Depresi Itu Bisa Sembuh

Ane mengidap depresi sejak tahun 2016. Tepat setelah suatu insiden yang menghancurkan masa-masa bahagia selama melakukan praktik kerja di salah satu universitas negeri yang ada di kota Bandung. Rasanya itu benar-benar tidak enak. Ane tidak bisa tidur nyenyak. Setiap malam hanya dihabiskan dengan tangisan. Membaca Al Qur’an sebelum tidur bisa menenangkan diri ane namun masih tetap tidak bisa membuat ane terlelap dengan mudah. Ane sudah melakukan banyak cara agar bisa tidur dengan perasaan yang damai. Mulai dari kebiasaan lama ane membaca buku Matematika hingga ngaji. Tetap saja berakhir dengan kata begadang. Ane baru bisa tidur pulas saat pagi menjelang namun selalu terjaga hingga adzan Subuh berkumandang.

Akhir 2016 sampai awal tahun 2017 adalah hal terberat dalam hidup ane. Jauh lebih berat menjalani waktu singkat itu dibandingkan dengan menjalani masa-masa sekolah selama 10 tahun sebagai korban perundungan. Hal itu adalah puncak kesedihan ane. Bahkan ane sendiri menangis saat menulis tentang hal ini. Hal itu diperparah dengan kondisi keluarga ane yang jauh dari kata harmonis.

Secara ekonomi keluarga ane memang tergolong keluarga menengah ke atas. Namun ane sering ingin menangis setiap kali pergi bermain ke rumah teman-teman ane yang kebanyakan memiliki kondisi ekonomi yang lebih buruk. Ane bukan menangis karena melihat perjuangan mereka yang hidup karena keterbatasan. Ane menangis karena tersentuh oleh kehangatan keluarga mereka di tengah keterbatasan. Satu hal yang tidak ane miliki dan membuat ane sangat iri. Keluarga yang jauh dari kata percekcokan di setiap hari. Keluarga yang selalu optimis dan dekat dengan Allah meskipun kehidupan mereka terbilang apa adanya. Mereka yang masih bisa tersenyum saat makan bersama walau hanya berbagi semangkuk Indomie. Bahkan berulang kali ane berusaha kabur dari rumah karena tidak kuat melihat situasi di rumah setiap harinya.

Hal yang paling bahagia dari hidup ane adalah masa kuliah. Ane tinggal jauh dari rumah dan tenggelam dengan rutinitas kuliah di samping penyakit yang hinggap seperti infinite loop. Ane lebih senang berdiam di tempat kost lalu berkumpul bersama teman-teman kampus daripada harus tahan sedetik di dalam rumah yang selalu tidak jauh dari kata “cekcok” dan “amarah”. Itu sebabnya ane sangat tertekan saat itu. Masa kuliah yang seperti neraka jauh lebih berkesan daripada seumur hidup berada di bawah atap yang sama dengan orang tua. Bahkan ane kesulitan menerima tawaran untuk kuliah lagi karena kenangan berkesan yang ane lalui setiap harinya.

Akar dari depresi yang mengalami puncaknya saat itu adalah bully, tekanan mental orang tua selama ane masih sekolah, pola asuh yang menjurus pada toxic parents, percekcokan tiada henti, dan kesepian. Sejak kecil ane biasa “berpindah tangan” dari satu rumah ke rumah lainnya. Kesibukan pekerjaan orang tua ane membuat ane biasa dititipkan di tempat orang. Ane jauh lebih dekat dengan Ua ane daripada kedua orang tua ane karena hal itu. Ane ingat semasa kecil rasanya kurang greget kalau tidak menginap di rumah Ua Oso. Ane biasa bermain dengan sepupu ane, Riko dan Intan, setiap kali liburan tiba.

Orang-orang mungkin menganggap ane itu aneh karena kerap tertangkap basah bicara sendiri. Ane memang tipe orang yang belajar dengan gaya belajar auditori dan visual. Ane menggunakan gaya belajar visual untuk “mempermainkan” hal-hal baru di otak lalu mengulang hal yang ane pelajari dengan mengucapkannya. Selain itu karena ane kesepian. Sulit rasanya membuka diri bagi orang dengan karakter yang sulit seperti ane. Lingkaran pergaulan terdekat ane sangat kecil dengan hubungan yang sangat akrab. Di samping trauma masa lalu yang membuat orang lain menganggap ane itu tipikal orang antisosial, sensitif, dan tertutup pada pandangan pertama. Sebenarnya mereka tidak tahu ane selalu ketakutan berada di lingkungan baru. Ane takut menjadi korban seperti di masa lalu. Ane takut diri ane kehilangan batas seperti halnya ane dulu.

Begitupun keadaan di rumah. Sebenarnya ane itu cerdas. Ane bukan narsis tapi itu kenyataan semasa sekolah. Ane sangat senang membaca dan belajar hal baru. Bahkan buku bacaan favorit ane semasa sekolah dulu adalah majalah National Geographic dan majalah yang berkaitan dengan komputer di samping buku komik. Ane pernah dua kali mewakili sekolah untuk ajang olimpiade mata pelajaran walau hanya sebatas tingkat kota. Orang-orang yang tahu betul ane dari kecil seperti halnya Amir bahkan syok melihat kondisi ane yang sekarang. Ane dikenal sebagai orang malas dengan tingkat kemalasan ekstrim. Saking malasnya ane lebih senang melakukan life hack untuk melakukan hal sederhana di rumah. Semua itu berawal dari rumah.

Ane ingat betapa sakitnya ane mendapat perlakuan buruk akibat nilai 9 di SD saat kembali ke rumah. Ane ingat betapa sedihnya berulang kali mendapat nilai terbaik semasa sekolah tapi tidak sedikitpun mata orang tua tertarik untuk memandangnya apalagi memberikan penghargaan kecil. Bahkan ane ingat sewaktu lomba PMR yang diadakan di SMK Negeri 7 sewaktu masih SMK dulu. Berulang kali ane ikut lomba PMR dan saat itu ane mendapat juara. Ane pulang dengan membawa piala ke rumah karena lokasi tempat lomba pun dekat dari rumah. Piala yang ane dapatkan dari lomba saat itu benar-benar tidak ada nilainya di rumah. Perlakuan tidak menyenangkan di rumah selama ane sekolah membuat ane enggan untuk melakukan apapun. Tidak hanya dalam urusan belajar, tetapi juga hal-hal lain di rumah. Keadaan di rumah ane tidak bisa menerima toleransi kesalahan sekecil apapun. Singkat kata: perfeksionis.

Statistika saja masih bisa menerima toleransi kesalahan sebesar 5%. Manusia saja diciptakan Allah dengan ketidaksempurnaannya. Nilai 9 yang ane dapatkan susah payah tanpa mencontek sewaktu ulangan pun tidak ada artinya dibandingkan dengan nilai 10 di rumah. Jujur ane muak dengan semua yang sempurna. Bahkan kemarahan ane pun meledak sewaktu sesi personal mata kuliah Proyek. Ane ingat saat itu Pak BW memarahi kelompok ane habis-habisan karena kesalahan fatal dalam dokumentasi. Beliau juga bertanya kesulitan yang dialami saat menyusun dokumentasi dan analisis program. Saat itu ane menjawab.

Kenapa semua harus dikit-dikit revisi? Kenapa analisis program harus dibuat dengan sempurna?

Beruntunglah beliau adalah dosen yang baik dan menjelaskan pertanyaan bercampur kekesalan ane dengan lembut. Mendengar kata “kesempurnaan” itu sendiri membuat ane tertekan terlebih pada saat itu.

Orang tua ane baru sadar jika ane “sakit jiwa” setelah insiden itu. Ane berulang kali tertangkap basah begadang lalu dimarahi habis-habisan. Ane selalu mengurung diri di kamar. Ane bahkan tidak tahan dengan suara televisi yang terdengar di rumah saat itu. Ane tidak mau menyentuh makanan apapun yang ada di meja makan. Orang-orang di rumah tahu ane itu sangat senang memasak dan makan. Ane bertingkah impulsif. Sensitif dengan emosi yang meledak-ledak dan selalu menangis sehabis sholat. Tidak hanya itu ane pun melakukan hal ekstrim karena kesal. Ane pernah memakan satu tube penuh pasta gigi. Ane juga sering makan dua porsi Indomie sekaligus dalam kondisi panas langsung dimakan seperti seekor anjing kelaparan yang makan dari mangkuknya. Ane mulai berteriak keras-keras setiap kali tertekan lalu menangis dalam waktu singkat. Bahkan trauma masa lalu ane muncul. Setiap kali orang tua ane mendekat, tubuh ane secara refleks melakukan mekanisme pertahanan diri. Ane memang sering mengalami kekerasan fisik sewaktu masih kecil. Ane biasa dipukul hingga tubuh ane lebam. Ane sering diguyur air dingin karena mendapat nilai jelek di sekolah atau tertangkap basah membeli buku komik. Ane sudah biasa berkawan dengan ruangan sempit dan gelap sejak kecil akibat hal sepele. Tubuh ane selalu menggigil ketakutan setiap kali orang tua, khususnya Emak ane, mendekat. Ane selalu histeris karena kenangan masa kecil yang menakutkan itu benar-benar menyiksa.

