Penerjemah Karbitan

Tahu gas karbit yang digunakan untuk mematangkan buah? Beda lho buah mateng pohon dan buah matang karbit. Itulah analogi yang ane tampilkan pada tulisan ini. Tadaaa. Mangga dicobian! *lagi-lagi makanan =.=*

Kalo mo jadi penerjemah, minimal ente punya fitur penerjemahnya si Mbah! Itulah humor yang beredar di kalangan fansub. Sebenarnya sih sindiran karena banyak “penerjemah karbitan” beredar di grup fansub yang ada. Salah satunya adalah ane. Tapi itu dulu, soalnya kini ane sudah ke luar. Hahaha! Ane bakal cerita deh suka duka menerjemahkan satu anime. Meski beberapa episode, ane banyak belajar dari sana.

Jujur saja ane paling benci kata “tenggat waktu”. Bisa dibilang ane adalah tipe orang yang cenderung santai dalam mengerjakan suatu hal. Tidak bisa bekerja jika berada di bawah tekanan. Pantesan ane sering ditolak jika melamar kerja dan kalo kerja pun bosnya gak betah ama ane. Ane lebih cocok berada di pekerjaan yang bisa dibawa santai seperti desainer ato beta tester *beta tester Square Enix lah, emang gak boleh ngarep?*. Salah satu pekerjaan yang pernah ane ladeni adalah penerjemah fansub. Itu pun dengan status karbitan.

Proyek pertama ane, Zetsuen no Tempest. Ini adalah proyek anime terberat yang pernah ane hadapi. Dibandingkan dengan menerjemahkan anime Ghibli atau kartun stop motion berlogat British seperti Bob The Builder, menerjemahkan ini sangat sulit. Proyek pertama dan banyak menyita waktu ane.

bobthebuilder_slide_main
sumber: bbc.co.uk

lebih mudah menerjemahkan kartun anak

Pertama, sumbernya asal comot dari Horrible. Sudah tahu dari namanya sudah “horrible”. Buka kartu gak apa-apa, toh sudah menjadi rahasia umum: tidak semua fansub di Indonesia menerjemahkan langsung dari bahasa Jepang – Indonesia. Kalo mo rekrut penerjemah langsung seperti itu, ente bisa lirik tetangga sebelah ane yang mahir berbahasa Jepang.

Kedua, tenggat waktunya sebentar amir. Penerjemah pemula tidak bisa menerjemahkan anime secepat profesional. Ane belum sebut karbitan macam ane lho. Karbitan malah lebih lambat dari penerjemah pemula tanpa bantuan Google Translate—alat terlarang dalam jagat persilatan fansub di Indonesia. Sebenarnya sih tergantung kemampuan berbahasa Inggris seseorang sih. Ada yang setara pro, seperti halnya Yogz yang emang anak Sastra Inggris.

Ketiga, kebagian dapet sumbernya Horrible yang terkenal dengan tata bahasa lebih amburadul dari bahasa bayi. Lebih baik ane menonton Supernatural tanpa takarir di TV kabel daripada melihat takarir amburadul seperti itu. Asal tembak literal ato liberal juga susah. Apalagi kalo pake Google Translate tambah kacau. Mending bolak-balik buka kamus sambil nonton berulang kali daripada menggunakan Google Translate.

Terakhir, temanya. Tema yang cukup berat bagi ane sebagai penerjemah karbitan untuk menyampaikan isi cerita ini dengan baik kepada penonton. Lebih dari satu referensi ane gunakan untuk menerjemahkan anime ini. Anime adaptasi manga yang terinspirasi dari karya-karya William Shakespeare dengan eksekusi yang tidak mengecewakan. Dalam proses penerjemahannya awalnya bingung. Setelah berjalan beberapa episode, ane bisa dibilang menikmati seri ini. Ane juga gak tahu ini termasuk dalam Sci-Fi ato Science Fantasy. Meskipun proyek ini di-drop karena alasan yang ane gak tahu, ane merasa “berat” juga meninggalkan seri ini.

Dulu masih bertiga. Ane, Yogz, ama partner-in-crime-nya Ahong. Nick-nya pada weeaboo pula. Kalo nick ane sih sebenarnya diambil dari nama kapten no 9 di Claymore. Masing-masing berfungsi ganda. Ada yang penerjemah, penggunggah, sampe juragan pos ronda mantengin unduhan torrent sampe kelar. Ane kebagian proyek yang susah pula. Udah mah susah, anenya emang rada santai. Mungkin ini adalah pelatihan kilat yang Allah berikan pada ane melalui temen sekelas ane agar ane menjadi pribadi lebih baik.

Bicara soal karbitan, ane memang beneran karbitan. Ane gak pernah aktif di komunitas anime manapun. Ane gak pernah mengikuti perkembangan anime setelah anime nyaris tidak terlihat di televisi melalui jalur resmi. Ane lebih demen pantengin manga dan itu pun ane terbilang selektif dalam memilih genre. Mau gak mau maksa ane untuk belajar. Berguru di Sekolah Fansub, main di komunitas baik forum maupun jejaring sosial, bolak-balik buka buku dan internet mencari referensi pendukung, dan ampe dimarahi Emak gara-gara begadang. Selain itu ane harus mencari tahu bagaimana cara menggunakan Aegisub, bagaimana cara muxing, menentukan kualitas suara, video, dan jenis tulisan yang digunakan, cara mengakali koneksi internet yang sering terputus saat unduh di torrent, memperhatikan rilisan fansub sebelah sebagai pembanding, ngobrol ama temen ane yang lebih paham soal anime, ampe merelakan pacar lappie ane overheating gara-gara belajar encode.

