Cerita Anak Magang

Sebenarnya tulisan ini masih nyambung sama tulisan yang kemarin. Intinya curhat tentang pentingnya dokumentasi.

Dokumentasi dalam apapun bidang yang kita geluti itu sangat berguna. Terlebih bagi orang lain yang akan meneruskan jalannya sebuah sistem, memelihara suatu hal, atau mempelajari hal/sistem tersebut.

Rasanya ane menelan liur sendiri yang bilang ogah kerja. Ini kali kedua di tahun ini dengan alasan klasik juga … modal habis untuk dagang. Setelah bergulat dengan neraca minus hampir tiga bulan belakangan ini, modal ane untuk dagang habis. Wayahna ane kerja pun buat modal dagang lagi (ditambah main SDVX, alasan absurd penulis lainnya). Tulisan ini sebenarnya pengalaman pribadi ane sebagai anak magang di salah satu perusahaan tepat hari pertama bekerja.

Jujur aja ane masih rada ngantuk soalnya masih capek. Ini aja nulis pas bangun tidur.

Admin. Pekerjaan klasik dengan klasifikasi pendidikan minimal SMA. Selalu dibutuhkan di bidang apapun ranah pekerjaan yang kita geluti. Pekerjaan admin itu sebenarnya sederhana: memastikan sistem berjalan dengan seharusnya dengan melakukan proses pengawasan pada suatu bidang.

Contohnya bidang produksi makanan. Kita harus hitung modal, bahan baku, dan persediaan di gudang sebelum kita mulai produksi makanan untuk kita jual di pasar. Kalo gak ada proses administrasi, kita gak bakal tahu produktivitas harian, jumlah stok bahan yang tersisa, pemasukan dan pengeluaran, juga tahu proyeksi keuntungan kita ke depannya. Kok contohnya gini ya? Pengalaman pribadi dagang sih.

Kemaren ane magang sebagai admin. Lagi-lagi dengan komputer, tanpa Scrivener, dan kudu muter-muter. Bukan muter-muter otak buat sinkronisasi desain karakter sama naskah apalagi biar tulisannya ada rima. Muter-muter di sini ya ane bolak-balik cek gudang sama pembukuan karena laporannya bermasalah.

Hari itu ane merasa mata kuliah Proyek dan dosen rewel (malah cenderung “saklek”) soal tracing kode itu ada gunanya … kudos buat ceramah Steve Jobs yang pernah ane tonton pas mata kuliah Proyek!

Apa hubungannya tracing dan laporan? Semua bermula dari menyisir masalah. Ane berulang kali dimarahi bos gara-gara tiga hal.

Pertama, short term memory ane payah. Bosnya greget pas tahu anak buahnya rada-rada pelupa.

Kedua, info dumping. Pantesan hal ini hukumnya haram di dunia kepenulisan. Info dumping itu adanya bikin pusing orang. Bayangin aja banyak informasi masuk sekaligus lalu diproses dalam waktu singkat. Adanya keblinger iya, mabok iya, dan gampang lupa iya.

Bos ane jelasin semua tentang cara kerja administrasi perusahaan sekaligus dalam waktu 5 menit. Oke. Rasanya kepala ane pengar dan butuh es batu satu baskom.

Ketiga, laporan salah mulu. Dua hal emang murni faktor kedodolan ane (faktor 1 dan 3). Mungkin karena ane gak biasa dengan sistemnya dan … pembukuan sebelumnya salah total. Minus dokumentasi jelas yang menerangkan “oh itu harusnya gini” dan “panduannya di sini”.

Administrasi itu salah satu bagian vital dalam pemeliharaan sistem. Jangankan soal ngurusin bisnis orang. Urusin komputer sendiri aja bingung kalo gak ada catatan yang jelas. Itu sebabnya dokumentasi sangat dibutuhkan. Biar apa? Ada perubahan pun orang baru masih bisa mengikuti.

Jangan kayak kasus ane kemaren.

Ane cek buku besar terus periksa barang ke gudang. Ada beberapa barang yang datanya tidak sinkron dengan sistem. Berasa ketemu error null pointer exception dah. Deklarasi variabelnya apa eh eksekusinya … tepok jidat. Ane juga bosen kena omel si bos mulu tau!

Saat itulah naluri tracing mendadak muncul. Cek biang kerok dari modul A … eh salah. Catatan laporan hari ini yang kena semprit bos. Periksa variabel x … eh tanggal kemaren. Cek alamat yang ditunjuk sama pointer sekaligus pointer-nya … eh item dari gudang sama laporan bulan kemaren deng. Ini ngoding ato benerin laporan sih? *tepok jidat*

Dokumentasi itu harus mencatat setiap perubahan sistem. Itu sebabnya dalam program pun ada yang namanya log. Sebuah catatan yang merekam perubahan sistem dalam kurun waktu tertentu. Kesalahan fatal yang ane temukan dan bikin waktu sangat gak produktif di kantor itu adalah masalah pembukuan yang tidak konsisten.

Memperbaiki isi variabel itu jauh lebih mudah daripada harus ganti variabel. Itu bisa mengacaukan sistem dan pengguna pemula jika tidak ada perubahan yang tercatat jelas. Alasannya ya dua-duanya bingung. Ini maksudnya apa sih? Pikir mereka selagi membaca data dari sistem.

Kesalahan paling fatal dari pembukuan oleh admin sebelumnya adalah inkonsistensi dan tidak ada catatan yang jelas tentang perubahan dalam sistem. Itu yang bikin bos mesem-mesem pengen nimpuk pas liat anak magangnya mabok lem selagi bikin laporan.

Hal yang bisa ane pelajari dari kejadian kemaren.

Pertama, deklarasi variabel … eh nama item deng. Data dalam pembukuan harus konsisten dengan data dalam sistem. Berhubung sistem di kantor masih manual, gak ada “komputer galak” yang bakal “cerewet” gara-gara salah masukin data! Mau gak mau ya kudu buat laporan lagi dari awal. Itu membuang waktu banget dan gak produktif.

Solusi ane saat itu: balik lagi ke gudang, cek nama satu persatu item sesuai nama yang ada di gudang. Kalo bos ngamuk lagi, ane bakal bilang, “Datanya di laporan udah disamain sama di gudang biar gak bingung!”

Kedua, biar short term memory payah dan ceroboh sekalipun ya kudu catet lah. Ingat. Dokumentasi yang kita buat itu bisa jadi penolong orang lain yang bakal menggantikan posisi kita di perusahaan kelak. Gara-gara itu, ane tidur selama dua jam di kantor saking gak tahu kudu ngapain sama gak ada petunjuk buat tugas hari ini.

Ketiga, ngoding ato gak ya tracing kudu jalan terus. Kalo kita salah pembukuan dari awal, kita bakal ngerepotin admin selanjutnya. Lebih buruk lagi: kerugian terselubung bagi perusahaan. Itu sebabnya ada lelucon berkaitan tentang akuntansi.

Salah satu digit, udah kelar satu perusahaan!

Bayangin saja kalo kita kerja di perusahaan besar multinasional. Kurs dolar 15k tuh. Misal kita beli barang impor untuk kebutuhan produksi terus salah catet. Berapa banyak duit perusahaan yang hilang gitu aja? Jual ginjal aja belum tentu bisa nutupin kerugian perusahaan lho.

Itu sebabnya pekerjaan jadi admin dan akuntan itu berat. Biar kata tamatan SMA/SMK/Aliyah juga. Tapi gak nyuruh jokiin sama Dilan buat ngerjain tugas. Adanya Dilan yang digaji eh kita yang dipecat *gubrak*. Hal yang bikin berat itu sebenarnya ketelitian dan kejujuran. Tanpa dua hal itu, karir dan reputasi kita bisa tamat.

Itu sebabnya ane lebih seneng bisnis punya sendiri. Tanggung jawab kerja di orang jauh lebih berat daripada tanggung jawab di unit usaha yang kita rintis sendiri.

*ya masalahnya modal belum ada lanjut bisnisnya gimana, Neng?*

Okelah segini curhat panjang lebar kali … gak tinggi juga sih. Soalnya masalahnya lebih condong jadi poligon daripada bangun datar biasa. Bentar. Perasaan poligon itu sepeda deh. Lupakan saja pun ane yang absurd dan garing itu.

Merasa tulisan ini gak berguna? Bisa kok didaur ulang jadi ASCII art. Soalnya di Bandung kebanyakan bungkus gorengan dari nilai UN jeblok kok.

Iklan

Dokumentasi itu Sulit

Ane inget waktu kuliah dulu. Kakak tingkat ane nanya soal menulis. Saat itu ane bilang gini,

Lebih gampang nulis cerpen daripada dokumentasi.

Ane

Cerpen itu sulit. Kudu cek koherensi antarparagraf untuk menghindari “gak nyambung” alias plot hole. Kudu susun karakter sama latar yang jelas. Selain itu kudu memoles kalimat yang tepat biar efeknya lebih jleb di benak pembaca. Tapi menulis dokumentasi … rasanya jauh lebih sulit.

Dokumentasi itu beda tipis dengan artikel. Kudu punya pengetahuan yang cukup atau riset mendalam sebelum menulis. Belum termasuk tanggung jawab moral dan pemilihan diksi yang kita gunakan pun lebih selektif daripada menulis cerpen.

Kenapa tiba-tiba kepikiran soal dokumentasi? Sebenarnya pengalaman pribadi instal Linux yang justru menyentil ane lagi dalam membuat sebuah tulisan.

Salah satu kelemahan terbesar dalam dunia pemrograman adalah dokumentasi. Beberapa waktu silam sempat ramai meme di 1CAK soal deretan skripsi yang runtuh di tong sampah. Di antaranya jelas ada skripsi dari jurusan Komputer/Informatika yang mengandung dokumentasi dari program yang mereka buat.

