Obrolin Topik Cara Ane

Nah, sesuai dengan judulnya, kita bakalan ngobrol panjang lebar kali tinggi mengenai ngobrolin suatu hal. Tapi ngobrol yang ane maksud ini bukan dalam artian ngobrol basa-basi-busuk. Ngobrol di sini dalam artian menulis artikel atau apapun dengan tema nonfiksi. Tanpa basa-basi-busuk macam tulisan ane sebelumnya, mari kita mulai sesi curhatnya.

Lebih Gampang Mana, Fiksi atau Nonfiksi?

Dulu ane jawab fiksi. Seiring berjalannya waktu ane malah bilang lebih gampang nonfiksi. Cuman tanggung jawabnya lebih berat dalam menulis nonfiksi.

Pertama. Tanggung jawab moral. Pernah denger kasus Anggito Abimanyu yang sempat rame beberapa tahun silam? Kasusnya sederhana: plagiarisme salah satu opini di surat kabar nasional. Gara-gara masalah itu, beliau terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dosen UGM.

Tanggung jawab moral bikin tulisan nonfiksi itu gede lho. Salah sedikit aja bisa jadi masalah apalagi di masyarakat serba salah macam kondisi masyarakat kita sekarang. Apalagi di ranah sensitif seperti akademik, religi, dan politik. Dulu pas ane masih SMP, ane masih berani nulis tema tentang agama dan politik di jurnal ini. Salah satunya ya curhatan bocah SMP yang mengkritik kebijakan kenaikan BBM. Tapi tulisan lama ane sengaja hapus biar gak mengundang kontroversi.

Kedua. Tulisan kita itu lebih abadi daripada usia kita. Jangan sampai tulisan kita bikin pengaruh buruk buat generasi mendatang seperti halnya kasus trilogi Fifty Shades. Tulisan kita itu bisa jadi ladang amal ibadah selama kontennya itu bermanfaat bagi banyak orang. Makanya di akhir tulisan ane sering ada kalimat “kalo gak bermanfaat pun masih bisa jadi bungkus gorengan” juga. Jangan salah, di balik kalimat lelucon itu filosofinya dalem lho.

Ketiga. Kredibilitas sumber dari tulisan kita. Apa sebelum ane ngobrol panjang lebar kali tinggi itu ane gak riset? Ane riset dulu lah. Makanya ada beberapa tulisan serius ane yang panjang banget dan butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Berhubung kemasannya sengaja dibikin santai, ane sengaja gak taruh daftar pustaka. Paling ane kasih tautan tulisan aslinya kalo ada sumber dari internet.

Penyajian yang Bercanda

Ciri khas dari tulisan serius ane di jurnal ini emang gak pernah serius. Karya serius itu hanya berlaku untuk tugas sekolah, kuliah, dan karya ilmiah. Ane sering kasih referensi budaya populer biar lebih paham. Soalnya ane belajar dari statistik pembaca, kebanyakan demografi pembaca yang nyasar ke sini itu anak muda.

sumber: Photobucket

bikin tulisan terlalu serius, sungguh ter-la-lu!

Biar pembacanya gak bosen, ane sering pasang gambar acak dari internet. Misalnya buat jelasin satu hal, ane biasa pake foto babeh Jaja Miharja. Soalnya babeh Jaja Miharja itu sudah terkenal dengan jargonnya “apaan tuh?”

sumber : pikiran-rakyat.com

apaan tuh?

Jargon ini dipopulerkan oleh babeh Jaja Miharja sewaktu menjadi pembawa acara Kuis Dangdut di TPI (sekarang MNCTV).

Kalo ane cerita soal hal yang bikin kaget, biasanya muncul gambar ini.

woot?

Sumbernya itu dari salah satu episode NG Ramune, salah satu anime lawas. Kebetulan posenya konyol jadi ane sering pake buat ekspresi kaget. Ini juga bisa dikatakan easter egg. Soalnya hampir semua akun pribadi milik ane pake avatar ini. Pengecualian buat jurnal yang avatar-nya Pecola dan akun media sosial ane pake foto “pika”.

ane serius, emang ada hewan namanya pika

Kenapa bikin tulisannya gak serius? Biar gak bosen. Ane juga bukan tipe orang serius. Santai kayak di pantai!

Di saat ane bingung soal voice sama tone di fiksi, ane udah dapet hal itu lebih dulu di nonfiksi. Voice ane di dunia nyata gak jauh beda kayak gini.  Tone bawaan ane itu emang bercanda. Singkatnya tulisan nonfiksi ane itu seakan lagi ngobrol biasa sama temen-temen tapi melalui media tulisan. Itu bisa jadi salah satu cara biar orang lain tahu isi pikiran ane secara gamblang. Kenyataannya pikiran ane itu lebih cepet daripada omongan. Kadang suka gak nyambung omongan sama pikiran. Cara lebih aman buat luapin unek-unek? Menulis.

Kalo dulu gak kena semprit dosen pas lagi presentasi, mungkin ane gak bakal sadar voice sama tone dalam menulis.

Bekal Berguna buat Teman-Teman

Buat temen-temen yang pengen bikin tulisan nonfiksi receh tapi nagih, ane bakal bagikan resepnya.

Buatlah Tulisan dengan Volume

Balik ke rumus Matematika SD. Sebutkan rumus menghitung luas dan volume! Mulai lupa-lupa inget? Oke kita bakal nostalgia masa-masa SD lagi.

Rumus menghitung luas: panjang x lebar
Rumus menghitung volume: panjang x lebar x tinggi

Sebenarnya maksud ane tadi itu pun. Ane sengaja mempermainkan ungkapan “panjang lebar” dengan rumus menghitung luas. Tapi permainan kata itu ada maksudnya.

Perhatikan perbedaan kedua rumus Matematika SD itu. Apa yang membedakan keduanya? Kedalaman dengan kata lain tinggi. Perasaan itu beda deh. Sebenarnya konsep kedalaman sama tinggi itu sama. Bedanya cuman berada di titik ukur.

Kalo pake istilah garis bilangan sih, titik ukur itu angka nol. Tinggi itu bilangan positif. Kedalaman itu bilangan negatif. Tinggi itu untuk menunjukkan ukuran suatu benda di atas tanah dari tempat kita berpijak (bilangan positif). Kedalaman itu menunjukkan ukuran suatu benda di bawah tanah dari tempat kita berpijak (bilangan negatif).

sumber: ccuart.org

Apa hubungannya rumus matematika tadi dengan menulis? Kalo kita menulis panjang lebar tapi tidak ada kedalaman dari tema yang kita bahas, tulisan itu gak menarik. Singkatnya kayak selebaran yang dibagiin sama SPG kita ambil karena dia cantik tapi pas udah jauh dibuang gitu aja. Kenapa kita butuh kedalaman dalam tulisan? Soalnya tulisan pun ada masanya.

Tulisan yang mendalam itu lebih bertahan lama di mata pembaca. Apalagi kalo tulisannya membahas suatu hal secara menyeluruh, bisa jadi bahan buat referensi. Contohnya salah satu blog tentang Sailor Moon. Apa Sailor Moon masanya udah lewat? Ya. Popularitasnya udah kalah sama Madoka dan Pretty Cure. Tapi blog itu membahas semua hal berkaitan tentang Sailor Moon mulai dari segi cerita hingga fakta-fakta uniknya.

Apa blog itu tetap banyak pengunjung biar masanya udah lewat? Iya. Blog itu masih tetap dikunjungi fans Sailor Moon, bukan fans yang penasaran sama Sailor Moon, dan orang lain yang tertarik untuk mengulas soal Sailor Moon lebih dalam.

Tulisan tentang Sailor Moon memang receh di kalangan sebagian orang. Tapi itu bisa bertahan karena punya volume konten yang berbobot.

Pelajari Feynman Technique

Siapa Feynman? Richard Feynman adalah peraih Nobel kategori Fisika atas teorinya di bidang fisika kuantum. Hal yang menarik dari beliau bukan penghargaan Nobelnya, melainkan cara beliau mengajar di kelasnya. Tipe dosen idaman mahasiswa deh.

Cara beliau mengajar itu prinsipnya sederhana.

Kalo kita gak bisa jelasin suatu hal secara sederhana, berarti tandanya kita gak paham.

Ada penjelasan rincinya di internet buat temen-temen yang penasaran banget dengan hal ini. Kudu banget buat dipelajarin!

Teknik ini gak cuman kepake buat mengajarkan orang lain. Kita juga bisa menerapkan teknik ini buat belajar dan menulis nonfiksi.

Apa nulis tulisan nonfiksi itu kudu pake bahasa ilmiah njelimet dan bikin otak kita jungkir balik? Gak kok. Coba deh bikin tulisan nonfiksi bertema berat dengan bahasa receh dan kosa kata standar ala bocah. Bisa kok selama paham topik yang bakal kita bahas.

Riset, Riset, dan Riset

Menulis nonfiksi bagai sayur tanpa garam bila tanpa riset. Tapi riset seperti apa yang kudu kita lakukan?

Riset mengenai topik pembicaraan yang bakal kita ulas. Itu mah jelas. Buat memperdalam pengetahuan kita sebelum membahas suatu hal. Lebih baik salah pas riset daripada salah fatal pas tulisannya udah jadi.

Riset mengenai sasaran pembaca. Perhatikan betul sasaran pembaca dari tulisan kita. Berhubung sasaran pembaca ane di jurnal itu anak muda, jadilah bahasanya receh dan gak serius.

Riset mengenai kebutuhan pembaca. Sebenarnya si pembaca itu maunya apa sih? Jangan sampe kita kayak stasiun TV memperlakukan emak-emak kita. Butuhnya apa eh malah dibodohin. Contohnya acara masak. Acara masak yang segmentasinya orang sibuk sama ibu rumah tangga itu beda banget. Kalo gak percaya, analisis acara Urban Cook dengan Aroma di YouTube. Kenapa Urban Cook pendekatannya seperti itu ya karena sasaran tayangannya itu buat penduduk kota besar yang serba sibuk. Beda dengan Aroma yang sasarannya lebih ke ibu rumah tangga dengan waktu lebih luang.

