Power of Emak-Emak yang Mulai Melemah

Emak dulu hanya istilah yang digunakan orang desa untuk memanggil seorang “ibu”. Di masa sekarang makna katanya tidak hanya meluas, tetapi juga naik kelas. Buktinya siapa yang tidak kenal meme “The Power of Emak-Emak”?

emak-ijah-setrong
sumber: 1CAK

Tuh ‘kan, gak usah pake Photoshop pun emak kita sudah perkasa :v

Perkasa di sini tidak hanya dalam soal fisik. Mereka adalah perempuan juga sama seperti kita. Bedanya udah punya anak. Sederhana ‘kan?

Bahkan pepatah pun mengatakan

Di balik pria yang hebat, pasti ada wanita yang hebat.

Wanita hebat yang dimaksud adalah ibu, istri, atau keluarga terdekat.

Kenapa “Emak-Emak” bisa perkasa?

Fakta pertama: Seorang wanita adalah pakarnya multitasking.

Yup, belum ada superkomputer manapun yang bisa menandingi seorang wanita dalam masalah multitasking. Jumlah thread yang bisa ditangani oleh sebuah sistem operasi terhebat dengan superkomputer paling canggih sekalipun pasti ada batasan idealnya. Berbeda dengan wanita yang buatan Tuhan Sang Maha Pencipta. Emang bisa ya komputer menangani thread dengan process masak, urus anak, ngitung duit arisan, periksa belanjaan, inget-inget resep, cek WhatsApp, sambil nonton pelem India?

Fakta kedua: Perempuan itu secara akademik jauh lebih baik daripada laki-laki.

Mungkin Tuhan menciptakan perempuan seperti itu untuk menunjang fakta pertama. Ane pernah baca ternyata dalam segi kognitif pun perempuan dan laki-laki itu berbeda. Berdasarkan sebuah penelitian, mayoritas orang yang menduduki peringkat 10 besar di sekolah berdasarkan gender adalah perempuan. Selain itu perempuan secara tidak sadar menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan mereka. Gak percaya? Perhatiin aja ibu-ibu arisan lagi ngerumpi. Ane pernah baca artikel soal kaitan antara ngobrol dengan kinerja kedua fungsi otak.

Fakta ketiga: Fenomena gunung es dalam diri perempuan membuktikan bahwa mereka adalah sosok yang tangguh.

Perempuan itu ada yang blak-blakan, macam ane, adapula yang lebih memendam perasaannya. Kebanyakan perempuan adalah tipe memendam. Itu sebabnya ada idiom terkenal di kalangan cowok mengatakan soal cewek itu “mikir” pake perasaan ya emang begitu. Kapasitas batin mereka lebih besar dibandingkan dengan cowok. Ada beberapa faktor yang membuat perempuan memendam perasaan mereka salah satunya adalah untuk menghindari konflik yang jauh lebih besar. Gak gampang lho buat orang bisa menahan diri dan perasaan mereka. Sekalinya tekanan batin, amarah, sama stres mereka melampaui batas, boom! Tamat dah. Jadilah sosok-sosok “emak-emak” mengerikan ala drakor Cruel Temptation.

Ane hanya bisa paparin tiga fakta soal emak-emak. Soalnya kalo ane riset lagi malah melenceng dari judul. Jadi kita kembali ke laplaptop souvenir. Kok malah jadi lirik lagu Silverchair sih?

Nah, masalahnya emak-emak itu identik dengan di rumah. Kerjaannya gak jauh dari anak, nonton pelem India, dan dapur. Pas tadi ane mandi, ane kepikiran soal “kok emak-emak doyan banget nonton pelem India?”. Berhubung ane pernah bahas soal “pelem India”, ane mo bahas soal hal yang lebih umum dari “pelem India”. Anggaplah himpunan. Jika pelem India adalah subset aka himpunan bagian, himpunan induknya adalah tayangan televisi.

Mayoritas perempuan di Indonesia berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Gak peduli tinggal di desa, perkotaan, ato berpetualang kayak Dora. Gak peduli status pendidikan terakhir mereka. Ibu-ibu tamatan SD sama aja dengan ibu-ibu lulusan S3 dalam urusan dapur, menata rumah tangga, dan urus anak. Gak peduli mereka memang murni mendapat penghasilan dari suami ato punya kerja sambilan seperti bisnis toko daring.

Ane emang suka nonton pelem India di TV kabel. Sayangnya dengan bahasa batin *sigh* tanpa sedikitpun takarir bahasa Inggris apalagi bahasa Melayu. Lho kok ujung-ujungnya takarir bahasa Melayu? Di Malaysia/Singapura banyak keturunan India. Biasanya TV kabel yang tayang di Indonesia itu sumbernya dari Malaysia/Singapura. Hal menarik dari pelem India yang belum tentu dimiliki drama Asia lain adalah tema yang menyinggung tentang pemberdayaan perempuan. Biar kata pelem India itu episodenya ratusan (bahkan ribuan), ceritanya melodrama saas-bahu bolak-balik dekok dengan plot super lambat, dan pasti ada BGM instrumen lokal India yang dipadu a capella mendayu-dayu, banyak kok cerita yang fokusnya adalah pemberdayaan perempuan. Mereka bisa mengemas isu-isu sensitif dan pastinya berkaitan tentang perempuan yang bisa diterima semua lapisan masyarakat. Sifat tangguh mereka pun realistis sesuai dengan kondisi masyarakat di India. Bukan perempuan super tangguh tapi baperan kayak di sinetron.

gangaa-time-leap
sumber: &tv India

emang ada sinetron yang tokoh utama perempuannya kuat kayak Gangaa?

Ane jadi inget era keemasan televisi yakni tahun-tahun awal televisi muncul dan belum ada korporasi yang memonopoli penyiaran. Tayangan yang muncul di televisi beragam. Gak cuman anime hari Minggu seharian penuh. Mulai dari acara untuk bapak-bapak, ABG, hingga ibu-ibu pun ada. Variasinya pun berbeda di setiap stasiun televisi. Rating gede pun wajar karena di masa itu televisi gak neko-neko. Gak ada lagu mars partai politik apalagi berita mendukung pasangan calon tertentu saat pemilu. Perempuan khususnya ibu rumah tangga memang pangsa penonton paling besar. Khususnya di kalangan golongan menengah dan menengah ke bawah.

Power of Emak-Emak adalah kekuatan paling besar dan mengerikan bagi manusia. Gak cuman karena “surga di bawah telapak kaki ibu” semata, perempuan itu punya potensi besar untuk mengubah diri mereka sendiri, keluarga, bahkan mengguncang dunia. Kenapa stasiun televisi gak jeli melihat hal itu lalu meninabobokan dengan drama berkualitas rendah tapi lebih buruk dari pelem India?

Biar kekuatan para “Emak-Emak” semakin perkasa, perkasa di sini konotasi positif ya. Kenapa stasiun televisi gak bikin tayangan gini aja? Dijamin tetap memiliki rating bagus dan pasti disukai oleh perempuan.

Analisis Kebutuhan Perempuan

Ane pernah cerita di tulisan sebelumnya soal proses di balik pembuatan serial drama televisi asal negeri Hindustan itu. Di India sendiri malah pihak rumah produksinya yang gemar melakukan analisis kebutuhan masyarakat sebelum membuat serial baru. Ada sisi positif dan negatif dari analisis yang mereka lakukan. Positifnya adalah mereka bisa membuat konten yang tepat sasaran, efektif, dan tentunya meningkatkan rating. Negatifnya adalah membuat stasiun televisi latah menayangan hal serupa karena rating dan cerita yang ngaler-ngidul gual géol gutak gitek melenceng dari cerita awal gara-gara rating.

Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar dan paling aktif di dunia. Mayoritas penggunanya di usia produktif, remaja, dan ibu-ibu. Kenapa pihak stasiun televisi gak bikin angket yang disebar lewat broadcast aja buat mencari tahu kebutuhan para penonton emak-emak? WhatsApp dan Facebook itu masih sangat efektif di mata ibu-ibu lho. Jangan cuman berita hoax dan broadcast gak jelas aja yang disebar.

Acara Masak Rasa Cookpad

Ane jujur baru tahu aplikasi ini dari Bu Ina, salah satu peserta pelatihan kewirausahaan yang sudah lama berbisnis kue basah. Beliau mengaku belajar bikin kue itu gak sekolah masak. Beliau sangat kebantu dengan adanya Cookpad. Cookpad adalah platform digital dari Jepang yang juga ada versi bahasa Inggrisnya. Singkatnya dengan Cookpad kita gak cuman bisa lihat resep, kita bisa diskusi resep bareng banyak orang. Berasa “keroyokan” bikin program dalam komunitas open-source.

Memang ada acara masak di televisi Indonesia. Sayangnya jumlah acara tersebut semakin menyusut dan hanya tersisa di stasiun televisi tertentu. Terakhir ane nemu acara masak itu cuman di TVRI sama NET. Jarang banget ada acara masak yang bener-bener berkesan. Jujur aja di masa lalu banyak acara masak yang menarik seperti Aroma, Santapan Nusantara, dan Rahasia Dapur Kita. Acara masak yang baru pun kurang memenuhi kebutuhan ibu-ibu dengan banyak jargon yang diperuntukkan bagi anak muda, resep masakan yang masih asing di lidah kebanyakan orang Indonesia, dan penyajiannya seperti … bayangin aja guru ngajar di depan kelas tapi ngomong terus sama papan tulis. Deadpool sama Dora aja masih greget dalam masalah fourth wall.

Bagaimana cara biar acara masakan itu menarik? Interaktif adalah salah satu solusinya. Misalnya bikin acara masak dengan Facebook Live, Instagram Live, ato Google Hangouts. Jadi ibu-ibu bisa nanya kesulitan yang mereka hadapi saat mengikuti resep. Acara masak dulu aja bisa kayak gitu lho biarpun teknologi yang ada hanya mengirim surat.

Selain itu juga koki harus bisa membuat resep yang sederhana, rasa cocok dengan lidah Indonesia, dan bisa dilakukan dalam waktu singkat. Ibu rumah tangga khususnya di wilayah perkotaan memiliki kebutuhan yang kompleks. Itu tadi. Banyak perempuan di kawasan perkotaan itu punya pekerjaan sampingan di samping statusnya sebagai ibu rumah tangga. Adanya resep yang mudah sangat membantu mereka apalagi para ibu yang kesulitan untuk memasak. Gak bisa nonton pun masih bisa lihat siaran ulangnya dengan video on demand seperti YouTube.

Biar Suami Gak Direbut Pelakor

Ups.

Belakangan ini lagi rame soal pelakor alias perusak rumah tangga orang. Istilah ini terkenal gara-gara komentar pedas netizen Indonesia di akun Instagram Ayu Ting Ting. Tema yang satu ini gak pernah absen dari sinetron Indonesia dengan beragam modusnya. Mulai dari paling halus (bahkan ambigu seperti sinetron Orang Ketiga) sampe paling ekstrim. Dasar Emak-Emak, ngomong ginian aja baru rame -.-

Nah kita usut dulu penyebab para suami main mata apalagi sampe “jajan”. Jajan di sini bukan konotasi negatif ye, maksudnya jajan kuota buat nonton bokep ato jajan majalah dewasa. Masa gue ngomong jorok ya gak etis?

