Debat Ruang Keluarga

Kalo debat kusir hanya berlaku di DPR dan di dekat kusir delman. Betul?

Kalo ada yang dominan, pasti ada yang resesif. Itulah perkataan singkat dari subbab Genetika yang berlaku di kehidupan. Begitu pula dengan hidup ane. Pernah sih ane nyindir di sini dengan perumpamaan Kak Ros. Tahu sendirilah galaknya Kak Ros di Upin Ipin seperti apa. Ane sering banget ribut, terlebih kalo misalnya komentari hal-hal baru. Ane, kalo ngomong emang ngelantur. Kadang suaranya gede sendiri gara-gara agak budeg. Paling demen baca dan sering tahu hal-hal yang jarang orang ketahui. Toh seperti yang ane tulis, ane gak suka sesuatu yang pasaran. Berbeda dengan kakak ane. Orang tua ane malah bilang kakak ane yang buruk-buruknya. Lha kalo debat ketemu orang yang sama-sama dominan gimana?

Masalahnya ane dan kakak ane memang berbeda sudut pandang. Kalo ngikut kata Babeh ane sih, diem di rumah mulu bikin otak tumpul. Ane sering diledekin kerjaannya internet mulu. Memang ane sering baca informasi acak dan pembaruan Claymore yang greget bentar lagi mau tamat. Ane demen buku-buku yang tidak pasaran. Jika orang kebanyakan lebih demen novel berbahasa Indonesia gaul, ane lebih demen buku-buku yang membahas mirisnya bahasa Indonesia. Kalo dulu pas belajar pemrograman temen ane demennya pake template buatan orang yang sudah jadi, ane hajar sendiri skrip dari nol. Kalo orang lain demennya pakai perangkat lunak bajakan, ane malah pilih perangkat lunak sumber terbuka (open source). Maklumlah orang tipe dominan dengan cara pikiran berbeda ketemu dengan tipe dominan lagi dengan cara pikiran kolot gimana.

Berbicara soal dominan dan resesif di luar konteks Genetika, ketika berdebat dengan seseorang apakah yang ente rasakan. Pasti ingin menang lah. Tapi menang bukan berarti “menang” secara konteks orang kebanyakan. Menang tidak selalu identik menang, itulah kata orang bijak. Menang itu bisa berarti orang itu sepaham dengan kita. Menang itu bisa berarti membiarkan lawan seakan-akan dia menang. Seperti halnya Marisa ketika bertemu Cirno. Ia seakan-akan membuat Cirno menang padahal Cirno sendiri yang kalah.

Debat bukanlah sarana untuk menambah musuh. Debat bukan sarana untuk menghajar orang yang menang karena kita ngenes seperti halnya para anggota dewan yang dikatai alm. Gus Dur persis anak TK. Tapi ane paling kesel kalo pas debat ketemu orang ngeyel. Ya seperti orang-orang tipe pasaran kebanyakan. Summun bukmun, itu perumpamaan yang tepat. Jika ditampakkan bukti yang nyata, orangnya baru mangut-mangut kayak menjilat ludahnya sendiri.

Jadi … debat itu biasa. Tidak selamanya kita harus dominan. Ada kalanya kita menjadi resesif untuk menahan ego.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s