Tayangan Lama Rasa Baru, Itu Bukan Remake

Bicara soal remake, ane kurang greget nonton MacGyver versi remake. Kangen MacGyver lawas yang biasa nongol di Trans7. Bukannya ane gak suka versi terbarunya. Ane kurang merasakan karakter Angus MacGyver sama ceritanya yang lebih baik di versi lawasnya.

sumber: The Best Damn Nerd Show

apa perlu minta Trans7 tayangin ulang seperti halnya tayangin ulang Empress Ki?

Bicara soal apapun yang bersifat jadul. Entah itu acara televisi, film, bahkan iklan sekalipun pasti ada yang berkesan di masa kecil kita. Belakangan ini ane malah doyan nonton segala sesuatu berbau jadul.

Berawal dari depresi malah jadi seneng nonton segala sesuatu berbau jadul. Pertamanya sih dari iklan lawas yang ada di YouTube. Salah satu saluran yang terkenal adalah Sanggar Cerita, saluran yang terkenal dengan iklan-iklan jadul Indonesia mulai dari era Manasuka Siaran Niaga pada tayangan Dunia Dalam Berita TVRI (dan ane pun baru tahu itu adalah era terakhir TVRI menayangkan iklan) hingga era awal 2000an. Salah satu hiburan ane di saat ane depresi berat setahun silam.

^ credit: akun YouTube Sanggar Cerita. Jangan lupa like dan subscribe. Ntar dipeluk sama mamih Sophia Latjuba dan Dessy Ratnasari XD

Tayangan lawas memang berkesan. Itu kalo dibuatnya dengan bagus. Setiap zaman pasti ada yang baik dan buruknya. Hal yang terbaik akan dikenang dan yang buruk pun terlupakan. Hal yang menarik dari tayangan lawas adalah mereka adalah orang-orang niat di samping keterbatasan dana dan teknologi yang ada. Contohnya film horor lawas Indonesia yang bisa bikin orang merinding disko *maaf Papa Bebi* tanpa harus membuat orang-orang jump scare. Properti yang dipakai pun sederhana: gincu sebagai efek darah, bilatung, ulat, kodok, sampai buaya hidup. Jika ingin ditambahkan buaya buntung dan buaya darat pun, leh ugha.

Belakangan ini sedang tren, baik di Indonesia maupun di dunia, membawa kembali nostalgia itu pada pemirsa. Tidak peduli mereka hidup di zaman saat tayangan tersebut itu sedang populer ataupun pemirsa baru yang berada di zaman now. Metode yang dihadirkan itu bertujuan tidak hanya untuk membangkitkan nostalgia semata. Ada yang sukses dan adapula yang tidak sebaik tayangan aslinya.

Cara untuk membangkitkan kenangan dari generasi sebelumnya dan rasa penasaran generasi muda itu beragam. Ada yang dikumpulkan dari sumber aslinya seperti pemilik saluran YouTube Sanggar Cerita. Ada yang menayangkan ulang versi asli dengan rasa kekinian (baca: remake) seperti MacGyver yang saat ane menulis baru tayang season ke-2. Adapula yang membuat kinclong versi lawas tanpa mengurangi cerita seperti sebagian film lawas yang tayang di ANTV dan Trans7 pada tengah malam.

Istilah dalam bahasa Indonesianya bisa jadi restorasi namun dalam istilah bahasa Inggris dikenal remastered. Jika ane menggunakan kedua istilah itu dalam tulisan ini, intinya sama saja.

Banyak film Indonesia yang direstorasi akhir-akhir ini. Hal itu menjadi bukti dari kecintaan sineas muda Indonesia yang ingin menyelamatkan sejarah Indonesia yang terekam dalam bentuk film. Film pertama yang direstorasi adalah film Lewat Djam Malam pada tahun 2012. Keberhasilan restorasi film tersebut tidak membuat para sineas muda Indonesia puas. Pada tahun 2016, SA Films berhasil melakukan restorasi pada film Tiga Dara karya Usmar Ismail. Film tersebut menjadi film Indonesia pertama hasil restorasi pertama yang tayang dalam format 4K. Film Tiga Dara pun mendapat predikat film restorasi 4K pertama di Asia yang bisa dilihat oleh umum.

Hasilnya, kita bisa mengetahui perkembangan sejarah dan budaya yang terekam dalam film-film Indonesia lawas. Penonton pun semakin penasaran dengan film-film yang sempat tayang di masanya. Tidak hanya film-film lawas populer seperti film Warkop dan horor Suzzanna.

sumber: Photobucket

tidak tahu saya pernah main film, sungguh … ter-la-lu!

Begitu pula dengan anime. Ane sering melihat anime lawas yang mengalami prosedur serupa untuk diluncurkan sebagai edisi spesial. Tentunya dirilis dalam Blu-Ray dan format gambar terkini. Biasanya anime lawas yang mengalami proses restorasi serupa diluncurkan dalam kondisi tertentu seperti ulang tahun serial tersebut tayang atau ulang tahun pembuat serialnya. Contohnya Gundam SEED versi remastered yang ditampilkan dalam format HD.

