Tolong Bantu Kami Lepaskan Diri dari Jerat Pornografi! (Bagian Kedua)

Lanjutan tulisan dari bagian sebelumnya karena masalah teknis. Buat teman-teman yang belum baca bagian pertamanya, ane sarankan agar baca bagian pertamanya biar jelas duduk perkaranya.

Yuk kita sebagai sesama perempuan diskusi di sini. Teman-teman boleh cerita pengalaman soal perjuangan teman-teman melaluinya fase gelap itu. Kita ngobrol aja biar perasaan kita jauh lebih lega.

******

Fanservice Beda Tipis

sumber: webtoon Let’s Play

Apa itu fanservice? Singkatnya itu “cuci mata” dalam literatur atau penampilan secara langsung demi memuaskan dahaga para fans. Bikini, badan six-pack, baju berlekuk ala Betty Boop, belahan dada, hingga tampilan sehabis mandi menjadi bentuk umum yang biasa menjadi cuci mata bagi para fans. Fanservice sesekali tidak apa asalkan tidak mengurangi kualitas dari sebuah karya.

Kata siapa fanservice hanya milik kaum laki-laki? Bahkan perempuan pun tidak lepas dari fanservice. Lantas. Apa bedanya dengan laki-laki?

Laki-laki: mimisan sama ngiler.
Perempuan: mimisan, ngiler, histeris gak jelas, kebawa sampe mimpi, dan ngarep lebih.

Kenapa reaksi perempuan bisa lebih banyak daripada laki-laki? Laki-laki masih menjaga citra mereka di mata orang lain sekaligus punya kesibukan yang lebih penting ketimbang memperhatikan hal itu. Selain itu perempuan lebih banyak hidup di dalam dunia mereka jadi wajarlah mereka seperti itu.

Bagaimana reaksi laki-laki apabila melihat fanservice?

capek deh

Kenapa laki-laki bisa berpikir seperti itu? Mereka terlalu sering melihat fanservice sehingga reaksi mereka datar atau cenderung mengabaikannya. Anehnya, kasus itu terbalik pada perempuan. Mereka begitu histeris melihat pola fanservice yang hampir serupa berulang kali.

Pahitnya Cinta Manisnya Dosa

Judul dari bagian ini memang ane ambil dari salah satu judul film lawas Indonesia, Pahitnya Cinta Manisnya Dosa (1978). Film yang dibintangi oleh Yenny Rachman, Boy Tirayoh, dan drg. Fadly ini singkatnya menjelaskan tentang “pengorbanan” Mia demi menolong keluarganya. Singkatnya ini adalah film bertopik dewasa dengan cerita yang miris.

Kebetulan ini pas banget dengan topik yang bakal kita bahas selanjutnya.

Pahitnya cinta manisnya dosa tidak semata-mata menjelaskan judul sebuah film. Itu menggambarkan keadaan kita yang mulai terjerumus dalam jeratan pornografi. Dosa yang tampak manis setelah terkemas manis di dalam khayalan dunia perempuan. Dosa yang bersembunyi di balik indahnya hamparan bunga bermekaran pada sebuah kastil putih milik seorang pangeran tampan dari kerajaan seberang.

Ada yang bilang kisah romantis di masa sekarang layaknya pornografi dalam balutan permen ala California Gurls-nya Katy Perry.

Bahkan setelah membaca komentar dari para penonton YouTube di halaman ini, mereka lebih menyarankan untuk membuka Pornhub. Lelucon mereka memang beralasan.

Banyak di antara mereka yang pada masa lagu ini rilis masih berusia belia. Mereka kerap dimarahi guru dan orang tua mereka karena menyanyikan lagu ini. Mereka kemudian menonton kembali video klip ini setelah dewasa. Saat itu mereka paham maksud dari guru dan orang tua mereka. Menurut mereka, tayangan di Pornhub masih jauh lebih baik daripada dunia permen yang memperhalus lirik-lirik nakal dari lagu ini.

Begitupun dengan pornografi. Banyak orang yang terjerumus ke dalamnya karena ketidaksengajaan. Semua dikemas secara manis semanis negeri permennya Katy Perry tanpa tahu dampak jangka panjangnya. Merasa kurang puas dengan fanservice, mereka mencari jalan lain untuk memuaskan dahaganya. Ada yang mencari gambar syur, menonton tayangan ehem, bahkan lebih buruk lagi menjadi kreator dari konten-konten seperti itu.

Bermula dari Lepas Tanggung Jawab

Pornografi sama berbahayanya dengan narkotika. Sayangnya itu jauh lebih sulit untuk sembuh dibandingkan dengan narkotika. Para pecandu narkotika bisa sembuh setelah melalui fase sakaw. Pornografi tidak memiliki fase detoksifikasi seperti halnya sakaw. Usaha bagi para mantan pecandu dan terapis jauh lebih besar daripada kasus narkotika.

Kenapa trilogi Fifty Shades begitu dikecam di kalangan klub buku? Karena mereka peduli dengan kita sebagai pembaca. Orang-orang di klub buku selalu memilih buku terbaik. Mereka ulas dengan penilaian objektif sebagai acuan bagi para pembaca yang kebingungan untuk membaca buku bagus sesuai selera mereka. Bahkan ada salah satu akun yang terang-terangan memotret seperti ini di laman Goodreads.

sumber: Goodreads

Kadang kita juga melihat ada penulis atau pembuat konten yang tidak bertanggung jawab dengan menempatkan hal buruk di tempat yang salah. Kasus seperti ini muncul di Wattpad. Ironisnya, untuk konten berbahasa Indonesia sendiri pembuatnya serampangan menampilkan jelas konten seksual. Hal yang jelas-jelas terlarang dalam aturan main Wattpad. Mulai dari sampul, deskripsi yang terlalu frontal, hingga ane kesel. Kurang ajar emang. Tiap buka Wattpad malah disodorkan rekomendasi seperti itu jadi ane bisa tahu. Parahnya banyak pembuat genre tersebut adalah bocah di bawah umur. Ane tersentak membaca komentar dari para pengguna senior di sana. Bahkan ada beberapa pengguna senior membuat suatu komunitas pemberantas pornografi yang tidak hanya melaporkan konten-konten nakal tersebut, tetapi juga mendidik pembaca agar lebih cerdas dalam memilih bacaan mereka.

Fenomena di Wattpad tadi memang mencerminkan keteledoran kita sebagai penulis atau pembuat konten tanpa memperdulikan keadaan. Apa kita mau adik bahkan anak-anak kita kelak membaca hal seperti itu? Atau lebih buruk lagi mempraktikkan hal yang mereka lihat? Hal seperti itu jarang menjadi sorotan bagi para pembuat konten di negeri kita.

Contoh yang bagusnya itu Raditya Dika. Ada salah satu vlog lamanya (ane lupa video yang mana) yang bercerita soal proses kreatifnya sewaktu membuat konten dari materi stand up, buku, sampe vlog-nya. Kalo kita ikuti Raditya Dika dari era Kambing Jantan muncul pertama kali, tahu ‘kan gaya penuturannya kayak gimana? Dia cerita juga di vlog-nya, ada orang tua yang protes gara-gara anak kecil juga nonton channel YouTube-nya. Sejak saat itu dia mikir lagi mengenai konten tepat sesuai usia. Emang ada fans yang menyayangkan hal itu mempengaruhi kualitas guyonan dan kontennya. Toh Raditya Dika dengan gayanya yang sekarang aja kualitas kontennya malah lebih bagus.

Ada contoh lain yang kudu kita tiru juga. Kali ini datang dari dunia webcomic. Ane nemu ini pas lagi cari komik selingan biar gak bosen. Nama komiknya Randomphilia. Komiknya udah tamat di Line Webtoon versi Bahasa Inggris. Sesuai namanya, komiknya emang random. Sebangsa sama Tahilalats lah. Ada hal yang menarik dari si pengarangnya. Di awal kemunculannya aja, dia bikin chapter yang isinya permintaan maaf. Dia gak tahu kalo Webtoon itu banyak pembaca dari usia anak-anak sampe remaja. Untungnya dia sadar pas chapter-nya masih dikit jadi gak jadi sensasi kayak kasus Fifty Shades. Buat yang penasaran dengan chapter hilang itu, banyak kok bertebaran di situs manga scan.

Pornografi itu bukan masalah yang remeh. Ini serius mengingat di masa sekarang orang tua lebih bebas membiarkan anak-anak mereka mengakses internet di usia dini.

Coba Pikirkan (Pengakuan Jujur dari Korban)

Kenapa judul bagiannya seperti ini? Ya. Memang ini adalah tulisan jujur dari unek-unek di kepala dan perasaan ane yang sesak. Ane bahkan mengatakan pada tulisan sebelumnya. Ane pengen nangis.

Awal mula jerat ini dari lingkungan pergaulan. Memang ane besar di lingkungan yang mayoritas laki-laki. Bahkan banyak teman dekat ane yang laki-laki. Banyak di antara mereka yang mesum. Ane penasaran dengan obrolan mereka lalu iseng cari tahu. Dulu ane pernah baca majalah Playboy online. Tapi itu hanya sekali dan gak pernah buka lagi. Ane tahu posisi ane sebagai perempuan. Mereka akan memandang jijik bila ada perempuan seperti itu di antara mereka. Pada saat itu pun ane masih mendalami ilmu agama. Keduanya masih membentengi diri ane agar tidak melakukan kebodohan untuk kedua kalinya.

