Tolong Bantu Kami Lepaskan Diri dari Jerat Pornografi! (Bagian Kedua)

Lanjutan tulisan dari bagian sebelumnya karena masalah teknis. Buat teman-teman yang belum baca bagian pertamanya, ane sarankan agar baca bagian pertamanya biar jelas duduk perkaranya.

Yuk kita sebagai sesama perempuan diskusi di sini. Teman-teman boleh cerita pengalaman soal perjuangan teman-teman melaluinya fase gelap itu. Kita ngobrol aja biar perasaan kita jauh lebih lega.

******

Fanservice Beda Tipis

sumber: webtoon Let’s Play

Apa itu fanservice? Singkatnya itu “cuci mata” dalam literatur atau penampilan secara langsung demi memuaskan dahaga para fans. Bikini, badan six-pack, baju berlekuk ala Betty Boop, belahan dada, hingga tampilan sehabis mandi menjadi bentuk umum yang biasa menjadi cuci mata bagi para fans. Fanservice sesekali tidak apa asalkan tidak mengurangi kualitas dari sebuah karya.

Kata siapa fanservice hanya milik kaum laki-laki? Bahkan perempuan pun tidak lepas dari fanservice. Lantas. Apa bedanya dengan laki-laki?

Laki-laki: mimisan sama ngiler.
Perempuan: mimisan, ngiler, histeris gak jelas, kebawa sampe mimpi, dan ngarep lebih.

Kenapa reaksi perempuan bisa lebih banyak daripada laki-laki? Laki-laki masih menjaga citra mereka di mata orang lain sekaligus punya kesibukan yang lebih penting ketimbang memperhatikan hal itu. Selain itu perempuan lebih banyak hidup di dalam dunia mereka jadi wajarlah mereka seperti itu.

Bagaimana reaksi laki-laki apabila melihat fanservice?

capek deh

Kenapa laki-laki bisa berpikir seperti itu? Mereka terlalu sering melihat fanservice sehingga reaksi mereka datar atau cenderung mengabaikannya. Anehnya, kasus itu terbalik pada perempuan. Mereka begitu histeris melihat pola fanservice yang hampir serupa berulang kali.

Pahitnya Cinta Manisnya Dosa

Judul dari bagian ini memang ane ambil dari salah satu judul film lawas Indonesia, Pahitnya Cinta Manisnya Dosa (1978). Film yang dibintangi oleh Yenny Rachman, Boy Tirayoh, dan drg. Fadly ini singkatnya menjelaskan tentang “pengorbanan” Mia demi menolong keluarganya. Singkatnya ini adalah film bertopik dewasa dengan cerita yang miris.

Kebetulan ini pas banget dengan topik yang bakal kita bahas selanjutnya.

Pahitnya cinta manisnya dosa tidak semata-mata menjelaskan judul sebuah film. Itu menggambarkan keadaan kita yang mulai terjerumus dalam jeratan pornografi. Dosa yang tampak manis setelah terkemas manis di dalam khayalan dunia perempuan. Dosa yang bersembunyi di balik indahnya hamparan bunga bermekaran pada sebuah kastil putih milik seorang pangeran tampan dari kerajaan seberang.

Ada yang bilang kisah romantis di masa sekarang layaknya pornografi dalam balutan permen ala California Gurls-nya Katy Perry.

Bahkan setelah membaca komentar dari para penonton YouTube di halaman ini, mereka lebih menyarankan untuk membuka Pornhub. Lelucon mereka memang beralasan.

Banyak di antara mereka yang pada masa lagu ini rilis masih berusia belia. Mereka kerap dimarahi guru dan orang tua mereka karena menyanyikan lagu ini. Mereka kemudian menonton kembali video klip ini setelah dewasa. Saat itu mereka paham maksud dari guru dan orang tua mereka. Menurut mereka, tayangan di Pornhub masih jauh lebih baik daripada dunia permen yang memperhalus lirik-lirik nakal dari lagu ini.

Begitupun dengan pornografi. Banyak orang yang terjerumus ke dalamnya karena ketidaksengajaan. Semua dikemas secara manis semanis negeri permennya Katy Perry tanpa tahu dampak jangka panjangnya. Merasa kurang puas dengan fanservice, mereka mencari jalan lain untuk memuaskan dahaganya. Ada yang mencari gambar syur, menonton tayangan ehem, bahkan lebih buruk lagi menjadi kreator dari konten-konten seperti itu.

Bermula dari Lepas Tanggung Jawab

Pornografi sama berbahayanya dengan narkotika. Sayangnya itu jauh lebih sulit untuk sembuh dibandingkan dengan narkotika. Para pecandu narkotika bisa sembuh setelah melalui fase sakaw. Pornografi tidak memiliki fase detoksifikasi seperti halnya sakaw. Usaha bagi para mantan pecandu dan terapis jauh lebih besar daripada kasus narkotika.

Kenapa trilogi Fifty Shades begitu dikecam di kalangan klub buku? Karena mereka peduli dengan kita sebagai pembaca. Orang-orang di klub buku selalu memilih buku terbaik. Mereka ulas dengan penilaian objektif sebagai acuan bagi para pembaca yang kebingungan untuk membaca buku bagus sesuai selera mereka. Bahkan ada salah satu akun yang terang-terangan memotret seperti ini di laman Goodreads.

sumber: Goodreads

Kadang kita juga melihat ada penulis atau pembuat konten yang tidak bertanggung jawab dengan menempatkan hal buruk di tempat yang salah. Kasus seperti ini muncul di Wattpad. Ironisnya, untuk konten berbahasa Indonesia sendiri pembuatnya serampangan menampilkan jelas konten seksual. Hal yang jelas-jelas terlarang dalam aturan main Wattpad. Mulai dari sampul, deskripsi yang terlalu frontal, hingga ane kesel. Kurang ajar emang. Tiap buka Wattpad malah disodorkan rekomendasi seperti itu jadi ane bisa tahu. Parahnya banyak pembuat genre tersebut adalah bocah di bawah umur. Ane tersentak membaca komentar dari para pengguna senior di sana. Bahkan ada beberapa pengguna senior membuat suatu komunitas pemberantas pornografi yang tidak hanya melaporkan konten-konten nakal tersebut, tetapi juga mendidik pembaca agar lebih cerdas dalam memilih bacaan mereka.

Fenomena di Wattpad tadi memang mencerminkan keteledoran kita sebagai penulis atau pembuat konten tanpa memperdulikan keadaan. Apa kita mau adik bahkan anak-anak kita kelak membaca hal seperti itu? Atau lebih buruk lagi mempraktikkan hal yang mereka lihat? Hal seperti itu jarang menjadi sorotan bagi para pembuat konten di negeri kita.

Contoh yang bagusnya itu Raditya Dika. Ada salah satu vlog lamanya (ane lupa video yang mana) yang bercerita soal proses kreatifnya sewaktu membuat konten dari materi stand up, buku, sampe vlog-nya. Kalo kita ikuti Raditya Dika dari era Kambing Jantan muncul pertama kali, tahu ‘kan gaya penuturannya kayak gimana? Dia cerita juga di vlog-nya, ada orang tua yang protes gara-gara anak kecil juga nonton channel YouTube-nya. Sejak saat itu dia mikir lagi mengenai konten tepat sesuai usia. Emang ada fans yang menyayangkan hal itu mempengaruhi kualitas guyonan dan kontennya. Toh Raditya Dika dengan gayanya yang sekarang aja kualitas kontennya malah lebih bagus.

Ada contoh lain yang kudu kita tiru juga. Kali ini datang dari dunia webcomic. Ane nemu ini pas lagi cari komik selingan biar gak bosen. Nama komiknya Randomphilia. Komiknya udah tamat di Line Webtoon versi Bahasa Inggris. Sesuai namanya, komiknya emang random. Sebangsa sama Tahilalats lah. Ada hal yang menarik dari si pengarangnya. Di awal kemunculannya aja, dia bikin chapter yang isinya permintaan maaf. Dia gak tahu kalo Webtoon itu banyak pembaca dari usia anak-anak sampe remaja. Untungnya dia sadar pas chapter-nya masih dikit jadi gak jadi sensasi kayak kasus Fifty Shades. Buat yang penasaran dengan chapter hilang itu, banyak kok bertebaran di situs manga scan.

Pornografi itu bukan masalah yang remeh. Ini serius mengingat di masa sekarang orang tua lebih bebas membiarkan anak-anak mereka mengakses internet di usia dini.

Coba Pikirkan (Pengakuan Jujur dari Korban)

Kenapa judul bagiannya seperti ini? Ya. Memang ini adalah tulisan jujur dari unek-unek di kepala dan perasaan ane yang sesak. Ane bahkan mengatakan pada tulisan sebelumnya. Ane pengen nangis.

Awal mula jerat ini dari lingkungan pergaulan. Memang ane besar di lingkungan yang mayoritas laki-laki. Bahkan banyak teman dekat ane yang laki-laki. Banyak di antara mereka yang mesum. Ane penasaran dengan obrolan mereka lalu iseng cari tahu. Dulu ane pernah baca majalah Playboy online. Tapi itu hanya sekali dan gak pernah buka lagi. Ane tahu posisi ane sebagai perempuan. Mereka akan memandang jijik bila ada perempuan seperti itu di antara mereka. Pada saat itu pun ane masih mendalami ilmu agama. Keduanya masih membentengi diri ane agar tidak melakukan kebodohan untuk kedua kalinya.

Semua kacau semenjak ane berusaha berbaur di tengah perempuan. Teman masa kecil ane yang mayoritas laki-laki pun bukan karena faktor lingkungan semata. Trauma masa kecil yang membuat ane kesulitan bergaul dengan perempuan sebaya. Secara topik pembicaraan pun ane memang sulit bergaul. Ane tomboi, kutu buku, lebih senang baca National Geographic daripada teenlit, lebih senang oprek PC daripada narsis di jejaring sosial, lebih senang jalan-jalan daripada nongkrong, dan ditambah trauma masa kecil yang bikin lebih sulit ngobrol. Ane mulai belajar bergaul dari literatur perempuan dan … astaghfirullah. Kenapa ini jauh lebih susah daripada sewaktu masih main sama anak laki-laki kayak dulu?