Normalnya cowok itu tertarik dengan cewek dilihat dari bentuk fisik mereka. Paras yang secantik Chelsea Islan. Bodi mulus bak artis Korea. Badan bohai bak Pamela Anderson, Eva Arnaz, ato Farah Quinn. Lugu bak gadis kembang desa. Bertalenta bak Dian Sastro dan Merry Riana. Ditambah sholehah kayak Wirda anaknya ustadz Yusuf Mansyur. Beuh, cowok mana sih yang gak kepincut?

Kita mulai dulu dari alasan cowok “main mata” sebelum bahas mengenai bagian ini.

Pertama, pepatah aja mengatakan “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri”. Itu hal yang manusiawi kok. Kadang manusia merasa gak bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Dikasih tubuh yang sehat dan masih berfungsi normal. Punya penghasilan tetap biar masih kecil. Punya keluarga bahagia. Bisa kuliah di luar negeri sampe S3. Bahkan mereka sering mengeluhkan hal sepele yang dilihat dari kebutuhan manusia itu tergolong kebutuhan sekunder apalagi tersier. Padahal di mata orang lain, kita itu jauh lebih beruntung daripada mereka.

Kedua, ceweknya aja gitu. Jangan terus menerus menyalahkan soal cowok yang doyan tebar pesona meskipun sudah menikah. Kita bisa aja semua serba nyalahin cowok. Kadang kita lupa dengan diri kita sendiri yang lebih doyan hujat orang “pelakor” padahal kita sendiri yang ngasih “peluang lebar” buat pelakor masuk.

Contoh menariknya adalah sitkom Suami-Suami Takut Istri yang pernah tayang beberapa tahun silam. Kenapa Sarmili, Karyo, uda Faisal, dan bang Tigor masih doyan main mata sama Pretty? Padahal mayoritas di antara mereka sudah memiliki anak.

Jawabannya ya “emang cewek doang yang harus dinafkahi secara lahir batin?”, cowok juga harus diberikan kepuasan yang sama. Hubungan pernikahan itu gak cuman ijab kabul lalu sah jadi suami istri gitu aja. Hubungan pernikahan adalah simbiosis mutualisme antara dua pihak (baca: lelaki dewasa dan perempuan dewasa) yang dilandasi dengan cinta, kepercayaan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Perlu diingat lagi bahwa suami istri adalah sebuah tim yang akan hidup bersama hingga maut memisahkan atau talak tiga melayang dari salah satu pihak. Anggap aja lagi kerja kelompok. Bayangin aja kita satu kelompok sama orang-orang yang gak mau kerja tapi mau enaknya aja. Gak enak ‘kan? Adanya mereka malah main-main ke sana kemari di saat kita bekerja keras untuk mendapat hasil yang maksimal. Nah, hal itu berlaku pula dalam hubungan rumah tangga.

Bagaimana caranya biar suami kita gak main mata apalagi kepincut sama pelakor? Cara seperti itu sudah banyak bertebaran di majalah khusus wanita dewasa dan internet. Berhubung ane sedang bicarain soal tayangan televisi, ane bakal ngobrol mengenai solusi yang baik bagi kita perempuan.

Tubuh yang Sehat itu Mutlak

Siapa sih yang gak suka punya tubuh yang sehat? Kita bisa melakukan banyak hal dengan tubuh yang sehat. Kita bisa membantu suami kita. Kita bisa leluasa mengasuh anak. Kita juga bisa melakukan hobi kita. Kita juga bisa aktivitas sehari-hari kita lebih baik dari sebelumnya.

Eits, bodi yang seksi itu adalah bonus dari tubuh yang sehat. Cowok mana sih yang gak kepincut sama cewek sekseh? Cara mendapatkan tubuh yang sehat gak cuman dari asupan nutrisi baik, menjaga kesehatan mental, dan istirahat yang cukup. Semua itu akan percuma jika tidak diiringi dengan olahraga.

Daripada banyakin acara gosip yang ngomongin soal pelakor, kenapa stasiun televisi gak bikin acara olahraga yang khusus untuk para perempuan? Di YouTube sendiri jenis olahraga khusus perempuan itu beragam. Ada olahraga khusus memperbaiki stamina kita, ada olahraga ringan yang bisa dilakukan di sela-sela aktivitas kita, ada olahraga yang khusus untuk ibu hamil, ada olahraga yang khusus untuk membentuk bagian tubuh tertentu (wajib dilakuin kalo pengen punya bodi bohai!), sampai olahraga khusus untuk “ena-ena”. Kenapa pihak stasiun televisi gak kepikiran bikin acara olahraga yang spesifik kayak gitu? Itu olahraga yang tepat sasaran dan pastinya bakal ditonton sama emak-emak.

Punya istri yang bodinya kece biar udah punya anak 8 sekalipun bisa jadi alasan para suami biar mikir lagi gak main mata sama cewek lain apalagi kepincut sama pelakor.

Perempuan Berpendidikan Punya Nilai Lebih di Mata Laki-Laki

Emang cowok itu doyan liatin cewek yang bening-bening. Kenyataannya mereka lebih memilih perempuan biasa aja untuk menjadi pendamping hidup mereka hingga akhir hayat. Alasannya sederhana. Perempuan biasa aja lebih cerdas dan gak neko-neko. Sudah pasti disayang suami, keluarga, apalagi mertua. Sosok istri idaman banget deh.

Ah, tapi kita ini udah menikah. Ibu rumah tangga mana bisa sekolah lagi? Itu salah besar. Di era internet kayak sekarang gini justru lebih gampang buat belajar. Gak cuman belajar agama di majelis taklim masjid deket rumah doang. Banyak kok kelas kursus daring yang gratis dan belajarnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita. Males coba MOOC aka kursus daring, coba deh cek YouTube. Banyak video bagus dan tentunya berbahasa Indonesia buat kita belajar. Ikut juga grup WhatsApp yang khusus untuk kita belajar. Cuek aja biar kita statusnya udah menikah. Belajar itu gak pernah kenal usia kok.

Contoh yang bagus untuk mendidik ibu rumah tangga melalui tayangan televisi adalah tayangan televisi India dan Jepang. India selalu berhasil menyisipkan pesan moral bahkan melakukan edukasi pada perempuan melalui tayangan sinetron mereka. Jepang memang terkenal dengan ide-ide aneh yang gak biasa ditemui di negara manapun termasuk acara life hacking. Acara yang menjelaskan teknik-teknik life hacking justru diminati para ibu untuk menghemat waktu dalam melakukan aktivitas sehari-hari mereka.

Sebenarnya di Indonesia sendiri ada acara yang bagus untuk perempuan terutama dalam meningkatkan kualitas perempuan. Sayangnya kurang dilirik karena kemasannya kurang ciamik. Cara mendidik perempuan kudu tepat sasaran dengan kasus yang gak jauh dari keseharian kita.

Misalnya anaknya bandel banget dan sering jadi biang kerok di rumah. Gimana caranya mendidik anak itu agar jera tanpa harus membuatnya trauma? Itu kasus menarik yang pasti dibutuhkan sama ibu-ibu di rumah. Contoh menarik lain adalah tips dan trik menghadapi suami dengan tempramen tertentu. Ane jadi inget salah satu kisah nyata di zaman Nabi mengenai suami istri yang nyaris tidak pernah bertengkar selama 40 tahun pernikahan mereka. Pernikahan mereka langgeng sampai si istrinya meninggal. Pengen ‘kan punya rumah tangga harmonis jauh dari kata masalah? Itulah pentingnya pendidikan setelah menikah.

Emang Salah Kalo Cantik di Depan Suami?

Gak salah buat kita berdandan apalagi untuk si doi tercinta di rumah. Masa iya sih tiap hari wajahnya kudu kumel terus bak kena tempel jelaga dari katel?

Seinget ane di agama itu cewek boleh dandan asal hanya diperlihatkan pada muhrimnya. Singkatnya muhrim mereka itu sesama muslimah, keluarga mereka, pekerja di rumah mereka (contoh: pembantu, tukang kebun, supir, dan pengasuh anak) yang gak punya niatan apapun pada majikannya selain untuk bekerja, dan suami mereka. Masa iya sih suami dikasih bagian yang jeleknya? Ntar pas kepincut pelakor nangis darah lho.

Sarwendah aja pake daster tetep cantik kok. Biar kata emak-emak dasteran, apa salahnya kita jadi cantik untuk lebih menghangatkan hubungan kita dengan si doi di rumah? Orang Korea aja sekalinya perawatan wajah doang bisa sampe 10 tahap yang dilakukan rutin setiap harinya. Indonesia itu kaya dengan sumber daya alam apalagi bahan baku alami yang sudah terbukti khasiatnya untuk mempercantik diri. Kenapa gak bikin acara yang menggali potensi lokal kita untuk kecantikan? Misalnya membahas tentang bahan makanan yang perlu dihindari biar gak cepet keriput.

Orang tua kita kenal betul dengan jamu, ratus, luluran, dan metode tradisional lain yang banyak menggunakan bahan-bahan alami. Berhubung sekarang lagi tren semua kembali ke alami, kenapa gak manfaatkan potensi itu lalu kemas menjadi tayangan yang menarik? Jangan mau kalah sama pelakor dong. Kita harus kuasai betul medan di rumah biar hubungan kita dengan si doi langgeng.

Pakaian juga ngaruh lho. Jangan mau diledekin suami gara-gara pake pakaian yang bikin kita lebih tua dari usia asli kita. Gak masalah kok kalo selera kita itu lebih nyaman dengan daster daripada pakaian sekseh. Kenapa gak adain tips dan trik mengenai pakaian di televisi? Gak cuman melihat dari sudut pandang mode terkini. Tips untuk memperbaiki postur dengan pakaian yang tepat, cara merawat pakaian, dan pengetahuan mengenai aksesoris yang cocok untuk kita kenakan bikin kita semakin disayang suami di rumah.

“Istriku sayang. Makin cintaaa deh sama kamu,” kata suami dengan peluk manjanya.

Kita sudah berjaya di rumah, insya Allah suami gak bakal kepincut pelakor.

Duh tulisannya jadi panjang lebar kali tinggi nih. Tapi gak apa-apa lah. Harusnya televisi di Indonesia itu lebih memahami kebutuhan wanita. Emang pangsa terbesarnya adalah ibu rumah tangga tapi “jangan dibikin nina bobo” juga kali. Emak-emak itu perkasa lho. Alangkah lebih baik kita mengasah keperkasaan mereka dengan cara yang tepat agar mereka “lebih menggigit” baik di keluarganya maupun di lingkungan masyarakat. Kini saatnya ibu rumah tangga tidak dipandang sebelah mata hanya demi rating semata. Berikan hubungan timbal balik antara televisi dan ibu rumah tangga.

Iklan

Padahal Ada yang Lebih Baik Daripada Sinetron Ala Hidayah

Majalah Hidayah adalah sebuah majalah yang demografi pembacanya adalah muslim. Majalah ini mendadak populer karena sinetron religi Rahasia Ilahi yang mengadaptasi kisah nyata dari setiap edisi majalah ini beserta sekuelnya yang bernama sama, Hidayah. Sejak saat itulah genre ala Hidayah menjadi populer di kalangan masyarakat bahkan sering dijadikan meme di internet. Gak tahu sih sekarang majalahnya masih terbit ato gak. Padahal di samping cerita kisah nyatanya, masih banyak artikel bagus di sana yang lebih menarik daripada segmen cerita kisah nyatanya.