Seharusnya selama tahun 2017 ane itu mendapat penanganan intensif beserta terapi dari psikiater. Sayangnya orang tua ane lebih memilih mengutamakan gengsi mereka dibandingkan dengan penyakit anaknya sendiri. Terapi yang ane jalani hanya berlangsung setengah jalan. Psikiater yang menangani ane saat itu pun mengatakan penyakit yang berulang kali kambuh semasa kuliah itu adalah buah dari stres yang selama ini ane pendam. Ane memang pribadi yang tertutup akibat trauma masa lalu yang hebat. Ane hanya bisa mengutarakan perasaan ane dalam tulisan itu pun dengan gaya bahasa yang orang lain tidak bisa memahaminya dan secara anonim. Saat itu pun ane kesal tiap kali melihat status kids jaman now yang bangga menyebut obat-obatan seperti xanax, dumolid, dan tramadol. Xanax adalah obat yang diberikan pada ane oleh psikiater yang menangani ane saat itu. Mereka tidak pernah merasakan rasanya depresi dan harus meminum obat-obatan seperti itu setiap saat. Meminum obat penenang setiap saat membuat ane menderita secara fisik. Ane ingat psikolog yang pernah menangani ane semasa kecil pernah mengatakan ane itu pengidap ADHD. Seiring berjalannya waktu kecenderungan tipe hiperaktif di masa kecil berubah menjadi tipe impulsif di usia dewasa. Obat-obatan penenang seperti itu secara tidak langsung memperburuk kondisi ane dan membuat ane semakin kesulitan untuk tidur. Ane bahkan kesulitan untuk duduk bahkan berbaring di atas ranjang dalam waktu yang lama. Pergerakan tubuh ane saat itu tidak bisa dikontrol akibat pengaruh obat penenang. Itu adalah efek samping obat yang membuat psikiater yang menangani ane pun kebingungan dibuatnya.

Bagaimana cara ane setidaknya untuk bangkit lalu sembuh seperti sekarang? Semua bermula dari kanal YouTube Sanggar Cerita dan anime lawas yang pernah menghiasi hari-hari ane semasa SD, Akachan to Boku. Itu semua ane jalani tanpa sedikitpun campur tangan obat penenang ataupun terapi lanjutan akibat kebodohan orang tua ane.

Cara ane menghibur diri di saat itu adalah nostalgia. Berawal dari mencari iklan lawas Termorex yang berakhir pada kanal Sanggar Cerita.

bu-joko
Apa? Termos es?

Sewaktu kecil ane dikenal sebagai korban iklan. Kakak ane pernah bercerita ane bisa membaca itu gara-gara iklan Pepsodent. Kanal Sanggar Cerita adalah salah satu kanal yang sampai sekarang aktif mengunggah video iklan Indonesia lawas di YouTube. Ada satu lagi yang tidak kalah lengkapnya yakni kanal milik Subiakto Priosoedarsono, seorang pakar iklan dan branding ternama Indonesia. Iklan yang paling berkesan saat itu adalah iklan milik Sampoerna Foundation tentang masa depan anak-anak. Iklan itu membuat ane sedih dan berpikir kembali tentang hidup ane.

Begitu pula dengan anime Akachan to Boku. Jarang banget ane melihat anime modern yang memiliki cerita seperti ini. Anime ini menceritakan tentang perjuangan Enoki Takuya yang mengasuh adiknya di saat ayahnya pergi bekerja. Kehidupan masa kanak-kanak Takuya berubah drastis setelah ibunya meninggal. Dia harus menjadi seorang kakak sekaligus ibu yang membesarkan Minoru, adiknya yang masih berusia 3 tahun.

minoru-baby

ada kisah sedih di balik senyuman balita ceria ini

Terapi pun berhenti tanpa sebab. Itu sebabnya ane hanya bisa belajar dari buku yang ada di rumah. Ane jadi ingat sebuah buku yang belum sempat ane kembalikan saat itu, La Tahzan. Sebuah buku pencerahan diri dengan pendekatan Al Qur’an dan hadits. Saat itu buku itu belum sempat ane kembalikan. Ane kembalikan buku itu sewaktu acara buka bersama bareng teman-teman kuliah. Sebenarnya ane punya buku itu di rumah dan pernah ane tamatkan sewaktu SMP. Buku itu menjadi pengisi hari-hari ane di samping mengaji. Setiap kali ane kehilangan motivasi, ane membuka buku itu. Ane temukan ayat-ayat Al Qur’an yang memotivasi dengan solusi yang dijelaskan secara praktis. Ane tidak hanya membaca seperti halnya masa SMP dulu. Ane praktikkan setiap hal yang ada dalam buku itu secara perlahan dan kontinu. Ane belajar bahwa ikhlas dan bersyukur dapat mendatangkan kebahagiaan. Begitu pula dengan tekanan dan pikiran berlebih yang hanya akan memperburuk keadaan. Terapi yang dijelaskan dalam buku itu pun menekankan pada sholat, zikir, dan ibadah dalam bentuk lainnya.

Mulanya ane kesulitan. Ane hanya membaca satu bagian dari buku La Tahzan sambil merenungkannya lalu ane praktikkan dalam keseharian. Ane yang semula penuh dengan pikiran kalut dan kacau akan hal-hal yang tidak menentu perlahan mulai berpikir sewajarnya. Boleh merenung untuk berpikir namun tidak berlebihan. Ane mulai belajar tentang ikhlas, sabar, dan menata hidup. Ada satu kalimat menarik yang terinspirasi dari sebuah hadits dari buku itu.

Hiduplah seperti burung yang bekerja keras di pagi hari lalu pulang dalam keadaan kenyang.

Intinya kebahagiaan itu sederhana. Salah satu kuncinya adalah bersyukur. Ane terinspirasi dari buku La Tahzan mengenai keliling dunia. Ane ingin belajar banyak hal dari seluruh dunia terutama dalam bidang kuliner. Perjalanan di muka bumi dapat membawa kebahagiaan. Kita bisa lebih mensyukuri nikmat yang Allah berikan pada kita selama kita hidup.

Ada satu surat dalam Al Qur’an yang jadi surat favorit ane sejak kecil: Al Insyirah. Jauh sebelum ane membaca penjelasan surat itu dalam buku La Tahzan. Bahkan itu adalah surat yang paling sering ane baca setiap sholat. Al Qur’an selalu memiliki daya tarik sendiri di setiap ayatnya termasuk pada surat Al Insyirah. Sebaik-baiknya seorang hafizh adalah ia yang mengamalkan semua ayat yang ia hafal. Meskipun hafalan ane masih terbatas, ane berusaha untuk mengamalkan surat tersebut dalam keseharian. Surat Al Insyirah sebenarnya adalah surat yang jadi salah satu penyemangat ane untuk bangkit dari keterpurukan. Arti dari setiap ayatnya memiliki makna agar manusia tetap sabar, optimis, tetap semangat dalam menjalani hari, ikhlas dalam melakukan pekerjaan yang ia geluti, dan mengajarkan tentang produktivitas. Di saat ane merasa lemah, ane sering membaca surat itu dalam sholat dengan harapan masalah yang meliputi diri ane ada jalan keluarnya. Pemahaman ane mungkin hanya sebatas itu. Toh Al Qur’an sendiri bisa diterjemahkan dari berbagai sisi meskipun ayatnya sama bergantung pada sudut pandang orang yang membacanya.

Hidup itu jauh lebih rumit dari sebuah rute dalam visual novel. Akhirnya pun lebih sulit ditebak karena bersifat relatif. Perjalanannya pun tidak selalu mulus. Di balik semua itu ada hikmah yang bisa dipetik. Ane belajar sewaktu ane diliputi depresi soal pentingnya sebuah waktu, kebahagiaan, sabar, ikhlas, rasa syukur yang dipanjatkan kapan saja, membuka mata tentang dunia, juga menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Hiduplah hanya dalam batas hari ini. Masa depan itu adalah hal yang gaib. Masa lalu sudah berlalu dan pena sudah mengering. Itu adalah kalimat yang ane kutip dari buku La Tahzan. Kalimat itulah yang selalu senantiasa mengingatkan diri ane soal kebahagiaan. Di samping bersenang-senang seakan-akan hidup selamanya dan beribadah seakan-akan hidup hanya hari ini. Hal itulah yang kadang terlupakan dari kehidupan modern seperti saat ini. Tak heran banyak orang yang mengidap depresi dan bahkan kondisinya jauh lebih buruk daripada ane.

Depresi itu bisa sembuh selama kita mau mengubah pola pikir kita.

Depresi itu bisa sembuh selama kita banyak tersenyum, banyak bersyukur, ikhlas menjalani hari, dan mendekatkan diri pada Ilahi.

