Awas, Lingkungan Kita Beracun!

Tunggu. Maksudnya beracun di sini beracun yang emang bener ada racunnya ‘kan? Iya. Ane ngomongin soal lingkungan kita yang tercemar.

Apa ini clickbait? Gak. Ane emang mau bahas soal lingkungan beracun.

Perlu ane jelaskan sebelum curhat panjang lebar dikali tinggi mengenai masalah ini. Ane mau cerita soal racun dalam lingkungan kita. Racun yang kita kenal ada dua jenis.

Pertama, racun yang jelas secara fisik. Contohnya racun tikus, polusi, limbah B3, dan kopi Vietnam campur sianida ala chef Jessica.

sumber: Web Top News

maaf, saya sudah insyaf jadi tolong doakan saja yang terbaik 🙂

Kedua, racun yang tidak jelas secara fisik. Contohnya adalah emosi negatif, lingkungan pergaulan tidak sehat, dan doktrin-doktrin buta tanpa landasan jelas menganggap dirinya yang paling benar.

Berhubung udah banyak tulisan bahas racun yang pertama, ane mau sentil soal racun yang kedua.

Adik ane, si Rifnun, sering curcol soal kebiasaan bangsa ini yang gak akan bisa maju-maju. Ada banyak faktor yang bikin bangsa ini gak maju. Salah satunya ya lingkungan terkecil kita itu beracun. Gak cuman racun berasal dari aktivitas rumah tangga seperti bakar sampah seenak jidat atau limbah industri dari pabrik dekat rumah kok. Ada racun yang berwujud dalam bentuk KDRT. Ada racun yang berbentuk lingkungan seperti “kejebak dari lahir” tinggal di kawasan preman ato prostitusi. Ada racun berbentuk debat kusir tiada henti urusin politik tanpa aksi nyata. Ada yang berwujud fanatisme buta menganggap dirinya yang paling benar. Padahal seinget ane, fanatisme itu malah dilarang oleh agama. Ada yang berwujud secara pelan-pelan seperti pengaruh teman sebaya.

Nah, bagaimana cara kita mengatasinya? Sama aja kok kayak penanganan racun dan limbah pabrik. Pilah, olah, lalu buang dengan baik tanpa merusak lingkungan. Jangan lupa dengan AMDAL, penataan pusat pengelolaan limbah yang baik, pemeliharaan rutin, kurangi penggunaan racun yang dirasa gak perlu, dan gantilah yang lebih baik bagi diri kita juga lingkungan kita.

Apa aja sih pertanda dari lingkungan kita yang mulai beracun? Ane jelaskan dalam poin-poin singkat.

  1. Hal sepele lumrah dibicarakan.
  2. Lebih banyak mulut daripada telinga apalagi di lingkungan terdekat kita.
  3. Semua orang selalu memandang kita salah tapi kita tahu salahnya di mana. Mereka juga gak mau ngasih tahu apalagi ngasih solusi agar kita jadi lebih baik.
  4. Semua yang salah jadi lumrah. Contohnya ya ibu-ibu yang doyan bergosip ria.
  5. Lelucon yang tidak sepatutnya. Lucunya itu bisa dibilang lebih menjurus pada tindakan sarkasme yang merugikan orang lain.
  6. Merasa dirinya lebih baik dan tidak mau terbuka dengan kritik/saran.
  7. Banyaknya kekerasan baik secara fisik maupun lisan.
  8. Rumah berasa hidup di zaman penjajahan. Niatnya pengen santai eh malah jadi kerja rodi dan romusha.
  9. Banyak hal yang tidak baik dilihat oleh mata. Contohnya ya … sebutin gak ya?
  10. Lebih banyak nyinyir daripada apresiasi apalagi bantuin. Contoh nyatanya adalah para ilmuwan yang sekolah di luar negeri namun enggan balik lagi gara-gara itu.
  11. Potensi baik dipangkas lebih pendek daripada bonsai.
  12. Semua hanya melihat dari sisi negatif jadi secara tidak langsung membentuk pola pikir yang negatif akan suatu peristiwa. Contohnya adalah proporsi berita di televisi yang lebih banyak negatif daripada positifnya.
  13. Perdebatan menjadi kebutuhan primer yang sama pentingnya seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Kenapa ane bilang semua ini beracun? Paling banyak yang nyinyir gak masalah. Efeknya itu paling kerasa apabila kita terjun langsung ke masyarakat, bagi pertumbuhan anak-anak, dan beberapa tahun mendatang. Ane pernah lihat video viral tentang seorang anak kecil nonton acara dangdutan dalam sebuah pesta pernikahan. Ia berada tepat di bawah panggung saat si penyanyi dangdut bergoyang seronok hingga memperlihatkan pakaian dalamnya. Bagi warga itu hal yang lumrah. Tapi gimana dengan si anak kecilnya? Apa udah gedenya dia jadi anak yang mesum ato lebih ekstrim lagi jadi *maaf* penjahat kelamin? Generasi micin dan kids jaman now yang jadi sindiran di internet pun ya salah satu faktornya adalah lingkungan yang beracun tadi.

Nah, kita sudah coba berusaha. Bagaimana kalo kita sudah berusaha tapi gak ada perubahan? Jangan bersedih. Tuhan bersama kita kok. Kita tetap sabar. Pas ada kesempatan, kita minta bantuan pihak ketiga yang benar-benar netral untuk membantu menangani masalah kita. Biar kita ada dukungan secara moral, spiritual, dan mental agar tetap tegar memutus mata rantai lingkungan beracun itu. Jangan sungkan buat curhat ke teman terdekat. Jangan sungkan mengadu pada konselor, terapis, psikolog, pemuka agama, bahkan pihak berwajib mengenai masalah kita. Harus tetap konsisten untuk berubah biarpun kecil. Itu lebih baik daripada diam dan membiarkan keburukan begitu saja. Toh kebaikan itu menyebar seperti wabah penyakit. Biar kecil tapi bisa berdampak besar bagi lingkungan kita bahkan kemajuan suatu bangsa.

Ini bukan zamannya lagi kita hidup di lingkungan yang beracun seperti sekarang. Ini saatnya kita bangkit agar jadi lebih baik. Tetap ingat mulailah dari diri sendiri dengan hal-hal kecil yang bisa kita lakukan saat ini juga.

Iklan

Memandang Alay dari Bawah Bukit

Sebenarnya itu permainan kata dari lirik lagu Pemandangan.

Memandang alam dari atas bukit…

Jadi ane bakal cerita tentang fenomena 4l4y. Bukan tentang “apa sih 4l4y?” melainkan ya “kenapa sih 4l4y?”. Mending kita tanya Lolita dulu sebelum mulai.

Kata Lolita dalam lirik lagu Alay,

Alay adalah anak layangan suka kelayapan dilihatnya jijay.

Alay itu singkatnya adalah orang yang tinggal di diskotik. Bukan diskotik dalam artian secara literal melainkan di sisi kota saeutik. Mun teu ngartos basa Sunda mah kieu. Singkatnya orang 4l4y itu adalah penduduk yang tinggal di pinggiran kota. Alasan mereka disebut “anak layangan” pun masuk akal juga. Rata-rata orang yang tinggal di kawasan tersebut memiliki warna kulit cenderung lebih gelap dibandingkan penduduk kota umumnya akibat terkena sengatan matahari.

Jauh sebelum istilah 4l4y mulai naik daun di awal tahun 2010 (kalo gak salah sih lagu Alay juga tenar pas masa itu), kita sudah mengenal kata-kata yang berkonotasi serupa. Tiap masa memiliki kosa kata unik tersendiri. Ane cuman tahu kampungan, norak, kamseupay, katro, ndeso, dan udik.

Melihat Alay dari Film

Benar kata salah satu kritikus film mengenai film adalah produk budaya. Film dapat mencerminkan potret dari kehidupan di suatu masa secara akurat. Mulai dari latar belakang sosial, budaya, politik, hingga fenomena lazim yang ditemukan di masanya. Contoh paling jelasnya adalah kartun Scooby Doo. Ciri khas dari kartun ini benar-benar menggambarkan suasana yang lumrah ditemukan di era tahun 60-an. Mulai dari gaya berpakaian Mystery Inc, peralatan yang digunakan, cara mereka menggambarkan suatu masa, hingga budaya-budaya populer yang tersemat di dalam setiap episodenya.

sumber: Fanpop

yaiks! *sambil ngacir pas liat hantu*

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Fenomena 4l4y mulai berakar dari era keemasan film Indonesia, era 80-an. Pada masa itu banyak bermunculan karakter-karakter yang terindikasi mengalami gejala kampungan. Contohnya beberapa karakter yang diperankan oleh Ida Kusumah. Siapa yang tidak kenal artis yang satu ini? Semasa hidupnya beliau membintangi banyak judul film dan sinetron. Beliau identik dengan peran-peran yang selalu bicara dalam dialek Sunda.

sumber: Liputan 6

hebring euy!