Semua kacau semenjak ane berusaha berbaur di tengah perempuan. Teman masa kecil ane yang mayoritas laki-laki pun bukan karena faktor lingkungan semata. Trauma masa kecil yang membuat ane kesulitan bergaul dengan perempuan sebaya. Secara topik pembicaraan pun ane memang sulit bergaul. Ane tomboi, kutu buku, lebih senang baca National Geographic daripada teenlit, lebih senang oprek PC daripada narsis di jejaring sosial, lebih senang jalan-jalan daripada nongkrong, dan ditambah trauma masa kecil yang bikin lebih sulit ngobrol. Ane mulai belajar bergaul dari literatur perempuan dan … astaghfirullah. Kenapa ini jauh lebih susah daripada sewaktu masih main sama anak laki-laki kayak dulu?

Tulisan ini pun ane buat selagi masih pergulatan batin melawan hal itu. Ane juga bingung. Kenapa dunia perempuan bisa lebih buruk daripada laki-laki? Bukankah kita ini calon istri dan ibu dari anak-anak kita? Bukankah kita ini berlian bagi keluarga dan suami kita kelak? Bukankah pepatah mengatakan bila rusak seorang perempuan maka rusaklah satu keluarganya?

Ane lelah hidup seperti ini terus. Racun itu terus menghantui ane di balik harumnya bunga poppy. Ia datang bersama keindahan yang semakin menggeragoti diri. Beruntunglah ane masih dalam tahap awal. Bekal agama sejak kecil ditambah pengalaman hidup di antara komunitas laki-laki mengajarkan ane banyak hal termasuk cara untuk berpikir jernih. Berada di tahap awal pun berjuang sesulit ini apalagi jika sudah terperosok lebih dalam! Butuh berapa lama bagi teman-teman agar kita sadar dan kembali diterima di masyarakat terlebih orang-orang yang kita sayangi?

Teman-teman, apa kita tidak bosan hidup seperti ini terus? Apa teman-teman tidak bosan banyak waktu yang tersita hanya untuk hal itu? Apa teman-teman merasa kehilangan waktu bersama orang yang kita sayangi? Apa teman-teman merasa kehilangan gairah akan hal-hal yang kita sukai dan tekuni sejak lama? Apa teman-teman merasa prestasi teman-teman selama ini sia-sia hanya karena hal itu? Apa teman-teman sayang akan diri kalian lalu membiarkan anak kecil dan orang dewasa di dalam diri kita menangis sedih melihat keadaan kita?

Bayangkan bila teman-teman melihat orang yang kita sayangi seperti itu. Masihkah teman-teman mau membiarkan mereka menyendiri begitu saja? Bergulat sendiri dengan dunianya lalu kita semakin buat ia menyendiri oleh prasangka kita? Apa teman-teman ingin menyelamatkan mereka? Apa teman-teman ingin melihat mereka kembali seperti mereka yang kita kenal dulu? Apa teman-teman ingin orang lain akan bernasib sama seperti mereka di masa depan?

Tidak.

Tidak.

Tidak boleh ada lagi hal yang sama terulang di masa depan. Laki-laki atau perempuan. Pornografi semakin mengancam kita lebih berbahaya daripada narkotika. Cukup lingkaran setan itu hanya berhenti pada kita. Selamatkan diri kita agar lebih banyak menyelamatkan orang lain dari lingkaran setan tersebut. Ayo kita bangkit. Ayo kita kembali berprestasi seperti dulu lagi. Ayo kita buat karya terbaik yang lebih sehat, positif, dan memberi dampak baik bagi kemajuan sesama.

Ayo kita jujur mulai dari sekarang. Ya. Memang kita pernah melihat hal itu. Kita ingin berubah. Kita harus jujur dan lebih terbuka pada diri sendiri. Minta tolong orang yang lebih berpengalaman untuk memecahkan masalah kita. Bisa orang tua, sahabat, pemuka agama, atau konselor yang menurut kita nyaman. Tobatlah selagi masih sadar. Bukan tobat sambel ye tapi tobat ditambah membuat konten lebih positif bagi kita. Konten yang bisa memberdayakan dan mencerdaskan perempuan. Konten yang menawarkan fantasi sesaat yang sesat dan tidak sehat. Yuk kita sama-sama perangi pornografi dengan saling mengulurkan tangan mengajak, membantu, dan membimbing teman-teman kita yang senasib dengan kita dulu.

Iklan

Tolong Bantu Kami Lepaskan Diri dari Jerat Pornografi! (Bagian Pertama)

Jujur aja pas ane ngetik judulnya aja mo nangis.

Candu memang nama salah satu jenis narkotika. Di samping itu, candu juga berarti suatu hal yang bisa membuat orang melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa sebab hingga menjadi sebuah “kebiasaan”. Candu itu kebiasaan buruk yang bisa menjerumuskan orang lain dalam maksiat, penyesalan, aib, putus asa, depresi, hingga … menganggap semua warna dalam kehidupan hanya sebatas rona dalam palet monokrom.

Berlebihan itu tidak baik.

orang tua kita

Beda Masa, Beda Cerita

Ane inget ada salah satu hadits yang intinya mengatakan “didiklah anak sesuai zamannya”. Benar tantangan setiap zaman itu berbeda-beda. Pola didik di era Victorian berbeda dengan pola didik di era Perang Dunia ke-2. Hal itu tampak jelas dari film dan literatur yang mencerminkan masa itu.

Ane emang belum tamat baca Pride and Prejudice. Baru sampe bab 4 terus baca berulang-ulang gara-gara vocabulary ane pas-pasan dan biar ngerti sama ceritanya. Ane cuman ikutin saran pembaca dari forum buku di internet buat referensi novel khususnya genre romance.

Pride and Prejudice merupakan salah satu literatur klasik bergenre romantis terbaik sepanjang masa.

orang-orang klub buku

Ada salah satu blog penulis yang menganalisis novel Pride and Prejudice dari sudut pandang kepenulisan. Ia ulas dalam tulisannya, inti novel tersebut itu “tips memilih lelaki yang tepat untuk jadi suami kita kelak”. Pas ane baca bab awalnya pun sudah menggambarkan jelas budaya yang berlaku pada masa itu. Seorang perempuan yang belum menikah sengaja disuruh sosialisasi sama orang tuanya biar bisa dapat jodoh. Perempuan itu lalu menimbang baik-baik setiap lelaki yang datang dan berusaha meminangnya. Berbeda dengan masa sekarang yang “langsung klop” dengan seseorang tanpa berusaha saling mengenal.

Contohnya masalah dalam Frozen. Masalah bermula dari ketidaksetujuan Elsa dengan hubungan Anna yang instan dan tiba-tiba minta restu untuk menikah. Wajarlah bila Elsa seperti itu. Sebagai seorang kakak, ia ingin hal yang terbaik bagi adiknya. Ia juga tidak tahu asal usul Hans yang tiba-tiba melamar Anna.

Bahkan dalam perjodohan sekalipun, kita tidak lantas menerima mentah-mentah begitu saja lamaran seseorang. Misalnya kita coba buat ta’aruf/minta tolong lewat mak comblang/aplikasi biro jodoh, apa kita terima setiap orang yang disodorkan begitu saja? Tidak. Kita pelajari dulu CV-nya (kalo kata orang tua mah, bibit-bebet-bobot-nya), pelajari karakternya, cara memperlakukan kita dan keluarga di mata orang lain, barulah kita putuskan untuk menikah atau pindah ke calon lain.

Sayangnya di masa sekarang lebih banyak perempuan yang seperti Anna daripada Liz.

Fantasi Liar, Media, dan Ketidakpuasan

Penjelasan lebih detilnya ada di tulisan ane sebelumnya. Ane cuman mo bahas hal lain yang menyebabkan faktor itu.

Kenapa kebanyakan perempuan zaman sekarang memiliki pola pikir seperti Anna? Ada beberapa faktor yang mendorong hal itu.

Pertama, media. Kita bisa belajar dari era film bisu, novel, dan literatur budaya mengenai potret perempuan masa lalu. Bagaimana mereka memotret keadaan perempuan di masanya? Bagaimana pengaruh media terhadap citra perempuan di suatu masa?

Misalnya tentang Audrey Hepburn. Sampai sekarang Audrey Hepburn terkenal dengan ciri khasnya dalam mode. Salah satu ikon yang khas adalah setelannya dalam film Breakfast at Tiffany’s (1961). Pada masa itu para perempuan berbondong-bondong meniru gaya Audrey Hepburn dalam berbusana.

Kedua, perlawanan terhadap stereotipe perempuan. Di masa lalu, feminis hanya berjuang agar perempuan bisa mendapat hak dasar mereka seperti mendapat pendidikan dan memilih pemimpin dalam pemilu setempat. Seiring perkembangan zaman, pergerakan feminis yang semula hanya untuk meminta hak mereka di masyarakat menjadi lebih buruk. Bahkan di kalangan sebagian perempuan sendiri pun mengatakan feminis itu “Nazi modern dalam kedok aktivis”. Jadi perjuangan mereka yang melenceng justru malah menjerumuskan perempuan dari kodratnya semula.

Ketiga, kehampaan dalam hidup. Masyarakat modern sekarang justru merasa hampa dalam hidup mereka. Hal yang banyak dirasakan negara maju namun tidak untuk negara dunia ketiga. Negara dunia ketiga memang masih berkembang dan memiliki masalah kompleks yang sulit untuk mereka pecahkan sendiri. Contohnya Indonesia yang masih ribut karena hal sepele, fanatisme buta, birokrasi benang kusut, urusan perut sendiri, dan perebutan kekuasaan. Ironisnya semua hal yang masyarakat modern cari semuanya berada di negara dunia ketiga: kepuasan batin, kedamaian, seni untuk bahagia, kehangatan keluarga, masyarakat yang hangat, dan kedekatan intim dengan Sang Pencipta.