Jangan lupa lakukan pengujian. Buat tulisan di blog itu lebih gampang soalnya ada fitur analytic bawaan. Kita analisis nih tema tulisan beragam dan reaksi pembaca. Sukses gak? Kalo sukses, berarti jalan teman-teman untuk meraih pembaca sudah ada di depan mata. Gak sukses ya benahi lagi kualitas dari konten kita dan perjelas riset yang sudah kita lakukan.

Menulislah dari Hati

Tips ini emang klise tapi ane bakal perjelas lagi maksudnya.

Buatlah tulisan dengan jujur dari lubuk hati kita tanpa embel-embel ini itu. Dari tulisan aja bisa ketahuan kok siapa diri kita. Kalo kita gak jujur sama diri kita sendiri, bakalan susah buat lanjutin tulisan kita ke depannya.

Beda lho tulisan yang dibuat oleh penulis komersil dengan penulis idealis. Dari cara ia menutur kata dan merangkai makna demi makna pun sangat berbeda. Penulis yang idealis lebih jujur dengan dirinya. Temanya murni, menyentuh, walau dengan kalimat sederhana. Persis seperti kasih sayang orang tua kita.

Apa penulis idealis bisa menghasilkan karya komersil? Bisa. Mereka punya kualitas lebih di atas para penulis yang hanya memikirkan unsur komersial semata. Tulisan mereka tidak lekang dimakan zaman dan menjadi potret kecil dari keberadaan dirinya selama di dunia.

Contoh tulisan yang ane buat secara jujur itu tulisan tentang depresi dan pornografi. Itu sebenarnya luapan dari perasaan ane yang sampai sekarang masih berjuang mengalahkan dua monster perenggut kebahagiaan ane. Tujuan ane bikin tulisan itu bukan pengen menaikkan jumlah pembaca. Ane cuman pengen gini. Jangan sampe ada kasus seperti itu terulang lagi di masa depan. Biarlah ane menjadi korbannya. Jadikan ini bahan pelajaran bagi diri ane juga kita di masa sekarang.

Menulis itu tidak hanya sekedar merangkai kata demi meluapkan isi pikiran kita. Menulis itu adalah cermin dari perasaan dan kondisi kita sekarang. Sebaik-baiknya tulisan adalah tulisan yang bisa bermanfaat dan menginspirasi orang lain agar hidup lebih positif. Biar kata tulisan ane tidak berguna bagi teman-teman, tulisan ini jauh lebih berharga di mata tukang gorengan. Lumayan nambah stok kertas gratis lagi buat bungkus gorengan.

Akhir kata, tetap menulis dan ditunggu ya karya teman-teman.

Iklan

Tolong Bantu Kami Lepaskan Diri dari Jerat Pornografi! (Bagian Pertama)

Jujur aja pas ane ngetik judulnya aja mo nangis.

Candu memang nama salah satu jenis narkotika. Di samping itu, candu juga berarti suatu hal yang bisa membuat orang melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa sebab hingga menjadi sebuah “kebiasaan”. Candu itu kebiasaan buruk yang bisa menjerumuskan orang lain dalam maksiat, penyesalan, aib, putus asa, depresi, hingga … menganggap semua warna dalam kehidupan hanya sebatas rona dalam palet monokrom.

Berlebihan itu tidak baik.

orang tua kita

Beda Masa, Beda Cerita

Ane inget ada salah satu hadits yang intinya mengatakan “didiklah anak sesuai zamannya”. Benar tantangan setiap zaman itu berbeda-beda. Pola didik di era Victorian berbeda dengan pola didik di era Perang Dunia ke-2. Hal itu tampak jelas dari film dan literatur yang mencerminkan masa itu.

Ane emang belum tamat baca Pride and Prejudice. Baru sampe bab 4 terus baca berulang-ulang gara-gara vocabulary ane pas-pasan dan biar ngerti sama ceritanya. Ane cuman ikutin saran pembaca dari forum buku di internet buat referensi novel khususnya genre romance.

Pride and Prejudice merupakan salah satu literatur klasik bergenre romantis terbaik sepanjang masa.

orang-orang klub buku

Ada salah satu blog penulis yang menganalisis novel Pride and Prejudice dari sudut pandang kepenulisan. Ia ulas dalam tulisannya, inti novel tersebut itu “tips memilih lelaki yang tepat untuk jadi suami kita kelak”. Pas ane baca bab awalnya pun sudah menggambarkan jelas budaya yang berlaku pada masa itu. Seorang perempuan yang belum menikah sengaja disuruh sosialisasi sama orang tuanya biar bisa dapat jodoh. Perempuan itu lalu menimbang baik-baik setiap lelaki yang datang dan berusaha meminangnya. Berbeda dengan masa sekarang yang “langsung klop” dengan seseorang tanpa berusaha saling mengenal.

Contohnya masalah dalam Frozen. Masalah bermula dari ketidaksetujuan Elsa dengan hubungan Anna yang instan dan tiba-tiba minta restu untuk menikah. Wajarlah bila Elsa seperti itu. Sebagai seorang kakak, ia ingin hal yang terbaik bagi adiknya. Ia juga tidak tahu asal usul Hans yang tiba-tiba melamar Anna.

Bahkan dalam perjodohan sekalipun, kita tidak lantas menerima mentah-mentah begitu saja lamaran seseorang. Misalnya kita coba buat ta’aruf/minta tolong lewat mak comblang/aplikasi biro jodoh, apa kita terima setiap orang yang disodorkan begitu saja? Tidak. Kita pelajari dulu CV-nya (kalo kata orang tua mah, bibit-bebet-bobot-nya), pelajari karakternya, cara memperlakukan kita dan keluarga di mata orang lain, barulah kita putuskan untuk menikah atau pindah ke calon lain.

Sayangnya di masa sekarang lebih banyak perempuan yang seperti Anna daripada Liz.

Fantasi Liar, Media, dan Ketidakpuasan

Penjelasan lebih detilnya ada di tulisan ane sebelumnya. Ane cuman mo bahas hal lain yang menyebabkan faktor itu.

Kenapa kebanyakan perempuan zaman sekarang memiliki pola pikir seperti Anna? Ada beberapa faktor yang mendorong hal itu.

Pertama, media. Kita bisa belajar dari era film bisu, novel, dan literatur budaya mengenai potret perempuan masa lalu. Bagaimana mereka memotret keadaan perempuan di masanya? Bagaimana pengaruh media terhadap citra perempuan di suatu masa?

Misalnya tentang Audrey Hepburn. Sampai sekarang Audrey Hepburn terkenal dengan ciri khasnya dalam mode. Salah satu ikon yang khas adalah setelannya dalam film Breakfast at Tiffany’s (1961). Pada masa itu para perempuan berbondong-bondong meniru gaya Audrey Hepburn dalam berbusana.

Kedua, perlawanan terhadap stereotipe perempuan. Di masa lalu, feminis hanya berjuang agar perempuan bisa mendapat hak dasar mereka seperti mendapat pendidikan dan memilih pemimpin dalam pemilu setempat. Seiring perkembangan zaman, pergerakan feminis yang semula hanya untuk meminta hak mereka di masyarakat menjadi lebih buruk. Bahkan di kalangan sebagian perempuan sendiri pun mengatakan feminis itu “Nazi modern dalam kedok aktivis”. Jadi perjuangan mereka yang melenceng justru malah menjerumuskan perempuan dari kodratnya semula.

Ketiga, kehampaan dalam hidup. Masyarakat modern sekarang justru merasa hampa dalam hidup mereka. Hal yang banyak dirasakan negara maju namun tidak untuk negara dunia ketiga. Negara dunia ketiga memang masih berkembang dan memiliki masalah kompleks yang sulit untuk mereka pecahkan sendiri. Contohnya Indonesia yang masih ribut karena hal sepele, fanatisme buta, birokrasi benang kusut, urusan perut sendiri, dan perebutan kekuasaan. Ironisnya semua hal yang masyarakat modern cari semuanya berada di negara dunia ketiga: kepuasan batin, kedamaian, seni untuk bahagia, kehangatan keluarga, masyarakat yang hangat, dan kedekatan intim dengan Sang Pencipta.

Terakhir, ini alasan yang paling klise dan umum. Media membentuk persepsi seorang laki-laki di mata perempuan. Setiap bangsa dan masa memiliki preferensi mereka sendiri dalam memandang laki-laki. Ketika melihat media dengan para lelaki tampan di luar sana, secara tidak langsung pola pikir kita mengarah pada gambaran lelaki tampan tersebut. Otomatis bila bertemu dengan lelaki di luar dari bayangan para perempuan.

Amit-amit jabang bayi punya suami kek gitu!

Perempuan yang seleranya selevel oppa Korea

Faktanya justru lelaki tampang pas-pasan banyak yang dapat istri cantik bahkan bule! Lebih beruntung lagi bila mereka dapat gadis Arab yang minimal lulusan S2.

Di Balik Kisah Romantis

Ane pernah bahas juga topik semacam ini di tulisan sebelumnya. Ane cukup nambahin hal yang masih berkaitan tapi tidak ditulis di tulisan sebelumnya. Ane persempit lagi fokus tulisannya pada genre sejuta perempuan: romance.

Ane baru tahu fakta unik di balik genre romance. Di masa lalu, genre ini tidak berfokus pada kisah asmara dua insan semata. Epik heroik seorang pahlawan dalam menaklukkan sebuah wilayah atau lawan-lawannya termasuk dalam cakupan genre ini. Definisi lebih jelasnya bisa cek di internet atau buku lawas mengenai sejarah genre romance.

Apa Romeo dan Juliet masih tergolong dalam genre romance berdasarkan definisi lawas ini? Ya.

Kenapa perempuan sangat menyukai genre ini dibandingkan dengan drama, chicklit, fiksi umum, atau genre lainnya? Itu tadi. Alasan klise mengenai ekspektasi laki-laki tidak sesuai harapan.

