Catatan Akhir Tahun Keseharian Ane

Rasanya membosankan juga neraca selama dua bulan ini minus. Penghasilan minim karena tidak ada modal. Pengeluaran banyak tapi pemasukan nihil. Ane mau nangis karena kondisi keuangan. Bukan karena di usia ane yang bentar lagi bertambah (dan berkurang satu tahun jatah hidup pula) ane masih lajang.

Awal tahun diawali oleh depresi dan diakhiri oleh depresi. Faktornya pun berbeda. Awal tahun itu puncak dari tingkat stres ane yang bertahun-tahun lamanya persis seperti gunung es. Harusnya masih kontrol ke psikiater tapi entah kenapa orang tua ane lebih peduli dengan gengsi mereka untuk keliling Indonesia daripada kesehatan anaknya sendiri. Faktanya depresi adalah penyakit keempat mematikan yang paling banyak diderita oleh penduduk Indonesia terutama di kawasan perkotaan. Alasannya pun masuk akal. Stroke, kanker, dan penyakit jantung memang mematikan. Depresi bisa membuat seseorang mengakhiri hidupnya jika tidak ditangani dengan serius dan diiringi lemahnya iman dari penderitanya. Dua bulan pertama ane di tahun ini, ane nyaris tidak bisa senyum ataupun tidur nyenyak. Pas sholat pun bawaannya sering nangis tiba-tiba. Kondisi terbalik dialami di akhir tahun.

Depresi yang sudah selama ini tenang kambuh lagi karena masalah keuangan. Ane ingin sekali berdagang tapi modal tidak ada. Sudah empat kali coba bisnis dengan neraca minus ditambah tidak laku di pasaran. Saat itu masih bisa bangkit karena modal produksi pun masih ada. Entah itu uang ataupun stok bahan baku yang tersisa. Ane tahu meminta modal sama orang tua itu jauh lebih ribet daripada birokrasi urus hal-hal berkaitan dengan kependudukan di negeri ini. Ane pun tertarik ingin mengambil kredit yang ditawarkan Pemkot Bandung dengan modal minim sebagai permulaan. Ada kredit yang ditawarkan melalui BPR Melati dan adapula kredit BMT melalui masjid. Sayangnya ane terlalu lemah dengan bujuk rayu manis (padahal busuk) orang tua ane yang notabene seorang programmer PHP tanpa harus sekolah di jurusan Informatika dan belajar dari algoritma sampai natural language processing. Sampai sekarang ane tidak bisa berbuat apapun karena tidak ada modal produksi. Ane hanya bisa gigit jari sambil main game dan berulang kali marah ingin kabur dari rumah terus jual laptop buat modal produksi. Masa bodoh harus menumpang di kostan teman yang lokasinya berada di belakang pasar Kiaracondong. Hidup susah dengan berdagang itu jauh lebih baik daripada harus tinggal di rumah nyaman namun membusuk perlahan.

Sampai sekarang ane belum pacaran apalagi menikah. Persetan dengan tipe laki-laki bak pangeran. Tenang saja. Ane masih normal. Percuma saja ane berharap tipe lelaki ideal karena mereka pun tidak mau dengan ane yang berwajah pas-pasan. Tampang dan uang adalah kesan pertama yang meyakinkan. Itu sebabnya ane hanya memilih lelaki berdasarkan pemahaman agama. Ada banyak lelaki yang mencoba mendekati ane pun langsung ane tolak dengan sikap dingin dan cuek terhadap hubungan yang serius. Mereka tidak sesuai dengan kriteria ane. Ane hanya mencari lelaki yang pemahaman agamanya lebih baik dari ane dan seorang family man alias bapak rumah tangga. Ada kriteria tambahan pun hanya humoris. Orang lain tahu sekilas ane itu serius. Hanya orang terdekat ane yang tahu ane itu tipikal orang yang senang bercanda dan konyol. Selain itu ane jenuh melihat setiap hari yang diisi dengan pertengkaran. Kuburan dan masjid jauh lebih damai daripada sebuah rumah yang hampir setiap saat diisi oleh percekcokan dan amarah.

Selama tahun ini ane banyak belajar dari orang-orang baru dan lingkungan baru. Ane banyak belajar tentang dunia yang semula hanya sebatas ruangan dan komputer. Ane ikut berdesak-desakan di arena Pasar Komik Bandung yang jauh lebih ramai dari bayangan ane. Ane ikut kelas kepenulisan, public speaking, dan gambar di Perpustakaan Daerah. Ane bisa tahu semua proses di balik dapur penerbitan setelah berkunjung ke kantor Mizan yang ada di Cinambo. Ane banyak belajar tips-tips memasak dan membeli bahan baku dari komunitas wirausaha WUB Kota Bandung. Ane belajar mengasak teknik memasak dengan pelatihan kuliner. Tahun ini ane banyak belajar namun tidak tertekan seperti masa-masa sekolah ane dulu. Belajar sebenarnya adalah proses yang menyenangkan selama tidak ada standar irasional yang menghambat motivasi dan potensi belajar kita. Tentunya selama kita mau bertanya, mendengarkan, dan menghargai orang lain.

Soal kondisi di rumah, ane sudah tidak tahan. Ane jengah melihat kondisi rumah yang serba kacau. Babeh yang uring-uringan dan hobi marah seenaknya. Emak yang perfeksionis dan tidak bisa menerima toleransi kesalahan walau 0,01%. Statistika saja masih bisa menerima toleransi kesalahan sebesar 5%. Fobia ane yang semakin memperburuk kondisi kejiwaan ane yang baru pulih dari depresi. Belum lagi ditambah masalah dari kedua kakak ane yang sering memicu pertekaran di rumah. Kakak pertama ane dengan anak-anaknya yang super bandel dan tinggal di rumah selama bekerja di Bekasi. Untung saja Nara ikut ibunya. Bocah usil pengidap disleksia yang jadi biang kerok dari semua masalah di rumah itu sekarang tinggal di Bekasi. Kakak kedua ane dengan masalah mobil. Babeh punya mobil kesayangan, Honda HR-V generasi pertama yang dibeli secara inden dengan tipe limited edition. Hal yang mencolok dari tipe itu adalah warna. Itu adalah satu-satunya mobil HR-V berwarna biru metalik yang mudah ditemukan di jalanan kota Bandung. Sejauh ini ane belum lihat mobil HR-V warna biru metalik lagi dengan plat nomor Bandung yang berkeliaran di jalan raya ataupun jalan tol. Kata saudara ane yang kerja di dealer mobil pun harga mobil HR-V generasi pertama yang bekas masih tinggi. Babeh jual mobil itu ke kakak ane. Penyebab uring-uringan di rumah adalah masalah mobil. Babeh sangat merawat mobil itu sampai pengaturan mesinnya pun diperhatikan betul. Sewaktu mobil itu berpindah tangan, mobil kesayangannya berubah dengan setelan mesin yang tidak enak didengar dan ane tidak paham sisanya karena ane tidak paham soal otomotif. Soal Rifnun yang memang bermasalah dari kecil pun itu kasusnya kompleks. Tidak hanya karena masalah di rumah, tapi juga di sekolah yang menanganinya secara tidak tepat. Bisa dibilang ia adalah satu dari jutaan pelajar yang jadi korban pergantian kurikulum setiap tahunnya.