Masalah restorasi film Indonesia adalah berpacu melawan waktu untuk menyelamatkan peninggalan sejarah berharga. Banyak film yang ditemukan dalam ruang arsip Sinematek dalam kondisi buruk. Entah itu terpotong, berjamur, hingga ditumbuhi kristal. Pihak Sinematek mengakui pada salah satu media bahwa kebanyakan salinan film yang mereka terima bukanlah fresh copy. Kondisi penyimpanan film pun memprihatinkan. Banyak gulungan rol film yang disimpan dalam wadah berkarat. Bukan tidak mungkin lagi lembaran rol film akan rusak oleh karat. Hal ini diperburuk dengan kondisi iklim Indonesia yang tropis. Idealnya, rol film disimpan dalam ruangan bersuhu dingin. Kondisi iklim di Indonesia memudahkan film menjadi cepat rusak oleh jamur. Jadi diperlukan perhatian ekstra untuk merawat semua koleksi film yang ada.

Masalah restorasi pada anime lawas adalah seluloid. Ane tahu proses di balik layar pembuatan anime lawas dari album book Sailor Moon yang ada di rumah. Pada paruh akhir edisi buku kedua dari album book Sailor Moon dijelaskan proses pembuatan animasi Sailor Moon. Mulai dari membuat sketsa di atas lembaran seluloid, memberi warna, menggabungkan lapisan demi lapisan lembaran seluloid untuk dijadikan satu adegan, hingga proses akhir seperti sulih suara.

sumber: koleksi pribadi

sayangnya buku yang kedua hilang setelah pindah rumah ._.

Sebelumnya ane mencari referensi tentang restorasi film dan anime, dua hal yang belakangan ini ane lihat di televisi. Ane terkejut ketika melihat hasil penelusuran di internet mengenai restorasi anime. Proses restorasi anime tidak semudah melakukan restorasi film. Hal itu dikarenakan banyak frame seluloid yang berpindah tangan setelah produksi. Setidaknya jika jatuh ke tangan kolektor jauh lebih baik. Kolektor akan merawat koleksinya sebaik pihak pengarsipan. Sayangnya ada yang ditemukan terkubur dalam tanah setelah anime tersebut selesai dibuat. Jika ada yang masih disimpan, itu pun disimpan dalam laboratorium film yang pernah menangani anime tersebut.

Rekaman adalah salah satu bentuk catatan berharga dalam peradaban manusia apapun jenisnya. Entah itu dalam gambar seperti film, iklan, dan animasi atau suara seperti pidato dan lagu. Setiap generasi perlu menghargai dan merawat hasil peradaban kita dengan baik agar tidak lekang dimakan zaman. Setidaknya dengan upaya restorasi dari tayangan lawas, kita bisa belajar banyak hal. Mulai dari tren, budaya, latar belakang yang terjadi pada tahun tersebut, hingga cara sineas mengekspresikan pikiran mereka.

Iklan

Cari Harta Karun dari Tumpukan Karya

Belakangan ini ane baru sadar kalo preferensi ane lebih condong ke literatur. Gara-gara dari kecil ditinggalin mulu di rumah tetangga di depan tipi, doyan nonton anime habis sholat Subuh di hari Minggu dan sering nonton bareng drakor sama kakak ane, sebut saja Bubu. Ane juga terbilang introvert. Biar ane seneng ngumpul bareng temen deket, toh ane demen menyendiri. Orang-orang terdekat ane tahu persis kebiasaan ane pas lagi sendiri. Gak bakal jauh dari gambar, nulis, nonton, dan baca.

Ada koneksi internet tapi sengaja ane batasin. Kasihan aja ama ortu yang bayar biaya internet bengkak gara-gara anaknya tukang unduh film. Kondisi harddisk ane emang sekarat. Mau eksternal ato internal laptop pun isinya habis sama data-data penting. Kebanyakan sih backup OS sama film. Unduh film pun gak boleh sembarangan. Masa iya unduh anime ecchi di saat keponakan ane yang masih balita berseliweran nebeng nonton di kamar? Mau beli buku di toko buku pun bingung mau pilih yang mana. Niat ke toko buku pengen beli buku yang ada di daftar barang inceran tapi kenyataannya malah beli lebih banyak daripada daftar. Pas ada film rame di bioskop, pas banget lagi bokek. Ane memang belum punya duit. Toh belum saatnya ambil barang dagangan yang dititipin di warung. Intinya kondisi ane sekarang dengan hobi ane pun sering bertentangan makanya kadang ngerasa serba salah.

Berawal dari masalah itulah, ane terbilang selektif dalam memilih hal-hal berbau literatur. Di mata ane, duit 500 perak, memori 1 KB, dan kuota waktu/volume internet itu sangatlah berharga. Efek samping terlalu lama jadi anak kost ditambah tinggal serumah sama bocah-bocah kali ye.

Tanpa basa-basi, ini dia trik yang biasa ane lakukan buat mengatasi masalah tersebut.

Sampul Sering Menipu Kok

Intinya cuman dua. Baca ya baca aja. Nonton ya nonton aja. Kok bisa ngomong gitu? Pengalaman pribadi.

Ada dua contoh yang mungkin gak asing lagi di telinga. Tahu SAO sama The Sound of Your Heart? Kalo gak tahu ya silakan tanya si mbah. Kalo masih ada yang gak kenal ane kasih contoh yang lebih familiar sama orang Indo. Tahu Tahilalats? Gak tahu berarti kurang a-en-je-a-ye *jangan dinyanyiin dengan logat Young Lex*.

