang sering dijadikan bahan meme anak muda.

Dung tarara dung dung tarara dung (bahkan BGM ini nyasar di Jepang semenjak webtoon Terlalu Tampan pun populer di Jepang)

India sebenarnya bisa bikin BGM seniat OST drama Korea. Dibuat oleh artis terkenal turut populer seiring dengan popularitas drama tersebut. Sejauh ini ane baru nemu sinetron India yang membuat album kompilasi soundtrack seperti drama Korea: Ishqbaaz. Popularitas Ishqbaaz di sana membuat para fans sering memutar lagu-lagu yang sering muncul dalam tayangan tersebut. Seperti halnya lagu Tum Hi Ho yang populer karena Meri Aashiqui Tum Se Hi tayang di Indonesia.

Hal menarik lainnya dari BGM di India adalah jebakan emosi. Banyak adegan dengan BGM serius tapi ujung-ujungnya malah berubah jadi bercanda. Contohnya setiap kali adegan Rishabh muncul dengan Raina dalam Brahmarakhsash. Berbeda dengan sinetron Indonesia yang adegan menjahili orang dengan gaya serius pun pakai BGM konyol. Selain itu banyak ditemukan instrumen tradisional India dalam BGM yang mengiringi setiap adegannya. Suatu hal yang langka ditemui pada drama Asia lainnya yang bertema modern. Jika ada sentuhan alat musik modern pun pasti dengan ciri khas yang India banget.

Ane jadi penasaran. Kapan ya Indonesia menyertakan BGM dengan sentuhan gamelan, angklung, tifa, kolintang, sasando, dan alat musik tradisional lainnya dalam sinetron?

Tiada Hari Tanpa Sembahyang

Orang India adalah orang yang religius apapun agamanya. Agama memang tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat di India.

Ini adalah satu hal yang unik dari drama Asia yang satu ini. Kalo di sinetron Indonesia adegan sholat itu hanya muncul sewaktu orangnya ditimpa kesusahan, di sinetron India adegan sholat pun muncul di saat suka maupun duka. Contohnya pada Jodha Akbar dan Beintehaa. Begitu pula dengan agama mayoritas di sana, Hindu. Pasti ada episode yang menceritakan ritual keagamaan Hindu termasuk hari raya besarnya. Contohnya festival Holi, puasa Karva Chauth, Diwali, dan lain-lain. Bahkan ane pernah nemu salah satu episode sinetron India yang tokohnya pun masuk ke bilik pengakuan dosa, salah satu cara peribadatan umat Katolik. Sayangnya sinetron India di TV Kabel tidak ada takarir bahasa Inggris apalagi Indonesia jadi ya gak terlalu ngerti ceritanya.

Penceritaan karakter dalam sinetron India, terutama masalah agama, itu sangat jelas. Seorang muslim digambarkan sebagai seorang muslim dengan sholat, ngaji, beserta ibadah lainnya. Seorang penganut Hindu digambarkan jelas dengan ritual puja yang tidak pernah absen dari sinetron India. Seorang Nasrani pun digambarkan jelas dengan aktivitasnya yang berkaitan dengan gereja. Bukan sekedar tempelan semata dalam cerita seperti halnya sinetron Indonesia yang mendadak religius pada momen bulan Ramadhan.

Satu Keluarga Kumpul Rame-Rame

Hal yang paling menarik dari sinetron India: keluarga besar. Saking besarnya, tiga generasi bisa tinggal satu atap.

Memang drama Asia banyak yang ceritanya berfokus pada keluarga. Di Indonesia sendiri ada sinetron legendaris Keluarga Cemara. Drama Korea dengan weekend drama yang temanya berpusat pada keluarga. Dorama Jepang yang ceritanya banyak tentang keseharian keluarga. Tapi tidak ada yang menceritakan keluarga seintens sinetron India.

Salah satu ciri khas dari sinetron India adalah: satu keluarga ngumpul rame-rame dengan kamera diarahkan bergantian pada setiap anggota keluarga. Biasanya hal itu muncul jika konflik yang dialami si tokoh utama itu mengejutkan pihak keluarga. Durasinya pun bisa sampai 5 menit untuk satu adegan dengan satu keluarga ngumpul rame-rame.

Ada yang bilang kalau tayangan film itu dapat mencerminkan kebudayaan suatu bangsa yang terdapat di masa tersebut. Contohnya sinetron India. Ane belajar dari sinetron India kalo di sana sangat menghormati orang tua. Hal yang serupa yang biasa ane temukan dalam drama Mandarin. Perkataan orang tua di sana sifatnya mutlak seperti halnya emak-emak bawa matic di jalan. Makanya bisa muncul genre saas-bahu pun akarnya dari sana. Selain itu, biar sudah menikah pun masih tinggal satu rumah dengan orang tuanya. Biasanya pihak perempuan yang tinggal di rumah keluarga suami. Itu sebabnya cerita dalam sinetron India pun bisa sampai lintas generasi.

Satu Episode Setara Sepuluh Episode

Kasarnya memang seperti itu. Itu hasil konversi naif ane yang mengetahui jumlah episode adaptasi Hana Yori Dango versi India itu sepuluh kali lipat daripada episode Boys Before Flower. Sebenarnya itu adalah salah satu strategi pihak rumah produksi di India untuk menaikkan rating.

Durasi sinetron India ada yang 30 menit dan 1 jam bergantung pada temanya. Kalo sinetronnya tayang mingguan seperti Naagin durasinya 1 jam. Sebenarnya kalau ceritanya dimampatkan bisa seperti adaptasi The Good Wife versi Korea. Episode aslinya di Amerika ratusan namun berhasil diekstrak jadi 16 episode yang memuat konflik utamanya saja. Kebanyakan penceritaan dalam sinetron India terbilang lambat. Contoh ekstrimnya sih mirip arc Dressrosa di One Piece yang ternyata kejadiannya berlangsung dalam satu hari namun diceritakan dalam puluhan episode.

Percakapan antartokoh terbilang lambat. Lebih mirip cara narator membaca narasi pada tayangan anak-anak. Satu tokoh saja bisa menjelaskan satu masalah bisa sampai 1 menit.

Hal itu belum termasuk adegan “satu keluarga kumpul rame-rame” yang ane singgung sebelumnya. Uttaran adalah salah satu contoh sinetron India yang durasi adegan tersebut terbilang lama. Belum pula ditambah adegan tokoh antagonis sedang beraksi plus monolog berisi isi pikiran jahatnya.

Bukan Opera Sabun India tanpa Sesuatu yang India Banget

Sesuatu yang India banget? Banyak.

Salam di India dengan cara merunduk sambil menyentuh kaki orang yang lebih tua. Generasi yang lebih muda sering mengucapkan salam sambil diiringi berkat dari orang tua.

Biarpun pakaian sudah modern, tetap saja sari menjadi pilihan utama. Pakaian tradisional India pun tidak kalah dengan zaman. Banyak sinetron India bertema kehidupan perkotaan yang tokohnya masih menggunakan pakaian tradisional dengan desain modern nan elegan. Kata siapa pakai pakaian tradisional gak bisa kekinian? Belajarlah dari India.

Orang India kadang menggelengkan kepala saat sedang berbicara. Cara menggelengkan kepalanya pun terbilang khas dan mudah dijumpai dalam setiap sinetron India.

Ini hal yang unik. Kalo di Indonesia, semakin tajir orangnya semakin cetar perhiasannya. Contohnya Angel Lelga, Syahrini, dan Hotman Paris Hutapea yang terkenal dengan penampilan wownya. Kalo di India, adanya kebalik. Penduduk yang tinggal di desa lebih banyak menggunakan perhiasan dibandingkan dengan penduduk di kota. Perhiasannya pun tidak tanggung-tanggung: perhiasan emas yang beratnya hampir 1 kg jika ditimbang dari ujung rambut hingga ujung kaki. Perhiasan lebih banyak digunakan lagi pada upacara pernikahan.

Hampir tidak ada perempuan berambut pendek dalam sinetron India. Sependek-pendeknya rambut tokoh perempuan, tidak lebih pendek dari sebahu.

