Sinetron, Dulu dan Sekarang

Kalo di tulisan sebelumnya, ane ngomong sinetron itu kotoranetron maksudnya merujuk pada sinetron zaman sekarang.

Ya hasil ane kepo dari beragam sumber, kemunculan sinetron di Indonesia bermula pada akhir tahun 80-an. Yup, tepatnya karena muncul sebuah stasiun televisi swasta pada saat itu. Tapi seiring perkembangan zaman, sinetron kok … miris. Malah orang-orang di zaman sekarang lebih senang menonton serial TV Barat dan Asia dibandingkan dengan sinetron.

Ane kesentil ama salah satu dialog yang ada pada episode Jinny Oh Jinny. Ya mumpung ada televisi swasta yang siarin acara jadul lagi, nonton sajalah. Sekalian nostalgia.

Kalo episodenya terlalu panjang, tar jadi sinetron yang membosankan.

Kalo gak salah kalimat itu diucapkan saat episode Jinny ketemu kakak tirinya. Sinetron era 90-an pun sudah bisa memprediksi hal itu.

Ane sering ketawa kalo liat maniak sinetron lagi ribut ama otaku di jejaring sosial. Singkatnya ributin Anak Jalanan versus One Piece.

bika bikah
dikirain rebutin aku di jalan pake HP :d

Bagi orang yang anti banget sama sinetron, pasti drama tak berujung seperti halnya di jejaring sosial. Mulai dari perang status sampe perang meme. Emang ada apa sih dengan sinetron lokal Indonesia? Bentar, pinjem DeLorean dulu buat balik ke zaman kejayaan sinetron.

back-to-the-future
sumber: telegraph.co.uk

All hail Marty McFly!

Apa sih yang bikin sinetron lokal kurang greget dan bahkan dicap gak bermutu hingga jadi drama tak berujung di jejaring sosial?

Miskin variasi

Berbahagialah buat ente anak tahun 90-an. Antv gak cuman penuhin tayangan dengan pelem India sepanjang hari kok. Mulai akhir bulan Ramadhan kemaren, Antv menayangkan lagi sinetron jadul yang hits di masanya.

Miskin variasi? Emang mobil? Maksud ane genre sinetron. Sebagai contoh tengoklah sinetron era 90-an yang tayang lagi di Antv. Sinetron era 90-an lebih kaya akan variasi cerita. Gak cuman drama bikin nangis bombai, peran antagonis lebai bak pelem India, dan bikin penonton greget liatnya. Ada sinetron khusus untuk anak-anak, sitkom, slice of life, horor, bahkan sinetron laga kolosal pun ada.

Kalo sinetron zaman sekarang? Tengok saja televisi sekarang. Ane gak bisa komentar banyak soal itu.

Sinetron-Anak-Jalanan-Sinopsis-dan-Episode-di-RCTI
gak tahu ini gak kekinian (?)

Kelewat niat

Ane baru sadar itu waktu liat lagi Jinny Oh Jinny, Tuyul dan Mbak Yul, Putri Duyung, ama Jin dan Jun. Secara efek, harusnya sinetron zaman sekarang jauh lebih baik dari era 90-an. Mulai dari tema, cerita, karakter, hingga editing pascaproduksi.

Tengok saja efek komputer pada empat sinetron yang tayang lagi di TV itu. Memang pada zaman itu proses editing tidak sebaik zaman sekarang. Namun jika ditonton lagi lalu dilihat dari kacamata pada zaman itu, udah termasuk bagus.

Contoh lain sinetron jadul dengan efek yang niat adalah Misteri Gunung Merapi. Sinetron kolosal yang menceritakan tentang Mak Lampir, Kalagondang, dan kawan-kawannya itu berhasil bikin ane merinding gak bisa tidur waktu kecil. Selain itu masih ada Mody Juragan Kost yang bener-bener bikin ane mimpi buruk sewaktu TK padahal ditayangin pas siang-siang.

Sebagai pembandingnya, tidak lain dan tidak bukan … naga gak jelas dan serigala cicak! Naga gak jelas merujuk pada animasi 3D nanggung pada film laga yang sempat tayang di televisi. Serigala cicak, sebenarnya dari GGS. Kok jadi cicak? Mulanya dari status temen ane di pesbuk yang singgung hal itu.

Gue suka geli-geli sendiri kalo liat GGS. Itu serigala apa cicak?