Belakangan ini tren sinetron rasa Hidayah lagi bangkit lagi. Seiring dengan era banyak ide lama digunakan kembali buat menarik penonton. Tren ini dibangkitkan lagi oleh ANTV sepaket dengan film horor. Awalnya Jodoh Pengantar Jenazah itu berkisah tentang misteri di balik kematian misterius jenazah yang diantarkan oleh Adam dan tarik ulurnya hubungan Adam-Kania gara-gara status sosial di antara mereka yang berbeda jauh. Semenjak dapet rating tinggi dan tiba-tiba ganti jadi Jodoh Wasiat Bapak, ceritanya makin bergeser dari konsepnya semula malah jadi sinetron rasa Hidayah campur mbah dukun. Padahal cerita di majalah Hidayah gak gitu-gitu amet deh.

Kenapa coba gak kepikiran bikin sinetron yang intinya tetap menceritakan hal baik namun tetap bisa diterima semua orang?

Siapa yang tidak tahu sinetron legendaris Keluarga Cemara yang terkenal di era 90-an? Sinetron yang ceritanya penuh pesan moral dengan latar belakang tokoh yang mendadak miskin karena bangkrut. Abah yang harus menarik becak untuk menghidupi keluarga. Emak, Ara, Agil, dan Euis membantu menopang ekonomi keluarga dengan berjualan opak.

Kalo cerita kayak Keluarga Cemara terlalu baper, bisa versi yang lebih merakyat kayak Si Doel Anak Sekolahan. Ya kalo versi kekiniannya sih kayak Dunia Terbalik.

Sesekali bikin cerita yang tidak berpusat pada “penjahat kelewat jahat terus dapet azab kubur pas meninggal” terus. Toh ane lihat di sinetron Rahasia Ilahi dan Hidayah ada kok cerita yang justru bercerita tentang kebaikan seseorang yang membuat seseorang meninggal diiringi dengan hal-hal unik. Seperti halnya cerita jenazah tersenyum saat dimandikan hingga aroma wangi yang berasal dari jenazah hingga dikubur dalam liang lahat.

Variasi lain seperti salah satu episode Risalah Hati di RCTI yang kini digeser sama …. horor maning horor maning. Episodenya bercerita tentang balas budi seorang wanita kaya pada seorang tukang becak jujur.

Contoh yang bagus adalah sinetron India. Arah sinetron Indonesia baik dalam segi penceritaan maupun konflik ngaler-ngidul gak jelas kebawa rating itu cenderung ke India. Sayangnya sinetron Indonesia cuman ambil dari segi negatifnya. Sinetron India memiliki ciri khas ikatan kuat dalam keluarga. Mereka bisa mengeksekusi topik yang sebenarnya sepele dan sering terjadi di rumah tapi jadi menarik saat diangkat jadi sinetron.

Hal yang positif yang bisa ditiru lainnya adalah … the power of auntie Kokila. Di awal penayangannya cerita “bibi Kokila bolak-balik dekok bikin bibi Urmila garuk-garuk” dapet rating rendah karena bukan tipikal saas-bahu pada umumnya. Ya maksudnya genre kebanyakan sinetron India yang konfliknya bolak-balik dekok gual-géol gutak-giteuk panjang lebar dikali tinggi. Nyatanya, Saath Nibhaana Saathiya bisa berlangsung sampai tamat dengan rating yang memuaskan. Kata siapa rating itu segalanya?

Selama ceritanya dekat dengan keseharian dengan nilai yang disampaikan kuat pun bisa nyantol di hati penonton asalkan pihak PH dan stasiun televisi mau bersabar. Toh Bajaj Bajuri sama Suami-Suami Takut Istri awalnya biasa aja tapi bisa tayang hingga bertahun-tahun. Jadi buat apa bikin sesuatu yang negatif seperti kebanyakan sinetron ala Hidayah rasa zaman sekarang?

Tayangan Lama Rasa Baru, Itu Bukan Remake

Bicara soal remake, ane kurang greget nonton MacGyver versi remake. Kangen MacGyver lawas yang biasa nongol di Trans7. Bukannya ane gak suka versi terbarunya. Ane kurang merasakan karakter Angus MacGyver sama ceritanya yang lebih baik di versi lawasnya.

sumber: The Best Damn Nerd Show

apa perlu minta Trans7 tayangin ulang seperti halnya tayangin ulang Empress Ki?

Bicara soal apapun yang bersifat jadul. Entah itu acara televisi, film, bahkan iklan sekalipun pasti ada yang berkesan di masa kecil kita. Belakangan ini ane malah doyan nonton segala sesuatu berbau jadul.

Berawal dari depresi malah jadi seneng nonton segala sesuatu berbau jadul. Pertamanya sih dari iklan lawas yang ada di YouTube. Salah satu saluran yang terkenal adalah Sanggar Cerita, saluran yang terkenal dengan iklan-iklan jadul Indonesia mulai dari era Manasuka Siaran Niaga pada tayangan Dunia Dalam Berita TVRI (dan ane pun baru tahu itu adalah era terakhir TVRI menayangkan iklan) hingga era awal 2000an. Salah satu hiburan ane di saat ane depresi berat setahun silam.

^ credit: akun YouTube Sanggar Cerita. Jangan lupa like dan subscribe. Ntar dipeluk sama mamih Sophia Latjuba dan Dessy Ratnasari XD

Tayangan lawas memang berkesan. Itu kalo dibuatnya dengan bagus. Setiap zaman pasti ada yang baik dan buruknya. Hal yang terbaik akan dikenang dan yang buruk pun terlupakan. Hal yang menarik dari tayangan lawas adalah mereka adalah orang-orang niat di samping keterbatasan dana dan teknologi yang ada. Contohnya film horor lawas Indonesia yang bisa bikin orang merinding disko *maaf Papa Bebi* tanpa harus membuat orang-orang jump scare. Properti yang dipakai pun sederhana: gincu sebagai efek darah, bilatung, ulat, kodok, sampai buaya hidup. Jika ingin ditambahkan buaya buntung dan buaya darat pun, leh ugha.

Belakangan ini sedang tren, baik di Indonesia maupun di dunia, membawa kembali nostalgia itu pada pemirsa. Tidak peduli mereka hidup di zaman saat tayangan tersebut itu sedang populer ataupun pemirsa baru yang berada di zaman now. Metode yang dihadirkan itu bertujuan tidak hanya untuk membangkitkan nostalgia semata. Ada yang sukses dan adapula yang tidak sebaik tayangan aslinya.

Cara untuk membangkitkan kenangan dari generasi sebelumnya dan rasa penasaran generasi muda itu beragam. Ada yang dikumpulkan dari sumber aslinya seperti pemilik saluran YouTube Sanggar Cerita. Ada yang menayangkan ulang versi asli dengan rasa kekinian (baca: remake) seperti MacGyver yang saat ane menulis baru tayang season ke-2. Adapula yang membuat kinclong versi lawas tanpa mengurangi cerita seperti sebagian film lawas yang tayang di ANTV dan Trans7 pada tengah malam.

Istilah dalam bahasa Indonesianya bisa jadi restorasi namun dalam istilah bahasa Inggris dikenal remastered. Jika ane menggunakan kedua istilah itu dalam tulisan ini, intinya sama saja.

Banyak film Indonesia yang direstorasi akhir-akhir ini. Hal itu menjadi bukti dari kecintaan sineas muda Indonesia yang ingin menyelamatkan sejarah Indonesia yang terekam dalam bentuk film. Film pertama yang direstorasi adalah film Lewat Djam Malam pada tahun 2012. Keberhasilan restorasi film tersebut tidak membuat para sineas muda Indonesia puas. Pada tahun 2016, SA Films berhasil melakukan restorasi pada film Tiga Dara karya Usmar Ismail. Film tersebut menjadi film Indonesia pertama hasil restorasi pertama yang tayang dalam format 4K. Film Tiga Dara pun mendapat predikat film restorasi 4K pertama di Asia yang bisa dilihat oleh umum.

Hasilnya, kita bisa mengetahui perkembangan sejarah dan budaya yang terekam dalam film-film Indonesia lawas. Penonton pun semakin penasaran dengan film-film yang sempat tayang di masanya. Tidak hanya film-film lawas populer seperti film Warkop dan horor Suzzanna.

sumber: Photobucket

tidak tahu saya pernah main film, sungguh … ter-la-lu!

Begitu pula dengan anime. Ane sering melihat anime lawas yang mengalami prosedur serupa untuk diluncurkan sebagai edisi spesial. Tentunya dirilis dalam Blu-Ray dan format gambar terkini. Biasanya anime lawas yang mengalami proses restorasi serupa diluncurkan dalam kondisi tertentu seperti ulang tahun serial tersebut tayang atau ulang tahun pembuat serialnya. Contohnya Gundam SEED versi remastered yang ditampilkan dalam format HD.

Masalah restorasi film Indonesia adalah berpacu melawan waktu untuk menyelamatkan peninggalan sejarah berharga. Banyak film yang ditemukan dalam ruang arsip Sinematek dalam kondisi buruk. Entah itu terpotong, berjamur, hingga ditumbuhi kristal. Pihak Sinematek mengakui pada salah satu media bahwa kebanyakan salinan film yang mereka terima bukanlah fresh copy. Kondisi penyimpanan film pun memprihatinkan. Banyak gulungan rol film yang disimpan dalam wadah berkarat. Bukan tidak mungkin lagi lembaran rol film akan rusak oleh karat. Hal ini diperburuk dengan kondisi iklim Indonesia yang tropis. Idealnya, rol film disimpan dalam ruangan bersuhu dingin. Kondisi iklim di Indonesia memudahkan film menjadi cepat rusak oleh jamur. Jadi diperlukan perhatian ekstra untuk merawat semua koleksi film yang ada.

Masalah restorasi pada anime lawas adalah seluloid. Ane tahu proses di balik layar pembuatan anime lawas dari album book Sailor Moon yang ada di rumah. Pada paruh akhir edisi buku kedua dari album book Sailor Moon dijelaskan proses pembuatan animasi Sailor Moon. Mulai dari membuat sketsa di atas lembaran seluloid, memberi warna, menggabungkan lapisan demi lapisan lembaran seluloid untuk dijadikan satu adegan, hingga proses akhir seperti sulih suara.

sumber: koleksi pribadi

sayangnya buku yang kedua hilang setelah pindah rumah ._.

Sebelumnya ane mencari referensi tentang restorasi film dan anime, dua hal yang belakangan ini ane lihat di televisi. Ane terkejut ketika melihat hasil penelusuran di internet mengenai restorasi anime. Proses restorasi anime tidak semudah melakukan restorasi film. Hal itu dikarenakan banyak frame seluloid yang berpindah tangan setelah produksi. Setidaknya jika jatuh ke tangan kolektor jauh lebih baik. Kolektor akan merawat koleksinya sebaik pihak pengarsipan. Sayangnya ada yang ditemukan terkubur dalam tanah setelah anime tersebut selesai dibuat. Jika ada yang masih disimpan, itu pun disimpan dalam laboratorium film yang pernah menangani anime tersebut.