Lho kok jadi kepikiran embed video ini sih? Anggap aja penulisnya lagi setengah ngantuk jadi ngaco.

Padahal Tahilalats kalo soal artwork masih kalah sama Maghfirare apalagi CERGAROMA. Kok banyak yang demen ya? Jawabannya … Tahilalats itu punya kelas terutama dalam masalah humor. Tuh ‘kan mulai ketipu sama sampul lagi ‘kan?

Ane banyak belajar dari anime dan komik kalo gak selamanya cover ketjeh badai itu berbanding lurus dengan isinya. Contohnya SAO. Banyak yang bilang SAO itu overrated. Secara kualitas anime, di samping artwork, banyak fans yang menyayangkan adaptasinya terutama fans LN kelas kakap. Orang-orang liat “sampulnya” jadi ekspektasi mereka tinggi. Kenyataannya banyak yang ngasih nilai rendah terutama di situs review anime dibandingkan dengan anime lain yang tayang di season yang sama. Itu hasil review SAO yang arc pertama sama Alfheim Online. Ane gak ngikutin jadi gak tau review pas adaptasi arc GGO ke sana.

Kalo The Sound of Your Heart itu kebalik. Salah satu webtoon paling sepuh di Naver yang kata orang gambarnya itu jelek. Mereka berpikir ceritanya sama jeleknya dengan gambarnya. Eh tahunya malah jadi webtoon yang ceritanya tersembunyi di balik gambar jelek dan sudah diadaptasi jadi drama. Pemainnya Lee Kwang Soo loh. Siapa sih yang gak kenal sama jerapahnya Running Man?

Jadi, pepatah “don’t judge a book by its cover” sangat berlaku dalam memilih buku, bacaan, dan tayangan yang menurut kita baik.

Kembali ke Selera dan Prioritas

Tanya deh ke diri sendiri.

Ente demennya apa?

Setiap orang seleranya beda-beda. Cewek gak selalu shoujo dan cowok gak selalu shonen. Makasih buat Hanif, Alwan, dan Riko—para lelaki baper pecinta romance—yang menyadarkan ane soal selera cowok.

Kita gak perlu deh ngikut-ngikutin kata orang ato tren yang lagi rame saat ini. Sekarang lagi rame film Pengabdi Setan versi remake di bioskop tuh. Kalo emang kita demen Ryan Gosling terus pengen lihat aksi terbarunya dalam Blade Runner 2049 ya nonton itu aja. Beda kasus kalo emang ditraktir nonton. Hohohoho! Hidup great-o-ngan!

Kita juga gak perlu maksa orang lain buat suka hal yang kita suka. Baru kemaren ane chat sama salah satu partner-in-crime di guild, Muklis. Emang sih udah pensi main tapi silaturahim masih jalan terus. Kemaren ngomongin soal webtoon gara-gara ada webtoon baru yang tentang gender bender. Bukan tukeran badan kayak Kimi no Na wa dan kutukannya lebih permanen dari Ranma 1/2. Toh Ranma masih bisa balik lagi jadi cowok pas diguyur air panas. Lah ini jadi cewek tulen primadona sekolah. Soal selera webtoon-nya emang beda. Ane tahu dari chat kalo Muklis itu demen Flawless. Ngapain juga maksa dia buat baca Super Secret kalo doyannya Flawless mah.

Jangan lupa inget prioritas. Duit sama kapasitas penyimpanan tuh pikirin. Jangan seenak jidat gunain tanpa sebab. Masa kudu korbanin duit cadangan akhir bulan buat nonton gak jelas ato folder tugas kantor buat nambah koleksi drakor?

Buat daftar urutan dari yang paling pengen dibeli/ditonton sampe paling biasa. Taruh daftar di tempat strategis biar inget. Jadi pas mau nonton/unduh/beli pun gak ada rasa bersalah. Ane sendiri biasanya cuman nulis yang paling ngebet dibeli buat disimpen di papan pengingat yang ada di kamar. Urusan unduhan ane simpen di desktop biar gak lupa.

Harusnya ane tulis bagian ini di terakhir cuman ane tulis di awal. Alasannya ya kalo nonton/baca tanpa tahu selera pribadi malah nambah bingung buat cari yang pas.

Anggap Saja Lagi Laper

Orang laper pasti langsung santap apapun makanan di hadapannya ‘kan? Begitupun dalam memilih bacaan atau tontonan. Seperti yang ane utarakan pada bagian sebelumnya, selera pribadi itu penting untuk memilah konten agar tidak menambah rasa bersalah. Kasarnya … masa iya balita dikasih ecchi?

Baca/nonton di luar selera pribadi? Boleh kok asalkan tetep inget sama prioritas kita kalo emang tujuannya buat koleksi. Preferensi pribadi ane condong ke drama, slice of life, seinen, fantasi, sama komedi. Gak jarang juga ane nonton romance, horor, misteri, sama fiksi ilmiah.

Nah, biar kita tahu karya yang bagus buat koleksi ya nikmati aja selagi ada. Komik bisa baca dari mangascan, situs webtoon (bisa Line, Comica, Ngomik, sama Ciayo kalo yang lokal), majalah komik, ato baca serinya di taman bacaan terdekat. Buat film bisa streaming, liat di TV, ato nongkrong ke bioskop terdekat.