Terakhir, ini alasan yang paling klise dan umum. Media membentuk persepsi seorang laki-laki di mata perempuan. Setiap bangsa dan masa memiliki preferensi mereka sendiri dalam memandang laki-laki. Ketika melihat media dengan para lelaki tampan di luar sana, secara tidak langsung pola pikir kita mengarah pada gambaran lelaki tampan tersebut. Otomatis bila bertemu dengan lelaki di luar dari bayangan para perempuan.

Amit-amit jabang bayi punya suami kek gitu!

Perempuan yang seleranya selevel oppa Korea

Faktanya justru lelaki tampang pas-pasan banyak yang dapat istri cantik bahkan bule! Lebih beruntung lagi bila mereka dapat gadis Arab yang minimal lulusan S2.

Di Balik Kisah Romantis

Ane pernah bahas juga topik semacam ini di tulisan sebelumnya. Ane cukup nambahin hal yang masih berkaitan tapi tidak ditulis di tulisan sebelumnya. Ane persempit lagi fokus tulisannya pada genre sejuta perempuan: romance.

Ane baru tahu fakta unik di balik genre romance. Di masa lalu, genre ini tidak berfokus pada kisah asmara dua insan semata. Epik heroik seorang pahlawan dalam menaklukkan sebuah wilayah atau lawan-lawannya termasuk dalam cakupan genre ini. Definisi lebih jelasnya bisa cek di internet atau buku lawas mengenai sejarah genre romance.

Apa Romeo dan Juliet masih tergolong dalam genre romance berdasarkan definisi lawas ini? Ya.

Kenapa perempuan sangat menyukai genre ini dibandingkan dengan drama, chicklit, fiksi umum, atau genre lainnya? Itu tadi. Alasan klise mengenai ekspektasi laki-laki tidak sesuai harapan.

Ane pernah baca soal bedanya introvert sama extrovert dalam hubungan asmara. Keduanya itu berbeda. Jadi jangan samakan stereotipe tentang introvert dan extrovert! Ada yang seneng basa-basi busuk tapi ada yang seneng bicara serius. Ada yang bisa bikin jantung perempuan berdetak tidak karuan dan ada juga yang datar terus bilang “oh”. Ada salah satu kepribadian MBTI yang bisa bikin perempuan meleleh: INFJ.

Masalahnya populasi penduduk dengan kepribadian INFJ itu populasinya 1% dan terkenal sebagai salah satu kepribadian misterius. Nah bagaimana bila harapan mereka tidak terpenuhi? Salah satu fungsi hiburan adalah melarikan diri dari realita yang kadang berbanding terbalik dengan pemikiran naif kita. Pelarian kita sebagai perempuan adalah literatur yang banyak dibuat dari kita-oleh kita-untuk kita. Salah satunya literatur genre romance. Justru di balik indahnya romantisme dari setiap rangkaian cerita, ada sebuah lembah gelap tersembunyi dalam jubah indah berkilauan bernama romantisme.

Gaya penulis menuturkan kata demi kata menjadi rangkaian indah cerita mereka berbeda satu sama lain. Cara bertutur seorang komikus akan berbeda dengan seorang novelis. Begitu pula cara bertutur penulis novel klasik berbeda dengan penulis modern. Semua dipengaruhi oleh hal-hal di sekitar kehidupan si penulis itu. Bacaan, ajaran agama, kehidupan sosial-budaya setempat, hal-hal lumrah di masanya, pandangan politik, hingga hal lain dapat mempengaruhi cara tutur mereka. Mulai dari pembingkaian setiap adegan dalam cerita hingga tema yang mereka usung sepanjang jalannya cerita. Tapi tanpa kita sadari, banyak penulis genre romance terjebak dalam klise atau pakem cerita yang membentuk pola pikir kita sebagai perempuan.

Antara Fujoshi dan Fifty Shades

Kenapa ane banyak menyinggung soal fujoshi dalam tulisan? Sebenarnya itu fenomena menarik jika kita lihat dari sudut pandang seorang perempuan.

Kesamaan antara fujoshi dan Fifty Shades adalah erotica. Genre irisan antara romance dan pornografi. Bedanya fujoshi adalah salah satu fandom perempuan sementara Fifty Shades adalah salah satu literatur erotica. Keduanya muncul dengan kontroversi. Fujoshi dianggap merusak sebuah fandom karena imajinasi liar mereka. Seri Fifty Shades pun dianggap merusak masa depan literatur (dan pembacanya) di kalangan lingkungan klub buku, kritikus literatur, psikolog, pemuka agama, dan aktivis perlindungan anak.

Trilogi Fifty Shades bermula dari sebuah fan fiction Twilight dengan nuansa BDSM kental. Ironisnya di kalangan pelaku BDSM sendiri pun menganggap hal yang tercermin dalam buku tersebut tidak sesuai dengan “aturan main mereka”. Tidak hanya masalah BDSM yang menjadi fokus kritik dari berbagai kalangan, tetapi juga buruknya narasi penceritaan, penggambaran karakter perempuan lemah, tidak adanya pendalaman karakter/plot, hingga adegan pembalut wanita yang kontroversial. Bahkan lelaki manapun akan berpikir dua kali sebelum berhubungan badan sewaktu tahu perempuannya sedang haid!

Fujoshi sebenarnya adalah kata bermakna peyoratif bagi “perempuan mesum”. Perempuan mesum di sini maksudnya fans dari genre yaoi dan yuri, subgenre dari pornografi. Fantasi mereka yang liar dan melampaui batas justru membuat orang lain jijik. Bahkan ada sebuah survei yang dilakukan oleh kalangan penyuka anime di Indonesia mengatakan mayoritas penonton laki-laki enggan menonton anime dengan tokoh mayoritas laki-laki/bertema olahraga. Alasannya mereka risih dengan keberadaan fujoshi yang justru membuat kesenangan menonton anime buyar seketika.

Kemunculan fenomena tersebut berawal dari seksualisasi gambaran pria di media. Kata siapa hanya perempuan yang menjadi target seksualisasi dalam media massa? Seksualisasi karakter, dengan kata lain fanservice dalam istilah anime, secara tidak langsung membentuk gambaran kita akan seorang yang “ideal”. Pada kasus laki-laki itu pria yang tampan, seksi, nakal, memiliki senyuman sensual, berstatus mapan secara finansial, tapi bisa memanjakan perempuan. Contohnya Edward Cullen dalam Twilight. Banyak karakter vampir yang sudah dikenal masyarakat. Kenapa Edward bisa lebih banyak memikat kaum hawa dibandingkan dengan Count Dracula? Jawabannya adalah itu tadi. Fisik yang memuaskan hasrat para wanita kesepian di luar sana.

Fantasi Melampaui Batas

Ane pernah baca artikel menarik di internet mengenai sudut pandang laki-laki. Satu artikel membahas tentang sudut pandang lelaki pada umumnya. Satu lagi sudut pandang “maho”. Keduanya disodorkan literatur perempuan. Bagaimana reaksi mereka?

Apa mereka hanya berpikir laki-laki itu isi pikirannya hanya hubungan intim? Laki-laki terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka di luar sana. Itu sebabnya laki-laki hanya bicara topik yang umum seperti kehidupan kantor dan olahraga.

reaksi seorang pria membaca salah satu rubrik Cosmopolitan

Imajinasi para perempuan terlalu liar. Kami tidak pernah melakukan hal-hal sampai seperti seliar itu.

reaksi seorang maho menonton yaoi

Jika para lelaki saja bisa berpendapat seperti itu, berarti ada yang salah dengan pola pikir kita sebagai perempuan. Anehnya mereka menganggap itu sebagai hal yang lumrah. Secara tidak langsung fantasi mereka mendorong mereka pada jerat lembah hitam pornografi.

Kasus laki-laki dan perempuan memandang pornografi itu sangat berbeda. Hal itu dipengaruhi pula dari sudut pandang mereka memandang pornografi.

Ane memang besar di komunitas yang mayoritas anggotanya adalah laki-laki. Ane amati perilaku dan kebiasaan mereka. Beberapa dari mereka hanya menganggap melihat pornografi adalah ciri lelaki normal dan dewasa. Bahkan anak alim sekalipun pernah sekali melihat pornografi. Ane pernah mendengar salah satu pengakuan sobat lelaki ane. Dia pernah menonton sekali video porno lalu setelah itu ia hapus dan tidak pernah menontonnya lagi.

Apa mereka terus membicarakan hal itu seperti halnya dalam pikiran para gadis? Tidak. Laki-laki lebih senang membicarakan hal-hal yang menurut mereka “cowok banget”. Tidak jarang pula ada yang curhat urusan asmara layaknya seorang gadis.

Memang ada laki-laki yang kecanduan pornografi. Tapi apa mereka berpikir setiap saat soal itu? Jawabannya tidak. Kesibukan mereka justru mencegah pikiran tersebut muncul. Laki-laki memang lebih aktif secara fisik dibandingkan dengan perempuan. Itu sebabnya banyak topik pembicaraan berkaitan dengan olahraga, karir, otomotif, hobi, musik, hingga perjalanan. Kadang di mata lelaki pun nama bintang porno menjadi bahan lelucon.

Hal itu berbanding terbalik dengan perempuan. Masalah mereka jauh lebih kompleks daripada laki-laki. Lelucon terkenal di kalangan laki-laki mengatakan perlu satu buku penuh untuk memahami seorang perempuan. Itu pun hanya jilid pertama dan belum mencakup masalah mereka secara keseluruhan.