Tulisan ini pun ane buat selagi masih pergulatan batin melawan hal itu. Ane juga bingung. Kenapa dunia perempuan bisa lebih buruk daripada laki-laki? Bukankah kita ini calon istri dan ibu dari anak-anak kita? Bukankah kita ini berlian bagi keluarga dan suami kita kelak? Bukankah pepatah mengatakan bila rusak seorang perempuan maka rusaklah satu keluarganya?

Ane lelah hidup seperti ini terus. Racun itu terus menghantui ane di balik harumnya bunga poppy. Ia datang bersama keindahan yang semakin menggeragoti diri. Beruntunglah ane masih dalam tahap awal. Bekal agama sejak kecil ditambah pengalaman hidup di antara komunitas laki-laki mengajarkan ane banyak hal termasuk cara untuk berpikir jernih. Berada di tahap awal pun berjuang sesulit ini apalagi jika sudah terperosok lebih dalam! Butuh berapa lama bagi teman-teman agar kita sadar dan kembali diterima di masyarakat terlebih orang-orang yang kita sayangi?

Teman-teman, apa kita tidak bosan hidup seperti ini terus? Apa teman-teman tidak bosan banyak waktu yang tersita hanya untuk hal itu? Apa teman-teman merasa kehilangan waktu bersama orang yang kita sayangi? Apa teman-teman merasa kehilangan gairah akan hal-hal yang kita sukai dan tekuni sejak lama? Apa teman-teman merasa prestasi teman-teman selama ini sia-sia hanya karena hal itu? Apa teman-teman sayang akan diri kalian lalu membiarkan anak kecil dan orang dewasa di dalam diri kita menangis sedih melihat keadaan kita?

Bayangkan bila teman-teman melihat orang yang kita sayangi seperti itu. Masihkah teman-teman mau membiarkan mereka menyendiri begitu saja? Bergulat sendiri dengan dunianya lalu kita semakin buat ia menyendiri oleh prasangka kita? Apa teman-teman ingin menyelamatkan mereka? Apa teman-teman ingin melihat mereka kembali seperti mereka yang kita kenal dulu? Apa teman-teman ingin orang lain akan bernasib sama seperti mereka di masa depan?

Tidak.

Tidak.

Tidak boleh ada lagi hal yang sama terulang di masa depan. Laki-laki atau perempuan. Pornografi semakin mengancam kita lebih berbahaya daripada narkotika. Cukup lingkaran setan itu hanya berhenti pada kita. Selamatkan diri kita agar lebih banyak menyelamatkan orang lain dari lingkaran setan tersebut. Ayo kita bangkit. Ayo kita kembali berprestasi seperti dulu lagi. Ayo kita buat karya terbaik yang lebih sehat, positif, dan memberi dampak baik bagi kemajuan sesama.

Ayo kita jujur mulai dari sekarang. Ya. Memang kita pernah melihat hal itu. Kita ingin berubah. Kita harus jujur dan lebih terbuka pada diri sendiri. Minta tolong orang yang lebih berpengalaman untuk memecahkan masalah kita. Bisa orang tua, sahabat, pemuka agama, atau konselor yang menurut kita nyaman. Tobatlah selagi masih sadar. Bukan tobat sambel ye tapi tobat ditambah membuat konten lebih positif bagi kita. Konten yang bisa memberdayakan dan mencerdaskan perempuan. Konten yang menawarkan fantasi sesaat yang sesat dan tidak sehat. Yuk kita sama-sama perangi pornografi dengan saling mengulurkan tangan mengajak, membantu, dan membimbing teman-teman kita yang senasib dengan kita dulu.

Iklan

Tolong Bantu Kami Lepaskan Diri dari Jerat Pornografi! (Bagian Pertama)

Jujur aja pas ane ngetik judulnya aja mo nangis.

Candu memang nama salah satu jenis narkotika. Di samping itu, candu juga berarti suatu hal yang bisa membuat orang melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa sebab hingga menjadi sebuah “kebiasaan”. Candu itu kebiasaan buruk yang bisa menjerumuskan orang lain dalam maksiat, penyesalan, aib, putus asa, depresi, hingga … menganggap semua warna dalam kehidupan hanya sebatas rona dalam palet monokrom.

Berlebihan itu tidak baik.

orang tua kita

Beda Masa, Beda Cerita

Ane inget ada salah satu hadits yang intinya mengatakan “didiklah anak sesuai zamannya”. Benar tantangan setiap zaman itu berbeda-beda. Pola didik di era Victorian berbeda dengan pola didik di era Perang Dunia ke-2. Hal itu tampak jelas dari film dan literatur yang mencerminkan masa itu.

Ane emang belum tamat baca Pride and Prejudice. Baru sampe bab 4 terus baca berulang-ulang gara-gara vocabulary ane pas-pasan dan biar ngerti sama ceritanya. Ane cuman ikutin saran pembaca dari forum buku di internet buat referensi novel khususnya genre romance.

Pride and Prejudice merupakan salah satu literatur klasik bergenre romantis terbaik sepanjang masa.

orang-orang klub buku

Ada salah satu blog penulis yang menganalisis novel Pride and Prejudice dari sudut pandang kepenulisan. Ia ulas dalam tulisannya, inti novel tersebut itu “tips memilih lelaki yang tepat untuk jadi suami kita kelak”. Pas ane baca bab awalnya pun sudah menggambarkan jelas budaya yang berlaku pada masa itu. Seorang perempuan yang belum menikah sengaja disuruh sosialisasi sama orang tuanya biar bisa dapat jodoh. Perempuan itu lalu menimbang baik-baik setiap lelaki yang datang dan berusaha meminangnya. Berbeda dengan masa sekarang yang “langsung klop” dengan seseorang tanpa berusaha saling mengenal.

Contohnya masalah dalam Frozen. Masalah bermula dari ketidaksetujuan Elsa dengan hubungan Anna yang instan dan tiba-tiba minta restu untuk menikah. Wajarlah bila Elsa seperti itu. Sebagai seorang kakak, ia ingin hal yang terbaik bagi adiknya. Ia juga tidak tahu asal usul Hans yang tiba-tiba melamar Anna.

Bahkan dalam perjodohan sekalipun, kita tidak lantas menerima mentah-mentah begitu saja lamaran seseorang. Misalnya kita coba buat ta’aruf/minta tolong lewat mak comblang/aplikasi biro jodoh, apa kita terima setiap orang yang disodorkan begitu saja? Tidak. Kita pelajari dulu CV-nya (kalo kata orang tua mah, bibit-bebet-bobot-nya), pelajari karakternya, cara memperlakukan kita dan keluarga di mata orang lain, barulah kita putuskan untuk menikah atau pindah ke calon lain.

Sayangnya di masa sekarang lebih banyak perempuan yang seperti Anna daripada Liz.

Fantasi Liar, Media, dan Ketidakpuasan

Penjelasan lebih detilnya ada di tulisan ane sebelumnya. Ane cuman mo bahas hal lain yang menyebabkan faktor itu.

Kenapa kebanyakan perempuan zaman sekarang memiliki pola pikir seperti Anna? Ada beberapa faktor yang mendorong hal itu.

Pertama, media. Kita bisa belajar dari era film bisu, novel, dan literatur budaya mengenai potret perempuan masa lalu. Bagaimana mereka memotret keadaan perempuan di masanya? Bagaimana pengaruh media terhadap citra perempuan di suatu masa?

Misalnya tentang Audrey Hepburn. Sampai sekarang Audrey Hepburn terkenal dengan ciri khasnya dalam mode. Salah satu ikon yang khas adalah setelannya dalam film Breakfast at Tiffany’s (1961). Pada masa itu para perempuan berbondong-bondong meniru gaya Audrey Hepburn dalam berbusana.

Kedua, perlawanan terhadap stereotipe perempuan. Di masa lalu, feminis hanya berjuang agar perempuan bisa mendapat hak dasar mereka seperti mendapat pendidikan dan memilih pemimpin dalam pemilu setempat. Seiring perkembangan zaman, pergerakan feminis yang semula hanya untuk meminta hak mereka di masyarakat menjadi lebih buruk. Bahkan di kalangan sebagian perempuan sendiri pun mengatakan feminis itu “Nazi modern dalam kedok aktivis”. Jadi perjuangan mereka yang melenceng justru malah menjerumuskan perempuan dari kodratnya semula.

Ketiga, kehampaan dalam hidup. Masyarakat modern sekarang justru merasa hampa dalam hidup mereka. Hal yang banyak dirasakan negara maju namun tidak untuk negara dunia ketiga. Negara dunia ketiga memang masih berkembang dan memiliki masalah kompleks yang sulit untuk mereka pecahkan sendiri. Contohnya Indonesia yang masih ribut karena hal sepele, fanatisme buta, birokrasi benang kusut, urusan perut sendiri, dan perebutan kekuasaan. Ironisnya semua hal yang masyarakat modern cari semuanya berada di negara dunia ketiga: kepuasan batin, kedamaian, seni untuk bahagia, kehangatan keluarga, masyarakat yang hangat, dan kedekatan intim dengan Sang Pencipta.

Terakhir, ini alasan yang paling klise dan umum. Media membentuk persepsi seorang laki-laki di mata perempuan. Setiap bangsa dan masa memiliki preferensi mereka sendiri dalam memandang laki-laki. Ketika melihat media dengan para lelaki tampan di luar sana, secara tidak langsung pola pikir kita mengarah pada gambaran lelaki tampan tersebut. Otomatis bila bertemu dengan lelaki di luar dari bayangan para perempuan.

Amit-amit jabang bayi punya suami kek gitu!

Perempuan yang seleranya selevel oppa Korea

Faktanya justru lelaki tampang pas-pasan banyak yang dapat istri cantik bahkan bule! Lebih beruntung lagi bila mereka dapat gadis Arab yang minimal lulusan S2.

Di Balik Kisah Romantis

Ane pernah bahas juga topik semacam ini di tulisan sebelumnya. Ane cukup nambahin hal yang masih berkaitan tapi tidak ditulis di tulisan sebelumnya. Ane persempit lagi fokus tulisannya pada genre sejuta perempuan: romance.