Salah satu karakter yang paling ane inget itu pas beliau membintangi karakter ibunya Vera dalam film Catatan Si Boy IV. Ane ingetnya bukan karena logat Sunda nu kentel. Karakternya itu mentang-mentang suaminya OKB aka orang kaya baru, eh tingkahnya malah … singkatnya ya kayak ada orang kampung yang baru nemuin emas segepok jatuh dari langit.

Orang Kampungan versus Orang Kotaan

Jujur ane paling kesel sama orang kota. Soalnya mereka selalu menciptakan pembicaraan aneh-aneh yang berlagak sok keren padahal sama-sama 4l4y juga. Bedanya mereka selalu memandang orang lain yang “lebih rendah” secara status dari mereka dengan julukan yang ya biarkan saja mereka berkata apa.

Harusnya gak gitu-gitu juga kalee. Mentang-mentang status sosial lebih baik malah seenak jidat menjuluki anak orang. Toh Tuhan juga gak pernah menilai orang dari status sosial. Tuhan hanya melihat seseorang dari amal ibadahnya semata.

Biang Keroknya 4l4y

Soalnya kalo gak ditangani adanya malah bikin malu diri kita sendiri. Anggap aja kayak orang penderita chuunibyou aka sindrom-delusi-kelas-delapan-dengan-khayalan-gak-jelas yang sudah insyaf eh aibnya dibuka lagi.

Sebenarnya ada satu kata yang menggambarkan secara garis besar fenomena 4l4y yang makin ke sini makin menjadi-jadi.

Kesenjangan

Apa itu kesenjangan? Ane kutip dari KBBI versi luring.

ke·sen·jang·an n 1 perihal (yg bersifat, berciri) senjang; ketidakseimbangan; ketidaksimetrisan; 2 jurang pemisah:- antara si kaya dan si miskin semakin lebar

Kesenjangan di sini gak cuman soal ekonomi. Pendidikan juga perkembangan teknologilah yang juga menjadi akar dari kasus 4l4y.

Pas ane nulis ini, ane sambil nonton Si Badung di TV kabel. Film anak-anak yang menceritakan sekelompok anak badung tapi banyak kalimat-kalimat yang menyentil kehidupan di masa sekarang. Mulai dari anak-anak yang tidak mau belajar terus maunya main-main aja hingga guru yang lebih menjurus pada karyawan daripada sebagai seorang pendidik. Pantesan aja di masa itu film ini panen nominasi FFI. Ternyata hal yang disentil dalam film lawas ini malah kejadian di masa sekarang.

Akar dari fenomena 4l4y ini adalah era Pak Harto di masa Orde Baru. Tepatnya di awal era 80-an yang menjadi puncak dari kemajuan perekonomian Indonesia. Siapa sih yang gak kenal dengan meme ini?

sumber: meme Indonesia

uena’e zamane bapake toh

Memang hidup di Orde Baru itu emang gak enak. Semua serba dibatasi termasuk kebebasan untuk mengutarakan pendapat. Tapi di sisi lain hidup di Orde Baru enak di mata generasi di atas orang tua kita. Perekonomian Indonesia stabil. Swasembada pangan. Keamanan terjamin. Orang miskin masih bisa makan enak dan tidur nyenyak. Banyak kebijakan Pak Harto yang bikin masyarakat kesel seperti kasus petrus aka penembakan misterius. Tapi ada juga kebijakannya juga yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Salah satunya ane baru tahu kalo Pak Harto sempat melarang lagu-lagu mellow galau mendayu-dayu di akhir tahun 80-an. Alasan beliau pun sederhana: bikin orang Indonesia gak produktif. Liat aja anak muda zaman sekarang. Contohnya cewek aja. Mereka mudah baper apalagi terlena fantasi cogan drakor, novel di Wattpad, sama webtoon.

Ane pernah baca satu tulisan opini yang dibukukan di perpustakaan. Salahnya Indonesia pada masa itu adalah terlalu cepat melakukan pertumbuhan ekonomi tapi tidak diiringi dengan pertumbuhan sumber daya manusianya. Ah kata siapa? Orang-orang zaman dulu lebih pinter kok. Cuman ya karena itu tadi. Mentang-mentang liat emas segepok jatoh dari langit, orang Indonesia malah terlena dan enggan untuk belajar. Akhirnya ilmu di sekolah jadi pepesan kosong. Mereka lebih seneng hedon daripada belajar.

Toh ngapain juga capek-capek belajar kalo duit dan kestabilan ekonomi udah ada di depan mata, pikir kebanyakan masyarakat kita pada saat itu.

Mereka gak sadar pola hidup seperti itu tertanam di alam bawah sadar dan memperparah kondisi mereka ketika pemerintahan Orde Baru jatuh di tahun 1998. Ane jadi inget lelucon temen-temen sekelas ane pas zaman SMK. Berhubung di sana cowok-cowoknya malah lebih rajin ngegosip daripada anak-anak ceweknya ya ane tahu dikit lah lelucon mereka.

Kadé mun cari awéwé geulis. Gayana wé hadé tapi imahna nyungsep dina gang.

(terjemahan bebasnya: cewek itu gayanya doang selangit padahal rumah di gang senggol)

Kebanyakan orang Indonesia itu pola pikirnya begitu. Paling yang tidak terkontaminasi parah itu di pedesaan dengan kondisi alam sulit nan indah dan lekat dengan budaya mereka yang religius.

Di Bandung sendiri ada istilah “diskotik”. Bukan diskotik tempat dugem ye. Diskotik itu sebenarnya singkatan yakni di sisi kota saeutik. Maksudnya adalah pemukiman rural yang berada di tepi perkotaan. Biasanya penduduk yang tinggal di sana adalah pendatang yang sulit mencari tempat tinggal di kota akibat harga tanah perkotaan yang mahal. Mereka ingin hidup layaknya orang-orang kota. Tapi ya apa daya. Secara ekonomi tidak begitu baik, pendidikan rendah, dan diperparah dengan pola pikir “gaya aja dulu, isi otak belakangan”. Akumulasi dari hal-hal itulah yang menjadi biang kerok merebaknya fenomena 4l4y.

Parahnya lagi mereka bangga dengan status itu. *tepok jidat*

Hidup di Kota Bak Kura-Kura yang Mengejar Kelinci

Eits, kata siapa cuman orang miskin yang bisa 4l4y? Orang kaya juga bisa keles. Contoh yang seperti ini banyak ditemukan dalam sinetron. Salah satunya ada dalam sitkom OKB yang pernah tayang di Trans7 beberapa tahun silam. Sesuai dengan judulnya, sitkom OKB memang menceritakan kehidupan tentang “orang kaya baru”. Gegar budaya yang dialami oleh keluarga Parto menjadi fokus utama di setiap episodenya.

Sitkom OKB masih memperlihatkan sifat kalem dari orang kaya baru. Versi lebih ekstrimnya? Coba sesekali lihat film Lenong Rumpi 2. Pindah rumah ke komplek elite aja kudu ritual keliling satu komplek. *gubrak*

Ane inget lagi lelucon di internet. Kali ini adalah tips membedakan orang kaya beneran dan orang kaya “jadi-jadian”.

Orang kaya beneran itu gak bakal bicarain kekayaan mereka di luar komunitasnya. Mereka sebisa mungkin tampak merendah di hadapan orang lain karena tidak mau dicap pamer apalagi sombong.

Orang kaya “jadi-jadian” itu selalu membanggakan kekayaan mereka di hadapan orang lain. Sifat itulah yang membuat mereka dianggap sebelah mata di antara masyarakat umum apalagi orang kaya beneran.

Contoh yang ane inget itu temen sekelas ane pas masih ngampus dulu, Diaz. Keturunan Tionghoa asal Subang yang bisa dibilang cuek bebek. Gayanya biasa aja padahal orang tuanya adalah orang kaya. Biar dia punya mobil sendiri dan bisa pergi ke kampus bawa mobil, dia lebih sering nebeng motor temennya ato bawa motor sendiri. Dia baru bawa mobil kalo pulang ke Subang ato disuruh anak-anak buat angkut keperluan kelas. Waktu itu ane ngobrol sama dia kalo sebenarnya dia itu orangnya gak suka hedon. Orangnya nyante aja berasa kayak bukan orang tajir.

