Cinta Salah Sambung

Ane gak inget udah masukin cerpen ini ke forum ato belum. Kalo pernah lihat cerpen ini sebelumnya, berarti ane udah. Kalo ngaku-ngaku cerpen ini punya ente ya dosa tanggung sendiri karena menipu orang lain.

Ide cerpen ini bermula dari temen ane yang sering SMS galau soal ceweknya. Bisa dibilang mereka udah pacaran lama tapi akhir-akhir ini sering di-PHP-in mulu. Hampir setiap hari dia SMS kayak gitu dan mungkin karena kesel di-SMS mulu jadi kepikiran bikin ini. Beberapa hari kemudian temen ane SMS kalo dia udah mutusin ceweknya gara-gara kepergok selingkuh dan setelah itu dia gak SMS lagi. Nah, ane iseng SMS temen ane dan ia ternyata sudah melupakan ceweknya itu. Akhirnya ntuh anak udah sembuh juga, alhamdulillah *dengan gaya ustadz Maulana muterin badan*

Ini cerita yang ane bikin berdasarkan curhatan dia. Kalo ada yang agak lebai itu emang sensor kok. Silakan 🙂

——

“Udah gede masih nonton kartun?” perkataan itu terdengar sedikit menyentil di telinganya. Memang bagi sebagian besar orang di rumahnya menonton kartun adalah kebiasaan anak-anak. Biasanya jika sudah besar mereka akan senang nonton sepak bola, film laga, melihat konser band favorit yang ada di pensi SMA sebelah, hingga bermain game bola di rumah teman karena tidak kesampaian dipanggil timnas. Itu untuk para lelaki. Kalau perempuan, mereka akan sibuk dengan mode terkini, mengikuti tren rambut Lady Gaga, Nicki Minaj, atau Syahrini yang nyentrik, menguras air mata dengan menonton film di televisi. Entah nonton drama Korea, film romantis, atau nonton film lawas seperti Dil Se juga film Warkop. Bagi orang dewasa menonton kartun adalah hobi anak-anak. Buktinya lelaki berambut hitam berantakan nan kurus itu masih diam terpaku di depan komputernya. Tak lupa dengan sekotak tisu di samping kala menonton Ano Hana. Ia tak bosan menonton serial itu meski sudah ditonton berkali-kali.

“Menma!” sang adik melongo kala melihat kakak lelakinya itu menangis karena nonton kartun. Tisu pun terlihat berserakan di sekelilingnya. Sang adik hanya bisa menggelengkan kepala lalu pergi.

Bicara soal lelaki melankolis, lelaki yang satu ini bisa jadi disebut tipikal lelaki melankolis. Bayangkan saja. Jika ia libur waktunya dihabiskan dengan menonton tayangan yang benar-benar mencirikan karakternya. Sebut saja Ano Hana, One Litre of Tears, Autumn in My Heart, Clannad, FTV romantis yang ditayangkan di televisi swasta, Twilight Saga, hingga film Habibie & Ainun. Ia adalah Altair, lelaki melankolis yang sedang berkutat dengan sekotak tisu yang habis di sampingnya. Ia melihat ponselnya. Terlihat foto dirinya beserta sang pacar sebagai tampilan layar pengunci. Waktu menunjukkan sudah pukul sembilan pagi.

“Astagfirullah al adzim,” ia lalu mematikan komputernya dan segera mandi. Ia ingat hari Minggu jam 11 ia akan pergi dengan sang pacar ke sebuah kafe di bilangan Riau untuk menghadiri reuni SMP. Ia dan sang kekasih, Rankine, adalah teman satu SMP. Mereka saling memadu kasih sejak masih duduk di bangku kelas 8 dan masih berlanjut hingga saat ini. Rankine mungkin orang yang mustahil berpacaran dengannya. Bapaknya adalah jawara pencak silat. Ia terlihat seperti gadis feminim pada umumnya. Hanya saja jika seseorang berani menggodanya maka ia tak tanggung-tanggung akan memelintir tangan orang itu hingga nyaris putus. Gadis itu tak terlihat seperti gadis lain yang senang bersolek. Ia memiliki kecantikan alami yang benar-benar membuatnya jatuh hati meski tak bersolek. Begitulah cinta mempersatukan mereka.