Ane baru tahu fakta unik di balik genre romance. Di masa lalu, genre ini tidak berfokus pada kisah asmara dua insan semata. Epik heroik seorang pahlawan dalam menaklukkan sebuah wilayah atau lawan-lawannya termasuk dalam cakupan genre ini. Definisi lebih jelasnya bisa cek di internet atau buku lawas mengenai sejarah genre romance.

Apa Romeo dan Juliet masih tergolong dalam genre romance berdasarkan definisi lawas ini? Ya.

Kenapa perempuan sangat menyukai genre ini dibandingkan dengan drama, chicklit, fiksi umum, atau genre lainnya? Itu tadi. Alasan klise mengenai ekspektasi laki-laki tidak sesuai harapan.

Ane pernah baca soal bedanya introvert sama extrovert dalam hubungan asmara. Keduanya itu berbeda. Jadi jangan samakan stereotipe tentang introvert dan extrovert! Ada yang seneng basa-basi busuk tapi ada yang seneng bicara serius. Ada yang bisa bikin jantung perempuan berdetak tidak karuan dan ada juga yang datar terus bilang “oh”. Ada salah satu kepribadian MBTI yang bisa bikin perempuan meleleh: INFJ.

Masalahnya populasi penduduk dengan kepribadian INFJ itu populasinya 1% dan terkenal sebagai salah satu kepribadian misterius. Nah bagaimana bila harapan mereka tidak terpenuhi? Salah satu fungsi hiburan adalah melarikan diri dari realita yang kadang berbanding terbalik dengan pemikiran naif kita. Pelarian kita sebagai perempuan adalah literatur yang banyak dibuat dari kita-oleh kita-untuk kita. Salah satunya literatur genre romance. Justru di balik indahnya romantisme dari setiap rangkaian cerita, ada sebuah lembah gelap tersembunyi dalam jubah indah berkilauan bernama romantisme.

Gaya penulis menuturkan kata demi kata menjadi rangkaian indah cerita mereka berbeda satu sama lain. Cara bertutur seorang komikus akan berbeda dengan seorang novelis. Begitu pula cara bertutur penulis novel klasik berbeda dengan penulis modern. Semua dipengaruhi oleh hal-hal di sekitar kehidupan si penulis itu. Bacaan, ajaran agama, kehidupan sosial-budaya setempat, hal-hal lumrah di masanya, pandangan politik, hingga hal lain dapat mempengaruhi cara tutur mereka. Mulai dari pembingkaian setiap adegan dalam cerita hingga tema yang mereka usung sepanjang jalannya cerita. Tapi tanpa kita sadari, banyak penulis genre romance terjebak dalam klise atau pakem cerita yang membentuk pola pikir kita sebagai perempuan.

Antara Fujoshi dan Fifty Shades

Kenapa ane banyak menyinggung soal fujoshi dalam tulisan? Sebenarnya itu fenomena menarik jika kita lihat dari sudut pandang seorang perempuan.

Kesamaan antara fujoshi dan Fifty Shades adalah erotica. Genre irisan antara romance dan pornografi. Bedanya fujoshi adalah salah satu fandom perempuan sementara Fifty Shades adalah salah satu literatur erotica. Keduanya muncul dengan kontroversi. Fujoshi dianggap merusak sebuah fandom karena imajinasi liar mereka. Seri Fifty Shades pun dianggap merusak masa depan literatur (dan pembacanya) di kalangan lingkungan klub buku, kritikus literatur, psikolog, pemuka agama, dan aktivis perlindungan anak.

Trilogi Fifty Shades bermula dari sebuah fan fiction Twilight dengan nuansa BDSM kental. Ironisnya di kalangan pelaku BDSM sendiri pun menganggap hal yang tercermin dalam buku tersebut tidak sesuai dengan “aturan main mereka”. Tidak hanya masalah BDSM yang menjadi fokus kritik dari berbagai kalangan, tetapi juga buruknya narasi penceritaan, penggambaran karakter perempuan lemah, tidak adanya pendalaman karakter/plot, hingga adegan pembalut wanita yang kontroversial. Bahkan lelaki manapun akan berpikir dua kali sebelum berhubungan badan sewaktu tahu perempuannya sedang haid!

Fujoshi sebenarnya adalah kata bermakna peyoratif bagi “perempuan mesum”. Perempuan mesum di sini maksudnya fans dari genre yaoi dan yuri, subgenre dari pornografi. Fantasi mereka yang liar dan melampaui batas justru membuat orang lain jijik. Bahkan ada sebuah survei yang dilakukan oleh kalangan penyuka anime di Indonesia mengatakan mayoritas penonton laki-laki enggan menonton anime dengan tokoh mayoritas laki-laki/bertema olahraga. Alasannya mereka risih dengan keberadaan fujoshi yang justru membuat kesenangan menonton anime buyar seketika.

Kemunculan fenomena tersebut berawal dari seksualisasi gambaran pria di media. Kata siapa hanya perempuan yang menjadi target seksualisasi dalam media massa? Seksualisasi karakter, dengan kata lain fanservice dalam istilah anime, secara tidak langsung membentuk gambaran kita akan seorang yang “ideal”. Pada kasus laki-laki itu pria yang tampan, seksi, nakal, memiliki senyuman sensual, berstatus mapan secara finansial, tapi bisa memanjakan perempuan. Contohnya Edward Cullen dalam Twilight. Banyak karakter vampir yang sudah dikenal masyarakat. Kenapa Edward bisa lebih banyak memikat kaum hawa dibandingkan dengan Count Dracula? Jawabannya adalah itu tadi. Fisik yang memuaskan hasrat para wanita kesepian di luar sana.

Fantasi Melampaui Batas

Ane pernah baca artikel menarik di internet mengenai sudut pandang laki-laki. Satu artikel membahas tentang sudut pandang lelaki pada umumnya. Satu lagi sudut pandang “maho”. Keduanya disodorkan literatur perempuan. Bagaimana reaksi mereka?

Apa mereka hanya berpikir laki-laki itu isi pikirannya hanya hubungan intim? Laki-laki terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka di luar sana. Itu sebabnya laki-laki hanya bicara topik yang umum seperti kehidupan kantor dan olahraga.

reaksi seorang pria membaca salah satu rubrik Cosmopolitan

Imajinasi para perempuan terlalu liar. Kami tidak pernah melakukan hal-hal sampai seperti seliar itu.

reaksi seorang maho menonton yaoi

Jika para lelaki saja bisa berpendapat seperti itu, berarti ada yang salah dengan pola pikir kita sebagai perempuan. Anehnya mereka menganggap itu sebagai hal yang lumrah. Secara tidak langsung fantasi mereka mendorong mereka pada jerat lembah hitam pornografi.

Kasus laki-laki dan perempuan memandang pornografi itu sangat berbeda. Hal itu dipengaruhi pula dari sudut pandang mereka memandang pornografi.

Ane memang besar di komunitas yang mayoritas anggotanya adalah laki-laki. Ane amati perilaku dan kebiasaan mereka. Beberapa dari mereka hanya menganggap melihat pornografi adalah ciri lelaki normal dan dewasa. Bahkan anak alim sekalipun pernah sekali melihat pornografi. Ane pernah mendengar salah satu pengakuan sobat lelaki ane. Dia pernah menonton sekali video porno lalu setelah itu ia hapus dan tidak pernah menontonnya lagi.

Apa mereka terus membicarakan hal itu seperti halnya dalam pikiran para gadis? Tidak. Laki-laki lebih senang membicarakan hal-hal yang menurut mereka “cowok banget”. Tidak jarang pula ada yang curhat urusan asmara layaknya seorang gadis.

Memang ada laki-laki yang kecanduan pornografi. Tapi apa mereka berpikir setiap saat soal itu? Jawabannya tidak. Kesibukan mereka justru mencegah pikiran tersebut muncul. Laki-laki memang lebih aktif secara fisik dibandingkan dengan perempuan. Itu sebabnya banyak topik pembicaraan berkaitan dengan olahraga, karir, otomotif, hobi, musik, hingga perjalanan. Kadang di mata lelaki pun nama bintang porno menjadi bahan lelucon.

Hal itu berbanding terbalik dengan perempuan. Masalah mereka jauh lebih kompleks daripada laki-laki. Lelucon terkenal di kalangan laki-laki mengatakan perlu satu buku penuh untuk memahami seorang perempuan. Itu pun hanya jilid pertama dan belum mencakup masalah mereka secara keseluruhan.

Kenapa para lelaki sekalipun mengatakan hal itu? Perempuan lebih menyimpan banyak tekanan dibandingkan dengan laki-laki. Faktor keluarga, cara pandang laki-laki memperlakukan mereka, norma yang berlaku di masyarakat, stereotipe seorang perempuan ideal, hingga konflik internal dengan sesama perempuan pun mempengaruhi kondisi mereka. Mereka tidak bisa sebebas laki-laki untuk menjadi dirinya. Mereka kadang harus memasang topeng demi menjaga nama baik keluarga dan menjadi perempuan ideal di mata masyarakat. Bahkan untuk sekedar meluapkan masalah di dada mereka, sesama perempuan pun bisa menjadi masalah. Tidak seperti laki-laki yang menganggap pertemanan di antara mereka seperti ikatan darah persaudaraan, pertemanan di antara perempuan memiliki ikatan kompleks dan kadang berlandaskan muslihat. Karena itu tadi, perempuan itu lebih sering memakai “topeng” di hadapan banyak orang.

******

Buset buat jelasin hal ini aja bisa sampe ngelag gini. Kalo aja Gutenberg di WP bisa kayak editor dulu yang dikit-dikit gak harus pake koneksi internet. Soalnya internet lagi naik turun.

Okelah cukup segini pembahasan ane. Buat teman-teman yang masih penasaran, bagian keduanya sudah siap. Sampai jumpa di bagian berikutnya.

Anime Underrated, Boleh Juga Buat Isi Waktu Senggang

Sebelumnya ane pernah bahas soal OST anime yang underrated, kali ini ane bahas anime-nya. Singkatnya anime underrated itu anime yang punya kualitas tapi kalah saing dengan anime lain. Entah itu rating sewaktu masih tayang di Jepang, penilaian para fans, atau tema yang kurang menarik perhatian penonton khususnya penonton asing.