Kenapa para lelaki sekalipun mengatakan hal itu? Perempuan lebih menyimpan banyak tekanan dibandingkan dengan laki-laki. Faktor keluarga, cara pandang laki-laki memperlakukan mereka, norma yang berlaku di masyarakat, stereotipe seorang perempuan ideal, hingga konflik internal dengan sesama perempuan pun mempengaruhi kondisi mereka. Mereka tidak bisa sebebas laki-laki untuk menjadi dirinya. Mereka kadang harus memasang topeng demi menjaga nama baik keluarga dan menjadi perempuan ideal di mata masyarakat. Bahkan untuk sekedar meluapkan masalah di dada mereka, sesama perempuan pun bisa menjadi masalah. Tidak seperti laki-laki yang menganggap pertemanan di antara mereka seperti ikatan darah persaudaraan, pertemanan di antara perempuan memiliki ikatan kompleks dan kadang berlandaskan muslihat. Karena itu tadi, perempuan itu lebih sering memakai “topeng” di hadapan banyak orang.

******

Buset buat jelasin hal ini aja bisa sampe ngelag gini. Kalo aja Gutenberg di WP bisa kayak editor dulu yang dikit-dikit gak harus pake koneksi internet. Soalnya internet lagi naik turun.

Okelah cukup segini pembahasan ane. Buat teman-teman yang masih penasaran, bagian keduanya sudah siap. Sampai jumpa di bagian berikutnya.

Pelajaran dari Perempuan Arab

Ini tulisan pertama ane pake mode beta dari fitur Gutenberg di WP. Biasanya fitur ini ada di berbayar sekarang gretongan pun ditawarin buat upgrade juga. Mumpung masih beta ya ane coba dulu buat nulis. Apa ngetiknya lebih lancar dibandingin dengan laman landing page pas login WP? Ulasan lebih lanjutnya ane bahas di tulisan lain.
Nah apa kabar si TinyMCE ya? Apa Gutenberg itu versi upgrade permanen ala WordPress?
Tadi ane liat berita di internet. Beritanya masih baru soal … mobil, motor, dan perempuan Arab. Kenapa ini hal yang menarik? Dibandingkan dengan negara-negara muslim lainnya, hanya di Arab perempuan tidak boleh mengemudikan kendaraan. Pengecualian untuk perempuan yang tinggal di pedesaan atau Arab Badui untuk kebutuhan transportasi. Kabar baiknya, mulai September ini pemerintah Arab Saudi resmi mencabut larangan mengemudi bagi perempuan. Alasannya untuk mendukung kebijakan Vision 2030 yakni kebijakan yang dicetuskan oleh Raja Salman untuk meningkatkan pertumbuhan berbagai sektor di Arab Saudi agar tidak ketergantungan terus sama sektor migas. Makanya tahun kemaren sempet rame Raja Salman keliling dunia buat nawarin investasi juga.
Ada alasan yang kuat dalam mencabut larangan itu. Sebenarnya untuk pemerataan lapangan pekerjaan bagi perempuan. Ane pernah nulis di artikel sebelumnya. Berdasarkan penelitian tentang pendidikan di Arab Saudi, rata-rata tingkat pendidikan keseluruhan perempuan di Arab Saudi itu jauh lebih tinggi daripada laki-lakinya. Jadi jangan kaget kalo ente cowok beruntung dapet bini orang Arab tahunya tamatan S2. Itu mah rezeki dunia akhirat cuy! Nah, modal perempuan Arab udah mantep tuh. Soalnya sekarang susah dapet kerja gara-gara masalah gelar dan tingkat pendidikan.
Kenapa hal ini bisa jadi sebuah topik yang menarik? Sebenarnya kita salah paham tentang pemikiran orang Arab terlebih mengenai cara mereka memperlakukan perempuan.
Nah, bagaimana orang luar Arab khususnya sesama memandang perempuan di Arab itu sendiri? Kaku, kolot, konservatif, gak modis, “diperbudak laki-laki”, “beda sama tipis teroris”, dan tentunya bikin sirik gara-gara fisiknya lebih cantik daripada pemenang Miss Universe/Miss World/apalah. Ane juga awalnya mikir begitu. Apalagi semenjak rame berita soal banyak perempuan pake niqab dengan konotasi negatif. Banyak temen ane yang pake niqab salah satunya Teh Sri dan biasa aja keles. Gak sampe bikin parno masyarakat kek sekarang.
Semua pandangan berubah semenjak ane waktu itu gak sengaja nonton channel Saudi TV. Emang secara kosa kata sama pelafalan bahasa Arab pun ane masih pas-pasan.
Pertama, ane syok pas lihat ada perempuan Arab pakai niqab pakaiannya haute couture aka buatan desainer (dan tentunya tidak bertentangan dengan syariat) lagi rekam acara festival yang tayang langsung di Saudi TV. Padahal bajunya standar item-item. Setahu ane masih lebih modis muslimah Eropa. Soalnya itu sebagai bentuk perlawanan mereka gara-gara banyak kebijakan negara Eropa menyulitkan mereka menggunakan hijab syar’i dan ingin meluruskan salah paham itu di kalangan masyarakat Eropa.
Kedua, berita Saudi TV yang mewawancarai para perempuan. Ane inget waktu itu beritanya tentang wirausaha perempuan yang lagi pameran. Ane kira semua perempuan di Arab pake niqab, ternyata gak semua. Sama halnya kayak di Indonesia, Malaysia, India, Iran, Pakistan, negara-negara pecahan Uni Soviet, atau negara dengan banyak populasi muslim lainnya. Mereka ada kok yang pake khimar biasa. Ada juga yang hijab gaul kayak anak muda. Tetep pakaiannya masih item-item.
Ketiga, kata siapa pake niqab itu identiknya dengan super religius? Ane syok pas lihat ada perempuan pake niqab ternyata seorang seniman. *woot?* Ia memperlihatkan bakatnya di hadapan pemirsa Saudi TV dalam sebuah acara talk show. Jangan salah, lukisannya kece badai!
Keempat, film Wadjda (2012). Film ini disutradarai oleh Haifaa al-Mansour, seorang sutradara perempuan. Film tersebut berlatar belakang kehidupan masyarakat urban di Riyadh dan pada masa itu perempuan tidak boleh mengemudi. Konflik film ini sederhana: Wadjda kesel diledekin Abdullah pake sepeda terus pengen belajar sepeda. Sejak saat itu ia berusaha cari uang demi beli sepeda. Tapi keadaan lingkungan sekitar khususnya ibu Wadjda menentang ide tersebut.
Ada yang pertanyaan menarik dari film ini berdasarkan komentar penonton di forum IDWS.
Gagal paham pas liat adegan ibunya Wadjda coba beli gaun di mal. Gimana makenya? Mereka ‘kan pake niqab tiap hari. – salah seorang penonton Wadjda
Justru yang menarik di sini adalah penggunaan hijab di Arab. Ternyata baju item-item itu semacam jaket. Saat itu ane langsung inget infografis tentang penggunaan hijab dari akun medsos ustadz Felix sama salah satu artikel di Bright Side.
Singkatnya pakai hijab berdasarkan penafsiran dari Al Qur’an dan hadits itu maksudnya pakaian luar. Jadi ada dua pakaian yang mereka gunakan. Pakaian luar item-item (jilbab di sini itu mirip jubah/jaket, kerudung panjang aka khimar, niqab, dll) dan pakaian dalam (baju biasa aja kayak kita di rumah, pake kaos plus celana/hot pants juga gak apa-apa).
Nah, berhubung di Arab itu banyak banget ladies room, mereka justru lepas hijab di sana. Contohnya di film Wadjda. Murid, guru, staf, bahkan kepala sekolah di Arab memang lepas hijab. Pakaiannya pun sopan dan tetap elegan. Pas ada cowok yang gak sengaja liat mereka pas di sekitar halaman/lapangan sekolah, mereka ngumpet sampe cowoknya pergi. Unik memang. Padahal kalo ke luar mah lebih baik pake daripada berabe.
Sebenarnya soal masalah hak perempuan di Arab itu memang agak bingung. Mereka mikir “perempuan di Arab itu enak, semua serba dilayani bak ratu!” tapi di belahan bumi lain sana menilai perempuan di Arab kehilangan sebagian hak dasarnya. Contohnya hak untuk memilih pemimpin dan hak untuk mengemudi yang baru saja diperbolehkan. Selain itu, soal niqab pun sebagian orang menentang karena seakan-akan membatasi hak perempuan.
Bagaimana pendapat ane mengenai masalah niqab?
Pendapat ane sih mau pake silakan, gak juga gak apa-apa. Terus ngapain recokin hal sepele kek gitu? Ane setuju sama perkataan seorang ulama salaf di Cina yang kasusnya hampir serupa kayak di Indonesia. Ada salah satu artikel dari majalah Historia yang ditulis sama seorang mahasiswa di Cina sekaligus kontributor tetapnya. Justru di Cina daratan sana, etnis Hui (salah satu etnis Tionghoa yang mayoritas muslim seperti Uyghur) bisa sampe gontok-gontokan gara-gara masalah baju, gaul sama pribumi, sampe bahasa Mandarin.
Woot? Bahasa Mandarin aja sampe direcokin? Mereka hidup di Cina men! Gimana mereka bisa komunikasi, berdagang, ato belajar kalo bahasa Mandarin aja mereka gak mau belajar? #gagalpaham
Justru banyak hal yang lebih besar buat kita urusin. Misalnya tentang pendidikan yang lebih layak, kerusakan lingkungan, masalah kemanusiaan seperti di Palestina, racun dalam tumbuh kembang anak, dll. Harusnya ustadz yang doyan ceramah kayak gitu di masjid lebih ajak umat biar peduli banjir di sekitar rumahnya daripada ikut-ikutan recokin Pandji gara-gara stand up soal Toa masjid. Itu ‘kan lebih bermanfaat bagi masyarakat banyak sekaligus jadi ladang dakwah plus amal ibadah mereka.
Nah, apa yang bisa kita pelajari dari mempelajari kehidupan perempuan Arab?
Pertama, pahami lebih dahulu soal ajaran Islam mengenai perempuan sebelum recokin di media massa/internet. Jadi biar gak asal ceplos apalagi memicu demo berseri 212 lagi. Jujur kami sudah lelah melihat kondisi masyarakat Indonesia yang makin ke sini makin terbelakang dan kalah maju dengan bangsa lain. Tolong jangan atas namakan agama demi membenarkan hal-hal bodoh yang justru lebih banyak bertentangan dengan ajaran agama.
Kedua, jangan memandang sesuatu dengan kacamata kuda. Coba pelajari sudut pandang perempuan Arab sendiri mengenai diri mereka. Dengan melihat suatu hal dari beragam perspektif, insya Allah kita bisa lebih mengenal orang lain dan menghindari munculnya konflik akibat gagal paham.
Ketiga, hidup dengan budaya seperti itu bukan berarti kolot dan tidak mau belajar untuk perubahan yang lebih baik. Di luar sana gak cuman perempuan Arab yang orang sering salah paham soal mereka. Indonesia punya orang Baduy sama penduduk Kampung Naga. Amerika punya orang Amish. Eropa punya orang Romani aka gypsy. Jamaika punya orang Rasta. Kata siapa mereka terbelakang? Mereka gak nerima apalagi nolak mentah-mentah semua hal yang berasal dari kehidupan modern. Mereka bisa memilah semua yang baik dan buruk dengan panduan jelas seperti ajaran agama dan budaya setempat. Ambil yang baik, buang yang buruk. Jarang ada orang yang seperti itu di tengah-tengah masyarakat modern seperti sekarang.
Terakhir, jadilah perempuan yang kuat. Kita punya hak yang sama di mata hukum dan agama. Jangan cuma sekedar demo gitu aja terus berakhir anarkis hanya karena hak kita gak didengar. Lebih baik kita lakukan aksi nyata. Biar kecil tapi berkelanjutan lebih baik daripada sekedar demo tapi menguap gitu aja.
Akhir kata, tulisan ane kepanjangan ya? Jadiin sampul buku juga bisa. Soalnya di Bandung udah banyak yang jual bungkus gorengan unyu-unyu T.T

