Setitik Lagu dari Kenangan (bagian kedua)

Setiap lagu memang ada masanya. Ada yang berkesan di ingatan dan adapula yang sekedar lewat di telinga. Begitupun dengan ane. Berikut ini adalah lanjutan dari daftar lagu yang mengingatkan ane akan kenangan tertentu dari hidup ane.

Berhubung tulisan sebelumnya bikin ane gak kuat nangis jadi ane pecah tulisannya. Bagian awal tulisan ini masih tentang nangis-nangisan dan galau. Sebenarnya biar nyambung aja sih suasananya sama tulisan sebelumnya *gubrak*.

Sachiko Kumagai – You

Gak tahu ini lagu apa? Kemungkinan besar ada dua.

Pertama, dia bukan weeaboo macam ane semasa kecilnya. Kagak demen nonton anime apalagi gosipin soal anime di kelas. Hal itu wajar di zaman ane masih kecil soalnya memang banyak anime yang tayang di TV.

Kedua, dia otaku tapi ogah nonton anime lawas. Padahal banyak harta karun di anime lawas. Salah satunya adaptasi manga yang diperankan oleh oppa Lee Min Ho, City Hunter. Untung aja otak mesum Ryo Saeba di anime sama manga kagak kebawa di versi live action-nya.

Ini bukan anime terbaik di masanya. Ini anime adaptasi dari manga pemenang Shogakukan Manga Awards ke-40 untuk kategori shoujo (dan ane baru tahu ini masuknya shoujo, padahal ceritanya murni drama). Ceritanya gak kalah sedih dari Ano Hana, Clannad, sama Angel Beats. Ceritanya tentang anak kelas 5 SD yang harus mengasuh adiknya yang masih balita setelah ibunya meninggal.

Akachan to Boku aka Baby and Me pernah tayang di TV7 (sekarang Trans7) pas ane masih kelas 2 SD. Sekitar tahun 2002. Ane ingat rela gak main buat nungguin anime ini tayang. Ini adalah ending pertamanya. Gak cuman ane yang demen nonton ini, keponakan ane juga demen. Ada dua kenangan yang berkaitan dengan ending anime ini.

Ane bisa cover lagu ini tanpa partitur semasa SD dulu. Ane bisa mainkan lagu ini dengan recorder hanya bermodal pendengaran ane. Selain itu, anime ini adalah awal dari titik balik ane setelah terpuruk setahun yang lalu. Sewaktu menonton ulang anime ini bareng keponakan, ane menangis. Ada beberapa episode yang bikin ane berpikir lagi soal hidup ane yang terpuruk. Ane juga kerap menangis saat lihat ending ini. Ane bisa membayangkan posisi Takuya, sosok anak kecil yang lagi pegang album foto di ending.

Ane pernah merasakan kejadian yang dialami Takuya semasa SMK. Bedanya, ane sering ditinggal keponakan ane hampir seharian penuh di saat ia masih membutuhkan kasih sayang ibunya. Ane juga merasakan tekanan yang sama sewaktu dititipkan keponakan ane. Rasanya ane ingin memaki kakak ane yang seenaknya pergi begitu saja membiarkan anak yang masih kecil di rumah seharian. Keponakan ane sering mengganggap ane itu sosok yang galak. Ane sering memarahi keponakan ane bila nakal dengan hukuman yang ane pelajari dari teknik parenting di internet. Anehnya, dia lebih dekat dengan ane dibandingkan dengan kakak ane yang notabene ibu kandungnya. Mungkin karena sejak kecil sering bareng sama ane. Entah itu dimarahi karena kenakalannya atau bermain di rumah bersama mereka.

Akachan to Boku memang menggambarkan tentang realita kehidupan dalam sudut pandang anak SD. Suatu hal yang jika ane berada di posisi seperti itu pun ane akan merasakan hal yang sama. Setelah menonton bareng sama keponakan hingga episode terakhir membuat ane sadar. Hidup itu ada pahitnya. Itu adalah hal yang tidak bisa terelakkan lagi. Kehidupan yang pahit itu tidak selalu menggeragoti kita. Hal itu akan terus menggeragoti kita selama pikiran kita hanya berpikir hal-hal yang pahit semata. Jadi, jalani dan ikhlaskan saja kehidupan yang sedang berjalan.

Ayumi Hamasaki – Voyage

Siapa yang tidak tahu dengan game Audition di Indonesia. Kadang diplesetkan jadi “ayobaper” karena kelakuan kids jaman now yang kerjaannya cuman menebar harapan palsu. Ane jadi ingat episode terakhir The World God Only Knows: Goddesses yang pas banget nyentil kelakuan anak zaman sekarang. Terjemahan kelewat bebasnya sih gini.

Kalo emang serius suka padaku, nikahi saja aku!