Ane pernah baca soal bedanya introvert sama extrovert dalam hubungan asmara. Keduanya itu berbeda. Jadi jangan samakan stereotipe tentang introvert dan extrovert! Ada yang seneng basa-basi busuk tapi ada yang seneng bicara serius. Ada yang bisa bikin jantung perempuan berdetak tidak karuan dan ada juga yang datar terus bilang “oh”. Ada salah satu kepribadian MBTI yang bisa bikin perempuan meleleh: INFJ.

Masalahnya populasi penduduk dengan kepribadian INFJ itu populasinya 1% dan terkenal sebagai salah satu kepribadian misterius. Nah bagaimana bila harapan mereka tidak terpenuhi? Salah satu fungsi hiburan adalah melarikan diri dari realita yang kadang berbanding terbalik dengan pemikiran naif kita. Pelarian kita sebagai perempuan adalah literatur yang banyak dibuat dari kita-oleh kita-untuk kita. Salah satunya literatur genre romance. Justru di balik indahnya romantisme dari setiap rangkaian cerita, ada sebuah lembah gelap tersembunyi dalam jubah indah berkilauan bernama romantisme.

Gaya penulis menuturkan kata demi kata menjadi rangkaian indah cerita mereka berbeda satu sama lain. Cara bertutur seorang komikus akan berbeda dengan seorang novelis. Begitu pula cara bertutur penulis novel klasik berbeda dengan penulis modern. Semua dipengaruhi oleh hal-hal di sekitar kehidupan si penulis itu. Bacaan, ajaran agama, kehidupan sosial-budaya setempat, hal-hal lumrah di masanya, pandangan politik, hingga hal lain dapat mempengaruhi cara tutur mereka. Mulai dari pembingkaian setiap adegan dalam cerita hingga tema yang mereka usung sepanjang jalannya cerita. Tapi tanpa kita sadari, banyak penulis genre romance terjebak dalam klise atau pakem cerita yang membentuk pola pikir kita sebagai perempuan.

Antara Fujoshi dan Fifty Shades

Kenapa ane banyak menyinggung soal fujoshi dalam tulisan? Sebenarnya itu fenomena menarik jika kita lihat dari sudut pandang seorang perempuan.

Kesamaan antara fujoshi dan Fifty Shades adalah erotica. Genre irisan antara romance dan pornografi. Bedanya fujoshi adalah salah satu fandom perempuan sementara Fifty Shades adalah salah satu literatur erotica. Keduanya muncul dengan kontroversi. Fujoshi dianggap merusak sebuah fandom karena imajinasi liar mereka. Seri Fifty Shades pun dianggap merusak masa depan literatur (dan pembacanya) di kalangan lingkungan klub buku, kritikus literatur, psikolog, pemuka agama, dan aktivis perlindungan anak.

Trilogi Fifty Shades bermula dari sebuah fan fiction Twilight dengan nuansa BDSM kental. Ironisnya di kalangan pelaku BDSM sendiri pun menganggap hal yang tercermin dalam buku tersebut tidak sesuai dengan “aturan main mereka”. Tidak hanya masalah BDSM yang menjadi fokus kritik dari berbagai kalangan, tetapi juga buruknya narasi penceritaan, penggambaran karakter perempuan lemah, tidak adanya pendalaman karakter/plot, hingga adegan pembalut wanita yang kontroversial. Bahkan lelaki manapun akan berpikir dua kali sebelum berhubungan badan sewaktu tahu perempuannya sedang haid!

Fujoshi sebenarnya adalah kata bermakna peyoratif bagi “perempuan mesum”. Perempuan mesum di sini maksudnya fans dari genre yaoi dan yuri, subgenre dari pornografi. Fantasi mereka yang liar dan melampaui batas justru membuat orang lain jijik. Bahkan ada sebuah survei yang dilakukan oleh kalangan penyuka anime di Indonesia mengatakan mayoritas penonton laki-laki enggan menonton anime dengan tokoh mayoritas laki-laki/bertema olahraga. Alasannya mereka risih dengan keberadaan fujoshi yang justru membuat kesenangan menonton anime buyar seketika.

Kemunculan fenomena tersebut berawal dari seksualisasi gambaran pria di media. Kata siapa hanya perempuan yang menjadi target seksualisasi dalam media massa? Seksualisasi karakter, dengan kata lain fanservice dalam istilah anime, secara tidak langsung membentuk gambaran kita akan seorang yang “ideal”. Pada kasus laki-laki itu pria yang tampan, seksi, nakal, memiliki senyuman sensual, berstatus mapan secara finansial, tapi bisa memanjakan perempuan. Contohnya Edward Cullen dalam Twilight. Banyak karakter vampir yang sudah dikenal masyarakat. Kenapa Edward bisa lebih banyak memikat kaum hawa dibandingkan dengan Count Dracula? Jawabannya adalah itu tadi. Fisik yang memuaskan hasrat para wanita kesepian di luar sana.

Fantasi Melampaui Batas

Ane pernah baca artikel menarik di internet mengenai sudut pandang laki-laki. Satu artikel membahas tentang sudut pandang lelaki pada umumnya. Satu lagi sudut pandang “maho”. Keduanya disodorkan literatur perempuan. Bagaimana reaksi mereka?

Apa mereka hanya berpikir laki-laki itu isi pikirannya hanya hubungan intim? Laki-laki terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka di luar sana. Itu sebabnya laki-laki hanya bicara topik yang umum seperti kehidupan kantor dan olahraga.

reaksi seorang pria membaca salah satu rubrik Cosmopolitan

Imajinasi para perempuan terlalu liar. Kami tidak pernah melakukan hal-hal sampai seperti seliar itu.

reaksi seorang maho menonton yaoi

Jika para lelaki saja bisa berpendapat seperti itu, berarti ada yang salah dengan pola pikir kita sebagai perempuan. Anehnya mereka menganggap itu sebagai hal yang lumrah. Secara tidak langsung fantasi mereka mendorong mereka pada jerat lembah hitam pornografi.

Kasus laki-laki dan perempuan memandang pornografi itu sangat berbeda. Hal itu dipengaruhi pula dari sudut pandang mereka memandang pornografi.

Ane memang besar di komunitas yang mayoritas anggotanya adalah laki-laki. Ane amati perilaku dan kebiasaan mereka. Beberapa dari mereka hanya menganggap melihat pornografi adalah ciri lelaki normal dan dewasa. Bahkan anak alim sekalipun pernah sekali melihat pornografi. Ane pernah mendengar salah satu pengakuan sobat lelaki ane. Dia pernah menonton sekali video porno lalu setelah itu ia hapus dan tidak pernah menontonnya lagi.

Apa mereka terus membicarakan hal itu seperti halnya dalam pikiran para gadis? Tidak. Laki-laki lebih senang membicarakan hal-hal yang menurut mereka “cowok banget”. Tidak jarang pula ada yang curhat urusan asmara layaknya seorang gadis.

Memang ada laki-laki yang kecanduan pornografi. Tapi apa mereka berpikir setiap saat soal itu? Jawabannya tidak. Kesibukan mereka justru mencegah pikiran tersebut muncul. Laki-laki memang lebih aktif secara fisik dibandingkan dengan perempuan. Itu sebabnya banyak topik pembicaraan berkaitan dengan olahraga, karir, otomotif, hobi, musik, hingga perjalanan. Kadang di mata lelaki pun nama bintang porno menjadi bahan lelucon.

Hal itu berbanding terbalik dengan perempuan. Masalah mereka jauh lebih kompleks daripada laki-laki. Lelucon terkenal di kalangan laki-laki mengatakan perlu satu buku penuh untuk memahami seorang perempuan. Itu pun hanya jilid pertama dan belum mencakup masalah mereka secara keseluruhan.

Kenapa para lelaki sekalipun mengatakan hal itu? Perempuan lebih menyimpan banyak tekanan dibandingkan dengan laki-laki. Faktor keluarga, cara pandang laki-laki memperlakukan mereka, norma yang berlaku di masyarakat, stereotipe seorang perempuan ideal, hingga konflik internal dengan sesama perempuan pun mempengaruhi kondisi mereka. Mereka tidak bisa sebebas laki-laki untuk menjadi dirinya. Mereka kadang harus memasang topeng demi menjaga nama baik keluarga dan menjadi perempuan ideal di mata masyarakat. Bahkan untuk sekedar meluapkan masalah di dada mereka, sesama perempuan pun bisa menjadi masalah. Tidak seperti laki-laki yang menganggap pertemanan di antara mereka seperti ikatan darah persaudaraan, pertemanan di antara perempuan memiliki ikatan kompleks dan kadang berlandaskan muslihat. Karena itu tadi, perempuan itu lebih sering memakai “topeng” di hadapan banyak orang.

******

Buset buat jelasin hal ini aja bisa sampe ngelag gini. Kalo aja Gutenberg di WP bisa kayak editor dulu yang dikit-dikit gak harus pake koneksi internet. Soalnya internet lagi naik turun.

Okelah cukup segini pembahasan ane. Buat teman-teman yang masih penasaran, bagian keduanya sudah siap. Sampai jumpa di bagian berikutnya.