Anda Kurang Belajar

Tulisan ini kepikiran gara-gara nonton vlog-nya Pandji mengenai kasus Ibu Meiliana. Kasus yang lagi viral di masyarakat belakangan ini. Buat yang belum lihat videonya, ane sarankan jangan butthurt.

Jujur ane gak tahu kasus tentang Ibu Meiliana. Baru tahu tadi malah. Soalnya TV di rumah ane rusak. Nonton berita di YouTube pun lebih banyak hoax-nya. Jadi singkatnya beliau ini bermasalah di ranah hukum gara-gara ngeluh masalah suara Toa masjid kekencengan. Padahal ada peraturan yang jelas mengatur tentang penggunaan Toa masjid. Ada dalil yang jelas mengenai penggunaan Toa masjid.

Pertama, ada dalil hukum yang jelas dibuat oleh pemerintah untuk mengatur hal tersebut oleh dirjen Bimas Islam Departemen Agama. Untuk lebih jelasnya bisa cek di pranala luar dari situs Hukum Online.

Kedua, ada dalilnya secara syariat. Peraturan pemerintah yang dikeluarkan oleh dirjen Bimas Islam tidak bertentangan dengan syariat. Ane baru tahu hal itu dari penjelasan salah satu komentar cerdas di halaman asli YouTube dari video di atas. Penjelasannya lengkap dengan dalil yang kuat.

Bentar, kok jadi bahas kasus yang lagi viral ya? Ane pengen bicara kasus ini dari sudut pandang lain. Masalahna euy kasusna rada nyerempet kana agama. Jadi ane pengen bahas dari sisi … belajar.

Kasus ini mengingatkan ane soal celotehan Pak Dewo pas lagi kuliah.

Percuma aja kalian sholat tapi ulangan aja masih nyontek!

Reaksi beberapa temen sekelas ane di kampus:

Si bapak orang sekuler!

Reaksi ane:

Bukannya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar ya? Berarti selama ini ada yang salah dari sholat kita!

Pemikiran ane saat itu muncul gara-gara keseringan nonton Indosiar. Ane inget dulu Indosiar setiap kali habis adzan Maghrib pasti ada surat Al Ankabut ayat 45 muncul di TV. Ya dulu drakor masih tayang ampe jam segitu.

Maafkan bila pemikiran ane terlalu naif. Ane masih kurang belajar.

Masalah agama menjadi hal yang paling sering bikin orang salah paham apalagi di negeri ini. Salahnya itu karena kebanyakan orang salah memahami ajaran agamanya dan gawatnya lagi ngajarin orang dengan pemahaman yang salah. Hal itulah yang jadi salah satu topik yang muncul dalam novel Atheis. Gak usah jauh-jauh bahas soal novel lawas kontroversial itu deh. Bicara soal teroris aja. Ane pernah baca cerita tentang mantan napi teroris yang insyaf di penjara setelah tahu “ajaran yang selama ini ia anggap benar” itu salah. Baik secara syariat maupun pemahamannya. Itu salah satu bukti kesalahan fatal hanya karena taklid buta tanpa mau kritis.

Kalo orang yang belajar agamanya bener ya pikirannya gak bakal jauh beda kayak gini.

Kenapa dalilnya itu kayak gini? Sumber dari Qur’an sama haditsnya mana? Tafsirnya gimana? Asbabun nuzul-nya gimana? Masih banyak lagi pertanyaan yang bisa kita kritisi dari sebuah pemahaman.

Berhubung ane itu gak begitu jago dalam urusan agama, jadi pembahasan soal kasus itu ane akhiri saja. Soalnya bisa berabe gara-gara ane bukan ahlinya.

Kita pindah ke hal lain yang justru lebih umum lagi dari kasus Toa masjid. Lagipula masih banyak hal yang lebih penting daripada recokin sesuatu yang viral tanpa dalil jelas.

Kita udah dijajah 353,5 tahun, eh pemikirannya masih “serba salah”. Ini masyarakat mau jadi apa sih? Generasi micin yang serba salah ditinggal kekasih pindah sekolah? Apa mau jadi Raisa kedua yang terkenal dengan hits Serba Salah?

Harusnya ya hidup di era kemerdekaan seperti sekarang itu bisa bikin orang lebih banyak mikir. Banyak sumber informasi yang bisa gali untuk cari tahu kebenarannya. Misalnya buat cari tahu soal siapa aja yang jadi “bahan obrolan” dari lagu-lagunya Taylor Swift.

Serba salahnya lagi kalo orang yang “pinter” ngajar di depan kelas. Tepok jidat. Jujur aja lebih gampang jadi orang “oon” daripada orang “pinter”.

Apa lagi salah kita? Gak cuman kurang piknik sih. Kebanyakan micin iya. Kebanyakan main iya. Belajar kurang.

Lho ngapain belajar? ‘Kan gak ada PR? Kita juga udah lulus kok? Belajar itu gak melulu buat di sekolah kok. Belajar itu seumur hidup. Ingat. Seumur hidup.

Ane udah ngoceh panjang lebar di tulisan sebelah jadi biarkan tulisan ini berakhir gitu aja. Selama kita masih recokin hal sepele dan gak mau belajar, selama itu pula bangsa lain memandang rendah kita karena kurang belajar. Sesederhana itu.

Cantik Itu Jadi Diri Sendiri

Cantik itu apa sih? Cacar berbintik? Lupakan lelucon lawas yang satu ini.

Cantik itu sifatnya relatif. Soalnya tiap budaya itu beda lagi cara menilai seorang perempuan itu cantik.

Orang Dayak baru cantik kalo kupingnya panjang. Apa berat antingnya saingan sama gelang emak-emak di pelem India ya?

Orang Afrika baru cantik kalo semok dan pantatnya lebar. Alasannya sih makin lebar pantatnya, ceweknya makin subur, dan makin gampang melahirkan anak.

Orang bule anggap cewek cantik itu kulitnya sawo mateng eksotis kinclong bak orang India. Apalagi kalo diguyur pake losion khusus buat lomba binaraga biar badannya kinclong, beuh langsung besoknya dilamar bule!

Salah satu standar kecantikan orang India itu dari perutnya. Pantesan baju di balik sari mereka crop top semua.

Orang Korea … gak usah tanya deh. Hampir satu cetakan semua. Masih lebih mending orang Korea Utara sih kalo masalah cantik alami mah.

Setiap budaya memiliki cerita dan cara pandang mereka mengenai kecantikan seorang perempuan. Begitupun di Indonesia. Ane pernah baca thread di Kaskus yang hampir semua komentatornya cowok. Bukan BB17 kok. Ngomongin soal cewek paling cantik se-Indonesia dilihat dari sudut pandang cowok. Bahkan istilah IGO aka Indonesian Girls Only pun muncul dari bahan obrolan cowok soal kecantikan cewek.

Berdasarkan pengamatan ane dari temen-temen cowok ane, cewek yang mereka anggap “bening” itu secara visual cantik. Mereka gak peduli warna kulitnya seputih bule ato sawo busuk asalkan terawat sama mulus mah. Proporsi badan seimbang. Kurus gak semok gak masalah. Proporsi wajahnya seimbang. Senyumannya bening. Hal yang terpenting bukan cuman fisiknya. Mereka cari cewek yang feminim, apa adanya, dan bisa jadi istri sholehah.

Banyak cewek yang berlomba-lomba pengen jadi cantik. Ada yang maniak mode sampe maniak operasi plastik demi bisa dikatakan cantik. Bahkan bencong pun gak mau kalah sama cewek dalam urusan dandan. Mereka bahkan melakukan hal-hal absurd agar bisa dipandang cantik di mata masyarakat. Mulai dari diet timun ala SNSD, minum obat pelangsing, sedot lemak, sampe paling ekstrim bulimia. Adanya bukan cantik. Itu mah sama aja nyiksa diri. Lebih buruk dari adegan sadis di Game of Thrones pula.

