Jalan, Fenomena Mudik, dan Cars

Lagi enak-enak nonton konser Via Vallen eh malah gangguan. Ya sudahlah ane setel TV kabel. Ane bingung mo nonton apa. Soalnya di luar jadwal tayangan yang biasa ane tonton. Biasanya ane setel TV kabel buat nonton film Indonesia jadul, acara masak, film, sama anime. Harusnya sih tulisan ini udah kelar. Cuman ya terhenti gara-gara asyik nonton Cars 3.

Tulisan ini gak kepikiran pas lagi nonton Cars 3 di Fox Movies. Ide bikin tulisan ini kepikiran pas ane lagi ngobrol sama Teh Fitri, sodara ane, pas lagi ngumpul di rumah Ua Oso.

Ane pernah baca tulisan lawas. Ane lupa sumbernya koran, majalah, ato internet. Tulisannya berkata Indonesia bikin jalan tol duluan tapi ironisnya jalan tol di Malaysia jauh lebih banyak daripada di Indonesia. Masalahnya di Indonesia cuman satu kok: pembebasan lahan yang bikin pemerintah geleng-geleng.

Bersyukurlah buat generasi 90-an yang lahir di Jakarta, Bandung, “Bandung Coret” (orang Bandung pasti ngerti maksudnya apa), Cimahi, Purwakarta, Bogor, Semarang, Cirebon, dan Surabaya. Kita sudah kenal jalan tol jauh sebelum kita lahir. Semua kota itu adalah kota-kota yang menjadi jalur perlintasan tol-tol lawas. Salah satunya tol Padaleunyi.

Seperti singkatannya tol ini memang menghubungkan jalur dari ujung Cileunyi sampai ujung Padalarang. Sebenarnya sih gak Padalarang banget melainkan perbatasan Padalarang sama Cimareme. Toh setiap ke rumah Ua Oso di Cijerah pun sering lewat sana. Ane inget waktu TK dulu pernah nanya ke Babeh.

“Beh, kok lewat jalan tol? Kenapa gak lewat patung ikan?” rengek ane di dalam mobil.

Dulu waktu ane kecil, ane inget sering nangis gara-gara gak lewat Patung Ikan. Nama salah satu patung di Bandung yang sampai sekarang ane gak tahu sejarahnya. Ane baca artikel di situs Serba Bandung tadi. Patung itu sudah ada sejak tahun 1993. Jadi udah ada sebelum ane lahir (baca: ane kelahiran ’94 kok). Patung itu diresmikan oleh walikota Bandung saat itu, Ateng Wahyudi. Berdasarkan cerita orang-orang, patung itu menandakan bahwa di masa lalu daerah sekitar Tegalega memang banyak ditemukan ikan mas.

Sayangnya patung itu sekarang udah gak “mancur” lagi kayak dulu. Ane ingat waktu kecil dulu. Cuman liat air mancur dari mulut si ikan dari balik jendela mobil pun udah bikin ane jingkrak-jingkrak kegirangan. Ane sering minta dikuncir setinggi pancuran air dari si mulut tiga ikan sekawan itu.

patung-ikan-moh-ramdhan
sumber: Serba Bandung

lokasinya di persimpangan jalan Moh. Ramdhan, deket Tegalega

Jalan tol memang cepat. Bisa menghubungkan dari rumah di Margahayu Rawa sampai ke Cijerah. Tidak perlu mengeluh dengan kemacetan by pass, lamanya stopan di jalur lingkar selatan (baca: dari jalan Peta, lewat simpang Jamika, sampe ujung persimpangan tol Pasir Koja), dan tentunya “bau tai kuda” Pola Cijerah. Hal yang selalu Babeh keluhkan tiap kali mau ke rumah Ua Oso.

Ane punya kebiasaan aneh sejak kecil. Gak cuman lebih senang foto objek daripada difoto. Ane sering duduk di jok paling belakang mobil. Alasan bodohnya sih biar enak tidur. Ane juga sering mengamati apapun objek di depan mata dari balik jendela mobil. Mulai dari Patung Ikan, reklame di pinggir jalan, baterai ABC besar di pinggir jalan provinsi Jawa Tengah, patung polisi bercat pudar, sampai pemandangan alam hijau menghampar di sepanjang jalanan. Justru ane lebih mengingat jalan dari suatu tempat hanya dengan memperhatikan pemandangan di sekitarnya daripada menghafal urutan nama jalan.

Sewaktu ane kecil, ane selalu bertanya-tanya.

Kenapa si Babeh tiap kali mudik pake mobil gak pernah lewat Pantura?

Kenapa berita mudik di televisi sering sorotnya Pantura mulu?

Ane baru sadar alasannya sewaktu ane masuk sekolah. Rumah si mbah ada di Solo. Jalur terdekat dari Bandung ya lewat jalur selatan. Mengikuti tanjakan Nagreg, berkelok-kelok melintasi Malangbong, melihat gentong-gentong besar di kawasan Gentong (sampe sekarang ane gak ngerti kok namanya Gentong, apa gara-gara banyak produksi gentong di sana?), naik turun bak rollercoaster di kawasan Ciamis, dan sampailah di hamparan patung tunas Pramuka berjajar di sekitar Purworejo. Sebelum akhirnya memacu di “lintasan balap” Yogyakarta dan berakhir di Solo. Hal yang biasa ane lalui kalo sekeluarga gak naik kereta Lodaya.

Hal yang ane sukai dari jalur selatan adalah pepohonan. Hijau, teduh, dan berasa pulang ke rumah. Pantesan orang Sunda mudah mager liat pemandangan alam di sekitarnya. Melihat pepohonan menjadi hiburan setelah bosan melihat hutan beton seharian. Kadang pohon berganti rumah, deretan kuburan berselang pohon kamboja, hamparan sawah seakan tak berujung, perbukitan lembut, dan melihat mobil lain di seberang dari ujung jurang.

Kemudian proyek lama itu pun berjalan. Proyek tol Trans Jawa sebenarnya ada sejak era Orde Baru. Baru terealisasikan di era sekarang karena masalah tanah. Orang-orang berbondong-bondong melalui jalanan lurus lengang yang seakan tak berujung. Dari ujung Merak sampai ujung Madura. Tidak kalah lebar dari jalan raya Pos-nya Daendels. Biar jalanannya setengah jadi pun tak masalah. Pikiran ane yang semula senang karena akan melalui jalur selatan lagi pun buyar.

Tiga tahun belakangan ini selalu lewat Pantura. Meskipun mulanya di setiap pulang ke Bandung mampir ke Kutoarjo, ujung-ujungnya Pantura dan tol lagi. Jalan tol memang bagus tapi gersang. Ane lebih senang memandangi pemandangan tol Padaleunyi, tol Palimanan-Kanci, dan tol Semarang yang hijau. Sejauh mata memandang bersekat pepohonan rimbun.

Ketika ane ngobrol di rumah Ua sama Teh Fitri, ane langsung kepikiran dengan Radiator Springs. Nama sebuah kota kecil dalam film Cars yang terlupakan seiring dengan pembangunan jalan tol. Saat itu acara silaturahim keluarga berubah menjadi perbincangan politik bagi bapak-bapak dan mobil bagi perempuan. Pertamanya ngomongin Tomica malah ujung-ujungnya jadi ngomongin jalan raya.

tomica-avanza-veloz-silver
sumber: eBay

kocak juga taruh ini di dalem Avanza

Waktu itu Teh Fitri bilang kalo Indonesia itu belakangan ini lebih mengutamakan pembangunan jalan tol daripada jalan raya biasa. Pas zaman pak Harto dulu, pembangunan jalan tol dan jalan raya itu sama seimbangnya. Ane tahu itu dari salah satu supir angkot Margahayu. Di Bandung sendiri, jalur by pass dengan tol Padaleunyi itu waktu pembangunannya pun berdekatan. By pass rampung di era 80-an sementara tol Padaleunyi rampung tahun 93.

Padahal bangun jalan nasional, provinsi, dan jalan desa itu jauh lebih penting bagi perekonomian setempat. Bayangkan saja setiap hari harus angkut telur dari peternakan di desa sambil melalui jalan jelek. Pasti telurnya tidak akan utuh 100% ketika sampai di pasar. Ane selalu kagum tiap balik ke tempat si mbah. Jalan desa masih bagus meskipun ada pembangunan jalan tol dekat desa. Begitupun dengan Yogyakarta. Jalan desa ato jalan kota pun sama mulusnya.

