Catatan Hati Seorang Penonton Televisi

Judulnya sekilas mirip novel tenar, tapi ini kepikiran gara-gara nonton ILK tadi malem sih. Malah tema malam itu “Catatan Hati Seorang Suami”. Sudahlah, sesuai judul ane bakal curhat abis-abisan soal televisi.

Setiap kali ane bingung kalo memegangi satu alat sakti bernama remote televisi. Jauh lebih bingung daripada saat ane membuka buku atau menulis. Maklumlah, hampir setiap hari sebagian waktu untuk menonton televisi dihabiskan untuk memindahkan saluran. Terkadang ane kesal jika ane menonton televisi di kamar adik ane yang salurannya lebih lengkap. Setiap hari ane harus mengalah karena adik ane benar-benar kecanduan sinetron yang jauh lebih parah dari kecanduan game online atau narkotika. Jika ane menonton televisi di ruang keluarga pun salurannya sengaja dipangkas oleh orang tua. Maklumlah, mereka seakan-akan memonopoli televisi untuk kepuasan mereka sendiri.

Ane rindu sekali pada era 90-an karena ane memang terlahir pada era itu. Saat itu tayangan televisi masih terbilang beragam. Saat memindahkan saluran tidak terasa membosankan. Acara pada stasiun televisi A belum tentu sama seperti stasiun televisi B. Tayangan pun masih layak ditonton. Ya meskipun acaranya tidak lepas dari sinetron, tidak separah saat ini. Anak-anak begitu dimanjakan saat akhir pekan tiba. Dua hari penuh terisi oleh tayangan anak dan keluarga. Selain itu banyak acara hiburan televisi yang membekas kuat pada ingatan ane saat itu. Misalnya Kuis Jari-Jari dengan pembawaan khas Pepeng yang saat itu masih bisa bergerak lincah menghibur para pemirsa. Jika sinetron pun Keluarga Cemara dengan kehidupan keluarga Abah dan gaya nyentrik khas Wiro Sableng.

Hari demi hari, tahun demi tahun, rasanya si kotak kaca ajaib itu perlahan berubah. Mulai dari bentuk hingga tayangan yang disuguhkan. Hampir setiap hari ane dihibur oleh televisi karena kedua orang tua ane saat itu terbilang sibuk. Semakin bertambah besar semakin banyak kekesalan yang menumpuk di dalam dada.

Pertama, acara musik. Keluarga ane memang pecinta musik. Tak heran ane tak asing dengan lagu-lagu Deep Purple, Dewa 19, Koes Plus, Boyzone, 911, Westlife, hingga dangdut saat itu. Hampir setiap hari keluarga ane mendengarkan musik baik di radio maupun televisi. Dulu jika ingin mendengar musik di televisi harus menunggu acara September (acara chart musik pada zaman ane kecil yang pernah tayang), In Dangdut (chart musik dangdut yang tenar di masanya) Pesta yang nyaris tak pernah absen setiap minggu, Gebyar BCA, hingga menunggu relai MTV yang tayang di salah satu televisi swasta. Jika ingin musik anak, harus menunggu sore hari untuk menyaksikan Tralala Trilili atau acara Meissy di akhir pekan. Saat itu banyak sekali artis cilik. Dulu ane masih ingat masih menjadi fans berat Kiki, penyanyi cilik dengan gaya ala Boboho, dengan lagu Berhitungnya. Malah ane tidak pernah absen menyetel kaset itu. Sekarang ane tidak tahu bagaimana kabarnya baik kaset maupun penyanyinya.

Memasuki era 2000-an semakin banyak acara musik bermunculan. Semakin banyak pula video klip yang semakin liar terutama video klip Barat. Bahkan saat ane tengah berkaraoke ria dengan teman-teman sekelas, ane terperangah melihat video klip dengan adegan yang seperti binatang. Masa kejayaan anak-anak sebagai penyanyi cilik pun sirna. Setelah era Sherina, tidak ada lagi artis cilik yang bisa seterkenal penyanyi cilik era 80-an atau 90-an. Mereka masih ada namun gaungnya nyaris tak terdengar. Anak-anak lebih menyukai lagu bermuatan dewasa sehingga banyak anak kecil yang dewasa sebelum waktunya saat ini. Padahal lagu dewasa bisa merusak pita suara anak karena jangkauan nada yang berbeda dan materi yang berunsur dewasa bisa ditelan bulat-bulat oleh pemikiran polos mereka. Setelah era itu, muncullah boyband anak dengan lagu yang tidak anak-anak. Miris. Padahal masa anak-anak adalah masa di mana mereka bermain dan belajar dengan riangnya. Acara dengan lagu anak hanya bisa ditemui di Spacetoon dan MQids di MQTV. Meskipun sedikit, itu bisa melestarikan lagu-lagu anak yang sarat makna agar tidak punah.

Kedua, gosip. Ane tergelitik ketika membaca Al Qur’an dan tak sengaja menemukan terjemahan ayat mengenai fenomena ini. Ane lupa surat apa dan ayat berapa, intinya adalah saat pagi beriman lalu ketika siang mereka kembali dengan perbuatan (maksiatnya) mereka begitu pula seterusnya. Mungkin siapapun yang mengetahui ayat ini atau hafizh Qur’an bisa memberitahu surat apa dan ayat berapa karena ane takut akan dosa. Persis seperti fenomena acara televisi dewasa ini. Pagi diisi oleh siraman rohani sesuai keyakinan masing-masing yang ditayangkan dengan jadwal tertentu, seperti Senin dengan ustadz X dan Selasa dengan pendeta Y. Siangnya kembali dengan rutinitas bergunjing yang membuang-buang waktu dan berpotensi fitnah dengan kompor gas bermerek televisi.

Infotainment di Indonesia mengalami pergeseran makna menjadi acara gosip. Padahal, ketika ane menonton tayangan infotainment luar negeri melalui TV kabel, tidak semua bermuatan gosip. Mereka lebih menekankan tentang serba-serbi dunia hiburan, prestasi, dan informasi yang akan datang mengenai dunia hiburan. Hampir setiap jam dan setiap hari ane selalu menemui acara gosip pada waktu yang sama, dengan berita monoton. Jika saat ini sedang heboh Ayu Ting Ting dengan Husein si Rocker Syariah dan Aliando dengan Prilli, hampir semua stasiun televisi latah menayangkan itu semua. Seperti tidak ada berita lain saja. Bahkan prestasi anak bangsa baik di festival luar negeri maupun penghargaan internasional nyaris tak tersentuh karena gosip. Mereka bahkan jauh lebih memperbarui gosip dibandingkan dengan keadaan keluarga mereka sendiri atau keadaan lingkungan di sekitarnya.

bersambung….

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s