Depresi itu bisa sembuh dengan hal-hal kecil. Seperti halnya bermain bersama anak-anak dan berolahraga di pagi hari sambil berkeliling ke tempat yang baru.

Depresi itu bisa sembuh dengan hidup sederhana. Boleh kaya tapi tidak berlebihan. Gunakan sumber daya yang kita miliki seperlunya. Misalnya makan selagi lapar.

Depresi itu bisa sembuh dengan keluar. Keluar dari zona nyaman, bertemu orang baru, lingkungan yang baru, bersilaturahim dengan keluarga atau teman-teman lama, dan melangkahkan kaki untuk sekedar berolahraga ringan dengan berjalan-jalan.

Memang depresi itu tidak bisa sembuh total dan bisa kembali kapan saja. Bersyukur dan nikmati saja hidup yang kita jalani setiap harinya bisa mendatangkan kebahagiaan. Biarpun kecil, kebahagiaan kecil itu sangat berperan besar bagi kesembuhan pengidap depresi.

Hal yang paling penting adalah dukungan orang-orang terdekat. Jangan menganggap depresi itu hal yang sepele seperti keluarga ane. Sadari gejalanya lalu beri dukungan yang tepat. Pengidap depresi tidak akan merasa sendiri dan lebih termotivasi untuk sembuh lebih baik.

Akhir kata, depresi itu bukanlah sebuah akhir. Bisa saja itu tanda ada yang salah dari diri kita selama ini.

Iklan

PC Bebas Virus Itu Bukan Mitos

Okelah ane itu memang benar-benar sesat. Kecemplung di dunia Informatika tapi ujung-ujungnya malah nyasar bikin mirepoix di dapur. Itu bukan lelucon kok. Tadi ane baru beres bikin kaldu ayam cuman lupa nambahin wortel jadilah rasa kaldunya kurang nendang.

NB:

Mirepoix (bacanya: mir-po-ah, bahasa Prancis) itu salah satu teknik memasak yang digunakan untuk menambah cita rasa. Salah satunya untuk tambahan bahan dalam pembuatan kaldu.

Bicara soal komputer, ranah ane itu adalah segala sesuatu tentang administrator dan oprek PC bermasalah. Mungkin karena kebiasaan dari zaman SMP jadi penanggung jawab masalah PC di rumah. Ane emang seneng baca. Buku favorit ane zaman SD sampe SMP itu buku komik, majalah National Geographic (serius men foto pemandangan dan kehidupan masyarakatnya kece badai), dan majalah tentang komputer. Khusus buat dua buku terakhir yang ane sebutin itu ane baca di Perpustakaan Daerah. Soalnya pada masa itu uang saku ane pun terbatas dan keduanya tergolong majalah yang harganya mahal di tukang jongko koran langganan. Biar ane gak paham, itulah yang memulai ketertarikan ane buat “ngerusakin komputer”.

Ane masih pemula dalam bidang ini. Ane masih sering cari informasi di internet soal benerin PC. Ane juga masih belajar menggunakan perintah CLI apapun “cangkangnya” (sebenarnya ini pun, gak lucu kok). Emang cuman bivalvia yang punya cangkang, komputer juga kalee!

Ane memang gak sejago para mastah yang biasa nongkrong di Kaskus ato forum komputer lainnya. Ane masih pemula. Biar ilmu ane masih terbatas pun ane sering mempraktekkan semua yang ane pelajari. Ane mau berbagi segala sesuatu tentang penyakit lama komputer yang masih bikin geleng-geleng, komputer sarang virus.

Hal Awam Soal Virus

Tulisan ini sebatas pengalaman ane benerin komputer ye.

Orang awam sering menganggap apapun yang ngerusak PC khususnya bagian sistem operasi dan perangkat lunak itu sebagai virus. Apapun namanya sering bilang “komputer gue virusan nih, tolong benerin dong”. Apalagi di kalangan cewek yang jarang banget ngoprek komputer. Padahal penyakit komputer itu banyak. Sama aja kayak ngomongin takson di biologi. Masa ganggang, bakteri, amoeba, protista, sama plankton dipukul rata ama virus mentang-mentang jasad renik? Begitu pula dengan penyakit komputer. Virus, trojan, worm, PUP, adware, spyware, sampe si anak bawang ransomware itu beda. Masa dipukul rata jadi virus juga? Buat soal ini sih penjelasannya panjang dan bertebaran di mana-mana jadi silakan tanya mbah Google aja.

Kalo ada temen ente yang nyuruh “udah pasang Linux aja biar gak virusan”, timpuk aja pake layar monitor CRT. Kata siapa pake Linux gak bisa kena virus? Linux itu masih bisa kena virus. Bukan kata ane lho. Itu kata pengguna Linux veteran yang biasa nongkrong di forum sama IRC. Cuman virus yang menyerang Linux itu sedikit jadi orang-orang banyak yang bilang pake Linux itu lebih “aman”.

Ia juga menjelaskan satu hal yang penting, perawatan berkala aka maintenis aka maintenance. Virus lebih rentan menyerang PC kalo PC-nya gak pernah dirawat apapun sistem operasinya. Anggap aja rumah deh. Rumah yang berantakan dan gak pernah dibersihin itu lebih rentan diserang tikus lho. Boleh pasang Linux asalkan rajin maintenance. Caranya banyak dijelasin di forum Linux sama IRC.

Hei pake aplikasi X biar gampang unduh drama Korea. Itu mitos! Biasanya hal itu sering muncul di situs streaming nonton drakor di internet. Jangan ketipu terus unduh aplikasi X itu. Itu adalah aplikasi berbahaya yang bisa merusak komputer kita. Salah satu korbannya itu kakak ane yang sama-sama penyuka drakor dan ngeyel, Bubu. Ane udah angkat tangan dah benerin laptop-nya. Abis dibilangin malah ngeyel. Sekalinya kena virus malah ngamuk nyari-nyari ane -.-”

Cara Gampang Mencegah Virus ya Balik Lagi ke Diri Kita

Caranya mudah. Kembali pada diri kita.

Anggap aja deh kita pengen hidup sehat. Bosen penyakitan mulu ‘kan? Cara memperbaiki kesehatan kita adalah dengan memperbaiki hal salah dari gaya hidup kita seperti kebersihan, makanan, dan olahraga.

Pencegahan yang paling gampang itu dari diri kita. Biasakan kita gunakan komputer dengan cerdas. Jangan buka sesuatu yang mencurigakan di komputer apalagi yang bersifat clickbait. Rasa penasaran orang itu bisa jadi malapetaka saat berurusan dengan komputer. Contohnya Babeh ane.

Buka aib dikit, Babeh ane itu orangnya mesum. Berulang kali ane denger cerita dari si Rifnun bahkan keponakan ane yang masih bocah soal si Babeh yang sering tertangkap basah buka bokep. Mau itu dari HP ato laptop. Tiba-tiba si Babeh minta tolong ke ane soal laptop-nya yang mendadak aneh. Dalam hati sih ane ngusap dada pas benerin laptop.

“Salah sendiri buka bokep.”

Tahu sendiri lah metode penyebaran virus itu macem-macem. Salah satu wujud yang paling populer ya ngumpet di situs bokep.

Metode penyebaran virus gak cuman dari pake USB flash drive rame-rame sama buka situs bokep. Ada yang muncul dari iklan geje di internet. Ada yang muncul lewat iklan gak jelas di e-mail. Ada yang dari broadcast gosip grup emak-emak. Ada yang nyamar jadi program komputer populer. Ada juga yang paling menipu … nyamar jadi antivirus. Gak percaya? Cek aja di internet.

Banyak juga membaca apalagi berita terkini tentang dunia komputer. Beda zaman beda lagi modus penyebaran dan serangan virusnya.

Pertahanan Kedua: Komputer Kita

Tadi kita udah bahas soal pertahanan dari diri sendiri. Bagaimana dengan komputer kita? Kita ‘kan masih awam. Sama kok. Ane juga masih awam. Bedanya ane lebih tahu duluan jadi gak awam banget :d

Pertahanan lapis pertama yang paling gampang adalah update. Itu hal sederhana yang orang awam sekalipun bisa melakukannya. Apapun OS yang kita gunakan, jangan sampe absen untuk update hal ini. Mulai dari update sistem, driver perangkat yang kita gunakan, sampai antivirus. Jangan sampe ada yang kelewat. Ingat. Komputer itu dodol dan buatan manusia. Pasti ada bug atau celah keamanan yang muncul setiap saat. Virus dan saudara-saudaranya pun pasti nongol dari celah itu.

Buat tipe orang yang agak sensitif dengan kuota macam ane, update minimal sebulan sekali. Utamakan antivirus terlebih dahulu setelah itu sistem. Setiap sistem operasi bisa memilih bagian mana saja yang kudu di-update. Ada pilihannya secara jelas di Linux namun tersembunyi di Windows. Kalo soal Mac ane kurang tahu dan BSD itu sebelas dua belas kayak Linux dalam masalah update. Trik ane buat akalin kuota ya cicil sedikit demi sedikit file dari daftar update. Misalnya prioritas untuk hari ini itu file yang ukurannya gak lebih dari 100 MB. Jangan sekaligus semua update. Ntar pas tahu update-nya segede update Steam sama DotA 2 bisa nangis darah gara-gara kuota abis.