Rekaman adalah salah satu bentuk catatan berharga dalam peradaban manusia apapun jenisnya. Entah itu dalam gambar seperti film, iklan, dan animasi atau suara seperti pidato dan lagu. Setiap generasi perlu menghargai dan merawat hasil peradaban kita dengan baik agar tidak lekang dimakan zaman. Setidaknya dengan upaya restorasi dari tayangan lawas, kita bisa belajar banyak hal. Mulai dari tren, budaya, latar belakang yang terjadi pada tahun tersebut, hingga cara sineas mengekspresikan pikiran mereka.

Opera Sabun India yang Bikin Emak-Emak Perkasa

Ane emang seneng drama Asia gak peduli asal negaranya. Ane seneng nonton ATM 2 The Series, Hormones (adegan ena-ena di televisi nasional pas pagi-pagi … kelewat greget), Love Forward, Got To Believe (di Indo sih jadi Kaulah Takdirku), sampe serial biografi Imam Bukhari. Selama ceritanya gak menye-menye sama mbulet kayak kebanyakan sinetron India sih gak masalah.

Pertanyaannya, seneng nonton sinetron India juga? Ya selama ceritanya gak mbulet sama konflik saas-bahu ya ane tonton. Contohnya Naagin yang sekarang lagi tayang season 3.

Sebenarnya sinetron India udah lama nongkrong di televisi Indonesia dari zaman Mahabharata versi lawas. Itu zaman ane masih SD dan sering ditayangin ulang di Bandung TV. Memang sih gak rame kayak sekarang. Setidaknya pada masa itu ditayangin sampe tuntas gak terjegal gara-gara rating rendah. Satu hal yang ane inget adalah … ane sering diledekin Hanoman pada masa itu -.-” *hee Hanomaaaaan~!*

Ane penasaran. Apa sih yang bikin emak-emak pada doyan pantengin sinetron India sampe seharian penuh? Apa yang menjadi daya tarik dari sinetron India dibandingkan drakor apalagi sinetron?

Ane jadi inget cerita kocak soal salah satu wilayah di India yang lucunya melarang penayangan tayangan sinetron India (mau bahasa Hindi, Tamil, Telugu, Malayalam, dsb) tapi malah muterin drakor. Di sana malah lebih terkenal Lee Jong Suk daripada Mohit Raina saking populernya drakor di daerah itu.

Keterangan:

Sinetron India memang banyak diproduksi dalam bahasa Hindi. Mau buat konsumsi domestik melalui jaringan stasiun televisi nasional di India ato buat diekspor ke negara tetangga. Definisi bakal ane persempit menjadi “sinetron India dalam bahasa Hindi”.

Selain itu tulisan ini berdasarkan hasil pengamatan pribadi nemenin Emak ane nonton sinetron India di rumah.

Apapun yang Terjadi, Kudu Kelar Sampai Tamat

Gak pernah ada kasus sinetron India seperti sinetron Indonesia. Seburuk-buruknya rating dan ditinggal satu persatu pemainnya, tayangan harus berjalan terus. Gak ada ceritanya sinetron India yang ditamatin baru beberapa episode setelah tayang. Kasus terekstrim di Indonesia sih belasan episode setelah tayang.

Ini adalah hal unik yang ane gak pernah temuin di tayangan drama dari negara lain. Bahkan sinetron Indonesia sendiri pun mengadopsi pula sistem ini. Ya, India memang terkenal dengan show must go on dalam penayangan dramanya. Biasanya pemeran sinetron India diganti itu karena beberapa sebab. Ada yang ikut kompetisi seperti Jhalak Dikhhla Jaa aka Dancing with the Stars, ada yang jadwalnya bentrok dengan syuting film Bollywood, hingga pemeran aslinya meninggal dunia. Tokoh yang memerankan pemeran utamanya meninggal seperti pemeran Anandhi bukan berarti cerita keseharian keluarga Anandhi kudu tamat prematur. Pemeran Anandhi diganti dan cerita terus berjalan sampai tamat.

India memang dikenal dengan hal-hal aneh terkait tokoh dalam ceritanya. Hal itulah yang menginspirasi sinetron Indonesia melakukan hal serupa. Toh produsernya doyan nonton sinetron India. Bukan kata ane, itu kata seorang penulis skenario sinetron yang tidak mau diungkapkan identitasnya pada majalah Vice Indonesia. Ammar Zoni tersandung kasus narkoba bukan berarti Anak Langit tamat. Nah, biasanya buat memperkenalkan tokoh utama atau pemeran pendukung yang baru banyak caranya. Ada yang diceritain diculik, ada yang diceritain meninggal tahunya selamat terus mukanya ancur jadinya kudu oplas, ada yang muncul dari balik siluet, ada yang berjalan layaknya episode biasa seperti halnya kemunculan Toral Rasputra sebagai Anandhi, dan masih banyak cara untuk memperkenalkan tokoh yang sama dengan pemeran yang berbeda.

Penjara Kepenuhan Jadi Penjahatnya Banyak

sumber: ane, dibuat pake memegenerator

sinetron India kurang greget tanpa antagonis

Siapa yang tidak kenal ulah si Nenek Tapasya yang ngeselin tapi malah dikangenin? Rasanya bukan Uttaran tanpa kata-kata pedas dan nyebelin dari si nenek yang satu ini.

sudah wisuda yeay, ngapain kzl skripsi ditolak :v

Yup, nenek yang satu ini tipikal karakter antagonis yang lebih sering jadi bumbu penyedap daripada penjahat besar utama cerita. Di awal memang dia sebel sama Ichcha tapi bukan berarti dia tidak bisa rukun dengan Damini, ibunya Ichcha, dan Meethi, anaknya Ichcha, di season kedua. Nenek ngeselin yang satu ini terkenal dengan jargon “Demi Dewa!” dan “Bantu Kami Dewa” yang lebih sensasional dari “Demi Tuhan” versi Arya Wiguna.

Masih ingat dengan wajah ini? Jika tidak, selamat datang di dunia meme Indonesia!

Kalo kids zaman now ingat sosok Nenek Tapasya, anak zaman heubeul ingatnya Tuan Takur. Sosok yang kerap menjadi polisi rese dan selalu mengganggu tokoh utama apapun judul tayangannya.

Sosok antagonis dalam sinetron India merupakan bumbu wajib yang kudu banget ditambahkan dalam cerita. Gak selalu sinetron India membutuhkan antagonis. Contohnya Balika Vadhu yang justru tokoh antagonisnya memang korban keadaan di lingkungan sekitar. Nenek Kalyani yang kelihatannya antagonis padahal sebenarnya gak. Toh dia kelihatan antagonis di hadapan penonton karena murni berbeda prinsip dengan tokoh lainnya.

Biasanya tokoh antagonis di serial India itu adalah … mertua. Yup, pola seperti ini kerap ditemukan dalam genre saas-bahu yang berfokus pada kehidupan satu keluarga. Biasanya mertuanya itu seorang yang religius dan beda tipis sama Nenek Tapasya. Cuman Nenek Tapasya lebih condong ke nenek-nenek ngeselin kocak daripada tokoh penjahat sungguhan. Kalo gak mertua, tokoh antagonisnya itu orang terdekat si tokoh utama yang terbakar api cemburu lalu melakukan segala hal untuk mencapai ambisinya. Contohnya Kalawati di Nakusha yang motif di balik kejahatannya adalah dia cemburu dengan Dutta yang merupakan seorang anak angkat namun memiliki kasih sayang penuh dari ibunya.

Tokoh antagonis di awal memang sudah jelas. Seiring dengan berjalannya waktu, tokoh antagonisnya pun malah bertambah banyak. Modus yang dilakukan tokoh antagonis yang muncul sesudahnya biasanya melakukan segala cara. Mulai dari menusuk tokoh utama dari belakang hingga melakukan kejahatan pada tokoh antagonis yang muncul di arc sebelumnya. Tokoh antagonis ada juga yang berubah jadi netral seiring berjalannya waktu seperti Nenek Tapasya. Ada juga yang tokoh antagonisnya memang jadi bumbu lelucon seperti bibi Urmila yang selalu ketangkap basah sama bibi Kokila.

Demi Rating! Bukan Kata Nenek Tapasya

Bicara soal tokoh antagonis yang kebanyakan, rasanya bikin orang-orang greget dan kesel. Ane pernah baca artikel yang mewawancarai salah satu pemeran antagonis yang sering muncul di sinetron, ane lupa siapa artisnya. Dia mengaku sering banget dihujat dan diumpat setiap lagi bepergian ke tempat ramai seperti mal. Dia dikatai seperti itu malah senyum-senyum aja. Dia bicara pada media kalau banyak orang yang sebel sama dia berarti aktingnya sangat bagus hingga dikenal masyarakat sebagai “si penjahat” dalam sinetron.

Keberadaan tokoh antagonis itu emang bikin greget. Apalagi kalo ceritanya berakhir dengan cliffhanger alias gantung di akhir episode pada bagian tokoh antagonis sedang beraksi. Semakin greget sebuah cerita biasanya berbanding lurus dengan rating yang diterima suatu acara. Biasanya ibu-ibu itu doyan banget ngerumpi. Acara semakin rame pasti banyak dibicarain. Normalnya cewek emang gak mau kalah dan pengen eksis. Ujung-ujungnya ya ngikutin hal-hal yang jadi topik pembicaraan.

Tak heran. Sinetron India identik dengan episode yang panjang. Minimal lima puluh lah.

sumber: 1CAK

Namun apa yang terjadi sebenarnya di balik episode sinetron India yang ratusan? Apa prosesnya sebanyak lapisan wafer Tango?

India memang gak sembarangan dalam bikin sinetron. Di balik sinetron yang episodenya ratusan bahkan ada yang nembus ribuan, ternyata ada kerja sama tim yang solid dalam rumah produksinya. Mereka sering mengadakan rapat hanya untuk membahas soal rating. Produser mencari tahu tren yang sudah ada atau belum ada di televisi. Pihak rumah produksi melakukan analisis soal rating lalu hasil analisis tersebut diutarakan dalam rapat. Penulis skenario memaksimalkan bagian yang dianggap memerah rating yang besar seperti cerita yang berfokus pada keluarga besar. Sutradara pun tidak mau kalah dengan mengambil gambar yang sebisa mungkin menarik simpati penonton. Kerja sama tim yang kompak membuat sinetron India pun tetap bertahan dan menjadi raja di negerinya. Bahkan aktor dan aktris Bollywood pun kerap muncul untuk mempromosikan film terbaru mereka dalam tayangan sinetron yang sedang tayang.

Nah, kapan di Indonesia bisa seniat di India dalam produksi sinetron? Maksudnya ambil yang positif buang yang negatifnya lho.

Artisnya pun Gak Selalu Kenal

Itu adalah pengakuan jujur dari artis India yang belakangan ini banyak datang ke Indonesia. Ane pernah baca tulisan yang dimuat di laman UC News, ternyata sesama artis India banyak yang tidak saling mengenal. Hal itu dikarenakan jadwal syuting mereka yang padat untuk sinetron yang kejar tayang. Jika ada yang kenal pun pasti melalui pihak ketiga. Misalnya acara Big Brothers yang populer di India dan ketemu lewat Pesbukers.