Pelajaran dari Perempuan Arab

Ini tulisan pertama ane pake mode beta dari fitur Gutenberg di WP. Biasanya fitur ini ada di berbayar sekarang gretongan pun ditawarin buat upgrade juga. Mumpung masih beta ya ane coba dulu buat nulis. Apa ngetiknya lebih lancar dibandingin dengan laman landing page pas login WP? Ulasan lebih lanjutnya ane bahas di tulisan lain.
Nah apa kabar si TinyMCE ya? Apa Gutenberg itu versi upgrade permanen ala WordPress?
Tadi ane liat berita di internet. Beritanya masih baru soal … mobil, motor, dan perempuan Arab. Kenapa ini hal yang menarik? Dibandingkan dengan negara-negara muslim lainnya, hanya di Arab perempuan tidak boleh mengemudikan kendaraan. Pengecualian untuk perempuan yang tinggal di pedesaan atau Arab Badui untuk kebutuhan transportasi. Kabar baiknya, mulai September ini pemerintah Arab Saudi resmi mencabut larangan mengemudi bagi perempuan. Alasannya untuk mendukung kebijakan Vision 2030 yakni kebijakan yang dicetuskan oleh Raja Salman untuk meningkatkan pertumbuhan berbagai sektor di Arab Saudi agar tidak ketergantungan terus sama sektor migas. Makanya tahun kemaren sempet rame Raja Salman keliling dunia buat nawarin investasi juga.
Ada alasan yang kuat dalam mencabut larangan itu. Sebenarnya untuk pemerataan lapangan pekerjaan bagi perempuan. Ane pernah nulis di artikel sebelumnya. Berdasarkan penelitian tentang pendidikan di Arab Saudi, rata-rata tingkat pendidikan keseluruhan perempuan di Arab Saudi itu jauh lebih tinggi daripada laki-lakinya. Jadi jangan kaget kalo ente cowok beruntung dapet bini orang Arab tahunya tamatan S2. Itu mah rezeki dunia akhirat cuy! Nah, modal perempuan Arab udah mantep tuh. Soalnya sekarang susah dapet kerja gara-gara masalah gelar dan tingkat pendidikan.
Kenapa hal ini bisa jadi sebuah topik yang menarik? Sebenarnya kita salah paham tentang pemikiran orang Arab terlebih mengenai cara mereka memperlakukan perempuan.
Nah, bagaimana orang luar Arab khususnya sesama memandang perempuan di Arab itu sendiri? Kaku, kolot, konservatif, gak modis, “diperbudak laki-laki”, “beda sama tipis teroris”, dan tentunya bikin sirik gara-gara fisiknya lebih cantik daripada pemenang Miss Universe/Miss World/apalah. Ane juga awalnya mikir begitu. Apalagi semenjak rame berita soal banyak perempuan pake niqab dengan konotasi negatif. Banyak temen ane yang pake niqab salah satunya Teh Sri dan biasa aja keles. Gak sampe bikin parno masyarakat kek sekarang.
Semua pandangan berubah semenjak ane waktu itu gak sengaja nonton channel Saudi TV. Emang secara kosa kata sama pelafalan bahasa Arab pun ane masih pas-pasan.
Pertama, ane syok pas lihat ada perempuan Arab pakai niqab pakaiannya haute couture aka buatan desainer (dan tentunya tidak bertentangan dengan syariat) lagi rekam acara festival yang tayang langsung di Saudi TV. Padahal bajunya standar item-item. Setahu ane masih lebih modis muslimah Eropa. Soalnya itu sebagai bentuk perlawanan mereka gara-gara banyak kebijakan negara Eropa menyulitkan mereka menggunakan hijab syar’i dan ingin meluruskan salah paham itu di kalangan masyarakat Eropa.
Kedua, berita Saudi TV yang mewawancarai para perempuan. Ane inget waktu itu beritanya tentang wirausaha perempuan yang lagi pameran. Ane kira semua perempuan di Arab pake niqab, ternyata gak semua. Sama halnya kayak di Indonesia, Malaysia, India, Iran, Pakistan, negara-negara pecahan Uni Soviet, atau negara dengan banyak populasi muslim lainnya. Mereka ada kok yang pake khimar biasa. Ada juga yang hijab gaul kayak anak muda. Tetep pakaiannya masih item-item.
Ketiga, kata siapa pake niqab itu identiknya dengan super religius? Ane syok pas lihat ada perempuan pake niqab ternyata seorang seniman. *woot?* Ia memperlihatkan bakatnya di hadapan pemirsa Saudi TV dalam sebuah acara talk show. Jangan salah, lukisannya kece badai!
Keempat, film Wadjda (2012). Film ini disutradarai oleh Haifaa al-Mansour, seorang sutradara perempuan. Film tersebut berlatar belakang kehidupan masyarakat urban di Riyadh dan pada masa itu perempuan tidak boleh mengemudi. Konflik film ini sederhana: Wadjda kesel diledekin Abdullah pake sepeda terus pengen belajar sepeda. Sejak saat itu ia berusaha cari uang demi beli sepeda. Tapi keadaan lingkungan sekitar khususnya ibu Wadjda menentang ide tersebut.
Ada yang pertanyaan menarik dari film ini berdasarkan komentar penonton di forum IDWS.
Gagal paham pas liat adegan ibunya Wadjda coba beli gaun di mal. Gimana makenya? Mereka ‘kan pake niqab tiap hari. – salah seorang penonton Wadjda
Justru yang menarik di sini adalah penggunaan hijab di Arab. Ternyata baju item-item itu semacam jaket. Saat itu ane langsung inget infografis tentang penggunaan hijab dari akun medsos ustadz Felix sama salah satu artikel di Bright Side.
Singkatnya pakai hijab berdasarkan penafsiran dari Al Qur’an dan hadits itu maksudnya pakaian luar. Jadi ada dua pakaian yang mereka gunakan. Pakaian luar item-item (jilbab di sini itu mirip jubah/jaket, kerudung panjang aka khimar, niqab, dll) dan pakaian dalam (baju biasa aja kayak kita di rumah, pake kaos plus celana/hot pants juga gak apa-apa).
Nah, berhubung di Arab itu banyak banget ladies room, mereka justru lepas hijab di sana. Contohnya di film Wadjda. Murid, guru, staf, bahkan kepala sekolah di Arab memang lepas hijab. Pakaiannya pun sopan dan tetap elegan. Pas ada cowok yang gak sengaja liat mereka pas di sekitar halaman/lapangan sekolah, mereka ngumpet sampe cowoknya pergi. Unik memang. Padahal kalo ke luar mah lebih baik pake daripada berabe.
Sebenarnya soal masalah hak perempuan di Arab itu memang agak bingung. Mereka mikir “perempuan di Arab itu enak, semua serba dilayani bak ratu!” tapi di belahan bumi lain sana menilai perempuan di Arab kehilangan sebagian hak dasarnya. Contohnya hak untuk memilih pemimpin dan hak untuk mengemudi yang baru saja diperbolehkan. Selain itu, soal niqab pun sebagian orang menentang karena seakan-akan membatasi hak perempuan.
Bagaimana pendapat ane mengenai masalah niqab?
Pendapat ane sih mau pake silakan, gak juga gak apa-apa. Terus ngapain recokin hal sepele kek gitu? Ane setuju sama perkataan seorang ulama salaf di Cina yang kasusnya hampir serupa kayak di Indonesia. Ada salah satu artikel dari majalah Historia yang ditulis sama seorang mahasiswa di Cina sekaligus kontributor tetapnya. Justru di Cina daratan sana, etnis Hui (salah satu etnis Tionghoa yang mayoritas muslim seperti Uyghur) bisa sampe gontok-gontokan gara-gara masalah baju, gaul sama pribumi, sampe bahasa Mandarin.
Woot? Bahasa Mandarin aja sampe direcokin? Mereka hidup di Cina men! Gimana mereka bisa komunikasi, berdagang, ato belajar kalo bahasa Mandarin aja mereka gak mau belajar? #gagalpaham
Justru banyak hal yang lebih besar buat kita urusin. Misalnya tentang pendidikan yang lebih layak, kerusakan lingkungan, masalah kemanusiaan seperti di Palestina, racun dalam tumbuh kembang anak, dll. Harusnya ustadz yang doyan ceramah kayak gitu di masjid lebih ajak umat biar peduli banjir di sekitar rumahnya daripada ikut-ikutan recokin Pandji gara-gara stand up soal Toa masjid. Itu ‘kan lebih bermanfaat bagi masyarakat banyak sekaligus jadi ladang dakwah plus amal ibadah mereka.
Nah, apa yang bisa kita pelajari dari mempelajari kehidupan perempuan Arab?
Pertama, pahami lebih dahulu soal ajaran Islam mengenai perempuan sebelum recokin di media massa/internet. Jadi biar gak asal ceplos apalagi memicu demo berseri 212 lagi. Jujur kami sudah lelah melihat kondisi masyarakat Indonesia yang makin ke sini makin terbelakang dan kalah maju dengan bangsa lain. Tolong jangan atas namakan agama demi membenarkan hal-hal bodoh yang justru lebih banyak bertentangan dengan ajaran agama.
Kedua, jangan memandang sesuatu dengan kacamata kuda. Coba pelajari sudut pandang perempuan Arab sendiri mengenai diri mereka. Dengan melihat suatu hal dari beragam perspektif, insya Allah kita bisa lebih mengenal orang lain dan menghindari munculnya konflik akibat gagal paham.
Ketiga, hidup dengan budaya seperti itu bukan berarti kolot dan tidak mau belajar untuk perubahan yang lebih baik. Di luar sana gak cuman perempuan Arab yang orang sering salah paham soal mereka. Indonesia punya orang Baduy sama penduduk Kampung Naga. Amerika punya orang Amish. Eropa punya orang Romani aka gypsy. Jamaika punya orang Rasta. Kata siapa mereka terbelakang? Mereka gak nerima apalagi nolak mentah-mentah semua hal yang berasal dari kehidupan modern. Mereka bisa memilah semua yang baik dan buruk dengan panduan jelas seperti ajaran agama dan budaya setempat. Ambil yang baik, buang yang buruk. Jarang ada orang yang seperti itu di tengah-tengah masyarakat modern seperti sekarang.
Terakhir, jadilah perempuan yang kuat. Kita punya hak yang sama di mata hukum dan agama. Jangan cuma sekedar demo gitu aja terus berakhir anarkis hanya karena hak kita gak didengar. Lebih baik kita lakukan aksi nyata. Biar kecil tapi berkelanjutan lebih baik daripada sekedar demo tapi menguap gitu aja.
Akhir kata, tulisan ane kepanjangan ya? Jadiin sampul buku juga bisa. Soalnya di Bandung udah banyak yang jual bungkus gorengan unyu-unyu T.T

Anime Underrated, Boleh Juga Buat Isi Waktu Senggang

Sebelumnya ane pernah bahas soal OST anime yang underrated, kali ini ane bahas anime-nya. Singkatnya anime underrated itu anime yang punya kualitas tapi kalah saing dengan anime lain. Entah itu rating sewaktu masih tayang di Jepang, penilaian para fans, atau tema yang kurang menarik perhatian penonton khususnya penonton asing.

Ane kumpulkan daftar dari beragam sumber di internet. Ane sengaja gak pake urutan. Hal yang ane temui bisa saja berbeda dengan persepsi teman-teman. Lantas … cekidot.

