Cinta Kepentok UN

Cerita ini keinspirasi dari insiden mencontek yang tertangkap kamera sebuah stasiun televisi swasta nasional pada medio 2009 dan salah satu pelakunya adalah temen ane. Sebut saja si Kodok (nama ane samarin). Ane kepikiran buat cerita ini gara-gara tiap liat berita UN lagi-lagi kecurangan UN lagi yang dibahas. Silakan disruput (emang teh?).

Buat yang penasaran soal inspirasi cerita ini, ane gak sengaja nemuin arsip lama Pikiran Rakyat yang membahas hal itu tepat di halaman pertama. Ente harus punya akunnya untuk mengakses koran digital edisi tahun 2009.

—————————————————————————————————————————————————————-

Bandung, tahun 2009.

Alkisah di sebuah SMP favorit di Kota Bandung ada sepasang remaja yang dimabuk asmara. Ialah Febri dan Tiwi. Keduanya berpacaran sejak kelas 7 SMP. Awalnya keduanya tidak saling menyukai. Febri orangnya biasa saja namun termasuk salah satu bintang kelas. Ia tidak tampan, kulitnya kuning langsat dengan wajah sedikit tak terawat. Sementara Tiwi pesaing berat Febri di kelas. Mereka bersaing memperebutkan ranking satu di kelas. Orangnya cantik dan ambisius. Keduanya tak sengaja dipertemukan di angkot. Kebetulan teman Tiwi, Rena, adalah teman dekat Febri sejak SD. Karena ketiganya satu jurusan mereka semakin dekat.

Tak disangka kedua orang itu jadian berkat bantuan Rena. Gadis berkacamata itulah yang membuat Febri jatuh hati pada Tiwi. Hubungan itu bertahan hingga keduanya duduk di kelas 9 SMP. Meski berbeda kelas, keduanya selalu sengaja bertemu di teras depan lapangan upacara di sekolah. Teras bergaya klasik itu memang strategis dan dekat dengan kelas keduanya. Suatu ketika, Rena, Tiwi, dan Febri sedang duduk menyaksikan PORAK di teras depan. Biasanya PORAK diadakan setelah ujian akhir semester dan berisi kegiatan olahraga antar kelas. Berhubung sudah tingkat akhir mereka tak bisa mengikutinya.

“Makin sini makin garing aja,” celetuk Rena sambil mengulum permen loli di mulutnya.

“Ya iyalah beda angkatan beda lagi konsepnya,” timpal Tiwi.  “Waktu kita masih di OSIS rame tuh.”

Kedua gadis itu sedang mengomentari penyelenggaraan PORAK sementara Febri terus membaca komik di samping Tiwi. Tiwi melirik ke sampingnya.

“Pantesan dari tadi diem mulu.”

Febri menaruh komiknya. Ia mengambil komik lain di tas.

“Eh Feb, tar mo masuk mana?” tanya Rena. Ia membuang batang permen lolinya yang habis itu.

“Gak tau,” jawab Febri. “Masih bingung mo masuk mana,” jawabnya sambil terus membaca komik.

“Kalo Tiwi?”

“Ya masuk SMA 40 lah,” ucapnya dengan penuh percaya diri. Sekolah itu memang salah satu sekolah favorit di Bandung. Hanya orang-orang yang pintar saja yang bisa memasukinya. Konon menurut cerita kakak-kakak kelas di sana memang materi yang diajarkan di sekolah itu sepadan dengan kualitas lulusannya. Kebanyakan masuk universitas-universitas terbaik di Indonesia.

“Jadi pengen ikut. Apalagi masuk SBI, lumayan tuh lagi dibuka pendaftarannya. Juga gak harus pake NEM pula,” kata Rena. Memang ia bersemangat masuk ke sekolah itu. Rena memang tergolong murid yang cerdas dan rajin. Selama kelas 9 ia belajar keras baik itu mengikuti bimbel atau belajar sendiri di rumah.

“Gimana kalo kita janjian sekolah di sana?” Febri kaget.

“Ah si Tiwi mah kitu,” celetuk Febri. “Sadis amat.”

“Serius. Kalo dilihat dari ranking tiap tahun sih ada harapan bisa masuk sana. Heh, Feb. Kalo gak masuk ke sana kita putus.”

“Apa?” Rena dan Febri kaget.

******

Sekilas perkataan Tiwi saat itu bercanda. Bagi Febri itu serius. Ia sangat mencintainya. Ia tak ingin kehilangannya. Sering ia bertengkar dengannya hingga Tiwi meminta putus. Karena tak ingin kehilangannya, ia selalu mengalah. Hal itu membebani pikirannya hingga sering melamun di kelas.

“Lihat sini,” ucap guru Matematika—dengan jidat berkilauan diterpa sinar lampu kelas—yang mengajar di kelas. “Kalian itu harus bisa menyelesaikan soal UN maksimal 3 menit. Coba kamu kerjakan soal ini!” beliau menunjuk ke arah Febri yang sedang melamun.