Soal fanservice? Minim. Jarang ane temui perempuan dalam sinetron India yang mengenakan pakaian seksi ataupun memperlihatkan lekuk badan. Apalagi pakai rok mini atau hot pants. Begitu pula adegan roti sobek aka tubuh six pack yang bikin cewek klepek-klepek. Ada ciuman pun hal yang umum terlihat hanya cium kening, cium pipi, dan cium tangan.

Polisi yang rese kayak Tuan Takur? Masih suka muncul kok.

Sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa ane tulis. Cuman ane harus observasi lagi dan itu memakan waktu lama untuk menulisnya. Intinya, setiap drama Asia apapun asal negaranya memiliki benang merah yang sama: sopan santun dan budaya timur yang masih melekat kuat tercermin dalam ceritanya.

Cari Harta Karun dari Tumpukan Karya

Belakangan ini ane baru sadar kalo preferensi ane lebih condong ke literatur. Gara-gara dari kecil ditinggalin mulu di rumah tetangga di depan tipi, doyan nonton anime habis sholat Subuh di hari Minggu dan sering nonton bareng drakor sama kakak ane, sebut saja Bubu. Ane juga terbilang introvert. Biar ane seneng ngumpul bareng temen deket, toh ane demen menyendiri. Orang-orang terdekat ane tahu persis kebiasaan ane pas lagi sendiri. Gak bakal jauh dari gambar, nulis, nonton, dan baca.

Ada koneksi internet tapi sengaja ane batasin. Kasihan aja ama ortu yang bayar biaya internet bengkak gara-gara anaknya tukang unduh film. Kondisi harddisk ane emang sekarat. Mau eksternal ato internal laptop pun isinya habis sama data-data penting. Kebanyakan sih backup OS sama film. Unduh film pun gak boleh sembarangan. Masa iya unduh anime ecchi di saat keponakan ane yang masih balita berseliweran nebeng nonton di kamar? Mau beli buku di toko buku pun bingung mau pilih yang mana. Niat ke toko buku pengen beli buku yang ada di daftar barang inceran tapi kenyataannya malah beli lebih banyak daripada daftar. Pas ada film rame di bioskop, pas banget lagi bokek. Ane memang belum punya duit. Toh belum saatnya ambil barang dagangan yang dititipin di warung. Intinya kondisi ane sekarang dengan hobi ane pun sering bertentangan makanya kadang ngerasa serba salah.

Berawal dari masalah itulah, ane terbilang selektif dalam memilih hal-hal berbau literatur. Di mata ane, duit 500 perak, memori 1 KB, dan kuota waktu/volume internet itu sangatlah berharga. Efek samping terlalu lama jadi anak kost ditambah tinggal serumah sama bocah-bocah kali ye.

Tanpa basa-basi, ini dia trik yang biasa ane lakukan buat mengatasi masalah tersebut.

Sampul Sering Menipu Kok

Intinya cuman dua. Baca ya baca aja. Nonton ya nonton aja. Kok bisa ngomong gitu? Pengalaman pribadi.

Ada dua contoh yang mungkin gak asing lagi di telinga. Tahu SAO sama The Sound of Your Heart? Kalo gak tahu ya silakan tanya si mbah. Kalo masih ada yang gak kenal ane kasih contoh yang lebih familiar sama orang Indo. Tahu Tahilalats? Gak tahu berarti kurang a-en-je-a-ye *jangan dinyanyiin dengan logat Young Lex*.

Lho kok jadi kepikiran embed video ini sih? Anggap aja penulisnya lagi setengah ngantuk jadi ngaco.

Padahal Tahilalats kalo soal artwork masih kalah sama Maghfirare apalagi CERGAROMA. Kok banyak yang demen ya? Jawabannya … Tahilalats itu punya kelas terutama dalam masalah humor. Tuh ‘kan mulai ketipu sama sampul lagi ‘kan?

Ane banyak belajar dari anime dan komik kalo gak selamanya cover ketjeh badai itu berbanding lurus dengan isinya. Contohnya SAO. Banyak yang bilang SAO itu overrated. Secara kualitas anime, di samping artwork, banyak fans yang menyayangkan adaptasinya terutama fans LN kelas kakap. Orang-orang liat “sampulnya” jadi ekspektasi mereka tinggi. Kenyataannya banyak yang ngasih nilai rendah terutama di situs review anime dibandingkan dengan anime lain yang tayang di season yang sama. Itu hasil review SAO yang arc pertama sama Alfheim Online. Ane gak ngikutin jadi gak tau review pas adaptasi arc GGO ke sana.

Kalo The Sound of Your Heart itu kebalik. Salah satu webtoon paling sepuh di Naver yang kata orang gambarnya itu jelek. Mereka berpikir ceritanya sama jeleknya dengan gambarnya. Eh tahunya malah jadi webtoon yang ceritanya tersembunyi di balik gambar jelek dan sudah diadaptasi jadi drama. Pemainnya Lee Kwang Soo loh. Siapa sih yang gak kenal sama jerapahnya Running Man?

Jadi, pepatah “don’t judge a book by its cover” sangat berlaku dalam memilih buku, bacaan, dan tayangan yang menurut kita baik.

Kembali ke Selera dan Prioritas

Tanya deh ke diri sendiri.

Ente demennya apa?

Setiap orang seleranya beda-beda. Cewek gak selalu shoujo dan cowok gak selalu shonen. Makasih buat Hanif, Alwan, dan Riko—para lelaki baper pecinta romance—yang menyadarkan ane soal selera cowok.

Kita gak perlu deh ngikut-ngikutin kata orang ato tren yang lagi rame saat ini. Sekarang lagi rame film Pengabdi Setan versi remake di bioskop tuh. Kalo emang kita demen Ryan Gosling terus pengen lihat aksi terbarunya dalam Blade Runner 2049 ya nonton itu aja. Beda kasus kalo emang ditraktir nonton. Hohohoho! Hidup great-o-ngan!

Kita juga gak perlu maksa orang lain buat suka hal yang kita suka. Baru kemaren ane chat sama salah satu partner-in-crime di guild, Muklis. Emang sih udah pensi main tapi silaturahim masih jalan terus. Kemaren ngomongin soal webtoon gara-gara ada webtoon baru yang tentang gender bender. Bukan tukeran badan kayak Kimi no Na wa dan kutukannya lebih permanen dari Ranma 1/2. Toh Ranma masih bisa balik lagi jadi cowok pas diguyur air panas. Lah ini jadi cewek tulen primadona sekolah. Soal selera webtoon-nya emang beda. Ane tahu dari chat kalo Muklis itu demen Flawless. Ngapain juga maksa dia buat baca Super Secret kalo doyannya Flawless mah.

Jangan lupa inget prioritas. Duit sama kapasitas penyimpanan tuh pikirin. Jangan seenak jidat gunain tanpa sebab. Masa kudu korbanin duit cadangan akhir bulan buat nonton gak jelas ato folder tugas kantor buat nambah koleksi drakor?

Buat daftar urutan dari yang paling pengen dibeli/ditonton sampe paling biasa. Taruh daftar di tempat strategis biar inget. Jadi pas mau nonton/unduh/beli pun gak ada rasa bersalah. Ane sendiri biasanya cuman nulis yang paling ngebet dibeli buat disimpen di papan pengingat yang ada di kamar. Urusan unduhan ane simpen di desktop biar gak lupa.

Harusnya ane tulis bagian ini di terakhir cuman ane tulis di awal. Alasannya ya kalo nonton/baca tanpa tahu selera pribadi malah nambah bingung buat cari yang pas.

Anggap Saja Lagi Laper

Orang laper pasti langsung santap apapun makanan di hadapannya ‘kan? Begitupun dalam memilih bacaan atau tontonan. Seperti yang ane utarakan pada bagian sebelumnya, selera pribadi itu penting untuk memilah konten agar tidak menambah rasa bersalah. Kasarnya … masa iya balita dikasih ecchi?

Baca/nonton di luar selera pribadi? Boleh kok asalkan tetep inget sama prioritas kita kalo emang tujuannya buat koleksi. Preferensi pribadi ane condong ke drama, slice of life, seinen, fantasi, sama komedi. Gak jarang juga ane nonton romance, horor, misteri, sama fiksi ilmiah.