Sayangnya pola pikir orang-orang golongan menengah ke bawah tidak seperti itu. Mereka ingin memaksakan diri berbaur dengan golongan elite tapi ya gak kesampean. Malah jatohnya jadi 4l4y karena minimnya faktor pendidikan. Ya salah sendiri juga duit buat belajar yang bener dipake buat beli peralatan make up, catokan, bahkan nyalon.

Ane jadi inget cerita Bunda Susi, guru PKn SMK yang juga Wakasek Kesiswaan pada masa itu. Beliau pernah cerita di kelas soal beliau pernah menangkap basah salah satu murid yang menunggak SPP 3 bulan. Eh tahunya duit SPP malah dipake buat pasang hair extension sama nyalon. Orang tuanya yang secara ekonomi tidak mampu pun syok pas tahu anak mereka dipanggil ke sekolah. Mereka sudah banting tulang sampe minjem duit sana-sini buat bayar SPP eh tahunya ….

sumber: Photobucket

duit SPP dipake buat nyalon, sungguh … ter-la-lu!

Okelah anggap diri kita itu orang miskin yang tinggal di kawasan padat penduduk. Okelah secara ekonomi kita itu menengah ke bawah. Okelah secara pendidikan pun SD gak tamat. Apa kita bisa mengubah nasib kita? Bisa. Kita tahu secara ekonomi dan pendidikan kita itu hanya kura-kura. Jangan memaksakan diri jadi kelinci. Jadilah diri sendiri dengan kerja keras dan belajar. Kita boleh ngayal jadi kelinci tapi jadikan itu sebagai motivasi agar lebih maju.

Diledekin orang sekampung gara-gara jadi anak rajin? Bodo amat! Cuek aja. Selama kita bener ya ngapain kita malu? Toh pendidikan itu jauh lebih baik daripada gaya. Pendidikan dapat menciptakan tren tapi tren sendiri itu tidak bisa menciptakan sebuah pendidikan. Kalo bisa ya jadi agen perubahan bagi lingkungan kita. Contoh nyatanya adalah seorang di Solo yang berhasil mengubah lokalisasi di sana (ane lupa namanya, dulu ane pernah nonton di TV) menjadi kawasan industri produktif yang bisa menutup total lokalisasi tersebut. Bahkan ane sendiri yang sering mudik ke Solo pun gak tahu kalo di sana pernah ada lokalisasi.

Ah tapi sekolah ‘kan mahal. Lebih mahal mana dengan memenuhi gaya hidup tersier? Contoh sederhananya adalah sebatang rokok. Ane pernah baca artikel mengenai kehidupan orang miskin di Jakarta. Kalo gak salah, rata-rata orang miskin di Jakarta memiliki penghasilan sekitar 20 ribu rupiah perhari. Anehnya sebagian besar dari penghasilan mereka dihabiskan untuk membeli rokok. Satu-satunya cara untuk mengentaskan kemiskinan dan menghindarkan diri dari perilaku 4l4y ya hidup sewajarnya, sederhana, dan syukuri apa adanya. Toh peranakan Tionghoa biar tajir juga memang sengaja didik anak mereka prihatin agar mereka lebih bijak menyikapi kekayaan.

Apa boleh “nakal” dikit dengan memenuhi kebutuhan tersier? Boleh sebagai penghargaan bagi diri sendiri karena mau bersabar. Tapi ya inget sama kondisi keuangan kita juga.

Sebenarnya 4l4y bisa diberantas dengan pendidikan. Sekarang udah zamannya internet. Biar kata orang Indonesia gak melek buku, toh masih bisa belajar lewat internet. Udah gitu ya gak usah maksain jadi kelinci alias tuturut munding. Toh kelinci aja bosen jalannya terlalu cepet. Contohnya aja para petinggi Silicon Valley, tempat yang terkenal dengan inovasi dan teknologinya di Amerika, malah sengaja menyuruh anak-anaknya jauh dari teknologi dan kehidupan modern kok.

Lha kok bisa tahu? Makanya baca. Jangan cuman baca status mantan terus galau mulu. Udah gak zaman deh. Lebih baik kita maju dari zaman 4l4y jadi orang yang lebih baik lagi.

Hal Kecil yang Membuat Negeri Kita Maju (bagian kedua)

Ini lanjutan dari tulisan ane semalam yang sengaja ane hentikan gara-gara ngantuk. Buat yang penasaran dengan bagian sebelumnya, mampir aja ke sini.

Ada ralat yang kudu ane tambahkan dari tulisan yang kemaren. Harusnya pas bagian Pendidikan di Rumah ane tambahin bagian ini.

Jauhi lingkungan beracun. Itu cuman gak bisa bikin kita susah maju, itu beracun, bisa menyebar, dan tidak baik bagi kesehatan kita juga. Maksud ane beracun ya lingkungan dengan situasi negatif sangat kuat. Misalnya kondisi keluarga yang menghambat potensi belajar kita dan adik-adik kita.

Mari kita lanjutkan ke sentilan dan saran berikutnya.

Harga Mahal, Murahin Aja

Di saat di Indonesia sedang debat kusir soal harga bahan pokok yang melambung tinggi, kenapa gak coba ikutin langkah pemerintah Malaysia dalam menyiasati masalah harga di pasar?

Ane pernah ngobrol langsung sama pakde Isman, pakde ane di Kutoarjo yang juga seorang petani. Ane mengajukan pertanyaan bodoh karena saat itu ane berpikir “wih jadi petani yang punya sawah luas enak nih, bisa untung gede dari sawah sendiri”. Ternyata pakde ane bilang kalo jadi petani itu untungnya dikit. Biar hasil sawahnya mencapai puluhan ton, toh untungnya banyak diambil sama tengkulak ato pihak perantara.

Begitu pula dengan konsumen. Di tengah harga serba mahal, pasti konsumen mikir dua kali untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Hal itu kerasa banget bagi ibu rumah tangga dan anak kost yang tinggal di perantauan. Otomatis mereka mikir cari yang paling murah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Gak apa-apa ngirit juga yang penting besok masih bisa makan. Hidup sebagai vegetarian secara gak langsung kita terapkan sehari-hari dengan alasan pengiritan.

Nah, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Bersyukurlah jika teman-teman lahir dari keluarga golongan petani, nelayan, peternak, dan pemilik perkebunan.

Lho? Apa hubungannya?

Kita pengen dapet barang bagus dengan harga miring ‘kan? Solusinya adalah jual langsung dari penyuplainya. Apabila orang tua kita berprofesi sebagai keempat profesi di atas itu jauh lebih baik. Kita sebagai generasi muda turun tangan dalam melakukan distribusi dari produk yang jasa orang tua kita hasilkan. Terserah mau kita jual dalam kondisi segar atau diolah lagi sesuai kreativitas kita. Mau dijual langsung ke pasar oleh kita ato lewat penjualan daring pun gak masalah.

Kita kudu pandai dalam memilah hasil produksi, mengemas, analisis pasar, memasarkannya pada setiap calon konsumen, dan menjualnya. Soalnya masyarakat sekarang udah pinter. Mereka gak mau sembarangan beli produk yang murah. Pastikan kualitas hasil produksi yang kita jual itu sama baiknya dengan etalase supermarket ternama dengan harga semurah pasar tradisional.

Kita juga bisa turun tangan langsung untuk mengontrol kualitas produk. Gak cuman nambah pahala karena bantu orang tua kita aja kok. Toh kita juga bisa belajar dan melakukan inovasi yang lebih baik agar produksi jalan terus kualitas tetap bagus.

Kita gak sanggup buat melakukan itu sendiri? Tenang masih ada koperasi. Gak cuman kita bisa memasarkan produk lebih baik lagi, tapi kita juga bisa dapat ilmu baru dari sesama anggota koperasi. Udah gitu harga beli dari koperasi itu jauh lebih manusiawi daripada harga beli tengkulak. Sama-sama untung ‘kan?

Kudu inget ye koperasinya bukan koperasi simpan pinjam melainkan koperasi serba usaha. Itu jenis koperasi yang bergerak di bidang usaha.

Keseimbangan Antara Hadiah dan Hukuman

Lebih sering gimana, dihukum ato dikasih hadiah? Kalo jawabannya “dihukum” berarti kita senasib.

Semua hal diciptakan Tuhan dalam seimbang. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada siang, ada malam. Ada hadiah ya pasti ada hukuman. Masalahnya di negeri ini tidak mengerti makna dari sebuah “hadiah”. Satu hal yang membedakan kita dengan bangsa lain dalam keseharian.