Ane kumpulkan daftar dari beragam sumber di internet. Ane sengaja gak pake urutan. Hal yang ane temui bisa saja berbeda dengan persepsi teman-teman. Lantas … cekidot.

Claymore

Kenapa orang banyak yang luput dengan anime ini? Ane emang ngikutin komiknya dari zaman SMP tapi seumur-umur belum pernah liat anime-nya. Ane justru baru tahu anime-nya belakangan ini.

claymore-clare-anime
sumber: Madhouse

Singkatnya, Claymore bercerita tentang pasukan cewek yang separuh manusia-separuh Youma yang bekerja untuk membasmi Youma. Mereka terkenal sebagai “penyihir mata perak” karena ciri fisiknya. Setiap pasukan memiliki peringkat tersendiri berdasarkan  tingkat kekuatan, skill, gaya bertarung, dll. Komiknya emang udah tamat dari tahun 2014 tapi … anime-nya masih setengah jalan.

Claymore itu komik bulanan dan baru diadaptasi jadi anime pas tahun 2007. Sayangnya ending-nya gantung soalnya ceritanya berakhir di bagian pertama cerita sebelum time leap. Belum sampe sesudah time leap 7 tahun apalagi sampe *uhuk* reuni dengan Priscilla *uhuk*. Padahal secara cerita pun udah punya modal cukup untuk adaptasi. Bedanya anime sama manga-nya itu cuman adegan “sabet-sabetan pedang”. Di anime-nya itu emang agak gore tapi di manga-nya berasa liat badan Buggy di One Piece lagi kepotong.

buggy-the-clown-one-piece
sumber: Fanpop

tenang, tidak berdarah

Padahal bisa dibikin remake kayak FMA Brotherhood ato lanjut langsung dari time leap 7 tahun. Sayangnya underrated. Bahkan ane nemu banyak komentar di YouTube soal anime underrated yang sebut Claymore.

Zetsuen no Tempest

Ane jadi inget betapa sulitnya nerjemahin anime yang satu ini. Otak lieur sepadan lah sama ceritanya.

Anime yang satu ini memang secara rating kalah dengan anime lain di musimnya. Ane inget soalnya waktu itu ngikutin karena tuntutan fansub. Di samping itu, Zetsuen no Tempest punya cerita yang … bikin bingung juga sih. Soalnya genrenya misteri dan banyak motif yang berlatar belakang karya Shakespeare.

cover-zerochan
sumber: Zerochan

Cerita bermula ketika Fuwa Mahiro mengetahui adiknya, Aika, meninggal secara misterius di rumahnya. Setelah itu ia dan sahabat-juga-pacar-adiknya, Yoshino, menyelidiki penyebab kematian Aika. Mereka mulai mendapat bantuan dari Hakaze, seorang penyihir yang terdampar jauh di pulau terpencil, lewat bantuan alat komunikasi mirip boneka.

Sama seperti Claymore, anime ini diadaptasi dari komik juga. Komiknya ada kok di Gramedia ato taman bacaan terdekat. Ini salah satu anime yang sering ane rekomendasiin ke temen. Gak cuman karena ceritanya, ending-nya cocok buat bahan koleksi. Sayangnya underrated di masa tayangnya.

Zankyou no Terror

Salah satu anime bertema berat yang kudu ditonton penyuka genre psychological. Ane belum pernah nonton jadi bakal ulas dari pembahasan di internet.

poster-zankyou-no-terror
sumber: Wikipedia, fair use

Anime ini bermula sebuah serangan teroris yang melumpuhkan kota Tokyo. Salah satu barang bukti yang mengarah pada teroris itu hanyalah sebuah video di internet yang mengundang kepanikan warga. Belakangan diketahui kelompok teroris itu bernama Sphinx dan digawangi dua orang, Nine dan Twelve.

Ane baru tahu soal anime ini tadi pas habis liat review di YouTube.

Mushishi

Anime kedua yang ane tahu dari YouTube. Ironisnya, di Jepang sendiri meraih penghargaan Kodansha Manga Awards untuk kategori Fiksi Umum.

Mushishi berlatar belakang antara zaman Edo dan Meiji tapi dalam kondisi Jepang masih sebagai negara tertutup. Sebenarnya cerita dari manga berjudul sama ini mirip seperti antologi. Kesamaan dari setiap episodenya adanya keberadaan Mushi, semacam penampakan gitu, dan seorang pria bernama Ginko.

mushi-shi-promo
sumber: Kodansha

Tidak hanya diadaptasi menjadi anime, manga-nya pun diadaptasi menjadi film berjudul serupa di tahun 2007. Adaptasi filmnya pun diputar di festival film Venice, Toronto, Sundance, dan Sitges. Bisa masuk daftar tayang beberapa festival film menandakan sumber asalnya pun bukan sembarangan. Jadi, tertarik untuk menontonnya juga?

Princess Tutu

Kali ini ane bakal bahas genre shoujo. Biasanya shoujo identik dengan kisah romantis nan manis tapi ini berbeda.

Cerita bermula dari Drosselmeyer, seorang penulis cerita dongeng, yang meninggal sebelum sempat menyelesaikan karyanya. Berharap ia ingin ceritanya selesai, ia menemukan seekor bebek yang jatuh hati dengan seorang pangeran. Hantu Drosselmeyer memberikan sebuah liontin pada bebek itu agar bisa menjadi manusia. Bebek itu bisa berubah menjadi Princess Tutu, seorang balerina yang bisa mengembalikan pecahan hati si pangeran.

princess-tutu-ahiru-fakir
sumber: Fanpop

tidak selamanya yang imut berakhir manis

Ane inget dulu ini pernah tayang di Spacetoon. Kalo gak ada yang ngomongin anime ini di komentar YouTube, ane gak kepikiran soal ini. Ceritanya tergolong gelap terlebih di paruh kedua ceritanya. Gak selamanya cerita berlatar belakang negeri dongeng semanis hidup jadi putri raja ala Disney. Jadi ini bisa jadi bahan pertimbangan buat ditonton. Tenang, aman juga kok buat nonton bareng sama keponakan ato adik yang masih kecil.

The Law of Ueki

Hah? Seriusan? Underrated?

ueki-flat-face
sumber: Fanpop

ojo baper yo mas

Bisa dibilang anime yang pernah tayang di Global TV (sekarang GTV, perasaan logonya balik ke awal muncul deh ._.) ini idenya gokil. Tokoh utamanya aja bisa mengubah sampah jadi pohon. Bahkan bisa bikin ane yang masih bocah chuunibyou ngayal ubah sampah jadi pohon biar mengurangi kerusakan Kawasan Bandung Utara. (soalnya pas Ueki tayang, sekitar 2008, lagi rame-ramenya berita alihfungsi KBU) Bakat yang peserta turnamennya pun gak kalah aneh. Ane inget yang paling kocak itu “bakat bisa bikin orang jadi maniak kacamata”.

Siapa sangka salah satu anime populer yang menemani masa kecil kita di televisi ternyata underrated di luar negeri sana.

Darker than Black

Lah? Ini juga? *garuk kepala*

Anime ini bercerita tentang sekelompok orang berkemampuan khusus yang dikenal sebagai kontraktor. Hal itu muncul akibat fenomena aneh “Hell’s Gate” di Tokyo dan “Heaven’s Gate” di Amerika Selatan. Cerita ini berpusat pada anggota Syndicate: Hei, Yin, si-kucing-lupa-namanya, sama Huang.

sumber: Bones

senyum dikit aja, melting hati adek

Sebenarnya ane nontonnya malah dari tengah. Salah satu anime yang agak pusing soalnya mikir juga pas nonton ditambah nonton dari tengah. Tapi ya lumayan ada hiburan pas lihat Hei lagi senyum. *gubrak* Hal yang paling berkesan dari anime ini gak cuman pas Hei lagi senyum, tapi juga si nenek peramal yang sering-ngomong-seakan-ngelantur di akhir cerita.

Sebenarnya anime ini ada dua season. Ane cuman nonton season 1 di TV kabel. Buat yang seneng action, sci-fi, dan agak mikir, ini bisa jadi rekomendasi untuk ditonton.

Toward The Terra

Anime ini sebenarnya adaptasi dari komik lawas era 70-an. Sebelumnya sempat diadaptasi lebih dahulu jadi sandiwara radio di era 70-an dan film anime di tahun 1980. Seumur-umur ane belum pernah denger apalagi nonton anime ini.

toward-the-terra
sumber: Minitokyo

Ane kutip dari Wikipedia, anime ini bercerita tentang kehidupan manusia di abad ke-31. Di masa itu bumi sudah tidak layak huni akibat perang dan polusi. Mereka pindah lalu membuat koloni di luar angkasa. Kehidupan mereka diatur oleh superkomputer bernama Super Dominance dan manusia pilihan yang dikenal sebagai Members Elite. Manusia dikembangbiakkan dengan metode semacam bayi tabung lalu dipilihkan orang tua oleh mereka. Sebuah ras manusia baru dengan kemampuan psionik muncul dengan sebutan Mu dan menjadi masalah bagi Super Dominance sehingga harus dimusnahkan. Cerita ini berkisah tentang Mu yang ingin kembali melihat keadaan bumi.

Ane baca ulasannya di internet banyak yang bagus tapi sayang kurang dilirik. Ada yang pernah nonton ini? Bagikan di komentar ya.

Rainbow: Nisha Rokubō no Shichinin

Kasusnya sama kayak Claymore. Ane cuman ngikutin komiknya tapi gak tahu soal anime-nya. Jujur komiknya aja bisa bikin hidung ane mampet saking gak kuat nahan nangis.