Soal kondisi fisik ane belakangan ini menurun drastis. Sekalinya sakit pun sakit yang fatal dengan waktu penyembuhan yang lama. Dua kali terkena tipes, satu kali terkena herpes yang dipicu oleh depresi, satu kali dislokasi kaki kiri, satu kali keracunan hebat yang sempat ane salah kira sebagai gejala liver, dan depresi yang bisa kambuh setiap saat dipicu oleh kondisi rumah juga zoofobia. Awalnya perasaan ane di awal tahun selalu suram dan galau. Alhamdulillah semenjak terapi dengan pendekatan agama dan latihan dari buku Toxic Parents juga La Tahzan, kondisi ane pun mulai membaik. Kondisi rumah ane boleh kacau tapi kondisi kejiwaan tidak boleh ikut-ikutan kacau.

Harapan ane di tahun depan hanya sederhana. Bisnis lancar, segera menikah, dan kehidupan pribadi lebih baik. Kehidupan pribadi sudah membaik ane bisa melakukan banyak hal yang bisa ane lakukan selagi masih hidup. Ane ingin keliling dunia belajar tentang kuliner baru lalu mencobanya dengan versi halal. Ane ingin jadi relawan yang bergerak di bidang sosial khususnya anak-anak. Ane ingin melakukan lebih banyak sedekah dari sebelumnya. Masih banyak rencana yang ingin ane lakukan dan pertama-tama harus selesaikan semua hal yang masih ane kerjakan sekarang.

Iklan

Bedanya Film Horor Era Suzzanna dan Kekinian Bagian Kedua

Masih melanjutkan tulisan ane sebelumnya yang terbatas oleh batasan kata. Mulanya ane berniat untuk menuliskan poin-poinnya saja. Ternyata semakin banyak ane nonton film horor lawas dan modern, semakin banyak pula ane mengetahui perbedaan dari keduanya lebih detil. Jadilah tulisan yang seharusnya pendek malah bertambah panjang seiring dengan hal menarik lain yang ane temukan.

NB:

Ane bukanlah kritikus film. Ane cuman penonton biasa yang miris dengan keadaan film di Indonesia yang belum bisa menjadi raja di negeri sendiri secara penuh seperti halnya India dengan film Bollywood-nya. Jadi perbandingan yang ane buat itu berdasarkan hal yang ane lihat secara langsung dalam film ditambah referensi pendukung.

Baku tapi Tidak Kaku

Penggunaan ragam bahasa yang baik menunjukkan kelas. Contohnya jelas terlihat dalam bahasa Sunda dengan undak usuk basa dan bahasa Jawa dengan krama-nya. Dengan kita melihat bahasa yang digunakan seseorang, kita bisa tahu kelas dari orang tersebut. Kita bisa melihat kelas dengan jelas dari film-film lawas. Tidak peduli tokoh yang diperankan itu orang kota yang terpelajar ataupun penduduk desa pedalaman, bahasa yang digunakan pun tetap sama. Secara tersirat bisa dilihat bahwa para sineas di masa lalu adalah kelompok yang terpelajar.

Hal yang menarik dari film Indonesia lawas adalah ragam bahasanya. Kata-kata seperti “aku”,”saya”, “kamu”, dan “Anda” masih mudah untuk ditemui tidak peduli genre filmnya. Memang ada film yang menggunakan kata-kata tidak baku dalam bahasa prokem seperti film Warkop.

Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Itulah yang sepakat didengungkan para pemuda dalam Sumpah Pemuda. Bahasa Indonesia yang digunakan pada masa itu masih terbilang murni. Memang ada kata serapan namun sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia dengan arti yang mudah dipahami masyarakat akar rumput. Tidak seperti sekarang yang sudah campur-campur tidak jelas hingga merusak tata bahasa seperti yang dilakukan kids zaman now. Ragam bahasa yang digunakan pada film lawas biasanya ragam bahasa baku dan ragam bahasa santai. Bukan berarti menggunakan ragam bahasa baku tidak bisa menceritakan konflik utama secara gamblang. Pemilihan bahasa yang tepat akan menghasilkan efek yang tepat. Contohnya dalam perihal mengumpat.

Kata-Kata Kasar yang Bebas Berkeliaran

Mulai dari bagian ini, akan banyak muncul kata-kata kasar.

Film horor lawas memang terkenal dengan umpatan mereka yang unik. Permainan katanya banyak, menggunakan bahasa baku, sering diiringi sumpah serapah, gestur tubuh tokoh yang meyakinkan, dan pastinya banyak disensor ketika ditayangkan ulang di televisi. Satu hal yang membuat ane bingung dari film horor lawas adalah “anjing”. Ane belum pernah melihat satu adegan yang secara eksplisit menggunakan kata tersebut untuk mengumpat. Sementara kata-kata yang lain bebas berkeliaran dari mulut tokohnya. Contohnya seperti ini.

“Dasar kau iblis! Jahanam!”

“Bedebah! Terkutuk kau!”

“Dasar lelaki bangsat! Biadab!”

“Brengsek. Keparat itu kembali berulah lagi.”

Bandingkan dengan umpatan zaman sekarang.

“Bego lu!”

“Babi lu tai!”

“Emang dasarnya perek ya tetep aja perek!” (baca: perek = PSK)

Manakah kalimat yang lebih baik dalam masalah mengumpat. Secara pribadi ane lebih memilih cara mengumpat pada film horor lawas. Untuk keseharian sebaiknya tidak dengan keduanya.

Judul yang Sederhana

Apa yang pertama kali dilihat oleh kita sebelum menonton film? Ada yang melihat dari tokoh utamanya. Ada yang melihat dari sutradaranya. Ada yang melihat dari genrenya. Ada yang melihat dari cerita sebelumnya jika film itu dirilis sebagai serial seperti Star Wars. Ada yang melihat dari sinopsisnya. Ada yang melihat dari iklan dan trailer film tersebut. Bagi orang awam, melihat judulnya pun bisa membuat tertarik.

Ane pernah baca dari modul kepenulisan kalau judul yang baik itu secara tidak langsung menggambarkan isi dari konten yang disajikan. Tidak berbeda jauh dengan judul skripsi. Judul pun harus dibuat dengan menarik. Agar orang penasaran lalu tertarik dengan konten yang kita buat. Sayangnya film horor Indonesia modern lebih senang membuat judul film sensasional seperti halnya fenomena click bait di internet demi meningkatkan pengunjung halaman situs. Sayangnya bungkus kerap menipu. Meminjam bahasa dari komunitas gamer di internet, ibaratkan roti isi mahal yang terlihat lezat nyatanya dibuat dengan selai dari lumpur.

Bandingkan kedua judul dari film horor ini. Manakah yang lebih baik?

A. Pacar Kesurupan Mantan

B. Teror Asmara sang Mantan Pacar

Pesan Moral di Balik Film Horor

Ini adalah hal yang sangat aneh dan belum pernah ane lihat dari film horor manapun. Kebanyakan film horor yang ane tonton itu murni memancing ketegangan semata. Ada film horor yang bagus dalam pesan moral namun jumlahnya hitungan jari. Kebanyakan orang fokus pada bagian seramnya hingga lupa ada pesan moral.

Ane jadi ingat salah satu film horor Thailand yang ceritanya tentang kisah horor di sekolah cowok. Ane lupa judulnya namun pesan moral yang tergambar jelas dari film itu adalah jangan coba-coba buat bunuh diri. Soalnya konflik dari film horor itu bermula saat salah satu hantu yang berada di gedung sekolah tua itu meninggal karena bunuh diri.