Pertahanan lapis kedua adalah antivirus. Jangan sembarangan pake antivirus soalnya seperti yang ane ceritain di alinea sebelumnya ada virus yang nyamar jadi antivirus *nah lho*. Internet dan majalah komputer adalah sahabat kita dalam mengambil keputusan. Ada juga sih yang baik hati ngasih antivirus gratis kayak majalah PC Media dengan PCMAV. Biar itu gratisan dan antivirus lokal, deteksinya bandel buat bersihin virus lokal rese yang beranak pinak dan susah ditangkis antivirus biasa. Males buka internet ato beli majalah, mampir aja ke perpustakaan ato malak kerabat terdekat :v

Setiap tahun pasti ada antivirus baru yang rilis. Itu sebabnya kudu baca ulasan di majalah komputer ato internet biar kita gak salah pilih. Dulu ane bisa dapet lisensi asli BitDefender dengan harga terjangkau. Harga lisensi per tahun saat itu jauh lebih murah dari satu set gunpla RG apalagi satu set menu di restoran fine dining. Kok bisa dapet? Makanya baca. Setiap tahun pun antivirus yang “saklek” itu selalu berubah. Mau yang berbayar lisensi pertahun ato gratisan tetep aja harus dibandingkan satu persatu biar gak salah pilih. Soal urusan antivirus gratisan, ane emang doyan gonta-ganti antivirus dari zaman SMK untuk diulas satu persatu. Jadi pas temen ane nanya sewaktu minta bantuin benerin PC ane bisa jawab pertanyaan mereka.

Ane udah komitmen bakal nulis hal yang ane lakuin doang. Pertanyaannya, apa ane pasang antivirus? Jawabannya gak *eh?*. Jangan langsung menilai komputer ane sarang virus gara-gara hal itu lho. Orang-orang terdekat ane menganggap ane itu “gak waras” gara-gara laptop ane gak dipasang antivirus. Anehnya laptop ane jarang penyakitan gara-gara virus, trojan, worm, dan sebangsanya. Kok bisa? Inilah gunanya pertahanan lapis ketiga.

Ane belajar hal-hal kayak gitu gara-gara komputer rumah ane sering bermasalah. Lucunya satu-satunya cowok di rumah ane (baca: Babeh) tidak bisa diandalkan jadi mau gak mau cewek lagi yang turun tangan tiap kali ada masalah di rumah termasuk masalah komputer. Linux itu anak baik dalam masalah keamanan. Jadi kita cukup memperkuat pertahanannya. Caranya banyak kok bertebaran di internet. Bagaimana dengan Windows? Dia itu anak nakal yang butuh perhatian ekstra saking cueknya sama keamanan diri sendiri.

Berhubung bagian ini penjelasannya panjang, ane cukup jelasin garis besarnya aja. Penjelasan lebih detilnya bisa cari di internet atau baca di majalah komputer. Ada komponen penting yang kudu diperhatiin dari “si anak nakal” yang kelewat cuek ini. Buat perkenalan sih ane kasih tahu hal yang mendasar dulu.

Pertama, system restore. Sebenarnya itu fitur bawaan Windows yang bisa balikin sistem ke keadaan semula. Ane inget hal pertama yang ane tahu dari Kaskus kalo virus sering ngumpet di sini. Biar infeksi virus gak parah, matiin system restore. Caranya bakal ane jelasin di bagian selanjutnya.

Kedua, autoplay. Nama lainnya adalah autorun. Si biang kerok virus shortcut rese yang menyerang hampir semua komputer di Indonesia. Cara kerjanya dari fitur ini bakal menjalankan apapun dari media penyimpanan portable yang terhubung dengan komputer kita. Mulai dari instalasi program hingga koleksi lagu yang kita miliki. Biar infeksi virus gak parah, matiin juga ini.

Ketiga, Group Edit Policy. Ane tahu ini dari Degar waktu SMK dulu. Nah, ini bisa dibilang salah satu ruang kantor di dalam komputer kita. Ruangan ini berfungsi buat mengatur hal-hal berkaitan tentang penggunaan komputer. Di antaranya system restore dan autoplay.

penampakan Group Policy Editor di Win 8.1

Cara buat memanggilnya pun banyak. Ane biasa pakai fitur run buat panggil menu ini. Cukup ketik “run” di bilah pencarian start menu ato klik kanan gambar bendera (?) yang buat panggil start menu.

Habis itu ketik “gpedit.msc” di bilah perintah pada dialog run.

masih dengan Win 8.1 juga

Udah gitu ngapain? System restore dan autoplay itu adanya di bagian Administrative Tools. Nemuinnya gampang kok. Klik tulisan “Administrative …” yang ada di bagian kiri atas. Nanti bakal muncul banyak folder kayak gini.

asal gak salah oprek komputer kita baik-baik aja kok :3

Cari pengaturan system restore sama autoplay itu gampang. Soalnya nama folder yang muncul itu sesuai dengan nama fitur yang kita matiin. System restore ada di folder Systems dengan nama folder “System Restore”. Sementara autoplay itu ada di folder “Windows Components” dengan nama “AutoPlay Policies”. Matikan kedua fitur itu di sana. Jangan khawatir. Pas kita mau menggunakan Group Edit Policy ada penjelasan bawaan Windows di sana kok.

Kalo ada peringatan dari antivirus yang berkaitan dengan kedua hal itu, abaikan saja. Beberapa antivirus memang menganggap tindakan pencegahan yang kita lakukan tadi itu sebagai aktivitas virus. Selama kita ngelakuin ini, insya Allah komputer kita bakal bebas virus. Sekalinya kena virus pun lebih gampang buat dibersihin. Itu pengalaman pribadi ane yang selalu melakukan hal ini tiap kali instal ulang.

Itu hanya sebagian kecil langkah mudah pencegahan yang bisa kita lakukan. Cara lebih lanjutnya banyak dijelaskan di forum. Gak usah khawatir dengan masalah “sok elite” di sana. Selama kita nanya dengan santun dan jelas, mereka bakal bantuin kita apapun masalahnya.

Ada pertahanan lain yang sifatnya opsional. Kadang antivirus dan tindakan pencegahan yang kita lakukan gak cukup buat menuntaskan masalah virus sampai ke akarnya. Ane memang sering menyediakan tool kecil dengan fungsi yang berbeda-beda tergantung kasus yang ditangani. Misalnya masalah virus shortcut yang rese dan bersarang, ane biasa pake Rem-VBSworm di samping prosedur pembersihan secara manual. Tool ini dibuat oleh salah satu peneliti yang membuat antivirus Panda kok. Buat masalah virus shortcut yang masih rese dan gak bisa dibersihin secara manual, ane biasanya pake Zoek. Itu program enteng yang bisa bersihin masalah virus shortcut juga aplikasi rese sampai tuntas.

Buat pertahanan dengan tingkat lebih tingginya, ane saranin buat pelajari kodingan. Minimal berbasis shell. Biar ane sangat benci dengan ngoding tapi ane seneng belajar pemrograman yang satu ini. Pemrograman berbasis shell itu gampang-gampang susah. Gampang buat dipelajari gak kayak belajar bahasa pemrograman. Susahnya ya sekali error, apapun sistem operasi yang kita gunakan jadi taruhannya. Ini bukan lelucon lho. Enaknya pemrograman yang satu ini sih kita bisa melakukan apapun yang berkaitan dengan komputer kita lebih leluasa. Mulai dari mengatur aktivitas sepele yang rutin dilakukan sampai mengatasi masalah gara-gara virus.

Jadi masih bermasalah sama virus? Udah gak lagi lah.

Personalisasi Internet yang Tidak Personal

Pernah gak kita ngerasa cari apa eh keluarnya apa?

Apa mbah Google salah baca mantra terus salah nyembur? Gak kok.

Apa itu Bokir yang nyamar jadi mbah Google? Zaman Bokir jadi dukun palsu yang dikerjain Suzzanna pun belum ada mbah Google.

Di balik proses itu sebenarnya membutuhkan satu mata kuliah biar paham. Ane tahu cara kerja terselubung dari mbah Google gara-gara hukuman tugas kompensasi kehadiran pas masih ngampus. Intinya tanpa kita sadari si mbah mengambil data unik tentang diri kita berdasarkan pencarian yang kita lakukan. Bahasa kerennya sih filter bubble tapi bahasa halusnya sih personalisasi hasil pencarian.

Gak cuman di Google kok, di Facebook sama YouTube pun kayak gitu. Contoh nyatanya dari fenomena ini adalah pengalaman pribadi ane saat menggunakan Facebook. Terakhir kali ane pake Facebook itu pas masih kuliah.