Kontennya bertebaran tuh. Tinggal nunggu kita buat nonton ato baca. Mudah ‘kan?

Kenali Ceritanya

Sambungan dari bagian sebelumnya. Sebenarnya sih bisa disatuin cuman ntar malah jadi susah fokus buat nulis. Hehe.

Masalahnya udah ane paparin di bagian sebelumnya. Sudah jelas “sampul” sering menipu. Selera kita beda-beda. Satu-satunya cara biar tahu karya itu layak buat dikoleksi ya cuman nikmatin. Nah, gimana cara menikmatinya?

Biasanya kalo film itu selalu ada teaser dan trailer. Sekarang zamannya internet jadi bisa lihat di mana aja. Sebelum kita putuskan untuk nonton, lihat dulu trailer-nya. Sesuai dengan preferensi kita? Bikin kita malah tertarik? Bikin kita semakin gak sabar buat nunggu tayang? Udah nemu yang sreg sama selera kita … sikat breh!

Masih bingung gara-gara teaser dan trailer? Coba deh cek sinopsisnya. Biasanya sinopsis suka muncul di awal buat jelasin “ini tentang apa sih?” biar kita tertarik. Sering kok ada sinopsis film yang mau tayang di situs bioskop ataupun di media cetak. Cari aja siapa tahu ada yang kecantol.

Film di bioskop itu resiko nyeseknya lebih gede. Apalagi kita gak jeli. Kalo bicarain nonton serial televisi sama buku sih masih gampang.

Buat serial televisi sama buku, cukup aja simak 10 episode awal. Gak sanggup ato episodenya pendek kayak drakor? Toh 5 episode awal pun cukup. Soalnya gini. Banyak orang yang langsung drop satu serial gara-gara episode-episode awalnya doang. Kasarnya sih cuman kulit arinya doang yang disentuh. Belum sampe lapisan epidermis apalagi dermis. Tahu kulitnya doang sih mana tahu ceritanya rame ato kagak.

Contohnya banyak. Tahu Cheese In The Trap? Ane gak tertarik baca Cheese In The Trap gara-gara  sering baca komik genre romantis yang alurnya ketebak jadi mikirnya biasa aja. Ane bertahan gara-gara salah satu komentar penggemar soal episode 11. Dia bilang awalnya emang membosankan namun plot dan konflik sebenarnya mulai dari episode 11. Ternyata komentar si penggemar itu memang benar. Cheese In The Trap emang manhwa genre romance yang gak biasa dalam penceritaan dan alurnya sendiri banyak teka-teki. Itu sebabnya di Korea sendiri fans-nya banyak dan ane denger bakal diadaptasi lagi jadi film di Korea sana.

Sebenarnya banyak harta karun seperti Cheese In The Trap cuman kitanya aja yang males. Males buat liatin episode-episode awal malah seenak jidat kasih cap buruk gara-gara cuman lihat 3 episode. Ane jadi inget drama di bagian komentar Helck yang seenak jidat menyatakan Helck itu gak rame. Begitu pun dengan komentar orang-orang yang banyak drop World Trigger gara-gara episode awalnya. Dulu juga ane pernah ngerasain kayak gitu juga. Malah di salah satu komik pembantai ranking di situs mangascan, Noblesse. Ane dulu iseng baca Noblesse karena saat itu masih nangkring di peringkat teratas situs sekitar tahun 2012. Ane drop gara-gara awalnya gak menarik. Baca lagi pun pas 2017 di saat banyak webtoon favorit ane berguguran tamat. Eh tahunya malah jadi keterusan sampe lewat arc Muzaka lawan Maduke.

Intinya, semakin kita kenal episodenya ya pertimbangan buat lanjut semakin besar. Udah puas dengan satu seri ujung-ujungnya koleksi.

Kenali Orang-Orang di Belakangnya

Kalo kita gak tahu apapun soal karya terbaru, bisa gunakan referensi dari karya sebelumnya.

Ane baca Silver Spoon gak cuman karena ceritanya yang gak biasa. Ane tertarik karena itu karya lain dari mangaka Full Metal Alchemist dan referensi dari omake di buku terakhir Claymore. *sayangnya duit ane masih kurang buat tebus si Butadon di Gramedia T.T* Ane nonton Hong Gil Dong versi 2009 gara-gara tahu penulis naskahnya Hong Sisters. Gak apa-apa telat daripada nyesek pas ongoing. Ane baca Hana Haru karena pengarangnya Seok Woo, pembuat Orange Marmalade. Ane nonton Click sama Grown Ups gara-gara pemainnya Adam Sandler.

Kadang cara ini berhasil tapi kadang juga gak. Biasanya kalo kita mengandalkan referensi ini pasti ekspektasinya pun tinggi. Resiko nyeseknya itu paling besar bila tahu orang yang ada di baliknya itu greget tapi hasil malah jauh dari harapan.

groadat feels ._.

Pilih dengan bijak

Hanya dengan melihat pun kita bisa tahu karya itu cocok untuk dikoleksi atau tidak. Contohnya seri Anne of Green Gables yang nongkrong di rak buku rumah ane. Pertamanya nemu gak sengaja di perpustakaan terus pinjem. Ane kira ceritanya gak menarik eh tahunya keterusan. Akhirnya biar gak bolak-balik perpustakaan mulu ya ane beli. Untung aja nemu di bursa buku murah pas kunjungan ke Mizan kemaren. Emang sih gak komplit tapi setidaknya puas. Fufufufufu!

