Padahal Ada yang Lebih Baik Daripada Sinetron Ala Hidayah

Majalah Hidayah adalah sebuah majalah yang demografi pembacanya adalah muslim. Majalah ini mendadak populer karena sinetron religi Rahasia Ilahi yang mengadaptasi kisah nyata dari setiap edisi majalah ini beserta sekuelnya yang bernama sama, Hidayah. Sejak saat itulah genre ala Hidayah menjadi populer di kalangan masyarakat bahkan sering dijadikan meme di internet. Gak tahu sih sekarang majalahnya masih terbit ato gak. Padahal di samping cerita kisah nyatanya, masih banyak artikel bagus di sana yang lebih menarik daripada segmen cerita kisah nyatanya.

Belakangan ini tren sinetron rasa Hidayah lagi bangkit lagi. Seiring dengan era banyak ide lama digunakan kembali buat menarik penonton. Tren ini dibangkitkan lagi oleh ANTV sepaket dengan film horor. Awalnya Jodoh Pengantar Jenazah itu berkisah tentang misteri di balik kematian misterius jenazah yang diantarkan oleh Adam dan tarik ulurnya hubungan Adam-Kania gara-gara status sosial di antara mereka yang berbeda jauh. Semenjak dapet rating tinggi dan tiba-tiba ganti jadi Jodoh Wasiat Bapak, ceritanya makin bergeser dari konsepnya semula malah jadi sinetron rasa Hidayah campur mbah dukun. Padahal cerita di majalah Hidayah gak gitu-gitu amet deh.

Kenapa coba gak kepikiran bikin sinetron yang intinya tetap menceritakan hal baik namun tetap bisa diterima semua orang?

Siapa yang tidak tahu sinetron legendaris Keluarga Cemara yang terkenal di era 90-an? Sinetron yang ceritanya penuh pesan moral dengan latar belakang tokoh yang mendadak miskin karena bangkrut. Abah yang harus menarik becak untuk menghidupi keluarga. Emak, Ara, Agil, dan Euis membantu menopang ekonomi keluarga dengan berjualan opak.

Kalo cerita kayak Keluarga Cemara terlalu baper, bisa versi yang lebih merakyat kayak Si Doel Anak Sekolahan. Ya kalo versi kekiniannya sih kayak Dunia Terbalik.

Sesekali bikin cerita yang tidak berpusat pada “penjahat kelewat jahat terus dapet azab kubur pas meninggal” terus. Toh ane lihat di sinetron Rahasia Ilahi dan Hidayah ada kok cerita yang justru bercerita tentang kebaikan seseorang yang membuat seseorang meninggal diiringi dengan hal-hal unik. Seperti halnya cerita jenazah tersenyum saat dimandikan hingga aroma wangi yang berasal dari jenazah hingga dikubur dalam liang lahat.

Variasi lain seperti salah satu episode Risalah Hati di RCTI yang kini digeser sama …. horor maning horor maning. Episodenya bercerita tentang balas budi seorang wanita kaya pada seorang tukang becak jujur.

Contoh yang bagus adalah sinetron India. Arah sinetron Indonesia baik dalam segi penceritaan maupun konflik ngaler-ngidul gak jelas kebawa rating itu cenderung ke India. Sayangnya sinetron Indonesia cuman ambil dari segi negatifnya. Sinetron India memiliki ciri khas ikatan kuat dalam keluarga. Mereka bisa mengeksekusi topik yang sebenarnya sepele dan sering terjadi di rumah tapi jadi menarik saat diangkat jadi sinetron.

Hal yang positif yang bisa ditiru lainnya adalah … the power of auntie Kokila. Di awal penayangannya cerita “bibi Kokila bolak-balik dekok bikin bibi Urmila garuk-garuk” dapet rating rendah karena bukan tipikal saas-bahu pada umumnya. Ya maksudnya genre kebanyakan sinetron India yang konfliknya bolak-balik dekok gual-géol gutak-giteuk panjang lebar dikali tinggi. Nyatanya, Saath Nibhaana Saathiya bisa berlangsung sampai tamat dengan rating yang memuaskan. Kata siapa rating itu segalanya?

Selama ceritanya dekat dengan keseharian dengan nilai yang disampaikan kuat pun bisa nyantol di hati penonton asalkan pihak PH dan stasiun televisi mau bersabar. Toh Bajaj Bajuri sama Suami-Suami Takut Istri awalnya biasa aja tapi bisa tayang hingga bertahun-tahun. Jadi buat apa bikin sesuatu yang negatif seperti kebanyakan sinetron ala Hidayah rasa zaman sekarang?

Iklan