Ketika Ribo Bukanlah Ribo

Kemarin aku melihat Ribo yang hobi cekakak-cekikik ambil batu untuk dipahat dengan rambut kribo khasnya, sekarang ia merana. Semerana seorang Julia Perez yang baru meluncurkan single terbarunya, Merana.

“Abang!” ucapnya dengan suara mendesah merana.

“Tenang, rambutmu gak usah di-rebonding juga sudah lurus.”

Ribo kini tidak bisa menyembunyikan uang di dalam rambut kribonya. Hanya menyisakan potongan 3-2-1 di kepala dan wajah muram di depan cermin. Rasanya aneh juga melihat Ribo dengan kondisi kepala nyaris botak. Aku tak bisa menahan tawa ketika melihat Ribo mengeluh di depan cermin.

“Mirip Shinchan. Alis tebal dengan potongan rambut seperti itu.”

“Abang! Rambutku tidak kribo lagi!” dan ia percaya dengan memotong rambut seseorang berambut kribo bisa lurus seketika. Orang berambut keriting tergolong langka di dunia. Tak heran Ribo begitu menyayangi rambut kribonya.

“Nanti juga tumbuh lagi. Toh cowok tumbuh rambutnya cepet.”

“Abang! Gak enak nih! Kedinginan, Bang!”

Ribo dicukur bukan karena dia sedang ospek. Ribo baru saja naik ke kelas 2 SMA. Bukan pula karena ikut Paskibra. Ikut PBB aja selalu ada alasan buat kabur, apalagi dia ikut Paskibra. Itu sangat mustahil. Jika ia kena razia rambut gondrong ia selalu mengelak setiap dicukur alat pencukur rambutnya selalu rusak kalo kenalan ama rambut kribonya. Kali ini ia gak bisa mengelak. Alat cukur rambut paling canggih dibawa oleh guru BK untuk menggunduli rambut kribo ala hutan rindang miliknya. Alhasil, Ribo galau bukan kepalang. Ia sudah cinta mati dengan rambut kribonya. Ia sangat kesal rambutnya kini bersisa potongan 3-2-1.

“Abang! Gak mau punya rambut lurus!” rengek Ribo ketika meratapi wajahnya di depan cermin. Jauh lebih merana daripada cewek diputusin pacarnya. Tapi memang aneh juga lihat Ribo kayak gitu. Gak pantes dia punya rambut lurus nan klimis ala aktor.

Berbeda dengan Liso yang terbiasa dengan kepala plontosnya, Ribo seakan tak rela kehilangan kribo yang menjadi ciri khasnya. Sudah genap dua hari ia tidak masuk sekolah setelah guru BK menjamah lebatnya kribo di kepala. Ia lunglai. Makan pun tidak bernafsu. Ia pun terlihat lemas ketika melihat Pak Robert. Tidak seperti biasanya yang selalu kabur ketika mendengar langkah sepatu pantofelnya.

“Adikmu kenapa, To? Tumben gak ada suara berisik dari rumahmu.”

“Ribo lagi galau, Pak. Rambut kribonya dicukur sama gurunya.”

Pak Robert pun ternganga. “Tadi yang lewat itu Ribo? Bapak kira yang tadi itu saudara Mito dari Jawa itu.”

Memang, Ribo lebih cocok berambut kribo. Tak heran ia begitu galau. Ribo bisa dibilang memiliki tipikal wajah yang pasaran. Tanpa rambut kribo, sulit dikenali jika itu adalah dia. Bahkan sobat seperjuangan anehnya, Reina, terpingkal-pingkal melihat wajah barunya.

“Shinchan kribo!” wajah Reina merah padam ketika melihat wajah datar Ribo yang risih. Ia terlihat menekuk paha saking tak bisa menahan pipis bercampur tawa di depan rumah.

Ribo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s