Jangan Tanya Kenapa

Karena ini adalah laman pribadi. Ane bikin tulisan ini gara-gara keinspirasi Vida-senpai. Bukan karena weeaboo ato otaku, melainkan emang peranakan indo Jepang-Tionghoa tulen. Sebenarnya ane gak berani menulis kisah ane di jurnal ini karena menurut kata seorang bijak di luar sana,

Apa yang Anda tulis di dunia maya sana akan tetap melekat seumur hidup (kecuali kalo dihapus lah)

Dalam beberapa tulisan ane, ane sering bilang jika ane ini seorang hikikomori atau shut in. Ane bukan bermaksud untuk mengumbar aib sendiri. Sebenarnya ane juga malu menceritakan hal ini kecuali pada Tuhan selepas sholat dan buku harian ane yang beneran. Ane menulis ini agar menjadi pelajaran bagi diri ane maupun orang lain yang tersesat di laman ini.

Hikikomori, mungkin jika ente bukan seorang weeaboo atau otaku akan sulit mengerti makna kata ini. Satu kata yang bisa dibilang dianggap memalukan di negeri asalnya sana. Hikikomori setipe dengan pengangguran atau NEET (not in education, employment, or training) dalam bahasa Inggris. Bedanya hikikomori versi lebih ekstrim dari pengangguran. Seorang hikikomori menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam rumah. Pengidapnya tidak akan ke luar dari rumah kecuali pada saat darurat, misalnya untuk sekadar membeli kebutuhan pokok atau ada bencana alam. Masalah yang diidapnya bukan karena malas atau tidak mendapat pekerjaan, melainkan masalah psikologis yang diderita si pelaku. Biasanya yang disebut dengan tipe itu adalah seseorang yang lebih dari 6 bulan mengurung diri di dalam rumah, khususnya kamar.

Semua bermula setelah PKL usai, tepatnya akhir Januari. Sejak saat itu ane tidak pernah lagi ke luar rumah kecuali untuk belanja kebutuhan pokok. Gejala awal bermula beberapa bulan sebelum diadakan tugas akhir di sekolah dulu. Ane sempat gak masuk sampai seminggu berulang kali. Bahkan dalam satu bulan bisa ada beberapa hari ane gak masuk tanpa keterangan. Ane gak masuk karena merasa tertekan. Beban psikologis ane sudah mencapai puncaknya.

Pertama, selama tiga tahun (tepatnya gejala itu bermula saat duduk di bangku kelas XII) ane merasa tidak ada perkembangan sama sekali. Kali ini parameternya bukanlah Apul, melainkan teman-teman ane yang biasa saja. Ane merasa salah jurusan. Selama ini nilai ane tidak pernah lebih dari kata KKM. Jika lebih pun itu hanya mata pelajaran yang menyangkut desain seperti halnya Pemrograman Web atau Pengantar Multimedia. Setiap kali guru mengajar di depan kelas, otakku serasa menolak mentah-mentah materi yang diajarkan. Bahkan berkali-kali ane dipanggil oleh guru karena hal itu.

Kedua, orang-orang tidak tahu masalah apa yang ane simpan selama ini. Orang lain sering menganggap ane seperti anak kecil karena selalu terlihat ceria setiap saat. Ane masih terlihat wajar di depan mereka. Bahkan ane masih bisa ngacir dari Ikki-senpai saking malunya. Semua sifat ane yang dilihat orang lain terlihat biasa saja.

Di balik itu semua, ane memang sangat tertutup. Terlebih saat menceritakan hal-hal sangat pribadi. Berbicara pada teman paling akrab sekalipun ane tak sanggup. Apalagi pada orang tua. Tahulah sendiri bagaimana keadaan keluarga ane, harmonis di luar kacau di dalam. Hampir setiap hari disesakki oleh sumpah serapah, binatang penghuni kebun binatang yang kabur kapan saja, hingga makian yang membuat rumah siput di dalam telinga pecah. Selain itu ane selama ini selalu menjadi korban penindasan di sekolah. Bahasa kerennya sih bully, persis dengan game yang mengajarkan hal serupa. Tahu sendirilah bagaimana rasanya menjadi korban. Berbicara kepada pihak berwenang dianggap pecundang, jika melawan maka korban akan semakin ditindas. Bahkan ane lupa dengan siapa saja pelaku selama ini. Jika ane ingat, ane sudah memaafkan mereka. Tapi ane akan menghapus mereka dari ingatan selamanya agar bekas luka ini tidak terasa semakin sakit. Jika bertemu mereka sebisa mungkin ane akan menjauhi mereka meskipun mereka hanya sekadar bertanya jalan.

Kedua hal itu rasanya telah mencapai puncak ketika menginjak kelas XII. Bahkan suatu hari temen sekelas ane bertanya saat istirahat. Ia berkata ada yang berbeda dari ane selama tiga tahun sekelas. Ane yang ia kenal saat itu sangat berbeda dengan ane yang ia lihat saat MPLS dulu. Ia memang baik dan perhatian terhadap semua teman-temannya di kelas. Namanya Yuni. Orangnya begitu hangat dan ramah terhadap siapapun. Meskipun begitu rasanya sulit. Perasaanku sudah terenkripsi dengan sangat baik. Seorang paling hangat sekalipun rasanya sulit menyentuh perasaan ane yang terdalam. Perasaan ane yang amat dingin, apatis nan rapuh. Semakin hari beban itu semakin bertambah dan memuncak pasca-PKL di tingkat 4. Hari itu juga ane memutuskan untuk mengurung diri di dalam kamar.