Setiap program pasti membutuhkan sebuah dokumentasi. Tujuannya pun sederhana: mempermudah pemeliharaan sistem. Pengembang program dan tester bisa tahu bagian yang perlu mereka periksa dari dokumentasi. Lebih menghemat waktu daripada harus menelisik baris demi baris kode. Pengguna bisa tersenyum lebar melihat program kesayangannya berjalan dengan baik. Lagi-lagi berkat dokumentasi.

Dokumentasi pun ada dua jenis. Ada yang bersifat seperti panduan. Contohnya panduan penggunaan motor yang kita dapatkan setelah membeli motor dari dealer. Ada juga dokumentasi yang “tidak tertulis”. Pernahkah kita arahkan pointer (atau penunjuk dengan tanda panah di layar komputer) di atas sebuah gambar/tautan di internet lalu muncul sebuah tulisan kecil di bawahnya? Atau pernah kita main game dengan panduan karakter imut yang membantu kita menyelesaikan misi? Itu adalah contoh bentuk dokumentasi yang “tidak tertulis”.

Salah satu dokumentasi terbaik yang pernah ada adalah resep masakan. Tahapannya jelas, mudah dipahami, dan bisa membimbing orang yang tidak ada keahlian memasak sama sekali. Bahkan bisa membimbing orang asing dari belahan dunia berbeda tanpa harus ke tempat asal resep itu. Contohnya orang Bandung membuat canja de galinha di dapurnya.

Kita tidak perlu tahu soal julienne, mirepoix, tangzhong, aquafaba, atau istilah-istilah lain dalam dunia kuliner. Lakukan saja sesuai dengan takaran dan tahap-tahap yang ada. Berhasil atau gagal, itu tergantung cara kita mengikuti setiap tahapnya. Toh teknik memasak dan pembendaharaan istilah tersebut akan bertambah seiring berjalannya waktu.

Dokumentasi boleh abstrak. Abstrak pun harus dalam kalimat sesederhana pola S-P atau S-P-O. Tetap mendorong kita untuk berpikir tanpa harus menghilangkan hal-hal teknis. Contoh abstraksi yang baik layaknya ayat-ayat Al Qur’an dan tulisan karya Ernest Hemingway. Tuliskan inti dari pikiran yang kita sampaikan dalam bahasa sederhana. Hal yang bisa kita pelajari dari keduanya.

Bagian tersulit dari menulis bukanlah menuangkan kata-kata di atas tulisan. Bukan pula memainkan diksi lalu membentuk sebuah kalimat menjadi indah dibaca. Kesulitan terbesar dalam membuat dokumentasi: agar orang lain bisa paham maksud kita tentang suatu hal. Itu sebabnya hal ini bisa menjadi bahan ujian calon pegawai bagian penjualan Apple. Menjelaskan sesuatu yang kita pahami agar orang lain juga paham itu tidak mudah. Terlebih bila menjelaskan hal itu di mata orang awam.

Tidak semua orang itu seperti Hemingway. Tidak semua orang bisa dan mau membuat dokumentasi yang baik. Dokumentasi yang baik akan membantu kita menyelesaikan masalah. Sebaliknya, buruknya dokumentasi justru akan mendorong kita ke dalam lembah masalah.

Duh kesentil lagi deh. Kenapa sih nulis yang kayak gini mulu berasa kena serangan balik? ._.

Contoh menarik yang bisa kita pelajari tentang dokumentasi adalah dokumentasi tentang Linux. Apa ada dokumentasi yang jelas dan mudah dipahami bagi orang awam? Bahkan man (perintah berisi dokumentasi) sekalipun kadang terlalu teknis.

Beruntunglah kita masih punya koneksi internet. Kita bisa lihat dokumentasi ramah pemula seperti Wiki. Bila tidak ada koneksi internet, itu bisa jadi masalah. Tidak banyak buku di luar sana (baca: perpustakaan lokal, Gramedia, dan toko buku kesayangan lain) yang menyediakan buku Linux ramah pemula. Jangankan untuk buku tentang Linux. Buku tentang Windows yang beredar di pasaran pun isinya tidak jauh beda dari trik-trik pemula di internet.

Bagaimana cara menulis dokumentasi yang baik? Ane pun gak bisa bicara banyak. Mending baca Writers Digest. Kalo niat pun kuliah jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia sekalian. Itu untuk memperbaiki cara kita menulis dalam bahasa Indonesia bukan bahasa Java (dan maksudnya pun), C, Parseltongue, apalagi Sindarin.

Hal yang bisa ane pelajari dari menulis panjang lebar tanpa tinggi ini ya gini. Kalo kita pengen jadi penulis yang baik, banyak praktik menulis. Semakin tinggi jam terbang kita dalam menulis, semakin refleks cara kita dalam menyusun kalimat. Hal itu sangat terasa dalam menulis apapun termasuk dokumentasi. Itu pun dengan syarat. Kita kudu menulis sambil mempraktikkan hal yang kita pelajari dari teori menulis. Toh seperti kata para penulis terkenal.

Menulis itu tidak lepas dari membaca (dan belajar).

Apapun pekerjaan yang kita lakukan, jangan lupa menulis dokumentasi. Dokumentasi bisa menjadi panduan, teman bagi kita untuk bertanya, bacaan yang kaya untuk kita lebih mempelajari suatu hal secara gratis, dan pengontrol kualitas.

Terlalu panjang dan rada bolak-balik dekok ya? Iya. Soalnya ane masih belajar soal ini. Ya cuman ini yang bisa ane obrolin. Pengingat buat diri sendiri juga sih biar nulis gak seenak jidat. Intinya dokumentasi yang baik itu kudu …

Bahasa sederhana dan komunikatif. Biar orang lain yang tidak punya latar belakang teknis pun paham cara menggunakannya dan mempermudah pemeliharaan.

Lengkap dan menyeluruh. Menjelaskan semua hal berkaitan dengan cara kerja suatu benda. Tidak apa-apa hanya menjelaskan deskripsi singkat dari suatu hal. Selama semua bagian memiliki catatannya sendiri disertai contoh yang mudah dipahami, pengguna tidak akan kesulitan untuk menggunakan suatu benda.

Tidak membodohi. Maksudnya gini. Tahu walkthrough alias panduan buat main game ‘kan? Panduannya kadang memberitahu pemain (khususnya pemain pemula)  hal remeh yang sebenarnya pemain pun bisa memutuskannya sendiri. Misalnya ada peti harta di tengah jalan terus pembuatnya bilang “ambil itu!”. Justru hal yang semacam itu tidak bagus. Sama saja dengan kita membiarkan mereka tidak bisa menelaah setiap informasi yang ada.

Mudah untuk ditemukan. Contohnya karakter imut yang memandu kita selama bermain game. Dokumentasi yang baik selalu disimpan di tempat strategis. Bukan di titik buta dari pandangan seseorang apalagi di gudang. Jadi bila kita mengalami kendala, dokumentasi selalu siap membantu mencerahkan pikiran kita yang kusut.

Mungkin segini aja sih cerita panjang lebar kali tinggi soal dokumentasi. Ane juga kudu belajar lagi soal menulis biar lebih banyak orang yang merasakan manfaat dari tulisannya. Gak cuman jadi bungkus gorengan yang untungin tukang gorengan apalagi penjual plastik di pasar. Udah ah, belajar lagi.

Ada yang pengen didiskusiin rame-rame? Tinggalkan jejaknya yang sopan di kolom komentar ya :3

NaNoWriMo: Target Masih Setengah Jalan

Ekspektasi: tahun ini novelnya kelar.

Realita: baru setengah jalan. *gubrak*

Akhirnya tiap malam kejar target pun ada hasilnya. Bikin outline udah tapi eksekusi setengah jalan. Semakin ane nulis, ane nyadar banyak plot hole dari naskah asli yang rencananya dari NaNoWriMo 2017. Waktu mo ikut keburu sakit. Ane pikir kagak ada orang Indo di sonoh. Makanya ane undur penyelesaiannya tahun ini. Tahun kemaren buat godok karakter sama latarnya.

Akhirnya … jengjeng!

nanowrimo-sertificate-ane
yeah, yippie! *dengan gaya kurcaci Harvest Moon dikasih hadiah*

Nama di sertifikat itu sebenarnya nama pena ane yang mulanya dari pseudonym tiap kali daftar akun game online. Pika emang nama panggilan ane dari kecil kok. Judulnya pun gak niat. Itu sebenarnya nama file asli di Word. Saking gak ada ide terus kebetulan Winamp setel lagu ini …

… jadilah judulnya begono. Pas ditanya judulnya di situs NaNoWriMo, ane tulis aja nama file aslinya saking gak ada ide. Padahal masalah ceritanya bermula dari ingatan yang nongol gitu aja di depan mata.

NaNoWriMo itu emang rada … capek dan butuh konsentrasi. Apalagi pas kemaren kemakan tiga hari buat benerin laptop doang. (instal ulang, baterai, atur jaringan, dll) Satu hari emang gak nulis sama sekali gara-gara sakit. Tapi ada hikmahnya buat temen-temen yang pengen ikutan ini.

Kalo yang ane rasain sih, kita jadi ngehargain setiap waktu dan kata. Inget kata. Kejar target aja dulu baru kualitas dan penyuntingan cerita belakangan. Soalnya kalo kita nulis sambil edit, kapan kelarnya? Mana target 50k kata di depan mata pula. Waktu cuman sebulan (itu pun jika masih diberi kesempatan sama Tuhan dengan kondisi sehat wal afiat). Stres emang kayak nugas sama nyusun skripsi/TA. Bedanya ini bisa jadi lebih menyenangkan bila ketemu timing-nya.