Nah, biar kita tahu karya yang bagus buat koleksi ya nikmati aja selagi ada. Komik bisa baca dari mangascan, situs webtoon (bisa Line, Comica, Ngomik, sama Ciayo kalo yang lokal), majalah komik, ato baca serinya di taman bacaan terdekat. Buat film bisa streaming, liat di TV, ato nongkrong ke bioskop terdekat.

Kontennya bertebaran tuh. Tinggal nunggu kita buat nonton ato baca. Mudah ‘kan?

Kenali Ceritanya

Sambungan dari bagian sebelumnya. Sebenarnya sih bisa disatuin cuman ntar malah jadi susah fokus buat nulis. Hehe.

Masalahnya udah ane paparin di bagian sebelumnya. Sudah jelas “sampul” sering menipu. Selera kita beda-beda. Satu-satunya cara biar tahu karya itu layak buat dikoleksi ya cuman nikmatin. Nah, gimana cara menikmatinya?

Biasanya kalo film itu selalu ada teaser dan trailer. Sekarang zamannya internet jadi bisa lihat di mana aja. Sebelum kita putuskan untuk nonton, lihat dulu trailer-nya. Sesuai dengan preferensi kita? Bikin kita malah tertarik? Bikin kita semakin gak sabar buat nunggu tayang? Udah nemu yang sreg sama selera kita … sikat breh!

Masih bingung gara-gara teaser dan trailer? Coba deh cek sinopsisnya. Biasanya sinopsis suka muncul di awal buat jelasin “ini tentang apa sih?” biar kita tertarik. Sering kok ada sinopsis film yang mau tayang di situs bioskop ataupun di media cetak. Cari aja siapa tahu ada yang kecantol.

Film di bioskop itu resiko nyeseknya lebih gede. Apalagi kita gak jeli. Kalo bicarain nonton serial televisi sama buku sih masih gampang.

Buat serial televisi sama buku, cukup aja simak 10 episode awal. Gak sanggup ato episodenya pendek kayak drakor? Toh 5 episode awal pun cukup. Soalnya gini. Banyak orang yang langsung drop satu serial gara-gara episode-episode awalnya doang. Kasarnya sih cuman kulit arinya doang yang disentuh. Belum sampe lapisan epidermis apalagi dermis. Tahu kulitnya doang sih mana tahu ceritanya rame ato kagak.

Contohnya banyak. Tahu Cheese In The Trap? Ane gak tertarik baca Cheese In The Trap gara-gara  sering baca komik genre romantis yang alurnya ketebak jadi mikirnya biasa aja. Ane bertahan gara-gara salah satu komentar penggemar soal episode 11. Dia bilang awalnya emang membosankan namun plot dan konflik sebenarnya mulai dari episode 11. Ternyata komentar si penggemar itu memang benar. Cheese In The Trap emang manhwa genre romance yang gak biasa dalam penceritaan dan alurnya sendiri banyak teka-teki. Itu sebabnya di Korea sendiri fans-nya banyak dan ane denger bakal diadaptasi lagi jadi film di Korea sana.

Sebenarnya banyak harta karun seperti Cheese In The Trap cuman kitanya aja yang males. Males buat liatin episode-episode awal malah seenak jidat kasih cap buruk gara-gara cuman lihat 3 episode. Ane jadi inget drama di bagian komentar Helck yang seenak jidat menyatakan Helck itu gak rame. Begitu pun dengan komentar orang-orang yang banyak drop World Trigger gara-gara episode awalnya. Dulu juga ane pernah ngerasain kayak gitu juga. Malah di salah satu komik pembantai ranking di situs mangascan, Noblesse. Ane dulu iseng baca Noblesse karena saat itu masih nangkring di peringkat teratas situs sekitar tahun 2012. Ane drop gara-gara awalnya gak menarik. Baca lagi pun pas 2017 di saat banyak webtoon favorit ane berguguran tamat. Eh tahunya malah jadi keterusan sampe lewat arc Muzaka lawan Maduke.

Intinya, semakin kita kenal episodenya ya pertimbangan buat lanjut semakin besar. Udah puas dengan satu seri ujung-ujungnya koleksi.

Kenali Orang-Orang di Belakangnya

Kalo kita gak tahu apapun soal karya terbaru, bisa gunakan referensi dari karya sebelumnya.

Ane baca Silver Spoon gak cuman karena ceritanya yang gak biasa. Ane tertarik karena itu karya lain dari mangaka Full Metal Alchemist dan referensi dari omake di buku terakhir Claymore. *sayangnya duit ane masih kurang buat tebus si Butadon di Gramedia T.T* Ane nonton Hong Gil Dong versi 2009 gara-gara tahu penulis naskahnya Hong Sisters. Gak apa-apa telat daripada nyesek pas ongoing. Ane baca Hana Haru karena pengarangnya Seok Woo, pembuat Orange Marmalade. Ane nonton Click sama Grown Ups gara-gara pemainnya Adam Sandler.

Kadang cara ini berhasil tapi kadang juga gak. Biasanya kalo kita mengandalkan referensi ini pasti ekspektasinya pun tinggi. Resiko nyeseknya itu paling besar bila tahu orang yang ada di baliknya itu greget tapi hasil malah jauh dari harapan.

groadat feels ._.

Pilih dengan bijak

Hanya dengan melihat pun kita bisa tahu karya itu cocok untuk dikoleksi atau tidak. Contohnya seri Anne of Green Gables yang nongkrong di rak buku rumah ane. Pertamanya nemu gak sengaja di perpustakaan terus pinjem. Ane kira ceritanya gak menarik eh tahunya keterusan. Akhirnya biar gak bolak-balik perpustakaan mulu ya ane beli. Untung aja nemu di bursa buku murah pas kunjungan ke Mizan kemaren. Emang sih gak komplit tapi setidaknya puas. Fufufufufu!

Buat serial televisi ato komik sih mau diterusin apa gak? Semua kembali dari kita yang ikutin cerita.

Sensor itu Kembali Lagi pada Diri Kita

Ane jadi inget dua sindiran keras tentang sensor televisi di Indonesia. Pertama, dibuat oleh seniman Indonesia dalam rangka memperingati ulang tahun KPI. Ane pernah lihat liputannya di berita. Kedua, episode webtoon Next Door Country.

Sensor di Indonesia memang kelewat batas malah cenderung absurd. Salah satu yang paling sering dijadikan guyonan di internet dalam bentuk meme adalah SpongeBob Squarepants. Siapa yang tidak kenal dengan Sandy Cheeks? Sosok tupai cerdas dari Texas yang kerap menghentikan SpongeBob berbuat yang tidak pantas.

sandy-cheeks-meme
sumber: storify

awas badai Sandy (Sandy) … prikitiew!

Lembaga Sensor Film saja merekomendasikan budaya sensor mandiri pada masyarakat luas. Ini adalah liputan Antara biro Jawa Timur mengenai sosialisasi budaya sensor mandiri yang diunggah pada akun YouTube Antara.

Padahal menurut ane sensor dari lembaga sensor saja sudah cukup. Sisanya ya balik lagi ke diri kita. Ane pernah nonton di Kompas TV yang menghadirkan LSF sebagai narasumbernya. Dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya LSF, pihak LSF sendiri menganjurkan masyarakat agar melakukan sensor mandiri. Toh menurut pihak LSF, masyarakat sekarang sudah cerdas. Terlebih lagi sekarang kita berada di era digital yang memungkinkan kita mengakses informasi tanpa batas melalui internet. Pihak LSF sendiri pun kewalahan menangani masalah itu. Pertama karena minimnya sumber daya manusia yang kompeten bekerja di LSF. Kedua karena arus informasi sekarang memang sulit dibendung khususnya konten-konten film. Sekarang ‘kan zamannya streaming di internet. Beda kalo dulu yang cuman mengandalkan bioskop, televisi, tayangan CD/DVD/Blu-Ray, dan jaringan TV kabel.

Tapi semua berubah semenjak KPI menyerang. Banyak anak muda yang menyayangkan perilaku KPI yang kelewat batas. Padahal menurut ane sensor dari LSF sudah cukup. Toh pihak LSF sendiri gak sembarangan dalam melakukan sensor.

Gimana caranya tetep bisa melakukan sensor tanpa mengurangi esensi keseruan dari film yang bakal tayang?