Jika orang lain bertanya apakah rasanya menjadi seorang hikikomori? Ane jawab rasanya sangat berat. Hampir setahun ane mengurung diri di dalam rumah. Di saat orang lain sibuk dengan prom nite dan SNMPTN, ane tidak merasakannya. Ane sempat berkata pada teman jika ane akan mencari kerja setahun, nyatanya tidak. Ane mencari kerja semata-mata karena terpaksa oleh perkataan orang tua. Ane merasa tidak nyaman saat kembali ke masyarakat. Ane takut kenangan itu kembali terulang. Kenangan di mana setiap orang mengernyihkan dahi dan memandang ane dengan wajah jijik saat berbicara. Memangnya kalian pikir orang yang kalian ajak bicara itu adalah sampah? Memang ane adalah manusia hina dina di hadapan Tuhan namun kalian tak berhak memperlakukan sesama hamba-Nya sekejam itu. Apa kalian pikir ane ini adalah android? Ane adalah manusia biasa yang masih memiliki hati nurani. Mimik mukamu jauh lebih kejam dibandingkan lidahmu dan lidah lebih kejam dari harimau terbengis sekalipun.

Bukankah enak tinggal di rumah? Tidak. Ane bosan. Sedikit demi sedikit ketakutan ane pada kerumunan mulai tumbuh selama di rumah. Berada di tempat ramai rasanya seperti dikejar-kejar binatang buas di sekeliling. Saat ane ke luar jauh dari rumah untuk mengurusi ijazah karena terpaksa, tubuh ane gemetar ketika menginjak halaman depan sekolah. Badan serasa meriang. Ketakutan ane memuncak seketika. Ane ingin segera pergi. Ane tak kuat lagi. Sementara itu selama di rumah ane serasa diperbudak. Hampir setiap hari diperlakukan tak baik hingga dianggap rendah. Rasanya ane tidak kuat lagi. Bagiku di luar maupun di rumah sama saja. Perasaan ane mencapai puncaknya hingga berkali-kali ane putuskan untuk kabur dari rumah. Lagi-lagi berakhir gagal karena sudah dicegat di depan pintu.

Ente tahu apa yang ane lakukan selama di rumah? Main game. Iya, ane serius. Ane putuskan mengurung diri bukan karena game. Apa ente tahu game daring jauh lebih kejam dari dunia nyata? Pelaku bully jauh lebih kejam dan menusuk dibandingkan dengan pelaku di dunia nyata. Mulai dari menyebar fitnah, sembarangan main kick, hingga sengaja membajak akun orang lain untuk menghancurkan orang itu. Tapi jika saat itu ane tidak bermain, mungkin ane takkan bertemu dengan Bang Roni, Boim, dan Audry. Perlahan mereka memberi ane keceriaan yang sempat menghilang. Bang Roni adalah salah satu sesepuh game yang masih aktif hingga saat itu. Ia bisa dibilang orang yang sangat bijak dan dewasa. Meskipun ane sering ngeyel dan kesel jika ditegur ama dia, nyatanya kini ane sadar semua perkataannya itu demi kebaikan ane. Jika suatu saat ane bisa bertemu dengan mereka secara langsung, ane mungkin akan mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah menerima ane apa adanya. Terima kasih telah menyadarkan ane betapa pentingnya kehidupan dibandingkan kehidupan di dalam game.

Sepertinya Tuhan serasa memberikan petunjuk selain dari mereka. Suatu ketika ane tak sengaja mendengar perkataan orang tua yang diam-diam memperhatikan ane. Apa yang ane pikir selama ini salah. Ane kira ane itu adalah bisa dibilang terlupakan di keluarga. Selama ini mereka kesal melihat ane seperti itu. Ane pikir mereka adalah tipe orang tua yang menganggap “dengan uang segalanya beres”. Ternyata tidak. Bahkan Emak ane sampai nangis ketika berbicara hal itu pada ane. Emak bahkan sering bertengkar ama Babeh karena ane. Memang ane tahu kedua orang tua ane lebih sering bertengkar daripada rukunnya. Tapi kali ini ane merasa bersalah. Ane telah mengecewakan mereka. Ane sering mendengar perkataan mereka yang intinya mereka tak ingin ane seperti kakak tertua ane yang memiliki masa depan suram. Apa ane keterlaluan? Apa yang harus ane perbuat sekarang? Hal itulah yang seakan menjadi titik balik ane.

Jika saja tidak ada Bang Roni dan ane tidak mendengar perkataan Emak, mungkin kini sekarang ane masih tetap menjadi hikikomori. Mengurung diri bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah. Hadapilah, itu adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikannya. Hadapilah meskipun itu terasa amat sulit. Jika ente berhasil mengatasinya, ente akan menjadi ente yang beberapa tingkat lebih tinggi dari sebelumnya. Masalah itu adalah resiko dari pilihan yang ente lalui.

Menjadi korban adalah masa lalu. Masa depan ane atau ente adalah pilihan. Apakah ingin terus terjebak dalam lingkaran setan bully atau menjadi manusia merdeka sepenuhnya. Lawanlah segala sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan laporkan setiap tindak-tanduk mereka pada pihak berwenang. Sesakit apapun rasanya menjadi seorang korban, maafkanlah mereka. Memang praktiknya sulit namun itu jauh lebih mulia daripada membalas dendam atau sakit hati.

 

Ini adalah curahan hati seorang mantan hikikomori yang beralih menjadi mantan pegawai toko parfum dan kini menjadi seorang mahasiswa. Semoga saja pilihan yang akan ane lalui selanjutnya adalah pilihan terbaik agar menjadi manusia yang lebih baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s