Lakukan saja mumpung masih ada kesempatan. Kalo kita mengulur waktu, kita mungkin bakal kehilangan flow-nya. Itu bukan kata ane. Ane kutip dari salah satu kalimat Mathiu Silveberg waktu di Floating Fortress. Tips itu berlaku banget dalam proses menulis selagi NaNoWriMo. Soalnya pas kita dapet timing yang tepat, kita bisa terbawa arus cerita. Nulis lancar terus tau-tau target udah kelewat.

Gimana cara ketemu flow? Tetap menulis. Bodo amet biar lagi kondisi mandeg terus tulisannya ancur. Toh habis tulisan ancur dan mandeg itu kadang berujung pada flow yang bikin kita lupa nulis. Ingat: NaNoWriMo itu ditarget.

Berhubung ane itu tipe orang yang rada alergi dengan kata deadline, ada cara lain buat memaksa menulis di bawah tekanan. Tips ini berlaku juga buat temen-temen yang lagi nugas.

Ane biasa nulis pake timer. Ane sering banget pake teknik Pomodoro buat menyelesaikan tulisan. Butuh penjelasan singkatnya? Nah ini dia penjelasan beserta sedikit curhatan ane tentang manfaatnya. Itu hal yang pertama kali ane cari pas instal ulang Linux. Soalnya kalo gak dibatesin pake timer, ane gak bakalan tahu produktivitas kata tiap jam. Itu penting banget buat alokasi waktu sama prediksi target menulis setiap harinya. Jadi waktu gak kebuang percuma.

Misal, per satu Pomodoro (satu Pomodoro = 25 menit) tulisan yang ane buat itu rata-rata 350 kata. Berarti per satu siklus (= 4 Pomodoro) itu ane bisa menulis sebanyak 1400 kata. Buat menyelesaikan target NaNoWriMo (50k kata) tepat waktu itu kita kudu menulis rata-rata 1,6k kata per hari.

Kalo kita pengen lebih cepet kejar target, berarti perbaiki produktivitas menulis kita. Biar kita sibuk pun nulis tetep jalan terus dalam waktu terbatas. Caranya bisa macem-macem.

Misalnya bikin contekan desain karakter. Gak masalah kok kita bikin desain karakter ato worldbuilding duluan. Justru itu disaranin banget biar waktu menulis kita di bulan November lebih produktif.

Mau jadi typing ninja juga sangat-sangat-sangat boleh. Banyak kok aplikasi yang khusus untuk mengasah kemampuan mengetik kita. Contohnya game TyperShark. Ato gak ya minta tolong sama temen/sodara yang pinter ngetik (khususnya yang punya latar belakang jurusan dengan embel-embel “administrasi”, itu ada satu pelajaran/matkul khusus buat belajar ngetik!) buat ngajarin kita.

Tendang aja setan namanya “edit di tengah jalan” dari proses menulis kita. Gara-gara setan ntuh tulisan ane berkurang hampir 2k dari total seharusnya. Terakhir nulis buat verifikasi NaNoWriMo itu sebanyak 50.649 kata. Berapa banyak waktu yang kebuang percuma gara-gara “edit di tengah jalan”?

Apa novelnya belum beres? Masih jauh dari kata beres. NaNoWriMo itu sebenarnya kawah Candradimuka kita buat latihan menulis dan menuntaskannya. Sekalinya kita puas dengan pencapaian kita …

Rasanya pengen ketawa ala-ala Kefka gitu.

Udah ah istirahat dulu ngetiknya. Lanjut main FF VI dulu. Besok baru nulis lagi.

NB:

Sesuai janji, ane tambahin tautan ke tulisan tentang Pomodoro. Semoga sukses dengan menulisnya ya :3

Curhatan Pake Linux

Tumben baru nongol lagi. Ke mana aja? Sebenarnya ada tiga alasan ane jarang nulis di sini.

Pertama, neraca pemasukan masih minus. Kemaren udah ngobrol sama Ua soal dagangan dan masih aja belum ada perkembangan. Jadilah ane irit-irit pake internet.

Kedua, ane lagi kejar target NaNoWriMo. Sebenarnya ada satu novel yang belum ane kelarin dari November tahun kemaren. Harusnya keitung NaNoWriMo 2017 tapi molor jadi 2018. Soalnya waktu itu ane gak serius. Novel itu sebenarnya ane bikin bukan untuk publikasi. Itu buat hibur diri sendiri yang jenuh kudu bed rest di seharian penuh gara-gara sakit parah ditambah depresi kambuh lagi. Eh tahunya keasyikan nulis.

Ketiga, ini paling penting. Laptop ane rada bermasalah sejak instal ulang. Ane iseng instal ulang pake Linux. Ini emang curhat yang isinya bahas pengalaman ane pake Linux di mata pengguna biasa yang masih dikit-dikit nyontek pake man sama nanya si mbah.

Kenapa Pake Linux?

Alasan ini bisa klise tergantung orang yang jawab. Kalo alasan ane sih: gara-gara kesel main FF VI grafisnya patah-patah! Puas?

Hah? Main FF doang kok ujung-ujungnya pasang Linux? *gagal paham*

Belakangan ini ane lagi demen main game PS lawas. Berhubung PS ane rusak ya kudu pake emulator. Biasanya sih main di HP. Kebetulan HP ane rada masalah jadi pindahin data ke laptop. Ane pikir masalah berakhir, tahunya lebih parah.

Ternyata driver VGA yang ane pake itu bermasalah soalnya seri lama. Sialnya lagi, driver terbarunya udah gak support di Windows 8.1 *hem* dan kudu upgrade ke 10. Pantesan gak bisa main PUBG.

Kok bisa ujung-ujungnya jadi Linux sih? Gara-gara masalah di patch Windows 10 versi Oktober 2018. Asalnya mo ganti 10, cuman ya pas ane mo benerin laptop tuh lagi rame kasus itu. Gimana ntar ane lanjutin NaNoWriMo kalo data ngilang abis update kelar? Belum lagi novel di Wattpad yang istirahat dulu. Backup di laptop lama (aka si Turion) pun itu jauh banget.

Okelah. Ane iseng pake Linux. Titik. Emang sih masih ada masalah cuman itu … bawaan pabrik. Kenapa kudu seri laptop ane yang masuk daftar korban bug gara-gara update BIOS Lenovo? ._. (versi update terakhir pas lagi ane nulis itu 2015)

NB:

Untungnya masalah laptop ane semenjak instal Linux tuh cuman gak bisa sleep tiap nutup layar laptop. Gak parah banget kayak seri Lenovo korban lainnya. Dulu pas masih dual-boot gak masalah deh. Kayaknya masalahnya baru kelar kalo Lenovo update BIOS lagi. Jadi kalo mau instal Linux tapi pake laptop Lenovo, mikir dua kali sebelum jadi masalah.

Pertimbangan Sebelum Instal

Kenapa ane tekenin ini? Soalnya distro aka variasi Linux itu banyak banget! Lebih banyak daripada personel JKT48. Bingung ya? Sama. Beda kayak Windows, Mac OS, ato turunannya BSD yang keitung jari. Banyak jenisnya pun gak kayak Indomie di etalase toko yang bisa kita makan sesuai selera. Beda distro beda segmen sama fungsinya lho. Masih bingung juga? Selama ada internet, majalah komputer, sama orang terdekat yang lebih ngerti soal Linux ya gak masalah.

Nah, gimana kalo kita pengen instal ulang Linux tapi masih awam cara menjinakkan “si penguin yang terbuang dari Madagascar itu”? Ada beberapa distro yang segmentasinya khusus untuk pengguna biasa aka orang awam. Contohnya Linux Mint, Ubuntu, sama elementary.

Kalo ada yang suruh instal Gentoo, abaikan saja. Gentoo itu bukan untuk pemula.

pengguna Linux veteran di salah satu forum

Gimana dengan ane? Kalo ane sih masih tetep pake Ubuntu versi LTS. Soalnya Linux itu dikit-dikit update dan … duit ane terbatas buat beli kuota. Selain itu dengan adanya fitur LTS, kita masih bisa dapet update sampe 5 tahun ke depan. Sejauh ini ane baru tahu distro buat pengguna biasa yang update-nya jangka panjang kayak Ubuntu sama Fedora. Jadi ya buat tim irit kuota gak harus dikit-dikit update apalagi unduh ISO buat instal ulang tiap ada update OS terbaru.

Selain itu, kita juga kudu tahu tipe dari komputer kita. Gampangnya gini. Ada dua tulisan di toko ato halaman unduh dari distro-nya. Bedanya cuman dua digit angka.

Ada angka 86 biasanya buat komputer dengan RAM < 4 GB ato PC lawas. Ini bukan jargon polisi di lapangan apalagi mobilnya Siti Badriah!

Komputer baru itu kebanyakan pake instalan dengan angka 64. Rata-rata RAM-nya di atas 4 GB.

Pengen performa komputer lawas tetep mulus serasa komputer baru? Ada kok distro Linux khusus untuk komputer lawas. Performanya gak kalah kece dari distro lain di komputer baru kok.

Bagaimana dengan Programnya?

Itu masalah kebanyakan orang yang pengen icip Linux. Kemaren ane denger cerita si Rifnun pas pinjem laptop buat try out daring. Dia bingung dengan program yang ada di Linux.

Ane pernah bahas ini sebelumnya di tips pake sotosop sama gim (biar adil ya dua-duanya ane sebut pake nama makanan semua). Sebenarnya apapun program yang kita pake itu alat. Sama aja kayak pensil biasa ato pensil mekanik buat nulis. Bedanya yang satu pake isi grafit nempel di batang kayu, satu lagi pake isi grafit 0,5 mm/0,75 mm/2 mm isi ulang.