Bahkan ane bingung pas nonton film Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986). Plot dari film horor ini sebenarnya mirip kayak sinetron: gara-gara wajahnya mirip eh malah jadi sasaran orang jahat. Konflik dari film ini adalah tentang Nyi Blorong dan seorang tamak yang selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Salah satunya adalah pengen cepat kaya dengan cara pesugihan. Hal yang menarik di sini bukanlah aksi Suzzanna yang nyentrik dalam menumpas semua lawan-lawannya. Kalimat ini menjadi hal yang menarik.

“Janganlah kau mencari kekayaan dengan melakukan perbuatan syirik. Rezeki yang halal jauh lebih berkah.”

Singkatnya, kalimat itu adalah gambaran garis besar dari ceritanya. Ada yang memperhatikan hal remeh semacam ini? Mungkin sudah lupa oleh pesona Suzzanna sebagai Ratu Horor.

Begitu pula dengan film Pengabdi Setan (1980). Apa pesan yang ingin disampaikan dari film ini? Dekatkan diri pada Allah agar tidak terjerumus oleh perbuatan setan. Garis besar konflik dari film ini adalah Darminah mencari manusia yang lupa akan ajaran agama untuk ia jadikan teman di neraka.

Hal Remeh dan Penting

Pesan moral adalah salah satu dari hal kecil yang diremehkan dalam film horor Indonesia. Masih banyak hal remeh lainnya yang ditemukan pada film horor lawas namun lupa diperhatikan bahkan oleh film horor zaman sekarang.

Contoh yang menarik adalah penggunaan bahasa Belanda. Misalnya cerita itu temanya tentang zaman penjajahan, pastilah ada dialog di antara kompeni yang ngomong pake bahasa Belanda. Begitupun dalam film horor. Jika temanya berada di Jawa, entah itu jampi-jampi si dukun atau dialog penduduknya pasti ada istilah-istilah penting dalam bahasa Jawa.

Namanya juga manusia pasti gak luput dari kesalahan. Jika tadi ane bahas kelebihan film horor lawas dalam bidang atensi terhadap detail, sekarang kelemahannya. Contoh film paling kelihatan kesalahannya adalah film Santet (1988) yang dibintangi oleh Suzzanna. Ceritanya berlangsung di malam hari tapi cuplikan adegannya diambil pada siang hari. Tidak hanya sekali terlihat dalam film, tetapi berulang kali.

Pola Keseluruhan Cerita

Film horor pasti memiliki benang merah yang menghubungkan ceritanya. Judul boleh berbeda tapi pola bisa jadi sama. Seperti halnya yang tampak jelas pada film horor lawas era Suzzanna dengan film horor modern.

Film horor era Suzzanna memiliki pola seperti ini. Tokoh utama seorang protagonis yang menjadi korban kejahatan hingga pembunuhan. Mulai dari kejahatan akibat ilmu hitam, fitnah, konspirasi dengan latar belakang tertentu seperti masalah sosial, hingga pelecehan seksual. Setelah itu tokoh utama mendapat bantuan. Entah itu dibantu oleh dukun, petapa, ataupun jadi arwah penasaran. Tokoh tersebut mulai menjalani kehidupan barunya. Ada beberapa bagian menjadi comic relief seperti halnya kemunculan Bokir dalam film Suzzanna. Pada bagian akhir cerita, tokoh utama melakukan balas dendam pada setiap pelaku kejahatan lalu disadarkan oleh keluarga atau pemuka agama. Permintaan terakhir tokoh utama hanya menyerahkan penjahat yang tersisa pada polisi atau meminta jasadnya dikebumikan dengan layak.

Film horor era kekinian memiliki pola pada cerita. Ini pola film horor yang lurus dan gak mengandalkan fanservice semata. Awal cerita dimulai dengan kehidupan bahagia seseorang yang berubah drastis seiring dengan keberadaan makhluk halus yang mengganggu mereka. Pola film horor sekarang lebih cenderung pada horor misteri yang membuat tokoh utamanya menjadi penguak misteri dari kejadian horor yang selama ini ia dan kerabatnya alami. Setiap adegan dalam filmnya menyisakan jejak petunjuk seperti halnya pada trilogi Kuntilanak (2006). Ada juga yang diiringi drama seperti halnya pada Hantu Aborsi (2008).

Setiap masa memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri dalam karyanya. Film horor lawas era Suzzanna memiliki kelebihan dalam atmosfer horor dan akting pemain namun lemah dalam setting. Hal itu diakibatkan minimnya teknologi yang ada untuk membuat efek horor di masa itu. Film horor era kekinian memiliki kelebihan dalam suasana horor namun lemah dalam cerita. Hal itu dikarenakan fanservice yang tidak perlu dan suara latar yang berlebihan justru menodai keseraman dari film tersebut.

Jadi masih tertarik untuk nonton film horor? Kalo ane sih mending ngumpet aja daripada nonton.

Kalo Ada di Luar Negeri pun, Carinya Agak Susah

Tumben ane nulis bukan soal jalan-jalan berburu kuliner. Kali ini ane bakal nulis hal-hal paling sok tahu tentang bahan masakan Indonesia yang kalo ada di supermarket khusus bahan makanan Asia pun susah nyarinya. Jujur aja, ane belum pernah ke luar negeri. Buat yang pernah nemu bahan-bahan dalam tulisan ini tolong klarifikasi di komentar ya.

Ane sering bingung kalo lihat resep masakan dari acara masak luar negeri. Entah itu yang ane tonton dari YouTube ato dari TV kabel. Pertanyaan yang muncul tiap kali nonton: beli bahan itu di mana? Kalo di Jakarta sih masih gampang. Banyak supermarket besar yang jual bahan makanan impor. Buat yang punya bisnis kuliner macam ane sih banyak supplier dengan segudang bahan makanan impor kualitas baik (dan tentunya halal) di sana. Masalahnya ane tinggal di Bandung. Bahan makanan impor bertebaran itu cuman di supermarket Setiabudhi, Rumah Buah, supermarket deket Rumah Buah Sukajadi (dulu sering belanja ke sana cuman ane lupa nama supermarketnya), supermarket khusus bahan makanan Korea di daerah Sukajadi, sama di Riau Junction. Buat yang muslim kudu hati-hati aja banyak bahan makanan syubhat sama haram kalo gak jeli lihat labelnya. Itu sebabnya ane saranin belajar masak dan ilmu agama sekaligus biar bisa icip masakan asing dan tetep halal.

Pertanyaannya ane balik sekarang: beli bahan makanan Indonesia kalo di luar negeri itu di mana ya? Jawabannya di supermarket khusus bahan makanan Asia. Semua ada di sana mulai dari garam masala sampe bumbu lapis legit. Masalahnya kalo bahan-bahan yang bakal ane sebutin *tentunya dengan sotoy* dalam tulisan ini bakal ketemu di luar negeri gak ya?

Berhubung ane nulisnya dengan sotoy, ane cuman mengandalkan informasi dari internet buat cari tahu bahan-bahan masakan Indonesia yang bisa jadi mustahil ditemukan di luar negeri biar nyari di supermarket khusus bahan makanan Asia.