Buat serial televisi ato komik sih mau diterusin apa gak? Semua kembali dari kita yang ikutin cerita.

Fanservice Epeliwer

Ane emang demen liatin manga ecchi gara-gara dicekokin terus ama si Mamih Aisya pas zaman SMP. Ya maklum deket SMP emang ada taman bacaan yang enak buat dipake nongkrong. Pitimoss di jalan Banda. Dulu setiap hari Jum’at itu pulangnya cepet. Makanya sering dihasut si Mamih ke sana. Tempatnya emang enak banget buat baca sambil selonjoran. Ane iseng dah cari ke si mbah soal Pitimoss. Terakhir kali ke sana zaman ane SMK. Eh ternyata masih buka dan masih pewe buat nongkrong. Koleksi buku di sana emang lengkap untuk komik dan novel. Salah satu rekomendasi ane buat yang doyan baca dengan lingkungan yang enak.

Cuman ane gak tahu. Tukang lumpia basah di sana masih ada gak ya? Lumpia basah yang biasa nongkrong di depan Pitimoss itu emang mantap. =w=)b

Ane seneng baca komik itu dari zaman TK. Nonton film kartun pun zaman … balita. Itu pun nonton Tom and Jerry, kata kakak ane sih. Ane bukan seorang pengamat tapi kok makin ke sini makin banyak fanservice ya.

Emang sih fanservice dari dulu juga ada tapi ya gak separah sekarang. Dulu fanservice itu lebih mirip seperti easter egg. Bukan bumbu yang wajib ada kecuali genrenya emang ecchi. Misalnya kartun Betty Boop yang jelas-jelas “itunya” besar. Ada juga yang jadi bumbu komedi seperti dalam Looney Tunes. Tidak overdosis seperti halnya kebanyakan anime zaman sekarang.

Fanservice adalah hiburan tambahan. Misalnya cewek-cewek seksi yang ada di kebanyakan film Adam Sandler dan ulah para personel boyband Korea dalam acara reality show. Biasanya reaksi orang yang liat fanservice itu … klepek-klepek buat cewek dan mimisan buat cowok. Ya gak selalu gitu sih.

Ada yang bagus walau ada fanservice. Ada juga yang malah tambah jelek dengan fanservice. Pengecualian buat kasus Highschool DxD dan Fifty Shades of Grey yang emang fokus cerita utamanya adalah fanservice. Terlalu banyak fanservice bisa merusak cerita. Merusaknya gak cuman dalam arti sebenarnya. Bisa juga menurunkan kualitasnya. Contoh nyatanya sih acara dangdutan. Asalnya elit dan berkelas sekarang malah jadi kampungan. Pakaian seksoy, goyangan hot-hot wow, lirik-lirik nakal, dan tentunya mata usil yang cari bagian “gunung” juga “segitiga bermuda”. Pantesan halaman beranda YouTube Indonesia aneh-aneh terutama video orkes keliling. Masih mending nonton Via Vallen dah.

Itu buat tayangan yang demografisnya cowok terus dilihat sama cewek. Bagaimana jika tayangannya buat cewek?

Ane jujur gak suka sama cowok roti sobek. Biarpun karakternya badass tapi muka unyu macam Helck. Ane lebih demen cowok yang berpakaian utuh dan … berkacamata. Itu kalo 2D. Kalo 3D alias dunia nyata mah asal akhlak bagus sama orangnya gak neko-neko.

Pantesan peringkat di webtoon itu didominasi komik romantis, cogan roti sobek nomor satu cerita nomor dua. Dasar cewek-cewek tukang ngemil micin! *bukannya bumbu Atoom Bulan sama-sama micin ya, dasar penulis dodol maniak bumbu Atoom Bulan!* Realita hidup tidak selalu dihiasi cogan roti sobek!

Akhir kata. Cerita yang kebanyakan micin itu tidak baik. Toh fanservice sama aja kayak micin ‘kan?

 

Kartun Kembali Dilirik, Semoga Bertahan Lama

Kabar gembira untuk para generasi 90-an yang sering koar-koar balikin kartun (dan tentunya anime) di internet. Sekarang stasiun televisi mulai berpikir dua kali buat balikin kartun. Pasalnya rating acara televisi mulai disusupi oleh kartun. Biasanya Upin Ipin yang dengan setia bertengger di posisi rating 10 besar. Kini bertambah dengan Shiva dan Masha and The Bear. Hal itu ane kutip dari laman Facebook Rating Program Televisi Indonesia berdasarkan rating tanggal 28 April silam.

sumber: laman Facebook Rating Program Televisi Indonesia

Ane pernah menulis di tulisan lain soal Naruto yang sempat menyusup di sela-sela rating 10 besar sekitar tahun 2015 lalu. Apalagi Global TV secara resmi mengumumkan untuk menayangkan musim pamungkasnya, Naruto Shippuuden season 9. Bisa saja penayangan episode terbaru Naruto berhasil membuat stasiun televisi untuk berpikir dua kali memasukkan kartun pada jam prime time. Apakah bisa mendulang kesuksesan seperti tahun 2015 silam? Apakah sampai bikin baper dengan The Last? (biasanya Global TV sering beli lisensi sepaket sama movie-nya dan sengaja belum ditayangin karena spoiler) Apa mungkin dilanjutkan sampai penayangan Boruto? Hal itu menjadi bahan perbincangan di kalangan otaku. Berhubung kasus Naruto di televisi terbilang unik, kita kesampingkan saja dahulu.

