Tolong, Selamatkan Kami

Ane melanggar keputusan ane soal menggalau di jurnal lagi.

Ane boleh jujur. Ane cewek. Kalo bilang hode ditabok ampe mental pake serangan 100kV. Saat menulis ini, usia ane genap 23 tahun. Status lajang dan belum mendapat pekerjaan. Ane lagi berusaha untuk ikut program wirausaha. Soal masa depan? Masih cerah. Sayang kehidupan masa kini ane benar-benar suram.

Ane bener-bener gak tahu siapa ane dan potensi ane.

Ane kesulitan hidup mandiri secara penuh.

Sampai sekarang ane masih dibilang bocah.

Ane orangnya amat tertutup. Jangankan di dunia maya, dunia nyata pun demikian.

Ane mudah sekali terkulai lemas ketika benar-benar tertekan. Satu kali bentakan sama saja membuat ane semakin depresi.

Tidak banyak yang tahu soal ane. Jangankan teman terdekat, keluarga ane sendiri pun tidak pernah tahu. Di dunia maya, ane lebih senang menjadi anonim. Ane lebih senang hidup sebagai orang yang selalu tertawa lepas di dunia nyata. Kadang ane menertawai diri sendiri yang payah maupun situasi kehidupan ane yang jauh dari kata “sehat” apalagi “waras”. Padahal secara psikologis, bisa dibilang ane stres. Salah satu cirinya adalah dari tawa. Tidak pernah ada yang menyadari sejak dulu kalo ane itu.

Bisa dibilang ane korban bully dari SD sampe awal masuk SMK.

Keluarga ane terbilang sangat bobrok. Lebih bobrok dari para koruptor yang lagi santai di hotel prodeo. Hampir setiap hari dihiasi cercaan terlebih soal badan. Hujatan haters Raisa belum seberapa dibandingkan dengan derita ane.

Dipermalukan di depan umum oleh orang banyak? Sudah biasa.

Ane hanya dibesarkan dengan uang. Makanya ane kelewat sensitif soal duit dan segala cara yang bisa dihasilkan dari duit. Dari kecil otak dagang ane muncul gara-gara itu.

Kasih sayang? Nihil. Sejak ane berusia 3 tahun, ane gak pernah pergi bareng ortu. Selalu dititipkan di rumah tetangga apalagi sodara. Itu sebabnya ane lebih deket ama ua (keterangan: bahasa Sunda, bisa berarti “paman” atau “bibi” namun dalam konteks ini ane bilang keduanya) ane daripada orang tua. Jika pergi bareng ortu pun itu hanya formalitas. Lebih baik ane tidur di rumah atau pergi naik gunung bareng temen-temen SMK daripada harus terikat seperti itu. Bahkan jauh lebih baik kalo ane sendiri aja yang pergi ke rumah sodara.

Rasanya diperlakukan seperti itu setiap hari jauh lebih menyakitkan daripada ditolak orang yang disukai ato disakiti orang lain.

Setiap anak muda pasti akan menjadi orang tua. Untuk orang dengan masa lalu sulit dan berat macam ane rada susah.

Jadi tolong. Tolong selamatkan kami. Kami yang berada di posisi ini ingin hidup bahagia. Kami ingin terlepas dari jerat lingkaran setan yang selalu berulang ini. Ane hanya punya permintaan. Jangan ada yang bernasib sama atau lebih buruk dari ane lagi.

Kami memang bodoh dan bukan berarti kami tak bisa sukses

Setidaknya jangan permalukan kami karena kami bodoh. Bimbing kami dengan lembut dan penuh kasih sayang. Janganlah memukul rata alias generalisasi “bodoh” karena bodoh dalam satu hal. Karena Tuhan menciptakan semua makhluk-Nya itu unik dan istimewa.

Persetan dengan uang

Uang memang bisa membeli apa saja. Sayangnya uang takkan bisa membeli kebahagiaan yang hakiki. Percuma saja sekaya Bill Gates namun tidak sedikitpun kasih sayang tercurahkan. Uang takkan bisa menyembuhkan hati kecil kami yang terluka. Uang takkan bisa menggantikan setiap momen berharga bersama kalian.