Apapun alatnya, semua kembali ke pengguna dan kebutuhan. Carilah program alternatif yang sesuai dengan kebutuhan kita. Bukan karena ikut-ikutan orang.

Sebelum kita cari program alternatif di Linux, pertimbangin beberapa hal.

  1. Seberapa sering program itu kita pake?
  2. Fungsi dari program yang kita butuhkan itu hanya untuk melakukan rutinitas sehari-hari ato keperluan kantor/bisnis?
  3. Spesifikasi dari komputer kita. Terlebih lagi kapasitas hard disk sama SSD yang kudu kita kasih ruang juga buat backup.
  4. Kenyamanan pribadi. Entah itu kemudahan untuk menggunakan, fitur, atau tampilan antarmuka. Ane tulis di bagian terakhir pun karena ini sifatnya relatif.

Kalo kita udah mikirin keempat hal itu, kita cuman instal program yang seperlunya dan pasti kepake terus. Gak perlu dikit-dikit hapus program gara-gara hard disk sekarat.

Linux Itu Bandel

Emang bener. Diibaratin di game sih, Linux itu tipe karakter knight/paladin yang def-nya badak. Tapi itu bukan alasan bagi kita untuk lupa pemeliharaan dan perawatannya.

Kenapa ane nulis ini? Pengalaman pribadi gara-gara masalah sama laptop yang bikin kepala geleng-geleng.

Sejauh ini menurut pengguna lama Linux, penyakit di laptop itu cuman dua: masalah baterai sama kecerahan layar. Baterai bisa lebih nge-drop daripada Windows. Biasa ane pake Word sama dengerin white noise di Winamp aja bisa tahan sampe 8 jam di Windows. Eh pake Linux cuman buka Scrivener gak nyampe 3 jam ._.

Begitupun dengan pengaturan kecerahan layar yang kadang langsung maksimum tiap kali pasang charger. Cara mengatasi dua penyakit itu salah satunya dengan PowerTOP dari repository resmi distro.

Linux itu lebih mirip kayak bayi. Potensi tangguh tapi sensitif dalam masalah pemeliharaan. Salah sedikit gak cuman bisa bikin instal ulang, data ilang gaswat tuh! Banyak orang pake Linux dengan alasan klise bebas virus. Tapi Linux juga butuh pemeliharaan yang lebih rajin.

Kalo di Windows mah kudu rajin defragmenting data hard disk, bersihin cache, cek virus, disk cleanup, dll. Nah kalo di Linux itu “sampahnya” lebih gak kasat mata. Misalnya kita instal satu program dari repository. Ada tuh package yang gak kepake sama program ato sistem. Kalo gak dirapihin, bisa makan kapasitas hard disk. Bersihinnya pun kudu teliti karena dikit-dikit summon terminal, bash, ato apapun dengan “tampilan tulisan doang” yang typo dikit kena satu sistem. Kesannya nyeremin ya? Gak. Gunakan saja copy-paste! *gubrak*

Trik buat pemula tuh gini. Buat satu file khusus yang isinya perintah buat pemeliharaan PC sekaligus cara gunanya. Kalo ane sih suka unduh halaman situsnya langsung saking malesnya. Mau beres-beres? Copy-paste aja perintahnya, masukin password kalo diminta, terus enter.

Bentar, ada yang ketinggalan. Driver-nya gimana? Itu pertanyaan ane pas instal Linux doang. Kalo dulu sih kebantu dari driver Windows.

Linux itu gak harus instal driver. Sangat menolong orang dengan koneksi internet pas-pasan. Ane baca saran dari pengguna Linux lain di internet. Dia bilang instal driver itu gak perlu selama komputer kita baik-baik aja. Dia juga menyarankan instal driver kalo ada update kernel (aka “jantungnya” Linux). Soalnya kalo update  kernel pasti ada perubahan lagi termasuk cara kerja sistem menangani komputer kita.

Eh iya lupa. Butuh panduan untuk instalasi? Ane gak nulis hal ini jadi ane saranin tanya ke temen ato internet. Soalnya kalo nulis itu juga ya judul sama fokus tulisannya kudu dirombak lagi.

Kesan Pake Linux

Ane jadi inget perkataan salah satu karakter di novel yang lagi ane tulis.

Aku sudah lama tidak latihan. Jadi apa bedanya aku dengan seorang amatir?

 Abay (Dari Mata, 2017-2018)

Singkatnya ane seperti itu. Udah lama gak oprek PC ya apa bedanya dengan amatir. Berhubung tulisan ini buat sesama amatir juga jadi ya kita ngobrol aja suka dukanya.

Pake Linux itu sebenarnya mudah selama kita tahu cara memodifikasinya. Perlu ngintip tampilan desktop ane?

sumber: koleksi pribadi

Sekilas ala Mac OS gitu ya? Padahal itu hasil oprek fitur extensions Dash to Dock dari GNOME. Sesuai dengan yang ane tulis, ane gak banyak instal aplikasi. Gak cuman gara-gara salah setting waktu pertama kali instal Ubuntu (ane pake versi 18.04 LTS), ane tahu aplikasi mana aja yang lebih dibutuhin buat keseharian.

Asing dengan salah satu icon di dock? Itu Scrivener versi Linux. Buat yang pake Windows ato Mac OS, coba deh. Mantep banget apalagi buat tipe penulis yang lebih fokus karakter daripada plot. Gak perlu banyak program cuman buat cek desain karakter. Mumpung sekarang lagi NaNoWriMo, manfaatin aja. Lumayan dapet diskon 50% buat beli lisensi Scrivener bagi peserta NaNoWriMo (dan ane incer itu!). Lisensinya berlaku buat satu rumah dan bisa dikasih ke temen yang lagi dikejar deadline. Enak ‘kan?

Sempet ngerasa gagal move on? Pas minggu awal instal Linux sih. Itu pun gara-gara masalah hardware (eh tahunya itu bug).

Soal aplikasi pun mo di Windows ato Linux pun hampir semuanya open source (minus Word doang). Paling susah cari program alternatif buat unduh. Ane emang demen nonton film dan liat video belajar masak di YouTube. Biasanya sih dari channel-nya Maangchi, Kokiku.tv, ato Jamie Oliver. Mau simpen video pentingnya agak susah soalnya waktu itu belum ada yang “senakal” FDM.

Pas pake Linux, program yang ane pake pun dikit. Masih ada gim buat desain sampul. Masih nulis jurnal ini pake si rubah api Firefox. Ada Scrivener versi Linux (dan LibreOffice bawaan Ubuntu pun seakan “dikacangin” sama Scrivener). Masih ada Audacity sama Shotcut buat edit video trailer di Wattpad. Ada PCSXR (dan akhirnya FF VI tanpa patah-patah, hohoho!). Ada Calibre buat baca e-book (bisa lanjut baca Kwee Cheng, Wiro Sableng, Water Margin, sama referensi novel lainnya). Bisa main PUBG lagi via Steam. Bisa lanjut belajar masak sama nonton film pake VLC. Proyek takarir tertunda pun masih kebaca di Aegisub. Unduh pun ada XDM yang gak kalah bandel dari FDM.

Tetep sih aplikasi Windows yang ngangenin itu cuman Notepad++, Touhou, game Windows XP (apalagi Pinball), Media Player Classic, sama KBBI luring (justru ane merana nulis tanpa ini!). Biar bisa jalan pake Wine pun tetep aja beda.

Apa kudu instal ulang lagi? Gak deh. Paling nunggu update BIOS dari Lenovo biar bener. Soalnya capek instal ulang mulu. Aplikasinya pun udah banyak yang cocok (minus VLC yang masih kurang bening daripada Media Player Classic dan tentunya KBBI).

Ane gak bilang sistem operasi ini yang terbaik. Ane bukan fanatik kayak orang-orang di internet sono. Ane cuman mau bilang, kalo emang kita cocok dengan sistem operasi ini ya lanjutkan. Abaikan kata orang mengenai keputusan kita. Pede aja. Toh gak bakal dosa cuman gara-gara pake Linux ato sistem operasi lain.

Masih pengen coba Linux? Silakan. Tapi ingat periksa kondisi PC kita sebelum instal ya. Apalagi buat pengguna Lenovo, itu wajib!

NB:

Ada perbaikan kecil. Abisnya Gutenberg ngehe. Masa udah capek nulis kalimat yang nongol malah berkurang? -.-“

Obrolin Topik Cara Ane

Nah, sesuai dengan judulnya, kita bakalan ngobrol panjang lebar kali tinggi mengenai ngobrolin suatu hal. Tapi ngobrol yang ane maksud ini bukan dalam artian ngobrol basa-basi-busuk. Ngobrol di sini dalam artian menulis artikel atau apapun dengan tema nonfiksi. Tanpa basa-basi-busuk macam tulisan ane sebelumnya, mari kita mulai sesi curhatnya.

Lebih Gampang Mana, Fiksi atau Nonfiksi?

Dulu ane jawab fiksi. Seiring berjalannya waktu ane malah bilang lebih gampang nonfiksi. Cuman tanggung jawabnya lebih berat dalam menulis nonfiksi.

Pertama. Tanggung jawab moral. Pernah denger kasus Anggito Abimanyu yang sempat rame beberapa tahun silam? Kasusnya sederhana: plagiarisme salah satu opini di surat kabar nasional. Gara-gara masalah itu, beliau terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dosen UGM.