Jalan tol hanya menguntungkan orang kaya, itu kata Teh Fitri. Tarifnya pun tidak sedikit untuk bepergian dari Bandung sampe ke Solo. Ane ingat si Babeh kudu sediain uang e-Toll 600k buat ke Solo bolak-balik. Untungnya si Babeh gak lewat Padaleunyi terus bablas sampe Solo. Babeh masuk lewat Kertajati yang langsung tembus Cipali. Alasannya muter balik di samping tarif yang kudu dibayar pun tambah mahal. Itu belum termasuk uang bensin sama istirahat di rest area. Sementara dulu duit 600k itu sudah cukup buat istirahat di restoran sama beli oleh-oleh.

Jika semua orang terus lewat jalan tol, mereka mungkin akan lupa akan indahnya pemandangan alam sekitar di sepanjang perjalanan. Itu yang Sally katakan pada Lightning McQueen dalam film Cars. Setiap jalur punya keindahan tersendiri. Jalur Pantura memiliki hamparan pohon bakau berselang rawa tepi pantai di Tegal. Jalur selatan memiliki Garut Selatan dan Cilacap yang memiliki jalur ekstrim dengan pemandangannya menawan. Pantai di sana masih perawan. Cocok untuk selfie atau sekedar membidik kamera mengabadikan pemandangan.

Imbas pembangunan jalan tol paling terasa di mata para penjual oleh-oleh tepi jalan. Mereka adalah penduduk sekitar yang menjajakan produk khas daerahnya. Mata pencaharian mereka berada di jalanan. Menanti pengunjung yang sekedar singgah mencari buah tangan. Berkurangnya kendaraan yang lalu lalang perlahan melumpuhkan bisnis mereka. Lambat laun kawasan itu mungkin bisa sesenyap Radiator Springs tanpa ada penanganan yang tepat. Mungkin di masa depan kita lupa di Rajapolah ada sentra kerajinan tangan, Jatiwangi dengan genteng dan keramik, Cipacing dengan senapan angin, lanting bumbu beraneka rasa dari Kebumen, getuk goreng dan soto sokaraja dari Banyumas, semangkuk kecil sauto Tegal, enaknya sirup Tjampolay asli Cirebon, Jeniper khas Kuningan, kerajinan perak asli Kotagede, dan masih banyak cinderamata khas daerah lainnya.

Mudik adalah perjalanan kembali ke kampung halaman. Pemandangan sepanjang jalan adalah pengalaman yang berharga. Jangan sampai kenangan itu hilang oleh waktu akibat ego semata.

Iklan

Bagaimana Cara untuk Menulis yang Jleb? Ane Sendiri pun Bingung

Apa judulnya itu click bait? Gak kok. Itu pengalaman pribadi.

Bicara soal tulisan tentang data detox, ane masih melakukannya. Ini adalah kali keempat ane bersihkan akun Facebook ane. Di sela-sela ane bersihin “aib” zaman 4l4y chuunibyou jahiliyah, ane dapet pesan dari Ricky. Dia salah satu temen satu guild ane yang nyaris gak ada kabar entah itu di grup anak-anak guild ato secara personal. Ane cuman ngobrol bentar lalu habis itu log out lagi. Akun Facebook itu adalah akun dengan paling banyak “aib” dibandingkan dengan jurnal ini.

Untungnya dulu gak sering nulis gara-gara koneksi internet terbatas. Ane ingat waktu pertama kali bikin jurnal ini sepuluh tahun yang lalu. Ane kudu ngantri menunggu jatah penggunaan internet gratis di Perpustakaan Daerah, satu-satunya tempat di masa itu dengan koneksi internet jauh lebih baik. Kadang ane kebagian kadang pula malah berakhir di ruang baca majalah untuk baca majalah tentang komputer.

Sementara kasus akun Facebook ya koneksi internet di Indonesia jauh lebih baik. Apalagi dengan trik niatnya Atfan dan Ali, temen ane di ekskul jurusan, ngakalin koneksi internet di SMK pake Cheat Engine (sekilas itu lelucon tapi bener-bener ngaruh). Banyak aib di sana mulai dari curhat gak jelas sampe sensasi ketahuan sama guru *tengsin ah, mending ngacir!*.

Ane baca satu persatu status ato komentar di akun ane. Ada status yang amit-amit jabang bayi, konyol, tapi ada status yang bener-bener bikin ane “kok bisa nulis kek gini sih?”. Salah satunya ane jadiin screenshot buat kenang-kenangan.

status-aneh-bin-ajaib
sumber: arsip pribadi

Ane inget status itu dibuat pas masih kuliah. Waktu itu dosen yang ane maksud di status ini (baca: Pak ST, dosen tsundere penyuka kucing) lagi marah-marah di kelas. Ane ingat beliau marah gara-gara satu kelas gak baca materi sebelum kuliah dimulai. Perkataan beliau ane abadikan jadi status. Pas ane baca status ini bertahun-tahun kemudian, ane mulai sadar soal perkataan ato tulisan ane yang kadang jleb di saat yang tidak tepat.

Ane jadi inget waktu PKL SMK dulu. Hanif, partner-in-crime ane di kantor, tampak kesel nungguin update game yang gak kelar-kelar di sela-sela ngerjain tugas kantor. Pas dia ngajak ngobrol, ane jawab gini.

“Buat apa game ada patch-nya jika sejak awal pun sudah sempurna?”

Mungkin jika kondisinya ane dan Hanif ketemu lagi di tempat PKL sewaktu kuliah perkataan ane bisa berbeda.

“Buat apa ada fase maintenance dalam perancangan sistem jika sejak awal program pun sudah deliverable?”

Ane sadar ketika melihat status lawas itu. Kata-kata bukanlah untaian huruf-huruf yang menjadi hiasan di atas kertas. Layaknya kaligrafi indah untuk kita pajang di dinding. Kata-kata adalah wujud ungkapan perasaan kita dalam bentuk aksara. Penulis sekelas Ernest Hemingway pun bisa memikat jutaan pembacanya dengan tulisan sederhana. Kesederhanaan itu kadang bisa mengantar kita menulis sesuatu yang jleb di samping pemahaman kita akan suatu konteks.

Ane gak bisa cerita panjang lebar lebih dari ini. Ane tahu. Ane tidak bisa menemukan cara untuk mengatakan pada orang-orang, “Gini lho cara bikin tulisan yang jleb.” Karena ane sendiri pun tak tahu bagaimana cara untuk menulisnya. Semudah itu.

 

 

Lagu Korea Lawas Dari Mana Aja

Awal mula ane tahu soal KPop itu dari … nonton drakor. Beda dari anak-anak seangkatan ane aka generasi 90-an mayoritas tau dari game Audition. Makanya ane bisa ngegosipin Rain sama si Ghia waktu SD juga. Malah review cerita si Sam Soon yang bikin ane diledekin Kim Sam Soon di kelas waktu SMK. Itu semua gara-gara si Noey, rekan ane di fansub dulu yang juga penyuka drakor di SMK. Dia itu cowok lho. Hobinya aja nonton anime ecchi sama drakor.

Tapi sekarang gak terlalu ngikutin soal KPop apalagi drakor. Kalo KPop alasannya kayak mas Hansol di vlog-nya, makin ke sini makin kebarat-baratan dan kehilangan identitasnya. Ane pernah baca salah satu thread lawas di Kaskus yang diambil dari wawancara orang Korea langsung, orang Korea juga gak terlalu suka.

Kalo drakor sih kasusnya sama kayak milih anime, ane bingung mo nonton yang mana. Drakor dulu soal cerita sama temanya lebih bervariasi (termasuk wajah IYKWIM). Sekarang terlalu banyak romance yang lebih bikin anak-anak cewek melayang. Jujur ane gak terlalu demen genre romance. Ditambah lagi drakor itu banyak adegan … kisseu jadi ane harus nyari-nyari waktu biar keponakan ane gak asal nyelonong ikut nonton.

Berhubung ini ngomongin soal yang lawas-lawas, ternyata drakor era 2010-an pun disebut lawas, jadi ane cuman bahas lawas-lawas aja.

No Brain – Your Crush on Me

Bicarain soal KPop, identik sama boyband sama girlband. Tapi … hal yang pertama ane bahas itu band metal. Yup, No Brain itu nama salah satu band metal sepuh di Korea sana. Ane pernah baca di internet, band metal sama rock di sana lebih banyak bergerak di jalur indie daripada mayor. Tahu lagu ini dari mode gitar Audition tapi belakangan ini ane baru nyadar kalo ini OST Coffee Prince. Itu lho drakor lawas yang pernah dibintangi sama Gong Yoo juga. Mungkin dulu pas masih tayang di Indosiar gak terlalu suka nonton makanya gak perhatiin.

