Antara Ane, Diskrit, dan Pak Dindin

Kenapa jurnal ane makin ke sini makin mirip kayak logbook? Dulu setiap nulis artikel itu seenak jidat, sekarang minimal ada nilai yang bisa ane petik dari kejadian-kejadian yang telah dialami.

Diskrit ya? Aneh emang. Eh, yang bener itu Diskret ato Diskrit? Perasaan ane baca buku terjemahan resmi yang ane pinjem di perpustakaan nulisnya Diskrit, tapi liat dari tulisan dosen disebutnya Diskret? Lupakan kerancuan ejaan untuk sementara. Maklumlah, orang Indonesia sering seenak jidat ubah-ubah EYD. Bisa dibilang Diskrit itu adalah Matematika yang aneh. Tidak semengerikan Kalkulus seperti kata orang (kalo kata ane lebih ngeri ama Statistika, liat rumusnya aja bisa bikin overdosis lalu mabok), tidak seabstrak materi Dimensi Tiga, dan ujung-ujungnya main logika. Toh sumber banyak di luar sono, tinggal pilih sumber berbahasa Inggris ato Ingdonesia Indonesia. Ane bukan pakarnya jadi ane gak pantes protip panjang lebar di sini.

Di kelas ane, cukup alergi mendengar kata itu. Ya, Diskrit. Ane serius. Padahal di Kaskus sono ada yang debat ampe ratusan halaman di subforum programmer cuman mendebatkan Diskrit dan Algoritma. Kedua hal yang ane sebutkan itu, menurut sesepuh di sono, itu adalah hal yang paling dasar untuk seorang pemrogram. Ane belajar lagi dari awal karena ane sejak awal sudah pemrogram sesat. Tapi anehnya di kelas kata itu menjadi hal yang … sesuatu. Mendengar kata itu seakan memanggil memori dan gambaran dosen berusia sekitar 40 tahun nan killer yang mengajar di jam pertama pula. Sangat greget dan maknyus. Dua hari berturut-turut pula. Rasanya itu seperti ketiban paron terus udah gitu ketiban lagi ama mobil setum jalanan.

Hari pertama ane ngampus, udah dibikin terpaku, tercengang, ternganga, ampe lalat dari kantin sebelah nyasar di mulut ane. Pertanyaannya langsung berat. Tidak penjelasan tata tertib atau perkenalan seperti dosen kebanyakan. Materinya sih materi SMA, pra-Kalkulus pula. Tapi berhubung suasananya seperti ditodong senjata dari belakang ama teroris, orang terpandai di kelas pun sampai dibuat mati kutu oleh beliau. Setdah … hari pertama aja udah gini coba. Gimana hari kedua dan seterusnya? Meskipun killer, dosen itu emang terbilang epik. Sering pake jurus blink *emang Magina aja yang bisa?*, taruh buku di atas meja, lalu tiba-tiba menjelaskan sesuatu yang orang terpandai di kelas pun melongo. Dia aja gitu apalagi ane coba. Dalam hitungan satu, sudah masuk ke dalam fase Theta dengan “aliran sungai dari dalam gua” menuju ke atas meja.

Tapi setelah beberapa minggu diajari oleh beliau, rasanya gak se-killer apa yang dikatakan orang atau kakak tingkat. Soalnya ane pernah diajari oleh guru yang setipe dengan beliau, Pak Dindin. Guru Matematika epik dengan kepala kinclong padahal masih muda. Memiliki ciri khas, selalu berkata “Lihat Sini! Lihat Sini!” dengan suara dan intonasi yang khas sambil menunjuk ke papan tulis. Waktu SMP pun ane sering masalah di jam beliau mengajar. Sepele sih, tidur pas banget di depan meja guru. Gak boleh ditiru, cyin! Gak heran ane termasuk langganan disetrap di depan kelas disuruh mengerjakan soal-soal pembuktian rumus Matematika. Udah gitu ane sering remedial dan nilai ane tergolong rendah dibandingkan dengan murid-murid lainnya. Tapi anehnya beliau sempat bengong ketika ane mendapatkan nilai ulangan bagus padahal ane itu sering tidur di kelas. *kembali dengan konklusi ala siaran malam MQFM* Gara-gara sering dihukum Pak Dindin, ane gak terlalu kaget waktu diajari dosen Diskrit dengan gaya mengajar yang hampir mirip. Bedanya dosen itu memiliki gaya komunikasi yang kurang lancar dibandingkan dengan beliau.

Pas tadi belajar Diskrit, ane merasakan dosen itu aslinya emang baik tapi agak kesulitan berkomunikasi dengan para mahasiswa yang ia ajar di kelas. Kelihatan dari gestur dan cara bicaranya. Sebenarnya beliau ingin menyampaikan materi A, namun apa yang ditangkap mahasiswa bisa jadi X, Y, atau Z. Kalo killer pasti bawaannya tegang. Toh ane gak merasa tegang. Ane lebih tegang waktu SMP dulu. Ketika ane dihukum Pak Dindin membuktikan rumus Matematika lalu dipermalukan di depan teman-teman sekelas hingga kelas sebelah. Kalo killer pasti raut wajahnya terlihat berbeda selama mata kuliah berlangsung. Sorot matanya terlihat lelah. Mungkin beliau kurang istirahat karena sibuk mengurusi UKM yang akan bertanding di Amerika tahun depan atau kecewa dengan mahasiswa baru sekarang yang terbilang kurang tanggap akan materi, ane gak tahu. Ane pernah baca artikel lama di Pe-eR mengenai keluhan dosen terhadap mahasiswa baru yang kesulitan menangkap materi perkuliahan. Ane juga ngerasain emang sulit mengejar mata kuliah tertentu, terlebih lagi kelas ane banyak murid yang menonjol. Nada bicaranya terdengar kesal dan berulang kali terlihat jelas ekspresi kekesalannya. Seakan-akan beliau ingin mengatakan,

“Materi ini sudah diajarkan di SD, SMP, dan SMA. Kenapa kalian gak bisa? Kuliah itu mengulang lagi materi-materi dasar. Coba kalian ingat-ingat lagi.”

Saat tadi gak sengaja menangkap pesan tersirat dari gerak tubuh beliau, ane kepikiran menulis tulisan ini. Memang penafsiran ane tidak selalu benar. Tapi secara tidak langsung beliau itu kecewa dengan para mahasiswa yang beliau ajar di kelas. Cara mengajarnya pun persis seperti Pak Dindin, mengajarkan “bagaimana sesuatu dibentuk dan bekerja”. Tidak seperti kebanyakan guru yang mengajarkan “ini LKS-nya, kerjain aja semuanya di sini” ato “tanya aja si Mbah, semua beres”. Sebenarnya beliau ingin mengubah paradigma berpikir mahasiswa yang ia didik agar mau berpikir dan penasaran seperti anak kecil yang baru belajar. Beliau ingin setiap mahasiswa yang ia didik menjadi orang-orang yang tidak hanya mengetahui cara menggunakan suatu barang, tetapi juga proses dari mana barang tersebut, cara membuatnya, dan bagaimana cara kerjanya.

Protip ya? Intinya ane tekankan adalah berpikir. Memang ane tidak bagus dalam mata kuliah Diskrit. Namun ane akan berusaha sebaik mungkin agar suatu saat nanti beliau bisa masuk ke kelas dengan perasaan ringan dan senyuman tersungging di wajah kusutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s