Peuyeum

Kalo nonton TV kabel, ane paling sering nonton AXN sama Asian Food Channel. Soalnya dulu pas zaman SMK, di rumah berlangganan TelkomVision (sekarang jadi Transvision, bisa sepaket ato pisah dari Indihome) yang paket murah. Kedua saluran itu emang ada di paket murah. Udah gitu saluran yang acaranya rame cuman sedikit. Berhubung ane doyan masak, ane sering praktekin langsung resepnya biarpun saat itu belum ada takarir bahasa Indonesia kayak sekarang. Nu lieur mah nonton Dosanko Cooking pas zaman SMK. Rada leueung mun lalajo acara masak nu nganggo basa Inggris mah, ieu mah basa Jepang taya subtitle-na! Ane cuman weeaboo insyaf yang cuman tahu kosa kata slang dalam anime!

Jadi inget pas SMK nyesek gak bisa ikut kelas pastry Anna Olson di Jakarta gara-gara bokek T.T

Peuyeum sebenarnya tape dalam bahasa Sunda. Orang-orang yang tinggal di luar kawasan Priangan menganggap peuyeum itu cuman tape singkong yang banyak dijual di toko oleh-oleh pinggir jalan. Padahal mah peuyeum téh loba, aya peuyeum sampeu, peuyeum ketan, sareng peuyeumpuan. Pertanyaannya adalah *jeng jeng* gimana cara buat resepnya chef Marinka pas kebetulan lagi di luar negeri terus nonton Asian Food Channel? Mun peuyeumpuan mah dimana-mana gé loba. *gubrak*

Sebenarnya di luar negeri itu dijual juga raginya. Bisa cari di toko khusus yang jual bahan kue. Masalahnya ya jieun wé olangan. Gak ada yang dijual di pinggir jalan kayak di sepanjang jalur Padalarang sama Kuningan nu pabalatak ku tukang peuyeum.

Leunca dan Bahan Lalap Lainnya

Berhubung ane ini orang Bandung dengan lidah rasa masakan Sunda (padahal ane itu keturunan Jawa yang gede di Bandung), jadilah hal yang pertama diomongin itu hal-hal yang gak jauh dari keseharian ane. Yup, ane memang ngomongin soal masakan Sunda. Urusan masakan Indonesia secara umum sih ane paling suka masakan Banten (Babeh lama tinggal di Merak dan masakan Banten itu banyak mengandung seafood aka boga bahari), masakan Padang (karena ane emang penyuka pedas), sama masakan Sunda.

Kebiasaan makan masakan Sunda dari kecil bikin lidah ane sensitif sama rasa. Ane lebih suka masakan dengan rasa yang ringan dan seimbang. Makanya ada yang bilang masakan daerah asal bisa jadi lebih lezat dan populer setelah pedagangnya pindah ke Bandung juga gara-gara karakteristik masakan Sunda yang seperti itu. Contohnya bakso Solo yang di Solonya sendiri biasa aja tapi pas dijual di Bandung jadi luar biasa dan lebih enak dari bakso Solo yang dijual di Solo (bicara soal ini ane serius, rumah mbah emang di Solo dan setiap mudik lebaran pasti ujung-ujungnya makan bakso).

Ngomongin masakan Sunda gak bisa lepas dari yang namanya lalap. Beraneka sayuran segar yang selalu nongkrong di rumah makan Sunda apapun restorannya. Cara makan orang Sunda itu sebelas dua belas sama orang Korea yang gak pernah lepas dari daun-daunan segar. Ane sering baca di Perpustakaan Daerah buat belajar masak. Ane pernah nemu sebuah tua berbahasa Sunda di sana. Kalo gak salah buku itu merupakan sebuah penelitian tentang lalap dan budaya makan orang Sunda yang ditulis oleh seorang dosen Unpad. Ane kaget pas baca buku itu. Ternyata lalapan itu gak selalu harus bonténg, térong, kemangi, leunca, salada bokor, dan kol yang biasa nongkrong di rumah warga ato rumah makan masakan Sunda. Buku itu menjelaskan kebiasaan orang Sunda yang tukang jarambah turut mempengaruhi aneka jenis lalap yang mereka makan. Ada yang menambahkan tunas pakis, rebung, génjér, bahkan satu bahan yang gak ane duga, antanan, sebagai bahan lalapan. Intina mah selama tanamannya bisa dimakan ya bisa jadi lalap.

antanan
sumber: Wikipedia

biasanya dipake buat obat, baru tahu ini bisa jadi lalap

Masalahnya adalah cari lalap. Salada bokor alias selada yang biasa dipake buat salad itu gampang ditemuin. Bonténg aka mentimun masih gampang juga. Gimana dengan cari leunca, térong lalap, sama bahan lalap lain yang menurut buku berbahasa Sunda itu bisa mencapai 100 jenis sayuran dan tanaman perdu? *woot?*

Petai

Sebenarnya sih petai alias peteuy alias pete itu masih termasuk bahan lalap. Cuman ane pisahin soalnya bahas soal bahan yang satu ini aja bisa panjang.

Orang-orang gak suka makan petai. Termasuk ane juga. Pernah sih kecelakaan sekali dua kali makan petai. Ada banyak jenis petai yang dikenal oleh masyarakat. Petai biasa dengan kulitnya yang panjang. Kadang dimakan mentah kadang digoreng tergantung selera. Petai China alias lamtoro yang kecil-kecil. Petai jenis ini biasanya ditemukan di tanah kosong yang sifatnya dapat menyuburkan tanah. Ada juga peteuy selong. Kalo jenis petai yang terakhir ini ane dicekokin sama Emak. Ane pikir petai ini baunya gak enak dan rasanya pahit *ya berdasarkan pengalaman kecelakaan makan petai selama ini*. Ternyata rasanya gak kayak petai. Malah lebih mirip ke kacang koro aka roay setelah dimasak. Biasanya Emak ane masak ini sebagai campuran urap ato ikan asin.

Petai masih gampang dicari di kawasan Asia Tenggara. Soalnya itu memang habitat asalnya. Misalnya kita lagi ada di Malaysia ato Singapura, lagi kangen makan petai bisa mampir ke pasar terdekat. Gimana kalo lagi ada di negara lain di luar Asia Tenggara terus kebelet pengen makan petai? *nah lho* Jangan harap bisa menemukan si pembuat mulut dan kentut bau ini dengan mudah di pasar apalagi supermarket.

Jengkol

Bicara soal bau, tidak lengkap rasanya kalo ngomongin si petai tanpa jengkol. Anehnya, penggemar dari dua biang kerok bikin mulut bau ini sering berdebat yang mana yang lebih bikin bau. *eh?* Penggemar petai kelas kakap selalu mengatakan makan jengkol lebih bau. Anehnya penggemar jengkol kelas kakap mengatakan makan petai lebih bau. Berasa nostalgia #TeamChitoge dan #TeamOnodera versi petai dan jengkol.

Bicara soal jengkol, orang Padang dikenal sebagai ahli masak jengkol. Ane pernah nonton acara dokumenter tentang masakan Padang, ternyata di masa lalu jengkol dikenal sebagai makanan para bangsawan di tanah Minang sana. Jengkol sama mahalnya seperti seiris daging di masa itu. Itulah sebabnya untuk menyiasati hal itu, orang-orang Minang sering mengubur jengkol di bawah tanah. Uniknya hal itulah yang membuat rasa jengkol lebih enak di mata para anggota #TeamJengkol.

