Permintaan Dena

Sayang Italia gak masuk babak final. Tapi kalo gak nonton bola gak rame juga. Meskipun aku ini pendukung Italia, tapi aku senang saat semua warga berkumpul untuk menonton sepakbola. Terlebih saat bulan puasa, sekalian menjalin silaturahim dan memenuhi pesanan Pak Kades. Tapi karena gempita Piala Dunia, aku terlambat bangun untuk bimbingan dengan dosen.

“Mito, bagaimana dengan skripsinya?” tanya Pak Anton, dosen pembimbingku di taman kampus.

“Skripsi udah ada perkembangan. Semua nilai yang kurang sudah diperbaiki.”

“Baguslah. Sebaiknya kau selesaikan skripsimu secepat mungkin. Kesempatan wisudamu tinggal tahun ini saja. Kau ini terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga lulus lebih lama dari teman-temanmu.”

Memang benar perkataan Pak Anton. Aku memang banyak mengambil cuti dan penelitian untuk skripsi terbilang lama karena aku lebih sibuk bekerja. Pagi berada di toko dan siangnya harus pergi ke kampus. Untung saja Pak Anton dosen yang baik dan pengertian.

“Mito, nanti kirimkan naskah bab IV dan V ke e-mail bapak. Bapak akan periksa laporanmu.”

Berbicara soal skripsi, Pak Anton tidak seperti dosen kebanyakan yang memeriksa skripsi setelah dicetak. Maklumlah, Pak Anton sendiri adalah seorang aktivis lingkungan. Alasannya, irit kertas dan waktu. Jadi laporan skripsi yang akan disampaikan pada saat sidang dan dicetak sudah dalam kondisi yang baik. Setelah menemui Pak Anton untuk berkonsultasi, aku segera membayar cicilan motor.

“Semuanya tiga juta seratus dua puluh lima ribu rupiah,” katanya cicilan 0% tapi masih berbunga. Kapan ada unit pembiayaan cicilan syariah? Lumayan untuk menampung orang-orang dari jurusan Perbankan Syariah sepertiku.

Dengan wajah muram aku pergi dari kantor pembiayaan cicilan motor. Motor bebek merah kesayanganku, semoga tidak ada orang yang tertipu oleh bunga lagi. Uang dari Arab baru saja kuterima hari Senin. Aku ragu apakah uang itu cukup untuk jatah satu bulan. Belum termasuk uang cadangan untuk berbelanja bahan ta’jil yang banyak dipesan dan uang untuk mengganti barang Pak Robert yang diambil Ribo.

Sesampainya di rumah, tidak terlihat keberadaan rambut kribo di rumah. Hanya ada lelaki berkepala plontos dengan perut seperti tong sampah yang sedang mencorat-coret koran.

“Assalamu ‘alaikum.”

“Wa ‘alaikum salam. Eh, masbro! Ada yang nyari masbro tadi.”

“Pasti orang dari Adila yang nagih cicilan motor. Barusan dibayar ke sana.”

“Tadi sih ada cewek ke sini. Orangnya cantik dan rambutnya panjang kayak Rapunzel.”

Tidak ada orang lain di desa yang rambutnya lebih panjang dari Dena. Ada perlu apa Dena datang ke rumah? Padahal baru kemarin aku datang ke rumahnya untuk konsultasi masalah keuangan. Aku datang saja ke rumahnya. Kini sundel bolong itu sudah digantikan oleh … kostum Mahabharata? Apa karena sekarang gadis-gadis sedang tergila-gila dengan Arjuna dan Krishna yang ganteng sehingga bikin kostum untuk cowok mereka cosplay?

“Dena, apa ini kerjaan Ribo dan Reina lagi?”

“Bukan. Ini buatan Reina sendiri.”

Anak itu memang bicaranya seperti dimengerti oleh orang di dunianya sendiri. Ia memiliki bakat seni yang gila seperti halnya Ribo. Bahkan semuanya dibuat sama persis dengan kostum aslinya. Apa jangan-jangan semuanya memakai artefak emas asli dari galian di gunung?

“Masuklah.”

“Assalamu ‘alaikum.”

“Wa ‘alaikum salam.”

Aku duduk di ruang tamu rumah Pak Kades. Ruang tamu bergaya minimalis dengan dekorasi dominan kayu. Berkesan alami dan siapapun yang berada di sana akan merasa seperti di rumah sendiri. Dena pergi ke dalam rumah. Aku melihat sebuah meja yang “tidak nyambung” dengan tema. Meja jati kecil dengan ukiran Jepara di depanku.

“Mito, bapak lagi ikut penataran di Bandung. Kata bapak, ini uang konsumsi dari warga untuk ta’jil dan Piala Dunia. Kata bapak, bapak baru ngasih uang muka ke Mito untuk membeli bahan.”

“Oh ya, makasih.”

Alhamdulillah, bulan puasa ini gak usah pusing mikirin uang. Baru sepuluh hari pertama puasa sudah dapat uang tambahan. Pas lebaran nanti tinggal beli baju untuk Ribo dan dibagikan pada saudara. Lumayan juga. Kalo dihitung uangnya sekitar tiga jutaan. Padahal itu dari konsumsi warga desa saja.

“Mito, kenapa gak buka usaha katering saja?”

“Capek, Den. Udah gitu gak ada yang bantuin. Sekarang juga lagi sibuk nyusun skripsi ama kerja. Selain itu memang belum ada modalnya.”

“Padahal masakan buatan Mito enak. Ya sudah kalo itu keputusan Mito mah, Dena gak bakal maksa. Tapi sayang juga lho kemampuan masak Mito hanya diketahui desa saja.”

Dena benar. Sebenarnya aku ingin sekali menjadi seorang koki. Tapi apa daya, bapak dan ibu melarangku menjadi koki. Bapak pernah cerita ada temannya yang sekolah perhotelan lama tapi kerja sebagai koki biasa di Dubai.

“Buat apa kau sekolah mahal-mahal tapi ujung-ujungnya jadi TKI, nduk. Bapak karo ibu gak mau lihat Mito kayak gitu. Koki tidak dihargai di sini. Gajinya masih lebih besar jadi TKI daripada koki. Mito, ini demi kebaikanmu, nduk. Cari kerja itu susah. Sayang bapak karo ibumu sekolahin Mito tinggi-tinggi tapi kerja cuma jadi koki. Ikut kursus masak juga bisa, gak harus sekolah perhotelan.”

Perkataan bapak memang benar. Toh tujuan aku kuliah untuk membahagiakan mereka. Mereka tak ingin aku bernasib seperti mereka yang mengadu nasib di negeri orang. Terlebih lagi pemberitaan di media massa mengenai para TKI amat miris.

Bapak berpikir jika ingin menjadi koki mau tak mau harus bekerja di luar negeri. Padahal sekarang sudah enak. Koki sekarang jauh lebih dihargai dibandingkan dulu. Bisnis-bisnis restoran bermunculan terlebih lagi di kota-kota besar. Jadi tidak perlu kerja sebagai TKI di luar negeri. Perkataan Dena membuatku termenung. Aku sudah memilih jurusan Perbankan Syariah dan sedang menyusun skripsi. Buat apa aku menyesali hal itu?

“Mito, kenapa gak coba ikut kompetisi memasak aja? Sayang kalo kemampuan memasakmu tidak diketahui banyak orang.”

Kompetisi memasak? Rasanya aku belum pernah berpikir sejauh itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s