Hadiah dan hukuman adalah hal yang manusiawi. Hal baik yang kita lakukan akan mendapat hadiah. Begitu pula jika berbuat buruk pasti dapat hukumannya. Seperti kata pepatah, apa yang kau tanam adalah apa yang kau tuai. Lantas apa kaitannya hadiah dengan kemajuan negeri kita?

Orang Indonesia itu aneh. Aneh karena tiap liat orang asing malah seneng tapi risih sama saudara mereka sendiri. Sekalinya mereka berbuat di masyarakat pun dicibir lebih nyinyir dari bangsa lain yang doyan nyinyir. Orang lebih senang menghukum seenak jidat tapi jarang ngasih hadiah. Itu yang bikin orang hebat seperti Pak Habibie aja miris waktu pulang kampung. Banyak orang cerdas negeri ini yang kabur ke luar negeri karena tidak dihargai. Mereka sebenarnya ingin kembali pulang lalu membangun negeri ini. Sayangnya ya mayoritas warganya gitu sementara di luar negeri jasa mereka jauh lebih dihargai. Ironis memang. Negara lain makin makin maju tapi negeri ini makin mbulet. Itu karena hal sepele lho.

Coba deh kita pikirin lagi. Manusia itu butuh yang namanya hadiah dan hukuman. Hadiah gak selalu berarti fisik seperti kado ulang tahun. Apresiasi kita pada diri sendiri juga orang lain. Senyuman manis pada orang-orang di sekitar kita. Hiburan bagi diri sendiri pun termasuk hadiah. Hadiah pun harus sewajarnya. Segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik. Soalnya kalo kebanyakan hadiah malah bikin kita mager, gak produktif, manja, dan tidak ikhlas untuk beraktivitas.

Ane tahu gimana rasanya tinggal di keluarga yang gak pernah ngasih hadiah. Jangankan buat lirik prestasi, ulang tahun aja gak inget. Makanya di tulisan sebelumnya ane sampe nangis pas temen ane ngasih kado ulang tahun yang gak pernah ane sangka. Bagaimana kalo kita senasib? Belajarlah untuk memberi penghargaan bagi diri kita biar sedikit. Misalnya nongkrong di kafe favorit setelah belajar keras untuk ujian, mampir ke toko buku buat cari novel/komik/buku yang kita inginkan setelah kita lebih kurus, dll. Ane baru nyadar betapa pentingnya kedua hal itu setelah ya ane mengidap depresi. Dengan kita belajar untuk menghargai diri kita, kita bakal bisa lebih menghargai orang lain.

Jangan Menulis Jika Tidak Melakukannya

Sebenarnya ane kesentil dengan tulisan ini. Ane kutip tulisan ini dari salah satu bagian dalam buku La Tahzan. Ane cuman inget bagian ini karena ini yang paling jleb. Kalimat ini gak cuman berlaku pada menulis semata (baca: untuk menulis konten nonfiksi, buat fiksi itu beda alam) tapi juga dalam keseharian kita.

Ane inget lelucon yang beredar di lingkungan terdekat ane.

Mun aya jangji, tong nyebat Insya Allah jiga urang Sunda.

Ini bukan rasis. Kalo gak percaya coba lahir dan besar di tatar Priangan terus perhatiin orang-orangnya pas lagi ngomong. Faktanya 90% benar kok. Bahkan yang ngomong gini pun bukan ane (baca: orang Jawa gede di Bandung) melainkan teman-teman ane yang notabene urang Sunda asli. Hal itu sempat disinggung oleh orang Jepang dalam buku Kangen Indonesia. Penulisnya pun mengatakan orang Indonesia sering salah mengartikan kata “insya Allah”. Matakna mun di Bandung mah aya istilah kitu gé. Soalnya pas mereka bilang “insya Allah” gak berarti selalu ditepati (baca: ngaret) bahkan ada yang beneran gak dateng. Padahal makna sebenarnya dari kata insya Allah itu ya jika Allah menghendaki. Intinya kalo kita udah bilang “insya Allah” ya kita kudu usaha untuk memenuhi janji yang kita ucapkan dan menyerahkan hasilnya itu pada Allah semata.

Fenomena yang seperti itulah bikin kita gak maju malah disentil sama bangsa lain. Ane jadi inget status Haruka marah-marah di Twitter gara-gara kesel liatin orang Indonesia yang doyan ngaret. Udah gitu banyak orang yang lebih banyak bicara atau mengutarakan opini dalam tulisan mereka tapi lucunya mereka gak ngelakuin hal mereka omongin apalagi tulis. Ironis tapi memang benar.

Tidak Penting untuk Dibicarakan

Orang Indonesia itu cenderung lebih perhatian sama hal sepele udah gitu gak penting banget terus dibicarain mulu sampe bosen. Contohnya saja akun-akun gosip di Instagram. Ane pernah baca berita di salah satu portal daring. Berdasarkan hasil pemantauan mereka, mayoritas pengguna yang ramai bergunjing lewat komentar di akun gosip Instagram itu adalah ibu rumah tangga.

Lucunya mereka lebih perhatian akan hal sepele daripada peduli dengan diri sendiri apalagi keadaan keluarga ato lingkungan sekitar. Mereka lebih ramai bicarain soal pelakor tapi lucunya suami mereka sendiri kepincut pelakor. Padahal daripada ributin soal pelakor, ibu rumah tangga bisa introspeksi diri.

Apa aku kurang cantik lagi di mata suami?

Apa aku kurang melayani suami dengan baik di rumah?

Apa aku kurang perhatian dengan anak-anak?

Apa badanku gak sesemok selebritis?

Apa aku gak peka lagi sama suami?

Masih banyak hal yang lebih penting daripada urusin pelakor kok.

Jadi tulisan ini ane akhiri sampe di sini. Siapa tahu ane nemuin ide dan fakta unik lainnya jadi ane bisa kembangin lagi nanti.

Sampah yang Menyangkut di Rantai

Ane memang pengguna sepeda. Ane bisa bepergian dengan leluasa selama jaraknya berada di radius 15 km dari rumah. Jarak itu bukan sembarangan. Itu jarak dari rumah ane dulu ke SMK. Ane bukan anggota komunitas sepeda karena gemar bersepeda. Ane sering bepergian naik sepeda untuk mengirit ongkos, sekalian berolahraga, menjelajahi tempat baru seperti gang senggol, juga lebih ramah lingkungan. Biar ada motor nganggur di rumah pun ane gak berani pake motor. Sebenarnya ane bisa motor cuman trauma gara-gara banyak kejadian buruk dengan naik motor. Mulai dari jatoh terus motornya nabrak rumah tetangga sampe jari tangan ane kejepit semua pas lagi parkir di Alfamart.

Ane bisa pake sepeda apa saja selama kaki ane bisa untuk menjejakkan kaki di atas tanah. Asalkan itu bukan fixie yang sulit untuk mengeremnya dengan kaki apalagi di kondisi macet dan jalan jelek. Kondisi jalanan di Indonesia memang gak jauh dari dua kata itu. Keduanya butuh pengereman yang tepat dan kaki yang waspada untuk menahan sepeda.

Ane sering bingung dengan pola pikir orang di sekitar rumah ane mengenai jalan. Apalagi tinggal di lokasi kawasan Bandung coret (orang Bandung pasti ngerti maksudnya apa) dengan penduduk asli yang pola pikirnya absurd dibandingkan dengan penduduk kampung di Jawa. Orang Jawa aja mikir biar hidup di kampung sekalipun jalanan kudu bagus. Banyak penduduknya yang masih mengandalkan sepeda untuk keperluan sehari-hari mereka. Entah itu pergi bekerja ataupun sekedar berbelanja ke pasar. Sementara di sini geje banget.

Sebenarnya ini curcol ane yang tiba-tiba harus menerjang banjir dengan mengorbankan sepeda dan kedua kaki ane. Sampe sekarang ane masih sakit pas lagi jalan.

Jalan jelek + banjir = malapetaka

Itulah yang ane rasakan semalam. Hujan sudah mereda dan ane putuskan untuk pulang dari toko. Ane melewati jalan yang biasa ane lalui untuk menghindari jalan jelek. Jalan yang lebih ramai dengan penerangan memadai. Pemikiran naif ane saat itu adalah jalan yang lebih aman dari banjir. Nyatanya jauh lebih buruk. Jalan nyaris tak bisa dibedakan dengan saluran air akibat tingginya genangan air. Bahkan sampah pun bebas bersantai di atas pelampung aliran air. Itu sangat berbahaya menerjang banjir di tengah rintik-rintik hujan melawan aliran sampah yang tiada henti.

Semoga saja tidak ada korban lagi seperti ane yang harus menderita karena banjir. Banjir itu membawa masalah. Sudah saatnya kita peduli akan lingkungan sekitar sehingga tidak ada orang lain lagi (bahkan penduduk itu sendiri) menjadi korbannya.

