Personalisasi Internet yang Tidak Personal

Pernah gak kita ngerasa cari apa eh keluarnya apa?

Apa mbah Google salah baca mantra terus salah nyembur? Gak kok.

Apa itu Bokir yang nyamar jadi mbah Google? Zaman Bokir jadi dukun palsu yang dikerjain Suzzanna pun belum ada mbah Google.

Di balik proses itu sebenarnya membutuhkan satu mata kuliah biar paham. Ane tahu cara kerja terselubung dari mbah Google gara-gara hukuman tugas kompensasi kehadiran pas masih ngampus. Intinya tanpa kita sadari si mbah mengambil data unik tentang diri kita berdasarkan pencarian yang kita lakukan. Bahasa kerennya sih filter bubble tapi bahasa halusnya sih personalisasi hasil pencarian.

Gak cuman di Google kok, di Facebook sama YouTube pun kayak gitu. Contoh nyatanya dari fenomena ini adalah pengalaman pribadi ane saat menggunakan Facebook. Terakhir kali ane pake Facebook itu pas masih kuliah.

Dulu ane pake Facebook gak cuman berhubungan dengan Ghia, Dono, Amir, dan temen deket ane semasa SD lainnya. Ane sering gunain Facebook buat main game sampe jujur aja ye, pernah stalking aka menguntit cowok via dunia maya. Target saat itu Ikki, partner-in-crime ane pas masih SMK yang juga cowok yang ane sukai dulu.

Ane dikenalin Facebook dari mamih Aisya dan si mamih itu temen pertama ane di Facebook. Seiring berjalannya waktu, ane benar-benar kehilangan kontak dari orang-orang terdekat ane. Entah itu Ghia, Dono, Ikki, bahkan mamih Aisya sekalipun. Padahal biasanya status mereka sering tampak di linimasa. Apalagi si mamih yang sering mengunggah status-status absurd nan kocak. Linimasa ane pun berganti dengan teman-teman ane di komunitas otaku dan cosplay yang ane kenal secara pribadi di dunia nyata. Ada beberapa temen deket ane di SMK yang statusnya tampak. Itu pun hanya Hanif, Yogz, sama Okta. Ketiganya pun memiliki benang merah: otaku. Begitupun dengan status temen kuliah hanya Ganjar sama Opik yang notabene dikenal sebagai weeaboo semasa ngampus. Ane sadar saat itu Facebook mengidentifikasi ane sebagai seorang otaku dan memisahkan ane dari teman-teman terdekat ane di dunia nyata.

Apakah personalisasi pada kasus ane itu berguna? Tidak. Ane kehilangan kontak sama sekali dengan mereka yang dekat dengan ane di dunia nyata namun hilang kontak di dunia maya. Jujur ane kangen dengan Ghia, Dono, juga mamih Aisya. Kesibukan mereka membuat media sosial menjadi satu-satunya penghubung antara ane dan mereka. Sayangnya semua itu sirna akibat “personalisasi”.

Personalisasi memang memudahkan pihak penyedia layanan internet mengetahui informasi yang tepat sesuai dengan target pengguna. Bahasa bisnisnya sih untuk memberikan pelayanan prima pada pengguna setianya. Di samping itu, personalisasi dapat menghambat kita mendapat informasi yang sama dengan sudut pandang yang lain. Informasi yang kita dapat itu seperti melihat dengan kacamata kuda. Sekilas tidak ada bedanya dengan sensor. Bedanya sensor bertujuan untuk melindungi seseorang atau sekelompok masyarakat dari pengaruh buruk pihak asing dengan patokan-patokan tertentu yang masih masuk akal dan beralasan. Filter bubble jauh lebih buruk dari sensor dan sinar dewa KPI.

Apa yang terjadi dengan internet? Mungkin kita syok mendengar fakta yang selama ini tersembunyi di balik status kita di dunia maya. Berkaca dari pengalaman ane, tidak selamanya informasi mengenai diri kita terlalu dibuka di dunia maya. Itu sebabnya ane lebih sering jadi anonim di dunia maya dan hanya meninggalkan sedikit petunjuk tentang diri ane dalam jurnal ini. Dipanggil hode pun ane udah kebal. Bahkan orang terdekat ane yang tahu ane pemilik jurnal ini pun cuman mamih Aisya dan Yanto.

Setelah tahu ini, apa yang bakal kita lakukan? Apa perlu cara ekstrim dengan memutuskan kontak dari internet? Cara primitif seperti itu sangat sulit dilakukan di masa sekarang. Naluri alamiah orang Indonesia adalah narsis dan senang bergaul dengan orang lain. Bagaimana cara ya setidaknya tidak bernasib miris seperti kisah ane?

Pertama, mbah Google tidak selalu benar. Jika kalian masih percaya akan hal itu, tandanya musyrik. *gubrak*

Ane bakal kupas bagian pertama ini di tulisan terpisah. Ada cara untuk menghindari efek buruk hal itu selama kita konsultasi sama mbah Google. Insya Allah dengan teknik ini kita bisa dapet informasi yang jauh lebih akurat apalagi buat para mahasiswa yang lagi mumet urusin skripsi, tugas akhir, tesis, dan disertasi. Ane doain semoga lancar nyusunnya dan dapet informasi pendukung yang jauh lebih akurat biar bebas revisi ekstrim.

Kedua, narsis boleh umbar aib jangan. Itu bisa jadi bumerang buat diri kita lho. Detil lebih lanjutnya sih ane bakal curcol habis-habisan mengenai hal ini di tulisan selanjutnya.

Ketiga, gak harus jadi mahasiswa Informatika agar bisa cerdas dan bijak menggunakan internet. Sebenarnya penjelasan dari bagian ini adalah wewenang dosen dan bisa jadi satu mata kuliah khusus yang bakal ulas masalah ini. Ane cuman kasih tahu petunjuk yang bakal bantu kita kepo dikit tentang personalisasi di internet beserta kedua sisinya.

Cari kata kunci ini di internet biar ngerti hal yang ane maksud. Itu pun jika kepo maksimal. Beberapa ane dapet informasi berkaitan dengan kata kunci ini gara-gara tugas hukuman di kampus dan sisanya dari referensi yang ada di tulisan lama ane.

Eli Pariser (nama orang yang ada kaitannya dengan tema tulisan ini)

Filter bubble

Crawler (sedikit spoiler: ini salah satu biang keroknya)

Internet cookie

Information retrieval

How Google search works (ane nemu hal ini pas kuliah dan … kasih spoiler gak ya?)

Kata kunci yang lebih umum lagi: sistem informasi ato information systems. Itu sebabnya ane bilang di alinea sebelumnya buat jelasin satu bagian tulisan ini aja kudu kuliah dulu biar paham :d

Kok ada istilah yang gak ada sangkut pautnya dengan tulisan yang ane buat di bagian kata kunci? Itu adalah petunjuk buat pahamin jawaban dari kata kunci yang terakhir. Mau diperdalam silakan sebatas tahu pun gak apa-apa. Apa salahnya jadi pengguna internet yang jauh lebih cerdas?

Keempat, jadilah pengguna internet yang cerdas. Ponsel aja bisa pinter masa penggunanya oon.

Masih percaya dengan hasil pencarian dan personalisasi di internet? Kata Cak Lontong sih mikir.

Iklan

Identitas Dunia Maya yang Bisa Jadi Bumerang

Ane jadi inget lelucon konyol di buku teks Bahasa Inggris SMK. Ane lupa buku yang kelas X, XI, ato XII ya. Buku Bahasa Inggris yang ane pake sering menyempilkan anekdot konyol dan gambar-gambar lucu di setiap babnya. Hal yang paling lucu dari lelucon di sana adalah lelucon cari kunci mobil.

Losing your key? Google it.