Ane memang gak suka jengkol tapi lucunya paling demen kerupuk jengkol. Gimana kalo lagi ada di luar negeri terus kebelet pengen makan jengkol? Seperti halnya petai, makanan yang satu ini masih gampang ditemui di sekitar Asia Tenggara dan China yang merupakan habitat asalnya. Di luar itu? Rasanya sulit menemukan makanan bau nyentrik yang satu ini. Gak cuman nyarinya yang susah, masaknya juga susah. Adanya malah kena semprit tetangga pas masak jengkol di luar negeri :v

Kerupuk

Orang-orang sering nanya makanan favorit ane. Makanan favorit ane sebenarnya sederhana. Buat masakan Indonesia ane paling demen kepiting saus Padang, selat Solo, soto ala Jawa Timur (soalnya ada koya sama jeruk nipis yang nendang), nasi kuning limited edition pas zaman SMK (saking enaknya sering gak kebagian mulu, entah masih dagang ato gak di sana), tumis waluh, ikan asin, sama seblak. Buat masakan luar negeri sih ane demen makan sushi, masakan China yang halal, risotto (ane sering bikin di rumah kalo gak ada makanan sama sekali), kari, taco, nachos, sama tteokbokki. Apapun jenis makanannya, rasanya kurang greget tanpa kerupuk.

Kerupuk itu makanan asli Indonesia. Ada beragam jenis mulai dari kerupuk ikan Palembang dengan ikan yang nendang sampe kerupuk jengkol yang anehnya gak ada baunya sama sekali. Ada banyak cara untuk menikmati kerupuk. Ada yang dihancurkan seperti koya yang biasa nongkrong di soto ala Jawa Timur dan pelengkap kerupuk hancur di soto ala Cilacap (sumfeh ini soto manis bingit, biasanya soto itu kuahnya gurih dengan bumbu kunyit yang kental). Ada juga yang direbus dulu baru dimasak seperti cipuk dan seblak. Orang lain agak sulit bertahan hidup dengan makanan seadanya pas tanggal tua. Ane bisa bertahan walau hanya makan nasi, kerupuk, dan garam. Kadang ane bosen makan nasi pake kerupuk gara-gara sering ngelakuin makan nasi, kerupuk, sama garam pas masih kuliah. Kadang pula ane kepengen banget makan kerupuk buat dijadiin seblak.

Masalahnya, gimana cari kerupuk buat ane jadiin seblak di luar negeri? Setiap kerupuk yang digunakan buat seblak memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan mempengaruhi rasa seblak. Ane bisa tahu jenis kerupuk yang ada dalam seblak dengan sekali makan. Udah gitu ane emang doyan banget makan seblak. Sekalinya bikin seblak kerupuk pasti kerupuknya porsi banyak dengan cikur yang nendang.

Ternyata cuman ngomongin makanan dikit aja bisa tulisannya sepanjang ini. Padahal masih banyak bahan makanan yang lumrah ditemui di Indonesia namun kecil kemungkinan bisa ditemukan di supermarket bahan makanan Asia sekalipun. Ane juga belum riset literatur jadi selamat nyari bahan!

Jadi, Siapa yang Jahat? Penulisnya yang Pandai Meracik Cerita

Belakangan ini ane sering bingung kalo nonton soal tebak-tebak siapa penjahat di dalam cerita. Semua bermula gara-gara kepencet pindahin TV pas setel TV kabel. Kebetulan saat itu lagi tayang A Monster Calls. Film adaptasi novel yang menceritakan tentang seorang anak yang punya ibu penderita kanker stadium akut. Dia sering didatangi sosok monster setiap jam 12.07 malam yang sering muncul dengan cerita dan nagih cerita versi anak itu. Monsternya beda tipis kayak Groot di Guardians of The Galaxy. Bedanya cuman gak ngomong satu kalimat diulang-ulang kayak Groot. Itu adalah film yang bikin kepala ane muter pas nonton. Jauh lebih muter daripada tebak-tebak penjahat pas nonton film detektif atau serial TV barat bertema dunia kriminal.

Ane gak terlalu suka film yang temanya terlalu serius apalagi atmosfernya terlalu suram seperti tragedi. Baru kali ini ane mikir pas nonton film gara-gara masalah penokohan dalam cerita. Tema utama yang diusung dalam A Monster Calls mengenai karakter manusia, hitam atau putih, baik atau jahat, dan pergulatan si anak itu dalam menghadapi masalah pribadinya yang berat untuk ukuran anak-anak.

Jujur dalam masalah menulis, ane memang kesulitan dalam penokohan terutama karakter antagonis. Lebih gampang bikin karakter antihero, psikopat, sama comic relief daripada karakter antagonis apalagi protagonis rasa sinetron. Soalnya ketiga karakter yang ane sebutkan tadi itu karakter yang tidak terduga dan asyik dalam proses mengembangkan karakternya. A Monster Calls memiliki kekuatan dalam karakternya. Hal yang bikin ane bingung terus otak ane muter pas si “Groot KW super” ceritain cerita bagian pertama yang berkisah tentang sosok ratu jahat dan pangeran baik. Akhir cerita itu, mending nonton aja sendiri ato cari bukunya di toko buku terdekat. Ane males spoiler.

Kebanyakan penulis cenderung mengembangkan plot daripada karakter. Mereka pikir plot dapat membuat pembaca tertarik terus bilang “wow” sambil salto berulang kali macam penampilan DM-X Comvalenoz di Asia Got Talent.

^ Aksi panggungnya keren dan dijamin bikin ngakak. Pantes lah masuk grand final juga.

Ane baru sadar soal karakter itu dari tulisannya Jonru. Jauh sebelum beliau aktif di politik dan sentil politisi sana-sini, beliau adalah penulis yang getol nulis modul untuk membimbing penulis pemula. Sayang kelas menulis daringnya udah ditutup padahal modulnya bagus. Ane ingat salah satu pertanyaan yang diutarakan dalam modul itu.

“Apa yang menarik dari Laskar Pelangi dalam segi plot?”

Jujur aja ane ngantuk pas baca Laskar Pelangi. Segi plot gak menarik. Tapi kenapa Laskar Pelangi sukses besar dan bisa memajukan sektor pariwisata Bangka Belitung? Laskar Pelangi bercerita seorang guru yang mati-matian cari murid biar sekolahnya gak digusur lalu mengajari muridnya itu dengan sepenuh hati dan keseharian para muridnya dengan karakter berbeda-beda. Kekuatannya berada dari cerita yang berdasarkan kisah nyata, penggambaran alam Belitung yang indah dengan semua hal yang khas di sana, dan cara penulis menggambarkan karakternya.

Seharusnya cerita yang bagus itu tidak melulu mengandalkan plot, tapi juga piawai memainkan karakter, latar pendukung cerita, tema, pesan moral, dan eksekusinya dalam cerita.

Bicara soal karakter, ane selama ini masih salah. Ane baru tahu di buku On Writing-nya Stephen King kalo tokoh protagonis itu gak selalu baik. Bisa saja tokoh protagonisnya seorang penjahat seperti salah satu karakter dari cerita Stephen King yang ia contohkan dalam bukunya. Perbedaan karakter protagonis dan antagonis itu adalah sudut pandang dan aksi yang mereka lakukan. Hal yang terlihat jelas dari salah satu pesan yang ingin disampaikan dalam A Monster Calls. Sampai segitu ane paham.

