Begal Julan

Enak juga kalo udah dapet gelar sarjana. Bisa minta naik gaji. Tapi kadang aku merasa berat hati meninggalkan tempat kerja yang menjadi tempat mengais rezeki sejak kuliah dulu.

“Pep, enakan di sini. Emang sih gaji standar UMR, tapi di sini nyaman. Bosnya baik dan kalian itu bikin ngangenin.”

“Bisa aja lu, To. Saran gue sih lu mending lamar kerja di tempat lain aja. Masa sarjana kerjanya isi ulang tabung oksigen?” kata Peppy, salah seorang karyawan di tempatku bekerja.

Itu sih obrolan kemaren. Sekarang lagi libur. Baca koran pagi.

“Abaang!” datanglah Ribo dari kamar. “Gak mau ke sekolah bang!”

“Percuma abang, ibu, ama bapak kerja tapi Ribo gak sekolah.”

“Bukan gitu, Bang! Liat ini!” Ribo menyodorkan HP yang isinya chat dari Reina.

“Bo, hati-hati ada raksasa ganas hendak menembus tembok desa. Awas dimakan. Sensen udah jadi korbannya.”

Reina memang sering berbicara cukup aneh dan terbilang seperti orang meracau. Anehnya hanya Ribo yang bisa menerjemahkan setiap kata yang dia ucapkan.

“Maksudnya apaan? Abang gak ngerti.”

“Begal bang! Begal! Sentot anak pak haji di seberang rumah jadi korban begal! Kemaren pas pulang sekolah Sentot dipalak begal di deket tanggul desa.”

“Astaghfirullah al adzim! Seriusan?”

“Gak mau ke sekolah bang. Takut!”

“Emang seserem apa? Sofi dan anak buahnya?

“Lebih serem dari itu bang. Badannya tinggi besar, nyeremin, dan bulunya tebel.”

“Kayak Rhoma Irama? Kok Reina bisa tau?”

“Rhoma Irama masih ganteng. Kata Reina kayak gendruwo. Lha wong kemaren Sentot emang pulang bareng ama Reina.”

Akhir-akhir ini emang lagi musim begal. Hampir setiap hari pun disuguhi berita tentang begal. Gak heran kenapa demam begal merambah ke desa. Jauh lebih heboh dari demam batu akik. Punya Sofi dan dua anak buahnya sudah repot apalagi ditambah begal. Akhirnya Ribo tidak jadi ke sekolah apalagi keliaran cari batu di desa.

Kemunculan begal memang meresahkan warga. Anehnya Sofi pun kena imbasnya.

“Aneh. Preman kok takut begal.”

“Lu kate gue preman cemen yang takut ama begal? Gue takut kalo begal itu nyerobot lapak gue. Mana bisa gue dapet duit kalo begal ntuh malakin semua target gue!”

Jadi ini persaingan bisnis? Baru tahu ada preman kayak gitu.

“Gue gak mau tahu. Pokoknya ntuh begal harus minggir dari desa. Bisa kere gue kalo ntuh preman nongkrong di sini. Ntuh begal boleh malak, tapi gak di tempat gue juga keles!”

Semakin aku kenal dengan Sofi, makin tahu juga jika dia preman konyol. Rasanya lirikan Suketi itu muncul lagi. Ambil langkah seribu menjauhi Sofi. Kalo tetep di sini bisa bokek dipalakin.

Kasus itu sudah sampai di telinga Pak Kades. Ya iyalah secara Reina itu anaknya. Hari itu semua warga berkumpul di balai desa termasuk Sofi dan gerombolannya. Kupikir begitu. Namun kenyataannya.

“Pada ke mana orang-orang? Situasi genting seperti ini pada ngilang,” kata Pak Kades sambil geleng-geleng.

“Yaelah bapak gak gaul banget. Bapak gak tau kalo di depan balai desa ada tempat gosok batu akik?” ucap Sofi bernada lancang, seperti biasanya.

“Seriusan? Kok gak tahu?”

“Ya iyalah. Baru seminggu mangkal. Itu, Pak. Tempatnya di mobil pick up merah di bawah pohon.”

“Oh, itu Dikirain banyak orang itu emang lagi ada operasi pasar dari kecamatan. Beras lagi mahal sekarang.”

Dan tidak sampai lima menit, Pak Kades menghilang bak ninja. Jauh lebih cepat dari pergi untuk menonton timnas Brazil bertanding. Batu akik benar-benar memperdaya warga. Tak heran begal memanfaatkan hal itu untuk bergerak leluasa mengintai mangsa. Dan akhirnya pertemuan warga pun batal … karena batu akik. Bahkan Pak Kades tampak asyik memandangi batu akik mata kucing berkilauan setelah digosok.

Tak ada satu pun yang bisa dimintai bantuan. Polisi? Buat apa minta bantuan polisi jika kebanyakan warga masih main hakim sendiri. Kini adalah kali kedua aku bersama Sofi menyelidiki kasus bersama. Ya mungkin alasan sebenarnya Sofi membantuku karena ia kesal dengan begal itu.

Besoknya aku pergi ke sebuah tempat. Setahuku tempat ini bukanlah wilayah desa Sito. Situs galian dekat desa pun lebih jauh dari sini. Tampang orang-orangnya gahar-gahar.

“Bro! Lu tau gak lapak gue diserobot ama begal!” gerutu Sofi pada gerombolan yang mayoritas didominasi para pria. Apa jangan-jangan Sofi … bawa orang seenaknya ke sarang preman?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s