Ceritanya lebih ke persaudaraan tujuh laki-laki yang muncul setelah masuk semacam penjara khusus remaja. Mereka yang dibimbing satu tokoh bernama “si Abang” (ane ngikutin terjemahan di Level), seorang tahanan senior. Ketika masa tahanan mereka habis, si Abang tewas dibunuh. Kehidupan para lelaki mantan tahanan itu berubah setelah hukuman berakhir. Masing-masing di antara mereka memiliki kepentingan sendiri di luar tahanan. Ada yang ingin jadi petinju, ada yang ingin jadi pengusaha, ada yang ingin mencari adiknya, dll.

sumber: Narvii

justru yang bikin ane nangis itu lihat persaudaraan di antara mereka

Komiknya memang mendapat penghargaan dari Shogakukan Manga Awards untuk kategori Fiksi Umum. Jujur aja temanya emang berat mulai dari ketidakstabilan kondisi Jepang setelah perang hingga pelecehan seksual terhadap tahanan (ane paling jijik liat bagian ini). Ane gak tahu kalo adaptasi anime-nya bakal gak beda jauh dari komiknya ato gak. Jadi, ini bisa jadi bahan pertimbangan untuk tontonan.

Saiunkoku Monogatari

Ada yang tahu ini anime apa? Ane nemu namanya di daftar anime underrated versi komentar YouTube. Okelah ane cari informasinya lagi.

Kalo ada yang rekomendasi anime, berarti dia gak sembarangan. Saiunkoku Monogatari singkatnya anime bergenre romance dengan latar belakang mitologi China. Anime ini diadaptasi dari light novel berjudul serupa karya Sai Yukino. Bersiaplah wahai para gadis, cogan bertebaran di mana-mana!

saiunkoku-monogatari
sumber: Fanpop

cogan mana cogan?

Saiunkoku Monogatari bercerita tentang Hong Shurei, seorang keturunan bangsawan yang miskin. Bapaknya bekerja sebagai pustakawan di istana dengan gaji sedikit. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia mengajar di kuil juga mengambil banyak pekerjaan. Namun ia bercita-cita untuk ikut serta ujian masuk kenegaraan, hal yang masih tabu bagi seorang wanita. Nasibnya berubah ketika seorang penasehat kerajaan memintanya menjadi selir untuk mendidik raja yang baru selama enam bulan.

Ane belum pernah nonton ini apalagi baca LN-nya. Katanya sih rame jadi boleh icip juga.

Outlaw Star

Ane baca ulasannya tema ceritanya gak beda jauh dari Star Wars. Apa ceritanya bakal lebih seru?

Outlaw Star adalah sebuah anime bertema space opera yang diadaptasi dari komik berjudul sama. Cerita bermula ketika sebuah asteroid jatuh di sekitar kawasan Cina. Asteroid tersebut mengandung unsur bernama “dragonite” yang memungkinkan pesawat luar angkasa bergerak lebih cepat daripada cahaya dan bepergian jarak jauh dalam galaksi lebih cepat. Koloni manusia terbentuk di galaksi namun ancaman dari pembajak, pembunuh bayaran, dan pelanggar hukum mengganggu kehidupan manusia di luar angkasa.

outlaw-star-meme
sumber: Pinterest

Banyak komentar positif yang didapat oleh anime ini. Bahkan mendapat peringkat ke-20 dalam Anime Grand Prix di tahun 1999. Sayangnya popularitas dari anime ini kalah bersaing dengan Cowboy Bebop yang rilis berdekatan dan dirilis oleh studio yang sama.

Suisei no Gargantia

Sekilas lihat dari posternya sih berbau mecha gitu.

sumber: Zerochan

Ini memang anime bertema mecha. Tebakannya gak salah.

Anime ini bercerita tentang Ensign Ledo, pemuda berusia 16 tahun, seorang pejuang dari Aliansi Manusia Galaksi. Aliansi tersebut terlibat perang dengan Hideauze, spesies alien bertentakel. Ia seorang pilot dari Machine Caliber, sebuah battle suit humanoid otomatis yang ia panggil dengan “Bilik”. Setelah gagal menghancurkan senjata lawan, Ledo tersedot ke lubang hitam dan pingsan. Ia baru menyadari dari Bilik bahwa ia mengalami sirostatis selama 6 bulan. Mereka diselamatkan sekelompok orang yang tinggal di atas kapal Gargantia. Bumi yang selama ini menjadi mitos awal kelahiran umat manusia kini berselimut samudera.

Ane belum pernah nonton apalagi ulas anime ini sebelumnya. Tapi ane baca ulasan dari pengguna lain di internet, itu salah satu anime underrated yang pernah tayang.

Mungkin cuman segini daftar yang bisa ane tulis. Hasil penjelajahan ane kurang begitu akurat berhubung nulis sambil ngantuk. Nonton ato tidak, semua tergantung dari temen-temen. Pastikan tayangan yang kita tonton itu baik dan sesuai dengan selera kita. Sampai jumpa lagi di ulasan berikutnya!

Tambahan

Ada satu lagi anime dari masa kecil ane yang kudu banget buat ditonton. Jika pernah nonton ini, teman-teman berarti beruntung banget.

World Masterpiece Theater

Anime apa ini? Singkatnya ini adalah nama dari sekumpulan tayangan anime yang tayang dibuat oleh Nippon Animation. Serial ini tayang dari tahun 1969 sampai 1997 lalu muncul kembali di tahun 2007 – 2009. Seri awalnya dibuat oleh Mushi Production lalu dilanjutkan oleh Zuiyo Eizo yang kini menjadi cikal bakal Nippon Animation. Semua anime yang ada dalam seri ini adalah adaptasi dari cerita dan novel klasik.

Apa seri ini pernah tayang di TV Indonesia? Pernah dua kali: TV7 (sekarang Trans7) dan Spacetoon. Seingat ane itu Little Women II: Jo’s Boys sama The Adventures of Tom Sawyer.

sumber: Crunchyroll

Tapi rasanya kayak kenal dengan style ini. Pernah liat di mana ya? Buat temen-temen yang mikir kayak gitu juga, itu reaksi wajar pas pertama kali liat anime-nya Ghibli. Faktanya Hayao Miyazaki dan Isao Takahata itu memang pernah menangani seri ini hingga tahun 1975. Jadi wajar pengaruh mereka keliatan jelas dari desain karakternya. Ada yang bisa nemu karakter mirip sama Kiki di Kiki’s Delivery Service gak?

Pas ane cek di forum anime, banyak yang sepakat seri ini jadi salah satu harta karun dalam jagad per-anime-an. Jangankan anime-nya, literatur klasik yang jadi referensinya pun memang punya kualitas di masanya.

Ada yang juga baca novel ato buku cerita dari salah satu serinya? Kalo ane sih cuman baca seri Anne soalnya ada di rumah.

Seperti judulnya, anime ini memang underrated khususnya untuk generasi sekarang. Itu sebabnya seri ini berakhir di tahun 2009 karena minimnya peminat dan penonton. Mungkin penonton di sana lebih doyan nonton ecchi sama fanservice daripada nonton cerita bagus kayak gini. Kadang Jepang itu aneh. Biar kata satu seri anime populer di luar negeri tapi penonton lokalnya jarang yang lirik eh malah “bungkus”. *tepok jidat* Macam sinetron Indonesia aja.

Penasaran dengan seri anime ini? Masih tayang kok di Spacetoon. Cek aja jadwal tayangnya di situs streaming lokal kesayangan teman-teman.

Harta Karun Kadang Ada di Anime Underrated

Kemaren ane bicarain soal lagu lawas Indo, Barat, dan sekarang giliran anisong. Soal dangdut ane masih belum riset tapi bakal ane tulis juga. Berhubung anime lawas udah banyak yang jelasin jadi ane persempit fokusnya di anime modern.

Orang-orang paling cuman taunya yang populer di osu sama tenar di komunitas. Soal anime zaman sekarang beda jauh kayak anime zaman ane masih kecil. Mungkin karena ane besar di era keemasan anime, awal 80-an hingga akhir 90-an, jadi ngikutin. Semenjak anime udah gak tayang di TV lagi, ane gak ngikutin. Baru ngikutin lagi pas zaman SMK itu pun gara-gara si ganteng-susah-senyum Hei. Bisa ketebak ‘kan itu dari anime apa?

Anime zaman sekarang jauh lebih sulit buat dipilih daripada anime lawas. Anime lawas lebih gampang karena variasi tema lebih beragam dan cerita banyak yang lebih berani menyasar segmentasi lebih luas. Terutama genre shoujo berkualitas yang kalo sekarang sih paling banter buat bahan dorama ato drakor. Sekarang cuman mengandalkan artwork bagus, fanservice (roti sobek, bodi cewek fungsi sinus, dll), harem, tapi minim di pendalaman cerita, karakter, dan akting dari pengisi suaranya. Ada yang bagus pun malah jadi underrated karena kurang faktor moe.

Ini tulisan ane mengenai OP/ED dari anime modern yang perlu dipertimbangkan masuk ke daftar playlist. Seperti biasa ane cari videonya juga di YouTube. Sebisa mungkin ane cari di akun resmi si artisnya ato yang punya lisensi CC biar tetep bisa denger. Kalo judul anime-nya kepanjangan ato lupa, ane cuman nulis judul bahasa Inggrisnya.

Tomohisa Sako – Bokutachi no Uta

Sebenarnya ini masuk salah satu daftar lagu terlarang dalam playlist ane. Alasannya adalah … pahami liriknya dari versi aslinya. Singkatnya lirik lagu itu menggambarkan keadaan ane saat Zetsuen masih tayang. Itu sebabnya masuk daftar terlarang karena bisa bikin ane galau total.

Sumber anime, Zetsuen no Tempest ending ke-2.

Goose house – Oto no Naru Hou e

Ya sudahlah. Barangkali ane kudu incer Silver Spoon pas Gramedia cuci gudang. Biasanya pas cuci gudang keluar semua.

Buat yang demen nongkrong di IDWS, lagu ini pernah dinobatkan sebagai ending terbaik versi fans di musim tayangnya. Singkatnya penyanyinya itu co-ed alias satu grup cewek cowok. Ada yang instrumen ada yang gak. Singkatnya kalo buat di JPop itu kayak AAA lagi. Mungkin yang otaku cewek penyuka KPop pun minimal tahu KARD lah.

Sumber anime: Silver Spoon ending ke-2. Video ini ane bagikan dari akun resmi Goose house di luar akun label ato VEVO jadi jangan lupa like dan subscribe ya.

nano.RIPE – Tsuki Hana

Jujur judul yang satu ini membingungkan. Ada yang nulis “Tsuki Hana” adapula yang “Gekka”. Padahal kanji-nya kitu-kitu kénéh. Yo wes ane ngikut di nama video YouTube.