Peran Google yang nyaris gak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari pun diplesetkan dengan mencari kunci mobil. Sayangnya ane gak bisa unggah gambarnya soalnya bukunya udah dikilo gara-gara kebanjiran.

Google adalah nama dari sebuah mesin pencari aka search engine yang masih eksis sampe sekarang. Pas ane masih SD, ada banyak search engine yang menawarkan jasa pencarian serupa. Sayangnya satu bersatu berguguran akibat ditinggalkan penggunanya. Alasannya pun sederhana: gak ada bisa menandingi hasil pencarian seakurat dan secepat Google. Seiring berjalannya waktu, layanan Google gak cuman mesin pencarian semata. Ada layanan e-mail, blog, nonton video lewat YouTube, penyimpanan berkas berbasis cloud dengan Google Drive, sistem operasi Android, berkelana bebas nyasar dengan Google Maps, sampai puas-puasin main game dengan Google Play Games.

Normalnya orang Indonesia itu doyan narsis. Mereka senang membicarakan tentang diri mereka di hadapan orang lain terlebih dengan era media sosial seperti sekarang ini. Dulu pas zaman SD, ada satu situs terkenal namanya Friendster. Pokoknya gak ngehits deh kalo gak bikin akun Friendster aka main FS di masa itu. Itu adalah awal mula perkenalan orang Indonesia dengan media sosial. Sebenarnya sih di era sebelum itu orang Indonesia banyak nongkrong di kanal IRC dengan beragam nama samaran aneh-aneh (dan 4l4y) atau menggunakan Yahoo! Messenger. Puncak penggunaan media sosial adalah di era generasi milenial yang rata-rata berkisar pada usia remaja hingga awal 30 tahun. Mereka lebih banyak menggunakan media sosial dibandingkan para orang dewasa.

Sekarang adalah eranya big data. Apa sih yang gak bisa kita temukan di internet? Apalagi di era serba dikit-dikit internet dengan aliran data yang masuk ke server itu gak sedikit. Ane pernah baca di internet, server Facebook bisa menangani aliran  kalo gak salah sih udah masuk ke petabyte. Sebenarnya sih di era big data seperti sekarang semua jadi lebih gampang dalam bidang teknologi. Di Bandung sendiri udah dibangun pangkalan digital yang khusus mengelola big data. Baru diresmiin kemaren kok. Sayangnya di balik kelebihan dari pemanfaatan big data, ada banyak bahaya yang bisa menyerang balik diri kita.

Pertama, kasus Edward Snowden yang ramai di tahun 2013 silam mengenai penyadapan digital yang dilakukan oleh NSA. Kasus itu tidak hanya menyita perhatian publik yang aktif menggunakan internet tetapi juga pihak korporasi dan pemerintahan. Banyak perusahaan yang mengeluh soal e-mail berisi rahasia perusahaan bocor oleh penyadapan itu. Pihak pemerintah negara lain pun turut kesal dengan tingkah salah satu badan resmi milik pemerintah Amerika Serikat itu. Informasi lebih jelas tentang kasus ini bisa cari di internet ato nonton film Snowden.

Kedua, kasus seorang nenek di Amerika yang terjadi tahun 2006 silam. Namanya Thelma Arnold. Mulanya ia ingin mencari sesuatu di internet lewat situs AOL, salah satu mesin pencari yang populer di masa itu. Kasus ini menjadi ramai diperbincangkan ketika identitas dari nenek itu bocor akibat kebocoran data pencarian AOL.

Ketiga, kasus pencurian yang bermula dari Foursquare beberapa tahun silam. Seorang wanita di kawasan Amerika Serikat tampak bahagia setelah suaminya mengajak ia makan malam romantis di restoran. Ia kemudian mengabadikan momen tersebut pada akun Foursquare miliknya. Tanpa ia sadari, sekelompok pencuri mengetahui rumah di dekat mereka sedang kosong berdasarkan informasi pada laman Foursquare. Mereka kemudian mencuri barang-barang di rumah itu setelah tahu pemiliknya sedang pergi makan malam di restoran.

Ketiga hal itu hanya sedikit contoh dari banyak kasus nyata yang terjadi di seluruh dunia.

Masih gak ngerti deh. Bisa jelasin dengan lebih singkat?

Informasi pribadi adalah hal yang sangat sensitif. Di Indonesia sendiri masalah identitas menjadi isu serius di rezim Orde Baru. Mulai dari peranakan Tionghoa yang sering menjadi sasaran kemarahan masyarakat, para aktivis mahasiswa yang menjadi incaran rezim pemerintah saat itu, hingga keluarga dari pihak yang terkait dengan PKI beserta organisasi sayapnya seperti Lekra. Itu di dunia nyata. Bagaimana dengan di dunia maya? Justru jauh lebih berbahaya. Tanpa kita sadari kita sering menggunggah informasi pribadi kita terutama lewat media sosial. Entah itu untuk tujuan narsis ataupun untuk tujuan serius seperti portofolio dan CV untuk melamar pekerjaan via internet. Dunia maya adalah dunia yang membaurkan batas antara belahan dunia manapun terlepas dari ruang dan waktu. Kita bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan di internet termasuk identitas seseorang.

Tanpa kita sadari, data pribadi yang kita unggah di internet itu digunakan banyak pihak dengan beragam tujuan. Ada yang bertujuan baik untuk mengetahui statistik pengunjung terbanyak berdasarkan wilayah. Ada juga yang digunakan untuk tujuan buruk bahkan cenderung menjurus pada tindak kriminal. Identitas yang kita miliki bisa diketahui dengan sangat jelas tidak harus dengan menuliskan identitas kita seperti dalam biodata atau CV. Pada kasus nenek Thelma Arnold, identitas seseorang bisa diketahui pula dari kebiasaan yang kita lakukan di internet.

Bagaimana cara media sosial bahkan Google mengenali kita? Ane jelaskan di tulisan selanjutnya.

Kita adalah Apa yang Kita Lakukan di Internet

Ane pernah ngelakuin hal geje yang keinspirasi salah satu hot thread lawas di Kaskus. Bedanya hal yang dibahas dalam thread itu adalah perbandingan hasil pencarian Google Indonesia dengan Google versi luar negeri. Penulis artikel aka TS mengetikkan semua hal yang gak asing dari keseharian warga Indonesia lalu membandingkan hasil pencarian dengan kata kunci yang sama pada Google versi internasional. Hasilnya pun bisa disimpulkan bahwa mayoritas orang Indonesia yang melakukan pencarian di internet adalah orang mesum berdasarkan hasil penelusuran Google yang ada pada thread itu. Sementara hal geje yang ane lakuin adalah melakukan pencarian iseng dengan YouTube. Ane ngetik asal dari A-Z buat cari tahu hal apa aja yang biasa dicari orang Indonesia di YouTube. Mulai dari Awkarin sampai Zayn Malik, mayoritas kata kunci yang muncul dari bilah pencarian YouTube berkaitan dengan dunia anak muda. Ada juga sih nyempil isu-isu sensitif seperti politik dan agama.

Jujur aja ane pernah bikin tulisan berseri tentang tracking di internet dan cara untuk mengatasinya. Tulisan itu ane buat pas lagi rame kasusnya si ganteng Edward Snowden. Ih serius. Pemeran Edward Snowden di film Snowden aja kece apalagi aslinya. Cari aja di internet kalo gak percaya. Berhubung tulisannya udah kadaluarsa jadi ane tulis ulang dari awal. Ane bikin lebih mudah dipahami dan mudah dipraktekin buat orang awam aja.

Banyak kasus bermula dari internet yang muncul di Indonesia karena hal sepele: media sosial. Mulai dari cyberbullying yang dialami Uphie A Bubu (dibacanya sih “upik abu” aka Cinderella, sumpeh ane lupa nulis nama akunnya saking 4l4ynya) sampai seorang PNS yang dipecat gara-gara status Facebook. Keduanya kasus yang viral di masanya lho. Ada juga yang berujung bermasalah dengan polisi karena tulisan di internet. Satu hal yang ane sayangkan dari bang Jonru Ginting. Padahal beliau itu adalah seorang penulis yang produktif membimbing para penulis pemula via internet.

