Kapan Tidak Jungkir Balik

Mungkin ini adalah tulisan terakhir ane dalam sesi jungkir balik. Lelah juga mengurusi keadaan masyarakat yang terus jungkir balik. Sebaiknya ane harus melakukan perubahan kecil. Minimal agar pengunjung tersesat pada jurnal pelarian ini tidak selalu jungkir balik.

Kondisi bangsa ini, khususnya anak muda zaman sekarang, rasanya begitu jungkir balik. Jika zaman orang tua dahulu pacaran hanya sebatas malu-malu kucing, gaya berpacaran anak sekarang pun sudah bikin orang tepok jidat. Bagaimana tidak? Toh sekarang cewek seakan-akan sebagai pemuas nafsu bejat para cowok berkedok cinta monyet.

Dulu banyak orang-orang cerdas di negeri ini. Hanya saja karena tidak diakui mereka lalu hijrah ke negeri seberang *jangan lupa BGM tekno miris : ESTi – Oblivion*. Gimana jadinya kalo orang kayak Apul bernasib semiris itu? Apul, jangan tinggalkan dinda … jikalau kakanda pergi takkan ada cerita epik mengenai diri kakanda *gubrak*. Eh jangan salah paham, kalo gak ada dia gak bakalan ada cerita epik mengenai kejeniusannya.

Anak-anak zaman sekarang lebih doyan dugem padahal doku pas-pasan. Masuk ke tempat dugem terbilang gak murah. Kalo tempat dugem ditutup lari ke acara bulan Ramadhan. Hadeuh.

Dulu rasanya deket banget ama namanya Al Qur’an. Rasanya kalau berpisah darinya serasa sayur tanpa garam. Setelah dewasa *lagi-lagi dengan BGM yang sama* … aku rapopo. Jujur aja, kebanyakan remaja muslim sekarang jauh dari Al Qur’an. Padahal terlalu bebas juga gak baik. Masih ada pembatas yakni kebebasan orang lain dan norma-norma seperti agama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s