(Ayumi pada Keima saat hendak ditaklukkan untuk kedua kalinya)

Game daring di Indonesia itu masih berkesan sewaktu dulu. Gak banyak bocah, baper, dan orang-orangnya masih ramah. Ada tukang nipu dan orang rese pun jumlahnya gak banyak. Sekali terciduk pasti langsung tidak dipercaya lagi. Padahal game-nya itu masih terbilang standar untuk ukuran grafik. Contohnya Ragnarok yang bisa memikat jutaan pemain dari seluruh dunia hingga di Korea sendiri disebut sebagai salah satu game legendaris. Itu sebabnya ane bisa punya banyak kenalan dari komunitas gamer yang masih berhubungan sampai sekarang. Salah satunya Yanto, ketua guild ane dulu. Ternyata dia lumayan juga. Bisa ane comblangin sama temen ane yang masih jomblo :v

Ada banyak hal yang berkesan dari Audition. Namun hanya ada satu hal yang paling berkesan di antara semuanya. Bahkan teman terdekat ane di game pun, Iwa, selalu tahu setiap main bareng ujung-ujungnya request lagu ini.

Audition sekarang beda sama yang dulu. Bedanya ya ane gak merasakan keramahan dari pemainnya seperti dulu. Ane gak merasakan lagi kekeluargaan di dalamnya. Kekeluargaan yang bikin ane punya banyak kenalan dan masih berhubungan baik sampai sekarang. Contohnya Ajat si calon manajer yang akan menikah tahun depan, Aril si mahasiswa hukum womanizer, dan Aduy si DJ gahar yang setia kawan. Banyak kenangan dan relasi yang terbentuk dari pertemuan dalam game. Sayangnya hal sepele seperti itu jarang ane temui di kalangan gamer yang sekarang masih aktif main Audition bahkan game daring lain.

L’Arc~en~Ciel – BLESS

Ini satu-satunya video yang gak ada PV di YouTube dibandingkan semua video yang ane tautkan. Kebanyakan video yang ada di YouTube pun cover, konser, dan short version. Jadi ane cari salah satu yang paling menarik versi ane.

Kenangannya adalah hari ulang tahun.

Ane memang tertutup soal informasi tentang diri sendiri. Tidak hanya karena ane tidak ingin diperhatikan semata, tetapi ane lelah menjadi orang yang selalu berusaha menjadi pusat perhatian. Ane juga sudah terlalu banyak disakiti oleh orang lain jadi rasanya membuka kepercayaan bagi orang lain itu sulit.

Lagi-lagi ane menangis saat menulis bagian dari lagu yang memantik suatu kenangan. Ane menangis bukan karena sedih. Ane menangis karena masih ada orang yang memperhatikan ane. Ane memang tidak pernah mencantumkan ulang tahun pada akun media sosial pribadi ane. Ane hanya mencantumkan nama, jenis kelamin, dan username bila ada username. Tidak ada yang tahu wajah asli ane dari akun media sosial ane. Begitupun soal usia dan ulang tahun. Identitas ane di akun media sosial memang cenderung mirip akun palsu yang anonim dan sulit dilacak. Anehnya, ada saja orang yang ingat akan hari ulang tahun ane. Padahal ane sendiri tidak pernah menyebutkan hal itu ataupun bercerita langsung pada temen ane. Jika saat itu tiba, ada saja orang yang memberi ane hadiah. Notifikasi pun ramai dipenuhi oleh orang-orang yang sekedar mengucap selamat ulang tahun.

Ane ingat kejadian itu sewaktu kelas X. Ane pertama tahu lagu ini dari Willy. Saat itu ane lagi melakukan persiapan untuk Comfort, kompetisi tahunan yang digelar di SMK saat itu. Idenya bermula dari para penggemar DotA di ekskul jurusan yang pengen cari lawan tanding sebanding di sekolah. Kompetisi yang diadakan pun tidak hanya pertandingan DotA. Ada cerdas cermat, kompetisi pemrograman, desain grafis, dan lain-lain. Ia sering memutar lagu ini saat sedang melakukan persiapan untuk kompetisi yang baru pertama kali diadakan waktu itu. Ane ingat sekitar bulan Desember. Saat itu ane lebih sering pulang malam karena persiapan lomba yang tinggal menghitung hari.

Ane sering mengatakan bahwa ane itu weeaboo insyaf. Masa lalu ane terbilang berat dan hal itu menjadi salah satu yang bikin ane dalam kondisi yang “tidak sepatutnya ane ingat”. Hal yang kini ane rasakan terbalik sewaktu melihat keadaan teman-teman ane sekarang. Mereka malah bangga menunjukkan sisi weeaboo mereka di hadapan orang banyak. Hanya orang terdekat ane yang tahu ane itu demen Laruku, penyuka anime sekaligus drama Korea, seorang kutu buku yang doyan memasak, sering membuat cerita, dan mudah terpana dengan seorang lelaki dalam pandangan pertama. Tak ane sangka, salah seorang temen ane memberi kejutan seminggu sebelum hari ulang tahun: digital single Laruku yang tidak pernah ane harapkan sebelumnya. Lebih niat lagi, single Laruku BLESS yang baru saja dirilis.