Internet adalah pisau bermata dua. Dia bisa jadi teman seperti halnya buku di perpustakaan. Bisa juga menjadi bencana seperti halnya kasus Uphie A Bubu.

Anak muda di Indonesia tidak lepas dari keberadaan internet. Padahal dibandingkan dengan Korea Selatan pun koneksi internetnya bagai langit dan bumi. Lucunya pengguna internet aktif di Indonesia itu masuk peringkat 10 besar dunia. Bahkan data terakhir dari situs Stop Phubbing menyatakan kota Jakarta sebagai salah satu kota dengan pengidap phubbing aka mata-melotot-sama-gadget-mulu-liatin-internet dengan populasi penderitanya sebanyak 3,9 juta jiwa. Sebagian besar dari mereka berasal dari kalangan anak muda. Orang Indonesia itu emang narsis. Mungkin cuman ane dan Nida, temen SMK ane yang sama-sama gak narsis, pengecualiannya. Dikit-dikit cekrek update persis kayak iklan Axis.

Bagi sebagian orang dikit-dikit update status itu lumrah. Tapi mereka tidak sadar setiap status yang mereka unggah itu akan menjadi fenomena gunung es yang akan membahayakan diri mereka di masa depan. Ini hanya tulisan pengantar jadi ane bakal jelasin lebih rinci di tulisan selanjutnya.

Bedanya Film Horor Era Suzzanna dan Kekinian Bagian Kedua

Masih melanjutkan tulisan ane sebelumnya yang terbatas oleh batasan kata. Mulanya ane berniat untuk menuliskan poin-poinnya saja. Ternyata semakin banyak ane nonton film horor lawas dan modern, semakin banyak pula ane mengetahui perbedaan dari keduanya lebih detil. Jadilah tulisan yang seharusnya pendek malah bertambah panjang seiring dengan hal menarik lain yang ane temukan.

NB:

Ane bukanlah kritikus film. Ane cuman penonton biasa yang miris dengan keadaan film di Indonesia yang belum bisa menjadi raja di negeri sendiri secara penuh seperti halnya India dengan film Bollywood-nya. Jadi perbandingan yang ane buat itu berdasarkan hal yang ane lihat secara langsung dalam film ditambah referensi pendukung.

Baku tapi Tidak Kaku

Penggunaan ragam bahasa yang baik menunjukkan kelas. Contohnya jelas terlihat dalam bahasa Sunda dengan undak usuk basa dan bahasa Jawa dengan krama-nya. Dengan kita melihat bahasa yang digunakan seseorang, kita bisa tahu kelas dari orang tersebut. Kita bisa melihat kelas dengan jelas dari film-film lawas. Tidak peduli tokoh yang diperankan itu orang kota yang terpelajar ataupun penduduk desa pedalaman, bahasa yang digunakan pun tetap sama. Secara tersirat bisa dilihat bahwa para sineas di masa lalu adalah kelompok yang terpelajar.

Hal yang menarik dari film Indonesia lawas adalah ragam bahasanya. Kata-kata seperti “aku”,”saya”, “kamu”, dan “Anda” masih mudah untuk ditemui tidak peduli genre filmnya. Memang ada film yang menggunakan kata-kata tidak baku dalam bahasa prokem seperti film Warkop.

Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Itulah yang sepakat didengungkan para pemuda dalam Sumpah Pemuda. Bahasa Indonesia yang digunakan pada masa itu masih terbilang murni. Memang ada kata serapan namun sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia dengan arti yang mudah dipahami masyarakat akar rumput. Tidak seperti sekarang yang sudah campur-campur tidak jelas hingga merusak tata bahasa seperti yang dilakukan kids zaman now. Ragam bahasa yang digunakan pada film lawas biasanya ragam bahasa baku dan ragam bahasa santai. Bukan berarti menggunakan ragam bahasa baku tidak bisa menceritakan konflik utama secara gamblang. Pemilihan bahasa yang tepat akan menghasilkan efek yang tepat. Contohnya dalam perihal mengumpat.

Kata-Kata Kasar yang Bebas Berkeliaran

Mulai dari bagian ini, akan banyak muncul kata-kata kasar.

Film horor lawas memang terkenal dengan umpatan mereka yang unik. Permainan katanya banyak, menggunakan bahasa baku, sering diiringi sumpah serapah, gestur tubuh tokoh yang meyakinkan, dan pastinya banyak disensor ketika ditayangkan ulang di televisi. Satu hal yang membuat ane bingung dari film horor lawas adalah “anjing”. Ane belum pernah melihat satu adegan yang secara eksplisit menggunakan kata tersebut untuk mengumpat. Sementara kata-kata yang lain bebas berkeliaran dari mulut tokohnya. Contohnya seperti ini.

“Dasar kau iblis! Jahanam!”

“Bedebah! Terkutuk kau!”

“Dasar lelaki bangsat! Biadab!”

“Brengsek. Keparat itu kembali berulah lagi.”

Bandingkan dengan umpatan zaman sekarang.

“Bego lu!”

“Babi lu tai!”

“Emang dasarnya perek ya tetep aja perek!” (baca: perek = PSK)

Manakah kalimat yang lebih baik dalam masalah mengumpat. Secara pribadi ane lebih memilih cara mengumpat pada film horor lawas. Untuk keseharian sebaiknya tidak dengan keduanya.

Judul yang Sederhana

Apa yang pertama kali dilihat oleh kita sebelum menonton film? Ada yang melihat dari tokoh utamanya. Ada yang melihat dari sutradaranya. Ada yang melihat dari genrenya. Ada yang melihat dari cerita sebelumnya jika film itu dirilis sebagai serial seperti Star Wars. Ada yang melihat dari sinopsisnya. Ada yang melihat dari iklan dan trailer film tersebut. Bagi orang awam, melihat judulnya pun bisa membuat tertarik.

Ane pernah baca dari modul kepenulisan kalau judul yang baik itu secara tidak langsung menggambarkan isi dari konten yang disajikan. Tidak berbeda jauh dengan judul skripsi. Judul pun harus dibuat dengan menarik. Agar orang penasaran lalu tertarik dengan konten yang kita buat. Sayangnya film horor Indonesia modern lebih senang membuat judul film sensasional seperti halnya fenomena click bait di internet demi meningkatkan pengunjung halaman situs. Sayangnya bungkus kerap menipu. Meminjam bahasa dari komunitas gamer di internet, ibaratkan roti isi mahal yang terlihat lezat nyatanya dibuat dengan selai dari lumpur.

Bandingkan kedua judul dari film horor ini. Manakah yang lebih baik?

A. Pacar Kesurupan Mantan

B. Teror Asmara sang Mantan Pacar

Pesan Moral di Balik Film Horor

Ini adalah hal yang sangat aneh dan belum pernah ane lihat dari film horor manapun. Kebanyakan film horor yang ane tonton itu murni memancing ketegangan semata. Ada film horor yang bagus dalam pesan moral namun jumlahnya hitungan jari. Kebanyakan orang fokus pada bagian seramnya hingga lupa ada pesan moral.

Ane jadi ingat salah satu film horor Thailand yang ceritanya tentang kisah horor di sekolah cowok. Ane lupa judulnya namun pesan moral yang tergambar jelas dari film itu adalah jangan coba-coba buat bunuh diri. Soalnya konflik dari film horor itu bermula saat salah satu hantu yang berada di gedung sekolah tua itu meninggal karena bunuh diri.