Dulu ane pake Facebook gak cuman berhubungan dengan Ghia, Dono, Amir, dan temen deket ane semasa SD lainnya. Ane sering gunain Facebook buat main game sampe jujur aja ye, pernah stalking aka menguntit cowok via dunia maya. Target saat itu Ikki, partner-in-crime ane pas masih SMK yang juga cowok yang ane sukai dulu.

Ane dikenalin Facebook dari mamih Aisya dan si mamih itu temen pertama ane di Facebook. Seiring berjalannya waktu, ane benar-benar kehilangan kontak dari orang-orang terdekat ane. Entah itu Ghia, Dono, Ikki, bahkan mamih Aisya sekalipun. Padahal biasanya status mereka sering tampak di linimasa. Apalagi si mamih yang sering mengunggah status-status absurd nan kocak. Linimasa ane pun berganti dengan teman-teman ane di komunitas otaku dan cosplay yang ane kenal secara pribadi di dunia nyata. Ada beberapa temen deket ane di SMK yang statusnya tampak. Itu pun hanya Hanif, Yogz, sama Okta. Ketiganya pun memiliki benang merah: otaku. Begitupun dengan status temen kuliah hanya Ganjar sama Opik yang notabene dikenal sebagai weeaboo semasa ngampus. Ane sadar saat itu Facebook mengidentifikasi ane sebagai seorang otaku dan memisahkan ane dari teman-teman terdekat ane di dunia nyata.

Apakah personalisasi pada kasus ane itu berguna? Tidak. Ane kehilangan kontak sama sekali dengan mereka yang dekat dengan ane di dunia nyata namun hilang kontak di dunia maya. Jujur ane kangen dengan Ghia, Dono, juga mamih Aisya. Kesibukan mereka membuat media sosial menjadi satu-satunya penghubung antara ane dan mereka. Sayangnya semua itu sirna akibat “personalisasi”.

Personalisasi memang memudahkan pihak penyedia layanan internet mengetahui informasi yang tepat sesuai dengan target pengguna. Bahasa bisnisnya sih untuk memberikan pelayanan prima pada pengguna setianya. Di samping itu, personalisasi dapat menghambat kita mendapat informasi yang sama dengan sudut pandang yang lain. Informasi yang kita dapat itu seperti melihat dengan kacamata kuda. Sekilas tidak ada bedanya dengan sensor. Bedanya sensor bertujuan untuk melindungi seseorang atau sekelompok masyarakat dari pengaruh buruk pihak asing dengan patokan-patokan tertentu yang masih masuk akal dan beralasan. Filter bubble jauh lebih buruk dari sensor dan sinar dewa KPI.

Apa yang terjadi dengan internet? Mungkin kita syok mendengar fakta yang selama ini tersembunyi di balik status kita di dunia maya. Berkaca dari pengalaman ane, tidak selamanya informasi mengenai diri kita terlalu dibuka di dunia maya. Itu sebabnya ane lebih sering jadi anonim di dunia maya dan hanya meninggalkan sedikit petunjuk tentang diri ane dalam jurnal ini. Dipanggil hode pun ane udah kebal. Bahkan orang terdekat ane yang tahu ane pemilik jurnal ini pun cuman mamih Aisya dan Yanto.

Setelah tahu ini, apa yang bakal kita lakukan? Apa perlu cara ekstrim dengan memutuskan kontak dari internet? Cara primitif seperti itu sangat sulit dilakukan di masa sekarang. Naluri alamiah orang Indonesia adalah narsis dan senang bergaul dengan orang lain. Bagaimana cara ya setidaknya tidak bernasib miris seperti kisah ane?

Pertama, mbah Google tidak selalu benar. Jika kalian masih percaya akan hal itu, tandanya musyrik. *gubrak*

Ane bakal kupas bagian pertama ini di tulisan terpisah. Ada cara untuk menghindari efek buruk hal itu selama kita konsultasi sama mbah Google. Insya Allah dengan teknik ini kita bisa dapet informasi yang jauh lebih akurat apalagi buat para mahasiswa yang lagi mumet urusin skripsi, tugas akhir, tesis, dan disertasi. Ane doain semoga lancar nyusunnya dan dapet informasi pendukung yang jauh lebih akurat biar bebas revisi ekstrim.

Kedua, narsis boleh umbar aib jangan. Itu bisa jadi bumerang buat diri kita lho. Detil lebih lanjutnya sih ane bakal curcol habis-habisan mengenai hal ini di tulisan selanjutnya.

Ketiga, gak harus jadi mahasiswa Informatika agar bisa cerdas dan bijak menggunakan internet. Sebenarnya penjelasan dari bagian ini adalah wewenang dosen dan bisa jadi satu mata kuliah khusus yang bakal ulas masalah ini. Ane cuman kasih tahu petunjuk yang bakal bantu kita kepo dikit tentang personalisasi di internet beserta kedua sisinya.

Cari kata kunci ini di internet biar ngerti hal yang ane maksud. Itu pun jika kepo maksimal. Beberapa ane dapet informasi berkaitan dengan kata kunci ini gara-gara tugas hukuman di kampus dan sisanya dari referensi yang ada di tulisan lama ane.

Eli Pariser (nama orang yang ada kaitannya dengan tema tulisan ini)

Filter bubble

Crawler (sedikit spoiler: ini salah satu biang keroknya)

Internet cookie

Information retrieval

How Google search works (ane nemu hal ini pas kuliah dan … kasih spoiler gak ya?)

Kata kunci yang lebih umum lagi: sistem informasi ato information systems. Itu sebabnya ane bilang di alinea sebelumnya buat jelasin satu bagian tulisan ini aja kudu kuliah dulu biar paham :d

Kok ada istilah yang gak ada sangkut pautnya dengan tulisan yang ane buat di bagian kata kunci? Itu adalah petunjuk buat pahamin jawaban dari kata kunci yang terakhir. Mau diperdalam silakan sebatas tahu pun gak apa-apa. Apa salahnya jadi pengguna internet yang jauh lebih cerdas?

Keempat, jadilah pengguna internet yang cerdas. Ponsel aja bisa pinter masa penggunanya oon.

Masih percaya dengan hasil pencarian dan personalisasi di internet? Kata Cak Lontong sih mikir.

Identitas Dunia Maya yang Bisa Jadi Bumerang

Ane jadi inget lelucon konyol di buku teks Bahasa Inggris SMK. Ane lupa buku yang kelas X, XI, ato XII ya. Buku Bahasa Inggris yang ane pake sering menyempilkan anekdot konyol dan gambar-gambar lucu di setiap babnya. Hal yang paling lucu dari lelucon di sana adalah lelucon cari kunci mobil.

Losing your key? Google it.

Peran Google yang nyaris gak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari pun diplesetkan dengan mencari kunci mobil. Sayangnya ane gak bisa unggah gambarnya soalnya bukunya udah dikilo gara-gara kebanjiran.

Google adalah nama dari sebuah mesin pencari aka search engine yang masih eksis sampe sekarang. Pas ane masih SD, ada banyak search engine yang menawarkan jasa pencarian serupa. Sayangnya satu bersatu berguguran akibat ditinggalkan penggunanya. Alasannya pun sederhana: gak ada bisa menandingi hasil pencarian seakurat dan secepat Google. Seiring berjalannya waktu, layanan Google gak cuman mesin pencarian semata. Ada layanan e-mail, blog, nonton video lewat YouTube, penyimpanan berkas berbasis cloud dengan Google Drive, sistem operasi Android, berkelana bebas nyasar dengan Google Maps, sampai puas-puasin main game dengan Google Play Games.

Normalnya orang Indonesia itu doyan narsis. Mereka senang membicarakan tentang diri mereka di hadapan orang lain terlebih dengan era media sosial seperti sekarang ini. Dulu pas zaman SD, ada satu situs terkenal namanya Friendster. Pokoknya gak ngehits deh kalo gak bikin akun Friendster aka main FS di masa itu. Itu adalah awal mula perkenalan orang Indonesia dengan media sosial. Sebenarnya sih di era sebelum itu orang Indonesia banyak nongkrong di kanal IRC dengan beragam nama samaran aneh-aneh (dan 4l4y) atau menggunakan Yahoo! Messenger. Puncak penggunaan media sosial adalah di era generasi milenial yang rata-rata berkisar pada usia remaja hingga awal 30 tahun. Mereka lebih banyak menggunakan media sosial dibandingkan para orang dewasa.

Sekarang adalah eranya big data. Apa sih yang gak bisa kita temukan di internet? Apalagi di era serba dikit-dikit internet dengan aliran data yang masuk ke server itu gak sedikit. Ane pernah baca di internet, server Facebook bisa menangani aliran  kalo gak salah sih udah masuk ke petabyte. Sebenarnya sih di era big data seperti sekarang semua jadi lebih gampang dalam bidang teknologi. Di Bandung sendiri udah dibangun pangkalan digital yang khusus mengelola big data. Baru diresmiin kemaren kok. Sayangnya di balik kelebihan dari pemanfaatan big data, ada banyak bahaya yang bisa menyerang balik diri kita.