Sebelum menulis ini, ane melakukan riset mengenai jadwal stasiun televisi khususnya mengenai slot tayang khusus anak-anak. Tidak hanya kartun, tetapi acara anak-anak secara keseluruhan.

Sejauh ini hanya RTV (dulu dikenal sebagai B Channel) dan MNCTV yang konsisten sejak beberapa tahun yang lalu menayangkan tayangan anak pada jam tertentu. Sebenarnya sih TVRI juga masuk sayangnya jadwal tayangan anaknya berubah dari tahun ke tahun. Bahkan MNCTV berhasil menampar keras stasiun televisi yang menayangkan FTV rasa sinetron Hidayah pada siang hari. Terbukti dengan rating Upin Ipin selalu lebih tinggi daripada FTV Hidayah setiap hari bahkan tahun.

Begitupun dengan variasi program pada slot tersebut. MNCTV sudah dikenal dengan Upin Ipin jadi mereka tidak takut lagi untuk memboyong hak siar tayangan lain dalam waktu tayangnya. Tidak jarang tayangan tersebut mendulang kesuksesan serupa. Seperti halnya BoBoiBoy, Pada Zaman Dahulu, dan Little Krishna yang pernah tayang di stasiun televisi yang dulu dikenal sebagai TPI itu.

pada-zaman-dahulu
sumber: Les Copaque

Berbeda dengan MNCTV, RTV lebih banyak program in house yang dibuat khusus untuk anak-anak. Di awal transisi dari B Channel menuju RTV, acara Lolipop berhasil menumbuhkan rasa kreatif bagi anak-anak dengan prakarya dan percobaan ilmiah yang dikemas menarik. Selanjutnya muncul Fun Time yang secara tidak langsung sebagai spiritual successor dari Lolipop. Acara anak-anak yang dikemas kekinian dengan tiga segmen berbeda yang dipandu oleh anak-anak. Kini ditambah dengan tayangan Dubi Dubi Dam, berkonsep seperti Hi5! (yang juga ditayangkan di RTV) dengan pemandu acara anak-anak juga. Soal kartun pun, RTV lebih bervariasi dalam masalah genre. Ya mungkin ane bakal menyebutkan dengan istilah dalam anime/manga. Jika di MNCTV, kartun yang tayang bergenre anak-anak, slice of life, dan shonen (untuk BoBoiBoy dan Little Krishna). Kartun yang tayang di RTV bergenre anak-anak, slice of life, edukasi (untuk Diva The Series), religi (seperti Syamil dan Dodo), shonen, dan shojo (untuk blok Super Girly seperti Rainbow Ruby).

diva-the-series
sumber: Kastari Animation

Kemudian stasiun televisi lain pun turut mengikuti jejak MNCTV dan RTV. Kita bisa melihat dari ANTV, Trans TV, dan RCTI. Untuk kasus Trans TV sungguh mengejutkan. Kalo gak salah kartun yang terakhir kali tayang itu pas sekitar tahun 2003-2004. Kembalinya kartun ditandai sekitar tahun lalu yaitu sejak kerjasama dengan MD Entertainment dan Cartoon Network dimulai. Kita bisa melihat episode-episode terbaru Adit Sopo Jarwo dan bernostalgia dengan Powerpuff Girls yang pernah tayang di RCTI beberapa tahun silam.

Demam India yang mewabah oleh ANTV mendorong stasiun berslogan “Wow Keren” itu turut membawa animasi asal India untuk merangkul lebih banyak penonton. Lihat saja penayangan Shiva dan Vir The Robot Boy. Slot pagi yang semula diisi tayangan ulang acara lawas mulai diubah konsepnya menjadi tayangan anak-anak. Bahkan si tengil Masha pun kembali muncul dengan cerita barunya. Begitu pula dengan Burka Avenger yang identik dengan India padahal animasi asal Pakistan. Kartun yang banyak dipuji oleh kritikus Barat sebagai antitesis dari karakter putri Disney dan tema pendidikan yang diusungnya. Padahal ane lebih berharap satu hal, kelanjutan Curious George yang sempat tayang di ANTV sejak tahun 2006 silam.

Bisa dibilang RCTI tergolong berani untuk bertanggung jawab. Setelah “menghancurkan masa kecil” dengan penayangan tayangan berkedok acara musik di pagi hari sewaktu akhir pekan, kini stasiun televisi ini nekat untuk “meminta maaf” dengan animasi lokal. Keberadaan Kiko menjadi angin segar setelah selama ini RCTI lebih menayangkan “acara musik” dan gosip di pagi hari. Keberanian ini yang patut diacungi jempol. Tidak banyak stasiun televisi yang berani mengangkat animasi lokal ke layar kaca. Hingga saat ini hanya Adit Sopo Jarwo dan Keluarga Somat, dua animasi lokal yang tayang lebih dahulu di layar kaca, yang masih bertahan. Keberadaan Kiko menambah daftar pendek animasi lokal yang mulai tumbuh di tengah jenuhnya masyarakat akan televisi.