Sebenarnya cantik itu sederhana. Terima diri kita apa adanya dan berusaha jadi lebih baik. Gak masalah kalo kita tomboi terus roman muka maskulin macam si Bu Suk. Setiap orang memiliki pesona kecantikannya tersendiri.

Orang Arab biar pake cadar pun masih keliatan cantiknya. Soalnya mereka memperjelas kecantikan mereka dari akhlak sama pendidikan. Ane baru tahu dari internet, ternyata mereka itu tingkat pendidikannya lebih tinggi daripada laki-laki di Arab.

Cewek terjelek sedunia pun sebenarnya dia cantik kalo dilihat dari sisi lain. Cantiknya itu bermula dari rasa percaya dirinya melawan stigma masyarakat.

America’s Next Top Model terkenal gak cuman karena melahirkan model-model berbakat. Acara itu juga mendobrak stigma masyarakat Amerika terhadap kecantikan perempuan. Ada kok salah satu jebolan acara itu yang warna kulitnya beda tipis sama sapi dari kecil. Justru dia sekarang masuk agensi model terkenal dunia karena bakatnya.

Megan Fox sama Park Shin Hye. Mereka berdua sama-sama punya kekurangan di jari tangan. Mereka malah bisa memancarkan kecantikan mereka dari cara berpakaian, senyuman, dan prestasi di bidang akting juga model.

Meghan Trainor memang sering kena bully gara-gara postur tubuhnya. Dia salah satu artis cuek bebek yang lantang menyuarakan tentang body positivity. Justru dia cantik karena dia bangga dan menerima dirinya apa adanya.

Jadi sebenarnya cantik itu sederhana. Cantik itu gak harus dandan menor dengan baju bling-bling pake bulu mata antibadai ala Syahrini. Cantik itu intinya jadi diri kita sendiri dan mau menerima diri kita apa adanya. Cantik juga bisa terpancar dari tutur kata, perilaku, pendidikan, olahraga, hingga pemilihan busana yang nyaman dengan diri kita. Udah tahu pake high heels itu gak baik bagi kesehatan, ngapain maksain pake high heels segala? Masih banyak kok pilihan sepatu yang lebih nyaman buat kita dan tidak menghambat aktivitas. Kalo mengutip bahasa cowok sih,

Cantik fisik itu bisa pudar seiring berjalannya waktu. Cantik dari dalam akan bertahan lama meskipun fisiknya sudah tua.

Jadi, siapkah kita untuk menjadi cantik dengan definisi kita sendiri? Selamat mencoba.

NB:

Bicara soal operasi plastik, ane pernah operasi plastik. Serius. Itu pun karena alasan medis pas waktu kelas 6 SD. Dulu ane ceroboh pas berenang di water boom. Ane gak tahu ada orang yang lagi seluncuran di water boom terus matanya ketendang. Ane inget pendarahannya banyak banget sampe nangis pun sakit. Akhirnya ada gumpalan darah gede di mata. Kata dokter kalo gak dikeluarin bisa bahaya. Pas ane liat artikel tentang operasi plastik, ane baru nyadar itu bagian dari prosedur double eyelid surgery. Kapok dah masuk ruang operasi lagi!

Belajar Itu Gak Berhenti Setelah Dapet Gelar

Einstein pernah bilang gini. Kalo kita gak belajar, sama aja kayak “mematikan” kita perlahan-lahan. Bahkan di buku La Tahzan pun disinggung demikian.

Lho ngapain harus belajar? ‘Kan udah lulus S3? Iya sih S3 tapi SD, SMP, sama SMA. Pertanyaan itu sering disentil ama Emak ane tiap kali nengok kerjaan ane di depan laptop. Kemungkinan ane buka laptop itu ada tiga: nulis, belajar lewat internet, ato unduh film. Emak ane ngira ane main game mulu. Sori ye, Mak. Ane cuman main Township di HP.

Nah, daripada bengong mending kita ngobrol panjang lebar tentang belajar aja.

Ngapain Kudu Belajar Lagi?

Itu pertanyaan orang tua ato temen kita yang liat kita lagi belajar. Gak peduli belajar apa. Mo nyambung dengan jurusan kuliah kita ato terjun bebas di luar zona nyaman kita ya tergantung kita pengennya apa. Soalnya orang di sini ntuh berpikir belajar itu hanya sebatas duduk di bangku sekolah atau ikut pelatihan khusus. Sebenarnya belajar itu lebih dari bangku sekolah. Sampe kita bertambah gelar almarhum pun ya kita kudu tetep belajar.

Belajar gak pernah ngenal kata terlambat. Kalo telat kawin sih bisa. Gak peduli berapapun usia kita. Ane baru belajar bener-bener belajar itu di usia 20an pas masih kuliah. Sebenarnya sih efek samping mabok mata kuliah Psikologi Kognitif. Biar ane telat ya bodo amet. Pokoknya yang paling penting itu kita paham konsep dasarnya lalu mengamalkan dengan benar dalam keseharian. Gak apa-apa biar satu ayat yang penting bisa kita amalkan dengan konsisten. Betul?

Kenapa kita kudu belajar lagi? Biar gak ketinggalan zaman. Biar kekinian. Bahasa gaulnya sih begono. Biar pemikiran kita lebih terbuka dan lebih bijak menyikapi kehidupan. Toh seperti kata pepatah, seperti ilmu padi semakin berisi semakin merunduk. Semakin luas ilmu dan pengetahuan kita, semakin bijaklah kita menyikapi diri kita ataupun orang lain. Apa efek sampingnya kalo belajar hanya sebatas bangku sekolah aja? Liatin aja di TV sono.

Tahun 2018 adalah tahun panas. Ya panas banget gara-gara mendekati pilpres ditambah deretan pilkada yang mengawalinya. Dari awal tahun sampe sekarang masih aja recokin soal politik. Beritanya itu lagi itu lagi. Padahal ngapain kita urusin politik selama kita gak ahli dalam berpolitik? Toh kata hadits juga kalo suatu hal gak diserahkan pada ahlinya maka tunggulah kehancurannya.

Kalo kita mau belajar, banyak hal lain yang lebih penting daripada politik. Contohnya kehidupan bermasyarakat yang mendadak goyah lagi gara-gara teroris. Orang-orang pada su’udzon duluan liat orang yang berbeda paham dengan mereka terus dicap mentah-mentah teroris.

Gimana Caranya Belajar?

Nah kalo ini ane gak bisa jawab tuntas sampe detil banget. Soalnya ane bukan ahlinya. Ane cuman sebatas nulis yang ane tahu berdasarkan pengalaman pribadi.

Sebenarnya belajar itu adalah hal mudah dan gak modal. Modal paling minimal pun cuman buku sama alat tulis. Ya di era serba media sosial kayak sekarang sih pake HP dengan kuota memadai pun cukup. Cuman yang bikin susah belajar itu adalah kemauan kita untuk memulai belajar, motivasi biar terus mau belajar, dan mikirnya. Emang belajar itu kudu liatin angka-angka mumet kayak liatin harga saham?

Nah, kalo kita pengen belajar yang bener, ane cuman bisa ngasih satu saran. Belajarlah tentang metakognitif. Itu adalah ilmu tentang “cara belajar”. Gimana cara belajar yang paling efektif buat kita? Soalnya tiap orang itu masalahnya beda-beda dalam belajar. Contohnya keponakan ane si Nara yang punya disleksia. Nah dalam ilmu metakognitif, kita belajar gimana cara belajar paling terbaik bagi pengidap disleksia tanpa harus bikin otaknya jumpalitan.

Sebenarnya ilmu ini materi wajib para calon guru tapi gak apa-apa kok kita belajar juga. Toh ilmu tentang belajar bukan monopolinya guru kok.

Apa yang Kudu Kita Pelajari?

Apa saja! Sesuai batas kemampuan otak kita. Soalnya gini. Ane pernah baca di internet. Otak manusia boleh sama tapi kapasitas untuk menguasai betul suatu ilmu berbeda-beda. Ada yang jago banget di matematika tapi payah dalam olahraga yang membutuhkan koordinasi motorik. Ada yang jago banget gombalin anak orang tapi lemah di analisis. Pastikan kita kenali dulu batas kemampuan kita sebelum putuskan untuk belajar. Jadi belajar itu jauh lebih menyenangkan dan tentunya gak bakal bikin kepala kita mumet.

Ada dua ilmu penting yang kudu kita pelajari secara umum: ilmu agama dan ilmu tentang bermasyarakat.

Ilmu agama sebagai panduan kita dunia akhirat. Carilah guru yang paling cocok dengan kita. Mulai dari keluasan ilmunya hingga mengajarnya itu sesuai gak sih sama tuntunan dalam agama kita. Awas aja ketemu guru yang bagus tapi aliran sesat. Bisa berabe dunia akhirat tuh.

Ilmu bermasyarakat singkatnya itu biar kita lebih mudah untuk bersosialisasi. Wajib dikuasai para introvert biar gak salah dipahami orang. Buat para extrovert sih kudu menguasai juga biar lebih mudah untuk bersosialisasi dalam beragam situasi. Ilmunya tentang apa aja sih? Mulai dari cara bicara, bahasa tubuh, cara bergaul, cara membuka pembicaraan di khalayak ramai, budaya lokal dari daerah sekitar kita, hingga etika beramah tamah. Jadi gak ada ceritanya tuh kita dicap antisosial.