Kalo tadi dari efek, sekarang dari produksi. Biasanya di akhir acara sinetron selalu ada sponsor atau ucapan terima kasih pada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan sinetron. Berbeda dengan sinetron era 90-an, sinetron zaman sekarang cenderung kurang dana. Tengoklah dari penggarapan cerita, properti, hingga setting.

Contohnya Putri Duyung dengan Mermaid In Love. Meskipun keduanya sama-sama mengusung tema putri duyung, terdapat perbedaan pada properti yang digunakan. Kostum yang digunakan para pemeran putri duyung pada sinetron Putri Duyung jauh lebih mencerminkan sosok putri duyung dibandingkan dengan kostum pada Mermaid In Love.

Andai saja sinetron di Indonesia digarap serius seperti halnya drama Korea atau serial televisi Barat. Pastilah orang-orang lebih tertarik menonton sinetron.

Semua karena “rating

Sinetron zaman sekarang lebih mendewakan rating dibandingkan dengan konten cerita. Tidak dipungkiri rating merupakan salah satu tolak ukur “kesuksesan” acara televisi dan pada sinetron lawas pun mengenal hal itu. Namun, rating telah membuat sinetron seperti out of topic. Tepatnya ceritanya melenceng seiring dengan berjalannya waktu dari episode-episode awal terutama pada sinetron dengan episode panjang.

Contoh sinetron zaman sekarang yang tetap konsisten dengan cerita awal adalah Cinta Fitri. Episode banyak namun cerita dan konflik masih berkutat antara Fitri, Farrel, dan orang-orang di sekitar mereka. Walaupun season akhir tidak segreget season awal, secara keseluruhan “masih berada dalam jalurnya”. Contoh lainnya adalah Para Pencari Tuhan. Walaupun terdapat bongkar pasang pemain, cerita PPT masih tetap pada kehidupan sehari-hari warga Kampung Kincir termasuk bang Jack. Cerita pun tanpa tambahan penyedap demi menaikkan rating.

Kalo sinetron jadul, biasanya yang konsisten adalah sitkom dan serial laga kolosal. Setahu ane cuman dua genre itu yang episodenya banyak selain Tersanjung. Kalo Tersanjung mah orang-orang juga udah tahu itu konflik sampe anak cucu.

Contoh sinetron zaman sekarang yang “diperbudak” rating adalah Emak Ijah Pengen Ke Mekah. Pada episode-episode awal ceritanya berkutat tentang kehidupan keluarga Emak Ijah dan usaha Abbas yang ingin memberangkatkan ibunya naik haji. Seiring berjalannya waktu, cerita mulai tidak sesuai dengan episode awal. Tepatnya lebih fokus ke Trio Ubur-Ubur, kisah cinta bang Ocid dengan Munaroh, hingga muncul hal berbau klenik di akhir penayangannya.

Menjadi layak dan patut diperbincangkan *gubrak*

Sejauh ini ane belum menemukan kontroversi dari sinetron jadul. Mungkin karena belum zamannya jejaring sosial.

Sinetron zaman sekarang lebih cenderung menciptakan kontroversi di masyarakat dibandingkan dengan sinetron lawas. Ane pernah baca artikel soal Fahira Idris, seorang anggota DPD, membuat sebuah pernyataan yang membuat fans berat Anak Jalanan ribut di jejaring sosial.

Ih bahasanya lebai bingit deh soal kontroversi. Sinetron pada era 2000-an banyak dikecam para pecinta drama Asia karena banyak menjiplak cerita dari dorama dan drama Korea. Puncaknya ketika SBS mengajukan gugatan terkait dengan penjiplakan drama My Love From Stars. Sinetron zaman sekarang mengundang kontroversi karena cerita di dalamnya.

Contoh kontroversi yang beredar di masyarakat yaitu fenomena Anak Jalanan. Sinetron yang sedang hits itu pun menuai kontroversi akibat “mengajarkan” pacaran adalah segalanya. Sinetron tersebut dianggap sebagian kalangan terlalu fokus pada hubungan pacaran Boy dan Reva. Sebagian kalangan menganggap sinetron tersebut tidak mendidik generasi muda. Menanggapi keluhan masyarakat, KPI pun turun tangan menghadapi fenomena Anak Jalanan ini.

Mengupas sinetron emang gak bakalan kelar. Ini hanya pengamatan ane sebagai seorang penonton televisi yang miris dengan kondisi sinetron Indonesia yang semakin merosot.

Iklan