Oh stand by me, stand by me, bala-bala~ *sambil headbanger gak jelas di kamar*

Urban Zakapa – Just the Two of Us

Nemu dari … random *gubrak*. Ane pernah denger dari acara kayak MTV Unplugged gitu cuman ane gak tau judulnya. Ini salah satu grup co-ed yang underrated dan lebih sering muncul buat isi OST drakor. Monggo disimak :3

Buat yang demen cari KPop rasa berbeda, ane rekomendasiin ini deh. Berhubung ane bagikan langsung dari akun YouTube Urban Zakapa, jangan lupa like dan subscribe.

As One – Do I Have to Feel Sorry

Buat yang demen sama drakor lawas, pasti pernah denger petikan gitar bersuara lembut ini. Yup, ini adalah salah satu OST dari drakor lawas Sassy Girl Chun Hyang. Drakor yang masih bikin sakit perut liatin ulah Chun Hyang dan Mong Ryong.

As One sendiri memang unik sesuai dengan namanya. Personelnya cuman dua orang tapi suaranya berasa satu orang. Baru bisa ketahuan jelas bedanya kalo pake headset. Ini salah satu generasi KPop lawas yang tidak memandang muka sebagai faktor utama tapi kualitas vokal yang bicara.

Omong-omong, judul pake bahasa Inggrisnya apa sih? Lupa. Kalo judul aslinya ada kata “mianhae” yang artinya “maaf”.

SG Wannabe – Sunflower

Ane inget dulu pas main Audition. Orang-orang terdekat ane yang sering satu room bareng pasti tahu kebiasaan ane. Kalo gak minta request lagu Voyage-nya Ayumi Hamasaki ya lagu ini. Ini salah satu lagu favorit ane di Audition yang nemunya gak sengaja dari acara TV.

Ane sering bingung sama nama dari grup Korea yang sering aneh-aneh. Pas ane baca infonya di IDWS, nama itu diambil dari salah satu duo legendaris Amerika, Simon & Garfunkel. Kalo gak salah sih mereka itu fans beratnya gitu lupa. Selain As One, sebenarnya masih banyak grup asal Korea yang secara tampang biasa aja tapi punya vokal berkarakter. Bahkan salah satu anggota SG Wannabe itu ada yang mukanya … beda tipis sama Kwang Soo tapi dia punya power yang paling kuat di antara semuanya. Ane tahu itu pas nonton versi live-nya di TV. Dulu pernah ada di Indosiar tiap akhir pekan sore-sore.

Buat penyuka genre ballad dan sebangsanya, bisa coba lagu yang satu ini. Tulisannya “haebaragi” dan itu artinya “bunga matahari” kok.

Kim Tae Woo – The Wings

Bicara soal Audition, ini juga masuk daftar lagu yang paling sering ane denger tiap main. Ane justru baru sadar lagu ini bukan dari Audition. Kakak ane itu fans beratnya oppa Lee Min Ho. Jadi apapun drakor yang ada Lee Min Ho pasti ditonton. Salah satunya Personal Taste yang pernah tayang di Trans7. Biar kata drakornya tayang di waktu yang gak tepat pada masa itu (kalo gak salah pagi-pagi), Trans7 tetep puter sampe tamat. Bahkan kakak ane pun masih suka puter ulang drakor itu.

Sebenarnya di Audition banyak banget OST dari drakor Personal Taste. Cuman di antara semuanya, ini salah satu favorit ane buat main.

Clazziquai – Be My Love

Si Noey apa kabarnya ya? Cuman Yogz ama Okta yang masih ada kabarnya. Dia salah satu cowok di kelas ane waktu SMK yang masih nyambung diajakin ngobrol soal drakor. Kampretnya lagi ane malah dibilang si Sam Soon sama bocah maniak ecchi yang satu ini.

Bicarain soal si Sam Soon, di Korea sendiri disebutnya Bridget Jones Diary versi Korea. Tokoh utamanya sama-sama orang gendut yang susah cari jodoh tapi fokus ceritanya beda. Intinya cerita si Sam Soon itu tentang buang sial. Sam Soon pengen ganti nama terus gara-gara dia susah dapet jodoh (di samping postur badannya yang plus size juga). Ane tahu drakor ini dari Ghia pas zaman SD. Lucunya baru tayang di Indosiar pas ane SMK. Jadilah ane dikatain Sam Soon sama si Noey juga.

Ane baru tahu judul lagu ini dari Audition. Itu pun pas ane lagi main mode random buat latian. Buat yang pengen coba suasana baru dengan nonton drakor lawas, My Lovely Kim Sam Soon boleh diperhitungkan buat ditonton. Lagunya juga konyol kayak drakornya.

Lee Hyun – My Heartache

Gara-gara Audition, selera ane soal KPop rada aneh dari kebanyakan pemain. Ane lebih demen grup yang bukan boyband ato girlband. Salah satunya 8Eight, salah satu grup co-ed yang kalo gak salah udah bubar. Suara Lee Hyun itu emang kuat jadi ane bisa bedain dari sekali denger.

Lagu ini sebenarnya OST dari si A Gentleman’s Dignity. Drakor komedi romantis ala bapak-bapak (dan pemainnya pun sudah berumur pula) yang masih bikin ane sakit perut. Kelakuan konyol dari empat sekawan di usia 40 tahunan itu yang jadi daya tarik dari drakor ini. Udah tua masih aja doyan nongkrong di warnet main LoL, godain janda orang di hari kematian suaminya, gangguin orang, sampe foto pas hajatan pun gak pake sepatu.

Di antara semua OST dari drakor ini, ane paling demen yang ini.

Lee Hyun – 30 Minutes Ago (feat Lim Jung Hee)

Buat para pemain Audition veteran, lagu ini adalah lagu sakit tangan. Tangan keburu kejang-kejang liatin lagu ini 186 BPM. Tapi sih buat lagu cepet rasanya gak cocok. Soalnya ini lagu ballad.

Kalo gak salah lagu ini masih nyambung sama lagu lain. Jadi kayak cerita gitu pas liat MV-nya. Ane lupa urutannya. Salah satu lagu dalam urutannya itu Like Being Shot by a Bullet-nya Baek Ji Young.

Saran buat pemain Audition yang masih aktif … mending jadi BGM aja deh daripada sakit tangan :d

Vibe – That Man That Woman

Ini versi aslinya. Bukan versi remix yang biasa dipake pemain Audition buat sparring lomba PF.

Bicara soal Audition, ane inget dulu sering pake lagu ini buat selesain story yang butuh skor gede ato PF. Barengan dengan lagu Umbrella, Partner For Life, Garden of Love, dan Be My Lover. Semuanya itu lagu dengan durasi di atas 5 menit semua jadi kalo target skor ato PF gak nyampe masih bisa kekejar.

Lebih enak mana, versi remix di Audition ato versi aslinya?

Epik High – Fly

Harusnya sih ini masuknya ke tulisan ane yang lain cuman malah gak ketulis. Jadilah ane tambahin ke sini.

Kalo sebelumnya ane nemu lagu dari drakor ato Audition, ane nemu lagu ini dari osu. Jadi ane main dari osu dulu terus nemu ini di Audition. Ini adalah salah satu lagu pertama ane yang bisa ane mainin lancar di level insane. Ada lagu lain yang bisa loncat insane tanpa bantuan belajar lewat mode no fail.

Di tulisan tentang osu ane pernah bahas soal Aoyama Thelma – Happiness. Itu lagu insane yang paling gampang dipelajarin sama pemula dalam waktu singkat. Lagu kedua itu lagu ini. Patokannya itu di beat dari lagu ini yang khas jadi gak begitu susah pas loncat ke insane. Lagu ketiga itu lagunya Yousei Teikoku yang ada kata “underwater” gitu. Asal tahu beat-nya gak terlalu susah. Lagu keempat Nekomata Master – Silence. Itu sih bukan gampang malah “kepaksa loncat”. Soalnya diff-nya loncat dari easyhardanother (kalo gak salah another itu di atas insane)-sama satu lagi lupa. Sama satu lagi lagu Sasaki Sayaka – Zzz.

Awalnya ngomongin lagu Korea malah ujung-ujungnya bahas osu ya? Toh emang ane sering mainin lagu ini di osu. Saking seringnya mainin lagu ini di osu, eh beat pas main Audition malah ngikut beat di osu. Ane juga baru tahu kalo lagu ini OST FIFA 07 dari komentar di akun resminya.

Baek Ji Young – After A Long Time

Buat gak tahu penyanyi yang satu ini, di Korea sono dipanggil “Queen of Drama” saking seringnya isi OST drakor. Ciri khas dari lagunya itu genre ballad dengan power yang kuat.