Altair memeriksa semua kelengkapan di dompetnya. Uang, kartu ATM, SIM, STNK, dan KTP semua ada. Tak lupa ia memeriksa pakaian dan juga rambutnya yang susah diatur. Ia pun berpamitan pada kedua orang tuanya. Ia memasang helm lalu pergi menaiki Vespa tahun 80 miliknya. Soal motor nampaknya ia terhipnotis oleh tayangan drama yang ia tonton. Baginya menaiki Vespa jauh lebih romantis dibandingkan menaiki motor sport keluaran terbaru. Itu selama skuter tua itu tidak mogok di jalan.

Ia melirik ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul 9.45. Ia kesal menghadapi macetnya jalanan pagi itu. Ia terjebak macet di perjalanan menuju jalan Riau. Jalan itu adalah salah satu jalan yang terbilang padat terutama di akhir pekan. Sudah sekitar 30 menit ia terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Para pengemudi lain terlihat tak sabar ingin segera melajukan kendaraannya. Apa daya. Kemacetan itu semakin diperparah dengan matinya lampu lalu lintas. Untung saja ada polisi yang turun tangan mengurai kemacetan itu.

Jalan Riau di depan kafe yang dituju. Ia terlambat lima belas menit. Rankine mengetuk-ngetuk jam tangannya.

“Dasar karet. Masih saja tak berubah.”

“Ran, tadi lampu stopan mati. Maaf kalau kelamaan.”

“Terserah. Beri salam pada yang lain.”

Begitulah Rankine. Ia benar-benar kebalikan dari Altair. Dingin, tegas, dan karismatik. Rambut hitam panjangnya tak berubah sejak ia masih duduk di bangku SMP. Hanya saja ia sedikit mengeriting bagian bawahnya agar terlihat lebih feminim.

******

Begitulah Altair. Ia lemah terhadap Rankine. Lelaki itu harus berhati-hati dengannya. Salah kata atau perilaku sedikit saja akan berakibat fatal. Anehnya ia seperti memperbudak dirinya sendiri demi mempertahankan cintanya. Sejak reuni SMP yang lalu mendadak sifat Rankine berubah. Ia bukanlah orang yang dikenalnya sejak SMP. Rankine kini telah berubah. Ia masih dingin namun jauh lebih dingin dari biasanya. Altair bingung. Apa yang salah dari diri wanita itu. Ia pun menanyakan diri pada Ucok, teman satu kampus yang dekat dengannya sejak SMA. Ia adalah orang yang dianggap dapat memberikan solusi atas kegalauannya.

“Cok, gue bingung kenapa Ran berubah,” keluhnya lalu meminum es teh lemon di hadapannya perlahan.

“Cak-cok-cak-cok saja kau ini. Memangnya aku choki-choki apa?” ucapnya dengan aksen Batak nan kental.

“Nama lu kan Inggrid Satriani. Gak enak kalo dipanggil Inggrid. Kayak cewek.”

“Seenaknya saja lu ganti nama orang. Yngwie nyai, lain Inggrid.”

“Orang tua lu susah bener ngasih nama anak. Ucok, gue heran soal si Rankine. Kenapa dia makin sini makin dingin aja?”

“Maklum lah. Dia sudah suhu nol mutlak.”

“Bicara dengan bahasa manusia kek!” Ucok terlihat tenang melahap sepiring lotek yang dipesannya.

“Ya maklumlah. Orang lu nyontek ulangan Fisika gue mulu pas SMA mana ngerti kayak begituan. Suhu nol mutlak itu suhu di mana partikel-partikel tak bergerak sama sekali. Sama seperti perasaan cewek lu. Lu harus menghangatkan hubunganmu itu lebih keras lagi, Ateng.”