Di sela-sela tayangan televisi kemarin, ketika ane lelah menanti lamanya durasi iklan Apa Kabar Indonesia Malam, ane lelah dengan deretan iklan yang lebih lama dari sepotong episode Ocha-Ken. Dengan kesal ane menekan-nekan remote televisi, berharap sesuatu yang menarik dan dapat mengalihkan perhatian dari iklan. Mata ane tertuju pada SCTV, stasiun televisi yang enggan tersentuh semenjak India menguasai remote. Ane melihat iklan kecil terselip di bawah tayangan sinetron, blok khusus anak-anak yang kembali hadir setelah absen sejak tahun 2006. Ane hanya mengenali Gon, animasi yang diangkat dari manga berjudul serupa, si dinosaurus tidak bisa bicara yang pernah ditayangkan di ANTV.

Kesuksesan suatu kartun di masyarakat bukanlah dilihat dari rating. Lihat saja pedagang di pasar kaget atau pusat penjual pakaian seperti Tanah Abang dan Pasar Baru. Semakin banyak pakaian “tidak resmi” di sana, semakin dikenal suatu kartun. Contohnya pakaian bermodel Elsa yang biasa digunakan anak-anak perempuan untuk cosplay, baju bergambar BoBoiBoy, dan yang terbaru baju bermodel Shiva. Bahkan setelan sarafan yang biasa dikenakan Masha menjadi pakaian lebaran yang laris. Baju tradisional khas Rusia itu dapat melatih anak perempuan untuk belajar berhijab.

Kembalinya kartun ke televisi pertanda angin segar bagi anak-anak. Asalkan jangan taruh Regular Show pada jam pagi ataupun waktu siang. Ane setuju dengan Trans TV yang menaruh Regular Show pada jam 4 subuh. Ya, kartun memang identik dengan anak-anak namun bukan berarti semua jenis kartun bisa ditonton anak-anak. Ada kartun yang tidak layak ditonton untuk anak-anak: hentai dan gore. Apa orang tua ingin anak-anaknya seperti Sasha yang harus menghisap ASI setiap perempuan untuk menghabisi lawannya seperti dalam Seikon no Qwaser? Apa orang tua ingin anak-anaknya menganggap lelucon dalam Happy Tree Friends sesuatu yang lucu? Seharusnya stasiun televisi lebih bijak untuk menayangkan kartun di televisi.

Tidak harus kartun yang baru untuk ditayangkan, kartun lama yang sudah jarang diputar ulang bisa menjadi pilihan. Seperti halnya sinetron era 90-an yang sempat kembali tayang di televisi. Kita masih ingat kartun-kartun era Hanna-Barbera yang sempat tayang di televisi selain Tom and Jerry dan Scooby Doo. Masih ada Flintstone, The Jetsons, The Wacky Races, dan masih banyak lagi. Asalkan bukan Popeye, pasti kena sensor KPI habis-habisan karena pipa rokok yang menjadi ciri khasnya. Masih banyak juga kartun Nickelodeon lawas yang bisa ditayangkan lagi. Seperti melihat ulahnya Tommy Pickles dalam Rugrats, Hey Arnold, suara khas Nigel Thornberry dalam The Wild Thornberries, hingga Jimmy Neutron. Kalau era Tatsunoko mungkin lebih lawas lagi. Seperti halnya Speed Racer, Time Bokan, Casshern, dan Hachi anak yang sebatang kara pergi mencari ibunya (ane baru tahu pas cari anime Tatsunoko lain yang pernah tayang di TV tadi).

Sebenarnya kalo ane sih pengennya Akachan to Boku. Biar keponakan ane alias si Hiro versi live action gak nagih terus pengen nonton itu.

Setidaknya dengan adanya kartun di televisi, anak-anak bisa sejenak melupakan gadget dan permainan modern. Kartun pun bisa membuat anak-anak bersosialisasi dengan teman sebayanya. Jadi inget waktu SD, saat itu kalo gak ngomongin Naruto sama One Piece rasanya gak eksis. Bahkan ada yang terang-terangan ngaku-ngaku husband dan waifu di kelas. Selain itu ya bisa menumbuhkan imajinasi anak-anak. Banyak orang dewasa yang sekarang jadi komikus, penulis, animator, hingga kru film yang bermula dari penyuka kartun. Ada pula yang malah jadi serius belajar robotika gara-gara dia fans Gundam kayak temen ane. Jadi inget kemaren nangis darah gara-gara gunpla dipotongin keponakan T.T

Ya ane cuman berharap itu bukan musiman. Kalo bisa konsisten kayak RTV dan MNCTV sih.

Satu Program Anak Muda Lebih Baik daripada Koar di Internet

NB:

Ane bukanlah seorang pakar ataupun pengamat televisi yang sesungguhnya. Ane hanya seorang yang menghabiskan sebagian masa kecilnya dengan televisi. Jadi singkatnya ane tahu perkembangan televisi dari kacamata seorang awam.

Okelah ane gerah program televisi yang sedikit-sedikit kena kartu merah dari KPI. Emangnya sepak bola aja yang punya kartu merah? Eh F4 juga punya deng. Gak ngerti lelucon ane? Cek aja Hana Yori Dango ato drama adaptasinya di kanal favorit Anda.