Gak cuman A Monster Calls yang bikin otak ane muter saking bingungnya dengan karakter dalam cerita, ane juga bingung pas nonton D.Gray-man. Siapa yang sebenarnya penjahat dan siapa yang sebenarnya galakon-nya? Siapa yang benar dan siapa yang salah? Antagonis dalam cerita adalah Earl beserta keluarga Noah. Protagonisnya adalah para exorcist dan pihak Gereja. Anehnya, di kalangan Noah ada yang baik sementara pihak exorcist ada yang jahat. Seperti halnya Tyki dan Road yang kerap menolong Allen Walker juga tokoh dalam flashback mengenai kehidupan Yu Kanda dan Alma Karma yang berkaitan dengan proyek Second Exorcist. Begitu pula dengan film restorasi Malaikat Bayangan yang diperankan oleh Barry Prima. Justru cerita itu berfokus pada seorang kompeni yang harus melawan pendekar pribumi dengan juragan Tionghoa. Padahal kenyataannya dalam sejarah, pihak kompeni itu antagonis sementara pribumi protagonis.

Bagaimana dengan penggambaran tokohnya agar berkesan di hati pembaca? Itu yang sulit. Apalagi bikin karakter antagonis dan protagonis yang disukai pembaca.

Antagonis tidak selalu hitam dan protagonis tidak selalu putih. Salah satu yang dijelaskan dalam A Monster Calls. Contoh yang terkenal adalah Darth Vader dalam Star Wars. Siapa yang gak kenal tokoh satu ini? Sering disebut dalam banyak cerita, gak pernah absen dari acara cosplay, banyak dijadikan parodi, dan jadi bahan meme. Begitu pula dengan Severus Snape yang terkenal nyebelinnya dalam Harry Potter. Siapa yang gak menyangka kalo dia … itu spoiler Harry Potter yang terakhir. Bagaimana dengan Uchiha Itachi dalam Naruto dan Subaru Natsuki yang watir dalam Re:Zero? Hal itu membuktikan soal karakter bisa jadi hal yang menarik selama penulis pandai meraciknya.

Waktu itu ane lagi riset tentang penulisan cerita bertema kriminal, detektif, dan horor. Itu semuanya di luar zona nyaman ane yang sering menulis cerita bergenre drama, slice of life, dan romcom. Di tengah ane membaca referensi mengenai penulisan cerita bertema kriminal, ane menemukan hal menarik tentang cara membentuk karakter. Entah itu antagonis atau protagonis agar berkesan di hati pembaca. Penulis tidak perlu menaburkan berlian di sekitar karakter atau menghiasnya dengan pakaian mode terkini. Penulis hanya butuh memasukkan empati dan perasaan dalam tokoh yang dibuatnya.

Ternyata desain karakter itu gak mudah. Seperti halnya memahami manusia dengan karakter kompleks. Cerita yang baik adalah cerita yang disajikan dengan meyakinkan di mata pembaca. Untuk sampai ke tahap itu, ane masih butuh banyak belajar.

Kebelet Pipis, Kebelet Pipis Papa

Jangan baca judulnya sambil dinyanyiin. Kalo dinyanyiin, ketauan deh ente seangkatan sama ane. Itu sebenarnya penggalan lirik lagunya Ciccio duet sama Papa T. Bob. Sampe sekarang ane masih gak tahu judulnya dan cuman inget lirik itu yang kocak.

Bicara soal kebelet pipis, ini kejadian tadi. Cuman ya bukan pipis sih. Ane kebelet “bayar setoran” alias boker. Mohon maaf, mulai dari sini bakal bicarain yang jorok-jorok.

Ane ditinggal sendiri di rumah. Berasa Kevin McCallister yang “kecelakaan” ditinggal sendiri di rumah terlebih saat musim hujan kayak gini. Alasannya sih: fobia. Semua orang terdekat ane itu tahu ane mengidap zoofobia terlebih pada satu hewan yang tidak ane sebutkan namanya. Satu hal yang jelas sih bukan kecoa terbang kayak kebanyakan anak cowok (dan anehnya, setiap cowok yang ane temuin kok pada sepakat jawab itu semua ya?). Toh pas zaman SMK, ane suka ngerjain anak-anak cewek di kelas pake kecoa. Soalnya 11 dari 12 cewek penghuni kelas K, kelas ane yang tergolong harem di SMK dominasi cowok dan selama 4 tahun bikin ane bosen belajar di SMK, itu takut sama kecoa.

Ane jadi inget cerita pas waktu latihan pencak silat dulu. Dulu ane ikut pencak silat pas SMK. Cuman karena kesibukan di ekskul (plus sering lupa jadwal latihannya), ane gak aktif lagi. Nah, yang ikut latihan itu cewek semua. Suatu hari pas di tengah latihan yang serius.

Temen ane: Kecoa! (langsung pada histeris terus latihan berhenti gara-gara kecoa)

Gak ada satupun temen ane yang berani singkirin kecoa. Jadilah ane yang kena sebagai tumbalnya. Mengingat hal itu, ane jailin balik aja.

Ane: Mau kenalan? *sambil ngider bawa kecoa di tangan*

Anak-anak cewek pun pada ngibrit histeris. Akhirnya latihan pun bubar gara-gara seekor kecoa.

Parahnya lagi fobia ane diperburuk dengan kondisi rumah ane yang sekarang. Sudahlah gak usah di inget. Ini udah malem malah tambah bikin ane gak bisa tidur.

Kejadiannya baru aja tadi. Di tengah malam ane bangun dan kebelet “bayar setoran”, boker, defekasi, atau apalah itu. Udah kebelet banget dan bikin ane cemas. Takutnya pas kentut malah jadi busiat gayot (asli sumpah ane kagak nemu padanan kata ini dalam bahasa Indonesia, terjemahan kelewat bebas dari bahasa Sundanya sih sebenarnya kentut yang diiringi dengan “harta karun fresh from the oven” di celana yang diakibatkan usus besar dan rektum kepenuhan oleh angin juga “harta karun”). Ditambah lagi ane kebelet pipis juga jadi pergilah ane ke WC. Eh pas udah “persiapan bayar setoran”, singkat kata … asem. Ane paling gak suka pas lagi enak-enak bayar setoran di kamar mandi ada hewan nongkrong di sana. Rasanya itu ya anggap aja kayak lagi mandi terus diintip sama cowok. Terlebih lagi adalah hewan yang bikin fobia ane kumat semenjak pindah rumah. Kata pamungkas untuk hari ini … kampret.

Kampret dah. Ane tambah gak bisa tidur gara-gara nahan “setoran”. Pipis sih masih mending bisa ditahan dengan tidur.

 

Lebih Susah Cari Buku daripada Cari Ide Buat Nulis

Ane jeda nulis gara-gara kemaren sakit parah yang bikin bingung. Bukan tipes ato maag yang kadang kumat di saat gak tepat. Mendadak pandangan ane berubah jadi kuning semua ditambah pas tidur tiap dua jam sekali bangun saking gak enak badannya. Cat tembok di rumah ane yang warnanya ungu mendadak jadi putih. Tahu sendiri lah kalo dalam teori warna, warna kuning dan ungu itu saling meniadakan. Makanya cat tembok ungu di mata ane mendadak putih pas sakit. Ane panik terus cari tahu gejala penyakitnya di internet. Soalnya itu salah satu gejala liver. Pas diperiksa ke dokter, alhamdulillah bukan liver.