Lagu ini merupakan salah satu OST dari Rooftop Prince, cerita soal pangeran ndeso di masa depan bersama para ajudannya. Sayangnya ane rada susah cari video pas lagi tampil di konser ato acara televisi jadi ane cuman masukin karaoke. Siapa tau ada yang pengen nostalgia sambil karaokean?

Kalo ditanya OST drakor favorit di antara semuanya, ane jawab yang ini. Mo versi Baek Ji Young ato versi Jo Eun pun sama-sama jleb tanpa harus terlalu galau.

Itu dia daftar lagu Korea lawas versi ane. Jadi apa versi teman-teman? Ane tunggu komentarnya ya 😀

Dangdut Buat Semua

Ane udah janji di tulisan sebelumnya mo bahas soal dangdutan, siap-siap tarik mang!

Dangdut itu genre lagu asli Indonesia yang berakar dari musik Melayu, India, Arab, dan musik tradisional. Kurang lengkap rasanya lagu dangdut tanpa iringan gendang yang bisa bikin gual géol gutak gitek. Mulanya musik ini dikenal di kawasan pedesaan terutama kawasan Pantura.

Dangdut identik dengan musik kampungan karena di masa itu dangdut menyebar melalui orkes keliling kampung. Di masa itu pula penyanyi dangdut identik dengan konotasi negatif. Ane tahu dari nonton biografinya Elvy Sukaesih di salah satu televisi swasta. Berkat kerja keras dari para pedangdut senior seperti Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, Fazal Dath, dan A. Rafiq, dangdut mulai digemari semua kalangan.

Kepopuleran musik dangdut semakin meningkat di era 80-an dan 90-an terlebih ketika presiden Soeharto melarang peredaran “lagu-lagu cengeng” diputar di saluran publik seperti radio. Tapi era keemasan dangdut mulai pudar seiring dengan munculnya Inul Daratista, lagu-lagu dangdut berlirik nakal, aksi panggung dengan pakaian minim bahan, dan menjiplak lagu populer. Saat itu juga reputasi dangdut yang mulai digemari semua kalangan mulai bergeser. Makanya dangdut gak populer di kalangan anak muda.

Berhubung dulu si Babeh doyan dangdut, ane jadi ketularan juga. Gak kayak orang-orang yang sembunyi-sembunyi di ruang karaoke buat dangdutan dan mengaku “alergi dangdut” di luar sono. Nah, di tulisan ini ane bakal ngasih lagu yang sering diputer di masa kecil ane ato yang berkesan. Bukan lagu dangdut sekarang yang cuman hal-hal viral ato lirik nakal.

Untungnya lagu dangdut itu lisensinya sama kayak anisong (baca: dari fans untuk konsumsi fans) jadi videonya dari YouTube masih aman kok.

Rhoma Irama – Judi

Dulu waktu SD ane emang tengil. Ane seneng jailin orang terutama si Dono dan Didi. Ane pernah bahas si Dono di tulisan mengenai lagu Indonesia, sekarang giliran si Didi.

Didi alias Muhammad Zuhdi Rabbani itu salah satu temen sekelas ane sewaktu SD. Orangnya tengil banget dan hobi main bareng ama si Dono. Gak cuman karena dia itu tetangganya, Didi ama Dono 11-12 lah dalam urusan tengilnya. Ane inget sewaktu SD dia sering dipanggil si Dono kayak gini. Biasanya pada ngomong gitu pas absen.

Zuhdi. Zuhdi! Pret! *sambil plesetin lagu Judi*

Berbeda dengan si Dono yang ngamuk pas ane plesetin namanya pake lagu, si Didi orangnya cuek-cuek aja.

Sekarang si Didi gimana kabarnya ya? Temen SD yang ada kabarnya cuman Dono, Amir, ama Ghia.

Manis Manja – Bete

Lagu ini mendadak naik daun lagi gara-gara Despacito. Ane juga ngakak pas nonton video mash up lagu ini sama Despacito. Inget lagu Bete jadi inget masa-masa 4l4y jadi pemain Audition.

Manis Manja adalah salah satu dedengkotnya girlband Indonesia. Seangkatan dengan Bening, RSD (salah satu anggotanya penulis terkenal Dee Lestari), dan AB Three. Cuman nama mereka kurang diperhitungkan gara-gara berasal dari genre dangdut. Seperti halnya penyanyi berhijab pertama di televisi bukanlah neng Fatin melainkan Gita KDI.

Entah kenapa tiap kali denger lagu Despacito, ujung-ujungnya diplesetin jadi lagu ini. Despacito … aku bete sama kamu!

Meggy Z – Senyum Membawa Luka

Bagi anak-anak seangkatan ane di masa SD, lagu Meggy Z paling sering diplesetin buat jadi bahan lelucon. Mulai dari lagu Benang Biru sampe lagu ini. Biasanya dulu pas di SD biang keroknya lagi-lagi si Judi Zuhdi aka Didi.

Ane jadi inget salah satu lelucon SD ane dulu. Ada tukang sayur keliling ditawar sama ibu-ibu. Si ibu-ibunya gak terima dengan harga tukang sayur. Ane inget ujung-ujungnya si tukang sayurnya kesel terus nyeletuk gini.

Sungguh teganya dirimu … togenya togenya togenya togenya~!

Ada lagi lelucon dari lagu ini waktu SD. Lagi-lagi leluconnya si Didi. Ada dua versi yaitu versi bencong sama versi malaikat. Cuman kalo nulis versi malaikat bakal digrebek FPI, ane cuman nulis versi bencong.

Ada bencong lagi ngikut audisi pencarian bakat. Nah, pas audisi si bencongnya mabok.

Juri: Niat gak sih buat ikut audisi?

Bencong: Anggur merah telah memabukkan diriku.

Si juri kesel terus keluar dari meja juri. Anggaplah si jurinya segalak chef Juna terus nampar si bencong.

Bencong: Belum seberapa.

Si juri udah kepalang kesel terus akhirnya nonjok bencongnya.

Bencong: Dahsyatnya!

Caca Handika – Angka Satu

Penyanyi dangdut zaman dahulu tanpa harus pake pakaian seksi ato sensasi pun pasti punya ciri khas. Misalnya A. Rafiq yang identik dengan celana cutbray, Rhoma Irama dengan gitar kepala buntungnya (dan misteri cara nyetem gitarnya pun terungkap di YouTube!), Rama Aiphama dengan baju kaftan kebesarannya, dan Neneng Anjarwati dengan tampilan rocker-nya. Salah satu penyanyi dangdut yang punya ciri khas adalah Caca Handika dengan kumis dan … kedodolannya. Belakangan ini Caca Handika sering muncul sebagai bahan lawakan di acara lawak televisi.

Intinya lagu ini adalah lagu kebangsaan anak kos. Semua serba sendiri.

Pantesan Caca Handika belakangan ini sering dijadiin bahan lelucon. Wajahnya itu gak nahan.

Iceu Wonk – Pacar Lima Langkah

Pantesan udah lama gak liat Iceu Wonk di TV, ternyata sebelum meninggal emang sakit lama.

Lagu ini sempat terkenal sewaktu ane masih SMK. Ceritanya terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di kawasan Lingkar Selatan. Tempat si penulis lagunya tinggal. Jadi di sana penduduknya itu sangat unik. Satu gang saling menjalin asmara. Jadi mereka tidak perlu waktu untuk malam mingguan.

Tapi versi Vocaloidnya gak kalah kece juga kok. Miku bisa diajak kompromi buat dangdutan. Ane pernah nemu lagu ini versi Vocaloid di SoundCloud.

Alam – Mbah Dukun

Ane inget lelucon waktu SD dulu.

Sebelum Tuhan menciptakan alam, Tuhan menciptakan apa? Vetty Vera.

Sekilas leluconnya garing di zaman sekarang. Buat yang gak ngerti, Alam itu adiknya Vetty Vera. Keduanya sama-sama penyanyi dangdut terkenal di masanya.

Alam memang dikenal dengan lagu-lagu berlirik konyol dan nyentil. Kayak Jamrud versi dangdutnya lah. Salah satu lagu terkenal dari Alam adalah Mbah Dukun.

Sampe sekarang ane susah nangkep lirik jampi-jampi si mbah dukun. Baru tahunya dari video klip di YouTube dan buat yang ngerti bahasa Sunda artinya konyol.

Ashraff – Sarmila

Dulu ada sinetron yang judulnya pun diambil dari lagu dangdut. Bahkan cerita dari sinetron tersebut berasal dari lirik lagunya. Ane lupa judulnya tapi itu buatan Persari Film. Salah satu sinetron terbaik dari era keemasan sinetron Indonesia. Salah satunya sinetronnya menggunakan lagu ini.