Iringan BGM yang Selalu Ada

Satu yang khas dari sinetron India adalah BGM aka musik latar. Ada yang asli dibuat untuk sinetron itu, ada yang muncul di judul sinetron lainnya, dan adapula yang diambil dari film Bollywood terkenal.

^ lagu ini aslinya dari film Bollywood, cuman di Indonesia banyak yang kenal lagu ini dari Ranveer dan Ishani aka Meri Aashiqui Tum Se Hi.

Satu hal yang unik dari BGM sinetron India adalah jarang ditemui adegan yang bebas dari BGM. Berbeda dengan drama Korea, dorama Jepang, teleserye Filipina, bahkan sinetron Indonesia. Selain itu banyak BGM yang suara instrumennya dari suara manusia. Contohnya BGM Uttaran yang sering dijadikan bahan meme anak muda.

Dung tarara dung dung tarara dung (bahkan BGM ini nyasar di Jepang semenjak webtoon Terlalu Tampan pun populer di Jepang)

India sebenarnya bisa bikin BGM seniat OST drama Korea. Dibuat oleh artis terkenal turut populer seiring dengan popularitas drama tersebut. Sejauh ini ane baru nemu sinetron India yang membuat album kompilasi soundtrack seperti drama Korea: Ishqbaaz. Popularitas Ishqbaaz di sana membuat para fans sering memutar lagu-lagu yang sering muncul dalam tayangan tersebut. Seperti halnya lagu Tum Hi Ho yang populer karena Meri Aashiqui Tum Se Hi tayang di Indonesia.

Hal menarik lainnya dari BGM di India adalah jebakan emosi. Banyak adegan dengan BGM serius tapi ujung-ujungnya malah berubah jadi bercanda. Contohnya setiap kali adegan Rishabh muncul dengan Raina dalam Brahmarakhsash. Berbeda dengan sinetron Indonesia yang adegan menjahili orang dengan gaya serius pun pakai BGM konyol. Selain itu banyak ditemukan instrumen tradisional India dalam BGM yang mengiringi setiap adegannya. Suatu hal yang langka ditemui pada drama Asia lainnya yang bertema modern. Jika ada sentuhan alat musik modern pun pasti dengan ciri khas yang India banget.

Ane jadi penasaran. Kapan ya Indonesia menyertakan BGM dengan sentuhan gamelan, angklung, tifa, kolintang, sasando, dan alat musik tradisional lainnya dalam sinetron?

Tiada Hari Tanpa Sembahyang

Orang India adalah orang yang religius apapun agamanya. Agama memang tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat di India.

Ini adalah satu hal yang unik dari drama Asia yang satu ini. Kalo di sinetron Indonesia adegan sholat itu hanya muncul sewaktu orangnya ditimpa kesusahan, di sinetron India adegan sholat pun muncul di saat suka maupun duka. Contohnya pada Jodha Akbar dan Beintehaa. Begitu pula dengan agama mayoritas di sana, Hindu. Pasti ada episode yang menceritakan ritual keagamaan Hindu termasuk hari raya besarnya. Contohnya festival Holi, puasa Karva Chauth, Diwali, dan lain-lain. Bahkan ane pernah nemu salah satu episode sinetron India yang tokohnya pun masuk ke bilik pengakuan dosa, salah satu cara peribadatan umat Katolik. Sayangnya sinetron India di TV Kabel tidak ada takarir bahasa Inggris apalagi Indonesia jadi ya gak terlalu ngerti ceritanya.

Penceritaan karakter dalam sinetron India, terutama masalah agama, itu sangat jelas. Seorang muslim digambarkan sebagai seorang muslim dengan sholat, ngaji, beserta ibadah lainnya. Seorang penganut Hindu digambarkan jelas dengan ritual puja yang tidak pernah absen dari sinetron India. Seorang Nasrani pun digambarkan jelas dengan aktivitasnya yang berkaitan dengan gereja. Bukan sekedar tempelan semata dalam cerita seperti halnya sinetron Indonesia yang mendadak religius pada momen bulan Ramadhan.

Satu Keluarga Kumpul Rame-Rame

Hal yang paling menarik dari sinetron India: keluarga besar. Saking besarnya, tiga generasi bisa tinggal satu atap.

Memang drama Asia banyak yang ceritanya berfokus pada keluarga. Di Indonesia sendiri ada sinetron legendaris Keluarga Cemara. Drama Korea dengan weekend drama yang temanya berpusat pada keluarga. Dorama Jepang yang ceritanya banyak tentang keseharian keluarga. Tapi tidak ada yang menceritakan keluarga seintens sinetron India.

Salah satu ciri khas dari sinetron India adalah: satu keluarga ngumpul rame-rame dengan kamera diarahkan bergantian pada setiap anggota keluarga. Biasanya hal itu muncul jika konflik yang dialami si tokoh utama itu mengejutkan pihak keluarga. Durasinya pun bisa sampai 5 menit untuk satu adegan dengan satu keluarga ngumpul rame-rame.

Ada yang bilang kalau tayangan film itu dapat mencerminkan kebudayaan suatu bangsa yang terdapat di masa tersebut. Contohnya sinetron India. Ane belajar dari sinetron India kalo di sana sangat menghormati orang tua. Hal yang serupa yang biasa ane temukan dalam drama Mandarin. Perkataan orang tua di sana sifatnya mutlak seperti halnya emak-emak bawa matic di jalan. Makanya bisa muncul genre saas-bahu pun akarnya dari sana. Selain itu, biar sudah menikah pun masih tinggal satu rumah dengan orang tuanya. Biasanya pihak perempuan yang tinggal di rumah keluarga suami. Itu sebabnya cerita dalam sinetron India pun bisa sampai lintas generasi.

Satu Episode Setara Sepuluh Episode

Kasarnya memang seperti itu. Itu hasil konversi naif ane yang mengetahui jumlah episode adaptasi Hana Yori Dango versi India itu sepuluh kali lipat daripada episode Boys Before Flower. Sebenarnya itu adalah salah satu strategi pihak rumah produksi di India untuk menaikkan rating.

Durasi sinetron India ada yang 30 menit dan 1 jam bergantung pada temanya. Kalo sinetronnya tayang mingguan seperti Naagin durasinya 1 jam. Sebenarnya kalau ceritanya dimampatkan bisa seperti adaptasi The Good Wife versi Korea. Episode aslinya di Amerika ratusan namun berhasil diekstrak jadi 16 episode yang memuat konflik utamanya saja. Kebanyakan penceritaan dalam sinetron India terbilang lambat. Contoh ekstrimnya sih mirip arc Dressrosa di One Piece yang ternyata kejadiannya berlangsung dalam satu hari namun diceritakan dalam puluhan episode.

Percakapan antartokoh terbilang lambat. Lebih mirip cara narator membaca narasi pada tayangan anak-anak. Satu tokoh saja bisa menjelaskan satu masalah bisa sampai 1 menit.

Hal itu belum termasuk adegan “satu keluarga kumpul rame-rame” yang ane singgung sebelumnya. Uttaran adalah salah satu contoh sinetron India yang durasi adegan tersebut terbilang lama. Belum pula ditambah adegan tokoh antagonis sedang beraksi plus monolog berisi isi pikiran jahatnya.

Bukan Opera Sabun India tanpa Sesuatu yang India Banget

Sesuatu yang India banget? Banyak.

Salam di India dengan cara merunduk sambil menyentuh kaki orang yang lebih tua. Generasi yang lebih muda sering mengucapkan salam sambil diiringi berkat dari orang tua.

Biarpun pakaian sudah modern, tetap saja sari menjadi pilihan utama. Pakaian tradisional India pun tidak kalah dengan zaman. Banyak sinetron India bertema kehidupan perkotaan yang tokohnya masih menggunakan pakaian tradisional dengan desain modern nan elegan. Kata siapa pakai pakaian tradisional gak bisa kekinian? Belajarlah dari India.

Orang India kadang menggelengkan kepala saat sedang berbicara. Cara menggelengkan kepalanya pun terbilang khas dan mudah dijumpai dalam setiap sinetron India.

Ini hal yang unik. Kalo di Indonesia, semakin tajir orangnya semakin cetar perhiasannya. Contohnya Angel Lelga, Syahrini, dan Hotman Paris Hutapea yang terkenal dengan penampilan wownya. Kalo di India, adanya kebalik. Penduduk yang tinggal di desa lebih banyak menggunakan perhiasan dibandingkan dengan penduduk di kota. Perhiasannya pun tidak tanggung-tanggung: perhiasan emas yang beratnya hampir 1 kg jika ditimbang dari ujung rambut hingga ujung kaki. Perhiasan lebih banyak digunakan lagi pada upacara pernikahan.

Hampir tidak ada perempuan berambut pendek dalam sinetron India. Sependek-pendeknya rambut tokoh perempuan, tidak lebih pendek dari sebahu.

Soal fanservice? Minim. Jarang ane temui perempuan dalam sinetron India yang mengenakan pakaian seksi ataupun memperlihatkan lekuk badan. Apalagi pakai rok mini atau hot pants. Begitu pula adegan roti sobek aka tubuh six pack yang bikin cewek klepek-klepek. Ada ciuman pun hal yang umum terlihat hanya cium kening, cium pipi, dan cium tangan.

Polisi yang rese kayak Tuan Takur? Masih suka muncul kok.

Sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa ane tulis. Cuman ane harus observasi lagi dan itu memakan waktu lama untuk menulisnya. Intinya, setiap drama Asia apapun asal negaranya memiliki benang merah yang sama: sopan santun dan budaya timur yang masih melekat kuat tercermin dalam ceritanya.

Cari Harta Karun dari Tumpukan Karya

Belakangan ini ane baru sadar kalo preferensi ane lebih condong ke literatur. Gara-gara dari kecil ditinggalin mulu di rumah tetangga di depan tipi, doyan nonton anime habis sholat Subuh di hari Minggu dan sering nonton bareng drakor sama kakak ane, sebut saja Bubu. Ane juga terbilang introvert. Biar ane seneng ngumpul bareng temen deket, toh ane demen menyendiri. Orang-orang terdekat ane tahu persis kebiasaan ane pas lagi sendiri. Gak bakal jauh dari gambar, nulis, nonton, dan baca.

Ada koneksi internet tapi sengaja ane batasin. Kasihan aja ama ortu yang bayar biaya internet bengkak gara-gara anaknya tukang unduh film. Kondisi harddisk ane emang sekarat. Mau eksternal ato internal laptop pun isinya habis sama data-data penting. Kebanyakan sih backup OS sama film. Unduh film pun gak boleh sembarangan. Masa iya unduh anime ecchi di saat keponakan ane yang masih balita berseliweran nebeng nonton di kamar? Mau beli buku di toko buku pun bingung mau pilih yang mana. Niat ke toko buku pengen beli buku yang ada di daftar barang inceran tapi kenyataannya malah beli lebih banyak daripada daftar. Pas ada film rame di bioskop, pas banget lagi bokek. Ane memang belum punya duit. Toh belum saatnya ambil barang dagangan yang dititipin di warung. Intinya kondisi ane sekarang dengan hobi ane pun sering bertentangan makanya kadang ngerasa serba salah.