Bahkan ane bingung pas nonton film Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986). Plot dari film horor ini sebenarnya mirip kayak sinetron: gara-gara wajahnya mirip eh malah jadi sasaran orang jahat. Konflik dari film ini adalah tentang Nyi Blorong dan seorang tamak yang selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Salah satunya adalah pengen cepat kaya dengan cara pesugihan. Hal yang menarik di sini bukanlah aksi Suzzanna yang nyentrik dalam menumpas semua lawan-lawannya. Kalimat ini menjadi hal yang menarik.

“Janganlah kau mencari kekayaan dengan melakukan perbuatan syirik. Rezeki yang halal jauh lebih berkah.”

Singkatnya, kalimat itu adalah gambaran garis besar dari ceritanya. Ada yang memperhatikan hal remeh semacam ini? Mungkin sudah lupa oleh pesona Suzzanna sebagai Ratu Horor.

Begitu pula dengan film Pengabdi Setan (1980). Apa pesan yang ingin disampaikan dari film ini? Dekatkan diri pada Allah agar tidak terjerumus oleh perbuatan setan. Garis besar konflik dari film ini adalah Darminah mencari manusia yang lupa akan ajaran agama untuk ia jadikan teman di neraka.

Hal Remeh dan Penting

Pesan moral adalah salah satu dari hal kecil yang diremehkan dalam film horor Indonesia. Masih banyak hal remeh lainnya yang ditemukan pada film horor lawas namun lupa diperhatikan bahkan oleh film horor zaman sekarang.

Contoh yang menarik adalah penggunaan bahasa Belanda. Misalnya cerita itu temanya tentang zaman penjajahan, pastilah ada dialog di antara kompeni yang ngomong pake bahasa Belanda. Begitupun dalam film horor. Jika temanya berada di Jawa, entah itu jampi-jampi si dukun atau dialog penduduknya pasti ada istilah-istilah penting dalam bahasa Jawa.

Namanya juga manusia pasti gak luput dari kesalahan. Jika tadi ane bahas kelebihan film horor lawas dalam bidang atensi terhadap detail, sekarang kelemahannya. Contoh film paling kelihatan kesalahannya adalah film Santet (1988) yang dibintangi oleh Suzzanna. Ceritanya berlangsung di malam hari tapi cuplikan adegannya diambil pada siang hari. Tidak hanya sekali terlihat dalam film, tetapi berulang kali.

Pola Keseluruhan Cerita

Film horor pasti memiliki benang merah yang menghubungkan ceritanya. Judul boleh berbeda tapi pola bisa jadi sama. Seperti halnya yang tampak jelas pada film horor lawas era Suzzanna dengan film horor modern.

Film horor era Suzzanna memiliki pola seperti ini. Tokoh utama seorang protagonis yang menjadi korban kejahatan hingga pembunuhan. Mulai dari kejahatan akibat ilmu hitam, fitnah, konspirasi dengan latar belakang tertentu seperti masalah sosial, hingga pelecehan seksual. Setelah itu tokoh utama mendapat bantuan. Entah itu dibantu oleh dukun, petapa, ataupun jadi arwah penasaran. Tokoh tersebut mulai menjalani kehidupan barunya. Ada beberapa bagian menjadi comic relief seperti halnya kemunculan Bokir dalam film Suzzanna. Pada bagian akhir cerita, tokoh utama melakukan balas dendam pada setiap pelaku kejahatan lalu disadarkan oleh keluarga atau pemuka agama. Permintaan terakhir tokoh utama hanya menyerahkan penjahat yang tersisa pada polisi atau meminta jasadnya dikebumikan dengan layak.

Film horor era kekinian memiliki pola pada cerita. Ini pola film horor yang lurus dan gak mengandalkan fanservice semata. Awal cerita dimulai dengan kehidupan bahagia seseorang yang berubah drastis seiring dengan keberadaan makhluk halus yang mengganggu mereka. Pola film horor sekarang lebih cenderung pada horor misteri yang membuat tokoh utamanya menjadi penguak misteri dari kejadian horor yang selama ini ia dan kerabatnya alami. Setiap adegan dalam filmnya menyisakan jejak petunjuk seperti halnya pada trilogi Kuntilanak (2006). Ada juga yang diiringi drama seperti halnya pada Hantu Aborsi (2008).

Setiap masa memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri dalam karyanya. Film horor lawas era Suzzanna memiliki kelebihan dalam atmosfer horor dan akting pemain namun lemah dalam setting. Hal itu diakibatkan minimnya teknologi yang ada untuk membuat efek horor di masa itu. Film horor era kekinian memiliki kelebihan dalam suasana horor namun lemah dalam cerita. Hal itu dikarenakan fanservice yang tidak perlu dan suara latar yang berlebihan justru menodai keseraman dari film tersebut.

Jadi masih tertarik untuk nonton film horor? Kalo ane sih mending ngumpet aja daripada nonton.

Setitik Lagu dari Kenangan (bagian kedua)

Setiap lagu memang ada masanya. Ada yang berkesan di ingatan dan adapula yang sekedar lewat di telinga. Begitupun dengan ane. Berikut ini adalah lanjutan dari daftar lagu yang mengingatkan ane akan kenangan tertentu dari hidup ane.

Berhubung tulisan sebelumnya bikin ane gak kuat nangis jadi ane pecah tulisannya. Bagian awal tulisan ini masih tentang nangis-nangisan dan galau. Sebenarnya biar nyambung aja sih suasananya sama tulisan sebelumnya *gubrak*.

Sachiko Kumagai – You

Gak tahu ini lagu apa? Kemungkinan besar ada dua.

Pertama, dia bukan weeaboo macam ane semasa kecilnya. Kagak demen nonton anime apalagi gosipin soal anime di kelas. Hal itu wajar di zaman ane masih kecil soalnya memang banyak anime yang tayang di TV.

Kedua, dia otaku tapi ogah nonton anime lawas. Padahal banyak harta karun di anime lawas. Salah satunya adaptasi manga yang diperankan oleh oppa Lee Min Ho, City Hunter. Untung aja otak mesum Ryo Saeba di anime sama manga kagak kebawa di versi live action-nya.

Ini bukan anime terbaik di masanya. Ini anime adaptasi dari manga pemenang Shogakukan Manga Awards ke-40 untuk kategori shoujo (dan ane baru tahu ini masuknya shoujo, padahal ceritanya murni drama). Ceritanya gak kalah sedih dari Ano Hana, Clannad, sama Angel Beats. Ceritanya tentang anak kelas 5 SD yang harus mengasuh adiknya yang masih balita setelah ibunya meninggal.

Akachan to Boku aka Baby and Me pernah tayang di TV7 (sekarang Trans7) pas ane masih kelas 2 SD. Sekitar tahun 2002. Ane ingat rela gak main buat nungguin anime ini tayang. Ini adalah ending pertamanya. Gak cuman ane yang demen nonton ini, keponakan ane juga demen. Ada dua kenangan yang berkaitan dengan ending anime ini.

Ane bisa cover lagu ini tanpa partitur semasa SD dulu. Ane bisa mainkan lagu ini dengan recorder hanya bermodal pendengaran ane. Selain itu, anime ini adalah awal dari titik balik ane setelah terpuruk setahun yang lalu. Sewaktu menonton ulang anime ini bareng keponakan, ane menangis. Ada beberapa episode yang bikin ane berpikir lagi soal hidup ane yang terpuruk. Ane juga kerap menangis saat lihat ending ini. Ane bisa membayangkan posisi Takuya, sosok anak kecil yang lagi pegang album foto di ending.