Sayang aja gitu kualitas sinetron sekarang lebih parah daripada sinetron lawas. Buat para produser yang kebingungan cari ide buat sinetron, daripada jiplak serial luar mending ambil sumber yang ada di Indonesia. Salah satunya Persari Film yang bikin sinetron terinspirasi dari lagu dangdut.

Iis Dahlia – Seroja

Ini adalah salah satu lagu hits dari Iis Dahlia. Ane tahu lagu ini dari lama cuman baru demen gara-gara Laskar Pelangi. Ane inget waktu SMP si Mamih doyan bener nyanyi lagu ini di kelas. Pas nonton Laskar Pelangi lagi, ane cuman tepok jidat liatin Mahar nyanyi lagu ini dengan rasa video klip nyasar. Ditambah ekspresi muka datar dari para karakter di Laskar Pelangi yang justru bikin lagu ini nambah nyentrik.

Sebenarnya lagu ini banyak versinya. Ada versi Hamdan ATT, versi Laskar Pelangi, versi Panbers, dan masih banyak lagi. Cuman versi Iis Dahlia salah satu yang populer.

Kasino – Aduhai (feat Camelia Malik)

Ane baru nyadar ini lagu dari film Warkop beberapa waktu lalu. Banyak lagu Warkop yang populer buat jadi bahan lelucon kekinian ato lagu kompetisi. Lagu ini paling sering dipakai buat kompetisi dangdut di televisi. Uniknya lagi, pencipta lagu ini pun bukan asli berasal dari penyanyi dangdut seperti kebanyakan pencipta lagu dangdut lain.

Reynold Panggabean, pencipta lagu ini, sebenarnya mantan anggota The Mercy’s. Beliau dikenal sebagai salah satu pembaharu musik dangdut bersama mantan istrinya, Camelia Malik. Beliau bisa memadukan musik pop dan dangdut tanpa meninggalkan ciri khas dangdut. Fondasi itulah yang kini muncul dalam musik dangdut modern sampai sekarang.

Sebenarnya lagu ini muncul dalam salah satu adegan dari film Warkop Gengsi Dong (1980) yang juga dibintangi oleh Camelia Malik. Kasino memang banyak menyanyikan lagu dalam film Warkop. Entah itu lagu parodi dari lagu populer atau lagu khas seperti Andeca Andeci.

Nah, segitu deh pilihan lagu dangdut yang berkesan versi ane. Apa versi kalian? Ditunggu komentarnya ya.

Kenali Masalah Dirimu Sebelum Terlambat

Tujuan ane nulis ini cuman satu. Jangan sampe ada “ane” berikutnya di masa depan.

Kenapa ane belakangan ini suka nulis kayak gitu? Semua berawal dari depresi yang mulai ane alami sejak tahun 2016. Di masa ane begitu senang dan terlarut oleh tugas kantor hingga lupa segalanya. Saat itu dunia berasa gelap. Jauh lebih gelap dari liang kubur tanpa ada secercah cahaya sekalipun. Ane gak mau apapun. Cuman tidur seharian. Bicara pun gak mau apalagi makan. Bahkan melakukan hal yang ane sukai pun (baca: nonton) ane gak bergairah.

Mungkin kalo ente sohib deket ane ya bakalan bingung liat ane yang sekarang. Ane inget pas wisuda temen ane kemaren. Dia minta foto bareng ya ane kepaksa difoto meskipun sebenarnya ane gak mau. Toh emang mau difoto pun demi menyenangkan temen ane yang saat itu baru wisuda. Kemaren dia cerita. Adiknya yang kemaren foto. Dia bilang kalo ane itu difoto gak ada senyum sama sekali. Bayangin aja wajah ane di foto itu persis Laruku smile.

l-arc-smile
sumber: fanpage Laruku

gak beda jauh lah

Versi kekiniannya sih wajah ane mirip topeng Marshmello selagi senyum. Itu yang justru bikin adik temen ane frustasi sewaktu jepret foto. Kata orang-orang yang berada di lingkungan terdekat ane, makin ke sini ane makin susah senyum. Soalnya mereka kenal ane itu sebagai seorang yang ceria, periang, dan ramah. Kata mereka juga belakangan ini ane itu sensitif, tertutup, tsundere, dan sering pasang roman muka dingin. Itu efek samping dari trauma yang ane alami dari kecil.

Jujur aja tiap nulis kayak gini rasanya kayak ada bawang bombai udah lama diiris di bawah mata ane. Mengutarakan setiap kata di pikiran ane itu berasa perang batin. Ya memang. Ane memang “korban” di masa lalu.

Di sekolah ane selalu dipermainkan orang lain. Bahkan oleh orang yang mengaku “teman ane”.

Keluarga ane emang gak harmonis. Dari kecil ane sering banget liat orang tua ane berantem. Ngomong “kancing coplok” sampe gaplok pun udah jadi makanan sehari-hari sampe rasanya ingin panggil anjing tetangga biar gandéng sekalian.

Ane pernah kabur dari rumah sama sekolah.

Ane pernah seminggu gak masuk sekolah karena trauma.

Ane gak pernah nyaman dengan lingkungan sekolah karena desakan orang tua. Itu yang jadi alasan ane aktif dalam kegiatan organisasi sekolah ya sebenarnya gak betah di rumah. Mending capek ngurusin kegiatan daripada capek hati.

Ane juga dulu anak warnet juga gara-gara itu.

Orang tua di rumah berasa gak ada orang tua. Bicara 5 menit, bonusnya 50 menit. Emang sih mirip sama iklan provider di TV. Toh di rumah mulut berkuasa menginjak-injak telinga.

Semenjak ane mengidap depresi, ane sadar ada yang salah dari kehidupan ane. Semuanya saling berkaitan hingga memicu gagalnya ane secara akademik, bisnis, maupun personal. Sumbernya pun berasal dari diri ane. Ada yang salah dari diri ane. Ane bosan berada di lingkaran setan yang selalu menguras fisik, emosional, dan waktu ane. Ane pengen sembuh. Ane pengen menikmati hidup sebagai diri ane tanpa campur tangan orang lain. Ane ingin belajar lebih dewasa dan melihat dunia lebih luas. Sampai sekarang pemberontakan itu masih berlanjut dalam diri ane. Ane udah berulang kali minta buat terapi tapi gak pernah digubris. Ane tahu ane bermasalah dan secara mental pun sakit. Gimana bisa sembuh total kalo gak ditangani sama ahlinya langsung? Gimana ane bisa sukses dalam kehidupan personal jika masalah di dalamnya aja belum tuntas?

Kenapa ane nulis kayak gini? Indonesia itu negara besar. Sayangnya gak maju-maju gara-gara masalah internal dari warganya sendiri. Statistik menunjukkan penyakit mematikan yang mengancam nyawa para penduduknya. Orang-orang juga tahu kok kanker, diabetes, stroke, dan serangan jantung biang kerok dari semua ini. Tapi ada satu penyakit lain yang juga mematikan. Dia kayak sianida yang perlahan menghabisi Wayan Mirna Salihin. Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna. Namanya penyakit kejiwaan. Faktanya masalah kejiwaan lebih sulit untuk ditangani daripada kanker.

Kok bisa? Stigma masyarakat. Kanker masih bisa kita sembuhkan dengan cara operasi, kemoterapi, dan pengobatan alternatif. Gimana dengan penyakit kejiwaan? Adanya ntar ente disangka udah sedeng. Pas pertama kali ane berobat ke psikiater pun ane berantem dulu sama orang tua.

“Ngapain ke psikiater? Kayak orang gila aja.”

“Nanti kalo ke psikiater itu dikit-dikit minum obat penenang. Mau jadi kayak orang gila?”

“Gimana kalo ntar malah masuk RSJ?”

Begitulah perkataan orang tua ane pas anaknya ngeluh sakit. Lah katanya kalo sakit kudu bilang? Ini masalahnya sakitnya di dalem.

Padahal masalah kejiwaan itu kalo gak ditangani cepat-cepat itu mirip bom waktu. Efeknya gak cuman ke diri sendiri, tapi ke lingkungan sekitar. Pernah denger cerita “panitia ospek sengaja melakukan perpeloncoan pada maba karena balas dendam” ‘kan? Ato mungkin kasus kontroversial “seorang ibu yang bunuh diri dengan anak-anaknya”? (kasusnya terjadi di lingkungan sekitar rumah ane, makanya masih inget juga) Itu bahayanya masalah kejiwaan.

