Bedanya Film Horor Era Suzzanna dan Kekinian

Jujur aja ane paling gak suka nonton film horor. Toh ane itu penakut. Ane bukan adik ane yang biasa ngeliat hal-hal semacam itu. Kenyataannya adik ane, si Rifnun, punya indera keenam. Jadi dia udah kebal nonton film horor malah adanya ketawa-ketiwi. Toh hantu yang dia lihat di film tidak sebanding sama yang ia lihat setiap hari.

Ane jadi inget pas si Rifnun masih kecil. Dia bilang ke ane kalo dia lihat pocong keliaran di deket kamar mandi rumah ane yang lama. Ekspresi ane saat itu: ngacir!

Lain kakak lain adik. Alhamdulillah ane gak perlu ngerasain kayak si Rifnun.

Kalo emang gak suka nonton film horor, kok nulis tentang film horor? Jujur ane seorang amatir yang seneng nonton film. Ane bukan kritikus film apalagi jebolan jurusan Sinematografi yang paham soal film. Kebiasaan nonton film horor itu gara-gara sering bangun malem. Kebetulan di tengah malem suka ada film. Hari biasa di Trans7 ada MacGyver dan akhir pekan bersama film lawas hasil restorasi di ANTV (dan kebanyakan di antara judul filmnya itu film horor). Eh ngeselinnya tiap nonton ANTV tengah malem pasti kepotong siaran lokal pas adegan ramenya. Mau gak mau ane cari spoiler ato cari filmnya di YouTube biar tahu kelanjutannya. Itulah awal mula ketertarikan ane pada film horor terutama film horor lokal versi lawas.

Dulu pas zaman ane masih kecil, film horor sering ditayangin siang-siang. Entah itu film jiang shi (aka vampir Cina tukang loncat-loncat yang lebih tajir dari pocong gara-gara bisa beli baju mahal) kocak atau film horor era Suzzanna. Anak-anak yang besar di era 80-an dan 90-an pasti gak lepas dari film horor itu. Soal film horor paling berkesan … Bayi Ajaib. Film yang berhasil bikin ane gak bisa tidur semalaman setelah gak sengaja nonton itu.

Ini yang bikin film kehabisan ide ato gimana? Masa film Bayi Ajaib mau di-remake kayak Pengabdi Setan. Kalo diajakin temen ane nonton itu … amfun qaqa!

Yup, temen-temen ane emang doyan banget nonton film horor tiap kali ngajak ke bioskop. Apalagi temen SMP ane. Dari zaman SMP emang geng tukang nonton. Cuman ya makin ke sini makin ngajakin nonton film horor mulu. Sayangnya mereka nonton film horor luar negeri. Ya tahu sendiri lah bedanya film horor era Suzzanna dengan film horor sekarang. Mengutip bahasa anime sih, kebanyakan fanservice.

Apa sih bedanya film horor era Suzzanna sama film horor sekarang? Anehnya kok banyak yang lebih berkesan film horor lawas daripada film horor sekarang?

besok-sekolah
sumber: memecrunch

bunda Suzzanna sudah ingetin kita kudu tidur cepat biar gak kesiangan

Fanservice, Fanservice Everywhere

fanservice-overload
sumber: Pinterest

Emang anime doang yang ada fanservice? Sebenarnya arti fanservice itu luas gak cuman segala sesuatu yang sensual semacam cewek sekseh ato roti sobek. Contoh yang sering ditonton anak muda zaman sekarang ya reality show yang menampilkan boyband dan girlband Korea Selatan yang rela gila-gilaan demi memuaskan fans.

Film horor Indonesia belakangan ini mulai ternodai oleh hal itu. Malah di forum internet pun dijadiin bahan lelucon.

Film Horor Indonesia

20% Horor

80% Bokep

(baca dengan intonasi episode SpongeBob pas Plankton nyemplungin bahan Krabby Patty buat dianalisis Karen)

Sebenarnya film horor Indonesia modern mulai bangkit setelah kemunculan film Jelangkung (2001). Sayangnya film horor yang benar-benar murni horor hingga pertengahan era 2000-an setelah itu ya tahu sendiri. Tapi semua mulai berubah semenjak kemunculan Danur di awal tahun 2017. Danur memang bukan film horor Indonesia yang terbaik di tahun ini. Setidaknya kemunculan Danur mengiringi kesuksesan film horor Indonesia yang murni menyajikan cerita horor daripada konten fanservice. Beberapa bulan berselang setelah penayangan Danur, film remake Pengabdi Setan (1980) menjadi film horor laris tanpa perlu bumbu esek-esek layaknya kebanyakan film horor Indonesia modern.