Itulah prinsip yang dipegang oleh LSF selama ini. Anehnya, kinerja LSF diperberat lagi dengan adanya sempritan KPI yang memaksa tayangan yang mulanya lulus sensor malah disensor ulang berdasarkan “permintaan” KPI. Lah pihak LSF sendiri mengaku kesulitan melakukan sensor film yang akan ditayangkan di televisi. Kebanyakan film sekarang dalam format digital. Tahu sendiri lah gimana proses penyuntingan video di balik layar. Kudu dicek satu-satu, edit, pemeriksaan ulang, baru render. Proses render pun gak sejam kelar. Beda kayak sensor film era Suzzanna sama Warkop yang cukup potong pita terus sambung lagi buat pemeriksaan ulang. Ane tahu proses itu dari episode Kindaichi yang pembunuhannya bermotif film Tragedi Scorpion.

Banyak orang yang menyayangkan sensor dan sempritan KPI yang kelewat absurd di internet. Jauh lebih buruk dari “sinar dewa” yang sering muncul di anime ecchi.

Sandy ‘kan tupai. Masa tupai pake bikini aja disensor? Berarti hewan yang notabene telanjang juga disensor?

Kok robot bagian dadanya disensor? Itu robot lho. Emangnya ada yang mau ena-ena sama robot?

Masa Ji Eun Tak ngobrol sama geng hantunya eh si hantunya kena sensor? ‘Kan hantunya gak serem.

Apa yang salah dengan memerah susu sapi? Emangnya jorok ya sampe perlu disensor?

Kok Tsunade sama guru Kurenai sama-sama disensor? Apa kabarnya dengan penyanyi dangdut yang “lebih ganas” di TV?

Kenapa adegan SpongeBob banyak disensor sementara adegan berantem sama geng motor di sinetron gak?

Ih kesel. Kok malah bagian ramenya sih yang dipotong? *banting TV*

Itu sebabnya banyak anak muda zaman sekarang lebih memilih nonton YouTube daripada nonton TV. Pertama karena sensor kelewat absurd. Kedua ya pasti dikuasai emak-emak buat nonton pelem India. Secara gitu lho emak-emak! Bantah dikit aja kelar hidup lo! *ngacir pas Emak ane lewat*

emak-ijah-setrong
sumber: 1CAK

apalagi emaknya kek gini, tsadeest!

Lah, kenapa sih KPI ngasih sempritnya keterlaluan? Kok seakan-akan malah bertentangan dengan LSF yang menganjurkan sensor mandiri?

Pertama, mereka berpikir televisi itu ditonton semua orang di rumah. Ekspektasi begitu. Realitanya cuman emak-emak sama pembantu yang nonton TV. Anak-anak doyan nonton YouTube. Malah sekarang lebih hafal lagu Baby Shark daripada Mars Perindo.

Anak yang udah gedean paling streaming Running Man, drakor, ato vlog orang terkenal di YouTube. Kalo yang cewek. Cowoknya gak bakal jauh dari The Walking Dead, film barat padahal torrent, anime, sepak bola, sama YouTube Gaming/Twitch. Bapak-bapak pun jarang nonton di rumah. Paling nongkrong di pos ronda, pangkalan ojek, ato gedung serbaguna kalo lagi tanding bola. Khususnya Liga Inggris, Liga Champions, Liga Indonesia, sama Timnas yang lagi tanding.

Kedua, kebanyakan orang Indonesia itu males mikir. Nonton ya nonton aja. Masa bodoh ada bocah di deket TV. Salahnya gitu sih. Coba jadi orang tua ato kakak peka sedikit pas lihat anak kecil nonton TV. Masa gue nonton Saw ya gak etis.

Ketiga, stasiun televisi tidak senetral dulu lagi. Emang sih dulu juga gak netral cuman tidak separah sekarang. Nyatanya TVRI di zaman Pak Harto pun masih lebih waras daripada stasiun televisi sekarang. Semua berubah sejak era korporasi memiliki lebih dari satu stasiun televisi hingga diprotes para pemilik stasiun televisi swasta di KPPU. Gak usah sebut nama, orang-orang sudah tahu kok. Sejak saat itulah kancah penyiaran televisi Tanah Air kacau balau. Stasiun televisi digunakan untuk kepentingan pribadi si empunya. Ada sih yang netral dan masih aman ditonton seperti TVRI, NET, dan RTV.

Harusnya sensor yang bener itu gimana sih? Sensor yang digunakan pun ada dua. Berasal dari pihak luar seperti LSF dan dari diri sendiri.

Misalnya kita ini penyanyi dangdut. Kok ngatain jadi penyanyi dangdut? Toh emang penyanyi dangdut itu paling sering kena semprit dibandingkan personel JKT48 apalagi anggota GFRIEND yang kemaren isi Music Bank di Jakarta.

Coba deh kita jadi penyanyi dangdut itu sadar diri. Tengok deh para penyanyi dangdut era 80-an dan 90-an pas lagi naik panggung. Banyak kok videonya di YouTube. Rhoma Irama berjuang susah payah untuk menaikkan kasta dangdut agar diterima semua khalayak dengan cara berpakaian, berperilaku, dan goyangan yang seperlunya. Perjuangan Bang Haji saat itu diapresiasi para penyanyi dangdut lain dengan mengikuti jejaknya saat berada di atas panggung. Elvy Sukaesih nyanyi di film Warkop Mana Tahaaan aja penampilannya biasa kok.

sumber: Photobucket

hare geneh dangdutan pake pakaian kurang bahan … sungguh ter-la-lu!

Contoh lainnya pelawak. Jadilah pelawak yang melawak dengan cerdas. Contohnya Warkop sama komika. Sejak kapan kalimat seperti “hei anak curut” ato “bibir kontainer” masuk bahan lawakan mereka? Gak pernah. Mereka bisa lucu tanpa harus mengejek apalagi menjatuhkan harga diri orang seperti itu. Apalagi ditayangin langsung di televisi. Udah pasti bakal semprit KPI juga ujung-ujungnya diseret ke pengadilan kayak kasus (alm.) Olga dulu.

Nah, kita ‘kan bukan orang terkenal yang suka nongol di tipi? Sensornya gimana? Ane inget cerita Fadly, temen PKL ane dulu, pas kakaknya pergokin dia nonton Shinchan.

“Bocah kok nonton ecchi!” ucapnya berakhir dengan mematikan televisi.

Dia baru ngerti makna ecchi beberapa tahun setelah kejadian itu. Begitu pula prinsip si Mamih Aisya yang ia utarakan pas zaman SMP.

“Mending gue jadi orang mesum pas masih muda daripada lihat anak-anak gue jadi cabul. Setidaknya dengan jadi orang mesum, gue bisa awasin anak-anak gue dari konten pornografi.”

Faktanya: si Mamih dulu emang mesumnya tingkat dewa. Dia itu cewek. Udah gitu sering cekokin ane dengan komik ecchi.

Ulah kakaknya Fadly sama si Mamih dilakukan bukan tanpa alasan. Mereka melakukan hal itu karena mereka peduli. Kalo kita gak peduli, mau jadi apa generasi penerus bangsa nanti?

Apakah jadi generasi yang menghalalkan rape culture?

Apakah jadi generasi micin mabok lem kayak Awkarin, Young Lex, dan Anya Geraldine?

Apakah kita mau adik atau anak-anak kita hidup dalam generasi yang amoral?

Apa kita mau memperbaiki kondisi masyarakat yang mulai penyakitan setelah era Reformasi? Boro-boro reformasi, adanya repot nasi.

Itulah pentingnya sensor. Lakukan tanpa harus selebai KPI.

Kita bisa melakukannya dengan cara kita. Misalnya kita itu emang penikmat film ya jangan ajakin adik kita yang masih balita nonton film dewasa ke bioskop. Koleksi anime dan film di laptop ane pun setidaknya harus aman ditonton bareng anak-anak. Kalo ada yang nyerempet ecchi pun ane gak pernah biarin keponakan ane nonton itu.

Kita juga bisa lakukan dengan cara mereka. Pahami pola pikir anak-anak. Seperti halnya satu film barat (ane lupa judulnya) yang bercerita bocah pengen jadi dewasa. Tahu-tahu tubuhnya udah dewasa. Dia bisa menyelamatkan satu pabrik mainan yang terancam gulung tikar karena pikirannya yang masih anak-anak.