Buat yang doyan tipikal anisong ngademin buat naik motor ato mobil, ane saranin nongkrong di playlist. Enak buat nyantai kayak di pantai.

 

sumber: ending Hataraku Maou-sama. Jadi yang bener itu “tsuki hana” ato “gekka”?

ALL OFF – Refrain Boy

Kata siapa anime lawas gak ada yang gambarnya biasa ato bahkan jelek? Banyak. Ada Chibi Maruko Chan, Legendz, Crayon Shinchan, My Neighbors The Yamada, Si Jenius Bakabon, Sazae-san, dan masih banyak lagi. Orang zaman dulu cuek dengan style mereka mo dibilang jelek ato bahkan ala kartun barat banget. Mereka hanya berpikir bisa menuangkan imajinasi dan pesan yang ingin mereka sampaikan dalam karya mereka.

Beda cerita dengan anime modern. Gambar jelek dikit aja dihujat berasa netizen cewek Korea liat boyband mereka diserang habis-habisan. Ane pernah baca kolom komentar di salah satu situs manga scan yang malah ngeributin soal style ONE daripada cerita itu sendiri. Kalo gak suka sama cerita ato artwork-nya ya gak usah baca apalagi jadi kompor di fanbase ONE. Sederhana.

Di balik ceritanya yang sedikit lebih berat daripada One Punch Man, Mob itu menyimpan harta karun. Gak cuman ustadz Reigen yang berpotensi menggeser pamor ustadz Naruto di jagad anime, OST-nya pun boleh juga.

Sumber anime: Mob Psycho 100 ending. Apa mungkin ada season ke-2 ya? One Punch Man season ke-2 aja masih belum ada kabar.

THE ORAL CIGARETTES – Tonari au

Nonton dari kapan kelarnya kapan. Singkatnya gara-gara ane gak kuat dengan episode-episode awalnya yang ngiris bawang. Emang anime yang satu ini bukanlah salah satu anime penguras air mata kayak Ano Hana. Adanya dibikin nangis iya otak muter jungkir balik juga iya.

Sekilas Sagrada Reset mengingatkan ane sama webtoon unOrdinary. Keduanya sama-sama membahas tentang dunia dengan orang-orang berkemampuan khusus tapi dari sudut pandang lain. Kalo unOrdinary itu tema utamanya tentang kesenjangan sosial gara-gara masalah kekuatan sementara Sagrada Reset lebih ke konflik personal orang-orang pemilik kekuatan.

Untungnya ada sedikit hiburan di OP sama ED jadi gak terlalu kebawa cerita amet.

Sumber anime: Sagrada Reset ending ke-1. Ane baca salah satu komentar di YouTube. Ada yang bilang kalo lagu ini sekilas sama The Fourth Avenue Cafe-nya Laruku. Tapi kata ane sih gak terlalu mirip.

Galneryus – ATTITUDE TO LIFE

Ane ngira ini lagu lawas yang di-remake kayak Dounimo Tomaranai-nya Linda Yamamoto. Ternyata style-nya mengingatkan ane pada band rock lawas macam Deep Purple. Pas ane cari tahu di internet tahunya ini adalah band metal. Okelah *headbanger sendiri di kamar*.

Jarang banget band aliran rock ato metal yang isi soundtrack di anime. Salah satu OST dari band metal yang terkenal di Jepang itu Forever Love-nya X Japan. Itu OST dari anime film X. Sekalinya ketemu vokalis bersuara kuat biasanya seangkatan sama Hironobu Kageyama, sesepuhnya anisong yang punya latar belakang dari band rock juga.

Sumber anime: Donten ni Warau, ending. Ane syok pas tahu ini sebenarnya shoujo. Soalnya shoujo berkualitas itu cuman keitung jari dan jarang yang bikin cerita di luar romantis.

fripSide – divine criminal

Ane gak usah cerita panjang lebar dikali tinggi karena ini adalah opening salah satu anime on going musim ini. Ane pun ngikutinnya telat dari episode 7. Ane pikir ceritanya kayak shonen kebanyakan. Ditambah dengan bromance dua cowok yang saling bertolak belakang bikin ane mikir dua kali. Bahaya nih kalo jadi sasaran fujo, ganggu kesenangan orang nonton aja. Ternyata anime ini adaptasi dari novel yang udah tamat terus dilanjutin ke LN. Biarpun ane ngikutnya telat, konflik dari ceritanya baru mulai.

Sumber anime: Dances with the Dragons, opening pertama. Judul aslinya panjang jadi ane cuman ambil subjudul bahasa Inggrisnya biar gampang inget.

Alisa Takigawa – Season

Bicarain soal si “babi gosong”, ane jadi keinget sama keponakan ane. Liatin Hawk kena sembur api aja dibilang “babi gosong”. Ane gak bisa sembarangan nonton gara-gara keponakan ane. Apalagi nonton yang season kedua sekarang. Masa iya sih bocah dikasih adegan cinta-cintaan?

Sebenarnya sih buat season ke-2, Nanatsu no Taizai lebih kuat di OP sama ED daripada season pertama. Tapi di antara semuanya yang paling nyangkut itu cuman ending yang ini.

Sumber anime: Nanatsu no Taizai ending ke-2. Hitungannya sih ane anggap season 1 sama 2 runtut biar gampang inget aja. Untung aja keponakan ane udah tidur jadi bisa aman nonton.

Mungkin segitu aja sih daftar versi ane. Selera tiap orang beda-beda jadi ya kembali ke diri kita masing-masing. Apa rekomendasi temen-temen mengenai OP/ED favorit? Ditunggu komentarnya ya.

Tayangan Lama Rasa Baru, Itu Bukan Remake

Bicara soal remake, ane kurang greget nonton MacGyver versi remake. Kangen MacGyver lawas yang biasa nongol di Trans7. Bukannya ane gak suka versi terbarunya. Ane kurang merasakan karakter Angus MacGyver sama ceritanya yang lebih baik di versi lawasnya.

sumber: The Best Damn Nerd Show

apa perlu minta Trans7 tayangin ulang seperti halnya tayangin ulang Empress Ki?

Bicara soal apapun yang bersifat jadul. Entah itu acara televisi, film, bahkan iklan sekalipun pasti ada yang berkesan di masa kecil kita. Belakangan ini ane malah doyan nonton segala sesuatu berbau jadul.

Berawal dari depresi malah jadi seneng nonton segala sesuatu berbau jadul. Pertamanya sih dari iklan lawas yang ada di YouTube. Salah satu saluran yang terkenal adalah Sanggar Cerita, saluran yang terkenal dengan iklan-iklan jadul Indonesia mulai dari era Manasuka Siaran Niaga pada tayangan Dunia Dalam Berita TVRI (dan ane pun baru tahu itu adalah era terakhir TVRI menayangkan iklan) hingga era awal 2000an. Salah satu hiburan ane di saat ane depresi berat setahun silam.

^ credit: akun YouTube Sanggar Cerita. Jangan lupa like dan subscribe. Ntar dipeluk sama mamih Sophia Latjuba dan Dessy Ratnasari XD

Tayangan lawas memang berkesan. Itu kalo dibuatnya dengan bagus. Setiap zaman pasti ada yang baik dan buruknya. Hal yang terbaik akan dikenang dan yang buruk pun terlupakan. Hal yang menarik dari tayangan lawas adalah mereka adalah orang-orang niat di samping keterbatasan dana dan teknologi yang ada. Contohnya film horor lawas Indonesia yang bisa bikin orang merinding disko *maaf Papa Bebi* tanpa harus membuat orang-orang jump scare. Properti yang dipakai pun sederhana: gincu sebagai efek darah, bilatung, ulat, kodok, sampai buaya hidup. Jika ingin ditambahkan buaya buntung dan buaya darat pun, leh ugha.

Belakangan ini sedang tren, baik di Indonesia maupun di dunia, membawa kembali nostalgia itu pada pemirsa. Tidak peduli mereka hidup di zaman saat tayangan tersebut itu sedang populer ataupun pemirsa baru yang berada di zaman now. Metode yang dihadirkan itu bertujuan tidak hanya untuk membangkitkan nostalgia semata. Ada yang sukses dan adapula yang tidak sebaik tayangan aslinya.

Cara untuk membangkitkan kenangan dari generasi sebelumnya dan rasa penasaran generasi muda itu beragam. Ada yang dikumpulkan dari sumber aslinya seperti pemilik saluran YouTube Sanggar Cerita. Ada yang menayangkan ulang versi asli dengan rasa kekinian (baca: remake) seperti MacGyver yang saat ane menulis baru tayang season ke-2. Adapula yang membuat kinclong versi lawas tanpa mengurangi cerita seperti sebagian film lawas yang tayang di ANTV dan Trans7 pada tengah malam.

Istilah dalam bahasa Indonesianya bisa jadi restorasi namun dalam istilah bahasa Inggris dikenal remastered. Jika ane menggunakan kedua istilah itu dalam tulisan ini, intinya sama saja.

Banyak film Indonesia yang direstorasi akhir-akhir ini. Hal itu menjadi bukti dari kecintaan sineas muda Indonesia yang ingin menyelamatkan sejarah Indonesia yang terekam dalam bentuk film. Film pertama yang direstorasi adalah film Lewat Djam Malam pada tahun 2012. Keberhasilan restorasi film tersebut tidak membuat para sineas muda Indonesia puas. Pada tahun 2016, SA Films berhasil melakukan restorasi pada film Tiga Dara karya Usmar Ismail. Film tersebut menjadi film Indonesia pertama hasil restorasi pertama yang tayang dalam format 4K. Film Tiga Dara pun mendapat predikat film restorasi 4K pertama di Asia yang bisa dilihat oleh umum.

Hasilnya, kita bisa mengetahui perkembangan sejarah dan budaya yang terekam dalam film-film Indonesia lawas. Penonton pun semakin penasaran dengan film-film yang sempat tayang di masanya. Tidak hanya film-film lawas populer seperti film Warkop dan horor Suzzanna.

sumber: Photobucket

tidak tahu saya pernah main film, sungguh … ter-la-lu!