“Hah? Ateng? Gue Altair Firdaus bukan Ateng.”

“Habis orang tua lu ngasih nama anak susah bener. Ateng, gue punya trik biar cewek lu kagak berada di suhu nol mutlak. Sini gue kasih tau,” ia membisiki Altair dan lelaki galau itu tersenyum seperti mendapat wangsit berisi nomor togel. Ia terus mencatat di ponselnya semua petuah dari ki Ucok Satriani.

Saran pertama, mengajak Rankine ke tempat pertama bertemu. Ia hendak mengajaknya ke lapangan SMP. Saat masih MOS, ia melihat Rankine tempatnya berdiri. Saat itu ia dihukum karena terlambat. Saran pertama pun gagal karena sedang dipakai perlombaan 17 Agustusan.

Saran kedua, mengajak Rankine ke tempat biasa mereka berdua. Bioskop yang letaknya tak jauh dari SMP-nya dulu. Ia sengaja memilih film horor sesuai saran Ucok. Saat hari H, antrean pengunjung mengular hingga ke bagian luar bioskop. Terutama pada lajur khusus studio 2 yang sedang memutar film horor. Ia melihat Rankine datang dengan wajah heran.

“Gak biasanya nonton film horor,” ucapnya datar.

“Kata siapa? Gue sering nonton film Suzanna.”

“Oh Suketi. Awas kalo pingsan di dalem.”

Benar dugaannya. Altair terlihat seperti orang pingsan setelah menonton film horor itu. Mukanya pucat pasi, tangannya dingin, dan mulai paranoid. Bahkan ia tak berani begadang malam karena masih terbayang betapa seramnya film itu. Bapaknya yang sedang menonton sepak bola tengah malam pun heran karena tak terdengar suara Altair sedikit pun. Padahal ia termasuk orang yang sering begadang apalagi menonton sepak bola bersama sang ayah. Keesokan harinya ia menemui Ucok di kantin kampus.

“Ucok. Lu gila apa nyuruh gue nonton begituan? Udah tau gue gak suka film horor.”

“Cowok lembek lu. Bisanya nonton film romantis ama drama. Padahal mah kalo nonton film horor lu bisa curi-curi kesempatan buat meluk ato megang tangan cewek lu. Naikin suhu biar gak nol mutlak banget.”

“Adanya gue kena bogem mentahnya si Ran. Udah tau dia demen banget nonton film horor. Mustahil ngeliat ‘si eneng takut langsung memeluk akang’. Emang film?”

“Dasar. Nih, ada lagi. Dijamin tokcer, cespleng, manjur bin mujarab.”

Kali ini Altair benar-benar mencatat perkataan ki Ucok Satriani.

Saran ketiga, belajar gombal. Banyak ide-ide gombal terbesit di benaknya karena seringnya ia menonton film romantis. Teknik gombal pertama ia lancarkan. Teknik ini dikenal pula dengan teknik gombal OVJ. Saat itu ia dan Rankine sedang pergi ke Punclut untuk sekedar lari pagi bersamanya.

“Ran, bapakmu polisi ya?”

“Apa kau lupa bapakku itu guru pencak silat?” rasanya terdengar seperti bunyi jangkrik di malam hari. Gombalan pertama gagal. Begitulah Rankine. Tak seperti gadis-gadis lain yang mudah luluh dengan rayuan begitu saja.

Teknik menggombal kedua gombalan telenovela. Teknik rayuan gombal dengan cara memanggil pemusik atau bernyanyi sendiri di jendela kamar sang gadis untuk menarik perhatian. Hari Minggu pagi sekitar pukul 6 pagi. Seusai shalat subuh sang pejuang cinta itu pun berangkat menuju rumah Rankine dengan sepeda miliknya. Jarak antara rumah keduanya sekitar 2 km. Rumah mereka berada dalam satu komplek perumahan. Hanya saja rumah Altair berada di bagian terdepan komplek dan rumah sang gadis berada di wilayah paling belakang. Sesampainya di rumah Rankine ia menepikan sepedanya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Jendela kamar Rankine terbuka lebar dan ia mulai menyetel ulang gitarnya yang terdengar sumbang. Ia memberanikan diri untuk bernyanyi dan.