Jangan sungkan ngajakin anak-anak buat ngobrol. Tanyain aja soal tayangan kesukaannya. Biarkan saja anak-anak untuk bicara. Kita gak usah menyela pembicaraan mereka. Dengarkan saja mereka saat sedang bercerita.

Luangkan waktu bersama anak-anak menonton tayangan kesukaan mereka. Hal itu tidak hanya membuat kita lebih mudah mengawasi mereka, tetapi juga membuat kita semakin akrab dengan anak-anak. Kadang juga ane kesel lihat keponakan ane kalo ngikutin selera nonton mereka. Tahu sendiri lah tingkah anak-anak. Setidaknya dengan menonton bersama anak, kita juga bisa melatih kesabaran. Kita juga bisa berdiskusi tentang tayangan yang sedang ditonton.

Keponakan ane itu seneng banget sama Pokemon. Dia seneng banget sama Pikachu. Dia sering panggil ane Pikadut mentang-mentang badan ane gemuk. Ada satu hal yang selalu Uli tanyakan pas nonton.

Uli: Ache Pikah! Ache Pikah! Itu kok mukanya dicolat-colet.

Ane: *jelasin adegan Jigglypuff ngamuk* Soalnya mereka tidur pas Jigglypuff lagi nyanyi.

Pertanyaan anak-anak saat menonton kadang geje. Apalagi harus ladenin Uli yang setiap kali nanya berulang-ulang mirip kaset rusak. Itulah seninya nonton bareng anak-anak. Kita bisa mengasah imajinasi kita untuk menjelaskan hal-hal yang terjadi di dalam acara tersebut. Jelaskan apa saja dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Mulai dari penjelasan sepele seperti Jigglypuff sampai hal-hal yang tidak boleh ditiru oleh anak-anak dalam tayangan yang kita tonton.

Batasi juga waktu untuk menonton. Entah itu waktu untuk menonton televisi ataupun streaming di internet. Caranya gak perlu sesaklek kakaknya Fadly matiin televisi. Alihkan saja dengan hal lain. Toh anak kecil itu kalo ada sesuatu yang lebih menarik, pasti ia akan mudah teralihkan. Ajak anak-anak untuk bermain atau lakukan hal lainnya. Kita juga sebagai orang yang lebih tua pun harus memberi contoh dan konsisten. Misalnya kita gak perlu nonton pelem India pada jam anak-anak tidur siang. Kalo kita gak konsisten antara perkataan dan perbuatan, adanya makin memperburuk kondisi perkembangan anak-anak di masa depan. Lebih seneng mana: liatin anak kecil tumbuh dengan baik atau jadi generasi micin kayak Awkarin?

Gak usah banyak cingcong, langsung ke ringkasannya. Sensor adalah benteng terluar yang membatasi diri dari pengaruh buruk lingkungan. Cara melakukannya ada dua: dari pihak luar ataupun diri kita. Kita sebagai orang yang lebih tua perlu memberikan sensor pada setiap tayangan yang akan ditonton oleh anak-anak. Kita tidak perlu melakukan sensor seperti halnya orang ngasih penyuluhan. Adanya bocah keburu ngantuk duluan. Lakukan sensor tayangan dengan tidak menonton tayangan yang tidak patut dilihat di depan anak-anak. Temani anak-anak saat menonton dan berikan penjelasan mengenai tayangan tersebut dengan bahasa yang mudah. Kita juga jangan terus menerus mengandalkan pihak luar untuk melakukan sensor. Toh LSF sendiri punya keterbatasan. Kita juga memegang kendali atas sensor yang bertujuan untuk menyaring tayangan bagi khalayak ramai. Misalnya dengan berpenampilan santun saat tampil di televisi.

Jadi, bisakah kita mulai terapkan sensor mandiri pada keluarga kita? Lakukan saja mulai dari sekarang.

Nonton Drakor dari Zaman SD

Bicara soal itu, ane serius. Semua bermula dari stasiun televisi bernama Indosiar. Sabtu dengan acara masak dan keluarga. Minggu dengan anime dari habis tayangan berita pagi sampe dzuhur. Senin sampai Jum’at sore biasanya nonton drama Asia. Ada juga sih yang tayang di akhir pekan kayak News no Onna sama Love Generation.

Pas zaman ane SD, kebanyakan drama Asia yang tayang di Indosiar itu drama Mandarin sama dorama. Mulai dari genre wuxia sampe romcom. Keberadaan drakor sendiri sebenarnya udah ada di stasiun televisi tetangga, SCTV, kalo gak salah Tomato sama Popcorn. Kedua drama yang dulu sempet ane kira adalah drama Mandarin asal Taiwan dan Hong Kong yang saat itu ramai muncul di televisi. Popularitas drakor di Indonesia pun mulai melejit semenjak kemunculan Winter Sonata dan Autumn In My Heart yang merupakan bagian dari tetralogi Endless Love. Saking ngehitsnya dua drakor itu di zamannya, makanya ane nulis di cerita yang ane buat itu novel favorit yang disukai main heroine adalah plesetan dari kedua judul drakor itu.

Ane tahu drakor dari zaman SD. Jauh sebelum menjadi tontonan umum kebanyakan cewek zaman sekarang. Saat itu ya ane nonton bareng kakak ane, si Bubu. Makanya sifat weeaboo insyaf ane kerap muncul ya emang selera nonton ane gak jauh beda ama kakak ane. Saat itu kakak ane masih kuliah. Jujur aja kakak ane itu seorang weeaboo dan fans berat drama Asia. Cuman lebih dominan fans drama Asia daripada weeaboo. Mulai dari era Jimmy Lin, Dicky Cheung, Takuya Kimura, Hideaki Takizawa, Bae Yong Joon, Won Bin, sampe Park Bo Gum pun kakak ane demen berat. Sekarang kakak ane itu janda beranak dua yang selalu diledekin sama anaknya, Nara.

Bubu, nontonnya Korea waé! *dengan logat Sunda kentel sambil ngamuk laptop dipake nonton drakor*

Lain lagi dengan adiknya, si Hiroko Gotoh KW super alias Uli.

Bubu, pengen noton pelem Koleya! *dengan balelol sambil ngasih kode biar bisa nonton bareng*

Dulu, ngomongin drakor itu adalah hal yang sangat-sangat-sangat menyenangkan. Apalagi bareng si Ghia, temen SD ane. Dulu ane inget demen bener berantem ama si Ghia. Kasarnya itu dia adalah tipikal karakter cewek bongsor tukang bully yang biasa muncul di film-film. Ane tengil ditambah Ghia agresif. Awalnya berantem mulu eh rukunnya gara-gara Rain. Saat itu Ghia emang fans beratnya Rain. Mungkin dia salah satu fans pendukung pernikahan Rain dan Kim Tae Hee kemaren. Semenjak rukun ya ngomonginnya drakor mulu. Soalnya Ghia emang salah satu anak yang paling tajir di SD dulu dan jarang orang yang pasang TV kabel di masa itu. Di saat temen-temen ane yang lain berantem rebutan husbando dan terindikasi chuunibyou terutama lu, Mir!, ane sama Ghia ya recokin drakor yang tayang di TV.

Memang penyuka drakor lawas rasanya gimana gitu pas ngobrol. Berasa dunia milik sendiri. Sekarang ane gak merasakan serunya ngomongin drakor seperti saat ane SD dulu. Meskipun zaman sekarang itu lebih gampang buat nonton drakor. Dulu ya kudu pantengin jam-jam tertentu buat nonton. Kadang ada kalanya kesel gara-gara sehari gak tayang. Sekarang bisa tengok situs streaming kayak Netflix dan banyak fansub yang khusus terjemahin drakor. Padahal sekarang banyak forum bertebaran yang bahas soal drama Asia, khususnya drakor. Entah kenapa sekarang ane gak antusias seperti halnya ane  semasa SD dulu. Adanya biasa aja karena terlalu pasaran dan banyak yang karbitan.

Fans drakor dulu lebih mantengin cerita dulu baru cogan. Sekarang cogan dulu baru cerita. Ane kaget waktu baca salah satu komentar fans di IDWS soal A Gentleman’s Dignity. Intinya dia awalnya ogah nonton gara-gara pemainnya gak ada yang cogan. Padahal di masanya, Jang Dong Gun itu populer lho. Gak kalah keren sama Rain.