Kata siapa film horor zaman dahulu bebas fanservice? Malah banyak kok. Jangankan film horor, film Warkop aja banyak menampilkan hal itu. Penyakit film horor Indonesia sekarang sama seperti anime modern, kebanyakan fanservice yang tidak beralasan. Ane pernah baca dari sumber lawas, film era 80-an memang sengaja dibumbui fanservice soalnya memang teknik menarik penonton di masa itu. Contoh film horor dengan unsur fanservice kuat terasa pada film Lukisan Berlumur Darah (1988). Ada yang tidak salah fokus dengan pakaian putih tipis yang dikenakan Yurike Prastica? Lebih ekstrim lagi ada adegan “ena-ena” yang membuat film Sundel Bolong (1981) paling susah ditayangkan ulang di televisi tanpa membabat banyak bagian awal cerita.

Bukan berarti film Sundel Bolong (1981) mendadak menjadi seperti film horor Indonesia modern yang lebih dominan soal fanservice. Film ini memang bercerita tentang PSK insyaf yang ingin meninggalkan masa lalu kelam lalu membina hidup rumah tangga yang bahagia bersama suaminya. Akting khas Suzzanna dan bumbu-bumbu nyentrik khas film horor era 80-an membuat film ini tetap terjaga keseramannya di samping latar belakang cerita yang sensitif. Legenda sundel bolong sendiri memang bermula dari korban pemerkosaan yang mati secara tidak wajar. Itu adalah hal yang menjelaskan kemunculan adegan “ena-ena” di awal film.

Gestur yang Menambah Ketegangan

Pada salah satu media daring, Joko Anwar pernah mengatakan ia tak ingin banyak orang yang ramai menonton remake dari film favoritnya di masa kecil karena cerita-cerita di balik produksi film tersebut. Toh hanya dengan mendengar Joko Anwar dan judulnya saja memang bisa membuat orang tertarik. Joko Anwar memang terkenal sebagai salah satu sutradara terbaik Indonesia. Di samping film Pengabdi Setan (1980) yang terkenal di luar negeri sebagai salah satu film horor Asia terbaik di masanya. Hal lain yang diungkapkan oleh Joko Anwar di hadapan media adalah ia kesulitan mencari tokoh yang setidaknya memiliki ciri khas atau aura seperti Ruth Pellupessy, pemeran Darminah pada film Pengabdi Setan (1980).

Siapa yang tidak kenal dengan senyum jahat Ruth Pellupessy dan ekspresi wajah Suzzanna yang khas? Film horor di masa itu memang tidak hanya memainkan cerita dan situasi horor semata. Akting para pemerannya pun tidak setengah-setengah dalam memainkan peran horor.

Itu sebabnya Suzzanna mendapat gelar Ratu Horor Indonesia tidak hanya dari banyaknya film yang ia bintangi, tetapi juga totalitas aktingnya yang membawa ketegangan tersendiri. Mulai dari peran mantan PSK dalam film Sundel Bolong (1980) hingga peran seorang istri ustadz yang berakhir menjadi pengguna ilmu hitam dalam Santet – Ilmu Pelebur Nyawa (1988). Siapa yang tidak kenal dengan gestur Suzzanna dengan wajah melotot ditambah kamera zoom in dan jari tengah melayang? Coba deh perhatikan adegan Suzzanna yang sedang menjahili warga dan menghabisi mangsa. Suzzanna sering mengacungkan jari tengahnya.

Begitu pula dengan akting Ruth Pellupessy dalam Pengabdi Setan (1980). Film horor era lawas yang masih layak diperbincangkan di kalangan anak muda kekinian. Si Rifnun saja mengakui film ini seram. Mulai dari tata rias ibunya Toni, para zombie yang dibangkitkan Darminah, hingga Darminahnya sendiri pun nyeremin. Dia paling kesel lihat adegan Darminah pas muncul. Ruth Pellupessy berhasil membuat sosok Darminah menjadi sosok inti yang ngeselin dan menambah ketegangan cerita. Permainan mata memang tidak lepas dari akting pemeran film horor lawas. Jadi pastikan jangan lihat Darminah kalo gak mau berakhir dengan membanting layar saking gregetnya.

Efek Ala Kadarnya Namun Meyakinkan

Umumnya film di era 80-an tergolong kelas B movies karena anggaran dan keterbatasan efek untuk menunjang film. Film horor pada masa itu lebih menggunakan tata rias organik dan efek sederhana tapi … bisa menyisakan rasa ngeri bercampur jijik setelah menyaksikannya. Jujur aja, soal urusan gore di film horor masih lebih “gila” film horor era 80-an. Padahal film horor sekarang secara teknologi lebih baik.