Berawal dari masalah itulah, ane terbilang selektif dalam memilih hal-hal berbau literatur. Di mata ane, duit 500 perak, memori 1 KB, dan kuota waktu/volume internet itu sangatlah berharga. Efek samping terlalu lama jadi anak kost ditambah tinggal serumah sama bocah-bocah kali ye.

Tanpa basa-basi, ini dia trik yang biasa ane lakukan buat mengatasi masalah tersebut.

Sampul Sering Menipu Kok

Intinya cuman dua. Baca ya baca aja. Nonton ya nonton aja. Kok bisa ngomong gitu? Pengalaman pribadi.

Ada dua contoh yang mungkin gak asing lagi di telinga. Tahu SAO sama The Sound of Your Heart? Kalo gak tahu ya silakan tanya si mbah. Kalo masih ada yang gak kenal ane kasih contoh yang lebih familiar sama orang Indo. Tahu Tahilalats? Gak tahu berarti kurang a-en-je-a-ye *jangan dinyanyiin dengan logat Young Lex*.

Lho kok jadi kepikiran embed video ini sih? Anggap aja penulisnya lagi setengah ngantuk jadi ngaco.

Padahal Tahilalats kalo soal artwork masih kalah sama Maghfirare apalagi CERGAROMA. Kok banyak yang demen ya? Jawabannya … Tahilalats itu punya kelas terutama dalam masalah humor. Tuh ‘kan mulai ketipu sama sampul lagi ‘kan?

Ane banyak belajar dari anime dan komik kalo gak selamanya cover ketjeh badai itu berbanding lurus dengan isinya. Contohnya SAO. Banyak yang bilang SAO itu overrated. Secara kualitas anime, di samping artwork, banyak fans yang menyayangkan adaptasinya terutama fans LN kelas kakap. Orang-orang liat “sampulnya” jadi ekspektasi mereka tinggi. Kenyataannya banyak yang ngasih nilai rendah terutama di situs review anime dibandingkan dengan anime lain yang tayang di season yang sama. Itu hasil review SAO yang arc pertama sama Alfheim Online. Ane gak ngikutin jadi gak tau review pas adaptasi arc GGO ke sana.

Kalo The Sound of Your Heart itu kebalik. Salah satu webtoon paling sepuh di Naver yang kata orang gambarnya itu jelek. Mereka berpikir ceritanya sama jeleknya dengan gambarnya. Eh tahunya malah jadi webtoon yang ceritanya tersembunyi di balik gambar jelek dan sudah diadaptasi jadi drama. Pemainnya Lee Kwang Soo loh. Siapa sih yang gak kenal sama jerapahnya Running Man?

Jadi, pepatah “don’t judge a book by its cover” sangat berlaku dalam memilih buku, bacaan, dan tayangan yang menurut kita baik.

Kembali ke Selera dan Prioritas

Tanya deh ke diri sendiri.

Ente demennya apa?

Setiap orang seleranya beda-beda. Cewek gak selalu shoujo dan cowok gak selalu shonen. Makasih buat Hanif, Alwan, dan Riko—para lelaki baper pecinta romance—yang menyadarkan ane soal selera cowok.

Kita gak perlu deh ngikut-ngikutin kata orang ato tren yang lagi rame saat ini. Sekarang lagi rame film Pengabdi Setan versi remake di bioskop tuh. Kalo emang kita demen Ryan Gosling terus pengen lihat aksi terbarunya dalam Blade Runner 2049 ya nonton itu aja. Beda kasus kalo emang ditraktir nonton. Hohohoho! Hidup great-o-ngan!

Kita juga gak perlu maksa orang lain buat suka hal yang kita suka. Baru kemaren ane chat sama salah satu partner-in-crime di guild, Muklis. Emang sih udah pensi main tapi silaturahim masih jalan terus. Kemaren ngomongin soal webtoon gara-gara ada webtoon baru yang tentang gender bender. Bukan tukeran badan kayak Kimi no Na wa dan kutukannya lebih permanen dari Ranma 1/2. Toh Ranma masih bisa balik lagi jadi cowok pas diguyur air panas. Lah ini jadi cewek tulen primadona sekolah. Soal selera webtoon-nya emang beda. Ane tahu dari chat kalo Muklis itu demen Flawless. Ngapain juga maksa dia buat baca Super Secret kalo doyannya Flawless mah.

Jangan lupa inget prioritas. Duit sama kapasitas penyimpanan tuh pikirin. Jangan seenak jidat gunain tanpa sebab. Masa kudu korbanin duit cadangan akhir bulan buat nonton gak jelas ato folder tugas kantor buat nambah koleksi drakor?

Buat daftar urutan dari yang paling pengen dibeli/ditonton sampe paling biasa. Taruh daftar di tempat strategis biar inget. Jadi pas mau nonton/unduh/beli pun gak ada rasa bersalah. Ane sendiri biasanya cuman nulis yang paling ngebet dibeli buat disimpen di papan pengingat yang ada di kamar. Urusan unduhan ane simpen di desktop biar gak lupa.

Harusnya ane tulis bagian ini di terakhir cuman ane tulis di awal. Alasannya ya kalo nonton/baca tanpa tahu selera pribadi malah nambah bingung buat cari yang pas.

Anggap Saja Lagi Laper

Orang laper pasti langsung santap apapun makanan di hadapannya ‘kan? Begitupun dalam memilih bacaan atau tontonan. Seperti yang ane utarakan pada bagian sebelumnya, selera pribadi itu penting untuk memilah konten agar tidak menambah rasa bersalah. Kasarnya … masa iya balita dikasih ecchi?

Baca/nonton di luar selera pribadi? Boleh kok asalkan tetep inget sama prioritas kita kalo emang tujuannya buat koleksi. Preferensi pribadi ane condong ke drama, slice of life, seinen, fantasi, sama komedi. Gak jarang juga ane nonton romance, horor, misteri, sama fiksi ilmiah.

Nah, biar kita tahu karya yang bagus buat koleksi ya nikmati aja selagi ada. Komik bisa baca dari mangascan, situs webtoon (bisa Line, Comica, Ngomik, sama Ciayo kalo yang lokal), majalah komik, ato baca serinya di taman bacaan terdekat. Buat film bisa streaming, liat di TV, ato nongkrong ke bioskop terdekat.

Kontennya bertebaran tuh. Tinggal nunggu kita buat nonton ato baca. Mudah ‘kan?

Kenali Ceritanya

Sambungan dari bagian sebelumnya. Sebenarnya sih bisa disatuin cuman ntar malah jadi susah fokus buat nulis. Hehe.

Masalahnya udah ane paparin di bagian sebelumnya. Sudah jelas “sampul” sering menipu. Selera kita beda-beda. Satu-satunya cara biar tahu karya itu layak buat dikoleksi ya cuman nikmatin. Nah, gimana cara menikmatinya?

Biasanya kalo film itu selalu ada teaser dan trailer. Sekarang zamannya internet jadi bisa lihat di mana aja. Sebelum kita putuskan untuk nonton, lihat dulu trailer-nya. Sesuai dengan preferensi kita? Bikin kita malah tertarik? Bikin kita semakin gak sabar buat nunggu tayang? Udah nemu yang sreg sama selera kita … sikat breh!

Masih bingung gara-gara teaser dan trailer? Coba deh cek sinopsisnya. Biasanya sinopsis suka muncul di awal buat jelasin “ini tentang apa sih?” biar kita tertarik. Sering kok ada sinopsis film yang mau tayang di situs bioskop ataupun di media cetak. Cari aja siapa tahu ada yang kecantol.

Film di bioskop itu resiko nyeseknya lebih gede. Apalagi kita gak jeli. Kalo bicarain nonton serial televisi sama buku sih masih gampang.

Buat serial televisi sama buku, cukup aja simak 10 episode awal. Gak sanggup ato episodenya pendek kayak drakor? Toh 5 episode awal pun cukup. Soalnya gini. Banyak orang yang langsung drop satu serial gara-gara episode-episode awalnya doang. Kasarnya sih cuman kulit arinya doang yang disentuh. Belum sampe lapisan epidermis apalagi dermis. Tahu kulitnya doang sih mana tahu ceritanya rame ato kagak.

Contohnya banyak. Tahu Cheese In The Trap? Ane gak tertarik baca Cheese In The Trap gara-gara  sering baca komik genre romantis yang alurnya ketebak jadi mikirnya biasa aja. Ane bertahan gara-gara salah satu komentar penggemar soal episode 11. Dia bilang awalnya emang membosankan namun plot dan konflik sebenarnya mulai dari episode 11. Ternyata komentar si penggemar itu memang benar. Cheese In The Trap emang manhwa genre romance yang gak biasa dalam penceritaan dan alurnya sendiri banyak teka-teki. Itu sebabnya di Korea sendiri fans-nya banyak dan ane denger bakal diadaptasi lagi jadi film di Korea sana.

Sebenarnya banyak harta karun seperti Cheese In The Trap cuman kitanya aja yang males. Males buat liatin episode-episode awal malah seenak jidat kasih cap buruk gara-gara cuman lihat 3 episode. Ane jadi inget drama di bagian komentar Helck yang seenak jidat menyatakan Helck itu gak rame. Begitu pun dengan komentar orang-orang yang banyak drop World Trigger gara-gara episode awalnya. Dulu juga ane pernah ngerasain kayak gitu juga. Malah di salah satu komik pembantai ranking di situs mangascan, Noblesse. Ane dulu iseng baca Noblesse karena saat itu masih nangkring di peringkat teratas situs sekitar tahun 2012. Ane drop gara-gara awalnya gak menarik. Baca lagi pun pas 2017 di saat banyak webtoon favorit ane berguguran tamat. Eh tahunya malah jadi keterusan sampe lewat arc Muzaka lawan Maduke.

Intinya, semakin kita kenal episodenya ya pertimbangan buat lanjut semakin besar. Udah puas dengan satu seri ujung-ujungnya koleksi.

Kenali Orang-Orang di Belakangnya

Kalo kita gak tahu apapun soal karya terbaru, bisa gunakan referensi dari karya sebelumnya.

Ane baca Silver Spoon gak cuman karena ceritanya yang gak biasa. Ane tertarik karena itu karya lain dari mangaka Full Metal Alchemist dan referensi dari omake di buku terakhir Claymore. *sayangnya duit ane masih kurang buat tebus si Butadon di Gramedia T.T* Ane nonton Hong Gil Dong versi 2009 gara-gara tahu penulis naskahnya Hong Sisters. Gak apa-apa telat daripada nyesek pas ongoing. Ane baca Hana Haru karena pengarangnya Seok Woo, pembuat Orange Marmalade. Ane nonton Click sama Grown Ups gara-gara pemainnya Adam Sandler.

Kadang cara ini berhasil tapi kadang juga gak. Biasanya kalo kita mengandalkan referensi ini pasti ekspektasinya pun tinggi. Resiko nyeseknya itu paling besar bila tahu orang yang ada di baliknya itu greget tapi hasil malah jauh dari harapan.

groadat feels ._.