Apa ilmu lain boleh dipelajari? Sangat boleh! Malah dianjurkan untuk mempelajari ilmu lain untuk memperluas pandangan kita dalam menyikapi suatu masalah. Kalo ilmu lain ya boleh sesuai dengan latar belakang kita secara akademik, boleh juga terjun bebas. Emang gak boleh programmer belajar masak? Emang gak boleh penulis belajar tentang psikologi? Emang gak boleh chef belajar soal akuntansi? Emang gak boleh ibu rumah tangga belajar soal pertukangan? Apa aja boleh selama kita mau belajar.

Intinya apapun ilmu yang kita pelajari harus benar-benar fokus sampe kita bisa secara tuntas. Jangan jadi kutu loncat alias ilmunya belum dalem eh keburu bosen lalu pindah materi lain. Adanya bikin kepala nambah mumet iya ngerti juga gak.

Pintar-Pintar Mencuri Waktu

Salah satu manfaat dari belajar adalah gak ada waktu yang terbuang. Kita bisa mengisi waktu kita untuk hal yang lebih bermanfaat. Entah itu sebagai hobi ato ditekunin sampe serius.

Soal time management sebenarnya ada yang paling jago: artis terkenal. Banyak artis terkenal negeri ini yang masih tetap produktif menghasilkan karya mereka tanpa mengesampingkan pendidikan. Bahkan beberapa di antaranya terkenal dengan akademik baik seperti halnya Cinta Laura. Jadwal mereka yang padat memaksa mereka untuk pandai-pandai mencuri waktu untuk belajar. Banyak kok cerita di balik layar soal artis yang masih nugas di sela-sela jeda syuting film atau sinetron.

Banyak teknik di luar sana mengenai cara membagi waktu yang efektif. Ane pernah bahas tulisan tentang Pomodoro di tulisan sebelumnya soalnya ane pake itu buat belajar sama rampungin novel yang lagi dalam proses. Sebenarnya teknik itu hanya alat bantu untuk memudahkan kita mengatur jadwal kita sendiri. Inti dari pengaturan waktu sebenarnya hanyalah disiplin dengan jadwal yang sudah kita tentukan dan fokus. Kalo udah waktunya belajar, ngapain nongkrong cek status di HP? Lebih baik kita taruh HP-nya dulu terus kita belajar. Baru kalo udah selesai cek status lagi 😀

Belajar Bukan Kerja Rodi Apalagi SKS

Sekarang bukan zamannya kerja keras. Sekarang zamannya kerja cerdas.

Belajar gak melulu baca satu buku sampe tuntas apalagi kudu SKS sehari sebelum ujian. Kita bisa menggunakan cara paling efektif untuk belajar tanpa harus membuang banyak waktu. Sekarang sudah zamannya internet. Kita bisa belajar dari kelas MOOC bahkan dari YouTube. Materi pelajarannya pun bervariasi dari tingkat pemula sampe trik-trik ahli yang gak dijelasin di sekolah. Seneng yang klasik untuk menyendiri? Perpustakaan solusinya. Perpustakaan menyimpan semua buku yang kita butuhkan di satu tempat tanpa harus bersusah payah. Tentunya bisa kita baca dengan gratis tanpa kuota! Buku praktis petunjuk teknis sampe buku teori berat pun ada di sana. Mulai dari buku jadul sampe buku terkini pun kita bisa cari dengan mudah.

Kenali kelebihan dan kekurangan kita. Semakin kenal kita akan diri kita, lebih mudah pula kita menyusun strategi cerdas untuk kita belajar. Jadi kita bisa belajar intisarinya sampai benar-benar paham tanpa harus mumet bolak-balik tengok referensi tebal sana sini apalagi banyak nanya. Soalnya orang zaman sekarang paling kesel liat orang lagi nanya. Cara belajar introvert beda banget sama extrovert. Cara belajar pengidap disleksia beda banget sama pengidap autis. Cara belajar seorang artis beda dengan cara belajar pelajar biasa. Semakin enak kita buat belajar, semakin kita termotivasi untuk terus belajar biar sudah lulus sekalipun.

Amalkan Ilmu Kita Itu Penting Biar Sedikit

Ini dia yang paling penting. Tujuan kita belajar itu agar ilmunya masih berguna dalam keseharian kita. Contohnya life hacking. Teknik yang digunakan orang-orang untuk mengerjakan suatu pekerjaan dengan efisien. Padahal di balik trik-trik life hacking itu sekumpulan ilmu dan pengetahuan yang sudah kita pelajari yang kemudian digabungkan untuk memudahkan hidup kita. Toh hidup generasi milenial sekarang gak mau ribet. Pengennya yang mudah tapi cepet kelar.

Sekarang lagi rame tuh orang tua pengen anaknya jadi hafizh Qur’an. Alangkah lebih baiknya kita gak cuman jadi hafizh tapi juga mengamalkan hafalan kita dalam keseharian. Ane pernah denger cerita langsung dari mentor pas pelatihan kewirausahaan dulu. Beliau cuman mengamalkan salah satu ayat di surat Ar Rad aja hidupnya udah baik apalagi kalo mengamalkan semua ayat yang kita hafalkan. Itu jauh lebih baik lagi.

Jangan Lupa Ajari Orang Lain Biar Ketularan Virus Belajar

Apa sih gunanya kita nimbun ilmu di otak kita tapi kita gak mau berbagi apalagi mengamalkannya? Sama aja kayak nampung air kelamaan di bak mandi. Kalo airnya kagak dipake mulu ntar jadi sarang nyamuk terus sekampung bisa kena DBD ato malaria. Justru dengan mengajarkan dan mengamalkan ilmu yang kita pelajari, ilmu itu jauh lebih bermanfaat bagi orang banyak daripada cuman dipendem sendiri mulu. Merasa malu ato susah ngomong buat ngajarin orang? Nulis aja.

Belajar, baca, dan tulis memang suatu kesatuan yang gak pernah terpisahkan. Seperti halnya siang dan malam juga pria dan wanita. Ceile bahasanya. Imbas dari membaca adalah menulis. Kalo kita menulis terus mentok aka writer’s block, tandanya kita kurang baca dan belajar.

Nah, gimana caranya ngajarin orang? Sebenarnya sih ada ilmunya. Ilmu pedagogi yang masih sodaraan sama metakognitif. Cuman berhubung bukan bidangnya ya ane cuman bisa jelasin cara ane.

Intinya kalo pengen ngajarin orang itu, ngobrol aja berasa kita lagi ngobrol sama temen. Kata ganti orang pertama semacam “aku”, “saya”, “gue”, apalagi “aing” itu hukumnya terlarang dalam ngajarin orang. Lebih baik gunakan kata ganti orang kedua jamak seperti “kita”. Lho kenapa gak boleh kayak gitu? Ada penjelasannya dalam teori komunikasi.

Kalo kita ngomong kata ganti pertama, berarti kita seakan-akan itu egois. Gak anggap audiens aka “murid” kita ada. Jadi semua fokus mulu sama diri kita. Kecuali waktu kita lagi cerita pengalaman pribadi sih kagak masalah. Kalo kita ngomong kata ganti kedua tunggal, seakan-akan kita lagi nyuruh orang. Masalahnya bisa berabe kalo kita lagi ngajarin suatu hal di depan orang tua yang kudu banget terapin tata krama. Bisa-bisa kita dianggap sok jago, sok pinter, apalagi sok ngasih perintah. Tamat dah riwayat kita. Nah, enaknya kata ganti orang kedua jamak itu seakan-akan kita lagi ngobrol biasa. Jadi kita seakan-akan bisa berbaur dengan murid ato siapapun audiens di depan kita. Gak ada tuh jenjang antara si guru ato si murid. Kayak kita lagi ngobrol sama temen aja. Santai kayak di pantai, bre!

Belajar Bisa di Mana Saja dan Kapan Saja

Belajar itu salah satu aktivitas murah meriah tapi males mikirnya. Belajar gak selalu identik dengan belajar serius seperti kita kira kok. Kita mengamati hal sepele pun bisa jadi belajar.

Contohnya soal penggunaan kata ganti yang udah kita singgung sebelumnya. Ane justru malah tahu itu dari salah satu buku tentang konsep pemrograman, Head First C. Dulu ane kesulitan memahami konsep pemrograman apalagi si pointer. Ane carilah materi tentang bahasa C yang bikin paham soal si pointer sesat itu. Ketemulah sama buku ini dan … kok buku ini asyik ya? Ane pelajari setiap kalimat dan bab buku itu dan bukan kodingannya! buat dianalisis. Akhirnya ane belajar tentang cara menulis dari sana. Bahkan cara menulis di jurnal yang sekarang pun emang salah satu inspirasinya dari buku Head First.

Nah belajar itu mudah selama kita mau untuk memulainya. Siapkah kita untuk belajar hari ini?

Jalan, Fenomena Mudik, dan Cars

Lagi enak-enak nonton konser Via Vallen eh malah gangguan. Ya sudahlah ane setel TV kabel. Ane bingung mo nonton apa. Soalnya di luar jadwal tayangan yang biasa ane tonton. Biasanya ane setel TV kabel buat nonton film Indonesia jadul, acara masak, film, sama anime. Harusnya sih tulisan ini udah kelar. Cuman ya terhenti gara-gara asyik nonton Cars 3.

Tulisan ini gak kepikiran pas lagi nonton Cars 3 di Fox Movies. Ide bikin tulisan ini kepikiran pas ane lagi ngobrol sama Teh Fitri, sodara ane, pas lagi ngumpul di rumah Ua Oso.

Ane pernah baca tulisan lawas. Ane lupa sumbernya koran, majalah, ato internet. Tulisannya berkata Indonesia bikin jalan tol duluan tapi ironisnya jalan tol di Malaysia jauh lebih banyak daripada di Indonesia. Masalahnya di Indonesia cuman satu kok: pembebasan lahan yang bikin pemerintah geleng-geleng.