Ane pernah merasakan kejadian yang dialami Takuya semasa SMK. Bedanya, ane sering ditinggal keponakan ane hampir seharian penuh di saat ia masih membutuhkan kasih sayang ibunya. Ane juga merasakan tekanan yang sama sewaktu dititipkan keponakan ane. Rasanya ane ingin memaki kakak ane yang seenaknya pergi begitu saja membiarkan anak yang masih kecil di rumah seharian. Keponakan ane sering mengganggap ane itu sosok yang galak. Ane sering memarahi keponakan ane bila nakal dengan hukuman yang ane pelajari dari teknik parenting di internet. Anehnya, dia lebih dekat dengan ane dibandingkan dengan kakak ane yang notabene ibu kandungnya. Mungkin karena sejak kecil sering bareng sama ane. Entah itu dimarahi karena kenakalannya atau bermain di rumah bersama mereka.

Akachan to Boku memang menggambarkan tentang realita kehidupan dalam sudut pandang anak SD. Suatu hal yang jika ane berada di posisi seperti itu pun ane akan merasakan hal yang sama. Setelah menonton bareng sama keponakan hingga episode terakhir membuat ane sadar. Hidup itu ada pahitnya. Itu adalah hal yang tidak bisa terelakkan lagi. Kehidupan yang pahit itu tidak selalu menggeragoti kita. Hal itu akan terus menggeragoti kita selama pikiran kita hanya berpikir hal-hal yang pahit semata. Jadi, jalani dan ikhlaskan saja kehidupan yang sedang berjalan.

Ayumi Hamasaki – Voyage

Siapa yang tidak tahu dengan game Audition di Indonesia. Kadang diplesetkan jadi “ayobaper” karena kelakuan kids jaman now yang kerjaannya cuman menebar harapan palsu. Ane jadi ingat episode terakhir The World God Only Knows: Goddesses yang pas banget nyentil kelakuan anak zaman sekarang. Terjemahan kelewat bebasnya sih gini.

Kalo emang serius suka padaku, nikahi saja aku!

(Ayumi pada Keima saat hendak ditaklukkan untuk kedua kalinya)

Game daring di Indonesia itu masih berkesan sewaktu dulu. Gak banyak bocah, baper, dan orang-orangnya masih ramah. Ada tukang nipu dan orang rese pun jumlahnya gak banyak. Sekali terciduk pasti langsung tidak dipercaya lagi. Padahal game-nya itu masih terbilang standar untuk ukuran grafik. Contohnya Ragnarok yang bisa memikat jutaan pemain dari seluruh dunia hingga di Korea sendiri disebut sebagai salah satu game legendaris. Itu sebabnya ane bisa punya banyak kenalan dari komunitas gamer yang masih berhubungan sampai sekarang. Salah satunya Yanto, ketua guild ane dulu. Ternyata dia lumayan juga. Bisa ane comblangin sama temen ane yang masih jomblo :v

Ada banyak hal yang berkesan dari Audition. Namun hanya ada satu hal yang paling berkesan di antara semuanya. Bahkan teman terdekat ane di game pun, Iwa, selalu tahu setiap main bareng ujung-ujungnya request lagu ini.

Audition sekarang beda sama yang dulu. Bedanya ya ane gak merasakan keramahan dari pemainnya seperti dulu. Ane gak merasakan lagi kekeluargaan di dalamnya. Kekeluargaan yang bikin ane punya banyak kenalan dan masih berhubungan baik sampai sekarang. Contohnya Ajat si calon manajer yang akan menikah tahun depan, Aril si mahasiswa hukum womanizer, dan Aduy si DJ gahar yang setia kawan. Banyak kenangan dan relasi yang terbentuk dari pertemuan dalam game. Sayangnya hal sepele seperti itu jarang ane temui di kalangan gamer yang sekarang masih aktif main Audition bahkan game daring lain.

L’Arc~en~Ciel – BLESS

Ini satu-satunya video yang gak ada PV di YouTube dibandingkan semua video yang ane tautkan. Kebanyakan video yang ada di YouTube pun cover, konser, dan short version. Jadi ane cari salah satu yang paling menarik versi ane.

Kenangannya adalah hari ulang tahun.

Ane memang tertutup soal informasi tentang diri sendiri. Tidak hanya karena ane tidak ingin diperhatikan semata, tetapi ane lelah menjadi orang yang selalu berusaha menjadi pusat perhatian. Ane juga sudah terlalu banyak disakiti oleh orang lain jadi rasanya membuka kepercayaan bagi orang lain itu sulit.

Lagi-lagi ane menangis saat menulis bagian dari lagu yang memantik suatu kenangan. Ane menangis bukan karena sedih. Ane menangis karena masih ada orang yang memperhatikan ane. Ane memang tidak pernah mencantumkan ulang tahun pada akun media sosial pribadi ane. Ane hanya mencantumkan nama, jenis kelamin, dan username bila ada username. Tidak ada yang tahu wajah asli ane dari akun media sosial ane. Begitupun soal usia dan ulang tahun. Identitas ane di akun media sosial memang cenderung mirip akun palsu yang anonim dan sulit dilacak. Anehnya, ada saja orang yang ingat akan hari ulang tahun ane. Padahal ane sendiri tidak pernah menyebutkan hal itu ataupun bercerita langsung pada temen ane. Jika saat itu tiba, ada saja orang yang memberi ane hadiah. Notifikasi pun ramai dipenuhi oleh orang-orang yang sekedar mengucap selamat ulang tahun.

Ane ingat kejadian itu sewaktu kelas X. Ane pertama tahu lagu ini dari Willy. Saat itu ane lagi melakukan persiapan untuk Comfort, kompetisi tahunan yang digelar di SMK saat itu. Idenya bermula dari para penggemar DotA di ekskul jurusan yang pengen cari lawan tanding sebanding di sekolah. Kompetisi yang diadakan pun tidak hanya pertandingan DotA. Ada cerdas cermat, kompetisi pemrograman, desain grafis, dan lain-lain. Ia sering memutar lagu ini saat sedang melakukan persiapan untuk kompetisi yang baru pertama kali diadakan waktu itu. Ane ingat sekitar bulan Desember. Saat itu ane lebih sering pulang malam karena persiapan lomba yang tinggal menghitung hari.

Ane sering mengatakan bahwa ane itu weeaboo insyaf. Masa lalu ane terbilang berat dan hal itu menjadi salah satu yang bikin ane dalam kondisi yang “tidak sepatutnya ane ingat”. Hal yang kini ane rasakan terbalik sewaktu melihat keadaan teman-teman ane sekarang. Mereka malah bangga menunjukkan sisi weeaboo mereka di hadapan orang banyak. Hanya orang terdekat ane yang tahu ane itu demen Laruku, penyuka anime sekaligus drama Korea, seorang kutu buku yang doyan memasak, sering membuat cerita, dan mudah terpana dengan seorang lelaki dalam pandangan pertama. Tak ane sangka, salah seorang temen ane memberi kejutan seminggu sebelum hari ulang tahun: digital single Laruku yang tidak pernah ane harapkan sebelumnya. Lebih niat lagi, single Laruku BLESS yang baru saja dirilis.

Hal yang sepele bisa bermakna besar bagi orang lain. Seperti halnya sebuah kado ulang tahun yang merupakan barang asing bagi ane. Ane jarang mendapatkan hadiah dari orang lain. Entah itu saat ulang tahun ataupun hari biasa. Jangankan dari teman terdekat, dari keluarga pun nyaris tidak pernah. Menerima suatu hadiah yang tidak pernah ane bayangkan sebelumnya membuat ane sangat gembira. Itu sebabnya kita dianjurkan berkirim hadiah pada orang lain. Satu hal kecil pun bisa mendatangkan kebahagiaan bagi orang yang menerimanya.

Susumu Ueda – One Liter of Tears Main Theme

Berbeda dari Romance de Amour yang anonim, sebenarnya lagu ini tidak diketahui jelas judulnya. Judul yang beredar di dunia maya pun memang “One Liter of Tears Main Theme”.