Begitu pula dengan anime. Ane sering melihat anime lawas yang mengalami prosedur serupa untuk diluncurkan sebagai edisi spesial. Tentunya dirilis dalam Blu-Ray dan format gambar terkini. Biasanya anime lawas yang mengalami proses restorasi serupa diluncurkan dalam kondisi tertentu seperti ulang tahun serial tersebut tayang atau ulang tahun pembuat serialnya. Contohnya Gundam SEED versi remastered yang ditampilkan dalam format HD.

Masalah restorasi film Indonesia adalah berpacu melawan waktu untuk menyelamatkan peninggalan sejarah berharga. Banyak film yang ditemukan dalam ruang arsip Sinematek dalam kondisi buruk. Entah itu terpotong, berjamur, hingga ditumbuhi kristal. Pihak Sinematek mengakui pada salah satu media bahwa kebanyakan salinan film yang mereka terima bukanlah fresh copy. Kondisi penyimpanan film pun memprihatinkan. Banyak gulungan rol film yang disimpan dalam wadah berkarat. Bukan tidak mungkin lagi lembaran rol film akan rusak oleh karat. Hal ini diperburuk dengan kondisi iklim Indonesia yang tropis. Idealnya, rol film disimpan dalam ruangan bersuhu dingin. Kondisi iklim di Indonesia memudahkan film menjadi cepat rusak oleh jamur. Jadi diperlukan perhatian ekstra untuk merawat semua koleksi film yang ada.

Masalah restorasi pada anime lawas adalah seluloid. Ane tahu proses di balik layar pembuatan anime lawas dari album book Sailor Moon yang ada di rumah. Pada paruh akhir edisi buku kedua dari album book Sailor Moon dijelaskan proses pembuatan animasi Sailor Moon. Mulai dari membuat sketsa di atas lembaran seluloid, memberi warna, menggabungkan lapisan demi lapisan lembaran seluloid untuk dijadikan satu adegan, hingga proses akhir seperti sulih suara.

sumber: koleksi pribadi

sayangnya buku yang kedua hilang setelah pindah rumah ._.

Sebelumnya ane mencari referensi tentang restorasi film dan anime, dua hal yang belakangan ini ane lihat di televisi. Ane terkejut ketika melihat hasil penelusuran di internet mengenai restorasi anime. Proses restorasi anime tidak semudah melakukan restorasi film. Hal itu dikarenakan banyak frame seluloid yang berpindah tangan setelah produksi. Setidaknya jika jatuh ke tangan kolektor jauh lebih baik. Kolektor akan merawat koleksinya sebaik pihak pengarsipan. Sayangnya ada yang ditemukan terkubur dalam tanah setelah anime tersebut selesai dibuat. Jika ada yang masih disimpan, itu pun disimpan dalam laboratorium film yang pernah menangani anime tersebut.

Rekaman adalah salah satu bentuk catatan berharga dalam peradaban manusia apapun jenisnya. Entah itu dalam gambar seperti film, iklan, dan animasi atau suara seperti pidato dan lagu. Setiap generasi perlu menghargai dan merawat hasil peradaban kita dengan baik agar tidak lekang dimakan zaman. Setidaknya dengan upaya restorasi dari tayangan lawas, kita bisa belajar banyak hal. Mulai dari tren, budaya, latar belakang yang terjadi pada tahun tersebut, hingga cara sineas mengekspresikan pikiran mereka.

Cari Harta Karun dari Tumpukan Karya

Belakangan ini ane baru sadar kalo preferensi ane lebih condong ke literatur. Gara-gara dari kecil ditinggalin mulu di rumah tetangga di depan tipi, doyan nonton anime habis sholat Subuh di hari Minggu dan sering nonton bareng drakor sama kakak ane, sebut saja Bubu. Ane juga terbilang introvert. Biar ane seneng ngumpul bareng temen deket, toh ane demen menyendiri. Orang-orang terdekat ane tahu persis kebiasaan ane pas lagi sendiri. Gak bakal jauh dari gambar, nulis, nonton, dan baca.

Ada koneksi internet tapi sengaja ane batasin. Kasihan aja ama ortu yang bayar biaya internet bengkak gara-gara anaknya tukang unduh film. Kondisi harddisk ane emang sekarat. Mau eksternal ato internal laptop pun isinya habis sama data-data penting. Kebanyakan sih backup OS sama film. Unduh film pun gak boleh sembarangan. Masa iya unduh anime ecchi di saat keponakan ane yang masih balita berseliweran nebeng nonton di kamar? Mau beli buku di toko buku pun bingung mau pilih yang mana. Niat ke toko buku pengen beli buku yang ada di daftar barang inceran tapi kenyataannya malah beli lebih banyak daripada daftar. Pas ada film rame di bioskop, pas banget lagi bokek. Ane memang belum punya duit. Toh belum saatnya ambil barang dagangan yang dititipin di warung. Intinya kondisi ane sekarang dengan hobi ane pun sering bertentangan makanya kadang ngerasa serba salah.

Berawal dari masalah itulah, ane terbilang selektif dalam memilih hal-hal berbau literatur. Di mata ane, duit 500 perak, memori 1 KB, dan kuota waktu/volume internet itu sangatlah berharga. Efek samping terlalu lama jadi anak kost ditambah tinggal serumah sama bocah-bocah kali ye.

Tanpa basa-basi, ini dia trik yang biasa ane lakukan buat mengatasi masalah tersebut.

Sampul Sering Menipu Kok

Intinya cuman dua. Baca ya baca aja. Nonton ya nonton aja. Kok bisa ngomong gitu? Pengalaman pribadi.

Ada dua contoh yang mungkin gak asing lagi di telinga. Tahu SAO sama The Sound of Your Heart? Kalo gak tahu ya silakan tanya si mbah. Kalo masih ada yang gak kenal ane kasih contoh yang lebih familiar sama orang Indo. Tahu Tahilalats? Gak tahu berarti kurang a-en-je-a-ye *jangan dinyanyiin dengan logat Young Lex*.

Lho kok jadi kepikiran embed video ini sih? Anggap aja penulisnya lagi setengah ngantuk jadi ngaco.

Padahal Tahilalats kalo soal artwork masih kalah sama Maghfirare apalagi CERGAROMA. Kok banyak yang demen ya? Jawabannya … Tahilalats itu punya kelas terutama dalam masalah humor. Tuh ‘kan mulai ketipu sama sampul lagi ‘kan?

Ane banyak belajar dari anime dan komik kalo gak selamanya cover ketjeh badai itu berbanding lurus dengan isinya. Contohnya SAO. Banyak yang bilang SAO itu overrated. Secara kualitas anime, di samping artwork, banyak fans yang menyayangkan adaptasinya terutama fans LN kelas kakap. Orang-orang liat “sampulnya” jadi ekspektasi mereka tinggi. Kenyataannya banyak yang ngasih nilai rendah terutama di situs review anime dibandingkan dengan anime lain yang tayang di season yang sama. Itu hasil review SAO yang arc pertama sama Alfheim Online. Ane gak ngikutin jadi gak tau review pas adaptasi arc GGO ke sana.

Kalo The Sound of Your Heart itu kebalik. Salah satu webtoon paling sepuh di Naver yang kata orang gambarnya itu jelek. Mereka berpikir ceritanya sama jeleknya dengan gambarnya. Eh tahunya malah jadi webtoon yang ceritanya tersembunyi di balik gambar jelek dan sudah diadaptasi jadi drama. Pemainnya Lee Kwang Soo loh. Siapa sih yang gak kenal sama jerapahnya Running Man?

Jadi, pepatah “don’t judge a book by its cover” sangat berlaku dalam memilih buku, bacaan, dan tayangan yang menurut kita baik.

Kembali ke Selera dan Prioritas

Tanya deh ke diri sendiri.

Ente demennya apa?

Setiap orang seleranya beda-beda. Cewek gak selalu shoujo dan cowok gak selalu shonen. Makasih buat Hanif, Alwan, dan Riko—para lelaki baper pecinta romance—yang menyadarkan ane soal selera cowok.

Kita gak perlu deh ngikut-ngikutin kata orang ato tren yang lagi rame saat ini. Sekarang lagi rame film Pengabdi Setan versi remake di bioskop tuh. Kalo emang kita demen Ryan Gosling terus pengen lihat aksi terbarunya dalam Blade Runner 2049 ya nonton itu aja. Beda kasus kalo emang ditraktir nonton. Hohohoho! Hidup great-o-ngan!

Kita juga gak perlu maksa orang lain buat suka hal yang kita suka. Baru kemaren ane chat sama salah satu partner-in-crime di guild, Muklis. Emang sih udah pensi main tapi silaturahim masih jalan terus. Kemaren ngomongin soal webtoon gara-gara ada webtoon baru yang tentang gender bender. Bukan tukeran badan kayak Kimi no Na wa dan kutukannya lebih permanen dari Ranma 1/2. Toh Ranma masih bisa balik lagi jadi cowok pas diguyur air panas. Lah ini jadi cewek tulen primadona sekolah. Soal selera webtoon-nya emang beda. Ane tahu dari chat kalo Muklis itu demen Flawless. Ngapain juga maksa dia buat baca Super Secret kalo doyannya Flawless mah.

Jangan lupa inget prioritas. Duit sama kapasitas penyimpanan tuh pikirin. Jangan seenak jidat gunain tanpa sebab. Masa kudu korbanin duit cadangan akhir bulan buat nonton gak jelas ato folder tugas kantor buat nambah koleksi drakor?

Buat daftar urutan dari yang paling pengen dibeli/ditonton sampe paling biasa. Taruh daftar di tempat strategis biar inget. Jadi pas mau nonton/unduh/beli pun gak ada rasa bersalah. Ane sendiri biasanya cuman nulis yang paling ngebet dibeli buat disimpen di papan pengingat yang ada di kamar. Urusan unduhan ane simpen di desktop biar gak lupa.

Harusnya ane tulis bagian ini di terakhir cuman ane tulis di awal. Alasannya ya kalo nonton/baca tanpa tahu selera pribadi malah nambah bingung buat cari yang pas.