Di luar negeri sendiri ada kelompok dengan embel-embel “anonymous” untuk konseling sekaligus terapi. Mulai dari masalah toxic parents, bully, orang tua yang seenaknya, pelecehan seksual, kecanduan narkoba, alkohol, bokep, dan maho-pengen-insyaf pun ada. Sayangnya di Indonesia jarang ada yang kayak gitu. Minimal kayak pesantren di Tasikmalaya yang khusus menangani pecandu narkoba lah. Soalnya orang-orang masih mikir masalah kejiwaan identik dengan orang gila. Gejalanya pun gak selalu keliatan. Kayak kita mo bedain psikopat sama orang normal. Nyaris gak ada bedanya.

Seperti halnya penyakit mematikan lainnya, semakin cepat kita deteksi masalah di dalam diri kita lebih baik. Kita tahu punya trauma di masa lalu yang menghasilkan gejala PTSD. Misalnya kita pernah terjebak dalam situasi kebakaran yang membuat kita malah takut dengan ruang sempit dan api. Udah tahu punya masalah gitu ya segera ditangani. Hubungi konselor, psikolog, ato psikiater yang menurut kita nyaman buat bercerita masalah kita. Kalo masih mikir ujung-ujungnya ngasih obat penenang itu salah besar. Mereka gak bakal ngasih obat seenak jidat gitu aja. Kalo masalahnya berkaitan dengan susunan senyawa kimia dalam otak pake obat. Lain dengan masalah berkaitan dengan emosional ya pake terapi menggunakan pendekatan lain.

Masalah kejiwaan itu gak bisa satu sisi aja biar sembuh total. Contoh kasusnya adalah maho-pengen-insyaf. Ada komunitas mantan maho yang justru mengajak “rekan-rekan sesat” mereka agar insyaf. Ane pernah baca kisah perjuangan dia untuk sembuh di blog-nya. Tiga puluh tahun perjuangan dia agar bisa sembuh total memang berat. Dia bisa sembuh gak cuman dari terapi dan konseling. Ada pendekatan secara agama dan dukungan orang-orang terdekatnya. Dia bisa sembuh total berkat dukungan keluarga juga pendeta di gerejanya. Buat muslim bisa minta dukungan dari ustadz yang menurut kita nyaman.

Kita bisa sembuh selama kita mau cari tahu penyebab masalah kita lalu mau bicara. Masalah utama ane adalah trauma masa kecil, toxic parents, dan ketidakberdayaan diri sendiri di usia dewasa. Secara usia udah dewasa tapi segala sesuatu diatur orang tua kayak anak kecil. Bisnis yang ane jalani pun diatur mulu sama orang tua. Intinya kalo kita punya masalah berkaitan dengan kejiwaan, jujur sama diri sendiri. Semakin jujur diri kita ya peluang kita untuk sembuh semakin besar.

Selain itu kita harus hadapi penyebabnya. Masalah ane bermula dari lingkungan keluarga bobrok yang tidak pernah sekalipun mau mendengar. Dengarkan keluh kesah dari dalam diri kita tanpa membantah. Bagi orang semacam ane, itu membutuhkan keberanian ekstra. Gak cuman untuk mau menghadapi penyebabnya, tapi mau untuk tetap berbicara sesuai perasaan dari nurani terdalam. Terapi hanya cara agar kita mau menerima kenyataan dan menghadapi langsung penyebab dari masalah kita. Itu yang paling ane butuhin sekarang.

Apa boleh curhat? Boleh. Tapi curhat pada temen yang kita rasa bisa memberikan solusi tepat atas masalah kita. Itu salah satu hal yang bisa meringankan isi hati kita sekaligus mempercepat pemulihan. Sembuh dari trauma itu gak gampang. Bagi ane yang pernah berulang kali dipermainkan dan disakiti orang, mempercayai orang untuk meminta saran itu sangat sulit.

Penyakit kejiwaan memang masih dicap miring. Tapi lebih miring lagi kalo gak ditangani dengan tepat. Semakin cepat kita tahu, semakin baik bagi diri kita. Baik gak cuman untuk kesehatan mental juga. Kesehatan fisik pun bisa dipengaruhi oleh mental. Harusnya pepatah terkenal itu dibalik.

Dari balik mental yang sehat, menghasilkan tubuh yang kuat.

Ane sadar ternyata penyakit yang selama ini menggeragoti semenjak kuliah itu berawal dari tekanan mental dan kejiwaan.

Jadi ane hanya bisa berharap. Semoga makin banyak orang yang sadar dan mau peduli dengan kesehatan jiwa juga mental mereka. Siapa yang tidak kenal dirinya maka tidak bisa mengenal orang lain lebih baik lagi. Ya mungkin tulisan ane terlalu emosional dan subjektif. Kalo ada yang mau berbagi cerita boleh tinggalkan jejak berupa komentar di bawah.

Awas, Lingkungan Kita Beracun!

Tunggu. Maksudnya beracun di sini beracun yang emang bener ada racunnya ‘kan? Iya. Ane ngomongin soal lingkungan kita yang tercemar.

Apa ini clickbait? Gak. Ane emang mau bahas soal lingkungan beracun.

Perlu ane jelaskan sebelum curhat panjang lebar dikali tinggi mengenai masalah ini. Ane mau cerita soal racun dalam lingkungan kita. Racun yang kita kenal ada dua jenis.

Pertama, racun yang jelas secara fisik. Contohnya racun tikus, polusi, limbah B3, dan kopi Vietnam campur sianida ala chef Jessica.

sumber: Web Top News

maaf, saya sudah insyaf jadi tolong doakan saja yang terbaik 🙂

Kedua, racun yang tidak jelas secara fisik. Contohnya adalah emosi negatif, lingkungan pergaulan tidak sehat, dan doktrin-doktrin buta tanpa landasan jelas menganggap dirinya yang paling benar.

Berhubung udah banyak tulisan bahas racun yang pertama, ane mau sentil soal racun yang kedua.

Adik ane, si Rifnun, sering curcol soal kebiasaan bangsa ini yang gak akan bisa maju-maju. Ada banyak faktor yang bikin bangsa ini gak maju. Salah satunya ya lingkungan terkecil kita itu beracun. Gak cuman racun berasal dari aktivitas rumah tangga seperti bakar sampah seenak jidat atau limbah industri dari pabrik dekat rumah kok. Ada racun yang berwujud dalam bentuk KDRT. Ada racun yang berbentuk lingkungan seperti “kejebak dari lahir” tinggal di kawasan preman ato prostitusi. Ada racun berbentuk debat kusir tiada henti urusin politik tanpa aksi nyata. Ada yang berwujud fanatisme buta menganggap dirinya yang paling benar. Padahal seinget ane, fanatisme itu malah dilarang oleh agama. Ada yang berwujud secara pelan-pelan seperti pengaruh teman sebaya.

Nah, bagaimana cara kita mengatasinya? Sama aja kok kayak penanganan racun dan limbah pabrik. Pilah, olah, lalu buang dengan baik tanpa merusak lingkungan. Jangan lupa dengan AMDAL, penataan pusat pengelolaan limbah yang baik, pemeliharaan rutin, kurangi penggunaan racun yang dirasa gak perlu, dan gantilah yang lebih baik bagi diri kita juga lingkungan kita.

Apa aja sih pertanda dari lingkungan kita yang mulai beracun? Ane jelaskan dalam poin-poin singkat.

  1. Hal sepele lumrah dibicarakan.
  2. Lebih banyak mulut daripada telinga apalagi di lingkungan terdekat kita.
  3. Semua orang selalu memandang kita salah tapi kita tahu salahnya di mana. Mereka juga gak mau ngasih tahu apalagi ngasih solusi agar kita jadi lebih baik.
  4. Semua yang salah jadi lumrah. Contohnya ya ibu-ibu yang doyan bergosip ria.
  5. Lelucon yang tidak sepatutnya. Lucunya itu bisa dibilang lebih menjurus pada tindakan sarkasme yang merugikan orang lain.
  6. Merasa dirinya lebih baik dan tidak mau terbuka dengan kritik/saran.
  7. Banyaknya kekerasan baik secara fisik maupun lisan.
  8. Rumah berasa hidup di zaman penjajahan. Niatnya pengen santai eh malah jadi kerja rodi dan romusha.
  9. Banyak hal yang tidak baik dilihat oleh mata. Contohnya ya … sebutin gak ya?
  10. Lebih banyak nyinyir daripada apresiasi apalagi bantuin. Contoh nyatanya adalah para ilmuwan yang sekolah di luar negeri namun enggan balik lagi gara-gara itu.
  11. Potensi baik dipangkas lebih pendek daripada bonsai.
  12. Semua hanya melihat dari sisi negatif jadi secara tidak langsung membentuk pola pikir yang negatif akan suatu peristiwa. Contohnya adalah proporsi berita di televisi yang lebih banyak negatif daripada positifnya.
  13. Perdebatan menjadi kebutuhan primer yang sama pentingnya seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Kenapa ane bilang semua ini beracun? Paling banyak yang nyinyir gak masalah. Efeknya itu paling kerasa apabila kita terjun langsung ke masyarakat, bagi pertumbuhan anak-anak, dan beberapa tahun mendatang. Ane pernah lihat video viral tentang seorang anak kecil nonton acara dangdutan dalam sebuah pesta pernikahan. Ia berada tepat di bawah panggung saat si penyanyi dangdut bergoyang seronok hingga memperlihatkan pakaian dalamnya. Bagi warga itu hal yang lumrah. Tapi gimana dengan si anak kecilnya? Apa udah gedenya dia jadi anak yang mesum ato lebih ekstrim lagi jadi *maaf* penjahat kelamin? Generasi micin dan kids jaman now yang jadi sindiran di internet pun ya salah satu faktornya adalah lingkungan yang beracun tadi.