Tanggung jawab moral bikin tulisan nonfiksi itu gede lho. Salah sedikit aja bisa jadi masalah apalagi di masyarakat serba salah macam kondisi masyarakat kita sekarang. Apalagi di ranah sensitif seperti akademik, religi, dan politik. Dulu pas ane masih SMP, ane masih berani nulis tema tentang agama dan politik di jurnal ini. Salah satunya ya curhatan bocah SMP yang mengkritik kebijakan kenaikan BBM. Tapi tulisan lama ane sengaja hapus biar gak mengundang kontroversi.

Kedua. Tulisan kita itu lebih abadi daripada usia kita. Jangan sampai tulisan kita bikin pengaruh buruk buat generasi mendatang seperti halnya kasus trilogi Fifty Shades. Tulisan kita itu bisa jadi ladang amal ibadah selama kontennya itu bermanfaat bagi banyak orang. Makanya di akhir tulisan ane sering ada kalimat “kalo gak bermanfaat pun masih bisa jadi bungkus gorengan” juga. Jangan salah, di balik kalimat lelucon itu filosofinya dalem lho.

Ketiga. Kredibilitas sumber dari tulisan kita. Apa sebelum ane ngobrol panjang lebar kali tinggi itu ane gak riset? Ane riset dulu lah. Makanya ada beberapa tulisan serius ane yang panjang banget dan butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Berhubung kemasannya sengaja dibikin santai, ane sengaja gak taruh daftar pustaka. Paling ane kasih tautan tulisan aslinya kalo ada sumber dari internet.

Penyajian yang Bercanda

Ciri khas dari tulisan serius ane di jurnal ini emang gak pernah serius. Karya serius itu hanya berlaku untuk tugas sekolah, kuliah, dan karya ilmiah. Ane sering kasih referensi budaya populer biar lebih paham. Soalnya ane belajar dari statistik pembaca, kebanyakan demografi pembaca yang nyasar ke sini itu anak muda.

sumber: Photobucket

bikin tulisan terlalu serius, sungguh ter-la-lu!

Biar pembacanya gak bosen, ane sering pasang gambar acak dari internet. Misalnya buat jelasin satu hal, ane biasa pake foto babeh Jaja Miharja. Soalnya babeh Jaja Miharja itu sudah terkenal dengan jargonnya “apaan tuh?”

sumber : pikiran-rakyat.com

apaan tuh?

Jargon ini dipopulerkan oleh babeh Jaja Miharja sewaktu menjadi pembawa acara Kuis Dangdut di TPI (sekarang MNCTV).

Kalo ane cerita soal hal yang bikin kaget, biasanya muncul gambar ini.

woot?

Sumbernya itu dari salah satu episode NG Ramune, salah satu anime lawas. Kebetulan posenya konyol jadi ane sering pake buat ekspresi kaget. Ini juga bisa dikatakan easter egg. Soalnya hampir semua akun pribadi milik ane pake avatar ini. Pengecualian buat jurnal yang avatar-nya Pecola dan akun media sosial ane pake foto “pika”.

ane serius, emang ada hewan namanya pika

Kenapa bikin tulisannya gak serius? Biar gak bosen. Ane juga bukan tipe orang serius. Santai kayak di pantai!

Di saat ane bingung soal voice sama tone di fiksi, ane udah dapet hal itu lebih dulu di nonfiksi. Voice ane di dunia nyata gak jauh beda kayak gini.  Tone bawaan ane itu emang bercanda. Singkatnya tulisan nonfiksi ane itu seakan lagi ngobrol biasa sama temen-temen tapi melalui media tulisan. Itu bisa jadi salah satu cara biar orang lain tahu isi pikiran ane secara gamblang. Kenyataannya pikiran ane itu lebih cepet daripada omongan. Kadang suka gak nyambung omongan sama pikiran. Cara lebih aman buat luapin unek-unek? Menulis.

Kalo dulu gak kena semprit dosen pas lagi presentasi, mungkin ane gak bakal sadar voice sama tone dalam menulis.

Bekal Berguna buat Teman-Teman

Buat temen-temen yang pengen bikin tulisan nonfiksi receh tapi nagih, ane bakal bagikan resepnya.

Buatlah Tulisan dengan Volume

Balik ke rumus Matematika SD. Sebutkan rumus menghitung luas dan volume! Mulai lupa-lupa inget? Oke kita bakal nostalgia masa-masa SD lagi.

Rumus menghitung luas: panjang x lebar
Rumus menghitung volume: panjang x lebar x tinggi

Sebenarnya maksud ane tadi itu pun. Ane sengaja mempermainkan ungkapan “panjang lebar” dengan rumus menghitung luas. Tapi permainan kata itu ada maksudnya.

Perhatikan perbedaan kedua rumus Matematika SD itu. Apa yang membedakan keduanya? Kedalaman dengan kata lain tinggi. Perasaan itu beda deh. Sebenarnya konsep kedalaman sama tinggi itu sama. Bedanya cuman berada di titik ukur.

Kalo pake istilah garis bilangan sih, titik ukur itu angka nol. Tinggi itu bilangan positif. Kedalaman itu bilangan negatif. Tinggi itu untuk menunjukkan ukuran suatu benda di atas tanah dari tempat kita berpijak (bilangan positif). Kedalaman itu menunjukkan ukuran suatu benda di bawah tanah dari tempat kita berpijak (bilangan negatif).

sumber: ccuart.org

Apa hubungannya rumus matematika tadi dengan menulis? Kalo kita menulis panjang lebar tapi tidak ada kedalaman dari tema yang kita bahas, tulisan itu gak menarik. Singkatnya kayak selebaran yang dibagiin sama SPG kita ambil karena dia cantik tapi pas udah jauh dibuang gitu aja. Kenapa kita butuh kedalaman dalam tulisan? Soalnya tulisan pun ada masanya.

Tulisan yang mendalam itu lebih bertahan lama di mata pembaca. Apalagi kalo tulisannya membahas suatu hal secara menyeluruh, bisa jadi bahan buat referensi. Contohnya salah satu blog tentang Sailor Moon. Apa Sailor Moon masanya udah lewat? Ya. Popularitasnya udah kalah sama Madoka dan Pretty Cure. Tapi blog itu membahas semua hal berkaitan tentang Sailor Moon mulai dari segi cerita hingga fakta-fakta uniknya.

Apa blog itu tetap banyak pengunjung biar masanya udah lewat? Iya. Blog itu masih tetap dikunjungi fans Sailor Moon, bukan fans yang penasaran sama Sailor Moon, dan orang lain yang tertarik untuk mengulas soal Sailor Moon lebih dalam.

Tulisan tentang Sailor Moon memang receh di kalangan sebagian orang. Tapi itu bisa bertahan karena punya volume konten yang berbobot.

Pelajari Feynman Technique

Siapa Feynman? Richard Feynman adalah peraih Nobel kategori Fisika atas teorinya di bidang fisika kuantum. Hal yang menarik dari beliau bukan penghargaan Nobelnya, melainkan cara beliau mengajar di kelasnya. Tipe dosen idaman mahasiswa deh.

Cara beliau mengajar itu prinsipnya sederhana.

Kalo kita gak bisa jelasin suatu hal secara sederhana, berarti tandanya kita gak paham.

Ada penjelasan rincinya di internet buat temen-temen yang penasaran banget dengan hal ini. Kudu banget buat dipelajarin!

Teknik ini gak cuman kepake buat mengajarkan orang lain. Kita juga bisa menerapkan teknik ini buat belajar dan menulis nonfiksi.

Apa nulis tulisan nonfiksi itu kudu pake bahasa ilmiah njelimet dan bikin otak kita jungkir balik? Gak kok. Coba deh bikin tulisan nonfiksi bertema berat dengan bahasa receh dan kosa kata standar ala bocah. Bisa kok selama paham topik yang bakal kita bahas.

Riset, Riset, dan Riset

Menulis nonfiksi bagai sayur tanpa garam bila tanpa riset. Tapi riset seperti apa yang kudu kita lakukan?

Riset mengenai topik pembicaraan yang bakal kita ulas. Itu mah jelas. Buat memperdalam pengetahuan kita sebelum membahas suatu hal. Lebih baik salah pas riset daripada salah fatal pas tulisannya udah jadi.

Riset mengenai sasaran pembaca. Perhatikan betul sasaran pembaca dari tulisan kita. Berhubung sasaran pembaca ane di jurnal itu anak muda, jadilah bahasanya receh dan gak serius.

Riset mengenai kebutuhan pembaca. Sebenarnya si pembaca itu maunya apa sih? Jangan sampe kita kayak stasiun TV memperlakukan emak-emak kita. Butuhnya apa eh malah dibodohin. Contohnya acara masak. Acara masak yang segmentasinya orang sibuk sama ibu rumah tangga itu beda banget. Kalo gak percaya, analisis acara Urban Cook dengan Aroma di YouTube. Kenapa Urban Cook pendekatannya seperti itu ya karena sasaran tayangannya itu buat penduduk kota besar yang serba sibuk. Beda dengan Aroma yang sasarannya lebih ke ibu rumah tangga dengan waktu lebih luang.

Jangan lupa lakukan pengujian. Buat tulisan di blog itu lebih gampang soalnya ada fitur analytic bawaan. Kita analisis nih tema tulisan beragam dan reaksi pembaca. Sukses gak? Kalo sukses, berarti jalan teman-teman untuk meraih pembaca sudah ada di depan mata. Gak sukses ya benahi lagi kualitas dari konten kita dan perjelas riset yang sudah kita lakukan.

Menulislah dari Hati

Tips ini emang klise tapi ane bakal perjelas lagi maksudnya.

Buatlah tulisan dengan jujur dari lubuk hati kita tanpa embel-embel ini itu. Dari tulisan aja bisa ketahuan kok siapa diri kita. Kalo kita gak jujur sama diri kita sendiri, bakalan susah buat lanjutin tulisan kita ke depannya.

