Catatan Hati Seorang Penonton Televisi (Bagian ke-2)

Karena orang Indonesia tidak suka teks ala protip dan memiliki minat baca rendah, mau tak mau ane pecah tulisan ini.

Jika ente belum membaca latar belakang dan bagian lain tulisan ini, silakan ente baca artikel yang ane tulis sebelumnya. Ane gak maksa sih tapi jika ente penasaran silakan klik tautan di atas.

Ketiga, berita. Apakah yang ente tunggu dari berita? Prestasi bulutangkis Indonesia yang gemilang. Perkembangan pembangunan di seluruh wilayah di Indonesia. Informasi mengenai negara-negara dengan keelokan alam dan kemajuan teknologinya. Prestasi para pelajar Indonesia dalam ajang bergengsi dunia. Informasi terbaru tentang lingkungan di sekitar kita. Itu semua hanya bisa ditemui pada berita televisi zaman dahulu.

Kenapa ane menulis demikian? Berita bukanlah sarana untuk menyampaikan informasi semata, melainkan sebuah informasi yang dipoles sedemikian rupa demi kepentingan tertentu. Banyak sekali berita sengaja dibuat hanya untuk pencitraan semata. Banyak sekali majas eufimisme yang dikemas sedemikian rupa untuk membaurkan fakta. Banyak sekali berita yang sengaja dibuat sebagai sarana penyebaran fitnah. Banyak sekali berita yang lebih bernuansa negatif akhir-akhir ini. Ane sebagai seorang penonton lebih memilih untuk menonton dua saluran televisi dengan berita bermuatan positif. Berita-berita yang ane tuliskan pada paragraf sebelumnya pun hanya muncul sekilas pada teks berjalan. Seakan-akan masyarakat seperti dibodohi dengan berita. Jangankan ane yang otaknya bisa dibilang standar bagi calon mahasiswa, ente pun bakal dibuat bingung dengan berita di televisi. Manakah berita yang fakta dan berita pencitraan semata? Nampaknya ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan mengerjakan soal UN Bahasa Indonesia atau berkutat pada Kalkulus.

Bicara soal sinetron, ane tidak akan membahas hal itu karena sudah ane utarakan pada artikel ane sebelumnya. Toh semua orang pun tahu bagaimana keadaan jagad persinetronan tanah air. Bermodal tampang dengan akting pas-pasan. Cerita seakan memaksakan dengan grafis yang masih kalah dengan buatan anak-anak SMK jurusan Multimedia atau bahkan oleh anak kecil yang paham desain. Cerita jiplakan hingga bermasalah pun sudah dianggap lumrah. Tahu sendiri lah bagaimana rupa tayangan opera sabun di televisi nasional.

Berikutnya, komedi. Lawak memang lucu namun akhir-akhir ini ane merasa kurang sreg. Terlebih lagi pada acara lawak yang ditayangkan pada bulan Ramadhan. Bahkan ane pernah mendengar ceramah salah satu ustadz di radio dan saat itu beliau mengeluhkan acara bulan Ramadhan yang lebih banyak diisi oleh komedi saat sahur tiba. Saat sahur memang bagi empunya televisi yang lebih mengagungkan rating merupakan salah satu jam prime time di bulan Ramadhan.

Lupakan soal komedi di bulan puasa, kali ini ane bicara soal komedi secara umum. Komedi di Indonesia kebanyakan memang tergolong slapstick. Meskipun ada juga yang bukan slapstick seperti halnya stand up comedy, ludruk, ketoprak, hingga wayang humor. Kebanyakan tayangan komedi di televisi diisi oleh pelawak yang tergolong keterlaluan. Bukan slapstick namanya, melainkan penghinaan. Sebagian orang tertawa namun sebagian orang tidak bisa menerima apa yang menjadi bahan guyonan mereka. Terlebih lagi jika saat itu mereka sedang mengangkat hal-hal yang dianggap sensitif sebagai lawakan. Kadang ane juga merasa ingin sekali membanting televisi saat mereka melakukan lawakan yang cenderung keterlaluan. Apa mereka tidak pernah berpikir jika mereka berada dalam posisi korban atau pihak yang tersinggung? Apalagi jika acara itu ditayangkan pada bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan terlalu mulia untuk dikotori oleh lawakan sampah tak berbobot.

Selain itu mereka menggunakan properti yang bisa dibilang melampaui batas. Lempar-melempar tepung, memukuli kepala orang yang ditaruh panci, kadang terkesan mengikuti acara Fear Factor, menyumpal mulut orang lain dengan benda-benda seperti styrofoam, hingga memberi alat kejut listrik pada pelawak. Apa mereka tidak berpikir jika tayangan itu turut ditonton oleh anak-anak? Apa mereka tidak peduli dengan keadaan pelawaknya sendiri? Apa mereka tidak sadar jika mereka seakan kembali ke zaman purba, barbar, jahiliyah, atau primitif? Sirahku saiki uwes mumet.

Ah, itulah curhatan ane mengenai televisi. Bagaimana pendapat ente? Mungkin pendapat ente jauh lebih beragam daripada hal-hal yang ane kemukakan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s