“Saya, Pak?”

“Iya, kamu! Maju ke depan!” Febri mengambil spidol dan menjawab soal itu. Guru itu bingung.

“Jawabanmu masih salah. Kerjakan dengan teliti!”

Soal di papan tulis itu memang sederhana. Menghitung luas arsiran antara lingkaran dan segitiga sama sisi di dalamnya. Febri bingung, materi ini belum diajarkan sebelumnya. Ia mematung di depan kelas.

“Sudahlah kembali duduk,” Febri duduk dan pelajaran kembali berlangsung. Bel istirahat berbunyi dan ia segera pergi ke kantin. Seperti biasa ia memesan nasi dengan ayam goreng bumbu barbeque. Ia duduk di kursi kantin dan bertemu Rena.

“Lesu amat?” Rena duduk sambil menaruh nasi campur di meja.

“Dihukum. Mana soalnya susah pula,” ia makan sesuap.

“Masih mikirin perkataan Tiwi? Udah gak usah dianggap serius. Kalo dia emang bener-bener masih cinta sama kamu gak mungkin lah mutusin gitu aja.”

******

Rasa cintanya pada Tiwi lah yang membuatnya semakin bersemangat untuk belajar. Ia rajin memperhatikan setiap guru di kelas. Bahkan ia begitu antusias kala guru BK mengumumkan pendaftaran seleksi jalur SBI SMA 40 di sekolah. Ia menjadi orang pertama yang mendaftar seleksi itu. Untung saja rata-rata nilai rapornya baik. Ia dipanggil untuk seleksi tertulis bersama sang kekasih dan Rena.

“Ciee, demi cinta!” sindir Rena. “Dikirain gak minat.”

“Apaan sih?” ucap Febri ketus.

Ketiganya mengikuti tes yang diadakan dua bulan sebelum ujian nasional dimulai. Febri mulai ragu. Ia tidak mungkin masuk ke sekolah itu melalui jalur SBI. Ia lebih baik belajar lebih giat agar bisa masuk ke sekolah itu. Usahanya membuahkan hasil. Selama beberapa kali try-out ia mendapat peringkat 10 besar. Bahkan pada uji coba pemantapan ia selalu mendapat peringkat 10 besar bahkan pernah menjuarainya. Demi cinta apapun dilakukan.

Febri merasa dirinya di atas angin, ia lebih percaya diri dari biasanya. Bahkan diam-diam sang kekasih mengaguminya. Ia datang ke taman kecil di depan kelas Febri. Ia membawa tas kecil berwarna merah di tangannya. Febri kebetulan sedang piket kelas saat istirahat. Tak sengaja ia melihat Tiwi.

“Hai, sibuk?” tanya Tiwi.

“Sebentar lagi kok,” jawab Febri. Ia sudah beres piket dan kembali ke kelas. Tiwi duduk di tunggul-tunggul kayu yang sengaja dibentuk sebagai kursi taman. Ia terus memegangi tasnya. Febri datang.

“Tumben ke kelas.”

“Feb, ini ada sesuatu untukmu,” ucap Tiwi malu-malu. Ia membuka tas merahnya dan terlihat sebuah kotak bekal.

“Rajin amat. Makasih ya,” Febri menerimanya dengan malu-malu. Ia membuka kotak bekal itu dan terlihat bekal makanan yang tertata rapi. Sepertinya Tiwi yang membuatnya. Ia makan dengan lahap.

******

Minggu tenang, Febri terlihat gusar. Ia takut nilai ujian nasionalnya jelek dan tidak bisa satu sekolah dengan Tiwi. Ia seharian diam di kelas dan tak sengaja mendengar perkataan gerombolan laki-laki yang duduk di bangku depan. Ia penasaran.

“Feb, kadieu!” seru Tohir, lelaki kurus dengan tahi lalat di pipinya. Para lelaki itu terlihat sedang serius.

“Eh katanya bocoran udah keluar.”

“Wah, aslina?” kata Ari, lelaki berambut jabrik yang duduk di sebelah Tohir. “Serius ieu teh?”

Cing demina serius,” Tohir menggoyang-goyangkan kupingnya. “Tar we kumpul di sakola subuh. Rek dikasih bocoran teu?”

Lelaki-lelaki itu semakin antusias mendengarkan instruksi Tohir, termasuk Febri. Ia terlihat bimbang. Apa harus jujur atau tidak.

“Feb, kunaon asa kurang-kerung wae?” tanya Udin, lelaki hitam yang melihat ke arah Febri.

Ah, teu kunanaon. Keur galau ieu.”

Sesampai di rumah Febri masih memikirkan soal contekan itu. Ia ragu. Padahal kemampuannya dalam mengerjakan soal cukup baik. Ia sepertinya terpedaya bujukan itu. Demi cinta.