Pertama, kasus Edward Snowden yang ramai di tahun 2013 silam mengenai penyadapan digital yang dilakukan oleh NSA. Kasus itu tidak hanya menyita perhatian publik yang aktif menggunakan internet tetapi juga pihak korporasi dan pemerintahan. Banyak perusahaan yang mengeluh soal e-mail berisi rahasia perusahaan bocor oleh penyadapan itu. Pihak pemerintah negara lain pun turut kesal dengan tingkah salah satu badan resmi milik pemerintah Amerika Serikat itu. Informasi lebih jelas tentang kasus ini bisa cari di internet ato nonton film Snowden.

Kedua, kasus seorang nenek di Amerika yang terjadi tahun 2006 silam. Namanya Thelma Arnold. Mulanya ia ingin mencari sesuatu di internet lewat situs AOL, salah satu mesin pencari yang populer di masa itu. Kasus ini menjadi ramai diperbincangkan ketika identitas dari nenek itu bocor akibat kebocoran data pencarian AOL.

Ketiga, kasus pencurian yang bermula dari Foursquare beberapa tahun silam. Seorang wanita di kawasan Amerika Serikat tampak bahagia setelah suaminya mengajak ia makan malam romantis di restoran. Ia kemudian mengabadikan momen tersebut pada akun Foursquare miliknya. Tanpa ia sadari, sekelompok pencuri mengetahui rumah di dekat mereka sedang kosong berdasarkan informasi pada laman Foursquare. Mereka kemudian mencuri barang-barang di rumah itu setelah tahu pemiliknya sedang pergi makan malam di restoran.

Ketiga hal itu hanya sedikit contoh dari banyak kasus nyata yang terjadi di seluruh dunia.

Masih gak ngerti deh. Bisa jelasin dengan lebih singkat?

Informasi pribadi adalah hal yang sangat sensitif. Di Indonesia sendiri masalah identitas menjadi isu serius di rezim Orde Baru. Mulai dari peranakan Tionghoa yang sering menjadi sasaran kemarahan masyarakat, para aktivis mahasiswa yang menjadi incaran rezim pemerintah saat itu, hingga keluarga dari pihak yang terkait dengan PKI beserta organisasi sayapnya seperti Lekra. Itu di dunia nyata. Bagaimana dengan di dunia maya? Justru jauh lebih berbahaya. Tanpa kita sadari kita sering menggunggah informasi pribadi kita terutama lewat media sosial. Entah itu untuk tujuan narsis ataupun untuk tujuan serius seperti portofolio dan CV untuk melamar pekerjaan via internet. Dunia maya adalah dunia yang membaurkan batas antara belahan dunia manapun terlepas dari ruang dan waktu. Kita bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan di internet termasuk identitas seseorang.

Tanpa kita sadari, data pribadi yang kita unggah di internet itu digunakan banyak pihak dengan beragam tujuan. Ada yang bertujuan baik untuk mengetahui statistik pengunjung terbanyak berdasarkan wilayah. Ada juga yang digunakan untuk tujuan buruk bahkan cenderung menjurus pada tindak kriminal. Identitas yang kita miliki bisa diketahui dengan sangat jelas tidak harus dengan menuliskan identitas kita seperti dalam biodata atau CV. Pada kasus nenek Thelma Arnold, identitas seseorang bisa diketahui pula dari kebiasaan yang kita lakukan di internet.

Bagaimana cara media sosial bahkan Google mengenali kita? Ane jelaskan di tulisan selanjutnya.

Kita adalah Apa yang Kita Lakukan di Internet

Ane pernah ngelakuin hal geje yang keinspirasi salah satu hot thread lawas di Kaskus. Bedanya hal yang dibahas dalam thread itu adalah perbandingan hasil pencarian Google Indonesia dengan Google versi luar negeri. Penulis artikel aka TS mengetikkan semua hal yang gak asing dari keseharian warga Indonesia lalu membandingkan hasil pencarian dengan kata kunci yang sama pada Google versi internasional. Hasilnya pun bisa disimpulkan bahwa mayoritas orang Indonesia yang melakukan pencarian di internet adalah orang mesum berdasarkan hasil penelusuran Google yang ada pada thread itu. Sementara hal geje yang ane lakuin adalah melakukan pencarian iseng dengan YouTube. Ane ngetik asal dari A-Z buat cari tahu hal apa aja yang biasa dicari orang Indonesia di YouTube. Mulai dari Awkarin sampai Zayn Malik, mayoritas kata kunci yang muncul dari bilah pencarian YouTube berkaitan dengan dunia anak muda. Ada juga sih nyempil isu-isu sensitif seperti politik dan agama.

Jujur aja ane pernah bikin tulisan berseri tentang tracking di internet dan cara untuk mengatasinya. Tulisan itu ane buat pas lagi rame kasusnya si ganteng Edward Snowden. Ih serius. Pemeran Edward Snowden di film Snowden aja kece apalagi aslinya. Cari aja di internet kalo gak percaya. Berhubung tulisannya udah kadaluarsa jadi ane tulis ulang dari awal. Ane bikin lebih mudah dipahami dan mudah dipraktekin buat orang awam aja.

Banyak kasus bermula dari internet yang muncul di Indonesia karena hal sepele: media sosial. Mulai dari cyberbullying yang dialami Uphie A Bubu (dibacanya sih “upik abu” aka Cinderella, sumpeh ane lupa nulis nama akunnya saking 4l4ynya) sampai seorang PNS yang dipecat gara-gara status Facebook. Keduanya kasus yang viral di masanya lho. Ada juga yang berujung bermasalah dengan polisi karena tulisan di internet. Satu hal yang ane sayangkan dari bang Jonru Ginting. Padahal beliau itu adalah seorang penulis yang produktif membimbing para penulis pemula via internet.

Internet adalah pisau bermata dua. Dia bisa jadi teman seperti halnya buku di perpustakaan. Bisa juga menjadi bencana seperti halnya kasus Uphie A Bubu.

Anak muda di Indonesia tidak lepas dari keberadaan internet. Padahal dibandingkan dengan Korea Selatan pun koneksi internetnya bagai langit dan bumi. Lucunya pengguna internet aktif di Indonesia itu masuk peringkat 10 besar dunia. Bahkan data terakhir dari situs Stop Phubbing menyatakan kota Jakarta sebagai salah satu kota dengan pengidap phubbing aka mata-melotot-sama-gadget-mulu-liatin-internet dengan populasi penderitanya sebanyak 3,9 juta jiwa. Sebagian besar dari mereka berasal dari kalangan anak muda. Orang Indonesia itu emang narsis. Mungkin cuman ane dan Nida, temen SMK ane yang sama-sama gak narsis, pengecualiannya. Dikit-dikit cekrek update persis kayak iklan Axis.

Bagi sebagian orang dikit-dikit update status itu lumrah. Tapi mereka tidak sadar setiap status yang mereka unggah itu akan menjadi fenomena gunung es yang akan membahayakan diri mereka di masa depan. Ini hanya tulisan pengantar jadi ane bakal jelasin lebih rinci di tulisan selanjutnya.

Sesuatu yang Gak Biasa Berawal dari Ide yang Biasa

Orang-orang dulu sering mengatai cerita ane aneh, absurd, dan gak nyambung. Seiring berjalannya waktu, ane bisa bikin anak orang nangis pake cerita. Ane gak bakal nulis panjang lebar. Ane cuman mau berbagi cara ane dapat ide terus eksekusi ide yang dibuat dalam tulisan.

Ide itu bertebaran di mana-mana. Melayang gitu aja di kepala ato bahkan di depan mata kita. Ngapain juga bertapa lama-lama buat cari ide? Pikirkan hal sederhana untuk mencari ide dalam menulis. Ane gak perlu ide fantastis untuk cerita yang ane buat. Cukup amati hal-hal sepele di sekitar kita dengan cermat, insya Allah ide pun bakal ketangkep. Sebuah pertanyaan retoris paling bodoh dan malu-maluin sekalipun bisa jadi ide yang brilian lho.

Kebanyakan orang-orang mikirin dulu jalan cerita baru eksekusi menulis. Dulu ane juga gitu namun sadar setelah baca modul daringnya Jonru (dan sayangnya kok gak nulis modul bermanfaat lagi kayak dulu T.T) dan buku On Writing yang jadi harta karun Perpustakaan Daerah. Sayang aja buku itu belum dicetak ulang jadi ane belum bisa simpen buat bahan latihan. Hal yang paling pertama muncul untuk menulis ya ide aja dulu terus eksekusi. Bodo amet tulisan masih jelek, acak adut, absurd, logic error, tabrak EYD sana-sini, dan ceritanya lebih gaje daripada Pasutri Gaje. Menulis aja dulu. Namanya juga masih pemula.