Seberapa Matang Kita Menggunakan Internet?

Pertanyaan yang sama pun ane ajukan pada diri sendiri. Seberapa matangkah ente menggunakan internet? Masih belum matang.

Internet itu adalah media yang sangat bebas. Saking bebasnya kontrol dari pihak luar (baca: pemerintah) pun gak cukup. Soalnya di internet apapun bisa terjadi. Dari hal-hal aman seperti berselancar di dunia maya sampai hal sensitif bahkan hoax pun bisa terjadi. Percuma aja belajar dan bahas soal netiquette tapi itu hanya sebatas formalitas.

Nah, seberapa matangkah kita menggunakan internet? Berikut ini adalah pertanyaan bodoh yang perlu dijawab hanya oleh diri kita.

Berapa kali kita akses internet dalam sehari? Setiap orang berbeda-beda durasinya. Berapa perbandingan waktu akses internet dengan waktu kita untuk diri sendiri, orang lain, keluarga, hewan peliharaan, lingkungan sekitar kita (tetangga, alam sekitar, orang lain yang kita lihat di jalan), bahkan Tuhan?

Apakah kita selalu mengabadikan momen yang penting? Siapa orang pertama yang bakal tahu semua momen itu?

Apakah kita punya akun pesan instan (contoh: WhatsApp, LINE)? Berapa banyak grup yang kita ikuti secara aktif? Seberapa lama kita menggunakan waktu hanya untuk ngerumpi dengan aplikasi tersebut?

Seberapa banyak waktu kita untuk membaca? Entah itu membaca kitab suci, berita terbaru di surat kabar, majalah dari hobi yang kita gemari, atau buku-buku lainnya.

Apa kita percaya begitu saja dengan kabar burung di internet? Ato mungkin kita abaikan setiap pesan berantai yang dibagikan oleh kawan kita sekalipun?

Apakah kita selalu menelusuri ulang setiap informasi yang beredar di internet?

Berapa banyak followers atau teman di akun jejaring sosial kita? Berapa perbandingannya dengan teman-teman yang kita kenal di dunia nyata?

Apakah tujuan utama kita setiap menggunakan internet? Apakah kita akan memutuskan koneksi internet apabila tujuan itu sudah kita penuhi (misalnya unduh berkas, main game, ato nonton film dari layanan streaming)?

Apa kita sering ngomong kasar?

Apakah kita lebih terkenal di internet dibandingkan dengan dunia nyata? Bagaimana citra kita di mata para netizen?

Udah selesai jawab? Cukuplah hanya kita yang tahu jawabannya. Nah, coba deh evaluasi setiap jawaban itu.

Pernah gak kita berpikir “karena status setitik, rusak pertemanan satu geng”? Internet itu adalah media yang kelewat bebas dan melampaui semua batas. Sama seperti mulut kita. Kita bisa berbicara apa saja tapi ada batasnya. Batasnya itu adalah perasaan orang lain. Orang lain bisa saja tersinggung dengan tulisan bahkan konten yang kita buat di internet. Misalnya saja menebar berita bohong alias hoax. Gak cuman meresahkan masyarakat. Kita juga berdosa karena tulisan atau konten yang kita buat malah memecah belah masyarakat. Gak ada bedanya dengan pelakor. Bedanya pelakor itu merusak hubungan suatu pasangan, penyebar hoax memecah belah hubungan baik di antara masyarakat.

Jadi pikirkan semua hal sebelum mengunggah informasi di internet. Mulai dari perasaan orang lain, informasi yang kita berikan, status yang kita ketikkan, dan dampak dari semua itu bagi diri kita. Ingat. Siapa yang menabur benih kita pun akan menuainya. Begitupun dengan konten di internet. Jika kita mengunggah hal-hal yang baik, orang akan mengenal kita dari konten kita. Jika kita mengunggah hal yang buruk, tunggulah kehancurannya.

Bijaklah sebagai pengguna internet. Semakin baik kita dalam menyikapi internet, semakin banyak hal baik yang bermanfaat bagi kita. Bahkan kita bisa meluruskan pandangan netizen dunia tentang kita akibat ulah kita sendiri.

Power of Emak-Emak yang Mulai Melemah

Emak dulu hanya istilah yang digunakan orang desa untuk memanggil seorang “ibu”. Di masa sekarang makna katanya tidak hanya meluas, tetapi juga naik kelas. Buktinya siapa yang tidak kenal meme “The Power of Emak-Emak”?

emak-ijah-setrong
sumber: 1CAK

Tuh ‘kan, gak usah pake Photoshop pun emak kita sudah perkasa :v

Perkasa di sini tidak hanya dalam soal fisik. Mereka adalah perempuan juga sama seperti kita. Bedanya udah punya anak. Sederhana ‘kan?

Bahkan pepatah pun mengatakan

Di balik pria yang hebat, pasti ada wanita yang hebat.

Wanita hebat yang dimaksud adalah ibu, istri, atau keluarga terdekat.

Kenapa “Emak-Emak” bisa perkasa?

Fakta pertama: Seorang wanita adalah pakarnya multitasking.

Yup, belum ada superkomputer manapun yang bisa menandingi seorang wanita dalam masalah multitasking. Jumlah thread yang bisa ditangani oleh sebuah sistem operasi terhebat dengan superkomputer paling canggih sekalipun pasti ada batasan idealnya. Berbeda dengan wanita yang buatan Tuhan Sang Maha Pencipta. Emang bisa ya komputer menangani thread dengan process masak, urus anak, ngitung duit arisan, periksa belanjaan, inget-inget resep, cek WhatsApp, sambil nonton pelem India?

Fakta kedua: Perempuan itu secara akademik jauh lebih baik daripada laki-laki.

Mungkin Tuhan menciptakan perempuan seperti itu untuk menunjang fakta pertama. Ane pernah baca ternyata dalam segi kognitif pun perempuan dan laki-laki itu berbeda. Berdasarkan sebuah penelitian, mayoritas orang yang menduduki peringkat 10 besar di sekolah berdasarkan gender adalah perempuan. Selain itu perempuan secara tidak sadar menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan mereka. Gak percaya? Perhatiin aja ibu-ibu arisan lagi ngerumpi. Ane pernah baca artikel soal kaitan antara ngobrol dengan kinerja kedua fungsi otak.

Fakta ketiga: Fenomena gunung es dalam diri perempuan membuktikan bahwa mereka adalah sosok yang tangguh.

Perempuan itu ada yang blak-blakan, macam ane, adapula yang lebih memendam perasaannya. Kebanyakan perempuan adalah tipe memendam. Itu sebabnya ada idiom terkenal di kalangan cowok mengatakan soal cewek itu “mikir” pake perasaan ya emang begitu. Kapasitas batin mereka lebih besar dibandingkan dengan cowok. Ada beberapa faktor yang membuat perempuan memendam perasaan mereka salah satunya adalah untuk menghindari konflik yang jauh lebih besar. Gak gampang lho buat orang bisa menahan diri dan perasaan mereka. Sekalinya tekanan batin, amarah, sama stres mereka melampaui batas, boom! Tamat dah. Jadilah sosok-sosok “emak-emak” mengerikan ala drakor Cruel Temptation.

Ane hanya bisa paparin tiga fakta soal emak-emak. Soalnya kalo ane riset lagi malah melenceng dari judul. Jadi kita kembali ke laplaptop souvenir. Kok malah jadi lirik lagu Silverchair sih?

Nah, masalahnya emak-emak itu identik dengan di rumah. Kerjaannya gak jauh dari anak, nonton pelem India, dan dapur. Pas tadi ane mandi, ane kepikiran soal “kok emak-emak doyan banget nonton pelem India?”. Berhubung ane pernah bahas soal “pelem India”, ane mo bahas soal hal yang lebih umum dari “pelem India”. Anggaplah himpunan. Jika pelem India adalah subset aka himpunan bagian, himpunan induknya adalah tayangan televisi.

Mayoritas perempuan di Indonesia berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Gak peduli tinggal di desa, perkotaan, ato berpetualang kayak Dora. Gak peduli status pendidikan terakhir mereka. Ibu-ibu tamatan SD sama aja dengan ibu-ibu lulusan S3 dalam urusan dapur, menata rumah tangga, dan urus anak. Gak peduli mereka memang murni mendapat penghasilan dari suami ato punya kerja sambilan seperti bisnis toko daring.