Claymore

Kenapa orang banyak yang luput dengan anime ini? Ane emang ngikutin komiknya dari zaman SMP tapi seumur-umur belum pernah liat anime-nya. Ane justru baru tahu anime-nya belakangan ini.

claymore-clare-anime
sumber: Madhouse

Singkatnya, Claymore bercerita tentang pasukan cewek yang separuh manusia-separuh Youma yang bekerja untuk membasmi Youma. Mereka terkenal sebagai “penyihir mata perak” karena ciri fisiknya. Setiap pasukan memiliki peringkat tersendiri berdasarkan  tingkat kekuatan, skill, gaya bertarung, dll. Komiknya emang udah tamat dari tahun 2014 tapi … anime-nya masih setengah jalan.

Claymore itu komik bulanan dan baru diadaptasi jadi anime pas tahun 2007. Sayangnya ending-nya gantung soalnya ceritanya berakhir di bagian pertama cerita sebelum time leap. Belum sampe sesudah time leap 7 tahun apalagi sampe *uhuk* reuni dengan Priscilla *uhuk*. Padahal secara cerita pun udah punya modal cukup untuk adaptasi. Bedanya anime sama manga-nya itu cuman adegan “sabet-sabetan pedang”. Di anime-nya itu emang agak gore tapi di manga-nya berasa liat badan Buggy di One Piece lagi kepotong.

buggy-the-clown-one-piece
sumber: Fanpop

tenang, tidak berdarah

Padahal bisa dibikin remake kayak FMA Brotherhood ato lanjut langsung dari time leap 7 tahun. Sayangnya underrated. Bahkan ane nemu banyak komentar di YouTube soal anime underrated yang sebut Claymore.

Zetsuen no Tempest

Ane jadi inget betapa sulitnya nerjemahin anime yang satu ini. Otak lieur sepadan lah sama ceritanya.

Anime yang satu ini memang secara rating kalah dengan anime lain di musimnya. Ane inget soalnya waktu itu ngikutin karena tuntutan fansub. Di samping itu, Zetsuen no Tempest punya cerita yang … bikin bingung juga sih. Soalnya genrenya misteri dan banyak motif yang berlatar belakang karya Shakespeare.

cover-zerochan
sumber: Zerochan

Cerita bermula ketika Fuwa Mahiro mengetahui adiknya, Aika, meninggal secara misterius di rumahnya. Setelah itu ia dan sahabat-juga-pacar-adiknya, Yoshino, menyelidiki penyebab kematian Aika. Mereka mulai mendapat bantuan dari Hakaze, seorang penyihir yang terdampar jauh di pulau terpencil, lewat bantuan alat komunikasi mirip boneka.

Sama seperti Claymore, anime ini diadaptasi dari komik juga. Komiknya ada kok di Gramedia ato taman bacaan terdekat. Ini salah satu anime yang sering ane rekomendasiin ke temen. Gak cuman karena ceritanya, ending-nya cocok buat bahan koleksi. Sayangnya underrated di masa tayangnya.

Zankyou no Terror

Salah satu anime bertema berat yang kudu ditonton penyuka genre psychological. Ane belum pernah nonton jadi bakal ulas dari pembahasan di internet.

poster-zankyou-no-terror
sumber: Wikipedia, fair use

Anime ini bermula sebuah serangan teroris yang melumpuhkan kota Tokyo. Salah satu barang bukti yang mengarah pada teroris itu hanyalah sebuah video di internet yang mengundang kepanikan warga. Belakangan diketahui kelompok teroris itu bernama Sphinx dan digawangi dua orang, Nine dan Twelve.

Ane baru tahu soal anime ini tadi pas habis liat review di YouTube.

Mushishi

Anime kedua yang ane tahu dari YouTube. Ironisnya, di Jepang sendiri meraih penghargaan Kodansha Manga Awards untuk kategori Fiksi Umum.

Mushishi berlatar belakang antara zaman Edo dan Meiji tapi dalam kondisi Jepang masih sebagai negara tertutup. Sebenarnya cerita dari manga berjudul sama ini mirip seperti antologi. Kesamaan dari setiap episodenya adanya keberadaan Mushi, semacam penampakan gitu, dan seorang pria bernama Ginko.

mushi-shi-promo
sumber: Kodansha

Tidak hanya diadaptasi menjadi anime, manga-nya pun diadaptasi menjadi film berjudul serupa di tahun 2007. Adaptasi filmnya pun diputar di festival film Venice, Toronto, Sundance, dan Sitges. Bisa masuk daftar tayang beberapa festival film menandakan sumber asalnya pun bukan sembarangan. Jadi, tertarik untuk menontonnya juga?

Princess Tutu

Kali ini ane bakal bahas genre shoujo. Biasanya shoujo identik dengan kisah romantis nan manis tapi ini berbeda.

Cerita bermula dari Drosselmeyer, seorang penulis cerita dongeng, yang meninggal sebelum sempat menyelesaikan karyanya. Berharap ia ingin ceritanya selesai, ia menemukan seekor bebek yang jatuh hati dengan seorang pangeran. Hantu Drosselmeyer memberikan sebuah liontin pada bebek itu agar bisa menjadi manusia. Bebek itu bisa berubah menjadi Princess Tutu, seorang balerina yang bisa mengembalikan pecahan hati si pangeran.

princess-tutu-ahiru-fakir
sumber: Fanpop

tidak selamanya yang imut berakhir manis

Ane inget dulu ini pernah tayang di Spacetoon. Kalo gak ada yang ngomongin anime ini di komentar YouTube, ane gak kepikiran soal ini. Ceritanya tergolong gelap terlebih di paruh kedua ceritanya. Gak selamanya cerita berlatar belakang negeri dongeng semanis hidup jadi putri raja ala Disney. Jadi ini bisa jadi bahan pertimbangan buat ditonton. Tenang, aman juga kok buat nonton bareng sama keponakan ato adik yang masih kecil.

The Law of Ueki

Hah? Seriusan? Underrated?

ueki-flat-face
sumber: Fanpop

ojo baper yo mas

Bisa dibilang anime yang pernah tayang di Global TV (sekarang GTV, perasaan logonya balik ke awal muncul deh ._.) ini idenya gokil. Tokoh utamanya aja bisa mengubah sampah jadi pohon. Bahkan bisa bikin ane yang masih bocah chuunibyou ngayal ubah sampah jadi pohon biar mengurangi kerusakan Kawasan Bandung Utara. (soalnya pas Ueki tayang, sekitar 2008, lagi rame-ramenya berita alihfungsi KBU) Bakat yang peserta turnamennya pun gak kalah aneh. Ane inget yang paling kocak itu “bakat bisa bikin orang jadi maniak kacamata”.

Siapa sangka salah satu anime populer yang menemani masa kecil kita di televisi ternyata underrated di luar negeri sana.

Darker than Black

Lah? Ini juga? *garuk kepala*

Anime ini bercerita tentang sekelompok orang berkemampuan khusus yang dikenal sebagai kontraktor. Hal itu muncul akibat fenomena aneh “Hell’s Gate” di Tokyo dan “Heaven’s Gate” di Amerika Selatan. Cerita ini berpusat pada anggota Syndicate: Hei, Yin, si-kucing-lupa-namanya, sama Huang.

sumber: Bones

senyum dikit aja, melting hati adek

Sebenarnya ane nontonnya malah dari tengah. Salah satu anime yang agak pusing soalnya mikir juga pas nonton ditambah nonton dari tengah. Tapi ya lumayan ada hiburan pas lihat Hei lagi senyum. *gubrak* Hal yang paling berkesan dari anime ini gak cuman pas Hei lagi senyum, tapi juga si nenek peramal yang sering-ngomong-seakan-ngelantur di akhir cerita.

Sebenarnya anime ini ada dua season. Ane cuman nonton season 1 di TV kabel. Buat yang seneng action, sci-fi, dan agak mikir, ini bisa jadi rekomendasi untuk ditonton.

Toward The Terra

Anime ini sebenarnya adaptasi dari komik lawas era 70-an. Sebelumnya sempat diadaptasi lebih dahulu jadi sandiwara radio di era 70-an dan film anime di tahun 1980. Seumur-umur ane belum pernah denger apalagi nonton anime ini.

toward-the-terra
sumber: Minitokyo

Ane kutip dari Wikipedia, anime ini bercerita tentang kehidupan manusia di abad ke-31. Di masa itu bumi sudah tidak layak huni akibat perang dan polusi. Mereka pindah lalu membuat koloni di luar angkasa. Kehidupan mereka diatur oleh superkomputer bernama Super Dominance dan manusia pilihan yang dikenal sebagai Members Elite. Manusia dikembangbiakkan dengan metode semacam bayi tabung lalu dipilihkan orang tua oleh mereka. Sebuah ras manusia baru dengan kemampuan psionik muncul dengan sebutan Mu dan menjadi masalah bagi Super Dominance sehingga harus dimusnahkan. Cerita ini berkisah tentang Mu yang ingin kembali melihat keadaan bumi.

Ane baca ulasannya di internet banyak yang bagus tapi sayang kurang dilirik. Ada yang pernah nonton ini? Bagikan di komentar ya.

Rainbow: Nisha Rokubō no Shichinin

Kasusnya sama kayak Claymore. Ane cuman ngikutin komiknya tapi gak tahu soal anime-nya. Jujur komiknya aja bisa bikin hidung ane mampet saking gak kuat nahan nangis.

Ceritanya lebih ke persaudaraan tujuh laki-laki yang muncul setelah masuk semacam penjara khusus remaja. Mereka yang dibimbing satu tokoh bernama “si Abang” (ane ngikutin terjemahan di Level), seorang tahanan senior. Ketika masa tahanan mereka habis, si Abang tewas dibunuh. Kehidupan para lelaki mantan tahanan itu berubah setelah hukuman berakhir. Masing-masing di antara mereka memiliki kepentingan sendiri di luar tahanan. Ada yang ingin jadi petinju, ada yang ingin jadi pengusaha, ada yang ingin mencari adiknya, dll.

sumber: Narvii

justru yang bikin ane nangis itu lihat persaudaraan di antara mereka

Komiknya memang mendapat penghargaan dari Shogakukan Manga Awards untuk kategori Fiksi Umum. Jujur aja temanya emang berat mulai dari ketidakstabilan kondisi Jepang setelah perang hingga pelecehan seksual terhadap tahanan (ane paling jijik liat bagian ini). Ane gak tahu kalo adaptasi anime-nya bakal gak beda jauh dari komiknya ato gak. Jadi, ini bisa jadi bahan pertimbangan untuk tontonan.