Bagaimana dengan ane? Cerita yang ane bikin kebanyakan idenya sederhana tapi eksekusinya malah ngaco. Pengaruh dari faktor lingkungan sekitar ane kali ye. Ane pernah denger dari kelas kepenulisan kalo tema yang sering muncul dalam tulisan kita itu gak bakalan jauh dari keseharian kita. Kehidupan ane gak jauh dari drama dan diselingi bumbu-bumbu komedi di tengah kegalauannya. Gak heran banyak cerita yang ane buat dieksekusi dengan kacau dan ujung-ujungnya jadi genre komedi. Padahal ane gak berniat bikin cerita komedi lho. Itu buat fiksi.

Soal nonfiksi ya liat aja tulisan ane di jurnal. Seperti kata iseng yang muncul di halaman awal jurnal ini, catatan ane yang ngelantur dan apa adanya. Sebenarnya sih nulis kayak gitu buat keren-kerenan doang. Biar gak kosong aja deskripsi situs di meta data. Kenyataannya ya tulisan ane emang beneran ngelantur dan gak dibuat-buat. Ane gak memaksakan diri kudu jadi penulis A, B, C, sampe Z yang memiliki gayanya sendiri. Ceritain aja yang pengen ane ceritain dengan apa adanya. Ada sih beberapa tulisan yang ane buat serius seperti tips. Itu pun ada risetnya dulu sebelum menulis. Pengalaman pribadi ye, nulis satu tulisan yang temanya serius dengan bahasa santai itu gak sehari beres kayak nulis cerpen ato curcol kayak gini. Bisa sampe seminggu ato bahkan sebulan lebih.

Ide bakal menguap gitu aja kalo gak ditangkep. Cara ane mengolah ide ya langsung nulis biar gak lupa. Buat permulaan sih bikin aja tulisan nonfiksi yang lebih gampang kayak curhat di buku harian *kids jaman now curhatnya di media sosial keles .-.* dalam buku catatan ato di blog ato di Tumblr ato di Wattpad, terserah kita mau ngapain aja. Ane sendiri lebih nyaman nulis di buku catatan sama laptop. Mau pake aplikasi pengolah kata sampe cara ekstrim dengan vi pun menulis kudu jalan terus. Buat tulisan yang pengen banget ane bagikan sama orang banyak, ane nulis di internet. Tulis apa aja ide yang ketangkep. Ide yang paling gampang untuk diolah itu ide yang ketangkep dari keseharian kita. Contohnya ide yang ane tangkep dari kebiasaan ane nonton film, serial televisi, dan anime.

Gimana kalo ide yang ketangkep itu buat cerita fiksi? Gak usah mikirin soal cerita yang cetar dulu. Bikin program yang kompleks itu dimulai dari hal-hal kecil seperti modul. Entah itu dalam bentuk fungsi atau prosedur sederhana atau mungkin “cuman nama” kayak di modul abstrak. Begitu pula dalam menulis. Bisa “cuman nama” dengan outline dan fungsi sederhana dengan satu alinea. Jadi kalo mentok bisa pindah ke bagian lain dan balik lagi pas udah agak sembuh dari writer’s block. Eksekusi setiap ide dari hal yang kecil. Kerjain semuanya sambil jalan aja. Karakter yang kompleks bisa dibentuk dari semua hal sederhana dari karakter tersebut yang dijelaskan dengan deskripsi dan aksi karakter dalam cerita. Kesalahan ane dalam menulis selama ini (dan termasuk hal lain) adalah menanti semua jadi “wow” dulu baru kerja. Padahal sebuah karya tulis itu dimulai dari sebuah kalimat sederhana.

Gimana kalo ide yang kita tangkap itu biasa aja malah comot kata si Juki sih sudah terlalu mainstream? Anggap aja kita tukang nasi kuning. Gak ada tukang nasi kuning di sekitar tempat tinggal, anggaplah pedagang makanan sarapan lain yang biasa ditemuin pagi-pagi. Berhubung ane orang Bandung ya pasti ngomong tukang nasi kuning yang biasa jualan pas pagi-pagi. Pedagangnya banyak makanannya sama tapi kok masih tetep laku ya? Jawabannya setiap pedagang pasti punya ciri khas. Ada yang memiliki ciri khas nasi pulen. Ada yang memiliki aroma rempah alami yang nendang dan menambah kelezatan makanan. Secara pribadi sih ane lebih suka makanan dengan rempah-rempah nendang dan rasa seimbang. Ada yang memiliki kelebihan di bahan tambahan nasi kuning. Bahkan ada yang memiliki kelebihan dalam bahan pelengkap nasi kuning seperti telur dadarnya.

Begitupun dalam menulis cerita fiksi. Gak usah minder dengan ide yang sama kayak banyak orang. Bedakan di eksekusi cerita. Hidupkan setiap karakter. Bangun latar dalam cerita agar lebih nyata. Hindari klise dan menulislah apa adanya sesuai kemampuan kita. Sebenarnya ada dua tulisan yang sedang ane buat. Tulisan pertama tentang occult detective yang ane lanjutin waktu sakit dan tulisan kedua tentang invasi kerajaan asing yang sengaja ane tunda untuk mencari referensi lawak yang pas ditambah fokus dengan tulisan pertama. Cerita dalam tulisan kedua ane idenya itu dari baca komik Wedding Peach. Ane langsung kebayang bikin cerita genre mahou shoujo dengan tokoh utama cewek itu jatuh cinta sama cowok yang sebenarnya villain dalam cerita. Biasanya tipikal cerita kayak gini muncul pas mau akhir cerita cuman ane balik polanya. Ane ceritain dari awal mereka itu pacaran tapi gak tahu identitas mereka satu sama lain. Mereka hanya tahu identitas masing-masing sebagai seorang sipil. Konflik utama dalam cerita sebenarnya sederhana. Mereka pengen kencan kayak pasangan kekasih normal tapi gagal mulu gara-gara invasi yang memaksa mereka balik lagi ke markas masing-masing. Awalnya sederhana bahkan terlalu pasaran tapi bisa jadi unik bergantung pada kreativitas dan cara kita untuk mengeksekusinya.

Cari ide itu gampang selama kita teliti dan mau menangkapnya. Masalah yang lagi kita hadapi sekarang pun bisa jadi sebuah ide menarik dan bisa kita tuangkan dalam tulisan. Gak usah mikirin ide kita bakal cetar membahenol terus bisa diterima khalayak ramai dulu. Selesaikan saja tulisannya dulu.

Masih gak ketemu ide juga? Kayaknya kebanyakan ngemil vetsin deh.

Lagunya Sama Tapi Audition yang Beda

Ada banyak versi Audition versi daring yang rilis di luar negeri. Lagunya sama tapi judulnya beda-beda tergantung pada negara tempat servernya berada. Padahal penyanyinya sama-sama Audition. Ada juga sih lagu K-Pop yang penyanyinya sama tapi judul beda padahal lagunya itu-itu juga. Cuman ya di dalam game ane baru nemu dikit.

Pertanyaannya, kok ane bisa tahu ya? Ane itu tukang main dengan lagu random jadi pengetahuan ane dari lagu di dalam game lebih banyak.

Sesuai dengan janji ane sebelumnya, ane bakal nulis tentang lagu yang serupa tapi gak sama. Berhubung sekarang lagi open beta Audition versi mobile, ane bakal bahas soal lagu yang penyanyinya sama tapi judulnya beda. Pembandingnya adalah Audition versi PC yang dirilis oleh publisher yang sama, Megaxus. Daftar lagu bisa berubah sesuai dengan patch terbaru.

NB:

Ternyata lebih gampang cari lagu BMS, osu, Guitar Hero, sama Cytus daripada lagu Audition di YouTube ._.

Jadi jangan kaget kalo gak banyak contoh dari YouTube yang bagus kayak ulasan ane di tulisan sebelumnya.

Emang main Audition lagi? Ane main versi mobile buat iseng. Ane emang gak suka ngasih informasi pribadi di dunia maya. Ane cuman mau ngasih petunjuk aja kalo mau main bareng. Nick ane itu salah satu judul lagu xi yang ada di Deemo dan nongol di BOF 2014. Buat apa ane nulis gini kalo ane gak main? :d

Yup, sebelum mulai mari kita gila-gilaan!

^ singkatnya ini lagu Norazo – Curry, 162 BPM. Orang lain bilang ane kelewat sengklek gara-gara sering muterin lagu ini.

Urutan dari daftar lagu gak berdasarkan BPM. Urutan berdasarkan lagu pertama yang ane temuin di Audition Mobile. Buat judul ane ambil judul lagu yang ada di versi PC. Biar ngeh aja gitu :3

Audition – Sweetie (115 BPM)

Lagu yang satu ini sering banget muncul di mode story mau di versi PC ato versi mobile. Satu hal yang terkenal dari lagu ini adalah jangan harap bisa chain PF tinggi dengan mudah. Yup, lagu ini merupakan salah satu lagu yang dikenal susah perfect di versi PC. Sebangsa dengan 1,2 Fiesta dan kawan-kawannya.

Judul lagu di Audition Mobile? Audition – Sweety. Masih setia dengan 115 BPM dan lebih panen perfect daripada versi PC. Mungkin karena gak ada faktor tambahan seperti delay di keyboard yang bikin gagal PF kali ye.