Beda lho tulisan yang dibuat oleh penulis komersil dengan penulis idealis. Dari cara ia menutur kata dan merangkai makna demi makna pun sangat berbeda. Penulis yang idealis lebih jujur dengan dirinya. Temanya murni, menyentuh, walau dengan kalimat sederhana. Persis seperti kasih sayang orang tua kita.

Apa penulis idealis bisa menghasilkan karya komersil? Bisa. Mereka punya kualitas lebih di atas para penulis yang hanya memikirkan unsur komersial semata. Tulisan mereka tidak lekang dimakan zaman dan menjadi potret kecil dari keberadaan dirinya selama di dunia.

Contoh tulisan yang ane buat secara jujur itu tulisan tentang depresi dan pornografi. Itu sebenarnya luapan dari perasaan ane yang sampai sekarang masih berjuang mengalahkan dua monster perenggut kebahagiaan ane. Tujuan ane bikin tulisan itu bukan pengen menaikkan jumlah pembaca. Ane cuman pengen gini. Jangan sampe ada kasus seperti itu terulang lagi di masa depan. Biarlah ane menjadi korbannya. Jadikan ini bahan pelajaran bagi diri ane juga kita di masa sekarang.

Menulis itu tidak hanya sekedar merangkai kata demi meluapkan isi pikiran kita. Menulis itu adalah cermin dari perasaan dan kondisi kita sekarang. Sebaik-baiknya tulisan adalah tulisan yang bisa bermanfaat dan menginspirasi orang lain agar hidup lebih positif. Biar kata tulisan ane tidak berguna bagi teman-teman, tulisan ini jauh lebih berharga di mata tukang gorengan. Lumayan nambah stok kertas gratis lagi buat bungkus gorengan.

Akhir kata, tetap menulis dan ditunggu ya karya teman-teman.

Tolong Bantu Kami Lepaskan Diri dari Jerat Pornografi! (Bagian Pertama)

Jujur aja pas ane ngetik judulnya aja mo nangis.

Candu memang nama salah satu jenis narkotika. Di samping itu, candu juga berarti suatu hal yang bisa membuat orang melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa sebab hingga menjadi sebuah “kebiasaan”. Candu itu kebiasaan buruk yang bisa menjerumuskan orang lain dalam maksiat, penyesalan, aib, putus asa, depresi, hingga … menganggap semua warna dalam kehidupan hanya sebatas rona dalam palet monokrom.

Berlebihan itu tidak baik.

orang tua kita

Beda Masa, Beda Cerita

Ane inget ada salah satu hadits yang intinya mengatakan “didiklah anak sesuai zamannya”. Benar tantangan setiap zaman itu berbeda-beda. Pola didik di era Victorian berbeda dengan pola didik di era Perang Dunia ke-2. Hal itu tampak jelas dari film dan literatur yang mencerminkan masa itu.

Ane emang belum tamat baca Pride and Prejudice. Baru sampe bab 4 terus baca berulang-ulang gara-gara vocabulary ane pas-pasan dan biar ngerti sama ceritanya. Ane cuman ikutin saran pembaca dari forum buku di internet buat referensi novel khususnya genre romance.

Pride and Prejudice merupakan salah satu literatur klasik bergenre romantis terbaik sepanjang masa.

orang-orang klub buku

Ada salah satu blog penulis yang menganalisis novel Pride and Prejudice dari sudut pandang kepenulisan. Ia ulas dalam tulisannya, inti novel tersebut itu “tips memilih lelaki yang tepat untuk jadi suami kita kelak”. Pas ane baca bab awalnya pun sudah menggambarkan jelas budaya yang berlaku pada masa itu. Seorang perempuan yang belum menikah sengaja disuruh sosialisasi sama orang tuanya biar bisa dapat jodoh. Perempuan itu lalu menimbang baik-baik setiap lelaki yang datang dan berusaha meminangnya. Berbeda dengan masa sekarang yang “langsung klop” dengan seseorang tanpa berusaha saling mengenal.

Contohnya masalah dalam Frozen. Masalah bermula dari ketidaksetujuan Elsa dengan hubungan Anna yang instan dan tiba-tiba minta restu untuk menikah. Wajarlah bila Elsa seperti itu. Sebagai seorang kakak, ia ingin hal yang terbaik bagi adiknya. Ia juga tidak tahu asal usul Hans yang tiba-tiba melamar Anna.

Bahkan dalam perjodohan sekalipun, kita tidak lantas menerima mentah-mentah begitu saja lamaran seseorang. Misalnya kita coba buat ta’aruf/minta tolong lewat mak comblang/aplikasi biro jodoh, apa kita terima setiap orang yang disodorkan begitu saja? Tidak. Kita pelajari dulu CV-nya (kalo kata orang tua mah, bibit-bebet-bobot-nya), pelajari karakternya, cara memperlakukan kita dan keluarga di mata orang lain, barulah kita putuskan untuk menikah atau pindah ke calon lain.

Sayangnya di masa sekarang lebih banyak perempuan yang seperti Anna daripada Liz.

Fantasi Liar, Media, dan Ketidakpuasan

Penjelasan lebih detilnya ada di tulisan ane sebelumnya. Ane cuman mo bahas hal lain yang menyebabkan faktor itu.

Kenapa kebanyakan perempuan zaman sekarang memiliki pola pikir seperti Anna? Ada beberapa faktor yang mendorong hal itu.

Pertama, media. Kita bisa belajar dari era film bisu, novel, dan literatur budaya mengenai potret perempuan masa lalu. Bagaimana mereka memotret keadaan perempuan di masanya? Bagaimana pengaruh media terhadap citra perempuan di suatu masa?

Misalnya tentang Audrey Hepburn. Sampai sekarang Audrey Hepburn terkenal dengan ciri khasnya dalam mode. Salah satu ikon yang khas adalah setelannya dalam film Breakfast at Tiffany’s (1961). Pada masa itu para perempuan berbondong-bondong meniru gaya Audrey Hepburn dalam berbusana.

Kedua, perlawanan terhadap stereotipe perempuan. Di masa lalu, feminis hanya berjuang agar perempuan bisa mendapat hak dasar mereka seperti mendapat pendidikan dan memilih pemimpin dalam pemilu setempat. Seiring perkembangan zaman, pergerakan feminis yang semula hanya untuk meminta hak mereka di masyarakat menjadi lebih buruk. Bahkan di kalangan sebagian perempuan sendiri pun mengatakan feminis itu “Nazi modern dalam kedok aktivis”. Jadi perjuangan mereka yang melenceng justru malah menjerumuskan perempuan dari kodratnya semula.

Ketiga, kehampaan dalam hidup. Masyarakat modern sekarang justru merasa hampa dalam hidup mereka. Hal yang banyak dirasakan negara maju namun tidak untuk negara dunia ketiga. Negara dunia ketiga memang masih berkembang dan memiliki masalah kompleks yang sulit untuk mereka pecahkan sendiri. Contohnya Indonesia yang masih ribut karena hal sepele, fanatisme buta, birokrasi benang kusut, urusan perut sendiri, dan perebutan kekuasaan. Ironisnya semua hal yang masyarakat modern cari semuanya berada di negara dunia ketiga: kepuasan batin, kedamaian, seni untuk bahagia, kehangatan keluarga, masyarakat yang hangat, dan kedekatan intim dengan Sang Pencipta.

Terakhir, ini alasan yang paling klise dan umum. Media membentuk persepsi seorang laki-laki di mata perempuan. Setiap bangsa dan masa memiliki preferensi mereka sendiri dalam memandang laki-laki. Ketika melihat media dengan para lelaki tampan di luar sana, secara tidak langsung pola pikir kita mengarah pada gambaran lelaki tampan tersebut. Otomatis bila bertemu dengan lelaki di luar dari bayangan para perempuan.

Amit-amit jabang bayi punya suami kek gitu!

Perempuan yang seleranya selevel oppa Korea

Faktanya justru lelaki tampang pas-pasan banyak yang dapat istri cantik bahkan bule! Lebih beruntung lagi bila mereka dapat gadis Arab yang minimal lulusan S2.

Di Balik Kisah Romantis

Ane pernah bahas juga topik semacam ini di tulisan sebelumnya. Ane cukup nambahin hal yang masih berkaitan tapi tidak ditulis di tulisan sebelumnya. Ane persempit lagi fokus tulisannya pada genre sejuta perempuan: romance.

Ane baru tahu fakta unik di balik genre romance. Di masa lalu, genre ini tidak berfokus pada kisah asmara dua insan semata. Epik heroik seorang pahlawan dalam menaklukkan sebuah wilayah atau lawan-lawannya termasuk dalam cakupan genre ini. Definisi lebih jelasnya bisa cek di internet atau buku lawas mengenai sejarah genre romance.

Apa Romeo dan Juliet masih tergolong dalam genre romance berdasarkan definisi lawas ini? Ya.

Kenapa perempuan sangat menyukai genre ini dibandingkan dengan drama, chicklit, fiksi umum, atau genre lainnya? Itu tadi. Alasan klise mengenai ekspektasi laki-laki tidak sesuai harapan.

Ane pernah baca soal bedanya introvert sama extrovert dalam hubungan asmara. Keduanya itu berbeda. Jadi jangan samakan stereotipe tentang introvert dan extrovert! Ada yang seneng basa-basi busuk tapi ada yang seneng bicara serius. Ada yang bisa bikin jantung perempuan berdetak tidak karuan dan ada juga yang datar terus bilang “oh”. Ada salah satu kepribadian MBTI yang bisa bikin perempuan meleleh: INFJ.