Senin pagi, di sebuah jalan sepi di dekat sekolah. Berkumpul para lelaki yang penasaran dengan bocoran UN itu. Datang seorang lelaki berjaket abu-abu. Terlihat biasa saja. Ia membuka tasnya dan terlihat sebuah kertas. Rupanya itu sebuah bocoran UN. Para lelaki itu mulai mencatatnya. Saat ujian, banyak cara untuk mencontek. Mulai dari cara klasik hingga modern. Dari secarik kertas hingga Blackberry. Mereka sepertinya membuang jauh-jauh materi yang sudah tiga tahun diajarkan di sekolah dan menggantinya dengan sebuah kunci jawaban—yang belum tentu kebenarannya. Ujian hari pertama berakhir dan lelaki-lelaki itu berkumpul di depan ruang perpustakaan.

“Eh katanya jawabannya tembus lho,” ucap Udin.

“Wah masa?” sontak Tohir kaget.

“Ya iyalah sumbernya aja ngambil dari SMP sebelah. Toh pas soalnya mau dikasih ke sekolah intel udah dapet kunci duluan.”

Febri seakan-akan terpengaruh perkataan Udin. Hari berikutnya, masih di tempat yang sama dengan orang yang sama. Kembali ke ujian dengan kunci jawaban. Hari ketiga, masih di tempat yang sama. Namun kali ini para lelaki itu mulai kaget dengan suara berisik yang membuyarkan konsentrasi mereka. Rupanya hanya penjual kupat tahu yang kebetulan lewat. Lelaki-lelaki itu mulai bubar dan kembali ke kelas. Beberapa saat sebelum ujian, Febri merasakan sesuatu yang tidak enak.

“Gak biasanya tukang kupat tahu lewat jalan itu,” gumamnya. Bel berbunyi dan ia bersiap menuju ruangan. Tak lupa dengan contekan yang disembunyikan rapi di dalam penghapusnya. Ujian pun selesai. Febri kembali ke rumah dan bersantai di ranjangnya. Selama UN belum pernah ia membuka buku catatan atau buku paket. Tiba-tiba saja ia mempelajarinya.

******

Sementara itu, Tiwi sedang membantu ibunya masak. Terdengar suara televisi begitu keras dari dapur dan ada adiknya yang sedang menonton. Tiwi penasaran.

“Kecilin suara TV-nya, berisik!” ucap Tiwi.

“Kakak lihat itu!” tunjuk sang adik. Tiwi penasaran. Kebetulan adiknya sedang menonton berita. Ibunya datang.

“Tiwi, kok tidak diteruskan memotong sayurnya?” sang ibu melihat anak gadisnya itu terpaku. Memperhatikan setiap perkataan pembawa berita.

“Pemirsa, ujian nasional SMP baru saja memasuki hari ke-3. Namun kecurangan demi kecurangan telah terjadi, salah satunya dilakukan oknum siswa-siswa sebuah SMP di kota Bandung. Kejadian ini berlangsung saat pagi hari di jalan Kucai, sekitar pukul 6 pagi.”

“Jalan Kucai, bukannya itu…” ia terpaku. Keesokan harinya berita heboh itu menggegerkan sekolah. Tiba-tiba Rena datang membawa koran ke depan kelas Tiwi. Nampaknya berita itu menjadi halaman utama surat kabar.

“Wi, lihat. Kayaknya ini dari sekolah kita deh.”

Tiwi mengamati gambar itu dan terperanjat. Benar kata Rena. Ia sepertinya tak percaya jika Febri ikut serta di dalamnya. Ia ingat gantungan kunci berbentuk lonceng yang tergantung di tas salah satu oknum siswa. Itu adalah kenang-kenangan saat mereka berdua study tour ke Jogja. Mereka memang sengaja membeli barang yang sama. Febri merasa gundah. Ia melirik lagi ke penghapusnya. Ia lalu membuang secarik kertas di dalamnya. Hari itu mungkin hari pertama Febri mengerjakan soal ujian dengan jujur.

Beberapa minggu kemudian surat kelulusan diantar ke rumah. Ibu Febri berteriak dari kejauhan dan lelaki yang sedang bermain gitar itu segera turun. Ia membuka surat yang dipegang ibunya. Nilainya rata-rata 9. Hanya saja masih mengganjal di hatinya. Tiwi diterima melalu jalur SBI di SMA 40 sementara Rena dan Febri gagal saat tes. Untuk merayakannya, mereka sengaja berkumpul di sebuah kafe. Meski senang Tiwi terlihat gundah gulana.

“Eh, selamat ya udah keterima. Gimana hasil UN-mu?” tanya Rena.

“Bagus. Rata-rata 9,2.”

Febri diam. Ia tak tahu apa yang bisa ia banggakan. Nilai ujian?

“Feb, diam aja. Cerita dong!” seru Rena sambil menepuk bahunya. “Gimana UN? Bagus gak?”

“Lumayan. Rata-rata 9,” jawab Febri lesu.

“Selamat ya. Tapi aku gak suka caramu. Sepertinya hubungan kita tak bisa bertahan, deh. Kita akhiri saja.”

Perkataan Tiwi seakan-akan petir menyambar di siang bolong.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s