Kloro, Pedagang Ta’jil dari Desa Sebelah

“Abang, tempatnya keren gak?”

Ribo? Tempat apa ini? Kenapa tiba-tiba mengajakku ke tempat seramai ini?

“Lokasinya strategis ‘kan?” tanya Reka yang berada di gerai sebelah. Kenapa aku dibawa ke sini siang terik begini? Padahal harusnya hari ini aku membuka e-mail balasan dari Pak Anton mengenai naskah. Ribo, Reka, dan beberapa pegawainya terlihat memasang spanduk bertuliskan “Produk Unggulan Desa Sito”. Siapa lagi orang yang membuat spanduk besar bertuliskan kalimat tidak jelas selain Pak Kades. Sial, nampaknya aku dikerjai. Sehari sebelumnya Pak Kades datang ke rumah dengan wajah muram.

“Mito, Brazil kalah. Neymar cedera serius. Kenapa harus dilibas 7 – 1?”

“Pak, kenapa Bapak bertingkah seperti itu? Scolari dan pemain lain tidak separah Bapak.”

“Sudahlah. Bapak pesan makanan untuk laga Brazil dan Belanda nanti malam. Kalo bisa sebelum sore makanannya sudah siap.”

Jadi ini adalah modus? Pameran Produk Unggulan Kecamatan Tisu, itulah tulisan yang tertera di baliho besar yang ada di seberang. Beberapa gerai dari desa lain tengah bersiap menata etalase untuk menarik pelanggan. Pantas saja aku heran. Tidak biasanya aku diajak menaiki mobil Reka yang selalu penuh dengan hasil kerajinan buatan studio.

“Abang, jangan melamun terus! Ntar Kak Rere dipatok ayam!”

Adanya Rere yang mematuk ayam, Ribo! Apa otakmu kini terdesak oleh rambut kribo yang semakin melebar seperti pohon rindang? Pak Kades hanya senyam-senyum sambil berlagak ala SPG cantik di pameran. Gak kebayang Reza Rahadian tiruan menjadi SPG, melenggak-lenggok manis sambil menawarkan produk buatan desa. Tak lupa dengan kumis khas ala Charlie Chaplin-nya.

“Silakan! Silakan! Produk-produk unggulan Desa Sito!” untung saja Pak Kades itu duda. Kalau istrinya masih hidup, mungkin sudah dijewer saat dikelilingi gadis cantik yang salah mengira meminta foto dengan artis terkenal.

“Bang, Pak Kades jadi jauh lebih terkenal dari Jokowi.”

“Maklum. Pak Kades lagi blusukan di tengah bazar. Biar menang FFI tahun ini.”

Setelah selesai menata etalase milikku, aku segera membantu Ribo dan Reka menata etalase berisi produk-produk terbaru mereka.

“Ini tidak mainstream, Men! Khusus untuk dijual di bazar ini. Buatan Ribo yang spesial,” seru Reka sambil menunjukkan sebuah patung abstrak yang aku tidak mengerti nilai seninya di mana.

“Itu rongsok.”

“Abang! Itu seni!” karepmu lah. Tidak sadar ada seorang ibu datang ke depan gerai. Makanannya terlihat biasa saja dibandingkan gerai lain. Ada keju goreng, oreo goreng, tape goreng, duren goreng, sampai es krim goreng. Perasaan serba goreng-goreng semua. Belum pernah denger ada permen goreng ato chocopie goreng. Selain itu hampir semua gerai menjajakan makanan. Maklumlah sedang bulan puasa. Ta’jil menjadi laris manis. Makin ke sini nama makanannya makin aneh pula. Kerak Telor Menggoyang Bumi, Bakwan Udang Rebonding, Sayur Terong Dicabein, Kwetiau Cingcau Layau, dan ada satu makanan yang terlihat aneh. Aku tahu itu adalah alat pancuran coklat.

Kupikir itu membuat es potong atau buah celup. Ternyata si penjual memasang tulisan “Chocopie Rakyat”, beli 3 gratis 1. Kok kayak kopi aja beli 3 gratis 1. Perasaan chocopie itu mahal. Isi cuman dua biji tapi harganya hampir lima ribu. Padahal cuma kue bolu dengan isian marshmallow terus dicelup ke dalam coklat. Aku melihat seorang cewek yang berdiri di dekat pancuran coklat. Sedikit aneh ketika ia menyusun … lapis Surabaya diisi mochi Sukabumi lalu dicelupkan ke dalam air mancur coklat?

“Silakan, Pak! Bu! Chocopie rakyatnya!”

Rasanya aku belum pernah dengar ide aneh itu. Apalagi nama desanya yang sekilas mengingatkan pada La Liga, Grana. Penjajanya memang cantik. Memakai jaket hijau daun pula. Untung saja kota bukan di Pantai Selatan. Ada yang iri pastinya. Ia terlihat manis mengenakan jepit berbentuk semanggi berdaun empat bertengger di poni panjangnya yang sengaja dikesampingkan. Nampaknya ia sadar jika aku melihatnya. Kali ini ia berteriak jauh lebih kencang.

“Chocopie rakyat! Chocopie rakyat! Chocopie rakyat! Dua seribu dua seribu dua seribu!”

Badannya memang kecil tapi suaranya jauh lebih kencang dari suara Sofi. Orang-orang terlihat ramai mengunjungi gerai miliknya, berbondong-bondong dengan rasa penasaran mencicipi bagaimana rasa chocopie rakyat yang ia serukan. Ia kemudian melirikku dengan tatapan tajam, seakan matanya pun berkata,

“Gerai gue lebih laris dari gerai lo.”

Namanya Kloro, sesuai dengan nama kecil yang dibordir dengan benang kuning cerah di jaketnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s