Bocah

Mo di catatan iseng di pesbuk, mo di jurnal pelarian sama-sama membahas bocah. Kenapa ente kepo amet urusin soal bocah, lha ente sendiri udah gede? Bukan gitu ceritanya.

Sebenarnya kata bocah itu konotasinya kasar. Identik dengan anak-anak kecil yang kelakuannya tidak sopan. Mungkin ini definisi dari seorang gamer dan netizen yang nongkrong di warnet. Bisa berbeda jika dilihat dari konteks pembicaraan sehari-hari dan dengan siapa lawan bicaranya.

Bukan apa-apa ane urusin bocah. Pertamanya sih gara-gara kesel ama kelakuan adik ane. Gile aja, masa ane disemprot dengan “seisi kebun binatang seluruh Indonesia dikeluarkan” setiap hari. Ngomongnya kasar dan sompral gak ketulungan. Kalo di alam terbuka bisa jadi kesurupan dah karena para makhluk halus juga gak suka (efek keseringan nonton acara tengah malem di stasiun TV swasta yang  ane sebut dengan “acara religi dengan ustadz jin”). Kerjaannya ya sebagian besar waktunya dihabiskan sebagai netizen. Bahkan UN kemaren aja menghalalkan segala cara biar lulus -,-

Ane perhalus dikit ye, anak-anak itu adalah generasi penerus. Ibaratkan sebuah bangunan, jika fondasinya sudah salah ya kemungkinan bangunan itu tidak akan menjadi seperti yang diinginkan. Bisa mencong sana-sini atau bisa hancur sebelum selesai. Kecilnya begini gimana udah gedenya. Begini nasib jadi anak zaman sekarang. Ke mana-mana membuat pusing tiada orang yang menegur. Yap. Seperti kasus kecanduan salah satu game online. Malah ortunya biarin si anak beli cash sementara ia merusuh, merusak properti warnet, dan berlaku tak sepantasnya bagi anak-anak seumuran mereka. Kecil mainannya FPS gedenya (mungkin) kalo gak tim sniper, densus 88, teroris, ato asinan eh assassin (ini dia efek samping terlalu banyak main game, kosakata ngaco).

Belum lagi dimanfaatkan oleh media massa dan pengusaha tentang fenomena ini. Yap, berbagai penawaran dijejalkan pada bocah-bocah bau kencur itu. Mulai dari produk makanan ringan hingga konsol terkini. Mulai dari lagu dewasa sampai disuruh jadi stalker. Bisa-bisa kalo level parah jadi penerus Yuno Gasai. Mode pun “mengikuti” orang dewasa. Gile tuh, gaya Suri Cruise tuh emang kece. Tapi gak bagus buat kesehatan ama perkembangan psikologis anak. Bocah pake high heels ama dandan tebel.

Kecil-kecil diajar gak jujur. Orang kota sih pasti tahu soal “beli soal ulangan”. Bisa aja gedenya beli kunci UN, SBMPTN, seleksi masuk Polban, ujian STAN, ampe kunci ujian CPNS. Atau lebih parah jokinya. Cuapcyus deh buo! *tepok jidat* Orang yang pinter ama orang pedalaman aja mati-matian belajar biar bisa sukses, mereka dikasih enaknya. Gak mendidik.

Sedikit-sedikit duit. Itulah kasus anak zaman sekarang. Bukan kasih sayang penuh yang dikasih, tapi DUIT. Emang DUIT bisa gantiin peran ORANG TUA ya? Malah itu dampaknya bisa kayak narkoba lagi. Kecanduan duit. Jadi inget kasus bocah nyolong gara-gara gak bisa beli cash “game tertatad menurut mayoritas gamer Indo”.

Sarana main gak ada, mo main gimana? Anak tetangga kanan-kiri-depan-belakang belum tentu kenal semua. Pada sibuk dengan gadget, game, ama konsol. Mana tahu mereka cara bikin mainan pake kulit jeruk bali. Mana tahu mereka aturan permainan lompat tali. Mana tahu mereka asyiknya mengejar layangan putus di siang bolong. Mana tahu mereka asyiknya bermain perang-perangan antar anak-anak 1 RT. Mana tahu mereka asyiknya main permainan tradisional sambil menunggu waktu berbuka puasa. Adanya lapangan bermain disulap jadi pusat perbelanjaan. Adanya sahabat berganti menjadi char game, pin, atau akun jejaring sosial. Adanya teriakan mengajak bermain di depan rumah teman menjadi ping, DM, atau chat.

Ini sedikit opini ane mengenai fenomena bocah-bocah zaman sekarang. Kasihan bener mereka. Itu fenomena di kota. Mungkin jika bergeser ke desa atau pedalaman, keceriaan anak-anak sedang bermain masih ada. Semoga saja senyuman dan tawa canda mereka tetap ada di tengah zaman serba modern dan kaku ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s