Saiunkoku Monogatari

Ada yang tahu ini anime apa? Ane nemu namanya di daftar anime underrated versi komentar YouTube. Okelah ane cari informasinya lagi.

Kalo ada yang rekomendasi anime, berarti dia gak sembarangan. Saiunkoku Monogatari singkatnya anime bergenre romance dengan latar belakang mitologi China. Anime ini diadaptasi dari light novel berjudul serupa karya Sai Yukino. Bersiaplah wahai para gadis, cogan bertebaran di mana-mana!

saiunkoku-monogatari
sumber: Fanpop

cogan mana cogan?

Saiunkoku Monogatari bercerita tentang Hong Shurei, seorang keturunan bangsawan yang miskin. Bapaknya bekerja sebagai pustakawan di istana dengan gaji sedikit. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia mengajar di kuil juga mengambil banyak pekerjaan. Namun ia bercita-cita untuk ikut serta ujian masuk kenegaraan, hal yang masih tabu bagi seorang wanita. Nasibnya berubah ketika seorang penasehat kerajaan memintanya menjadi selir untuk mendidik raja yang baru selama enam bulan.

Ane belum pernah nonton ini apalagi baca LN-nya. Katanya sih rame jadi boleh icip juga.

Outlaw Star

Ane baca ulasannya tema ceritanya gak beda jauh dari Star Wars. Apa ceritanya bakal lebih seru?

Outlaw Star adalah sebuah anime bertema space opera yang diadaptasi dari komik berjudul sama. Cerita bermula ketika sebuah asteroid jatuh di sekitar kawasan Cina. Asteroid tersebut mengandung unsur bernama “dragonite” yang memungkinkan pesawat luar angkasa bergerak lebih cepat daripada cahaya dan bepergian jarak jauh dalam galaksi lebih cepat. Koloni manusia terbentuk di galaksi namun ancaman dari pembajak, pembunuh bayaran, dan pelanggar hukum mengganggu kehidupan manusia di luar angkasa.

outlaw-star-meme
sumber: Pinterest

Banyak komentar positif yang didapat oleh anime ini. Bahkan mendapat peringkat ke-20 dalam Anime Grand Prix di tahun 1999. Sayangnya popularitas dari anime ini kalah bersaing dengan Cowboy Bebop yang rilis berdekatan dan dirilis oleh studio yang sama.

Suisei no Gargantia

Sekilas lihat dari posternya sih berbau mecha gitu.

sumber: Zerochan

Ini memang anime bertema mecha. Tebakannya gak salah.

Anime ini bercerita tentang Ensign Ledo, pemuda berusia 16 tahun, seorang pejuang dari Aliansi Manusia Galaksi. Aliansi tersebut terlibat perang dengan Hideauze, spesies alien bertentakel. Ia seorang pilot dari Machine Caliber, sebuah battle suit humanoid otomatis yang ia panggil dengan “Bilik”. Setelah gagal menghancurkan senjata lawan, Ledo tersedot ke lubang hitam dan pingsan. Ia baru menyadari dari Bilik bahwa ia mengalami sirostatis selama 6 bulan. Mereka diselamatkan sekelompok orang yang tinggal di atas kapal Gargantia. Bumi yang selama ini menjadi mitos awal kelahiran umat manusia kini berselimut samudera.

Ane belum pernah nonton apalagi ulas anime ini sebelumnya. Tapi ane baca ulasan dari pengguna lain di internet, itu salah satu anime underrated yang pernah tayang.

Mungkin cuman segini daftar yang bisa ane tulis. Hasil penjelajahan ane kurang begitu akurat berhubung nulis sambil ngantuk. Nonton ato tidak, semua tergantung dari temen-temen. Pastikan tayangan yang kita tonton itu baik dan sesuai dengan selera kita. Sampai jumpa lagi di ulasan berikutnya!

Tambahan

Ada satu lagi anime dari masa kecil ane yang kudu banget buat ditonton. Jika pernah nonton ini, teman-teman berarti beruntung banget.

World Masterpiece Theater

Anime apa ini? Singkatnya ini adalah nama dari sekumpulan tayangan anime yang tayang dibuat oleh Nippon Animation. Serial ini tayang dari tahun 1969 sampai 1997 lalu muncul kembali di tahun 2007 – 2009. Seri awalnya dibuat oleh Mushi Production lalu dilanjutkan oleh Zuiyo Eizo yang kini menjadi cikal bakal Nippon Animation. Semua anime yang ada dalam seri ini adalah adaptasi dari cerita dan novel klasik.

Apa seri ini pernah tayang di TV Indonesia? Pernah dua kali: TV7 (sekarang Trans7) dan Spacetoon. Seingat ane itu Little Women II: Jo’s Boys sama The Adventures of Tom Sawyer.

sumber: Crunchyroll

Tapi rasanya kayak kenal dengan style ini. Pernah liat di mana ya? Buat temen-temen yang mikir kayak gitu juga, itu reaksi wajar pas pertama kali liat anime-nya Ghibli. Faktanya Hayao Miyazaki dan Isao Takahata itu memang pernah menangani seri ini hingga tahun 1975. Jadi wajar pengaruh mereka keliatan jelas dari desain karakternya. Ada yang bisa nemu karakter mirip sama Kiki di Kiki’s Delivery Service gak?

Pas ane cek di forum anime, banyak yang sepakat seri ini jadi salah satu harta karun dalam jagad per-anime-an. Jangankan anime-nya, literatur klasik yang jadi referensinya pun memang punya kualitas di masanya.

Ada yang juga baca novel ato buku cerita dari salah satu serinya? Kalo ane sih cuman baca seri Anne soalnya ada di rumah.

Seperti judulnya, anime ini memang underrated khususnya untuk generasi sekarang. Itu sebabnya seri ini berakhir di tahun 2009 karena minimnya peminat dan penonton. Mungkin penonton di sana lebih doyan nonton ecchi sama fanservice daripada nonton cerita bagus kayak gini. Kadang Jepang itu aneh. Biar kata satu seri anime populer di luar negeri tapi penonton lokalnya jarang yang lirik eh malah “bungkus”. *tepok jidat* Macam sinetron Indonesia aja.

Penasaran dengan seri anime ini? Masih tayang kok di Spacetoon. Cek aja jadwal tayangnya di situs streaming lokal kesayangan teman-teman.

Tips Belajar Adaptasi Perangkat Lunak Grafis

Sebenarnya sih ini pengalaman pribadi. Tapi ane bakal persempit cakupan dari pembahasan tips ini.

Pertama. Ane cuman bahas soal perangkat lunak berbasis bitmap. Maksudnya apa sih?

Perangkat lunak untuk grafis itu ada dua jenis: bitmap sama vector. Bedanya apa? Cara paling gampangnya gini. Coba deh buka aplikasi pembuka gambar kesayangan kita lalu perbesar gambarnya hingga tampilan maksimum.

Bitmap itu kalo diperbesar gambarnya bakal bentuknya kotak-kotak macam sulam kruistik ato pixel art. Beda dengan vector yang hasilnya mulus mirip gambaran tangan. Itu sebabnya percetakan lebih senang pakai aplikasi pengolah grafis berbasis vector. Soalnya kalo bikin spanduk pake foto yang diperbesar macam spanduk caleg itu hasilnya gak pecah pas dicetak. Gambar pecah bisa berabe tuh. Calegnya gak kepilih, jadi bahan meme iya.

Kedua. Ane emang gak jago pake aplikasi berbasis vector. Jadi ya tulisan ini bakal ngawur ngaler ngidul kalo ane maksa nulis tentang itu. Tapi tenang kok, ada tips umum yang bisa kepake juga buat belajar aplikasi grafis berbasis vector.

Awal Mula Kenalan dengan Aplikasi Grafis

Ane belajar pertama kali pake aplikasi semacam itu gara-gara temen SMP ane. Hampir tiap hari topik pembicaraannya ngomongin soal sotosop eh Photoshop mulu di samping ngomongin soal Naruto sama tugas. Tujuan ane belajar sotosop itu pertamanya biar nyambung sama pembicaraan mereka. Untungnya waktu itu PC di rumah udah keinstal sotosop jadi tinggal pake sama belajar. Ane inget sodara ane instal sotosop di rumah tapi gak tahu cara makenya.

Awal mula dari tulisan ini gara-gara waktu SMK dulu. Ane inget dulu sering banget instal ulang saking seringnya virusan. Dulu ane masih rada oon soal komputer. Bahkan banyak proyek sotosop ane ngilang saking seringnya simpen di drive instalan Windows. Hingga suatu hari di kelas XI. Ane inget ada pelajaran produktif Multi Media di sekolah. Minggu pertama pelajaran nonton 5 Centimeters per Second sama Big Buck Bunny buat analisis animasi. Minggu kedua disuruh bikin proyek animasi. Mampus! Udah laptop habis instal ulang, disuruh bikin animasi, eh aplikasi buat gambarnya kagak ada.

Biasanya ane bikin sprite di sotosop terus simpen ke format PNG abis gitu gerakin buat animasi. Ane tau teknik itu gara-gara sempat belajar pake RPG Maker. Masalahnya laptop ane itu bermasalah pas instal sotosop. Ane inget obrolan waktu SMP dulu. Temen ane pernah bilang soal GIMP. Okelah ane instal GIMP dan tugas kelar. Tugas animasinya semprul lagi: proses menetasnya anak ayam. Gurunya senyum liat tugas animasi ane yang menurut ane sih kelewat ngaco. Ane inget buat bikin animasi telur ayam itu sampe lebih dari 30 frame buat gambarin proses menetasnya anak ayam yang hasilnya gak nyampe 10 detik.