Masalahnya populasi penduduk dengan kepribadian INFJ itu populasinya 1% dan terkenal sebagai salah satu kepribadian misterius. Nah bagaimana bila harapan mereka tidak terpenuhi? Salah satu fungsi hiburan adalah melarikan diri dari realita yang kadang berbanding terbalik dengan pemikiran naif kita. Pelarian kita sebagai perempuan adalah literatur yang banyak dibuat dari kita-oleh kita-untuk kita. Salah satunya literatur genre romance. Justru di balik indahnya romantisme dari setiap rangkaian cerita, ada sebuah lembah gelap tersembunyi dalam jubah indah berkilauan bernama romantisme.

Gaya penulis menuturkan kata demi kata menjadi rangkaian indah cerita mereka berbeda satu sama lain. Cara bertutur seorang komikus akan berbeda dengan seorang novelis. Begitu pula cara bertutur penulis novel klasik berbeda dengan penulis modern. Semua dipengaruhi oleh hal-hal di sekitar kehidupan si penulis itu. Bacaan, ajaran agama, kehidupan sosial-budaya setempat, hal-hal lumrah di masanya, pandangan politik, hingga hal lain dapat mempengaruhi cara tutur mereka. Mulai dari pembingkaian setiap adegan dalam cerita hingga tema yang mereka usung sepanjang jalannya cerita. Tapi tanpa kita sadari, banyak penulis genre romance terjebak dalam klise atau pakem cerita yang membentuk pola pikir kita sebagai perempuan.

Antara Fujoshi dan Fifty Shades

Kenapa ane banyak menyinggung soal fujoshi dalam tulisan? Sebenarnya itu fenomena menarik jika kita lihat dari sudut pandang seorang perempuan.

Kesamaan antara fujoshi dan Fifty Shades adalah erotica. Genre irisan antara romance dan pornografi. Bedanya fujoshi adalah salah satu fandom perempuan sementara Fifty Shades adalah salah satu literatur erotica. Keduanya muncul dengan kontroversi. Fujoshi dianggap merusak sebuah fandom karena imajinasi liar mereka. Seri Fifty Shades pun dianggap merusak masa depan literatur (dan pembacanya) di kalangan lingkungan klub buku, kritikus literatur, psikolog, pemuka agama, dan aktivis perlindungan anak.

Trilogi Fifty Shades bermula dari sebuah fan fiction Twilight dengan nuansa BDSM kental. Ironisnya di kalangan pelaku BDSM sendiri pun menganggap hal yang tercermin dalam buku tersebut tidak sesuai dengan “aturan main mereka”. Tidak hanya masalah BDSM yang menjadi fokus kritik dari berbagai kalangan, tetapi juga buruknya narasi penceritaan, penggambaran karakter perempuan lemah, tidak adanya pendalaman karakter/plot, hingga adegan pembalut wanita yang kontroversial. Bahkan lelaki manapun akan berpikir dua kali sebelum berhubungan badan sewaktu tahu perempuannya sedang haid!

Fujoshi sebenarnya adalah kata bermakna peyoratif bagi “perempuan mesum”. Perempuan mesum di sini maksudnya fans dari genre yaoi dan yuri, subgenre dari pornografi. Fantasi mereka yang liar dan melampaui batas justru membuat orang lain jijik. Bahkan ada sebuah survei yang dilakukan oleh kalangan penyuka anime di Indonesia mengatakan mayoritas penonton laki-laki enggan menonton anime dengan tokoh mayoritas laki-laki/bertema olahraga. Alasannya mereka risih dengan keberadaan fujoshi yang justru membuat kesenangan menonton anime buyar seketika.

Kemunculan fenomena tersebut berawal dari seksualisasi gambaran pria di media. Kata siapa hanya perempuan yang menjadi target seksualisasi dalam media massa? Seksualisasi karakter, dengan kata lain fanservice dalam istilah anime, secara tidak langsung membentuk gambaran kita akan seorang yang “ideal”. Pada kasus laki-laki itu pria yang tampan, seksi, nakal, memiliki senyuman sensual, berstatus mapan secara finansial, tapi bisa memanjakan perempuan. Contohnya Edward Cullen dalam Twilight. Banyak karakter vampir yang sudah dikenal masyarakat. Kenapa Edward bisa lebih banyak memikat kaum hawa dibandingkan dengan Count Dracula? Jawabannya adalah itu tadi. Fisik yang memuaskan hasrat para wanita kesepian di luar sana.

Fantasi Melampaui Batas

Ane pernah baca artikel menarik di internet mengenai sudut pandang laki-laki. Satu artikel membahas tentang sudut pandang lelaki pada umumnya. Satu lagi sudut pandang “maho”. Keduanya disodorkan literatur perempuan. Bagaimana reaksi mereka?

Apa mereka hanya berpikir laki-laki itu isi pikirannya hanya hubungan intim? Laki-laki terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka di luar sana. Itu sebabnya laki-laki hanya bicara topik yang umum seperti kehidupan kantor dan olahraga.

reaksi seorang pria membaca salah satu rubrik Cosmopolitan

Imajinasi para perempuan terlalu liar. Kami tidak pernah melakukan hal-hal sampai seperti seliar itu.

reaksi seorang maho menonton yaoi

Jika para lelaki saja bisa berpendapat seperti itu, berarti ada yang salah dengan pola pikir kita sebagai perempuan. Anehnya mereka menganggap itu sebagai hal yang lumrah. Secara tidak langsung fantasi mereka mendorong mereka pada jerat lembah hitam pornografi.

Kasus laki-laki dan perempuan memandang pornografi itu sangat berbeda. Hal itu dipengaruhi pula dari sudut pandang mereka memandang pornografi.

Ane memang besar di komunitas yang mayoritas anggotanya adalah laki-laki. Ane amati perilaku dan kebiasaan mereka. Beberapa dari mereka hanya menganggap melihat pornografi adalah ciri lelaki normal dan dewasa. Bahkan anak alim sekalipun pernah sekali melihat pornografi. Ane pernah mendengar salah satu pengakuan sobat lelaki ane. Dia pernah menonton sekali video porno lalu setelah itu ia hapus dan tidak pernah menontonnya lagi.

Apa mereka terus membicarakan hal itu seperti halnya dalam pikiran para gadis? Tidak. Laki-laki lebih senang membicarakan hal-hal yang menurut mereka “cowok banget”. Tidak jarang pula ada yang curhat urusan asmara layaknya seorang gadis.

Memang ada laki-laki yang kecanduan pornografi. Tapi apa mereka berpikir setiap saat soal itu? Jawabannya tidak. Kesibukan mereka justru mencegah pikiran tersebut muncul. Laki-laki memang lebih aktif secara fisik dibandingkan dengan perempuan. Itu sebabnya banyak topik pembicaraan berkaitan dengan olahraga, karir, otomotif, hobi, musik, hingga perjalanan. Kadang di mata lelaki pun nama bintang porno menjadi bahan lelucon.

Hal itu berbanding terbalik dengan perempuan. Masalah mereka jauh lebih kompleks daripada laki-laki. Lelucon terkenal di kalangan laki-laki mengatakan perlu satu buku penuh untuk memahami seorang perempuan. Itu pun hanya jilid pertama dan belum mencakup masalah mereka secara keseluruhan.

Kenapa para lelaki sekalipun mengatakan hal itu? Perempuan lebih menyimpan banyak tekanan dibandingkan dengan laki-laki. Faktor keluarga, cara pandang laki-laki memperlakukan mereka, norma yang berlaku di masyarakat, stereotipe seorang perempuan ideal, hingga konflik internal dengan sesama perempuan pun mempengaruhi kondisi mereka. Mereka tidak bisa sebebas laki-laki untuk menjadi dirinya. Mereka kadang harus memasang topeng demi menjaga nama baik keluarga dan menjadi perempuan ideal di mata masyarakat. Bahkan untuk sekedar meluapkan masalah di dada mereka, sesama perempuan pun bisa menjadi masalah. Tidak seperti laki-laki yang menganggap pertemanan di antara mereka seperti ikatan darah persaudaraan, pertemanan di antara perempuan memiliki ikatan kompleks dan kadang berlandaskan muslihat. Karena itu tadi, perempuan itu lebih sering memakai “topeng” di hadapan banyak orang.

******

Buset buat jelasin hal ini aja bisa sampe ngelag gini. Kalo aja Gutenberg di WP bisa kayak editor dulu yang dikit-dikit gak harus pake koneksi internet. Soalnya internet lagi naik turun.

Okelah cukup segini pembahasan ane. Buat teman-teman yang masih penasaran, bagian keduanya sudah siap. Sampai jumpa di bagian berikutnya.