Sesekali dengarkan kami

Kami memang anak. Bukan berarti hak kami boleh dilanggar dengan membatasi kebebasan mengutarakan pendapat. Tidak apa-apa jika kalian memang sibuk. Setidaknya luangkan waktu lima menit saja untuk mendengarkan kami. Mendengarkan setiap keluh kesah kami. Menghargai setiap kebaikan kecil yang kami lakukan. Jujur, hal yang paling membahagiakan adalah membuat orang tua tersenyum. Senyumlah akan perbuatan baik yang kami ceritakan selama satu hari ini saja.

Kami ini manusia, bukan robot

Kami bukanlah komputer yang dungu dan bisa diperintah dengan seenaknya. Kami masih punya akal dan perasaan. Hargai perasaan kami walau setitik. Berhenti mencerca kami habis-habisan di depan umum karena itu hanya akan menjadikan kami layaknya bonsai. Beri kami istirahat untuk menikmati indahnya hidup. Bukan hanya dijadikan pion-pion pemuas nafsu kalian. Hidup bukan semata-mata karena gengsi di hadapan orang lain—”Oh anakku blablabla” atau “kenapa kau tidak seperti si anu blablabla”.

Manusia tak ada yang sempurna

Kenapa kalian terlalu menuntut semua selalu sempurna? Tuhan saja menciptakan manusia dengan ketidaksempurnaannya. Ketidaksempurnaan yang layaknya kepingan puzzle. Sesuatu yang saling melengkapi satu sama lain. Kami memang tak sempurna. Hargailah apa yang ada pada diri kami. Bukan terus mencerca apa yang kurang dari diri kami. Terima kasih. Kami sudah semakin kerdil sekarang.

Hidup yang sebatas status jejaring sosial

Bisakah kalian berhenti meminta sesuatu yang tak pernah kalian lakukan? Meminta kami untuk sholat lima waktu di awal waktu namun kalian sendiri sibuk dengan status di jejaring sosial saat iqamat berkumandang. Meminta kami untuk kerja bakti gotong royong membersihkan rumah namun kalian sendiri bekerja sendiri-sendiri. Tidak ada kata “di depan memberi contoh, di tengah membangun motivasi, di belakang mendapat pencerahan”. Ah, kami lupa. Kalian hanya peduli dengan like. Seribu status pun tidak ada faedahnya tanpa ada sebuah perbuatan.

Kami adalah miniatur kalian

Kami tidak lepas dari kalian. Kami melihat apa yang kalian lakukan. Tidak perlu berharap kami bisa menjadi orang hebat selama kalian memperlakukan kami seenaknya. Itu hanya kenyataan semu. Berhentilah menggunakan topeng lalu memamerkan kebusukan di hadapan kami.

Anak kecil dalam diri ini sakit

Ia amat rapuh. Berjalan pun tak sanggup. Sekujur tubuhnya terus tertatih. Sepanjang hari hanya ada raungan dan jeritan. Inilah bagian terdalam diri kami. Masa kecil bahagia hanya menjadi utopia belaka. Apakah salah jika anak kecil itu ingin bahagia? Apakah salah apabila ia hanya ingin tersenyum tulus? Apakah salah jika anak kecil ini berevolusi menjadi sosok dewasa yang bisa diandalkan? Biarkanlah ia sembuh. Cukup sudah semua harus berakhir di sini.

Masa lalu memang takkan lepas dari diri kita. Bukan berarti masa lalu dibiarkan berlalu begitu saja. Banyak pelajaran yang bisa dipetik agar kita menjadi sosok yang lebih bijak di masa depan. Seperti halnya masa kecil tidak bahagia yang ane alami. Maafkan apabila tulisan ane terlalu emosional. Ane hanya menuangkan kepedihan itu dalam tulisan agar tidak berlarut-larut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s