Pilih dengan bijak

Hanya dengan melihat pun kita bisa tahu karya itu cocok untuk dikoleksi atau tidak. Contohnya seri Anne of Green Gables yang nongkrong di rak buku rumah ane. Pertamanya nemu gak sengaja di perpustakaan terus pinjem. Ane kira ceritanya gak menarik eh tahunya keterusan. Akhirnya biar gak bolak-balik perpustakaan mulu ya ane beli. Untung aja nemu di bursa buku murah pas kunjungan ke Mizan kemaren. Emang sih gak komplit tapi setidaknya puas. Fufufufufu!

Buat serial televisi ato komik sih mau diterusin apa gak? Semua kembali dari kita yang ikutin cerita.

Sensor itu Kembali Lagi pada Diri Kita

Ane jadi inget dua sindiran keras tentang sensor televisi di Indonesia. Pertama, dibuat oleh seniman Indonesia dalam rangka memperingati ulang tahun KPI. Ane pernah lihat liputannya di berita. Kedua, episode webtoon Next Door Country.

Sensor di Indonesia memang kelewat batas malah cenderung absurd. Salah satu yang paling sering dijadikan guyonan di internet dalam bentuk meme adalah SpongeBob Squarepants. Siapa yang tidak kenal dengan Sandy Cheeks? Sosok tupai cerdas dari Texas yang kerap menghentikan SpongeBob berbuat yang tidak pantas.

sandy-cheeks-meme
sumber: storify

awas badai Sandy (Sandy) … prikitiew!

Lembaga Sensor Film saja merekomendasikan budaya sensor mandiri pada masyarakat luas. Ini adalah liputan Antara biro Jawa Timur mengenai sosialisasi budaya sensor mandiri yang diunggah pada akun YouTube Antara.

Padahal menurut ane sensor dari lembaga sensor saja sudah cukup. Sisanya ya balik lagi ke diri kita. Ane pernah nonton di Kompas TV yang menghadirkan LSF sebagai narasumbernya. Dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya LSF, pihak LSF sendiri menganjurkan masyarakat agar melakukan sensor mandiri. Toh menurut pihak LSF, masyarakat sekarang sudah cerdas. Terlebih lagi sekarang kita berada di era digital yang memungkinkan kita mengakses informasi tanpa batas melalui internet. Pihak LSF sendiri pun kewalahan menangani masalah itu. Pertama karena minimnya sumber daya manusia yang kompeten bekerja di LSF. Kedua karena arus informasi sekarang memang sulit dibendung khususnya konten-konten film. Sekarang ‘kan zamannya streaming di internet. Beda kalo dulu yang cuman mengandalkan bioskop, televisi, tayangan CD/DVD/Blu-Ray, dan jaringan TV kabel.

Tapi semua berubah semenjak KPI menyerang. Banyak anak muda yang menyayangkan perilaku KPI yang kelewat batas. Padahal menurut ane sensor dari LSF sudah cukup. Toh pihak LSF sendiri gak sembarangan dalam melakukan sensor.

Gimana caranya tetep bisa melakukan sensor tanpa mengurangi esensi keseruan dari film yang bakal tayang?

Itulah prinsip yang dipegang oleh LSF selama ini. Anehnya, kinerja LSF diperberat lagi dengan adanya sempritan KPI yang memaksa tayangan yang mulanya lulus sensor malah disensor ulang berdasarkan “permintaan” KPI. Lah pihak LSF sendiri mengaku kesulitan melakukan sensor film yang akan ditayangkan di televisi. Kebanyakan film sekarang dalam format digital. Tahu sendiri lah gimana proses penyuntingan video di balik layar. Kudu dicek satu-satu, edit, pemeriksaan ulang, baru render. Proses render pun gak sejam kelar. Beda kayak sensor film era Suzzanna sama Warkop yang cukup potong pita terus sambung lagi buat pemeriksaan ulang. Ane tahu proses itu dari episode Kindaichi yang pembunuhannya bermotif film Tragedi Scorpion.

Banyak orang yang menyayangkan sensor dan sempritan KPI yang kelewat absurd di internet. Jauh lebih buruk dari “sinar dewa” yang sering muncul di anime ecchi.

Sandy ‘kan tupai. Masa tupai pake bikini aja disensor? Berarti hewan yang notabene telanjang juga disensor?

Kok robot bagian dadanya disensor? Itu robot lho. Emangnya ada yang mau ena-ena sama robot?

Masa Ji Eun Tak ngobrol sama geng hantunya eh si hantunya kena sensor? ‘Kan hantunya gak serem.

Apa yang salah dengan memerah susu sapi? Emangnya jorok ya sampe perlu disensor?

Kok Tsunade sama guru Kurenai sama-sama disensor? Apa kabarnya dengan penyanyi dangdut yang “lebih ganas” di TV?

Kenapa adegan SpongeBob banyak disensor sementara adegan berantem sama geng motor di sinetron gak?

Ih kesel. Kok malah bagian ramenya sih yang dipotong? *banting TV*

Itu sebabnya banyak anak muda zaman sekarang lebih memilih nonton YouTube daripada nonton TV. Pertama karena sensor kelewat absurd. Kedua ya pasti dikuasai emak-emak buat nonton pelem India. Secara gitu lho emak-emak! Bantah dikit aja kelar hidup lo! *ngacir pas Emak ane lewat*

emak-ijah-setrong
sumber: 1CAK

apalagi emaknya kek gini, tsadeest!

Lah, kenapa sih KPI ngasih sempritnya keterlaluan? Kok seakan-akan malah bertentangan dengan LSF yang menganjurkan sensor mandiri?

Pertama, mereka berpikir televisi itu ditonton semua orang di rumah. Ekspektasi begitu. Realitanya cuman emak-emak sama pembantu yang nonton TV. Anak-anak doyan nonton YouTube. Malah sekarang lebih hafal lagu Baby Shark daripada Mars Perindo.

Anak yang udah gedean paling streaming Running Man, drakor, ato vlog orang terkenal di YouTube. Kalo yang cewek. Cowoknya gak bakal jauh dari The Walking Dead, film barat padahal torrent, anime, sepak bola, sama YouTube Gaming/Twitch. Bapak-bapak pun jarang nonton di rumah. Paling nongkrong di pos ronda, pangkalan ojek, ato gedung serbaguna kalo lagi tanding bola. Khususnya Liga Inggris, Liga Champions, Liga Indonesia, sama Timnas yang lagi tanding.

Kedua, kebanyakan orang Indonesia itu males mikir. Nonton ya nonton aja. Masa bodoh ada bocah di deket TV. Salahnya gitu sih. Coba jadi orang tua ato kakak peka sedikit pas lihat anak kecil nonton TV. Masa gue nonton Saw ya gak etis.

Ketiga, stasiun televisi tidak senetral dulu lagi. Emang sih dulu juga gak netral cuman tidak separah sekarang. Nyatanya TVRI di zaman Pak Harto pun masih lebih waras daripada stasiun televisi sekarang. Semua berubah sejak era korporasi memiliki lebih dari satu stasiun televisi hingga diprotes para pemilik stasiun televisi swasta di KPPU. Gak usah sebut nama, orang-orang sudah tahu kok. Sejak saat itulah kancah penyiaran televisi Tanah Air kacau balau. Stasiun televisi digunakan untuk kepentingan pribadi si empunya. Ada sih yang netral dan masih aman ditonton seperti TVRI, NET, dan RTV.

Harusnya sensor yang bener itu gimana sih? Sensor yang digunakan pun ada dua. Berasal dari pihak luar seperti LSF dan dari diri sendiri.

Misalnya kita ini penyanyi dangdut. Kok ngatain jadi penyanyi dangdut? Toh emang penyanyi dangdut itu paling sering kena semprit dibandingkan personel JKT48 apalagi anggota GFRIEND yang kemaren isi Music Bank di Jakarta.

Coba deh kita jadi penyanyi dangdut itu sadar diri. Tengok deh para penyanyi dangdut era 80-an dan 90-an pas lagi naik panggung. Banyak kok videonya di YouTube. Rhoma Irama berjuang susah payah untuk menaikkan kasta dangdut agar diterima semua khalayak dengan cara berpakaian, berperilaku, dan goyangan yang seperlunya. Perjuangan Bang Haji saat itu diapresiasi para penyanyi dangdut lain dengan mengikuti jejaknya saat berada di atas panggung. Elvy Sukaesih nyanyi di film Warkop Mana Tahaaan aja penampilannya biasa kok.

sumber: Photobucket

hare geneh dangdutan pake pakaian kurang bahan … sungguh ter-la-lu!

Contoh lainnya pelawak. Jadilah pelawak yang melawak dengan cerdas. Contohnya Warkop sama komika. Sejak kapan kalimat seperti “hei anak curut” ato “bibir kontainer” masuk bahan lawakan mereka? Gak pernah. Mereka bisa lucu tanpa harus mengejek apalagi menjatuhkan harga diri orang seperti itu. Apalagi ditayangin langsung di televisi. Udah pasti bakal semprit KPI juga ujung-ujungnya diseret ke pengadilan kayak kasus (alm.) Olga dulu.

Nah, kita ‘kan bukan orang terkenal yang suka nongol di tipi? Sensornya gimana? Ane inget cerita Fadly, temen PKL ane dulu, pas kakaknya pergokin dia nonton Shinchan.

“Bocah kok nonton ecchi!” ucapnya berakhir dengan mematikan televisi.

Dia baru ngerti makna ecchi beberapa tahun setelah kejadian itu. Begitu pula prinsip si Mamih Aisya yang ia utarakan pas zaman SMP.

“Mending gue jadi orang mesum pas masih muda daripada lihat anak-anak gue jadi cabul. Setidaknya dengan jadi orang mesum, gue bisa awasin anak-anak gue dari konten pornografi.”

Faktanya: si Mamih dulu emang mesumnya tingkat dewa. Dia itu cewek. Udah gitu sering cekokin ane dengan komik ecchi.

Ulah kakaknya Fadly sama si Mamih dilakukan bukan tanpa alasan. Mereka melakukan hal itu karena mereka peduli. Kalo kita gak peduli, mau jadi apa generasi penerus bangsa nanti?

Apakah jadi generasi yang menghalalkan rape culture?

Apakah jadi generasi micin mabok lem kayak Awkarin, Young Lex, dan Anya Geraldine?

Apakah kita mau adik atau anak-anak kita hidup dalam generasi yang amoral?

Apa kita mau memperbaiki kondisi masyarakat yang mulai penyakitan setelah era Reformasi? Boro-boro reformasi, adanya repot nasi.

Itulah pentingnya sensor. Lakukan tanpa harus selebai KPI.

Kita bisa melakukannya dengan cara kita. Misalnya kita itu emang penikmat film ya jangan ajakin adik kita yang masih balita nonton film dewasa ke bioskop. Koleksi anime dan film di laptop ane pun setidaknya harus aman ditonton bareng anak-anak. Kalo ada yang nyerempet ecchi pun ane gak pernah biarin keponakan ane nonton itu.

Kita juga bisa lakukan dengan cara mereka. Pahami pola pikir anak-anak. Seperti halnya satu film barat (ane lupa judulnya) yang bercerita bocah pengen jadi dewasa. Tahu-tahu tubuhnya udah dewasa. Dia bisa menyelamatkan satu pabrik mainan yang terancam gulung tikar karena pikirannya yang masih anak-anak.

Jangan sungkan ngajakin anak-anak buat ngobrol. Tanyain aja soal tayangan kesukaannya. Biarkan saja anak-anak untuk bicara. Kita gak usah menyela pembicaraan mereka. Dengarkan saja mereka saat sedang bercerita.