Ingatan lagu ini adalah semua hal berkaitan dengan masa-masa aktif di DKM dan kelas VIII SMP. Semua itu adalah kenangan yang paling menyenangkan selama SMP. Benang merahnya: Ibay. Aktivis DKM masa itu yang juga temen sekelas ane. Kerjaannya muter lagu ini mulu mau pas presentasi DKM dan lagi diem di kelas.

Ane sudah ceritakan sekilas di bagian Romance de Amour soal SMP ane yang beda tipis dengan dapur Hell’s Kitchen. Banyak masa-masa yang tidak menyenangkan selama di sana. Satu hal yang sangat teringat jelas dari kenangan ane hanyalah masa-masa aktif di DKM dan kelas VIII. Keduanya menyisakan memori yang menyenangkan dalam ingatan ane.

Ane banyak belajar sewaktu berada di DKM. Ane ingat sulitnya ikut acara LDK di gunung Puntang yang salah satu posnya menyusuri sungai di sana. Ane ingat soal ane paling lemot dalam urusan setor hafalan. Pas sebelum setoran mah lancar eh pas waktunya setoran lupa lagi. Ane ingat waktu rebutan makanan pas lagi mabit. Lucunya orang yang paling kurus ternyata memiliki nafsu makan paling besar dibandingkan orang yang bongsor. Ane ingat masa-masa “berantem” dengan ikhwan sewaktu permainan “bisnis menjual kapal kertas”. Ane ingat kebersamaan yang terjalin di antara mereka. Kompak tanpa ada yang didepak. Siapapun kita diterima dengan baik di sana. Satu hal yang tidak pernah ane sadari adalah cerita tentang “si pejalan cepat”. Ia tahu ane sejak ane masih aktif di DKM. Ane tidak pernah tahu hal itu sebelum ia bercerita pada ane. Ane hanya kenal Ibay, Andre, dan Gesang dari divisi ikhwan yang notabene emang temen sekelas di kelas VIII. Kok bisa dia kenal sama ane? *bingung*

Begitu pun dengan kelas VIII. Bisa dibilang keadaan kelas ane beda tipis dengan kelas yang ada di Gokusen. Banyak kubu. Sering ada pergesekan antarkubu. Mudah dikenali posisi kubu A, B, dan C hanya melihat posisi tempat duduknya. Banyak di antara mereka yang ane kenali sebagai anak-anak nakal di sekolah. Hari pertama ane masuk kelas VIII pun sampai mikir gini.

Bakal kacau nih kelas. Bisa-bisa ane lagi jadi korbannya.

Seiring berjalannya waktu, pandangan ane tentang kelas VIII berubah. Ane beruntung punya wakil KM seperti Andre bijak dan bisa menyatukan semua murid. Berbanding terbalik dengan Ibay si KM yang lebih pasif saat menghadapi anak-anak cewek (soalnya dia itu gak bisa ngomong depan cewek). Anak-anak di sana tidak seburuk yang ane pikirkan. Kelihatannya anak metal (soalnya kebanyakan teman sekelas ane waktu kelas VIII itu fans berat Avenged Sevenfold, hampir tiap hari denger lagu A7X di kelas) tapi dalamnya baik. Selama kita nyapa duluan ya mereka bakalan nyapa balik. Adanya mereka malah nyuruh ane jangan jadi anak yang pasif mulu. Ane baru tahu setelah ada sesi girls talk pas waktu perpisahan kelas VIII di gunung Gede-Pangrango. Sampai sekarang pun masih berhubungan baik dengan mereka. Khususnya lingkaran pergaulan kecil satu jajaran semasa kelas VIII. Ada Ndit si dokter fujoshi yang belum tobat, Rini yang masih selalu membawa keceriaan, Pucur yang masih tanpa ekspresi *senyum dikit napa sih .-.*, Salma yang masih jadi korbannya Ndit, dan Anis yang masih jadi penengah di antara kami semua.

Kemarin lagu terakhirnya bikin nangis eh sekarang suasananya malah lebih ceria. Benar kata orang bijak. Hidup itu kadang di atas kadang di bawah. Kadang pahit kadang manis. Hal itulah yang mewarnai kehidupan seseorang. Apapun yang sudah terjadi ya biarkan berlalu. Jangan sampai kita terus tenggelam dalam kenangan masa lalu namun lupa akan kehidupan masa kini.

Setitik Lagu dari Kenangan

Kemarin ane pernah nulis tentang semua lagu yang gak sengaja nemu dari osu lalu berakhir di koleksi ane dan tempat game arcade. Salah satu yang menarik dari lagu yang tidak disengaja itu adalah … serius Pump It Up pakai lagu Ayu Ting-Ting?

^ sumfeh ane kagak tahu soal ginian, soalnya mesin Pump It Up yang di Bandung kebanyakan bukan mesin tipe ini!

Ane mungkin orangnya terlalu melankolis dan gampang baper. Kata orang. Setiap lagu memiliki kenangan. Biarpun ane gak sengaja denger, ane bisa merasakan setitik ingatan itu terpelatuk kembali hingga ane bisa merasakan emosi yang ane rasakan saat itu. Sekuat apapun ane berusaha melupakan ingatan, entah baik atau buruk, apabila ane berhubungan dengan semua yang ada di masa itu pasti emosi itu kembali ane rasakan. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Menurut ane, inilah lagu-lagu dengan emosi dan ingatan yang paling kuat ane rasakan.

Chemistry – Your Name Never Gone

Sudah berulang kali ane katakan bahwa ane itu weeaboo insyaf. Ya sampe SMK ane terkenal sebagai seorang weeaboo yang bisa dibilang oon. Jangan heran kalo ketemu nick game kontroversial, selalu oon, itu ane. Kenyataannya ane lebih sering berada dalam mode oon daripada mode cerdas.

Kenangan dari lagu ini adalah ini lagu dari CD rusak yang sering diputar kakak ane di rumah semasa SD. Sekitar kelas 5 – 6 SD. Hal yang ane ingat dari CD itu adalah lagu ini meskipun kedua kakak ane lebih seneng lagu ini dari semua lagu yang ada dalam CD.

Ane ingat sewaktu SMP belajar encode lagu (dan ane baru sadar pas nulis tulisan ini) buat presentasi tugas SMP. Untung aja ada lagu yang versi instrumentalnya buat pengiring slide sewaktu presentasi. Ya akhirnya ukuran file malah bengkak hampir 100 MB gara-gara kontainer WAV yang ukurannya sendiri besar. Pantesan aja orang-orang lebih demen simpan file audio dalam format MP3 (dan sayangnya sekarang sudah almarhum) dan OGG yang memiliki kualitas bening dengan ukuran file lebih kecil.

xi – Sedap Malam

Ini adalah nukilan video YouTube yang paling sering nongol di jurnal ini. Bahkan ada satu cerpen yang berakhir miris dan idenya berasal dari lagu ini.

Lagunya pun memiliki emosi yang senada dengan cerpen ane, Sedap Malam. Lagu ini memang memiliki banyak kenangan terutama saat kuliah. Ane inget nemu lagu ini pas lagi ngerjain tugas kompen data mining. Ane inget tugasnya itu disuruh cari database Netflix Prize untuk dipelajari. Memang sih ane emang agak oon. Konsep data mining yang harusnya satu semester disuruh dikerjakan dalam waktu seminggu. Mau gak mabok dengan data yang besarnya hampir 1 GB itu coba. Satu minggu belajar materi yang harusnya satu semester ditambah analisis data dalam waktu singkat di saat mahasiswa lain lagi enak-enak liburan … itu tugas kompen yang greget.

Ane memang seneng Diverse System, salah satu doujin EDM, sewaktu kuliah. Di antara semua komposernya, ane paling suka xi sama sakuzyo. Emang lagu barat kekinian aja yang bisa EDM? Doujin Jepang aja udah seangkatan sama DJ Eropa dalam masalah EDM. Di antara semua hasil kerjaannya xi, ane paling suka Sedap Malam. Apa mungkin karena bisa jadi semacam BGM semasa kuliah yang menemani tugas data mining? Rasanya ane kangen dengan suasana sepi lorong jurusan dengan Ibu Oneng dan geng kucing yang hilir mudik menghibur.