Byur!

Hari ini ia bernasib buruk. Ia tak tahu jika gadis itu sedang membuang air bekas mengepel rumah dari jendelanya. Sekujur tubuhnya basah kuyup bercampur kotoran yang tertinggal di pakaiannya.

“Maaf-maaf, dikirain gak ada orang. Aku minta maaf.”

Altair hanya bisa melongo hari itu. Ia langsung kembali ke rumahnya setelah membersihkan kotoran yang tersisa di pakaiannya. Ia takut jika diminta masuk ke rumahnya karena memiliki hubungan yang buruk dengan ayah sang gadis.

Keesokan harinya ia mulai terserang gejala pilek dan flu. Seharian ia bersin keras sekali hingga mengagetkan Ucok yang sedang asyik membaca buku di taman kampus.

“Ngagetin aja. Ngomong-ngomong bersin lu kocak juga. Kayak bunyi motor yang udah lama gak dipanasin.”

“Bukannya bantuin temen malah ledekin terus,” ucapnya sambil mengelap ingus yang mengalir dari hidungnya. “Teknik lu gagal semua. Ia masih nol mutlak. Mana gara-gara rayuan telenovela lu tuh gue kena siram air bekas pel lantai. Udah airnya kotor bau pula.”

Ucok tertawa kala mendengar keluh kesah lelaki galau itu.

“Lagian sapa suruh berdiri di deket orang lagi buang air bekas ngepel! Makanya kalo mo ngegombal liat-liat.”

“Ini mah sudah gak ada harapan lagi,” celetuk Altair sambil memangku tangannya.

“Tumben si Ateng mlempem kayak gini. Kenapa, Teng?”

“Gini ceritanya. Semua berubah gara-gara reuni SMP kemaren. Gue gak tahu tuh kenapa si Ran berubah drastis kayak gini. Akhir-akhir ini dia nyuekin mulu. Maunya ditemenin mulu. Tapi sekalinya ada waktu dia ogah nemenin gue. Nyebelin dah. Lamun bapana lain jawara silat mah ku aing geus ditabok.”

“Gak nyangka, Teng. Aslina. Kalimat macam ntuh yang ke luar dari bibir lu.”

“Abis kesel dah. Telepon gak dibales, diajakin jalan bareng ada aja alasannya. Gue musti ada setiap ia butuhin. Masalahnya gue masih cinta ama si Ran.”

“Udah cewek kayak gitu mah ke laut aja. Ia sudah bener-bener nol mutlak. Perasaan dia ke lu dah sebeku itu. Dipancing juga kagak bakalan leleh. Ateng, lu kan cakep, baik, ama perhatian ama cewek. Banyak kok cewek yang ngantri buat dapetin cinta lu. Daripada lu dibuat kesel ama cewekmu itu. Tar keburu tua lho.”

Perkataan Ucok malah memperparah kegalauannya. Betapa tidak, Altair masih menyayangi Rankine. Ia memandangi tampilan layar pengunci ponselnya. Sebuah foto terpampang berdua dengan sang kekasih. Foto itu diambil saat keduanya pergi ke Ciwidey sekitar dua bulan yang lalu. Ran—begitu ia disapa—terlihat sangat senang dengan kupluk bergaris dan buah stroberi yang dipegangnya. Saat itu keduanya sedang iseng memetik di kebun stroberi dan mengabadikan momen itu dalam ponselnya. Ia rindu akan senyuman itu. Senyuman yang akhir-akhir ini sulit ditemuinya.

******

Altair terlihat benar-benar ingin sendiri. Ia tak mau terus berlarut dalam kesedihannya. Minggu itu ia pergi ke sebuah tempat yang benar-benar jauh dari hiruk pikuk kota sambil meneguk secangkir kopi pahit hangat.