Luangkan waktu bersama anak-anak menonton tayangan kesukaan mereka. Hal itu tidak hanya membuat kita lebih mudah mengawasi mereka, tetapi juga membuat kita semakin akrab dengan anak-anak. Kadang juga ane kesel lihat keponakan ane kalo ngikutin selera nonton mereka. Tahu sendiri lah tingkah anak-anak. Setidaknya dengan menonton bersama anak, kita juga bisa melatih kesabaran. Kita juga bisa berdiskusi tentang tayangan yang sedang ditonton.

Keponakan ane itu seneng banget sama Pokemon. Dia seneng banget sama Pikachu. Dia sering panggil ane Pikadut mentang-mentang badan ane gemuk. Ada satu hal yang selalu Uli tanyakan pas nonton.

Uli: Ache Pikah! Ache Pikah! Itu kok mukanya dicolat-colet.

Ane: *jelasin adegan Jigglypuff ngamuk* Soalnya mereka tidur pas Jigglypuff lagi nyanyi.

Pertanyaan anak-anak saat menonton kadang geje. Apalagi harus ladenin Uli yang setiap kali nanya berulang-ulang mirip kaset rusak. Itulah seninya nonton bareng anak-anak. Kita bisa mengasah imajinasi kita untuk menjelaskan hal-hal yang terjadi di dalam acara tersebut. Jelaskan apa saja dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Mulai dari penjelasan sepele seperti Jigglypuff sampai hal-hal yang tidak boleh ditiru oleh anak-anak dalam tayangan yang kita tonton.

Batasi juga waktu untuk menonton. Entah itu waktu untuk menonton televisi ataupun streaming di internet. Caranya gak perlu sesaklek kakaknya Fadly matiin televisi. Alihkan saja dengan hal lain. Toh anak kecil itu kalo ada sesuatu yang lebih menarik, pasti ia akan mudah teralihkan. Ajak anak-anak untuk bermain atau lakukan hal lainnya. Kita juga sebagai orang yang lebih tua pun harus memberi contoh dan konsisten. Misalnya kita gak perlu nonton pelem India pada jam anak-anak tidur siang. Kalo kita gak konsisten antara perkataan dan perbuatan, adanya makin memperburuk kondisi perkembangan anak-anak di masa depan. Lebih seneng mana: liatin anak kecil tumbuh dengan baik atau jadi generasi micin kayak Awkarin?

Gak usah banyak cingcong, langsung ke ringkasannya. Sensor adalah benteng terluar yang membatasi diri dari pengaruh buruk lingkungan. Cara melakukannya ada dua: dari pihak luar ataupun diri kita. Kita sebagai orang yang lebih tua perlu memberikan sensor pada setiap tayangan yang akan ditonton oleh anak-anak. Kita tidak perlu melakukan sensor seperti halnya orang ngasih penyuluhan. Adanya bocah keburu ngantuk duluan. Lakukan sensor tayangan dengan tidak menonton tayangan yang tidak patut dilihat di depan anak-anak. Temani anak-anak saat menonton dan berikan penjelasan mengenai tayangan tersebut dengan bahasa yang mudah. Kita juga jangan terus menerus mengandalkan pihak luar untuk melakukan sensor. Toh LSF sendiri punya keterbatasan. Kita juga memegang kendali atas sensor yang bertujuan untuk menyaring tayangan bagi khalayak ramai. Misalnya dengan berpenampilan santun saat tampil di televisi.

Jadi, bisakah kita mulai terapkan sensor mandiri pada keluarga kita? Lakukan saja mulai dari sekarang.

Nonton Drakor dari Zaman SD

Bicara soal itu, ane serius. Semua bermula dari stasiun televisi bernama Indosiar. Sabtu dengan acara masak dan keluarga. Minggu dengan anime dari habis tayangan berita pagi sampe dzuhur. Senin sampai Jum’at sore biasanya nonton drama Asia. Ada juga sih yang tayang di akhir pekan kayak News no Onna sama Love Generation.

Pas zaman ane SD, kebanyakan drama Asia yang tayang di Indosiar itu drama Mandarin sama dorama. Mulai dari genre wuxia sampe romcom. Keberadaan drakor sendiri sebenarnya udah ada di stasiun televisi tetangga, SCTV, kalo gak salah Tomato sama Popcorn. Kedua drama yang dulu sempet ane kira adalah drama Mandarin asal Taiwan dan Hong Kong yang saat itu ramai muncul di televisi. Popularitas drakor di Indonesia pun mulai melejit semenjak kemunculan Winter Sonata dan Autumn In My Heart yang merupakan bagian dari tetralogi Endless Love. Saking ngehitsnya dua drakor itu di zamannya, makanya ane nulis di cerita yang ane buat itu novel favorit yang disukai main heroine adalah plesetan dari kedua judul drakor itu.

Ane tahu drakor dari zaman SD. Jauh sebelum menjadi tontonan umum kebanyakan cewek zaman sekarang. Saat itu ya ane nonton bareng kakak ane, si Bubu. Makanya sifat weeaboo insyaf ane kerap muncul ya emang selera nonton ane gak jauh beda ama kakak ane. Saat itu kakak ane masih kuliah. Jujur aja kakak ane itu seorang weeaboo dan fans berat drama Asia. Cuman lebih dominan fans drama Asia daripada weeaboo. Mulai dari era Jimmy Lin, Dicky Cheung, Takuya Kimura, Hideaki Takizawa, Bae Yong Joon, Won Bin, sampe Park Bo Gum pun kakak ane demen berat. Sekarang kakak ane itu janda beranak dua yang selalu diledekin sama anaknya, Nara.

Bubu, nontonnya Korea waé! *dengan logat Sunda kentel sambil ngamuk laptop dipake nonton drakor*

Lain lagi dengan adiknya, si Hiroko Gotoh KW super alias Uli.

Bubu, pengen noton pelem Koleya! *dengan balelol sambil ngasih kode biar bisa nonton bareng*

Dulu, ngomongin drakor itu adalah hal yang sangat-sangat-sangat menyenangkan. Apalagi bareng si Ghia, temen SD ane. Dulu ane inget demen bener berantem ama si Ghia. Kasarnya itu dia adalah tipikal karakter cewek bongsor tukang bully yang biasa muncul di film-film. Ane tengil ditambah Ghia agresif. Awalnya berantem mulu eh rukunnya gara-gara Rain. Saat itu Ghia emang fans beratnya Rain. Mungkin dia salah satu fans pendukung pernikahan Rain dan Kim Tae Hee kemaren. Semenjak rukun ya ngomonginnya drakor mulu. Soalnya Ghia emang salah satu anak yang paling tajir di SD dulu dan jarang orang yang pasang TV kabel di masa itu. Di saat temen-temen ane yang lain berantem rebutan husbando dan terindikasi chuunibyou terutama lu, Mir!, ane sama Ghia ya recokin drakor yang tayang di TV.

Memang penyuka drakor lawas rasanya gimana gitu pas ngobrol. Berasa dunia milik sendiri. Sekarang ane gak merasakan serunya ngomongin drakor seperti saat ane SD dulu. Meskipun zaman sekarang itu lebih gampang buat nonton drakor. Dulu ya kudu pantengin jam-jam tertentu buat nonton. Kadang ada kalanya kesel gara-gara sehari gak tayang. Sekarang bisa tengok situs streaming kayak Netflix dan banyak fansub yang khusus terjemahin drakor. Padahal sekarang banyak forum bertebaran yang bahas soal drama Asia, khususnya drakor. Entah kenapa sekarang ane gak antusias seperti halnya ane  semasa SD dulu. Adanya biasa aja karena terlalu pasaran dan banyak yang karbitan.

Fans drakor dulu lebih mantengin cerita dulu baru cogan. Sekarang cogan dulu baru cerita. Ane kaget waktu baca salah satu komentar fans di IDWS soal A Gentleman’s Dignity. Intinya dia awalnya ogah nonton gara-gara pemainnya gak ada yang cogan. Padahal di masanya, Jang Dong Gun itu populer lho. Gak kalah keren sama Rain.

Fans yang dulu itu nonton mah ya nonton aja. Gak banyak komentar apalagi ngasih spoiler. Beda sama penonton sekarang yang cuman tahu drakor terkenal sama doyan spoiler. Jujur aja ane ketiduran nonton Goblin gara-gara kebanyakan spoiler. Belum lagi ane

Fans drakor yang sekarang sama kayak fans K-Pop sekarang, banyak yang karbitan. Ane jadi inget cerita soal bedanya orang kaya beneran sama orang yang pura-pura kaya. Orang kaya beneran cuman ngomongin Hermès di lingkungan pergaulannya sementara orang yang pura-pura kaya bicarain Hermès di hadapan semua orang. Begitu pula kenyataan yang ane lihat sekarang. Banyak orang yang ngakunya demen drakor tapi bicarain di orang yang gak ngerti soal drakor. Ghia aja gak mungkin ngomongin drakor di hadapan si Dono. Soalnya Dono emang gak terlalu demen drakor. Ghia yang masih SD saat itu pun lebih ngerti akan analogi orang kaya yang ane ceritain.

Seiring berjalannya waktu ane emang kehilangan hal itu. Ane jadi inget cerita temen SMP ane.

Dia itu ELF sewaktu ane SMP. Cita-cita dia nonton konser SuJu di Jakarta. Pas zaman ane SMP, gak banyak orang yang tahu soal K-Pop. Paling cuman penikmat drakor di Indosiar macam ane sama gamers yang doyan main (sebut aja deh plesetannya, udah terkenal kok game-nya) Ayobaper. Dari semua member SuJu, dia paling demen sama Siwon. Dia hafal betul semua lagu SuJu. Mau itu hits yang terkenal maupun yang gak. Ane inget dia sering bawa buku yang isinya semua lirik lagu SuJu.

Sewaktu ane masih SMP, jadi fangirl pun dicap sama miringnya seperti otaku ato weeaboo. Tapi dia gak peduli. Karakter aslinya yang emang agak preman bikin orang yang nyinyir pun malah diem. Dia cuek aja nyanyiin lagu hits SuJu di sekolah.

Seiring berjalannya waktu, K-Pop semakin dikenal orang. Anehnya dia bukannya malah seneng ada orang yang bisa diajak ngobrol soal SuJu. Dia curhat ke ane kalo dia gak merasakan kegembiraan seperti dulu lagi. Ia tidak merasakan sensasi yang sama lagi saat membicarakan Siwon oppa. Sejak saat itulah dia berhenti entah itu ngomongin soal drakor ato bicarain soal SuJu.

Memang, ada kalanya kita merasakan sesuatu yang spesial itu mendadak menjadi tidak spesial malah bikin eneg kayak cerita temen ane. Begitupun dengan kebiasaan ane nonton drakor. Dulu menanti jam 4 sore di Indosiar itu adalah hal yang sangat spesial. Buat yang gak tahu, itu adalah slot tayang drama Asia di hari Senin sampai Jum’at dulu. Sekarang nonton TV kabel yang 24 jam drakor nonstop jadi biasa aja.

Akhir kata, rasanya ane jadi kangen ama Ghia. Terakhir kontak pun pas zaman ane SMK.