Hal yang sepele bisa bermakna besar bagi orang lain. Seperti halnya sebuah kado ulang tahun yang merupakan barang asing bagi ane. Ane jarang mendapatkan hadiah dari orang lain. Entah itu saat ulang tahun ataupun hari biasa. Jangankan dari teman terdekat, dari keluarga pun nyaris tidak pernah. Menerima suatu hadiah yang tidak pernah ane bayangkan sebelumnya membuat ane sangat gembira. Itu sebabnya kita dianjurkan berkirim hadiah pada orang lain. Satu hal kecil pun bisa mendatangkan kebahagiaan bagi orang yang menerimanya.

Susumu Ueda – One Liter of Tears Main Theme

Berbeda dari Romance de Amour yang anonim, sebenarnya lagu ini tidak diketahui jelas judulnya. Judul yang beredar di dunia maya pun memang “One Liter of Tears Main Theme”.

Ingatan lagu ini adalah semua hal berkaitan dengan masa-masa aktif di DKM dan kelas VIII SMP. Semua itu adalah kenangan yang paling menyenangkan selama SMP. Benang merahnya: Ibay. Aktivis DKM masa itu yang juga temen sekelas ane. Kerjaannya muter lagu ini mulu mau pas presentasi DKM dan lagi diem di kelas.

Ane sudah ceritakan sekilas di bagian Romance de Amour soal SMP ane yang beda tipis dengan dapur Hell’s Kitchen. Banyak masa-masa yang tidak menyenangkan selama di sana. Satu hal yang sangat teringat jelas dari kenangan ane hanyalah masa-masa aktif di DKM dan kelas VIII. Keduanya menyisakan memori yang menyenangkan dalam ingatan ane.

Ane banyak belajar sewaktu berada di DKM. Ane ingat sulitnya ikut acara LDK di gunung Puntang yang salah satu posnya menyusuri sungai di sana. Ane ingat soal ane paling lemot dalam urusan setor hafalan. Pas sebelum setoran mah lancar eh pas waktunya setoran lupa lagi. Ane ingat waktu rebutan makanan pas lagi mabit. Lucunya orang yang paling kurus ternyata memiliki nafsu makan paling besar dibandingkan orang yang bongsor. Ane ingat masa-masa “berantem” dengan ikhwan sewaktu permainan “bisnis menjual kapal kertas”. Ane ingat kebersamaan yang terjalin di antara mereka. Kompak tanpa ada yang didepak. Siapapun kita diterima dengan baik di sana. Satu hal yang tidak pernah ane sadari adalah cerita tentang “si pejalan cepat”. Ia tahu ane sejak ane masih aktif di DKM. Ane tidak pernah tahu hal itu sebelum ia bercerita pada ane. Ane hanya kenal Ibay, Andre, dan Gesang dari divisi ikhwan yang notabene emang temen sekelas di kelas VIII. Kok bisa dia kenal sama ane? *bingung*

Begitu pun dengan kelas VIII. Bisa dibilang keadaan kelas ane beda tipis dengan kelas yang ada di Gokusen. Banyak kubu. Sering ada pergesekan antarkubu. Mudah dikenali posisi kubu A, B, dan C hanya melihat posisi tempat duduknya. Banyak di antara mereka yang ane kenali sebagai anak-anak nakal di sekolah. Hari pertama ane masuk kelas VIII pun sampai mikir gini.

Bakal kacau nih kelas. Bisa-bisa ane lagi jadi korbannya.

Seiring berjalannya waktu, pandangan ane tentang kelas VIII berubah. Ane beruntung punya wakil KM seperti Andre bijak dan bisa menyatukan semua murid. Berbanding terbalik dengan Ibay si KM yang lebih pasif saat menghadapi anak-anak cewek (soalnya dia itu gak bisa ngomong depan cewek). Anak-anak di sana tidak seburuk yang ane pikirkan. Kelihatannya anak metal (soalnya kebanyakan teman sekelas ane waktu kelas VIII itu fans berat Avenged Sevenfold, hampir tiap hari denger lagu A7X di kelas) tapi dalamnya baik. Selama kita nyapa duluan ya mereka bakalan nyapa balik. Adanya mereka malah nyuruh ane jangan jadi anak yang pasif mulu. Ane baru tahu setelah ada sesi girls talk pas waktu perpisahan kelas VIII di gunung Gede-Pangrango. Sampai sekarang pun masih berhubungan baik dengan mereka. Khususnya lingkaran pergaulan kecil satu jajaran semasa kelas VIII. Ada Ndit si dokter fujoshi yang belum tobat, Rini yang masih selalu membawa keceriaan, Pucur yang masih tanpa ekspresi *senyum dikit napa sih .-.*, Salma yang masih jadi korbannya Ndit, dan Anis yang masih jadi penengah di antara kami semua.

Kemarin lagu terakhirnya bikin nangis eh sekarang suasananya malah lebih ceria. Benar kata orang bijak. Hidup itu kadang di atas kadang di bawah. Kadang pahit kadang manis. Hal itulah yang mewarnai kehidupan seseorang. Apapun yang sudah terjadi ya biarkan berlalu. Jangan sampai kita terus tenggelam dalam kenangan masa lalu namun lupa akan kehidupan masa kini.

Iklan