“Tumben ada anak muda beli kopi pahit. Biasanya mah bapa-bapa yang beli,” ucap seorang wanita pemilik saung kecil di pinggir jalan. Altair menarik nafas seperti asap yang mengepul dari kopi.

“Enakan kopi pait, Bu. Bu, gorenganna lima rebueun.”

Tempat itu tak seramai Punclut atau kawasan Car Free Day kala akhir pekan menjelang. Tak banyak orang mengetahui tempat itu kecuali anak-anak sekolah yang sering melakukan touring. Pagi itu masih terlihat sepi. Hanya terlihat sesekali penduduk memacu kendaraan bermotornya dengan kecepatan tinggi juga para pemilik kebun yang mengolah tanah di sampingnya. Wanita tua itu pun menyuguhkan sepiring berisi aneka gorengan penghangat perut pagi itu. Ia bisa mengatasi serangan dingin yang menyerang hatinya.

Dinginnya hari di Caringin Tilu tak seberapa dibandingkan dengan suhu nol mutlak yang membekukan hati Rankine. Ia memandangi pemandangan seluruh kota Bandung dari ketinggian. Saat itu hari sedikit berkabut hingga tak terlihat seluruhnya. Pagi itu ia sengaja pergi ke sana kala melihat kicauan Rankine di dunia maya. Ia mengatakan akan pergi ke tempat itu. Altair terus menunggu dan menunggu kedatangan si penyihir putih yang membekukan dirinya dalam kegalauan. Bahkan ibu-ibu penjual gorengan itu terus memperhatikan Altair dari dalam kios kecil miliknya.

Sorangan wae, Jang.”

Altair hanya bisa tersenyum. Sudah satu jam lebih ia menunggu. Kopi dan gorengan di sampingnya sudah habis. Hari semakin siang dan tak ada tanda-tanda batang hidungnya akan terlihat. Terdengar dari kejauhan deru mesin motor yang menanjak menuju tempat itu. Sebuah motor balap beserta rombongannya. Tak sengaja matanya tertuju pada sesosok gadis yang berjaket kulit hitam sedang memeluk pengemudi Ninja dengan eratnya. Hatinya remuk seketika kala melihat seseorang dengan helm half face itu. Serangan dingin itu menyerangnya begitu hebat hari itu. Kini hatinya yang benar-benar berubah menjadi nol mutlak kala melihat rombongan motor itu berhenti di saung tempatnya berdiam. Ia memalingkan muka dan pura-pura tak kenal sambil membayar pesanan pada ibu tua pemilik saung. Ia pun memacu motor bebek milik sang ayah kembali ke rumah.

******

Ucok terus melahap lotek sepuluh cengek favoritnya itu. Ia terdiam kala melihat Altair tak menghabiskan kopi pahit yang ia pesan.

Kunaon Ateng? Masih galau?”

“Ah, tong bicarakeun jalma eta deui.  Eneg gua.”

Bedegong sih. Dibilangin juga apa, dia udah nol mutlak dan gak ada harapan lagi. Lu mending move on gih. Ngapain juga ngarepin cewek nol mutlak macem dia. Kayak lu pacaran ama tembok. Heh, Ateng. Lu denger ato kagak?”

Altair terus tersenyum sendiri kala melihat video di ponselnya. Ucok penasaran apa yang membuatnya tidak segalau biasanya.

“Pacaran itu bulls**t. Tar juga jodoh pasti bertemu. Mending sekarang fokus kuliah dulu ama lihatin Nabilah.”

“Beuh. Dasar. Dikirain lu masih galau taunya. Teu bebeja nya. Eh Ateng, kapan lu mo ke sana?”

“Ya kalo ada duit sih. Tapi lebih enak kalo ditraktir. Lu kan masih ada utang ama gue. Bayarin gue nonton teater JKT48 tar gue anggep lunas.”

“Enak aja lu! Uang semesteran aja masih ngutang minta begituan! Heh, pinjem HP lu! Gue juga mo liat!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s