Ane emang suka nonton pelem India di TV kabel. Sayangnya dengan bahasa batin *sigh* tanpa sedikitpun takarir bahasa Inggris apalagi bahasa Melayu. Lho kok ujung-ujungnya takarir bahasa Melayu? Di Malaysia/Singapura banyak keturunan India. Biasanya TV kabel yang tayang di Indonesia itu sumbernya dari Malaysia/Singapura. Hal menarik dari pelem India yang belum tentu dimiliki drama Asia lain adalah tema yang menyinggung tentang pemberdayaan perempuan. Biar kata pelem India itu episodenya ratusan (bahkan ribuan), ceritanya melodrama saas-bahu bolak-balik dekok dengan plot super lambat, dan pasti ada BGM instrumen lokal India yang dipadu a capella mendayu-dayu, banyak kok cerita yang fokusnya adalah pemberdayaan perempuan. Mereka bisa mengemas isu-isu sensitif dan pastinya berkaitan tentang perempuan yang bisa diterima semua lapisan masyarakat. Sifat tangguh mereka pun realistis sesuai dengan kondisi masyarakat di India. Bukan perempuan super tangguh tapi baperan kayak di sinetron.

gangaa-time-leap
sumber: &tv India

emang ada sinetron yang tokoh utama perempuannya kuat kayak Gangaa?

Ane jadi inget era keemasan televisi yakni tahun-tahun awal televisi muncul dan belum ada korporasi yang memonopoli penyiaran. Tayangan yang muncul di televisi beragam. Gak cuman anime hari Minggu seharian penuh. Mulai dari acara untuk bapak-bapak, ABG, hingga ibu-ibu pun ada. Variasinya pun berbeda di setiap stasiun televisi. Rating gede pun wajar karena di masa itu televisi gak neko-neko. Gak ada lagu mars partai politik apalagi berita mendukung pasangan calon tertentu saat pemilu. Perempuan khususnya ibu rumah tangga memang pangsa penonton paling besar. Khususnya di kalangan golongan menengah dan menengah ke bawah.

Power of Emak-Emak adalah kekuatan paling besar dan mengerikan bagi manusia. Gak cuman karena “surga di bawah telapak kaki ibu” semata, perempuan itu punya potensi besar untuk mengubah diri mereka sendiri, keluarga, bahkan mengguncang dunia. Kenapa stasiun televisi gak jeli melihat hal itu lalu meninabobokan dengan drama berkualitas rendah tapi lebih buruk dari pelem India?

Biar kekuatan para “Emak-Emak” semakin perkasa, perkasa di sini konotasi positif ya. Kenapa stasiun televisi gak bikin tayangan gini aja? Dijamin tetap memiliki rating bagus dan pasti disukai oleh perempuan.

Analisis Kebutuhan Perempuan

Ane pernah cerita di tulisan sebelumnya soal proses di balik pembuatan serial drama televisi asal negeri Hindustan itu. Di India sendiri malah pihak rumah produksinya yang gemar melakukan analisis kebutuhan masyarakat sebelum membuat serial baru. Ada sisi positif dan negatif dari analisis yang mereka lakukan. Positifnya adalah mereka bisa membuat konten yang tepat sasaran, efektif, dan tentunya meningkatkan rating. Negatifnya adalah membuat stasiun televisi latah menayangan hal serupa karena rating dan cerita yang ngaler-ngidul gual géol gutak gitek melenceng dari cerita awal gara-gara rating.

Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar dan paling aktif di dunia. Mayoritas penggunanya di usia produktif, remaja, dan ibu-ibu. Kenapa pihak stasiun televisi gak bikin angket yang disebar lewat broadcast aja buat mencari tahu kebutuhan para penonton emak-emak? WhatsApp dan Facebook itu masih sangat efektif di mata ibu-ibu lho. Jangan cuman berita hoax dan broadcast gak jelas aja yang disebar.

Acara Masak Rasa Cookpad

Ane jujur baru tahu aplikasi ini dari Bu Ina, salah satu peserta pelatihan kewirausahaan yang sudah lama berbisnis kue basah. Beliau mengaku belajar bikin kue itu gak sekolah masak. Beliau sangat kebantu dengan adanya Cookpad. Cookpad adalah platform digital dari Jepang yang juga ada versi bahasa Inggrisnya. Singkatnya dengan Cookpad kita gak cuman bisa lihat resep, kita bisa diskusi resep bareng banyak orang. Berasa “keroyokan” bikin program dalam komunitas open-source.

Memang ada acara masak di televisi Indonesia. Sayangnya jumlah acara tersebut semakin menyusut dan hanya tersisa di stasiun televisi tertentu. Terakhir ane nemu acara masak itu cuman di TVRI sama NET. Jarang banget ada acara masak yang bener-bener berkesan. Jujur aja di masa lalu banyak acara masak yang menarik seperti Aroma, Santapan Nusantara, dan Rahasia Dapur Kita. Acara masak yang baru pun kurang memenuhi kebutuhan ibu-ibu dengan banyak jargon yang diperuntukkan bagi anak muda, resep masakan yang masih asing di lidah kebanyakan orang Indonesia, dan penyajiannya seperti … bayangin aja guru ngajar di depan kelas tapi ngomong terus sama papan tulis. Deadpool sama Dora aja masih greget dalam masalah fourth wall.

Bagaimana cara biar acara masakan itu menarik? Interaktif adalah salah satu solusinya. Misalnya bikin acara masak dengan Facebook Live, Instagram Live, ato Google Hangouts. Jadi ibu-ibu bisa nanya kesulitan yang mereka hadapi saat mengikuti resep. Acara masak dulu aja bisa kayak gitu lho biarpun teknologi yang ada hanya mengirim surat.

Selain itu juga koki harus bisa membuat resep yang sederhana, rasa cocok dengan lidah Indonesia, dan bisa dilakukan dalam waktu singkat. Ibu rumah tangga khususnya di wilayah perkotaan memiliki kebutuhan yang kompleks. Itu tadi. Banyak perempuan di kawasan perkotaan itu punya pekerjaan sampingan di samping statusnya sebagai ibu rumah tangga. Adanya resep yang mudah sangat membantu mereka apalagi para ibu yang kesulitan untuk memasak. Gak bisa nonton pun masih bisa lihat siaran ulangnya dengan video on demand seperti YouTube.

Biar Suami Gak Direbut Pelakor

Ups.

Belakangan ini lagi rame soal pelakor alias perusak rumah tangga orang. Istilah ini terkenal gara-gara komentar pedas netizen Indonesia di akun Instagram Ayu Ting Ting. Tema yang satu ini gak pernah absen dari sinetron Indonesia dengan beragam modusnya. Mulai dari paling halus (bahkan ambigu seperti sinetron Orang Ketiga) sampe paling ekstrim. Dasar Emak-Emak, ngomong ginian aja baru rame -.-

Nah kita usut dulu penyebab para suami main mata apalagi sampe “jajan”. Jajan di sini bukan konotasi negatif ye, maksudnya jajan kuota buat nonton bokep ato jajan majalah dewasa. Masa gue ngomong jorok ya gak etis?

Normalnya cowok itu tertarik dengan cewek dilihat dari bentuk fisik mereka. Paras yang secantik Chelsea Islan. Bodi mulus bak artis Korea. Badan bohai bak Pamela Anderson, Eva Arnaz, ato Farah Quinn. Lugu bak gadis kembang desa. Bertalenta bak Dian Sastro dan Merry Riana. Ditambah sholehah kayak Wirda anaknya ustadz Yusuf Mansyur. Beuh, cowok mana sih yang gak kepincut?

Kita mulai dulu dari alasan cowok “main mata” sebelum bahas mengenai bagian ini.

Pertama, pepatah aja mengatakan “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri”. Itu hal yang manusiawi kok. Kadang manusia merasa gak bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Dikasih tubuh yang sehat dan masih berfungsi normal. Punya penghasilan tetap biar masih kecil. Punya keluarga bahagia. Bisa kuliah di luar negeri sampe S3. Bahkan mereka sering mengeluhkan hal sepele yang dilihat dari kebutuhan manusia itu tergolong kebutuhan sekunder apalagi tersier. Padahal di mata orang lain, kita itu jauh lebih beruntung daripada mereka.

Kedua, ceweknya aja gitu. Jangan terus menerus menyalahkan soal cowok yang doyan tebar pesona meskipun sudah menikah. Kita bisa aja semua serba nyalahin cowok. Kadang kita lupa dengan diri kita sendiri yang lebih doyan hujat orang “pelakor” padahal kita sendiri yang ngasih “peluang lebar” buat pelakor masuk.

Contoh menariknya adalah sitkom Suami-Suami Takut Istri yang pernah tayang beberapa tahun silam. Kenapa Sarmili, Karyo, uda Faisal, dan bang Tigor masih doyan main mata sama Pretty? Padahal mayoritas di antara mereka sudah memiliki anak.