Gara-gara kepaksa buat tugas Multi Media, ane jadi bisa sotosop sama gim sekaligus. Kok bisa? Gini triknya.

Hal Paling Dasar

Kalo kita udah kuasai betul aplikasi Paint, loncat ke sotosop/gim/apapun itu bisa lebih cepet. Apa hubungannya sama Paint? Justru ane lebih mahir pake itu pas masih SMP dulu.

Paint itu aplikasi grafis paling sederhana. Fiturnya memang apa adanya. Malah jadi bahan tugas buat mata kuliah Pengolahan Citra Digital pula. Di balik kesederhanaan Paint, kita bisa pelajari fitur paling dasar dari setiap aplikasi pengolah grafis seperti brush, penghapus, garis, teks, guyur-pake-kaleng-cat aka paint bucket, sampai seleksi. Kalo kita udah bisa pake itu bener, main sotosop/gim/apapun gak masalah.

Jangan Terlalu Bergantung Pada Shortcut

Soalnya setiap aplikasi punya aturannya sendiri. Misalnya “b” buat kuas di sotosop eh malah jadi bikin path di gim. Selain itu masalah shortcut itu bisa kita pelajari sambil praktek. Soalnya kalo hafalin sekaligus bisa bingung.

Paham Cara Kerja Layer

Layer itu anggap saja kayak kertas mika bening yang biasa dipake buat jilid makalah. Bisa ditumpuk jadi lapisan yang saling melengkapi. Kita pahami aja betul semua fungsi layer. Misalnya cara bikin layer baru. Caranya bikin layer khusus buat BG. Jenis-jenis layer. Manipulasi efek layer sama masking. (jujur ane baru tahu belakangan ini) Soalnya bakal berguna banget buat migrasi dari satu aplikasi ke aplikasi lain lebih cepat.

Cari Palette

Hal yang paling susah buat desain itu bukan dari cara menggunakannya, melainkan cari warna yang cocok. Itu sebabnya palette sangat penting di sini. Setiap aplikasi pengolah grafis itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing buat cari warna palette yang biasa kita gunakan. Contohnya sotosop yang punya beragam variasi palette tapi gak semuanya cocok buat tampilan web apalagi buat dicetak. Kita sebaiknya cari tahu dulu teknis mencari warna dari aplikasi yang bakal kita gunakan nanti.

Oh ya, jangan lupa soal warna. Ada kalanya kita bikin desain dengan tujuan spesifik seperti tampilan di web ato khusus untuk dicetak. Kita juga perlu tahu soal profil warna dari aplikasi yang bakal kita gunakan. Soalnya kata sotosop sih “not web safe”. Ada profil warna yang gak cocok dan bisa bikin hasil desain kita kacau balau. Misalnya kita atur desain warnanya hijau telur asin pas dicetak jadi hijau ketupat ‘kan gak lucu.

Fitur Tambahan

Nah, ini dia yang kadang orang biasa lupakan. Fitur sakti mandraguna buat edit gambar. Hohohohoho!

Kita harus tahu fitur tambahan beserta cara menggunakannya. Soalnya ada fitur tambahan yang sering muncul di aplikasi lain. Ada juga fitur tambahan khusus yang ada di aplikasi tertentu. Contohnya edit metadata di sotosop sama Script-Fu di gim.

Bicara soal fitur tambahan kesayangan ane, otak ane gak semabok temen seangkatan ane yang belajar matkul Pengolahan Citra Digital. Soalnya ane ngerti cara kerjanya gara-gara sering oprek sotosop/gim. Ada empat fitur kesayangan ane yang sering muncul di aplikasi manapun: levels, curves, HSL, sama navigator. Keempatnya itu ane sering pake buat bikin desain.

Penasaran dengan cara kerja fitur tambahan? Biasanya ada di menu Filter kok. Lebih bagus lagi kita belajar dikit materi Pengolahan Citra Digital. Di sana ada penjelasannya detil mengenai cara kerja blur, sharpen, burn, gradient, desaturate, levels, curves, HSL, feather, antialiasing, dan banyak fitur tambahan lainnya. Gak usah sampe detil banget, kita cuman butuh informasi singkat mengenai cara kerja biar fitur-fitur itu gak mubazir. Semakin kita kenal sama fitur tambahan, kita lebih jago menggunakan aplikasi grafis apapun jenisnya.

Terakhir: Kreativitas

Tips ini sebenarnya ane ambil dari salah satu buku tutorial sotosop. Ini yang paling penting. Kita jangan mau terpaku sama satu alat. Sotosop/gim/apapun itu hanya alat. Eksekusinya semua berada di tangan kita. Semakin kita tahu karakter alat yang bakal kita gunakan, apapun desainnya gak masalah.

Jujur aja ane malah bisa sotosop CS 6 ke atas gara-gara oprek gim. Soalnya ane tahu cara pake fitur-fitur pentingnya jadi gak perlu waktu lama buat adaptasi.

Cuman segini hal yang bisa ane bagikan buat temen-temen. Ada yang punya kritik, saran, ato pengalaman soal gonta-ganti aplikasi pengolah grafis? Diskusi aja. Daripada sepi kek kuburan. Sampai jumpa di tulisan berikutnya! :3

Cantik Itu Jadi Diri Sendiri

Cantik itu apa sih? Cacar berbintik? Lupakan lelucon lawas yang satu ini.

Cantik itu sifatnya relatif. Soalnya tiap budaya itu beda lagi cara menilai seorang perempuan itu cantik.

Orang Dayak baru cantik kalo kupingnya panjang. Apa berat antingnya saingan sama gelang emak-emak di pelem India ya?

Orang Afrika baru cantik kalo semok dan pantatnya lebar. Alasannya sih makin lebar pantatnya, ceweknya makin subur, dan makin gampang melahirkan anak.

Orang bule anggap cewek cantik itu kulitnya sawo mateng eksotis kinclong bak orang India. Apalagi kalo diguyur pake losion khusus buat lomba binaraga biar badannya kinclong, beuh langsung besoknya dilamar bule!

Salah satu standar kecantikan orang India itu dari perutnya. Pantesan baju di balik sari mereka crop top semua.

Orang Korea … gak usah tanya deh. Hampir satu cetakan semua. Masih lebih mending orang Korea Utara sih kalo masalah cantik alami mah.

Setiap budaya memiliki cerita dan cara pandang mereka mengenai kecantikan seorang perempuan. Begitupun di Indonesia. Ane pernah baca thread di Kaskus yang hampir semua komentatornya cowok. Bukan BB17 kok. Ngomongin soal cewek paling cantik se-Indonesia dilihat dari sudut pandang cowok. Bahkan istilah IGO aka Indonesian Girls Only pun muncul dari bahan obrolan cowok soal kecantikan cewek.

Berdasarkan pengamatan ane dari temen-temen cowok ane, cewek yang mereka anggap “bening” itu secara visual cantik. Mereka gak peduli warna kulitnya seputih bule ato sawo busuk asalkan terawat sama mulus mah. Proporsi badan seimbang. Kurus gak semok gak masalah. Proporsi wajahnya seimbang. Senyumannya bening. Hal yang terpenting bukan cuman fisiknya. Mereka cari cewek yang feminim, apa adanya, dan bisa jadi istri sholehah.

Banyak cewek yang berlomba-lomba pengen jadi cantik. Ada yang maniak mode sampe maniak operasi plastik demi bisa dikatakan cantik. Bahkan bencong pun gak mau kalah sama cewek dalam urusan dandan. Mereka bahkan melakukan hal-hal absurd agar bisa dipandang cantik di mata masyarakat. Mulai dari diet timun ala SNSD, minum obat pelangsing, sedot lemak, sampe paling ekstrim bulimia. Adanya bukan cantik. Itu mah sama aja nyiksa diri. Lebih buruk dari adegan sadis di Game of Thrones pula.

Sebenarnya cantik itu sederhana. Terima diri kita apa adanya dan berusaha jadi lebih baik. Gak masalah kalo kita tomboi terus roman muka maskulin macam si Bu Suk. Setiap orang memiliki pesona kecantikannya tersendiri.

Orang Arab biar pake cadar pun masih keliatan cantiknya. Soalnya mereka memperjelas kecantikan mereka dari akhlak sama pendidikan. Ane baru tahu dari internet, ternyata mereka itu tingkat pendidikannya lebih tinggi daripada laki-laki di Arab.

Cewek terjelek sedunia pun sebenarnya dia cantik kalo dilihat dari sisi lain. Cantiknya itu bermula dari rasa percaya dirinya melawan stigma masyarakat.

America’s Next Top Model terkenal gak cuman karena melahirkan model-model berbakat. Acara itu juga mendobrak stigma masyarakat Amerika terhadap kecantikan perempuan. Ada kok salah satu jebolan acara itu yang warna kulitnya beda tipis sama sapi dari kecil. Justru dia sekarang masuk agensi model terkenal dunia karena bakatnya.

Megan Fox sama Park Shin Hye. Mereka berdua sama-sama punya kekurangan di jari tangan. Mereka malah bisa memancarkan kecantikan mereka dari cara berpakaian, senyuman, dan prestasi di bidang akting juga model.

Meghan Trainor memang sering kena bully gara-gara postur tubuhnya. Dia salah satu artis cuek bebek yang lantang menyuarakan tentang body positivity. Justru dia cantik karena dia bangga dan menerima dirinya apa adanya.

Jadi sebenarnya cantik itu sederhana. Cantik itu gak harus dandan menor dengan baju bling-bling pake bulu mata antibadai ala Syahrini. Cantik itu intinya jadi diri kita sendiri dan mau menerima diri kita apa adanya. Cantik juga bisa terpancar dari tutur kata, perilaku, pendidikan, olahraga, hingga pemilihan busana yang nyaman dengan diri kita. Udah tahu pake high heels itu gak baik bagi kesehatan, ngapain maksain pake high heels segala? Masih banyak kok pilihan sepatu yang lebih nyaman buat kita dan tidak menghambat aktivitas. Kalo mengutip bahasa cowok sih,

Cantik fisik itu bisa pudar seiring berjalannya waktu. Cantik dari dalam akan bertahan lama meskipun fisiknya sudah tua.

