Empat Tahun yang Tak Terasa

Ternyata bosen juga jadi hikikomori. Gak bisa touring, cekakak-cekikikikan nonton film bareng, jalan-jalan, serasa masa muda terambil begitu saja. Mungkin ane gak pernah bilang alasan sebenarnya dan hanya bisa marah sambil bertingkah tsundere pada orang. Ane takut. Ane takut kehidupan negatif yang hampir menghantui sebagian besar hidup ane yang sudah menginjak tahun ke 20 terulang lagi. Mungkin orang gak tahu jika ane sendiri memiliki kecenderungan agorafobia meski gejalanya baru terasa. Bahkan jika berada sendiri di tempat ramai selalu muncul delusi aneh yang menghantui ane agar tetap tenang. Ane juga bingung sejak kapan delusi aneh itu muncul.

Selama tiga tahap sekolah, tak ada kenangan yang hampir tersisa di kepala. Entah kenapa setiap ane menulis perasaan sedikit lebih lega. Mungkin karena kebiasaan ane menulis jurnal yang akhir-akhir ini mulai ditinggalkan karena : “pacaran” dengan komputer. Salah satu ingatan yang nyangkut adalah tentang anak-anak di kelas. Meski tak semua orang di kelas ane memiliki hubungan baik, tapi anehnya mereka selalu mendorong ane walau ane ngeyel pura-pura gak nyadar.

Masa-masa di SMA tak terlupakan. Bagi ane, huruf A dicoret lalu diganti K. Empat tahun, karena ane ambil prodi 4 tahun. Selama 4 tahun ane harus sekelas dengan orang-orang yang notabene murid-murid pandai tapi juga usil di sisi lain. Jujur saja ane termasuk yang tertinggal dalam pelajaran karena sulit mengejar mereka kecuali pelajaran Matematika yang masih bisa dikejar. Bahkan ane malu mengingat insiden kelas 1 karena ane merasa tertekan saat itu. Beban ketakutan yang menghantui hampir setengah perjalanan pendidikan ane akibat bully hingga membuat ane memandang semua orang di kelas (terutama anak-anak eksis) dengan sebelah mata. Bahkan jujur saja ane tak menaruh kepercayaan sedikit pun pada mereka. Sampai salah seorang temen sekelas ane bilang, “Kok diem aja? Kenapa gak cerita? Perasaan sekarang banyak berubah, gak terbuka seperti dulu.”

Tapi entah kenapa dua tahun ke belakang ane merasa seperti diterima dalam mereka. Meski mereka banyak kelompok. Kelompok Apul adalah kelompok anak-anak cerdas yang paling menonjol di kelas terutama dalam bermain DotA. Bisa dibilang nyaris sempurna. Baik dalam berbagai pelajaran, anggota Paskibra (masuk tingkat kota saja sudah sulit apalagi nasional) yang pernah mengibarkan bendera di gedung Balai Kota, ganteng, dan juga paling demen main DotA hingga mencapai final turnamen tingkat sekolah. Asal ente tahu aja, tiap akhir tahun di sekolah ane sering ada turnamen DotA antar kelas. Gak tahu masih ada ato gak sampe sekarang.

Kedua adalah IFOS, karena mereka sering nongkrong di depan sekolah (in front of school). Bisa dibilang mereka “ibu-ibu doyan arisan”. Ya kerjaannya gak jauh dari kata arisan. Anggota semuanya cewek dan ane beserta tiga orang yang lain tidak termasuk. Gak kalah pinter ama ce-es-an Apul. Mereka bisa dibilang cantik, modis, punya banyak relasi, dan juga hobi arisan. Entah bareng anak-anak cowok ato anak kelas sebelah ngumpul di Gokil sambil ngocok arisan tiap bulan. Ampe ane pernah bikin karikatur kelas gambarin Nisa sebagai debt collector sangar semacam The Rock di The Rundown. Nisa emang tegas nagih duit. Pantes aja ia sering jadi bendahara. Kadang sering ngajak ane ikut arisan tapi ya ane tolak karena bokek. Mereka sering ngajak jalan-jalan dan rame-ramean bareng. Kok ane ngerasa tiap kali ngerepotin mereka ya?

Ketiga adalah kelompok lelaki kacrut. Seperti namanya mereka memang kacrut. Biang kerok di kelas mengerjai guru apalagi kalo ada calon guru kece yang lagi praktik mengajar di sekolah. Hobinya gak jauh dari hobi laki-laki pada umumnya. Main, jalan-jalan, touring, usilin orang, bahkan siap ngehajar anak kelas sebelah yang mengganggu kedaulatan kelas. Pernah mereka berkelahi sama adik kelas karena tingkahnya yang kurang ajar sama senior. Di samping sifat usilnya, mereka adalah tim yang solid. Mereka sering ngejailin ane. Alasannya biar ane gabung ama anak-anak lain dan tersenyum. Bahkan kalo ente nyadar, anekdot ane soal Fisika itu adalah deskripsi mengenai keisengan mereka pas pelajaran Fisika.