Nah, kita sudah coba berusaha. Bagaimana kalo kita sudah berusaha tapi gak ada perubahan? Jangan bersedih. Tuhan bersama kita kok. Kita tetap sabar. Pas ada kesempatan, kita minta bantuan pihak ketiga yang benar-benar netral untuk membantu menangani masalah kita. Biar kita ada dukungan secara moral, spiritual, dan mental agar tetap tegar memutus mata rantai lingkungan beracun itu. Jangan sungkan buat curhat ke teman terdekat. Jangan sungkan mengadu pada konselor, terapis, psikolog, pemuka agama, bahkan pihak berwajib mengenai masalah kita. Harus tetap konsisten untuk berubah biarpun kecil. Itu lebih baik daripada diam dan membiarkan keburukan begitu saja. Toh kebaikan itu menyebar seperti wabah penyakit. Biar kecil tapi bisa berdampak besar bagi lingkungan kita bahkan kemajuan suatu bangsa.

Ini bukan zamannya lagi kita hidup di lingkungan yang beracun seperti sekarang. Ini saatnya kita bangkit agar jadi lebih baik. Tetap ingat mulailah dari diri sendiri dengan hal-hal kecil yang bisa kita lakukan saat ini juga.

Memandang Alay dari Bawah Bukit

Sebenarnya itu permainan kata dari lirik lagu Pemandangan.

Memandang alam dari atas bukit…

Jadi ane bakal cerita tentang fenomena 4l4y. Bukan tentang “apa sih 4l4y?” melainkan ya “kenapa sih 4l4y?”. Mending kita tanya Lolita dulu sebelum mulai.

Kata Lolita dalam lirik lagu Alay,

Alay adalah anak layangan suka kelayapan dilihatnya jijay.

Alay itu singkatnya adalah orang yang tinggal di diskotik. Bukan diskotik dalam artian secara literal melainkan di sisi kota saeutik. Mun teu ngartos basa Sunda mah kieu. Singkatnya orang 4l4y itu adalah penduduk yang tinggal di pinggiran kota. Alasan mereka disebut “anak layangan” pun masuk akal juga. Rata-rata orang yang tinggal di kawasan tersebut memiliki warna kulit cenderung lebih gelap dibandingkan penduduk kota umumnya akibat terkena sengatan matahari.

Jauh sebelum istilah 4l4y mulai naik daun di awal tahun 2010 (kalo gak salah sih lagu Alay juga tenar pas masa itu), kita sudah mengenal kata-kata yang berkonotasi serupa. Tiap masa memiliki kosa kata unik tersendiri. Ane cuman tahu kampungan, norak, kamseupay, katro, ndeso, dan udik.

Melihat Alay dari Film

Benar kata salah satu kritikus film mengenai film adalah produk budaya. Film dapat mencerminkan potret dari kehidupan di suatu masa secara akurat. Mulai dari latar belakang sosial, budaya, politik, hingga fenomena lazim yang ditemukan di masanya. Contoh paling jelasnya adalah kartun Scooby Doo. Ciri khas dari kartun ini benar-benar menggambarkan suasana yang lumrah ditemukan di era tahun 60-an. Mulai dari gaya berpakaian Mystery Inc, peralatan yang digunakan, cara mereka menggambarkan suatu masa, hingga budaya-budaya populer yang tersemat di dalam setiap episodenya.

sumber: Fanpop

yaiks! *sambil ngacir pas liat hantu*

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Fenomena 4l4y mulai berakar dari era keemasan film Indonesia, era 80-an. Pada masa itu banyak bermunculan karakter-karakter yang terindikasi mengalami gejala kampungan. Contohnya beberapa karakter yang diperankan oleh Ida Kusumah. Siapa yang tidak kenal artis yang satu ini? Semasa hidupnya beliau membintangi banyak judul film dan sinetron. Beliau identik dengan peran-peran yang selalu bicara dalam dialek Sunda.

sumber: Liputan 6

hebring euy!

Salah satu karakter yang paling ane inget itu pas beliau membintangi karakter ibunya Vera dalam film Catatan Si Boy IV. Ane ingetnya bukan karena logat Sunda nu kentel. Karakternya itu mentang-mentang suaminya OKB aka orang kaya baru, eh tingkahnya malah … singkatnya ya kayak ada orang kampung yang baru nemuin emas segepok jatuh dari langit.

Orang Kampungan versus Orang Kotaan

Jujur ane paling kesel sama orang kota. Soalnya mereka selalu menciptakan pembicaraan aneh-aneh yang berlagak sok keren padahal sama-sama 4l4y juga. Bedanya mereka selalu memandang orang lain yang “lebih rendah” secara status dari mereka dengan julukan yang ya biarkan saja mereka berkata apa.

Harusnya gak gitu-gitu juga kalee. Mentang-mentang status sosial lebih baik malah seenak jidat menjuluki anak orang. Toh Tuhan juga gak pernah menilai orang dari status sosial. Tuhan hanya melihat seseorang dari amal ibadahnya semata.

Biang Keroknya 4l4y

Soalnya kalo gak ditangani adanya malah bikin malu diri kita sendiri. Anggap aja kayak orang penderita chuunibyou aka sindrom-delusi-kelas-delapan-dengan-khayalan-gak-jelas yang sudah insyaf eh aibnya dibuka lagi.

Sebenarnya ada satu kata yang menggambarkan secara garis besar fenomena 4l4y yang makin ke sini makin menjadi-jadi.

Kesenjangan

Apa itu kesenjangan? Ane kutip dari KBBI versi luring.

ke·sen·jang·an n 1 perihal (yg bersifat, berciri) senjang; ketidakseimbangan; ketidaksimetrisan; 2 jurang pemisah:- antara si kaya dan si miskin semakin lebar

Kesenjangan di sini gak cuman soal ekonomi. Pendidikan juga perkembangan teknologilah yang juga menjadi akar dari kasus 4l4y.

Pas ane nulis ini, ane sambil nonton Si Badung di TV kabel. Film anak-anak yang menceritakan sekelompok anak badung tapi banyak kalimat-kalimat yang menyentil kehidupan di masa sekarang. Mulai dari anak-anak yang tidak mau belajar terus maunya main-main aja hingga guru yang lebih menjurus pada karyawan daripada sebagai seorang pendidik. Pantesan aja di masa itu film ini panen nominasi FFI. Ternyata hal yang disentil dalam film lawas ini malah kejadian di masa sekarang.

Akar dari fenomena 4l4y ini adalah era Pak Harto di masa Orde Baru. Tepatnya di awal era 80-an yang menjadi puncak dari kemajuan perekonomian Indonesia. Siapa sih yang gak kenal dengan meme ini?

sumber: meme Indonesia

uena’e zamane bapake toh

Memang hidup di Orde Baru itu emang gak enak. Semua serba dibatasi termasuk kebebasan untuk mengutarakan pendapat. Tapi di sisi lain hidup di Orde Baru enak di mata generasi di atas orang tua kita. Perekonomian Indonesia stabil. Swasembada pangan. Keamanan terjamin. Orang miskin masih bisa makan enak dan tidur nyenyak. Banyak kebijakan Pak Harto yang bikin masyarakat kesel seperti kasus petrus aka penembakan misterius. Tapi ada juga kebijakannya juga yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Salah satunya ane baru tahu kalo Pak Harto sempat melarang lagu-lagu mellow galau mendayu-dayu di akhir tahun 80-an. Alasan beliau pun sederhana: bikin orang Indonesia gak produktif. Liat aja anak muda zaman sekarang. Contohnya cewek aja. Mereka mudah baper apalagi terlena fantasi cogan drakor, novel di Wattpad, sama webtoon.