Cara ane biar bisa tidur saat itu dengan nulis. Ane malah kepikiran satu ide cerita baru yang lagi dalam proses pengerjaan. Moga aja cepet kelar terus bisa setor ke editor. Terima gak diterima pun toh gak masalah dan yang penting itu kelar. Ane gak jadi bikin webtoon gara-gara masalah teknis. Belakangan ini ane gak bisa gambar gara-gara tangan ane sering gemeteran pas pegang pensil. Berhubung belakangan ini tontonannya gak jauh dari tema horor, jadilah nulis cerita genre horor. Idenya itu gara-gara sering nonton film horor lawas tengah malam yang diputer di ANTV (seringnya sih filmnya Suzzanna nongol pas malem), Supernatural season terbaru yang masih on going, nonton D.Gray-man di TV kabel, ngikutin webtoon Born from Death, nonton drakor Let’s Fight Ghost (ane nonton gara-gara Taecyeon yang jadi pemeran utamanya), ditambah ane seneng nonton serial bergenre polisi/detektif, dan belakangan ini doyan nonton sinetron kolosal/film silat lawas. Kayak nonton Si Buta dari Gua Hantu, Mandala dari Sungai Ular, Walet Merah, Jampang, sampai Jaka Sembung mawa golok, teu nyambung borokokok! *kalimat pantunnya aslinya kasar cuman ane sensor*.

Padahal ane itu paling gak suka sama film horor. Ane itu penakut. Biar nonton keroyokan bareng temen ato si Rifnun pas siang-siang pun tetep aja takut. Ane gak berani nonton The Exorcism of Emily Rose, Poltergeist, sama The Exorcist sendiri. Ketiganya ane tonton dengan adegan loncat-loncat saking takutnya. Beda cerita kalo cerita horornya kayak kebanyakan film Suzzanna, film bertema jiangshi aka vampir Cina, dan Scary Movie yang memang horor komedi.

Cerita yang ane tulis pas lagi sakit itu singkatnya tentang occult detective. Meskipun ide awalnya dari dukun, paranormal, exorcist, sama Undead yang jadi fokus utama Born from Death. Latarnya di alternate universe Indonesia jadi pasti bakal ketemu babi ngepet, santet, dan tentunya kebiasaan narsis orang Indonesia di internet. Ceritanya tentang seorang cowok yang bisa melihat masa lalu seseorang, entah itu dari kontak fisik atau gambaran sekilas yang ia lihat gitu aja kayak orang liat ramalan masa depan. Tokoh utamanya itu sama penakutnya kayak ane. Dia sering dikerjain sobatnya yang anak indigo sampe ngibrit ketakutan. Dia juga penyuka film tapi paling gak suka nonton film horor.

Singkatnya sih ia gunakan kemampuan itu untuk memecahkan kasus-kasus misteri di sekitarnya dengan bantuan temennya seorang cewek anak indigo yang tengil sama cowok yang penyakit asmanya gampang kumat tiap kali kecapean. Kadang ia dibantu dengan seorang cewek anggota satuan polisi khusus yang jenius tapi sering bermasalah dalam mengontrol emosi dan kekuatannya.

Konsep ceritanya ini persilangan antara horor, misteri, drama, supranatural, dan beberapa elemen dari cerita silat asli Indonesia. Jadi pasti muncul hal-hal tentang pendekar, tenaga dalam, sampe ilmu kanuragan yang sering muncul di cerita silat. Mulanya ane bikin cerita ini biar ane bisa tidur pas lagi sakit. Soalnya ane sering bangun beberapa jam sekali dalam kondisi meriang ditambah kepala ane yang pengar banget berasa ditancepin banyak paku di tengkuk, ubun-ubun, sama mata. Tahunya malah keterusan nulis sampe sekarang.

table-of-content-word
sumber: koleksi pribadi

ya setidaknya hasil pelatihan sertifikasi Microsoft Office Specialist ane ada gunanya :d

Bodo amet pake Office lawas. Nulis mah nulis aja gak peduli pake Microsoft Office, LibreOffice, Notepad++, gedit, WordStar, ato vi sekalian biar greget. Itu tampilan dari berkas tulisan mentah yang masih ane buat. Salah satu teknik ane menulis ya pake table of content yang jadi fitur bawaan apapun aplikasi pengolah kata yang kita pakai. Ane sering pake itu buat bikin outline biar mempermudah penulisan. Jadi kalo sekalinya mentok di satu ide, bisa loncat nulis ke ide lain tanpa kehilangan jejak dari tulisan terakhir yang kita buat. Pas ide ngalir lancar pun lebih mudah buat nerusin bagian yang masih gak tuntas, revisi tulisan (tata bahasa, cerita, sinkronisasi karakter, dll.), ato akalin plot hole. Soal caption di bawah tulisan itu emang bener kok. Ane emang pernah ikut sertifikasi Microsoft Office Specialist Word cuman belum ane upgrade ke level selanjutnya (ane lupa apa dan seingat ane sertifikasinya lebih susah) gara-gara waktu itu masih kuliah. Sertifikatnya ada cuman ane males ngelampirin di CV aja. Ane bukan tipe orang narsis jadi ya sante aja.

Buset ngomongin kerjaan ane pas sakit doang udah sepanjang ini? Okelah lanjut sampe kejadian tadi. Sori jadi kepanjangan soalnya udah gatel gak nulis di jurnal.

Sekitar dua minggu bergulat dengan pandangan mata kuning dan bangun setiap dua jam sekali yang bikin kepala pengar, alhamdulillah ane sembuh. Ane cuman menunggu sampe modal turun buat lanjut dagang lagi. Tiba-tiba si Babeh mendadak rempong ketok pintu kamar pas ane lagi enak-enak mager di kamar. Sodara ane yang tinggal di Bali, Lek Sunar, lagi ada di Bandung buat pelatihan. Udah gitu traktir makan di luar. Pas tahu Lek Sunar ngajakin makan di TSM (dulu sih namanya Bandung Supermall aka BSM tapi pas zaman SD diplesetin “Bandung super mahal” gara-gara satu mal isinya toko barang mahal semua), wah kesempatan. Hohoho! Udah lama banget ane gak ke sana khususnya Gramedia yang ada di sana.

Ane pernah nulis sebelumnya soal kebiasaan si Babeh yang doyan anterin ane ke toko buku dari ane kecil. Ane inget buku pertama yang ane beli itu Kata Nabi dalam Hadits terbitan Mizan yang gile susah banget cari buku kayak gitu lagi di pasaran. Itu buku anak-anak yang menjelaskan tentang hadits dengan narasi yang menyenangkan dan anak-anak banget ditambah kualitas kertasnya yang bagus. Kalo gak salah sih ilustratornya bapaknya Ida, temen ane di DKM SMP, yang juga pembuat serial si kucing Mio di Mizan.

Ane gak peduli toko bukunya di mana selama kondisi bukunya bagus dan ane dapet buku yang ane incer. Awas aja kalo dapet buku bajakan. Bisa tidak barokah. Bukan kata ane ye, kata sampul belakang buku Iqro. *gubrak*

Ane senang berburu buku mau itu bagian diskon di Gramedia Merdeka, Togamas, toko buku murah Granada di deket SMK (sayangnya sekarang udah tutup dan jadi klinik kecantikan :w), sampai bersempit-sempit ria cari “harta karun” di Palasari. Pengalaman paling sulit dan berkesan itu cari Midori no Hibi (dan ane harus putar otak buat mengamankan ini dari serangan keponakan ane) sama Angelic Layer. Ane ubrek-ubrek toko buku pun agak susah carinya. Bahkan ane baru bisa dapet buku terakhir Angelic Layer itu pas zaman SMK sementara ane koleksi itu dari zaman kelas VI SD. Itu komik pertama yang ane beli pake uang sendiri dan kagak kena razia Emak ane kayak komik lainnya. Saat temen ane duitnya dipake buat jajan sama nongkrong, ane kumpulin duit buat beli buku di jongko koran yang ada di deket pintu gerbang SD (sayangnya sekarang udah gak ada). Biasanya ane beli buku tentang komputer ato komik di sana. Di saat temen-temen sebaya ane doyan nongkrong di warnet buat main DotA, ane malah baca artikel tentang virus komputer dan perkembangan hardware. Itulah awal mula perkenalan ane dengan masalah komputer rumah dan bisa benerin sendiri.