Bosen juga lihat berita di internet atau media sosial tentang tayangan A kena semprit wasit KPI, tayangan B, tayangan C, dan gitu aja terus sampe wasitnya diciduk KPK. Belum lagi baca komentar yang ramai di kalangan netizen Indonesia rasa ibu-ibu arisan.

Hapus sinetron dari muka bumi televisi negeri ini!

Soal itu ane gak setuju. Toh masih ada sinetron yang lebih memiliki kualitas dan tentunya asyik buat ditonton. Contohnya serial laga kolosal lawas, Preman Pensiun, Tetangga Masa Gitu, Keluarga Cemara, Bajaj Bajuri, dan kebanyakan udah tamat sih.

Balikin kartun dan anime pada jam tayang yang seharusnya.

Sayangnya ini terhalang oleh sinar dewa KPI. Bahkan jurus kocak ini hanya berada dalam ingatan dan manga-nya.

sexy-jutsu
sumber: Naruto Wikia

sensor KPI lebih parah dari awan sexy jutsu

Soal kartun sih sebenarnya karena kepedulian mantan anak-anak yang mayoritas kini menjadi penduduk dunia maya. Masa iya sih bocah udah pacaran ampe *ups, hayo lho mikirin apa?*. Setidaknya dengan kartun bisa mengembalikan imajinasi dan dunia anak-anak.

Banting aja TV-nya! Ayo kita ramaikan media sosial dan YouTube!

Itu versi ekstrim. Tema itu emang disentil dalam buku Berani Nolak TV?! karya Kun Sri Budiasih dan salah satu episode komik strip Benny & Mice.

Sesekali bikin konten televisi yang bermutu kek!

Nah, ini yang bakal ane sentil di tulisan ini.

Idenya bermula dari mampir ke situs KPI. Bosen eke lihat di halaman depan pengaduan, semprit, pengaduan, dan kartu merah mulu. Pfft. Tapi ada satu hal yang menarik dari beranda situs KPI yakni majalah digitalnya. Tentu saja dengan desain yang lebih enteng dan “terurus” dibandingkan versi situs yang lama. Tumben komentar dari sudut pandang “kuli ngoding”. *emangnya wartawan doang yang disebut “kuli tinta”!*

Harta karun itu ialah Hasil Survei Indeks Kualitas Program Siaran Televisi yang dirilis setiap tahun. Survei tersebut merupakan hasil kerjasama antara KPI, 12 Perguruan Tinggi di Indonesia, dan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI). Setiap tahun, KPI mengeluarkan survei tersebut secara berkala. Nah, survei periode V tahun 2016 yang terbaru sewaktu ane menulis tulisan ini.

Jujur aja ane ngakak baca laporan hasil survei yang dimuat di beranda situs KPI ini. Bukan berarti ane tertawa karena murni lucu ya.

Banyak pengguna media sosial mengeluhkan buruknya kualitas tayangan televisi di Indonesia. Sudah jelas berdasarkan survei dan pendapat para ahli, mereka pun turut mengaminkannya. Dari hasil survei secara keseluruhan, ternyata infotainment dan sinetron yang berkualitas buruk. Informasi lebih detilnya bisa baca langsung di hasil surveinya.

Nah, survei tersebut melibatkan responden dari kalangan penonton biasa dan pakar. Program televisi yang diambil pun dipilih secara acak oleh pihak KPI sendiri.

Salah satu hasil survei yang bikin ane ngakak adalah soal acara berkualitas. Memang dalam survei tersebut, banyak program dengan penilaian tertinggi berasal dari TVRI dan NET. Terbukti dari penilaian yang diberikan para ahli dan penonton biasa. Tapi lucunya, banyak program yang diberikan penilaian bagus oleh para ahli tapi enggan ditonton oleh penonton biasa.

Lah, koar-koar di internet pun percuma. Ngajakin nonton acara di TVRI ato NET yang lebih bermutu pun susah selama remote tipi dikuasai emak-emak :v

Kesel ya? Emang.

Daripada kesel sendiri terus menghabiskan waktu (dan tentunya kuota) hanya buat ributin televisi, kenapa kita sebagai generasi muda gak bikin sesuatu yang lebih berkualitas? Buktikan dengan “power of anak kemarin sore” kita bisa mengubah perwajahan televisi Indonesia.

Kurang apa lagi coba? Kalo digambarin dalam grafik pertumbuhan penduduk, kita berada dalam bentuk segitiga alias generasi muda lebih banyak dari orang tua.

Banyak konten-konten kreatif anak muda yang menghibur tapi gak menggurui. Tongkrongin aja kerjaan para vlogger dan YouTuber. Mereka bisa menyelipkan nilai moral bahkan kritik sosial yang bisa bikin kita menertawai diri sendiri.

Kalo mau bangkitin sinetron, kita bisa gandeng para penulis kenamaan, pembuat seri YouTube, sampe selebgram. Asal bukan selebgram yang itu aja tuh. Ane udah pernah nulis tentang hal-hal apa saja yang perlu kita benahi untuk mengubah wajah sinetron Indonesia. Biar lebih kece dari drakor apalagi kualitasnya bisa setara ama serial TV Barat.

Aksi anak muda di masa sekarang menentukan wajah televisi Indonesia di masa depan. Percuma aja pasang status mulu nyinyir soal televisi tapi gak ada aksi.