Romance de Amour

Jika sebelumnya agak-agak galau, ini adalah pengalaman yang … lupakan saja. Berkaca pada kasus Ikki yang gara-gara jatuh cinta jadi persahabatan putus total, ane lebih menutup hati pada cowok yang semasa kuliah banyak mendekati ane.

Mulanya ane biasa aja denger lagu ini. Ane tahu lagu ini yang sering banget jadi BGM di Autumn in My Heart. Pas SD pun ane belajar lagu ini gara-gara overdosis drama Korea. Salah satu dari drakor yang jadi bagian dalam tetralogi Endless Love adalah adanya BGM lagu klasik yang menggambarkan tema utama dari setiap bagiannya. Untuk Autumn in My Heart sendiri lagu utamanya adalah ini.

Sebenarnya ada cerita versi panjangnya di buku harian ane. Ane singkat saja demi menghemat tulisan di bagian lain.

Ane dulu sekolah di salah satu SMP negeri rasa Hell’s Kitchen di kota Bandung. Bukan hiperbola. Kenyataannya memang begitu semasa ane SMP. Saat itu ane sering ketemu seseorang yang selalu jalannya cepat setiap kali ane pergi ke kantin sekolah. Ane tahu siapa dia. Yaiyalah ane sering inget orang-orang yang unik seperti si mamih Aisya. Ane selalu mengamatinya dari jauh namun dia gak kenal ane. Ane tahu dia itu anak kelas VII-G, badannya tinggi besar, jalannya cepat, dan lebih tinggi dari ane. Ah itu masa-masa SMP jadi langsung loncat aja. Males ane inget-inget zaman masih SMP selain kegilaan mamih Aisya, ingatan kelas VIII, dan guru-guru nyentrik macam Pak Dindin dengan kepala setengah botak super kinclong pake amplas jadi makin silau.

Pas jadi maba, ane dikasih tugas sama kakak tingkat buat wawancarain setiap kakak tingkat yang ketemu di jurusan. Ane memang sengaja menghindari semua orang yang ane kenal soalnya ntar malah jadi licik. Gara-gara hasutan sesat si Amir, partner-in-crime semasa SD yang saat itu jadi kakak tingkat, jadilah ane melanggar janji ane. Ane kudu kejar Ijul (untung Ijul masih sama seperti dulu, masih cowok kalem idaman wanita yang baik hati), Apul, dan Alif yang ngehenya minta ampun. Di saat ane harus mengejar F4 kelas K zaman SMK, minus Tekun si ganteng murah senyum yang saat itu kerja di Jakarta, takdir mempertemukan ane dengan “si pejalan cepat” itu lagi. Itu sebabnya lagu ini memiliki kenangan. Dia sedang memainkan lagu ini dengan gitarnya di selasar jurusan. Nickname-nya di himpunan: wyx XXVII.

Dia itu adalah sahabat Ndit, dokter fujoshi yang juga temen ane sewaktu kelas VIII. Ane sering bertemu dengan dia di waktu dan tempat yang salah. Seringnya ketemu pas mau sholat di mushola jurusan dan waktu kompen. Dia sering menyemangati ane saat ane harus membayar hukuman pengganti kehadiran di kampus akibat penyakit kambuhan yang sering ane derita. Singkatnya: maag, stres, dan tipes. Ane juga sering ngerepotin dia selama menjadi penghuni kampus pada musim liburan.

Dia memang sedikit aneh di mata ane. Ane bisa merasakan lelaki yang tertarik dengan ane atau biasa saja hanya dengan bahasa tubuhnya. Itu sebabnya ane lebih sering menjaga jarak dari dia semasa kuliah. Selama ini ane berpikir bahwa ane itu adalah tipikal karakter kerumunan yang tidak menonjol semasa SMP. Ane tahu saat pertama kali ngobrol dengan dia: sebenarnya ia tahu ane itu satu angkatan dengannya semasa SMP. Ane ingat kalimat pertama yang ia ucapkan saat itu.

Asa wawuh. (baca: kayaknya kenal deh, bahasa Sunda) Dulu sekolah di SMP Negeri x ‘kan?”

Ane tahu jika ane benar-benar jatuh cinta dengan seseorang, ane tidak bisa melihat matanya. Ane juga selalu berusaha untuk pergi saat berada di dekatnya. Sekujur badan ane gemetar tidak karuan saat berada di dekatnya. Ane pun lebih menutup diri agar tidak seorangpun tahu orang yang ane sukai termasuk orang itu. Ane tidak mau kejadian seperti Ikki terulang lagi. Persahabatan yang putus akibat cinta. Ane juga tidak berhak untuk memikirkan seseorang yang bukan hak ane.

Ini adalah salah satu dari hal terlarang bagi diri ane. Ane tidak ingin terbelenggu oleh pikiran yang salah untuk kedua kalinya.

Ari Lasso – Hampa

Jujur. Saat ane menulis bagian sebelumnya, ane memang menangis. Ane menangis karena selalu teringat perasaan yang muncul di saat yang salah. Bagian berikutnya ini juga kerap membuat ane menangis.

Ane bukan menangis karena liriknya. Ane menangis ketika mengingat perjuangan seorang ayah untuk anak dan keluarganya.

Ane ingat saat itu ane masih SD. Ane ingat mobil Kijang LGX silver metalik berplat D 1189 EM yang penuh kenangan kini sudah berpindah tangan pada pemilik lain. Ane ingat harus bangun pagi-pagi sekali. Seusai subuh ane harus berangkat. Rutinitas setiap hari yang ane lalui di mobil dengan Babeh sebagai supirnya. Ane ingat saat itu ane selalu berangkat bareng Mba Dina, kakak kedua ane yang saat itu masih kuliah. Babeh saat itu masih bekerja di Bandung. Rutinitas itu terus dilakukan hingga kakak ane wisuda, tepat saat ane kelas XI. Saat itu pula ane ditinggal dengan kakak tertua ane, Bubu. Babeh dipindahtugaskan ke Merak sesaat setelah kakak ane wisuda.

Babeh sering banget memutar kaset di mobil. Mulai dari Koes Plus, D’Lloyd, The Mercy’s, Carlos Santana, Blue, hingga Ari Lasso. Ane ingat kaset Ari Lasso itu milik Bubu yang disimpan di mobil. Ane ingat sewaktu kelas 6 SD ane harus menunggu di pos satpam tempat les. Biasanya Babeh selalu menjemput setelah pulang sekitar jam 5 sore. Saat itu Babeh tak kunjung datang hingga adzan Maghrib tiba. Satpam yang menemani ane pun berusaha menghibur ane yang menunggu sendiri di luar gedung tempat les yang sudah ditutup. Di saat hujan turun dan satpam hendak pulang, Babeh pun datang lalu meminta maaf. Lagi-lagi lagu Ari Lasso menyambut ane saat berada di dalam mobil.

Babeh yang ane kenal sekarang berbeda dari Babeh yang ane kenal dulu. Babeh sekarang sering uring-uringan. Bukan Babeh konyol yang sering ane jadikan referensi karakter ayah konyol pada cerita-cerita ane. Kadang ane berpikir semua itu karena ane. Ane rindu Babeh yang seperti dulu. Babeh yang tidak pernah lelah untuk mengantar anak-anaknya sekolah dengan senyuman dan pulang kerja dengan ceria. Saat yang paling bahagia sewaktu ane kecil hanya dua: jam anime kesukaan sudah tayang dan saat deru mobil datang memasuki garasi rumah pertanda Babeh sudah pulang. Ane rindu waktu setiap bulan pergi ke Gramedia untuk membeli buku baru. Ane rindu dengan suasana rumah yang hangat kala Babeh pulang kerja. Ane rindu dengan gambar kereta api yang selalu Babeh buat untuk menghibur ane.