Kelompok keempat adalah ce-es-an Padmo. Berbanding terbalik dengan ce-es-an Apul yang nyaris tanpa cela. Mereka adalah kelompok gado-gado. Bisa dibilang persilangan antara tukang reparasi komputer, otaku, Viking, dan gamer. Ane sering ngobrol ama mereka karena lappie ane sering kena masalah. Kalo ada masalah sama komputer, tanyakan saja pada Padmo, Okta, Garut, ato Degar. Udah gratis masalah beres. Selain itu juga karena urusan fansub. Dulu ane diajak Yogz ikut fansub dan gara-gara mereka ane jadi ngikutin anime lagi. Kalo dibilang Yogz itu seperti Gina Sonia (penyiar TVRI senior pas zaman dulu) versi cowoknya. Si chinese omes Noey sering bantu soal referensi anime bahkan dia sering jadi polisi kalo ane telat setor takarir. Dulu ane diminta terjemahin Zetsuen no Tempest. Tapi ane keluar dari fansub gara-gara waktu itu ane kerja. Kalo ente pernah nemu salah satu fansub Indo dan nemu avatar Ginnosuke Isuzu (mana tahu otaku Indo sekarang, pada demen anime mainstream) pose mewek di bagian staf, itu ane di fansub. Nick ane di staf juga nama kapten no 9 di Claymore. Sekarang pas ane tinggalin fansub itu udah lebih baik dari dulu.

Kelompok terakhir adalah ce-es-an Putra. Singkatnya mereka adalah fashionista. Cewek-cewek sisanya masuk kelompok dia, kecuali ane. Mereka sering bicarain soal fashion, musik, dan budaya populer. Paling sering bicarain Lady Gaga, Nicki Minaj, ama Beyonce. Mereka juga sering kasih masukan soal mode. Tampilan dari atas ampe bawah bisa dibilang lebih necis dibandingkan anak-anak lain. Mereka juga ramah dan dekat dengan semua kelompok di kelas.

Entah kenapa kok jadi kangen ama mereka. Apa karena selama 4 tahun sekelas terus jadi gini? Kadang ane kesel ama mereka tapi di sisi lain mereka berusaha bantuin ane biar gak terus menjauhi orang lain. Mereka malah nawarin bantuan meski ane gengsi minta bantuan mereka karena mereka sering sibuk. Mungkin karena salah paham aja. Moga aja pas kuliah ane nemuin temen yang bener-bener seperti mereka.

——

Sekitar dua tahun kemudian.

Entah kenapa karena keisengan ane memasang tautan di jejaring sosial, tiba-tiba tulisan ini mendadak dicari. Ternyata setelah diselidiki pelakunya adalah anak-anak. Dasar. Gara-gara tulisan ini, jalinan silaturahim yang sempat menghilang kini bersatu kembali.

Ibu-ibu doyan arisan itu kini tidak ada lagi. Adanya mereka bersatu dengan Putra mendirikan komunitas baru yang masih eksis hingga saat ini. Alasan salah satu dari mereka bilang arisan dihapus karena susah nagih. Sepertinya sekarang Nisa sudah beralih profesi. Tidak lagi menjadi penagih uang tunggakan arisan. Mungkin capek mengejar semua anggota arisan karena sudah terpencar. Tapi karaoke masih jalan terus seperti dulu.

Kelompok Padmo masih setia dengan apa yang dilakoni sejak sekolah. Padmo kini sukses menjadi karyawan sebuah perusahaan berbasis TI ternama. Yogz masih tetap mengurusi fansub di sela-sela kesibukannya kuliah. Okta masih bekerja namun ane gak tahu apa dia kuliah juga ato gak.

Anak-anak cowok mayoritas masih tetap eksis di jejaring sosial. Ada yang sibuk mempromosikan bisnis, foto-foto narsis di puncak gunung, hingga band. Beberapa di antara mereka ane ketahui kuliah di universitas swasta. Menyimpang dari ilmu komputer ato gak ane pun gak tahu karena jarang berkomunikasi dengan mereka jika sedang aktif.

Kini ane kembali bersatu dengan Apul cs, minus satu orang yang sudah bekerja. Bedanya tidak satu kelas, tetapi menjadi kakak tingkat. Satu jurusan pula. Apul lebih sering bersama dengan Zul karena mereka berdua aktif di organisasi himpunan. Lha wong mereka yang sibuk di acara pengenalan jurusan.  Sedangkan Ulip lebih sibuk dengan UKM, tapi masih tetap berkomunikasi dengan mereka. Bahkan ane dengar dari kakak tingkat Ulip sempat memberi kejutan kue ulang tahun pada Zul. *kapan ane dikasih kejutan gitu ama orang yang dicintai T.T*

Apul! Rasanya pengen banget cubit pipi orang dengan IPK 3,9 itu terus ditarik-tarik kayak adonan cakue. Gara-gara si abah, ane harus belajar lebih keras biar gak tengsin di hadapan kakak tingkat (termasuk Amir, temen SD ane yang juga kakak tingkat). Awas lu, Abah! Liat aja IPK ane nanti berapa!

Begitulah sekelumit kehidupan yang diwarnai oleh kehadiran mereka. Kok segitu? Lembar kehidupan ane masih panjang dan harus diwarnai dengan kerja keras gara-gara abah Apul.

Iklan

2 thoughts on “Empat Tahun yang Tak Terasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s