Audition – Destiny (132 BPM)

Buat yang doyan sparring beat up, lagu ini gak pernah absen dari daftar tantangan. Biasanya mereka sering main lagu ini, 3245 Techno Party, Rally, Can Can, With You, dan masih banyak lagi yang ane lupa. Udah lama gak main bareng temen ane yang jago beat up sih. Abisnya mereka udah pada pensi jadi ane gak bisa berguru lagi sama mereka 😦

Bagi ane, ini adalah lagu ngenes. Ini adalah lagu yang paling tinggi rasio gagalnya sewaktu main story mode. Makanya ngenes setengah mampus sama lagu ini.

^ ini bukan ane yang rekam, punya orang terus ane bagiin dari YouTube.

Judul di Audition Mobile? Audition – Fate. Masih tetap 132 BPM dan ane nemu lagu ini pas lagi latihan.

TaeHa – Your Name is Common (84 BPM)

Ane emang gak jago main mode gitar. Ane cuman seneng lagu-lagunya.

Lagu ini memang ditemukan dalam mode gitar namun tidak selalu kudu main gitar biar bisa denger lagu ini. Lagu ini ada kok di mode normal.

^ ane nemu video ini di official channel milik Candra. Sayangnya situs Candrabeqx malah kena internet positif ._.

Judul lagu di Audition Mobile? Tae-Ha – Because Your Name is Too Common. Masih dengan 84 BPM.

Audition – Syabanghae (140 BPM)

Jika sebelumnya masih mudah ditemukan, sekarang yang berbeda. Jujur aja ane bingung dengan nama dari lagu ini di Audition Mobile. Mungkin bingung karena pas cari di YouTube gak nemu kali ye.

^ ini aja dapet sumber audio dari pemain Audition Latino. Di sana judulnya jadi Dazzle.

Judul lagu di Audition Mobile? Audition – Dazling (?). Ane pikir pihak publisher emang typo kali ye. Barangkali nulis Dazzling lupa satu “z” gara-gara diganjel buat main gitar. Berbeda dari lagu sebelumnya yang masih dengan BPM sama, lagu ini muncul dengan BPM setengah dari aslinya. Lagunya 70 BPM dan ane masih gak nyaman karena udah biasa dengan versi 140 BPM. Beda selera kali ye.

Audition – It Rains on a Moving Train (82 BPM/164 BPM)

Jika sebelumnya ada lagu yang BPM-nya malah berkurang jadi setengahnya, di Audition Mobile ada lagu yang memiliki dua BPM sekaligus. Kayak versi PC sih cuman ada bedanya. Bedanya ada lagu mode gitar sama mode ballroom di sana. Udah gitu lagu Love Mode yang bikin sakit jari pun ada versi easy-nya. Jadi bisa main lagu Love Mode tanpa harus berniat sparring. Eh lagu suram macam Gloomy March pun ada versi hard-nya. Lagu itu gak cocok deh buat tempo cepat. Toh versi aslinya, Triumphal March, lebih cocok dengan tempo lebih lambat.

^ sumber lagi-lagi dari Audition Latino. Orang sana ternyata pada seneng bikin video tentang Audi.

Judul lagu di Audition Mobile? Audition – The Train that Runs on the Sea When It Rains. Baik easy maupun hard, BPM masih sama kayak di PC.

Audition – Well, You Know (120 BPM)

Memang sih lagu ini gak sekacau lagu Adios, Curry, Dental, apalagi Diet. Keempat lagu itu sering jadi bahan karaoke ngawur tiap kali ane main. Cuman lagu paling parah itu Diet. Hasil karaoke ngawur dari lirik asal dengernya malah berujung ke … NSFW. Intinya ngomong jorok dan temen-temen deket ane syok pas liat karaoke ngasal dari lagu itu.

Sebenarnya lagu ini juga konyol. Ane cuman ingetnya lagu “gehu bala-bala” soalnya lirik lagu ini kedengeran di telinga ane jadi gitu. Jadi pengen bala-bala panas pake céngék terus nasi, yum. Lagu ini sering muncul di battle party daripada mode story.

^ tumben sumbernya bukan dari Audition Latino. Sumbernya dari pemain Audition Redbana di Amerika.

Judul lagu ini di Audition Mobile? Audition – No Words Needed. Masih tetap dengan 120 BPM dan depannya masih konyol.

Audition – Sneak (120 BPM)

Ane inget zaman ane masih SMK dulu. Waktu itu sih masih aktif main Audi dan nemu kecengan yang satu warnet. Ane inget dia itu anak club Premiere dan sering liat di acara cosplay. Dia emang anak cosplay juga kok. Orangnya item manis juga. Lho kok malah ngomongin soal kecengan? *gubrak*

Pas zaman SMK, ane lagi aktif di Audi. Ane belum ketemu orang-orang gila macam Aril, Obi, Ajat, Aduy, Bu Fitri, Wisnu, Sandi, Lia, dll. Ane masih pemain cupu yang masih weeaboo terindikasi chuunibyou. Ane tidak bermaksud pun toh faktanya seperti itu. Ane sering banget jajal story dengan alasan yang konyol: cuman pengen liat ada logo warna biru (sebenarnya sih lebih ke cyan) di atas nama ane. Warna favorit ane emang item, biru, dan warna-warna netral seperti coklat. Udah gitu ane cuman berhenti sampe story 1-2 Party. Ane emang seneng banget main mode itu biar gak jago amat. Alasan yang konyol emang.

Masalahnya, cari orang buat bantuin story yang misinya keroyokan itu gak mudah. Jauh lebih susah daripada cari orang buat main club dance. Pada masa itu emang room club dance jadi primadona. Gak kayak sekarang yang … yah tahu sendiri lah. Saking gak sabarnya main story, orang-orang pada masa itu sering mainin lagu dengan durasi cepat. Makanya ane bisa hafal lagu-lagu berdurasi cepat (sebagiannya sih udah jadi hidden dan mulai lupa-lupa inget). Salah satunya adalah Sneak. Untung aja dulu masih bisa bug story yang misinya keroyokan. Soalnya susah banget cari orang yang mau bantuin, gak songong, dan tentunya gak nantangin pasang cheat buat gagalin story anak orang.

Untungnya di Audition Mobile gak ada story dengan misi keroyokan. Sekedar info aja, di Audition Mobile lagu ini judulnya Secretly. Masih dengan 120 BPM dan durasi < 3 menit pas dimainin.

Audition – Will Be Good To You (140 BPM)

Ini adalah salah satu lagu favoritnya si Rifnun. Kalo pengen kepoin adik yang juga partner-in-crime ane di Audition Mobile, nick-nya Mieshaa. Kok malah promosiin nick orang daripada nick sendiri? Biarlah ane menjadi anonim yang tukang promosiin orang di dunia maya :v

Sebenarnya lagu ini punya dua versi di Audition. Ada versi yang dinyanyikan oleh Audition dan satu lagi yang dinyanyikan Woon2ne.

^ yeay, akhirnya satu MV kualitas baik. Eh ceweknya kok mirip sama Shareena Delon pemain FTV itu ya?

Kedua versi dari lagu itu si Rifnun demen jadi ane gak perlu cari yang satunya. Lagian BPM-nya juga sama. Judul di Audition Mobile? Audition – I Will Do My Best. Sayangnya gak ada versi Woon2ne di sana.

Audition – How To Say (130 BPM)

Sejauh ini baru nemu lagu galau yang penyanyinya Audition. Ini lagu favorit dari temen ane. Ane juga tahu lagu ini dari dia.

Biasanya orang-orang main room couple aka biro jodoh sering pake lagu yang temponya lambat ato lagu galau. Lagu ini bisa buat referensi untuk mojok bareng couple ato sekedar cari jodoh.

^ rejeki nomplok! Ada karaokenya. Selamat bergalau ria~

Judul lagu ini di Audition Mobile? Audition – How Should I Say It dengan BPM masih 130.

Audition – You Are My Everything (100 BPM)

Bicara soal lagu referensi untuk mojok-mojokan ria, ane punya satu lagu lagi buat mojok. Biasanya lagu ini muncul pas mode lisence sama battle party di Audition versi PC. Kalo di Audition Mobile sih ini lagu story. Berhubung lagu Audition Mobile masih dikit, gak ada salahnya ‘kan buat dicoba.

Ini salah satu lagu favorit ane buat panen perfect. Lagunya yang agak lama lumayan buat story dengan misi kejar perfect.

Judul lagu di Audition Mobile? Audition – One Step dengan 100 BPM.

Ya mungkin cuman segini hasil eksplorasi ane dari Audition Mobile. Berhubung lagunya terbatas dan biar ngirit kata juga sih, tulisan ini cukup sampai di sini. Mungkin kalo ada tambahan lagu lain dari patch baru bisa jadi ane tambahin. Mumpung masih open beta, apa salahnya buat memaksimalkan semua fitur yang ada sebelum orang lain? :d