Buku Teks yang Membingungkan

Benar ya. Semua lapisan kehidupan di Indonesia memang sedikit jungkir balik juga sedikit aneh. Seperti yang dikatakan oleh guru Seni Rupa di sekolah. Kata beliau kalau seprai-seprai yang bermotif seperti matahari yang di jual di Bali itu ternyata bukan produk Bali asli melainkan produk dari Tasikmalaya. Begitu pula benda-benda yang lainnya. Ini juga termasuk salah satunya, buku teks pelajaran.

Benda yang satu ini sangat penting sekali bagi seorang pelajar. Buku bisa menjadi media penghubung guru dan murid. Kita bisa mengerjakan tugas yang diberikan guru tanpa harus mencatatnya secara rinci. Kita hanya membuka halaman buku lalu tinggal mengerjakannya saja. Bayangkan ketika zaman dulu. Buku teks hanya dipinjamkan dari perpustakaan, itupun usianya bisa mencapai beberapa tahun. Dulu Emak pernah merasakannya. Pada saat itu buku teks yang dipinjamkan minim. Beliau pada saat masih kelas 6 SD pernah diminta mengajari adik kelasnya karena keterbatasan buku. Sekarang, hanya dalam beberapa langkah kita dapat menemukan buku di mana-mana. Dari pertokoan besar, pusat grosir buku, pasar buku murah, hingga pasar loak kita bisa menemukannya. Kalau keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan, kita bisa memakai buku bekas kakak atau saudara.

Masalah buku sudah menjadi masalah umum di negara ini. Bandingkan dengan negara lain. Harga buku di sana lebih murah. Belum lagi masalah monopoli penjualan buku. Penerbit-penerbit tertentu dengan sengaja memonopoli peredaran buku atau ulah oknum guru nakal yang dengan sengaja memonopoli penjualannya. Harga buku semakin mahal saja sudah memberatkan rakyat kecil. Belum lagi kurikulumnya selalu berubah-ubah. Situasi ini dimanfaatkan oleh penerbit-penerbit nakal untuk memonopoli buku teks pelajaran.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah membeli sejumlah buku teks pelajaran yang bisa didapatkan melalui akses internet. Ada lagi kebijakan lainnya tentang usia pemakaian buku hingga 5 tahun, bantuan BOS buku, juga pelarangan menjual buku di sekolah. Ini memang bagus tapi kalau diterapkannya tidak tepat sasaran malah muridnya bingung. Mau beli buku apa tidak tahu. Kadang-kadang kurikulum bisa berubah dan membuat mereka bertambah bingung. Buku-buku bekas kakaknya belum tentu bisa dipergunakan bahkan bisa dianggap usang karena tidak sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Kebijakan pemerintah bisa-bisa tidak ada gunanya lagi. Ada juga yang membuat bingung. Gubernur mengeluarkan kebijakan bahwa sekolah diperbolehkan menjual buku teks pelajaran. Tapi ada sebagian pihak melarang penjualan buku. Sekolah, khususnya koperasi sekolah menjadi bingung dan serba salah. Seperti yang diutarakan dalam sebuah lirik lagu, “…begini salah, begitu pun salah…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s