Jawabannya ya “emang cewek doang yang harus dinafkahi secara lahir batin?”, cowok juga harus diberikan kepuasan yang sama. Hubungan pernikahan itu gak cuman ijab kabul lalu sah jadi suami istri gitu aja. Hubungan pernikahan adalah simbiosis mutualisme antara dua pihak (baca: lelaki dewasa dan perempuan dewasa) yang dilandasi dengan cinta, kepercayaan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Perlu diingat lagi bahwa suami istri adalah sebuah tim yang akan hidup bersama hingga maut memisahkan atau talak tiga melayang dari salah satu pihak. Anggap aja lagi kerja kelompok. Bayangin aja kita satu kelompok sama orang-orang yang gak mau kerja tapi mau enaknya aja. Gak enak ‘kan? Adanya mereka malah main-main ke sana kemari di saat kita bekerja keras untuk mendapat hasil yang maksimal. Nah, hal itu berlaku pula dalam hubungan rumah tangga.

Bagaimana caranya biar suami kita gak main mata apalagi kepincut sama pelakor? Cara seperti itu sudah banyak bertebaran di majalah khusus wanita dewasa dan internet. Berhubung ane sedang bicarain soal tayangan televisi, ane bakal ngobrol mengenai solusi yang baik bagi kita perempuan.

Tubuh yang Sehat itu Mutlak

Siapa sih yang gak suka punya tubuh yang sehat? Kita bisa melakukan banyak hal dengan tubuh yang sehat. Kita bisa membantu suami kita. Kita bisa leluasa mengasuh anak. Kita juga bisa melakukan hobi kita. Kita juga bisa aktivitas sehari-hari kita lebih baik dari sebelumnya.

Eits, bodi yang seksi itu adalah bonus dari tubuh yang sehat. Cowok mana sih yang gak kepincut sama cewek sekseh? Cara mendapatkan tubuh yang sehat gak cuman dari asupan nutrisi baik, menjaga kesehatan mental, dan istirahat yang cukup. Semua itu akan percuma jika tidak diiringi dengan olahraga.

Daripada banyakin acara gosip yang ngomongin soal pelakor, kenapa stasiun televisi gak bikin acara olahraga yang khusus untuk para perempuan? Di YouTube sendiri jenis olahraga khusus perempuan itu beragam. Ada olahraga khusus memperbaiki stamina kita, ada olahraga ringan yang bisa dilakukan di sela-sela aktivitas kita, ada olahraga yang khusus untuk ibu hamil, ada olahraga yang khusus untuk membentuk bagian tubuh tertentu (wajib dilakuin kalo pengen punya bodi bohai!), sampai olahraga khusus untuk “ena-ena”. Kenapa pihak stasiun televisi gak kepikiran bikin acara olahraga yang spesifik kayak gitu? Itu olahraga yang tepat sasaran dan pastinya bakal ditonton sama emak-emak.

Punya istri yang bodinya kece biar udah punya anak 8 sekalipun bisa jadi alasan para suami biar mikir lagi gak main mata sama cewek lain apalagi kepincut sama pelakor.

Perempuan Berpendidikan Punya Nilai Lebih di Mata Laki-Laki

Emang cowok itu doyan liatin cewek yang bening-bening. Kenyataannya mereka lebih memilih perempuan biasa aja untuk menjadi pendamping hidup mereka hingga akhir hayat. Alasannya sederhana. Perempuan biasa aja lebih cerdas dan gak neko-neko. Sudah pasti disayang suami, keluarga, apalagi mertua. Sosok istri idaman banget deh.

Ah, tapi kita ini udah menikah. Ibu rumah tangga mana bisa sekolah lagi? Itu salah besar. Di era internet kayak sekarang gini justru lebih gampang buat belajar. Gak cuman belajar agama di majelis taklim masjid deket rumah doang. Banyak kok kelas kursus daring yang gratis dan belajarnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita. Males coba MOOC aka kursus daring, coba deh cek YouTube. Banyak video bagus dan tentunya berbahasa Indonesia buat kita belajar. Ikut juga grup WhatsApp yang khusus untuk kita belajar. Cuek aja biar kita statusnya udah menikah. Belajar itu gak pernah kenal usia kok.

Contoh yang bagus untuk mendidik ibu rumah tangga melalui tayangan televisi adalah tayangan televisi India dan Jepang. India selalu berhasil menyisipkan pesan moral bahkan melakukan edukasi pada perempuan melalui tayangan sinetron mereka. Jepang memang terkenal dengan ide-ide aneh yang gak biasa ditemui di negara manapun termasuk acara life hacking. Acara yang menjelaskan teknik-teknik life hacking justru diminati para ibu untuk menghemat waktu dalam melakukan aktivitas sehari-hari mereka.

Sebenarnya di Indonesia sendiri ada acara yang bagus untuk perempuan terutama dalam meningkatkan kualitas perempuan. Sayangnya kurang dilirik karena kemasannya kurang ciamik. Cara mendidik perempuan kudu tepat sasaran dengan kasus yang gak jauh dari keseharian kita.

Misalnya anaknya bandel banget dan sering jadi biang kerok di rumah. Gimana caranya mendidik anak itu agar jera tanpa harus membuatnya trauma? Itu kasus menarik yang pasti dibutuhkan sama ibu-ibu di rumah. Contoh menarik lain adalah tips dan trik menghadapi suami dengan tempramen tertentu. Ane jadi inget salah satu kisah nyata di zaman Nabi mengenai suami istri yang nyaris tidak pernah bertengkar selama 40 tahun pernikahan mereka. Pernikahan mereka langgeng sampai si istrinya meninggal. Pengen ‘kan punya rumah tangga harmonis jauh dari kata masalah? Itulah pentingnya pendidikan setelah menikah.

Emang Salah Kalo Cantik di Depan Suami?

Gak salah buat kita berdandan apalagi untuk si doi tercinta di rumah. Masa iya sih tiap hari wajahnya kudu kumel terus bak kena tempel jelaga dari katel?

Seinget ane di agama itu cewek boleh dandan asal hanya diperlihatkan pada muhrimnya. Singkatnya muhrim mereka itu sesama muslimah, keluarga mereka, pekerja di rumah mereka (contoh: pembantu, tukang kebun, supir, dan pengasuh anak) yang gak punya niatan apapun pada majikannya selain untuk bekerja, dan suami mereka. Masa iya sih suami dikasih bagian yang jeleknya? Ntar pas kepincut pelakor nangis darah lho.

Sarwendah aja pake daster tetep cantik kok. Biar kata emak-emak dasteran, apa salahnya kita jadi cantik untuk lebih menghangatkan hubungan kita dengan si doi di rumah? Orang Korea aja sekalinya perawatan wajah doang bisa sampe 10 tahap yang dilakukan rutin setiap harinya. Indonesia itu kaya dengan sumber daya alam apalagi bahan baku alami yang sudah terbukti khasiatnya untuk mempercantik diri. Kenapa gak bikin acara yang menggali potensi lokal kita untuk kecantikan? Misalnya membahas tentang bahan makanan yang perlu dihindari biar gak cepet keriput.

Orang tua kita kenal betul dengan jamu, ratus, luluran, dan metode tradisional lain yang banyak menggunakan bahan-bahan alami. Berhubung sekarang lagi tren semua kembali ke alami, kenapa gak manfaatkan potensi itu lalu kemas menjadi tayangan yang menarik? Jangan mau kalah sama pelakor dong. Kita harus kuasai betul medan di rumah biar hubungan kita dengan si doi langgeng.

Pakaian juga ngaruh lho. Jangan mau diledekin suami gara-gara pake pakaian yang bikin kita lebih tua dari usia asli kita. Gak masalah kok kalo selera kita itu lebih nyaman dengan daster daripada pakaian sekseh. Kenapa gak adain tips dan trik mengenai pakaian di televisi? Gak cuman melihat dari sudut pandang mode terkini. Tips untuk memperbaiki postur dengan pakaian yang tepat, cara merawat pakaian, dan pengetahuan mengenai aksesoris yang cocok untuk kita kenakan bikin kita semakin disayang suami di rumah.

“Istriku sayang. Makin cintaaa deh sama kamu,” kata suami dengan peluk manjanya.

Kita sudah berjaya di rumah, insya Allah suami gak bakal kepincut pelakor.