Kini Babeh sudah pensiun. Semua ini belum terlambat. Ane masih memiliki kesempatan agar mengembalikan senyuman Babeh seperti dulu kala.

Ane pikir bakal menulis daftar yang panjang. Ternyata membahas kenangan dari empat lagu saja sudah membuat ane cukup emosional hingga menulis penjelasan lebih banyak. Ane bakal melanjutkan tulisan ini pada bagian berikutnya selagi ane menenangkan diri gara-gara Romance de Amour dan Hampa. Ane memang menulis setiap bagian sambil mendengarkan lagu yang ane ceritakan pada bagian tersebut. Jadi, sampai jumpa di bagian berikutnya.

Hari Patah Hati Nasional dan Keberanian Cowok

Hari Patah Hati Nasional sudah lama berlalu. Baru saja berlalu Hari Patah Hati Internasional. Pertanyaannya, kok bisa ada hari seperti itu?

Raisa adalah idaman sejuta cowok di Indonesia. Siapa yang tidak kenal biduan cantik yang mulai dikenal semenjak iklan Sunsilk ini?

Memang semenjak masih pacaran dengan Keenan Pearce, Raisa memang menyedot perhatian. Sayangnya para jejaka yang semula mengidolakannya mendadak jadi haters berjamaah semenjak Raisa dipinang oleh Hamish Daud. Harapan para cowok pun kini hanya menyisakan tiga orang. Isyana yang bersiap ke Inggris untuk menghadiri MTV Europe Music Awards, Chelsea Islan si cantik berbakat yang bikin para cowok gemes, dan “saudara kembar Isyana” dari ranah dangdut koplo, Via Vallen.

Nah, kalo cowok itu hatinya potek gara-gara Raisa nikah. Cewek hatinya potek gara-gara Song Joong Ki menikah. Kok bisa ya belakangan ini rame tagar dan status patah hati berjamaah di internet? Lebih hebat dari cerita Mister Gepeng yang nyebar berjamaah padahal zaman dahulu internet belum dikenal.

Kebanyakan anak muda zaman sekarang pengen menjalin hubungan yang enak tapi diajak serius ogah. Beda ceritanya kalo dapet jodohnya perwira polisi dan tentara. Soalnya polisi sama tentara memang gak boleh nikah sampe pangkat tertentu. Banyak kasus yang viral di dunia maya atau di infotainment. Pacaran lama tapi ujung-ujungnya nikah sama orang lain. Contoh yang baru saja terjadi ya ceritanya Laudya Cynthia Bella. Pacaran sama orang tapi ujung-ujungnya nikah sama bangsawan Malaysia.

Kok bisa kayak gitu?

Pertama, ngikutin pola artis barat. Kebanyakan artis barat memang pacaran dulu sebelum ke tunangan apalagi menikah.

Kedua, pacaran itu buat mengenal pasangannya. Nah, ini alasan yang dipake para cowok buat kasih kode cewek.

Ketiga, cewek itu butuh aksi nyata. Contohnya aja para cowok nekat yang ikut acara reality show Katakan Cinta 15 tahun silam. Banyak para pejuang cinta yang nembak ceweknya pada masa itu yang akhirnya berlabuh di pelaminan dan langgeng.

Bagaimana caranya biar gak terulang lagi hari patah hati nasional? Caranya ya beri aksi nyata. Ane memang masih awam dari dunia cewek. Ane bakal cerita sedikit tentang dunia cewek biar ada keberanian.

Cewek itu fantasinya aneh-aneh. Mulai dari ngidam cowok-cowok roti sobek aka six pack sampe ngarep punya kehidupan rasa Disney Princess. Sebenarnya mereka berkhayal seperti itu gak cuman dari pengaruh literatur yang mereka baca di majalah cewek. Sebenarnya itu kode.

Cewek itu memang suka cowok tampan. Kenyataannya cowok mapan lebih memikat. Jangan coba-coba ajakin cewek ke jenjang yang lebih serius tanpa modal. Cewek itu gak suka dengan tipe cowok buaya buntung alias gak modal. Carilah pekerjaan yang lebih nyaman. Tapi kudu inget jadi cowok itu harus punya pendirian. Mentang-mentang udah mapan masa mau diporotin gitu aja. Cewek yang kayak gitu ke laut aja terus cari yang lain.

Cewek gak suka dengan cowok yang basa-basi busuk tanpa realisasi. Buktikan ucapan yang dilontarkan di hadapan si cewek. Tidak usah menebar harapan palsu atau membual ketinggian. Gak usah malu dengan kondisi diri sampe berbohong segala di hadapan cewek. Belum nikah aja udah banyak berbohong apalagi kalo udah nikah?

Pantaskan diri sebelum meminang si doi. Belajar dari hal yang sederhana seperti sopan santun. Masa iya meminang anak pengusaha sama bangsawan tapi kelakuan kayak preman? Asah kemampuan yang bikin nilai tambah di mata si doi apalagi keluarganya. Tapi inget kudu tulus melakukannya dan bukan untuk pencitraan semata. Biasanya kalo orang tua si doi udah ngasih lampu hijau sering ngomongin soal cowok. Terus orang tua si doi pasti ngasih kode terus.

“Eh mana si dia? Kok gak ke rumah lagi?”

Pelajari juga hal-hal penting mengenai keluarganya. Orang banyak yang bilang soal anak perempuan pasti deket sama bapaknya. Taklukkin dulu bapaknya baru anaknya. Jika ada syarat aneh-aneh yang diberikan si bapaknya, lakukan saja jika syaratnya tidak memberatkan. Cowok yang bisa memikat hati orang tua si doi itu dapat nilai tambah di mata si doi. Malah bisa jadi cepet diresmikan soalnya keluarganya udah gak sabar banget pengen lebih dekat sebagai menantu. Contohnya cerita temen ane, Rina. Suaminya sekarang gak perlu waktu lama buat menikahinya. Berhubung kedua keluarganya sudah klop makanya minta cepat diresmikan. Gak sampe tiga bulan kok proses dari kenalan sampe nikah. Sekarang udah 10 bulan menikah ditambah Rina lagi hamil 7 bulan.

Selama ini cowok selalu bilang cewek itu gak peka, sebenarnya malah kebalik. Cewek itu butuh seseorang yang bisa menerjemahkan setiap kodenya dengan tepat. Tidak perlu butuh waktu yang lama untuk memahami seorang cewek selama kita mau membuka hati dan pikiran untuk lebih mengenal mereka. Cewek itu gak selalu butuh pangeran tampan berkuda putih yang datang di saat yang tepat. Cewek juga butuh seorang komedian, figur ayah, bos, hingga sahabat yang bisa berbagi suka duka bersama.

Jika cowok sudah memiliki amunisi yang cukup untuk menggaet si doi, segera lakukan sebelum keambil orang. Cewek sekarang lebih berorientasi “siapa cepat dia dapat” lho. Jangan lupa pikirkan matang-matang soal usaha kita. Cewek yang dikeceng itu cewek yang tepat ato malah gak sama sekali buat digaet. Minta saran pada orang yang lebih paham soal ini seperti orang tua, kakak, adik, atau sahabat dekatnya. Sebagai cowok pun harus belajar jadi pribadi yang fleksibel jika ingin hubungannya langgeng hingga maut memisahkan. Cowok harus belajar sabar, mengalah, dan pengertian. Emang cewek doang yang kudu belajar hal-hal seperti itu?

Udah siap meminang cewek? Awas. Ntar malah jadi hari patah hati nasional berikutnya. Cowok yang jantan itu langsung aksi utarakan perasaan pada si doi. Urusan diterima ato ditolak belakangan.