Pelajaran dari Perempuan Arab

Ini tulisan pertama ane pake mode beta dari fitur Gutenberg di WP. Biasanya fitur ini ada di berbayar sekarang gretongan pun ditawarin buat upgrade juga. Mumpung masih beta ya ane coba dulu buat nulis. Apa ngetiknya lebih lancar dibandingin dengan laman landing page pas login WP? Ulasan lebih lanjutnya ane bahas di tulisan lain.
Nah apa kabar si TinyMCE ya? Apa Gutenberg itu versi upgrade permanen ala WordPress?
Tadi ane liat berita di internet. Beritanya masih baru soal … mobil, motor, dan perempuan Arab. Kenapa ini hal yang menarik? Dibandingkan dengan negara-negara muslim lainnya, hanya di Arab perempuan tidak boleh mengemudikan kendaraan. Pengecualian untuk perempuan yang tinggal di pedesaan atau Arab Badui untuk kebutuhan transportasi. Kabar baiknya, mulai September ini pemerintah Arab Saudi resmi mencabut larangan mengemudi bagi perempuan. Alasannya untuk mendukung kebijakan Vision 2030 yakni kebijakan yang dicetuskan oleh Raja Salman untuk meningkatkan pertumbuhan berbagai sektor di Arab Saudi agar tidak ketergantungan terus sama sektor migas. Makanya tahun kemaren sempet rame Raja Salman keliling dunia buat nawarin investasi juga.
Ada alasan yang kuat dalam mencabut larangan itu. Sebenarnya untuk pemerataan lapangan pekerjaan bagi perempuan. Ane pernah nulis di artikel sebelumnya. Berdasarkan penelitian tentang pendidikan di Arab Saudi, rata-rata tingkat pendidikan keseluruhan perempuan di Arab Saudi itu jauh lebih tinggi daripada laki-lakinya. Jadi jangan kaget kalo ente cowok beruntung dapet bini orang Arab tahunya tamatan S2. Itu mah rezeki dunia akhirat cuy! Nah, modal perempuan Arab udah mantep tuh. Soalnya sekarang susah dapet kerja gara-gara masalah gelar dan tingkat pendidikan.
Kenapa hal ini bisa jadi sebuah topik yang menarik? Sebenarnya kita salah paham tentang pemikiran orang Arab terlebih mengenai cara mereka memperlakukan perempuan.
Nah, bagaimana orang luar Arab khususnya sesama memandang perempuan di Arab itu sendiri? Kaku, kolot, konservatif, gak modis, “diperbudak laki-laki”, “beda sama tipis teroris”, dan tentunya bikin sirik gara-gara fisiknya lebih cantik daripada pemenang Miss Universe/Miss World/apalah. Ane juga awalnya mikir begitu. Apalagi semenjak rame berita soal banyak perempuan pake niqab dengan konotasi negatif. Banyak temen ane yang pake niqab salah satunya Teh Sri dan biasa aja keles. Gak sampe bikin parno masyarakat kek sekarang.
Semua pandangan berubah semenjak ane waktu itu gak sengaja nonton channel Saudi TV. Emang secara kosa kata sama pelafalan bahasa Arab pun ane masih pas-pasan.
Pertama, ane syok pas lihat ada perempuan Arab pakai niqab pakaiannya haute couture aka buatan desainer (dan tentunya tidak bertentangan dengan syariat) lagi rekam acara festival yang tayang langsung di Saudi TV. Padahal bajunya standar item-item. Setahu ane masih lebih modis muslimah Eropa. Soalnya itu sebagai bentuk perlawanan mereka gara-gara banyak kebijakan negara Eropa menyulitkan mereka menggunakan hijab syar’i dan ingin meluruskan salah paham itu di kalangan masyarakat Eropa.
Kedua, berita Saudi TV yang mewawancarai para perempuan. Ane inget waktu itu beritanya tentang wirausaha perempuan yang lagi pameran. Ane kira semua perempuan di Arab pake niqab, ternyata gak semua. Sama halnya kayak di Indonesia, Malaysia, India, Iran, Pakistan, negara-negara pecahan Uni Soviet, atau negara dengan banyak populasi muslim lainnya. Mereka ada kok yang pake khimar biasa. Ada juga yang hijab gaul kayak anak muda. Tetep pakaiannya masih item-item.
Ketiga, kata siapa pake niqab itu identiknya dengan super religius? Ane syok pas lihat ada perempuan pake niqab ternyata seorang seniman. *woot?* Ia memperlihatkan bakatnya di hadapan pemirsa Saudi TV dalam sebuah acara talk show. Jangan salah, lukisannya kece badai!
Keempat, film Wadjda (2012). Film ini disutradarai oleh Haifaa al-Mansour, seorang sutradara perempuan. Film tersebut berlatar belakang kehidupan masyarakat urban di Riyadh dan pada masa itu perempuan tidak boleh mengemudi. Konflik film ini sederhana: Wadjda kesel diledekin Abdullah pake sepeda terus pengen belajar sepeda. Sejak saat itu ia berusaha cari uang demi beli sepeda. Tapi keadaan lingkungan sekitar khususnya ibu Wadjda menentang ide tersebut.
Ada yang pertanyaan menarik dari film ini berdasarkan komentar penonton di forum IDWS.
Gagal paham pas liat adegan ibunya Wadjda coba beli gaun di mal. Gimana makenya? Mereka ‘kan pake niqab tiap hari. – salah seorang penonton Wadjda
Justru yang menarik di sini adalah penggunaan hijab di Arab. Ternyata baju item-item itu semacam jaket. Saat itu ane langsung inget infografis tentang penggunaan hijab dari akun medsos ustadz Felix sama salah satu artikel di Bright Side.
Singkatnya pakai hijab berdasarkan penafsiran dari Al Qur’an dan hadits itu maksudnya pakaian luar. Jadi ada dua pakaian yang mereka gunakan. Pakaian luar item-item (jilbab di sini itu mirip jubah/jaket, kerudung panjang aka khimar, niqab, dll) dan pakaian dalam (baju biasa aja kayak kita di rumah, pake kaos plus celana/hot pants juga gak apa-apa).
Nah, berhubung di Arab itu banyak banget ladies room, mereka justru lepas hijab di sana. Contohnya di film Wadjda. Murid, guru, staf, bahkan kepala sekolah di Arab memang lepas hijab. Pakaiannya pun sopan dan tetap elegan. Pas ada cowok yang gak sengaja liat mereka pas di sekitar halaman/lapangan sekolah, mereka ngumpet sampe cowoknya pergi. Unik memang. Padahal kalo ke luar mah lebih baik pake daripada berabe.
Sebenarnya soal masalah hak perempuan di Arab itu memang agak bingung. Mereka mikir “perempuan di Arab itu enak, semua serba dilayani bak ratu!” tapi di belahan bumi lain sana menilai perempuan di Arab kehilangan sebagian hak dasarnya. Contohnya hak untuk memilih pemimpin dan hak untuk mengemudi yang baru saja diperbolehkan. Selain itu, soal niqab pun sebagian orang menentang karena seakan-akan membatasi hak perempuan.
Bagaimana pendapat ane mengenai masalah niqab?
Pendapat ane sih mau pake silakan, gak juga gak apa-apa. Terus ngapain recokin hal sepele kek gitu? Ane setuju sama perkataan seorang ulama salaf di Cina yang kasusnya hampir serupa kayak di Indonesia. Ada salah satu artikel dari majalah Historia yang ditulis sama seorang mahasiswa di Cina sekaligus kontributor tetapnya. Justru di Cina daratan sana, etnis Hui (salah satu etnis Tionghoa yang mayoritas muslim seperti Uyghur) bisa sampe gontok-gontokan gara-gara masalah baju, gaul sama pribumi, sampe bahasa Mandarin.
Woot? Bahasa Mandarin aja sampe direcokin? Mereka hidup di Cina men! Gimana mereka bisa komunikasi, berdagang, ato belajar kalo bahasa Mandarin aja mereka gak mau belajar? #gagalpaham
Justru banyak hal yang lebih besar buat kita urusin. Misalnya tentang pendidikan yang lebih layak, kerusakan lingkungan, masalah kemanusiaan seperti di Palestina, racun dalam tumbuh kembang anak, dll. Harusnya ustadz yang doyan ceramah kayak gitu di masjid lebih ajak umat biar peduli banjir di sekitar rumahnya daripada ikut-ikutan recokin Pandji gara-gara stand up soal Toa masjid. Itu ‘kan lebih bermanfaat bagi masyarakat banyak sekaligus jadi ladang dakwah plus amal ibadah mereka.
Nah, apa yang bisa kita pelajari dari mempelajari kehidupan perempuan Arab?
Pertama, pahami lebih dahulu soal ajaran Islam mengenai perempuan sebelum recokin di media massa/internet. Jadi biar gak asal ceplos apalagi memicu demo berseri 212 lagi. Jujur kami sudah lelah melihat kondisi masyarakat Indonesia yang makin ke sini makin terbelakang dan kalah maju dengan bangsa lain. Tolong jangan atas namakan agama demi membenarkan hal-hal bodoh yang justru lebih banyak bertentangan dengan ajaran agama.
Kedua, jangan memandang sesuatu dengan kacamata kuda. Coba pelajari sudut pandang perempuan Arab sendiri mengenai diri mereka. Dengan melihat suatu hal dari beragam perspektif, insya Allah kita bisa lebih mengenal orang lain dan menghindari munculnya konflik akibat gagal paham.
Ketiga, hidup dengan budaya seperti itu bukan berarti kolot dan tidak mau belajar untuk perubahan yang lebih baik. Di luar sana gak cuman perempuan Arab yang orang sering salah paham soal mereka. Indonesia punya orang Baduy sama penduduk Kampung Naga. Amerika punya orang Amish. Eropa punya orang Romani aka gypsy. Jamaika punya orang Rasta. Kata siapa mereka terbelakang? Mereka gak nerima apalagi nolak mentah-mentah semua hal yang berasal dari kehidupan modern. Mereka bisa memilah semua yang baik dan buruk dengan panduan jelas seperti ajaran agama dan budaya setempat. Ambil yang baik, buang yang buruk. Jarang ada orang yang seperti itu di tengah-tengah masyarakat modern seperti sekarang.
Terakhir, jadilah perempuan yang kuat. Kita punya hak yang sama di mata hukum dan agama. Jangan cuma sekedar demo gitu aja terus berakhir anarkis hanya karena hak kita gak didengar. Lebih baik kita lakukan aksi nyata. Biar kecil tapi berkelanjutan lebih baik daripada sekedar demo tapi menguap gitu aja.
Akhir kata, tulisan ane kepanjangan ya? Jadiin sampul buku juga bisa. Soalnya di Bandung udah banyak yang jual bungkus gorengan unyu-unyu T.T