Ane pernah baca satu tulisan opini yang dibukukan di perpustakaan. Salahnya Indonesia pada masa itu adalah terlalu cepat melakukan pertumbuhan ekonomi tapi tidak diiringi dengan pertumbuhan sumber daya manusianya. Ah kata siapa? Orang-orang zaman dulu lebih pinter kok. Cuman ya karena itu tadi. Mentang-mentang liat emas segepok jatoh dari langit, orang Indonesia malah terlena dan enggan untuk belajar. Akhirnya ilmu di sekolah jadi pepesan kosong. Mereka lebih seneng hedon daripada belajar.

Toh ngapain juga capek-capek belajar kalo duit dan kestabilan ekonomi udah ada di depan mata, pikir kebanyakan masyarakat kita pada saat itu.

Mereka gak sadar pola hidup seperti itu tertanam di alam bawah sadar dan memperparah kondisi mereka ketika pemerintahan Orde Baru jatuh di tahun 1998. Ane jadi inget lelucon temen-temen sekelas ane pas zaman SMK. Berhubung di sana cowok-cowoknya malah lebih rajin ngegosip daripada anak-anak ceweknya ya ane tahu dikit lah lelucon mereka.

Kadé mun cari awéwé geulis. Gayana wé hadé tapi imahna nyungsep dina gang.

(terjemahan bebasnya: cewek itu gayanya doang selangit padahal rumah di gang senggol)

Kebanyakan orang Indonesia itu pola pikirnya begitu. Paling yang tidak terkontaminasi parah itu di pedesaan dengan kondisi alam sulit nan indah dan lekat dengan budaya mereka yang religius.

Di Bandung sendiri ada istilah “diskotik”. Bukan diskotik tempat dugem ye. Diskotik itu sebenarnya singkatan yakni di sisi kota saeutik. Maksudnya adalah pemukiman rural yang berada di tepi perkotaan. Biasanya penduduk yang tinggal di sana adalah pendatang yang sulit mencari tempat tinggal di kota akibat harga tanah perkotaan yang mahal. Mereka ingin hidup layaknya orang-orang kota. Tapi ya apa daya. Secara ekonomi tidak begitu baik, pendidikan rendah, dan diperparah dengan pola pikir “gaya aja dulu, isi otak belakangan”. Akumulasi dari hal-hal itulah yang menjadi biang kerok merebaknya fenomena 4l4y.

Parahnya lagi mereka bangga dengan status itu. *tepok jidat*

Hidup di Kota Bak Kura-Kura yang Mengejar Kelinci

Eits, kata siapa cuman orang miskin yang bisa 4l4y? Orang kaya juga bisa keles. Contoh yang seperti ini banyak ditemukan dalam sinetron. Salah satunya ada dalam sitkom OKB yang pernah tayang di Trans7 beberapa tahun silam. Sesuai dengan judulnya, sitkom OKB memang menceritakan kehidupan tentang “orang kaya baru”. Gegar budaya yang dialami oleh keluarga Parto menjadi fokus utama di setiap episodenya.

Sitkom OKB masih memperlihatkan sifat kalem dari orang kaya baru. Versi lebih ekstrimnya? Coba sesekali lihat film Lenong Rumpi 2. Pindah rumah ke komplek elite aja kudu ritual keliling satu komplek. *gubrak*

Ane inget lagi lelucon di internet. Kali ini adalah tips membedakan orang kaya beneran dan orang kaya “jadi-jadian”.

Orang kaya beneran itu gak bakal bicarain kekayaan mereka di luar komunitasnya. Mereka sebisa mungkin tampak merendah di hadapan orang lain karena tidak mau dicap pamer apalagi sombong.

Orang kaya “jadi-jadian” itu selalu membanggakan kekayaan mereka di hadapan orang lain. Sifat itulah yang membuat mereka dianggap sebelah mata di antara masyarakat umum apalagi orang kaya beneran.

Contoh yang ane inget itu temen sekelas ane pas masih ngampus dulu, Diaz. Keturunan Tionghoa asal Subang yang bisa dibilang cuek bebek. Gayanya biasa aja padahal orang tuanya adalah orang kaya. Biar dia punya mobil sendiri dan bisa pergi ke kampus bawa mobil, dia lebih sering nebeng motor temennya ato bawa motor sendiri. Dia baru bawa mobil kalo pulang ke Subang ato disuruh anak-anak buat angkut keperluan kelas. Waktu itu ane ngobrol sama dia kalo sebenarnya dia itu orangnya gak suka hedon. Orangnya nyante aja berasa kayak bukan orang tajir.

Sayangnya pola pikir orang-orang golongan menengah ke bawah tidak seperti itu. Mereka ingin memaksakan diri berbaur dengan golongan elite tapi ya gak kesampean. Malah jatohnya jadi 4l4y karena minimnya faktor pendidikan. Ya salah sendiri juga duit buat belajar yang bener dipake buat beli peralatan make up, catokan, bahkan nyalon.

Ane jadi inget cerita Bunda Susi, guru PKn SMK yang juga Wakasek Kesiswaan pada masa itu. Beliau pernah cerita di kelas soal beliau pernah menangkap basah salah satu murid yang menunggak SPP 3 bulan. Eh tahunya duit SPP malah dipake buat pasang hair extension sama nyalon. Orang tuanya yang secara ekonomi tidak mampu pun syok pas tahu anak mereka dipanggil ke sekolah. Mereka sudah banting tulang sampe minjem duit sana-sini buat bayar SPP eh tahunya ….

sumber: Photobucket

duit SPP dipake buat nyalon, sungguh … ter-la-lu!

Okelah anggap diri kita itu orang miskin yang tinggal di kawasan padat penduduk. Okelah secara ekonomi kita itu menengah ke bawah. Okelah secara pendidikan pun SD gak tamat. Apa kita bisa mengubah nasib kita? Bisa. Kita tahu secara ekonomi dan pendidikan kita itu hanya kura-kura. Jangan memaksakan diri jadi kelinci. Jadilah diri sendiri dengan kerja keras dan belajar. Kita boleh ngayal jadi kelinci tapi jadikan itu sebagai motivasi agar lebih maju.

Diledekin orang sekampung gara-gara jadi anak rajin? Bodo amat! Cuek aja. Selama kita bener ya ngapain kita malu? Toh pendidikan itu jauh lebih baik daripada gaya. Pendidikan dapat menciptakan tren tapi tren sendiri itu tidak bisa menciptakan sebuah pendidikan. Kalo bisa ya jadi agen perubahan bagi lingkungan kita. Contoh nyatanya adalah seorang di Solo yang berhasil mengubah lokalisasi di sana (ane lupa namanya, dulu ane pernah nonton di TV) menjadi kawasan industri produktif yang bisa menutup total lokalisasi tersebut. Bahkan ane sendiri yang sering mudik ke Solo pun gak tahu kalo di sana pernah ada lokalisasi.

Ah tapi sekolah ‘kan mahal. Lebih mahal mana dengan memenuhi gaya hidup tersier? Contoh sederhananya adalah sebatang rokok. Ane pernah baca artikel mengenai kehidupan orang miskin di Jakarta. Kalo gak salah, rata-rata orang miskin di Jakarta memiliki penghasilan sekitar 20 ribu rupiah perhari. Anehnya sebagian besar dari penghasilan mereka dihabiskan untuk membeli rokok. Satu-satunya cara untuk mengentaskan kemiskinan dan menghindarkan diri dari perilaku 4l4y ya hidup sewajarnya, sederhana, dan syukuri apa adanya. Toh peranakan Tionghoa biar tajir juga memang sengaja didik anak mereka prihatin agar mereka lebih bijak menyikapi kekayaan.

Apa boleh “nakal” dikit dengan memenuhi kebutuhan tersier? Boleh sebagai penghargaan bagi diri sendiri karena mau bersabar. Tapi ya inget sama kondisi keuangan kita juga.

Sebenarnya 4l4y bisa diberantas dengan pendidikan. Sekarang udah zamannya internet. Biar kata orang Indonesia gak melek buku, toh masih bisa belajar lewat internet. Udah gitu ya gak usah maksain jadi kelinci alias tuturut munding. Toh kelinci aja bosen jalannya terlalu cepet. Contohnya aja para petinggi Silicon Valley, tempat yang terkenal dengan inovasi dan teknologinya di Amerika, malah sengaja menyuruh anak-anaknya jauh dari teknologi dan kehidupan modern kok.

Lha kok bisa tahu? Makanya baca. Jangan cuman baca status mantan terus galau mulu. Udah gak zaman deh. Lebih baik kita maju dari zaman 4l4y jadi orang yang lebih baik lagi.