Fans yang dulu itu nonton mah ya nonton aja. Gak banyak komentar apalagi ngasih spoiler. Beda sama penonton sekarang yang cuman tahu drakor terkenal sama doyan spoiler. Jujur aja ane ketiduran nonton Goblin gara-gara kebanyakan spoiler. Belum lagi ane

Fans drakor yang sekarang sama kayak fans K-Pop sekarang, banyak yang karbitan. Ane jadi inget cerita soal bedanya orang kaya beneran sama orang yang pura-pura kaya. Orang kaya beneran cuman ngomongin Hermès di lingkungan pergaulannya sementara orang yang pura-pura kaya bicarain Hermès di hadapan semua orang. Begitu pula kenyataan yang ane lihat sekarang. Banyak orang yang ngakunya demen drakor tapi bicarain di orang yang gak ngerti soal drakor. Ghia aja gak mungkin ngomongin drakor di hadapan si Dono. Soalnya Dono emang gak terlalu demen drakor. Ghia yang masih SD saat itu pun lebih ngerti akan analogi orang kaya yang ane ceritain.

Seiring berjalannya waktu ane emang kehilangan hal itu. Ane jadi inget cerita temen SMP ane.

Dia itu ELF sewaktu ane SMP. Cita-cita dia nonton konser SuJu di Jakarta. Pas zaman ane SMP, gak banyak orang yang tahu soal K-Pop. Paling cuman penikmat drakor di Indosiar macam ane sama gamers yang doyan main (sebut aja deh plesetannya, udah terkenal kok game-nya) Ayobaper. Dari semua member SuJu, dia paling demen sama Siwon. Dia hafal betul semua lagu SuJu. Mau itu hits yang terkenal maupun yang gak. Ane inget dia sering bawa buku yang isinya semua lirik lagu SuJu.

Sewaktu ane masih SMP, jadi fangirl pun dicap sama miringnya seperti otaku ato weeaboo. Tapi dia gak peduli. Karakter aslinya yang emang agak preman bikin orang yang nyinyir pun malah diem. Dia cuek aja nyanyiin lagu hits SuJu di sekolah.

Seiring berjalannya waktu, K-Pop semakin dikenal orang. Anehnya dia bukannya malah seneng ada orang yang bisa diajak ngobrol soal SuJu. Dia curhat ke ane kalo dia gak merasakan kegembiraan seperti dulu lagi. Ia tidak merasakan sensasi yang sama lagi saat membicarakan Siwon oppa. Sejak saat itulah dia berhenti entah itu ngomongin soal drakor ato bicarain soal SuJu.

Memang, ada kalanya kita merasakan sesuatu yang spesial itu mendadak menjadi tidak spesial malah bikin eneg kayak cerita temen ane. Begitupun dengan kebiasaan ane nonton drakor. Dulu menanti jam 4 sore di Indosiar itu adalah hal yang sangat spesial. Buat yang gak tahu, itu adalah slot tayang drama Asia di hari Senin sampai Jum’at dulu. Sekarang nonton TV kabel yang 24 jam drakor nonstop jadi biasa aja.

Akhir kata, rasanya ane jadi kangen ama Ghia. Terakhir kontak pun pas zaman ane SMK.

Toserba 24 Jam, 7-India dan Circle India

Televisi dengan tayangan berita 24 jam itu biasa. Televisi dengan segmentasi khusus seperti religi 24 jam biasa. Apa jadinya jika tayangan televisi 24 jam menayangkan hampir 90% tayangan India? Itu yang jadi masalah.

Pemikiran generasi muda Indonesia pun sependapat dengan anak muda di India. Mereka sendiri mengakui bahwa tayangan sinetron India mengalami kemunduran sejak awal 2000. Generasi muda lebih memilih untuk menonton tayangan dari internet, seperti YouTube dan Netflix, dibandingkan dengan menonton televisi yang dikuasai oleh “emak-emak”. Jika mereka menonton sinetron India pun, mereka lebih memilih tayangan era Doordarshan, jaringan penyiaran yang dikelola pemerintah India, menjadi satu-satunya saluran televisi saat itu. Mereka kerap mengumpat Balaji Telefilms, salah satu production house yang ada di India, dalam setiap komentar berkenaan dengan kemunduran sinetron India di internet.

Ternyata kasusnya pun sama seperti di Indonesia. Sinetron di Indonesia mengalami kemunduran sejak milenium berganti.

Sinetron India pertama kali dibuat sebagai salah satu alat untuk menyampaikan pesan-pesan sosial melalui hiburan. Sinetron India yang pertama kali dibuat adalah Hum Log, yang tayang pada tahun 1984. Sinetron tersebut bercerita tentang kehidupan masyarakat kelas menengah yang hidup di era 80-an. Tayangan tersebut sukses lalu memicu munculnya tayangan lain menghiasi layar kaca India saat itu. Berdasarkan beberapa sumber media daring berbasis di India, pergeseran sinetron India dimulai ketika Kyunki Saas Bhi Kabhi Bahu Thi pada tahun 2000. Kesuksesan tersebut mendorong lahirnya saas-bahu, sebuah genre yang berfokus antara konflik mertua dan menantu. Hal itulah yang disebut oleh para generasi muda India sebagai “pembodohan” dan “kemunduran”.

Apa yang menyebabkan sinetron India lebih digemari oleh masyarakat Indonesia? Ini akan menjadi pelajaran bagi para pemilik stasiun televisi dan generasi muda.

Kemunculan sinetron India sudah lama dikenal di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan penayangan Ramayana, Hanoman, dan Mahabharata pada stasiun televisi swasta di era 90-an. Saat itu sinetron India tidak menimbulkan kontroversi seperti sekarang. Ceritanya mengalir dan apa adanya. Selain cerita bertema epos, terdapat cerita dengan genre lain seperti halnya Nagin. Cerita yang berfokus tentang balas dendam seorang ichchhadhari naagin (siluman ular dalam mitologi India) atas kematian suaminya oleh pemburu mustika ular. Tayangan tersebut pernah tayang di SCTV sekitar tahun 2002. Indonesia pun pernah dilanda demam India. Itu pun saat film-film Bollywood sedang dirilis dan bintangnya pun sedang tur ke Indonesia.

Demam India kembali di awal tahun 2014. Saat itu sedang ramai remake dari Mahabharata diperbincangkan. Versi 2013 dari epos tersebut memang menjadi salah satu acara dengan rating tertinggi di masanya. Kesuksesan itu pula yang turut mendatangkan demam India di banyak stasiun televisi Indonesia, menggeser demam Hallyu yang sempat mewabah tahun-tahun sebelumnya. Beragam tayangan pun berlomba-lomba untuk dipertontonkan demi memerah penonton sebanyak mungkin. Mulai dari intrik kerajaan seperti Jodha Akbar, kemelut rumah tangga dalam Uttaran, superhero dalam Baalveer, hingga isu-isu sosial dalam Balika Vadhu dan Gangaa.

Ciri khas dari sinetron India modern adalah episode yang berjumlah ratusan. Rata-rata satu episode memiliki durasi sekitar 30 menit. Selain itu konflik yang ditampilkan bersifat lambat dan kisah yang dekat dengan keseharian. Ketika sinetron bercerita tentang seorang tokoh sedang sholat hanya saat ia dilanda kesulitan, pada sinetron India masalah ibadah adalah hal yang lumrah ditemui. Seperti halnya adegan seseorang mempersiapkan diri untuk melakukan puja, ritual ibadah yang dilakukan umat Hindu, ataupun festival-festival keagamaan seperti Holi. Di balik pencapaian rating tersebut, diadakan riset yang dilakukan oleh tim penulis untuk mengetahui kecenderungan tayangan yang disukai pemirsa. Persaingan dalam memperebutkan rating dan pemirsa di India terbilang ketat. Jumlah sinetron India yang tayang pun tidak sedikit dengan jumlah episode yang tentunya banyak. Mereka berlomba-lomba mencari sesuatu yang berbeda agar tetap berada di hati pemirsa.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan sinetron di tengah gempuran tayangan asal negeri Hindustan itu?