Bersyukurlah buat generasi 90-an yang lahir di Jakarta, Bandung, “Bandung Coret” (orang Bandung pasti ngerti maksudnya apa), Cimahi, Purwakarta, Bogor, Semarang, Cirebon, dan Surabaya. Kita sudah kenal jalan tol jauh sebelum kita lahir. Semua kota itu adalah kota-kota yang menjadi jalur perlintasan tol-tol lawas. Salah satunya tol Padaleunyi.

Seperti singkatannya tol ini memang menghubungkan jalur dari ujung Cileunyi sampai ujung Padalarang. Sebenarnya sih gak Padalarang banget melainkan perbatasan Padalarang sama Cimareme. Toh setiap ke rumah Ua Oso di Cijerah pun sering lewat sana. Ane inget waktu TK dulu pernah nanya ke Babeh.

“Beh, kok lewat jalan tol? Kenapa gak lewat patung ikan?” rengek ane di dalam mobil.

Dulu waktu ane kecil, ane inget sering nangis gara-gara gak lewat Patung Ikan. Nama salah satu patung di Bandung yang sampai sekarang ane gak tahu sejarahnya. Ane baca artikel di situs Serba Bandung tadi. Patung itu sudah ada sejak tahun 1993. Jadi udah ada sebelum ane lahir (baca: ane kelahiran ’94 kok). Patung itu diresmikan oleh walikota Bandung saat itu, Ateng Wahyudi. Berdasarkan cerita orang-orang, patung itu menandakan bahwa di masa lalu daerah sekitar Tegalega memang banyak ditemukan ikan mas.

Sayangnya patung itu sekarang udah gak “mancur” lagi kayak dulu. Ane ingat waktu kecil dulu. Cuman liat air mancur dari mulut si ikan dari balik jendela mobil pun udah bikin ane jingkrak-jingkrak kegirangan. Ane sering minta dikuncir setinggi pancuran air dari si mulut tiga ikan sekawan itu.

patung-ikan-moh-ramdhan
sumber: Serba Bandung

lokasinya di persimpangan jalan Moh. Ramdhan, deket Tegalega

Jalan tol memang cepat. Bisa menghubungkan dari rumah di Margahayu Rawa sampai ke Cijerah. Tidak perlu mengeluh dengan kemacetan by pass, lamanya stopan di jalur lingkar selatan (baca: dari jalan Peta, lewat simpang Jamika, sampe ujung persimpangan tol Pasir Koja), dan tentunya “bau tai kuda” Pola Cijerah. Hal yang selalu Babeh keluhkan tiap kali mau ke rumah Ua Oso.

Ane punya kebiasaan aneh sejak kecil. Gak cuman lebih senang foto objek daripada difoto. Ane sering duduk di jok paling belakang mobil. Alasan bodohnya sih biar enak tidur. Ane juga sering mengamati apapun objek di depan mata dari balik jendela mobil. Mulai dari Patung Ikan, reklame di pinggir jalan, baterai ABC besar di pinggir jalan provinsi Jawa Tengah, patung polisi bercat pudar, sampai pemandangan alam hijau menghampar di sepanjang jalanan. Justru ane lebih mengingat jalan dari suatu tempat hanya dengan memperhatikan pemandangan di sekitarnya daripada menghafal urutan nama jalan.

Sewaktu ane kecil, ane selalu bertanya-tanya.

Kenapa si Babeh tiap kali mudik pake mobil gak pernah lewat Pantura?

Kenapa berita mudik di televisi sering sorotnya Pantura mulu?

Ane baru sadar alasannya sewaktu ane masuk sekolah. Rumah si mbah ada di Solo. Jalur terdekat dari Bandung ya lewat jalur selatan. Mengikuti tanjakan Nagreg, berkelok-kelok melintasi Malangbong, melihat gentong-gentong besar di kawasan Gentong (sampe sekarang ane gak ngerti kok namanya Gentong, apa gara-gara banyak produksi gentong di sana?), naik turun bak rollercoaster di kawasan Ciamis, dan sampailah di hamparan patung tunas Pramuka berjajar di sekitar Purworejo. Sebelum akhirnya memacu di “lintasan balap” Yogyakarta dan berakhir di Solo. Hal yang biasa ane lalui kalo sekeluarga gak naik kereta Lodaya.

Hal yang ane sukai dari jalur selatan adalah pepohonan. Hijau, teduh, dan berasa pulang ke rumah. Pantesan orang Sunda mudah mager liat pemandangan alam di sekitarnya. Melihat pepohonan menjadi hiburan setelah bosan melihat hutan beton seharian. Kadang pohon berganti rumah, deretan kuburan berselang pohon kamboja, hamparan sawah seakan tak berujung, perbukitan lembut, dan melihat mobil lain di seberang dari ujung jurang.

Kemudian proyek lama itu pun berjalan. Proyek tol Trans Jawa sebenarnya ada sejak era Orde Baru. Baru terealisasikan di era sekarang karena masalah tanah. Orang-orang berbondong-bondong melalui jalanan lurus lengang yang seakan tak berujung. Dari ujung Merak sampai ujung Madura. Tidak kalah lebar dari jalan raya Pos-nya Daendels. Biar jalanannya setengah jadi pun tak masalah. Pikiran ane yang semula senang karena akan melalui jalur selatan lagi pun buyar.

Tiga tahun belakangan ini selalu lewat Pantura. Meskipun mulanya di setiap pulang ke Bandung mampir ke Kutoarjo, ujung-ujungnya Pantura dan tol lagi. Jalan tol memang bagus tapi gersang. Ane lebih senang memandangi pemandangan tol Padaleunyi, tol Palimanan-Kanci, dan tol Semarang yang hijau. Sejauh mata memandang bersekat pepohonan rimbun.

Ketika ane ngobrol di rumah Ua sama Teh Fitri, ane langsung kepikiran dengan Radiator Springs. Nama sebuah kota kecil dalam film Cars yang terlupakan seiring dengan pembangunan jalan tol. Saat itu acara silaturahim keluarga berubah menjadi perbincangan politik bagi bapak-bapak dan mobil bagi perempuan. Pertamanya ngomongin Tomica malah ujung-ujungnya jadi ngomongin jalan raya.

tomica-avanza-veloz-silver
sumber: eBay

kocak juga taruh ini di dalem Avanza

Waktu itu Teh Fitri bilang kalo Indonesia itu belakangan ini lebih mengutamakan pembangunan jalan tol daripada jalan raya biasa. Pas zaman pak Harto dulu, pembangunan jalan tol dan jalan raya itu sama seimbangnya. Ane tahu itu dari salah satu supir angkot Margahayu. Di Bandung sendiri, jalur by pass dengan tol Padaleunyi itu waktu pembangunannya pun berdekatan. By pass rampung di era 80-an sementara tol Padaleunyi rampung tahun 93.

Padahal bangun jalan nasional, provinsi, dan jalan desa itu jauh lebih penting bagi perekonomian setempat. Bayangkan saja setiap hari harus angkut telur dari peternakan di desa sambil melalui jalan jelek. Pasti telurnya tidak akan utuh 100% ketika sampai di pasar. Ane selalu kagum tiap balik ke tempat si mbah. Jalan desa masih bagus meskipun ada pembangunan jalan tol dekat desa. Begitupun dengan Yogyakarta. Jalan desa ato jalan kota pun sama mulusnya.

Jalan tol hanya menguntungkan orang kaya, itu kata Teh Fitri. Tarifnya pun tidak sedikit untuk bepergian dari Bandung sampe ke Solo. Ane ingat si Babeh kudu sediain uang e-Toll 600k buat ke Solo bolak-balik. Untungnya si Babeh gak lewat Padaleunyi terus bablas sampe Solo. Babeh masuk lewat Kertajati yang langsung tembus Cipali. Alasannya muter balik di samping tarif yang kudu dibayar pun tambah mahal. Itu belum termasuk uang bensin sama istirahat di rest area. Sementara dulu duit 600k itu sudah cukup buat istirahat di restoran sama beli oleh-oleh.

Jika semua orang terus lewat jalan tol, mereka mungkin akan lupa akan indahnya pemandangan alam sekitar di sepanjang perjalanan. Itu yang Sally katakan pada Lightning McQueen dalam film Cars. Setiap jalur punya keindahan tersendiri. Jalur Pantura memiliki hamparan pohon bakau berselang rawa tepi pantai di Tegal. Jalur selatan memiliki Garut Selatan dan Cilacap yang memiliki jalur ekstrim dengan pemandangannya menawan. Pantai di sana masih perawan. Cocok untuk selfie atau sekedar membidik kamera mengabadikan pemandangan.

Imbas pembangunan jalan tol paling terasa di mata para penjual oleh-oleh tepi jalan. Mereka adalah penduduk sekitar yang menjajakan produk khas daerahnya. Mata pencaharian mereka berada di jalanan. Menanti pengunjung yang sekedar singgah mencari buah tangan. Berkurangnya kendaraan yang lalu lalang perlahan melumpuhkan bisnis mereka. Lambat laun kawasan itu mungkin bisa sesenyap Radiator Springs tanpa ada penanganan yang tepat. Mungkin di masa depan kita lupa di Rajapolah ada sentra kerajinan tangan, Jatiwangi dengan genteng dan keramik, Cipacing dengan senapan angin, lanting bumbu beraneka rasa dari Kebumen, getuk goreng dan soto sokaraja dari Banyumas, semangkuk kecil sauto Tegal, enaknya sirup Tjampolay asli Cirebon, Jeniper khas Kuningan, kerajinan perak asli Kotagede, dan masih banyak cinderamata khas daerah lainnya.

Mudik adalah perjalanan kembali ke kampung halaman. Pemandangan sepanjang jalan adalah pengalaman yang berharga. Jangan sampai kenangan itu hilang oleh waktu akibat ego semata.