Siapa yang tidak kenal film Ratu Ilmu Hitam (1982)? Film lawas yang lagi-lagi diperankan sang ratu horor Suzzanna yang terkenal dengan gore. Bahkan seorang penonton zaman sekarang pun tidak menyarankan menonton film ini saat sedang makan. Adegan gore yang diawali guna-guna aka santet menjadi fokus utama cerita.

Ane masih bingung sama film Pengabdi Setan (1980) terutama dalam masalah efek. Pantesan kritikus luar memberi pujian atas film ini dan membuat Joko Anwar tertarik membuat remake-nya. Mulai dari efek piano main sendiri, efek zombie yang ala kadarnya tapi tetap nyeremin, sampe adegan Rita narik tangan Herman hingga tulangnya kelihatan. Yaiks.

Film horor era 80-an tidak lepas dari darah, belatung, ular, buaya, kembang tujuh rupa, dan transformasi menjadi sosok yang menyeramkan sekaligus menjijikkan. Ditambah lagi kebanyakan film horor di masa itu memiliki latar belakang di pedesaan yang masih kental dengan hal-hal mistis menambah bumbu keseraman cerita.

Biar Peranakan Bule, Tetap Saja Wajahnya Indonesia Banget

Suzzanna meskipun peranakan Belanda namun masih terlihat wajah khas orang Manado. George Rudy yang kelihatannya bule ternyata peranakan Tionghoa. Barry Prima dan Clift Sangra pun mukanya masih terlihat wajah Indonesia.

Bedanya film Indonesia zaman dulu sama sekarang adalah pemainnya. Pemain film zaman dahulu lebih bervariasi dalam masalah etnis. Berbeda dengan film Indonesia zaman sekarang yang didominasi pemain keturunan indo. Padahal gak usah whitewashing deh. Tidak mencerminkan Indonesia yang ditinggali beragam etnis dan suku bangsa.

Film adalah salah satu bagian dari kebudayaan. Dari film pula kita bisa mengenal budaya suatu bangsa dalam kurun waktu tertentu. Misalnya film horor. Film horor di Indonesia kental dengan nuansa Islam dan tradisi khas daerah di Indonesia seperti kejawen. Tren tersebut dimulai dari film Pengabdi Setan (1980). Sebelum munculnya film Pengabdi Setan, kebanyakan film horor di Indonesia berlatar belakang Hindu-Buddha.

Hal yang menarik dari film Indonesia lawas, termasuk horor, adalah keberagaman etnis yang berperan dalam produksi film tersebut. Mulai dari pemain, sutradara, hingga kru yang terlibat. Kita masih bisa melihat sutradara keturunan Tionghoa, kru asal Jawa, pemeran utama dari suku Batak, pemeran pembantu asli Dayak, pemeran pengganti asli Madura, hingga produser yang keturunan India. Bahkan ada beberapa film kolaborasi dengan aktor dan aktris asal negeri Jiran Malaysia seperti Bisikan Arwah (1988, di Malaysia dikenal dengan Mereka Kembali) dan Siluman Kera (1988).

Pemeran keturunan indo yang berperan dalam film horor lawas masih terlihat seperti orang Indonesia. Hal lain yang tidak kalah menarik adalah kemunculan banyak aktor dan aktris yang tampangnya biasa saja. Wajah yang muncul dalam film mencerminkan tipikal orang Indonesia asli daerah. Mereka bahkan kerap mendapat peran penting dengan akting yang memikat.

Kelucuan di Tengah Ketegangan

Siapa yang tidak kenal dengan H. Bokir dan Dorman Borisman? Kedua tokoh yang sering muncul dalam film horor sebagai sosok comic relief. Meskipun film horor lawas banyak dibumbui dengan fanservice, nyatanya mereka tidak menjadikan fanservice sebagai bahan lelucon seperti film horor Indonesia zaman sekarang. Banyak penonton zaman sekarang yang memotong adegan-adegan lucu dari film horor tersebut di YouTube.

Walaupun kebanyakan penontonnya tidak hidup di masa layar tancep dan film-film horor lawas ditayangkan siang hari, lelucon yang berasal dari film horor tersebut masih tetap lucu. Contohnya adalah adegan H. Bokir yang jadi mantri sunat dalam film Bayi Ajaib (1982).

Kelucuan di tengah film horor bisa menurunkan ketegangan dengan porsi yang pas.

Tulisan ini akan berlanjut pada bagian kedua dengan hal-hal menarik juga aneh yang bisa ditemukan dari film horor lawas.

Iklan