Sebenarnya tidak hanya perbaikan kualitas yang perlu dilakukan. Berkaca pada ulasan yang ditulis majalah VICE Indonesia, Dilema Para Penulis ‘Pabrik Naskah’ Sinetron Indonesia, sinetron dengan kualitas cerita yang baik belum tentu diterima oleh pemilik production house. Bahkan penulis naskah sekalipun jengah untuk menonton hasil karyanya. Penulis naskah pun mengungkap kisah di balik sinetron dengan episode terpanjang di Indonesia, Tukang Bubur Naik Haji. Sebenarnya pihak produser ingin menghentikan penayangan sinetron tersebut setelah karakter Haji Sulam meninggal sejak episode 1001. Sayangnya pihak stasiun televisi tidak menyetujui usul produser tersebut. Faktanya Tukang Bubur Naik Haji tetap tayang hingga episode 2133 akibat konflik antara production house dan stasiun televisi.

Jika seorang penulis skenario ingin mempertahankan idealisme tanpa terganggu dengan rating, kita bisa berkaca pada penulis skenario Balika Vadhu (atau lebih dikenal di Indonesia dengan judul Anandhi). Pada ulasan yang ditulis oleh majalah The Caravan India, How to Write a Saas-Bahu Saga, Purnendu Shekhar yang menjadi kepala penulis cerita tersebut mengatakan bahwa tidak ada formula untuk membuat sebuah tayangan yang bagus. Ia hanya mengandalkan insting dalam membuat cerita. Kepada The Caravan, ia mengatakan cara ia meramu plot untuk ceritanya.

“You start with the seed, it grows roots and a trunk. Eventually, there are different branches, or story tracks, with flowers and fruits.”

(Kita memulai dengan menanam benih. Ia akan menumbuhkan akar lalu batang. Sebenarnya terdapat batang-batang yang berbeda atau jalan cerita, dengan aneka bunga dan buah.)

Fokus dari cerita Balika Vadhu berakar dari kehidupan penduduk Rajashtan, sebuah daerah di India, dengan mengangkat isu-isu yang terjadi pada masyarakat tersebut. Sebuah langkah yang dinilai berani dan melawan arus dari sinetron India lain yang menguasai rating saat itu. Di saat kecenderungan sinetron India yang merajai rating saat itu bergenre supranatural dan melenceng dari fokus cerita awal, ia tetap pada pendiriannya semula. Ia tidak mengubah formula cerita yang ia buat semata-mata demi memerah rating. Tak heran, Balika Vadhu menjadi salah satu serial dengan episode terpanjang dengan rating yang memuaskan baik di India maupun di Indonesia.

Kita bisa belajar dari fenomena sinetron India, sebuah cerita yang baik tidak selalu bisa dinikmati golongan tertentu. Balika Vadhu dengan gamblang mengangkat isu-isu sosial seperti pernikahan dini, pendidikan, hak-hak perempuan, kesenjangan sosial, hingga pelecehan seksual terbebas dari sistem kasta yang berlaku. Penulis skenario juga masih bisa mempertahankan idealisme mereka selama mereka bisa membuktikan karya yang berkualitas pun turut mendulang rating dengan baik. Kita bisa memanfaatkan “keterbatasan” dari pemilik production house ataupun stasiun televisi. Lagipula sinetron tidak melulu harus bergenre drama perselingkuhan, intrik perebutan kekuasaan, atau romantis. Masih banyak kearifan lokal yang bisa digali menjadi sebuah cerita. Selain itu kita bisa memanfaatkan sinetron untuk memberikan sosialisasi terhadap program pemerintah.

Jika Balika Vadhu saja berani mengeksplorasi kehidupan penduduk Rajashtan, kenapa sinetron tidak berani mengeksplorasi kehidupan penduduk Indonesia? Penduduk Indonesia tidak sebatas orang Jawa, Betawi, atau Sunda yang biasa muncul dalam sinetron. Sebagai contoh, penulis skenario bisa mengeksplorasi kehidupan warga kampung pengemis di Indramayu, kehidupan masyarakat di perbatasan Indonesia, gegar budaya bagi masyarakat yang hidup di perantauan, menceritakan sisi lain kehidupan di daerah konflik seperti Poso, atau bahkan sisi lain kehidupan para pramuria setelah Dolly ditutup. Kelebihan dari Balika Vadhu adalah budaya masyarakat Rajashtan, Gopi dengan pelajaran menjadi seorang istri yang baik bagi keluarganya, dan Mahabharata dengan kisah eposnya yang legendaris. Sebenarnya ada sinetron Indonesia yang memiliki nilai lebih di mata pemirsa. Si Doel Anak Sekolahan dengan perjuangan si Doel dalam meraih pendidikan, Keluarga Cemara dengan kehidupan sehari-hari keluarga tukang becak, Tukang Bubur Naik Haji dengan kehidupan keluarga Haji Sulam dan para tetangga di Kampung Duku, Para Pencari Tuhan dengan kehidupan warga Kampung Kincir, dan lika-liku di balik kehidupan preman Kiaracondong dalam Preman Pensiun. Adakah sinetron berikutnya yang menyusul? Bahkan lebih baik dari Tukang Bubur Naik Haji yang meraih penghargaan di International Drama Festival in Tokyo pada tahun 2014 silam?

Fenomena berjayanya sinetron India terbilang menarik. Walau beberapa bagian masyarakat mulai jenuh dengan panjangnya episode, di sisi lain kisahnya masih dinanti oleh masyarakat. Akankah sinetron bisa mengobati kerinduan seperti halnya sinetron India? Kita lihat saja.

Kartun Kembali Dilirik, Semoga Bertahan Lama

Kabar gembira untuk para generasi 90-an yang sering koar-koar balikin kartun (dan tentunya anime) di internet. Sekarang stasiun televisi mulai berpikir dua kali buat balikin kartun. Pasalnya rating acara televisi mulai disusupi oleh kartun. Biasanya Upin Ipin yang dengan setia bertengger di posisi rating 10 besar. Kini bertambah dengan Shiva dan Masha and The Bear. Hal itu ane kutip dari laman Facebook Rating Program Televisi Indonesia berdasarkan rating tanggal 28 April silam.

sumber: laman Facebook Rating Program Televisi Indonesia

Ane pernah menulis di tulisan lain soal Naruto yang sempat menyusup di sela-sela rating 10 besar sekitar tahun 2015 lalu. Apalagi Global TV secara resmi mengumumkan untuk menayangkan musim pamungkasnya, Naruto Shippuuden season 9. Bisa saja penayangan episode terbaru Naruto berhasil membuat stasiun televisi untuk berpikir dua kali memasukkan kartun pada jam prime time. Apakah bisa mendulang kesuksesan seperti tahun 2015 silam? Apakah sampai bikin baper dengan The Last? (biasanya Global TV sering beli lisensi sepaket sama movie-nya dan sengaja belum ditayangin karena spoiler) Apa mungkin dilanjutkan sampai penayangan Boruto? Hal itu menjadi bahan perbincangan di kalangan otaku. Berhubung kasus Naruto di televisi terbilang unik, kita kesampingkan saja dahulu.

Sebelum menulis ini, ane melakukan riset mengenai jadwal stasiun televisi khususnya mengenai slot tayang khusus anak-anak. Tidak hanya kartun, tetapi acara anak-anak secara keseluruhan.

Sejauh ini hanya RTV (dulu dikenal sebagai B Channel) dan MNCTV yang konsisten sejak beberapa tahun yang lalu menayangkan tayangan anak pada jam tertentu. Sebenarnya sih TVRI juga masuk sayangnya jadwal tayangan anaknya berubah dari tahun ke tahun. Bahkan MNCTV berhasil menampar keras stasiun televisi yang menayangkan FTV rasa sinetron Hidayah pada siang hari. Terbukti dengan rating Upin Ipin selalu lebih tinggi daripada FTV Hidayah setiap hari bahkan tahun.