Anggap Saja Lagi Laper

Orang laper pasti langsung santap apapun makanan di hadapannya ‘kan? Begitupun dalam memilih bacaan atau tontonan. Seperti yang ane utarakan pada bagian sebelumnya, selera pribadi itu penting untuk memilah konten agar tidak menambah rasa bersalah. Kasarnya … masa iya balita dikasih ecchi?

Baca/nonton di luar selera pribadi? Boleh kok asalkan tetep inget sama prioritas kita kalo emang tujuannya buat koleksi. Preferensi pribadi ane condong ke drama, slice of life, seinen, fantasi, sama komedi. Gak jarang juga ane nonton romance, horor, misteri, sama fiksi ilmiah.

Nah, biar kita tahu karya yang bagus buat koleksi ya nikmati aja selagi ada. Komik bisa baca dari mangascan, situs webtoon (bisa Line, Comica, Ngomik, sama Ciayo kalo yang lokal), majalah komik, ato baca serinya di taman bacaan terdekat. Buat film bisa streaming, liat di TV, ato nongkrong ke bioskop terdekat.

Kontennya bertebaran tuh. Tinggal nunggu kita buat nonton ato baca. Mudah ‘kan?

Kenali Ceritanya

Sambungan dari bagian sebelumnya. Sebenarnya sih bisa disatuin cuman ntar malah jadi susah fokus buat nulis. Hehe.

Masalahnya udah ane paparin di bagian sebelumnya. Sudah jelas “sampul” sering menipu. Selera kita beda-beda. Satu-satunya cara biar tahu karya itu layak buat dikoleksi ya cuman nikmatin. Nah, gimana cara menikmatinya?

Biasanya kalo film itu selalu ada teaser dan trailer. Sekarang zamannya internet jadi bisa lihat di mana aja. Sebelum kita putuskan untuk nonton, lihat dulu trailer-nya. Sesuai dengan preferensi kita? Bikin kita malah tertarik? Bikin kita semakin gak sabar buat nunggu tayang? Udah nemu yang sreg sama selera kita … sikat breh!

Masih bingung gara-gara teaser dan trailer? Coba deh cek sinopsisnya. Biasanya sinopsis suka muncul di awal buat jelasin “ini tentang apa sih?” biar kita tertarik. Sering kok ada sinopsis film yang mau tayang di situs bioskop ataupun di media cetak. Cari aja siapa tahu ada yang kecantol.

Film di bioskop itu resiko nyeseknya lebih gede. Apalagi kita gak jeli. Kalo bicarain nonton serial televisi sama buku sih masih gampang.

Buat serial televisi sama buku, cukup aja simak 10 episode awal. Gak sanggup ato episodenya pendek kayak drakor? Toh 5 episode awal pun cukup. Soalnya gini. Banyak orang yang langsung drop satu serial gara-gara episode-episode awalnya doang. Kasarnya sih cuman kulit arinya doang yang disentuh. Belum sampe lapisan epidermis apalagi dermis. Tahu kulitnya doang sih mana tahu ceritanya rame ato kagak.

Contohnya banyak. Tahu Cheese In The Trap? Ane gak tertarik baca Cheese In The Trap gara-gara  sering baca komik genre romantis yang alurnya ketebak jadi mikirnya biasa aja. Ane bertahan gara-gara salah satu komentar penggemar soal episode 11. Dia bilang awalnya emang membosankan namun plot dan konflik sebenarnya mulai dari episode 11. Ternyata komentar si penggemar itu memang benar. Cheese In The Trap emang manhwa genre romance yang gak biasa dalam penceritaan dan alurnya sendiri banyak teka-teki. Itu sebabnya di Korea sendiri fans-nya banyak dan ane denger bakal diadaptasi lagi jadi film di Korea sana.

Sebenarnya banyak harta karun seperti Cheese In The Trap cuman kitanya aja yang males. Males buat liatin episode-episode awal malah seenak jidat kasih cap buruk gara-gara cuman lihat 3 episode. Ane jadi inget drama di bagian komentar Helck yang seenak jidat menyatakan Helck itu gak rame. Begitu pun dengan komentar orang-orang yang banyak drop World Trigger gara-gara episode awalnya. Dulu juga ane pernah ngerasain kayak gitu juga. Malah di salah satu komik pembantai ranking di situs mangascan, Noblesse. Ane dulu iseng baca Noblesse karena saat itu masih nangkring di peringkat teratas situs sekitar tahun 2012. Ane drop gara-gara awalnya gak menarik. Baca lagi pun pas 2017 di saat banyak webtoon favorit ane berguguran tamat. Eh tahunya malah jadi keterusan sampe lewat arc Muzaka lawan Maduke.

Intinya, semakin kita kenal episodenya ya pertimbangan buat lanjut semakin besar. Udah puas dengan satu seri ujung-ujungnya koleksi.

Kenali Orang-Orang di Belakangnya

Kalo kita gak tahu apapun soal karya terbaru, bisa gunakan referensi dari karya sebelumnya.

Ane baca Silver Spoon gak cuman karena ceritanya yang gak biasa. Ane tertarik karena itu karya lain dari mangaka Full Metal Alchemist dan referensi dari omake di buku terakhir Claymore. *sayangnya duit ane masih kurang buat tebus si Butadon di Gramedia T.T* Ane nonton Hong Gil Dong versi 2009 gara-gara tahu penulis naskahnya Hong Sisters. Gak apa-apa telat daripada nyesek pas ongoing. Ane baca Hana Haru karena pengarangnya Seok Woo, pembuat Orange Marmalade. Ane nonton Click sama Grown Ups gara-gara pemainnya Adam Sandler.

Kadang cara ini berhasil tapi kadang juga gak. Biasanya kalo kita mengandalkan referensi ini pasti ekspektasinya pun tinggi. Resiko nyeseknya itu paling besar bila tahu orang yang ada di baliknya itu greget tapi hasil malah jauh dari harapan.

groadat feels ._.

Pilih dengan bijak

Hanya dengan melihat pun kita bisa tahu karya itu cocok untuk dikoleksi atau tidak. Contohnya seri Anne of Green Gables yang nongkrong di rak buku rumah ane. Pertamanya nemu gak sengaja di perpustakaan terus pinjem. Ane kira ceritanya gak menarik eh tahunya keterusan. Akhirnya biar gak bolak-balik perpustakaan mulu ya ane beli. Untung aja nemu di bursa buku murah pas kunjungan ke Mizan kemaren. Emang sih gak komplit tapi setidaknya puas. Fufufufufu!

Buat serial televisi ato komik sih mau diterusin apa gak? Semua kembali dari kita yang ikutin cerita.

Fanservice Epeliwer

Ane emang demen liatin manga ecchi gara-gara dicekokin terus ama si Mamih Aisya pas zaman SMP. Ya maklum deket SMP emang ada taman bacaan yang enak buat dipake nongkrong. Pitimoss di jalan Banda. Dulu setiap hari Jum’at itu pulangnya cepet. Makanya sering dihasut si Mamih ke sana. Tempatnya emang enak banget buat baca sambil selonjoran. Ane iseng dah cari ke si mbah soal Pitimoss. Terakhir kali ke sana zaman ane SMK. Eh ternyata masih buka dan masih pewe buat nongkrong. Koleksi buku di sana emang lengkap untuk komik dan novel. Salah satu rekomendasi ane buat yang doyan baca dengan lingkungan yang enak.

Cuman ane gak tahu. Tukang lumpia basah di sana masih ada gak ya? Lumpia basah yang biasa nongkrong di depan Pitimoss itu emang mantap. =w=)b

Ane seneng baca komik itu dari zaman TK. Nonton film kartun pun zaman … balita. Itu pun nonton Tom and Jerry, kata kakak ane sih. Ane bukan seorang pengamat tapi kok makin ke sini makin banyak fanservice ya.

Emang sih fanservice dari dulu juga ada tapi ya gak separah sekarang. Dulu fanservice itu lebih mirip seperti easter egg. Bukan bumbu yang wajib ada kecuali genrenya emang ecchi. Misalnya kartun Betty Boop yang jelas-jelas “itunya” besar. Ada juga yang jadi bumbu komedi seperti dalam Looney Tunes. Tidak overdosis seperti halnya kebanyakan anime zaman sekarang.

Fanservice adalah hiburan tambahan. Misalnya cewek-cewek seksi yang ada di kebanyakan film Adam Sandler dan ulah para personel boyband Korea dalam acara reality show. Biasanya reaksi orang yang liat fanservice itu … klepek-klepek buat cewek dan mimisan buat cowok. Ya gak selalu gitu sih.

Ada yang bagus walau ada fanservice. Ada juga yang malah tambah jelek dengan fanservice. Pengecualian buat kasus Highschool DxD dan Fifty Shades of Grey yang emang fokus cerita utamanya adalah fanservice. Terlalu banyak fanservice bisa merusak cerita. Merusaknya gak cuman dalam arti sebenarnya. Bisa juga menurunkan kualitasnya. Contoh nyatanya sih acara dangdutan. Asalnya elit dan berkelas sekarang malah jadi kampungan. Pakaian seksoy, goyangan hot-hot wow, lirik-lirik nakal, dan tentunya mata usil yang cari bagian “gunung” juga “segitiga bermuda”. Pantesan halaman beranda YouTube Indonesia aneh-aneh terutama video orkes keliling. Masih mending nonton Via Vallen dah.

Itu buat tayangan yang demografisnya cowok terus dilihat sama cewek. Bagaimana jika tayangannya buat cewek?

Ane jujur gak suka sama cowok roti sobek. Biarpun karakternya badass tapi muka unyu macam Helck. Ane lebih demen cowok yang berpakaian utuh dan … berkacamata. Itu kalo 2D. Kalo 3D alias dunia nyata mah asal akhlak bagus sama orangnya gak neko-neko.

Pantesan peringkat di webtoon itu didominasi komik romantis, cogan roti sobek nomor satu cerita nomor dua. Dasar cewek-cewek tukang ngemil micin! *bukannya bumbu Atoom Bulan sama-sama micin ya, dasar penulis dodol maniak bumbu Atoom Bulan!* Realita hidup tidak selalu dihiasi cogan roti sobek!

Akhir kata. Cerita yang kebanyakan micin itu tidak baik. Toh fanservice sama aja kayak micin ‘kan?