Langit Tak Bertabur Bintang

“are ga DENEBU, ARUTAIRU, BEGA”, kimi wa yubisasu natsu no daisankaku

(Supercell – Kimi no Shiranai Monogatari, transliterasi dalam aksara Latin)

Weeaboo ya? Mungkin bagi orang yang gak ngerti bahasa Jepang, ane bakal terjemahin maksudnya. Sori kalo terjemahannya salah. Ane memang masih belajar.

Coba perhatikan kata-kata yang dicetak kapital semua. Orang awam mungkin bingung dengan kata itu karena pelafalan kata serapan bahasa Inggris orang Jepang yang berbeda dengan orang lain. Makanya kalo di forum disebutnya “Engrish” bukan “English“. Denebu, arutairu, dan bega adalah engrish dari Deneb, Altair, dan Vega. Ketiganya adalah nama bintang di langit. Kate orang Barat sih dikenal istilah summer triangle soalnya ketiga bintang itu membentuk gugus segitiga di langit musim panas. Inti dari kalimat itu memang melihat rasi bintang segitiga musim panas kok.

sumber : cuyastro.org
sumber : cuyastro.org

ini dia gambarnya, jika ente masih penasaran bisa mampir ke laman ini (situs luar)

Bicara soal bintang, selama bertahun-tahun tinggal di Kota Kembang langit banyak berubah. Sejak lahir emang ane tinggal di kota surganya kuliner itu. Keadaan langit malam pun sangat berbeda. Saat pergi shalat Tarawih, ane iseng amati gugusan bintang di angkasa. Begitu pula saat pulang. Di saat temen ane bergegas pulang ke rumah untuk bermain petasan, ane memandangi langit sambil berjalan santai ke rumah. Setiap tahun bulan Ramadhan jatuh di bulan yang berbeda pada kalender Masehi. Jadi kenampakan rasi bintang setiap tahun pada bulan itu pastilah berbeda.

Pertama kali ane mengenali rasi bintang bermula dari majalah Bobo. Ya siapa yang gak tahu lah majalah anak-anak yang satu ini? Bagi anak-anak era 90-an ke bawah majalah ini kehadirannya selalu ditunggu setiap minggu. Majalah Bobo-lah yang mengenalkan ane pada rasi bintang melalui artikelnya. Ane masih ingat artikel itu membahas rasi bintang Orion. Selain itu ane mengenali rasi bintang lain melalui pelajaran IPA. Dulu belajar IPA memang menyenangkan. Malah ane seneng materi yang mempelajari tentang tata surya saat SD dulu. Mendengarkan guru bercerita disertai gambar-gambar menarik di buku pelajaran membuatnya menyenangkan. Tapi sampai sekarang ane masih bingung gimana cara bedain semua rasi bintang di langit. Ane cuman inget biduk di utara dan layang-layang (atau apapun itu namanya yang ada di bendera Australia) di selatan.

Tahun demi tahun langit Kota Kembang pun berubah. Ane teringat perkataan guru Fisika SMP ane, Bu Vero. Entah beliau udah pensiun ato masih mengajar pun ane gak tahu. Saat SMP dulu, ane pernah baca salah satu artikel PR yang menulis keluhan para astronom di Bosscha akibat polusi cahaya. Ane cerita itu pada beliau dan beliau malah mengatakan,

“Adanya Bandung itu gelap gulita. Polusi cahaya dari mana?”

Beliau bisa berpendapat demikian karena beliau tinggal di Kawasan Bandung Utara. Saat itu seluruh wilayah Bandung terlihat minim cahaya jika dilihat dari daerah atas (Dago, Lembang, dsk). Saking minimnya jalan raya Soekarno-Hatta pun gelap gulita hingga rawan kecelakaan. Itu zaman SMP dulu. Kini apa yang ditakutkan oleh para astronom di Bosscha menjadi kenyataan.

Langit seusai Tarawih semasa ane kecil dan sekarang kini telah berubah. Dulu ane masih bisa mencari keberadaan rasi Scorpio—yang memang susah dicari oleh orang awam dengan mata telanjang, kini tidak bisa lagi. Langit malam nyaris tanpa bintang dari tempat ane tinggal. Hanya satu dua bintang yang sinarnya terlihat meskipun redup. Bandung yang dulu gelap menurut guru ane kini telah berbenah. Cahaya lampu menghiasi setiap sudut jalan. Belum lagi ditambah volume kendaraan yang setiap tahun bertambah dan lalu lalang saat malam. Selain itu pertumbuhan penduduk yang meningkat seiring dengan pembangunan permukiman penduduk. Baik vertikal maupun horizontal, menyebar merata ke seluruh penjuru kota. Semuanya menyumbang polusi cahaya yang bertambah setiap tahun. Jangankan para astronom di Bosscha sana, ane seorang warga biasa saja sangat sulit melihat keindahan malam bertabur bintang di langit.

Rasanya ane rindu dengan Bandung yang dulu. Meskipun “gelap”, taburan bintang-bintang menjadi sarana pelipur di heningnya malam. Semoga saja Bandung tidak bernasib sama seperti Jakarta. Saat ane menginap di rumah sepupu ane dulu, langit malam bertabur bintang telah tergantikan oleh langit malam bermandi jutaan lampu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s