Begitupun dengan variasi program pada slot tersebut. MNCTV sudah dikenal dengan Upin Ipin jadi mereka tidak takut lagi untuk memboyong hak siar tayangan lain dalam waktu tayangnya. Tidak jarang tayangan tersebut mendulang kesuksesan serupa. Seperti halnya BoBoiBoy, Pada Zaman Dahulu, dan Little Krishna yang pernah tayang di stasiun televisi yang dulu dikenal sebagai TPI itu.

pada-zaman-dahulu
sumber: Les Copaque

Berbeda dengan MNCTV, RTV lebih banyak program in house yang dibuat khusus untuk anak-anak. Di awal transisi dari B Channel menuju RTV, acara Lolipop berhasil menumbuhkan rasa kreatif bagi anak-anak dengan prakarya dan percobaan ilmiah yang dikemas menarik. Selanjutnya muncul Fun Time yang secara tidak langsung sebagai spiritual successor dari Lolipop. Acara anak-anak yang dikemas kekinian dengan tiga segmen berbeda yang dipandu oleh anak-anak. Kini ditambah dengan tayangan Dubi Dubi Dam, berkonsep seperti Hi5! (yang juga ditayangkan di RTV) dengan pemandu acara anak-anak juga. Soal kartun pun, RTV lebih bervariasi dalam masalah genre. Ya mungkin ane bakal menyebutkan dengan istilah dalam anime/manga. Jika di MNCTV, kartun yang tayang bergenre anak-anak, slice of life, dan shonen (untuk BoBoiBoy dan Little Krishna). Kartun yang tayang di RTV bergenre anak-anak, slice of life, edukasi (untuk Diva The Series), religi (seperti Syamil dan Dodo), shonen, dan shojo (untuk blok Super Girly seperti Rainbow Ruby).

diva-the-series
sumber: Kastari Animation

Kemudian stasiun televisi lain pun turut mengikuti jejak MNCTV dan RTV. Kita bisa melihat dari ANTV, Trans TV, dan RCTI. Untuk kasus Trans TV sungguh mengejutkan. Kalo gak salah kartun yang terakhir kali tayang itu pas sekitar tahun 2003-2004. Kembalinya kartun ditandai sekitar tahun lalu yaitu sejak kerjasama dengan MD Entertainment dan Cartoon Network dimulai. Kita bisa melihat episode-episode terbaru Adit Sopo Jarwo dan bernostalgia dengan Powerpuff Girls yang pernah tayang di RCTI beberapa tahun silam.

Demam India yang mewabah oleh ANTV mendorong stasiun berslogan “Wow Keren” itu turut membawa animasi asal India untuk merangkul lebih banyak penonton. Lihat saja penayangan Shiva dan Vir The Robot Boy. Slot pagi yang semula diisi tayangan ulang acara lawas mulai diubah konsepnya menjadi tayangan anak-anak. Bahkan si tengil Masha pun kembali muncul dengan cerita barunya. Begitu pula dengan Burka Avenger yang identik dengan India padahal animasi asal Pakistan. Kartun yang banyak dipuji oleh kritikus Barat sebagai antitesis dari karakter putri Disney dan tema pendidikan yang diusungnya. Padahal ane lebih berharap satu hal, kelanjutan Curious George yang sempat tayang di ANTV sejak tahun 2006 silam.

Bisa dibilang RCTI tergolong berani untuk bertanggung jawab. Setelah “menghancurkan masa kecil” dengan penayangan tayangan berkedok acara musik di pagi hari sewaktu akhir pekan, kini stasiun televisi ini nekat untuk “meminta maaf” dengan animasi lokal. Keberadaan Kiko menjadi angin segar setelah selama ini RCTI lebih menayangkan “acara musik” dan gosip di pagi hari. Keberanian ini yang patut diacungi jempol. Tidak banyak stasiun televisi yang berani mengangkat animasi lokal ke layar kaca. Hingga saat ini hanya Adit Sopo Jarwo dan Keluarga Somat, dua animasi lokal yang tayang lebih dahulu di layar kaca, yang masih bertahan. Keberadaan Kiko menambah daftar pendek animasi lokal yang mulai tumbuh di tengah jenuhnya masyarakat akan televisi.

Di sela-sela tayangan televisi kemarin, ketika ane lelah menanti lamanya durasi iklan Apa Kabar Indonesia Malam, ane lelah dengan deretan iklan yang lebih lama dari sepotong episode Ocha-Ken. Dengan kesal ane menekan-nekan remote televisi, berharap sesuatu yang menarik dan dapat mengalihkan perhatian dari iklan. Mata ane tertuju pada SCTV, stasiun televisi yang enggan tersentuh semenjak India menguasai remote. Ane melihat iklan kecil terselip di bawah tayangan sinetron, blok khusus anak-anak yang kembali hadir setelah absen sejak tahun 2006. Ane hanya mengenali Gon, animasi yang diangkat dari manga berjudul serupa, si dinosaurus tidak bisa bicara yang pernah ditayangkan di ANTV.

Kesuksesan suatu kartun di masyarakat bukanlah dilihat dari rating. Lihat saja pedagang di pasar kaget atau pusat penjual pakaian seperti Tanah Abang dan Pasar Baru. Semakin banyak pakaian “tidak resmi” di sana, semakin dikenal suatu kartun. Contohnya pakaian bermodel Elsa yang biasa digunakan anak-anak perempuan untuk cosplay, baju bergambar BoBoiBoy, dan yang terbaru baju bermodel Shiva. Bahkan setelan sarafan yang biasa dikenakan Masha menjadi pakaian lebaran yang laris. Baju tradisional khas Rusia itu dapat melatih anak perempuan untuk belajar berhijab.

Kembalinya kartun ke televisi pertanda angin segar bagi anak-anak. Asalkan jangan taruh Regular Show pada jam pagi ataupun waktu siang. Ane setuju dengan Trans TV yang menaruh Regular Show pada jam 4 subuh. Ya, kartun memang identik dengan anak-anak namun bukan berarti semua jenis kartun bisa ditonton anak-anak. Ada kartun yang tidak layak ditonton untuk anak-anak: hentai dan gore. Apa orang tua ingin anak-anaknya seperti Sasha yang harus menghisap ASI setiap perempuan untuk menghabisi lawannya seperti dalam Seikon no Qwaser? Apa orang tua ingin anak-anaknya menganggap lelucon dalam Happy Tree Friends sesuatu yang lucu? Seharusnya stasiun televisi lebih bijak untuk menayangkan kartun di televisi.

Tidak harus kartun yang baru untuk ditayangkan, kartun lama yang sudah jarang diputar ulang bisa menjadi pilihan. Seperti halnya sinetron era 90-an yang sempat kembali tayang di televisi. Kita masih ingat kartun-kartun era Hanna-Barbera yang sempat tayang di televisi selain Tom and Jerry dan Scooby Doo. Masih ada Flintstone, The Jetsons, The Wacky Races, dan masih banyak lagi. Asalkan bukan Popeye, pasti kena sensor KPI habis-habisan karena pipa rokok yang menjadi ciri khasnya. Masih banyak juga kartun Nickelodeon lawas yang bisa ditayangkan lagi. Seperti melihat ulahnya Tommy Pickles dalam Rugrats, Hey Arnold, suara khas Nigel Thornberry dalam The Wild Thornberries, hingga Jimmy Neutron. Kalau era Tatsunoko mungkin lebih lawas lagi. Seperti halnya Speed Racer, Time Bokan, Casshern, dan Hachi anak yang sebatang kara pergi mencari ibunya (ane baru tahu pas cari anime Tatsunoko lain yang pernah tayang di TV tadi).

Sebenarnya kalo ane sih pengennya Akachan to Boku. Biar keponakan ane alias si Hiro versi live action gak nagih terus pengen nonton itu.

Setidaknya dengan adanya kartun di televisi, anak-anak bisa sejenak melupakan gadget dan permainan modern. Kartun pun bisa membuat anak-anak bersosialisasi dengan teman sebayanya. Jadi inget waktu SD, saat itu kalo gak ngomongin Naruto sama One Piece rasanya gak eksis. Bahkan ada yang terang-terangan ngaku-ngaku husband dan waifu di kelas. Selain itu ya bisa menumbuhkan imajinasi anak-anak. Banyak orang dewasa yang sekarang jadi komikus, penulis, animator, hingga kru film yang bermula dari penyuka kartun. Ada pula yang malah jadi serius belajar robotika gara-gara dia fans Gundam kayak temen ane. Jadi inget kemaren nangis darah gara-gara gunpla dipotongin keponakan T.T

Ya ane cuman berharap itu bukan musiman. Kalo bisa konsisten kayak RTV dan MNCTV sih.