Penerjemah itu harus cerdas. Gak bisa seenak jidat menerjemahkan sesuatu begitu saja. Mereka harus berwawasan luas seperti halnya ente yang ingin menjadi seorang wartawan. Ane ngakak waktu lihat DVD Mahabharata bajakan yang Babeh ane beli. Terjemahannya sangat kacau. Lebih kacau dari Google Translate pula. Ane curiga si penerjemah memang memakai alat terlarang itu atau benar-benar awam soal Mahabharata. Itu cerita yang sering diangkat dalam lakon pewayangan. Hampir semua orang pernah menonton acara wayang baik di televisi maupun di acara-acara tertentu seperti pernikahan atau tahun baru.

Ane jadi ingat kisah ane semasa menerjemahkan Zetsuen no Tempest dulu. Memang bisa dibilang terjemahannya kacau balau karena pertama kali belajar. Ane gak tahu apa-apa soal itu. Baca manga-nya aja gak. Malah ane bukan pengagum berat karya-karya Shakespeare seperti halnya si pembuat manga. Kalo soal karya sastra klasik Barat, ane cuman tahu karyanya L. M. Montgomery. Ada beberapa bagian yang diambil dari kitab Kejadian (Genesis kalo di sumber berbahasa Inggris) di Injil. Ane juga bukan mahasiswa yang mempelajari perbandingan agama. Menerjemahkan dari bahasa Inggris saja “sumbernya sudah njelimet”gitu. Gak heran ane lama menerjemahkannya, di samping bawaan alami ane yang mengerjakan sesuatu secara acak, santai, dan bercampur males. Belum lagi harus bolak-balik buka Wakan gara-gara terjemahan Horrible yang sesat. Emang ane gak belajar bahasa Jepang di sekolah tapi ane buka Wakan karena penasaran. Bermodal nekat, ane asal cari aja kanji dengan bentuk yang sama sekaligus pelajari artinya satu persatu. Lumayan, gara-gara terjemahan sesat jadi inget beberapa kanji. Setiap ketemu kanji baru ane catat pula arti dan cara penulisannya.

Meskipun ane sudah berhenti menjadi penerjemah karbitan, pengalaman yang ane terima … ya lumayan *dengan gaya Hinano ngobrol di depan Cacao*. Sebelum ente putuskan untuk menjadi seorang penerjemah, baik itu karbitan, fansub, maupun penerjemah resmi, pikirkan hal ini baik-baik.

Menerjemahkan bukanlah hal yang mudah. Menerjemahkan adalah suatu proses untuk mengartikan informasi kepada penerima tanpa menghilangkan esensinya. Tidak semua orang bisa menerjemahkan apa yang ada dalam pikirannya kepada si penerima, terlebih jika terdapat hambatan seperti bahasa dan kebudayaan. Susah ya penjelasannya, ya begitulah. Ane bukanlah ahli bahasa. Menerjemahkan sekilas sederhana, tapi susah juga untuk dipraktikkan. Profesor saja belum tentu bisa mengajarkan materi kuliah yang berat pada anak-anaknya yang balita dengan bahasa mereka.

Menjadi penerjemah dituntut untuk memiliki kecerdasan majemuk. Ane sebagai orang awam tahu itu. Seorang penerjemah tidak boleh sembarang menerjemahkan suatu hal. Minimal mereka tahu konteks yang dibicarakan oleh sumber informasi agar menghasilkan karya berkualitas. Selain itu mereka harus memiliki pengetahuan yang luas. Seperti halnya menerjemahkan buku Biologi. Tanpa mengetahui cabang-cabang Biologi yang dibahas dalam buku tersebut, penerjemah akan kesulitan menerjemahkan buku itu agar lebih mudah dicerna oleh masyarakat. Penerjemah harus memiliki pembendaharaan kata yang luas untuk membantu tugasnya.

Penerjemah harus berani bertanya, seperti halnya seorang wartawan yang serba ingin tahu. Malu bertanya sesat di jalan sangat berlaku di sini. Tak selamanya penerjemah bekerja sendiri. Kadang bekerja dalam sebuah tim. Tanya saja jika tak ada yang dimengerti. Lebih baik lagi jika bertanya langsung pada pakarnya.

Kualitas memang penting, tapi jangan lupakan waktu. Kadang apapun yang ente inginkan tak sesuai harapan. Untuk membuat sesuatu yang berkualitas memang membutuhkan waktu yang lama. Banyaklah berlatih untuk mengasah kemampuan ente menghasilkan terjemahan berkualitas dalam waktu sesingkat mungkin. Hal itu dapat mempersiapkan ente untuk diburu oleh orang-orang yang membutuhkan jasa ente dengan bayaran tinggi. Tapi inget, uang bukanlah segalanya. Jangan korbankan kualitas terjemahan ente karena uang.

Kok tidak membahas hal-hal mengenai penerjemah lapangan? Karena di sini konteksnya adalah penerjemah karya-karya baik di media cetak maupun elektronik. Maaf aja kalo agak meracau, ane bukanlah mahasiswa jurusan Sastra. Semua ini ane tulis berdasarkan pengalaman ane mengisi kekosongan waktu menjadi penerjemah karbitan pada salah satu fansub lokal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s