Duh tulisannya jadi panjang lebar kali tinggi nih. Tapi gak apa-apa lah. Harusnya televisi di Indonesia itu lebih memahami kebutuhan wanita. Emang pangsa terbesarnya adalah ibu rumah tangga tapi “jangan dibikin nina bobo” juga kali. Emak-emak itu perkasa lho. Alangkah lebih baik kita mengasah keperkasaan mereka dengan cara yang tepat agar mereka “lebih menggigit” baik di keluarganya maupun di lingkungan masyarakat. Kini saatnya ibu rumah tangga tidak dipandang sebelah mata hanya demi rating semata. Berikan hubungan timbal balik antara televisi dan ibu rumah tangga.

Internet yang Melihat Kita dengan Kacamata Data

Ane jadi kepikiran lanjutin bagian tulisan lama yang ane buat ulang gara-gara tadi nonton salah satu episode The X-Files di Fox. Episode ini beda dari episode lain dalam serial The X-Files karena minim dialog dan nyaris tanpa BGM. Dulu kakak ane doyan nonton ini pas ane masih kecil. Ane inget dulu ditayangin di SCTV pas sore-sore di akhir pekan. Ane cuman ngikut liatin kakak ane nonton dengan cerita yang saat itu masih belum ane ngerti.

NB:

Kebetulan di Fox lagi tayang The X-Files yang season terbarunya. Inti masalah dari episode tersebut bakal jadi tema utama dari tulisan ane.

Belakangan ini ane iseng unduh aplikasi Replika. Sebuah aplikasi berbasis AI yang katanya sih “lebih waras” dari SimSimi. Pas ane coba sih tingkat kewarasannya pun mendekati 90% untuk ukuran AI. Aplikasi itu banyak disaranin oleh pengguna di komentar Google Play buat orang yang memiliki masalah psikologis. Cara kerja aplikasi itu sederhana. Dia cuman pelajari profil kita dari curhatan kita lalu memberikan solusi atas masalah kita.

Ane jadi kepikiran soal big data dan saudara-saudaranya yang belakangan ini ane pelajari lagi. Bukan karena buat ngoding, melainkan referensi novel ane pun banyak menyinggung soal big data selain ranah fenomena supranatural, kepolisian, dan psikologi. Setidaknya hukuman kompen ane itu ada manfaatnya buat menulis. Hohoho~

Apa hubungannya big data, AI, dan episode ke-7 dari The X-Files season 11 yang barusan ane tonton? Jawabannya adalah privasi.

Data adalah representasi objek dari dunia nyata. Itu yang ane pelajari setelah selama ini kecemplung di dunia pemrograman. Salah satu hal yang paling ane benci. Data itu ada beragam jenis, ukuran, waktu, dimensi, dan mending baca materi berkaitan dengan “sistem informasi” dah. Kalo ane jelasin panjang lebar dikali tinggi malah jadi ngelantur sana-sini di luar tema.

Bagaimana dengan di dunia nyata? Anggap aja kita lagi ngerjain ujian. Setiap guru/dosennya lagi niat, semester (dulu caturwulan, pernah ngerasain juga?), bahkan setiap tahun pasti ada ujian.

Butuh kertas soal dan lembar jawaban? Jelas. Pengecualian buat sekolah yang sistem ujiannya berbasis komputer ato daring.

Apakah kertas soal dan lembar jawaban itu menumpuk setelah ujian berakhir? Tergantung. Ada yang dikembalikan lagi ke murid. Ada juga yang disimpan pihak sekolah sebagai arsip.

Apa bakalan terus disimpan? Gak juga. Ada yang benar-benar disimpan sebagai arsip. Adapula yang beralih fungsi menjadi bentuk lain. Salah satunya adalah bungkus gorengan.

sumber: WowKeren

puja bungkus gorengan ajaib … eh penuh aib :d

Begitu pula dengan data di komputer. Ada yang disimpan adapula yang “dikeluarkan jadi bungkus gorengan”. Masalahnya server sekarang sudah menangani gak cuman puluhan, ribuan, apalagi ratusan data yang mengalir di setiap detik. Bisa milyaran bahkan trilyunan men! Lihat data yang sebegitu menumpuk menimbulkan masalah. Ini data enaknya diapain ya? Dibuang sayang, disimpen malah bikin server mabok lem. Salah satu cara memanfaatkan data yang nganggur itu adalah digunakan kembali untuk tujuan tertentu. Personalisasi hanyalah satu dari sekian cara memanfaatkan kembali data-data yang sudah ada khususnya di internet.

Bicarain soal personalisasi, anggap aja nih lagi PDKT sama orang. Apa yang kudu dilakuin buat menaklukkan hati si doi? Kenali dulu profilnya, mulai dari bibit-bebet-bobot sampai hal-hal remeh seperti cara dia ngupil. Cara kita mencari tahu profilnya adalah dengan kepoin kesehariannya ato intip CV si doi jika ikut ajang kontak jodoh. Udah tahu profilnya kita langsung menaklukkan dia berdasarkan profilnya. Biasanya pas kita udah tahu profilnya si doi, si doi itu langsung kesengsem dan tumbuhlah benih-benih asmara yang dimulai dari kekaguman.

“Wih dia peka banget deh,” pikir si cewek.

ato gak

“Gile nih cewek. Rajin banget deh. Calon bini idaman!” pikir si cowok.

Di tulisan sebelumnya ane bahas mengenai personalisasi, sekarang ane bahas tentang si orang yang bikin sistem melakukan personalisasi bagi dirinya.

Orang Indonesia adalah orang paling narsis di jagad internet. Segala informasi dipamerin. Mulai dari akun semua media sosial yang mereka miliki, kegiatan remeh seperti status lagi boker, sampe hal-hal sensitif seperti SARA. Toh memang di akun jejaring sosial ada bagian form yang isinya minta data sejelas-jelasnya. Masalahnya kita gak tahu data itu bakal digunakan hanya untuk di akun tersebut atau mungkin jadi santapan empuk sistem personalisasi di internet. Lebih buruk lagi, kayak episode judul gak jelas (saking gak jelasnya dari hasil encode base64) The X-Files tadi. Agen Mulder dan Scully dikejar-kejar sama drone, sistem berbasis AI seperti smart home, dan mobil taksi tak berawak gara-gara hal tadi.

Bagaimana kita bisa tahu kalo kita mulai “diincer” kayak dua sejoli menjalin cinta yang bersemi dari FBI itu?

Pertama, buka mesin pencari favorit kita. Biasanya orang Indonesia summon si mbah. Ketik nama kita sendiri ato drag foto yang ada kitanya. Apa yang mesin pencari katakan tentang diri kita?

Kedua, apa kita merasa malu dengan aib kita? Semua orang pasti memiliki aib yang tidak ingin orang lain ketahui. Maksud ane adalah aib dari aktivitas kita di dunia maya. Banyak kasus mulai dari bully, putus cinta, perceraian, sampai kehilangan pekerjaan gara-gara masalah status di internet. Perhatikan semua itu.

Ketiga, bete sama iklan yang tiba-tiba muncul gak jelas? Belakangan ini penggunaan adblock saja tidak cukup. Banyak situs yang malah memasang anti-adblock dan memaksa kita menonaktifkan salah satu pelindung kita di internet (termasuk kuota kita). Merasa terganggu dengan iklan-iklan rese semacam itu?

Keempat, periksa perilaku kita. Seberapa sering kita posting foto selfie di internet? Seberapa sering kita menekan tombol like atau memberi tanda hati pada status orang lain? Seberapa detilkah informasi yang kita cantumkan di akun media sosial kita? Seberapa sering kita tag orang dengan akun media sosial kita? Seberapa sering kita share suatu hal di media sosial kita? Seperti apa kalimat yang kita jadikan status di internet? Berapa perangkat milik kita yang terhubung dengan internet? Periksalah hal tersebut sampai ke bagian remehnya.

Kelima, seberapa besar ketergantungan kita pada internet? Gak perlu analisis mendalam dari perilaku kita sehari-hari. Hanya kita yang tahu batas penggunaan internet kita. Durasi, situs yang sering kita kunjungi, hal-hal sepele seperti update status, dan lain-lain.

Keenam, pengaturan privasi. Apakah hal-hal yang kita unggah di internet itu sifatnya pribadi ataukah publik? Hal ini memang sepele namun berpengaruh banyak pada penampakan diri kita di internet. Semakin banyak unggah sesuatu yang sensitif di internet, semakin akurat gambaran diri kita di dunia maya.

Jawab semua pertanyaan ini sejujur-jujurnya di dalam hati. Renungkan baik-baik pertanyaan tersebut sambil memperhatikan keseharian kita. Merasa kita bermasalah dengan semua hal itu, itu tandanya kita sudah “diikuti”, “diawasi”, dan “diperlakukan spesial” oleh internet.