Apa yang Didapat di Sekolah

Perasaan kata guru Bahasa Indonesia judul itu gak boleh pake tanda baca sembarangan. Setahu ane paling yang dipakai tanda pisah untuk kata ulang ama titik dua sebagai penjelas. Beginilah nasib kalo berdosa selama duduk di bangku sekolah. Kalo guru ane (khususnya guru Bahasa Indonesia) iseng berselancar lalu menemukan artikel ini ane minta maaf. Ane udah tobat dan belajar berbahasa Indonesia yang baik.

Bicara soal judul, sudah beres basa-basinya. Kesentil judul ini gara-gara lihat temen ane berbagi gambar yang disadur dari situs luar. Intinya, apa saja yang tidak dipelajari di bangku sekolah? Pas dilihat eh bener juga. Udah lama berselang ane iseng bikin artikel ini.

Ya ini curhatan jujur ane. Kalo pembaca artikel ini berasal dari tingkat SMP hingga ke atas pasti pernah merasakan UN (atau UASBN bagi anak SD yang apes pernah mengalaminya). Masuk akal gak sih belajar mati-matian selama 3 tahun (4 tahun bagi siapapun yang tidak naik kelas atau memang mengambil SMK program 4 tahun) tapi kelulusan cuman ditentukan dalam waktu 3 hari. Contoh otak cerdas Apul dipakai kerja rodi selama 3 hari. Apul sendiri adalah seorang murid cerdas nyaris tanpa cela yang menghabiskan hari-hari selama 4 tahun bersekolah di SMK dengan prestasi. Ya bagi Apul sih gak masalah kalo menghadapi UN karena dia sudah cerdas, tapi bagaimana jika hal itu terjadi pada murid pemalas seperti ane? Mungkin sediakan beberapa cangkir kopi, minuman berenergi, siapin kitab-kitab penuntun SKS aka sistem kebut semalam, penurun kadar kortisol saat hari-H, sedikit asupan coklat (makasih buat Pak Aldi atas tips sederhananya), sampai trik klasik “tulisan telapak tangan kiri”. Kalo pernah ikut UN pasti tahu itu apa :p

Selama ane menjadi seorang hikikomori, ane mikir apa yang ane dapatkan selama 13 tahun belajar di sekolah. Itu realita, karena ane mengambil SMK prodi 4 tahun dan satu kelas dengan makhluk jenius bernama Apul pula. Paling kepake dalam hidup ane adalah materi Fisika, Matematika, Ekonomi, Kewirausahaan, Bahasa (apapun itu karena ane doyan menulis ama baca), Kimia terapan dan lingkungan, Biologi kesehatan dan lingkungan, Seni Rupa, Komputer, dan Agama. Meski yang terakhir ini  ibadahnya terbilang belang-betong dan ajaran agama belum sepenuhnya ane terapkan.

Contoh sederhananya adalah Fisika. Sejak menjadi hikikomori ampe setelah dipecat dari pekerjaan ane, ane gak perlu lagi pacaran dengan rangkaian elektronika, resistor, avometer, gerbang logika, dan teman-temannya yang terlalu banyak jika disebutkan. Pekerjaan ane di rumah tidak jauh dari benerin komputer, ngejar-ngejar ponakan yang nakalnya minta ampun, menulis cerita, baca artikel acak yang ditemukan di internet, unduh dan menonton anime atau film, mengendalikan Reimu Hakurei agar tidak terkena peluru nyasar, iseng-iseng cari lamaran kerja, juga bantu orang tua bersih-bersih meski ane kadang kesel diperalat ibu hamil yang lagi rempong di rumah persis Kak Ros. Bicara soal yang terakhir, apa hubungannya Fisika dan bersih-bersih? Pesawat sederhana. Prinsip itu sangat berguna di saat mencuci. Jika menjemur pakaian yang selesai dicuci dengan cara itu maka ente bisa mendapatkan hasil jemuran yang merata dan memperpanjang umur alat jemuran ente. Habisnya gantungan jemuran di rumah ane pake jemuran gantung plastik mirip rangka payung karena ruang terbatas.

Jika ente serajin Apul tidak ada materi pelajaran yang sia-sia diajarkan di sekolah. Tapi untuk murid rata-rata yang mau enaknya aja termasuk ane bisa jadi masalah. Gak heran kenapa angka pengangguran orang intelek tinggi. Salah satunya karena materi pelajaran tidak sesuai dengan realita. Nah sekarang, apa yang didapat dari selama ini bersekolah? Setiap orang memiliki jawaban bervariasi tergantung pola pikir, tolak ukur keimanan, dan pribadi orang itu sendiri. Jika selama ini yang didapat adalah positif ya bersyukurlah karena hal itu sangat bermanfaat di kehidupanmu kelak. Tapi jika negatif … entahlah. Bukan urusan ane. Siap-siap saja bertobat menurut keyakinan masing-masing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s