Zaman emang sudah serba digital namun ane lebih seneng baca buku fisik daripada buku digital. Entah itu baca Al Qur’an sampe buku impor yang membahas spesifik satu hal. Biar ane doyan baca manga scan, tetep aja baca langsung dari bukunya itu rasanya beda. Ane cuman baca manga scan kalo komiknya gak rilis di Indonesia dalam bentuk tankoubon ato kebelet baca kayak pas ngikutin Claymore dulu. Claymore emang terbit bulanan di Jepang sono. Ane baca Claymore gara-gara dicekokin Mamih Aisya pas zaman SMP dan keterusan sampe tamat. Tamatnya itu pas awal masuk kuliah sekitar tahun 2014 dan buku terakhirnya baru nongkrong di Gramedia dari bulan lalu. Moga aja omake yang ada di buku terakhirnya diterjemahin juga, itu salah satu tips bagus buat kepenulisan. Biasanya ane seleksi komik yang buat dikoleksi di rumah itu dari manga scan. Gak cuman buat menghargai pengarangnya aja sih, tapi emang pada dasarnya ane lebih suka baca buku dalam bentuk fisik.

Novel masih gampang dicari. Ane bisa menemukan salah satu buku dari seri Anne of Green Gables lebih gampang daripada nyari salah satu buku dari seri Midori no Hibi. Novel yang bagus sering jadi harta karun di antara tumpukan buku diskon. Ane pernah nemu novel Dexter, novel tentang serial killer fetish darah yang lucunya malah bantuin polisi pecahin kasus kriminal, pas ane SMK. Ane juga ikutin adaptasinya yang saat itu tayang di Fox Crime. Sayangnya ane nyesek kagak beli soalnya di situ novelnya sampe tamat dan harganya gak nyampe 20k per buku. Setara dengan uang jajan ane pas masih SMK dan masih ada sisa buat naik angkot pulang. Ane juga bisa borong dua buku dari seri Anne of Green Gables, Anne of Windy Poplars dan Anne of Ingleside, cuman dengan bayar 20k di bagian diskon Mizan pas kunjungan ke sana dari kelas kepenulisan. Kapan lagi coba dapet buku favorit 20k untuk dua buku? Lucunya sekitar empat bulan setelah ane beli di sana, ane ke Mizan itu bulan Mei, beberapa buku dari seri Anne of Green Gables itu dicetak ulang *eh?*. Ane baru tahu itu pas cek katalog Gramedia daring buat pilih buku incaran. Kebanyakan komik yang ane ikutin di situs manga scan ternyata sudah nongkrong di sana.

Nyari komik itu susahnya minta ampun apalagi buku edisi awal. Ane aja nyari Midori no Hibi dari nomor 1-3 pun gak nemu mulu. Untungnya sih pas kasus Angelic Layer, ane udah beli nomor 1 dari zaman SD. Daftar buku yang pengen ane beli banyak tapi urutan teratas barang yang pengen ane beli adalah ….

ah, butadon

sering muncul di jurnal jadi tahu lah apa

Ane tadi dimarahin Emak gara-gara kelamaan ngubek Gramedia TSM demi cari satu set komik Silver Spoon. Nyarinya Silver Spoon tapi dapetnya Fullmetal Alchemist cetak ulang edisi spesial buku pertama pula. Yup, ini adalah komik yang temanya gak biasa dan salah satu favoritnya pengarang Claymore di omake buku terakhirnya. Komik yang dibuat oleh pengarang Fullmetal Alchemist ini emang punya ciri khas di setiap ceritanya. Pas makan suki di TSM, ane gak nyangka dapet rejeki tambahan dari Lek Sunar. Ditambah lagi satu keluarga emang ditraktir makan sama Lek Sunar. Alhamdulillah ada duit buat tebus si Butadon di Gramedia. Ane ngikut si Rifnun yang ngajakin jalan-jalan nengok harga iPhone sekalian mampir ke Gramedia. Udah ubek-ubek Gramedia eh malah gak ketemu. Padahal pas ane cek di database toko ada. Ane tanya ke petugas toko.

Ane: Mas ada Silver Spoon?

Petugas Toko: Stoknya habis.

Woot? *mendadak pundung*

Ane inget daftar beli berikutnya. Orange. Ane cek ke deretan manga shoujo dan … asem. Lagi-lagi gak ada buku pertamanya. Adanya buku ke-4 sama terakhirnya. Turun ke daftar prioritas berikutnya.

Cari si Rin. Gak ada juga. Miris. Kenapa semua buku di daftar belanja ane stoknya kagak ada? *nangis darah*

Di sana malah lebih lengkap One Piece sama Naruto yang ada dari buku pertama sampe tamat plus edisi khusus kolektor. Pas ane cek rak, eh ada Barakamon. Di rak sebelahnya eh ada One Punch Man. Lagi butuh dosis komedi tambahan tapi duitnya T.T

Pindah ke rak yang lain. Ebuset ada Zetsuen nyaris komplit tuh. Asemnya gak ada buku yang pertama pula. Ada buku yang pertama sih ane sikat Zetsuen sama Fullmetal Alchemist. Sayangnya prioritas ane cuman beli Silver Spoon itu pun dengan duit ngepas hasil perhitungan ane dari katalog daring.

Pindah lagi rak sebelah. Ada Nanatsu no Taizai. Beli jangan ya? Bahaya kalo sampe kepergok sama si Uli. Masalahnya bocah yang satu ini demen banget sama si Hawk (itu hasil keteledoran ane yang gak sadar pas lagi nonton eh keponakan nyelonong ikut nonton gitu aja) dan masa iya bocah dikasih ecchi? Taruh bukunya di mana ntar?

Pindah ke rak sebelah lagi. Ebuset ada deretan 1200 mantan Pak Archewe. Ane baru ngeh ada edisi cetaknya Terlalu Tampan. Padahal setahu ane kalo komik digital kayak webtoon yang ada versi cetaknya itu cuman Orange Marmalade, Si Juki, sama karyanya Sweta Kartika. Jangan sampai godaan lebih berat lagi dengan tambahan Noblesse, Born from Death, Kubera, World Trigger, cetak ulang On Writing-nya Stephen King, sama The Dresden Files (sebenarnya sih ini novel buat referensi cerita dan ane baca review-nya aja udah menarik).

Aduh nambah puyeng tiap mampir ke toko buku. Pengennya beli ini itu tapi duit terbatas. Sekalinya nyari buku inceran eh gak ada edisi awalnya. Sekalinya gak niat cari buku, malah dapet harta karun. Masih lebih gampangan cari ide buat nulis daripada cari buku. Satu frasa yang bisa ane ucapkan untuk menggambarkan kejadian di TSM tadi: amfun qaqa.