Jadi, siapkah kita untuk menjadi cantik dengan definisi kita sendiri? Selamat mencoba.

NB:

Bicara soal operasi plastik, ane pernah operasi plastik. Serius. Itu pun karena alasan medis pas waktu kelas 6 SD. Dulu ane ceroboh pas berenang di water boom. Ane gak tahu ada orang yang lagi seluncuran di water boom terus matanya ketendang. Ane inget pendarahannya banyak banget sampe nangis pun sakit. Akhirnya ada gumpalan darah gede di mata. Kata dokter kalo gak dikeluarin bisa bahaya. Pas ane liat artikel tentang operasi plastik, ane baru nyadar itu bagian dari prosedur double eyelid surgery. Kapok dah masuk ruang operasi lagi!

Tips Belajar Menulis ala Ane

Ane inget waktu masih SD dulu. Kakak ane sering ditugasin sama gurunya buat bikin rangkuman dari buku di perpustakaan sekolah. Ane pernah nemu salah satu buku lawas, kalo gak salah buku Bahasa Indonesia untuk SMA, di atas meja belajar kakak ane. Berhubung orangnya kagak ada, ane pinjem diem-diem dari kamar. Pas ane baca. Wih nih buku komplit bener! Udah bahasanya enak buat dibaca, penjelasannya rinci, dan banyak latihannya. Salut dah sama pengarang buku itu.

Sayangnya pas ane SMK, kagak ada buku kayak zaman kakak ane SMA dulu. Materi Bahasa Indonesia terlalu banyak teori tapi minim praktik. Mana otak anak SMK kudu kepecah sama ngoding pula. Lebih hafal kamus Java daripada kamus bahasa Indonesia! (maksudnya sih pun)

Hal itu kerasa banget kalo kita menekuni dunia menulis. Sebenarnya materi yang paling merangsang kita untuk menulis ya materi SD. Soalnya banyak tugas mengarang *gubrak*. Nah, kalo sekarang sih boro-boro. Si Rifnun dikasih tugas mengarang sama gurunya. Ane yang jadi ghostwriter-nya. Lumayan ada pemasukan fulus! *dengan tawa jahat ala penjahat di film*

Berhubung rada susah cari modul bahasa Indonesia, ane mo berbagi tips menulis versi amatiran. Ane bukan profesional tapi pengen ilmu ane yang sedikit setidaknya bermanfaat daripada ntar bulukan.

Kembali ke Materi SD: Cara Menyusun Kalimat Sederhana

Inget, duit satu jeti kagak bakal jadi satu jeti kalo kurang cepek. Apalagi tulisan. Tulisan kagak bakal jadi tulisan kalo kurang satu kata. Belajarlah menulis seperti anak SD. Mulai dari kalimat sederhana dulu benerin. Kagak usah pake kalimat majemuk, ambigu, apalagi main pun macem ane.

Ada apa dengan kalimat sederhana? Soalnya banyak anak muda zaman sekarang yang bahkan gak tahu cara nulis kalimat yang bener. Ane pernah liat file ketikan si Rifnun di laptop, anak SMA tapi masih salah nulis huruf kapital *gubrak*. Itu masih tugas buat guru lho. Gimana kalo ntar disuruh bikin makalah, paper, TA, skripsi, dkk? Disobek sama dosen mau?

Hal yang perlu kita kuasai lebih dulu itu materi menulis kalimat sederhana di SD. Tulis huruf pertama dalam kalimat dengan huruf besar. Bukan BESAR apalagi pake font ukuran besar. Jangan lupa akhiri kalimat dengan tanda titik. Kalo nulis titik aja udah bener, ntar bakal ngikut bener juga cara nulis pake tanda seru, tanya, apalagi titik koma. Lupakan yang terakhir. Itu bukan “ngomong dalam bahasa manusia”.

Belajar Majas

Ada yang bilang menulis tanpa majas itu bagai sayur tanpa garam. Eh gimana penulisnya juga deng. Ada yang bisa pake tulisan sederhana ala Ernest Hemingway tapi tetep menarik.

Jujur ane paling males belajar majas. Alasannya: terlalu banyak hafalan tapi contoh ambigu. Makanya nilai ulangan Bahasa Indonesia ane jeblok pas SMP juga SMK. Jujur ane cuman tahu majas hiperbola, eufimisme, metonimia, metafora, personifikasi, pleonasme, sama paronomasia. Soalnya itu yang paling sering muncul dalam keseharian (dan kepake).

Gimana cara ane belajar majas? Praktek. Iya serius. Satu-satunya cara paling gampang buat belajar bahasa Indonesia itu hanya praktek. Mo dalam bentuk ngobrol sama temen kek, bikin puisi kek, curhat gak jelas di buku harian kek, terserah. Kita mana bisa ngerti kalo cuman baca terus kagak dicoba. Ya ‘kan?

Modul Bahasa Inggris vs Modul Bahasa Indonesia

Berhubung susah cari modul berbahasa Indonesia di internet ato di perpustakaan, terpaksa ane cari modul bahasa Inggris.

Modul bahasa Inggris itu banyak banget. Mulai dari hal paling remeh macam kalimat sederhana sampe masalah worldbuilding aka rekayasa latar cerita. Emang perangkat lunak doang yang bisa pake rekayasa? Masalahnya cuman satu: tata bahasa dalam bahasa Inggris aka grammar beda dengan bahasa Indonesia. Jadi aturan yang berlaku dalam bahasa Inggris gak semuanya berlaku di bahasa Indonesia. Contohnya gini.

Ane pernah bingung waktu baca buku On Writing gara-gara masalah kalimat aktif dan pasif. Ane ngobrol sama Kang Rian gara-gara hal itu. Soalnya ada aturan dalam bahasa Indonesia yang “kalimatnya secara struktur itu aktif tapi logikanya bisa jadi pasif”. Mungkin ini efek samping mabok mata kuliah Logika pas ngampus kali ye. Kata Kang Rian, mending ane perkaya kosa kata biar bisa mengatasi masalah itu. Iya juga sih. Pembendaharaan kosa kata ane dalam bahasa Indonesia itu gak sebanyak dalam bahasa Sunda (éta mah kudu pisan da aya undak usuk basa jiga basa Java eh Jawa) apalagi bahasa Inggris.

Gimana caranya menerjemahkan petunjuk dari modul bahasa Inggris tanpa harus jadi penerjemah karbitan? Pahami dulu struktur bahasa Indonesia yang benar. Ya syukur-syukur kalo materi Logika Matematika di SMA/SMK/Aliyah kepake. Apa hubungannya? Logika itu sangat berkaitan erat dengan struktur dan tata bahasa. Kalo kedua hal itu aja gak kuat, adanya ntar malah kayak Cinta Laura.

Gimana cara belajar strukturnya? Ada kok di materi Bahasa Indonesia buat anak SD. Biasanya hal itu kita pelajari dari kelas 4-6. Malah di buku SD lebih banyak latihan daripada buku SMA.

Eh, Boleh Liat Tulisannya Gak?

Boleh banget. Awas aja kalo sampe plagiat. Ane tendang sampe minggat.

Kita gak bakal tahu kesalahan kita dalam belajar menulis kalo kita gak ngasih liat karya kita. Gak apa-apa masih absurd gak jelas juga. Setidaknya kita lebih maju dari orang lain yang cuman “wacana buat nulis, bikin buku, bala-bala-bala gehu” kok.

Tapi kudu diinget. Kita kudu cerdas juga menanggapi kritik dan saran dari orang lain. Kalo orangnya nyinyir mulu ya tinggalin aja. Pertimbangin setiap kritik dan saran yang masuk dengan cara perhatikan karya kita. Apa kritik dan saran orang lain bakal mempengaruhi tulisan kita secara drastis ato gak? Kita yang lebih tahu akan karya kita sendiri jadi bijaklah dalam menanggapinya. Jangan kayak dongeng “raja jadi bugil gara-gara terlalu dengerin kata rakyatnya” ye.

Banyaklah Menulis dan Membaca

Soalnya keduanya itu mirip sama dua sisi mata uang. Kita mentok gak ada ide nulis ujung-ujungnya baca. Kita menulis pun terinspirasi oleh bacaan kita.

Baca dan menulisnya pun harus berkualitas. Bukan tulisan ecek-ecek macam film horor bokep di bioskop.

Tulislah sesuatu yang berbobot. Tulisan macam curhat soal si doi mending di buku harian aja biar aman. Kayak Mas Boy gitu lho. Gak apa-apa cuman satu kalimat yang penting konsisten. Semakin sering kita berlatih menulis, insting kita dalam mengolah satu persatu kata bakal lebih tajam. Medianya bebas mo pake mana aja senyamannya kita. Kalo kita nyaman tulisan tangan, gak masalah. Cocok sama mesin tik gak apa-apa. Ngetik di komputer bebas. Nulis di HP juga boleh kok.

Ejaan Itu Penting

Apalagi buat karya ilmiah ato tulisan bersifat nonfiksi. Salah dikit bisa gaswat tuh. Kecuali tema tulisannya sante macam tulisan ngelantur ane ini ato buat pembaca remaja sih gak masalah.

Kenapa kita harus peduli sama ejaan? Alasan paling gampangnya biar bikin editor gak cape mikir. Pas waktu itu kunjungan ke Mizan, ada yang tanya soal itu sama editornya. Editornya cerita soal proses di balik dapur penerbitan. Tiap hari banyak naskah tulisan yang masuk ke ruang editorial buat diseleksi. Naskah pun gak satu ato dua halaman. Bisa sampe ratusan tergantung jenis tulisan yang kita buat. Bayangin aja editor baca tulisan yang 4l4y terus nabrak ejaan setebal 500 halaman. Bisa-bisa kagak bakalan dilirik sama editor terus berakhir jadi saingan Nokia 3310 buat nimpuk maling.

Emang sih tips kayak gini terlalu umum. Ane cuman bisa ngasih segitu soalnya yang kepake segitu. Maklum namanya penulis amatiran jadi kalo gak cocok silakan pake buat bungkus gorengan.