Cari Produk Halal Itu Mudah

Berhubung tulisan ane sebelumnya sempat bahas soal ini dan tidak begitu gampang dipahami, ane bikin tambahannya aja.

Gak tahu sejak kapan ane jadi demen jalan-jalan dan berburu kuliner. Ane sering nonton acara masak luar negeri dari TV kabel dan YouTube. Ane pengen banget tahu hidangan dari setiap negara. Ketertarikan ane tentang masakan luar negeri bermula karena bosen tiap nonton TV kabel tayangannya dari Korea mulu. Ane penasaran dengan hidangan asal Mongolia. Ane penasaran dengan masakan Afrika yang cara masaknya sendiri sangat unik. Ane penasaran dengan hidangan khas Laos. Ane penasaran dengan hidangan dari negara-negara kepulauan yang berada di wilayah Oseania. Ane bahkan belum pernah melihat hidangan khas Finlandia walaupun Finlandia sendiri sudah terkenal dengan pembalap F1, HP Nokia, dan sistem pendidikannya yang aneh tapi berkualitas. Ane juga gak pernah lihat hidangan Argentina yang terkenal dengan Evita Peron, nenek-sejuta-peran-di-telenovela Libertad Lamarque, dan sepakbolanya.

sumber: TV y Novelas

balikin Cinta Paulina di TV *banting remote*!

Sebelumnya ane pernah bahas soal pentingnya belajar masak dan memperdalam ilmu agama untuk cari makanan halal di supermarket. Nah, sekarang ane mau tambah lagi info baru tentang hal yang kudu dikuasai mengenai makanan halal. Ane bikin tulisan baru biar bisa irit jumlah kata dalam post sih. Tahu sendiri lah orang Indonesia itu gimana :v

Kata Siapa Materi Kimia di Sekolah Gak Berguna?

Buat yang merasa nyesel masuk SMA jurusan IPA (sekarang jadi MIA, bedanya apa coba? *bingung*) ternyata materinya malah berguna salah satunya. Entah itu cuman Fisika, Biologi, ataupun Matematika yang nongol di kuliah dan pekerjaan. Ternyata pelajaran Kimia SMA sangat berguna untuk mencari makanan halal. Khususnya Kimia Organik yang sering nongkrong bareng sama Biologi di buku pelajaran.

^ kimianya bukan yang ini juga ._.

Kenapa kita butuh materi Kimia SMA untuk cari makanan halal? Soalnya dalam produksi makanan pun gak jauh dari bahan-bahan kimia. Contohnya untuk membuat macaroon.

NB:

Sebenarnya dalam bahasa Prancis ditulisnya macaron, cuman pas masuk ke dalam kosa kata bahasa Inggris jadi macaroon. Buat orang awam pasti bakal ketuker dengan macaroon khas Italia yang menggunakan bahan baku kelapa atau kacang kenari dengan cara pembuatan yang hampir serupa.

Ane baru tahu hal ini dari acara anaknya Gordon Ramsay yang ribut sama bapaknya soal nama macaroon. Dalam konteks ini, ane ngomongin soal macaron Prancis yang biasa nongkrong di toko kue langganan.

Buat yang bingung dengan penjelasan ane, ini ada gambarnya.

sumber: POPSUGAR

atas macaron Prancis, bawah macaroon Italia

sumber: The Nosher

lucunya dalam kamus bahasa Inggris sama-sama disebut macaroon

Ane baru tahu kalo bikin macaroon itu gampang. Bahan dasarnya seperti membuat meringue, olahan putih telur campur gula yang dikocok kaku terus dipanggang. Gampang sih cuman susahnya itu pas proses panggang sama … referensi resep. Resep utama macaroon itu gak bakal lepas dari cream of tartar.

sumber: McCormick

ini bubuk, bukan krim beneran!

Apa itu cream of tartar? Itu nama salah satu bahan kimia yang ditambahkan sebagai pengembang kue. Nama senyawa kimianya sih kalium bitartarat tapi dalam bahasa bikin kue disebut potasium bitartarat. Bahan pengembang kue yang satu ini memiliki kode E336. Kalo mau sama rumus kimianya juga boleh, KC4H5O6. *ternyata penulisnya ndeso, bisa nyisipin subscript sama superscript dengan tag HTML juga di TinyMCE*

NB:

Padahal di rumus kimianya K itu kalium, kok dibaca potasium? Nah, ane pernah baca. Di negara tertentu sama bidang tertentu (contohnya kuliner), penyebutan nama senyawa kimia bisa berbeda dari nama unsur pembentuknya. Contoh yang paling sering muncul itu dua unsur.

Na → aslinya dibaca “natrium” tapi bisa berubah jadi “sodium”, contoh terkenalnya mononatrium glutamat alias MSG/vetsin/pecin/micin.

K → aslinya dibaca “kalium” tapi bisa berubah jadi “potasium”, contoh terkenalnya kalium permanganat buat obat kulit dan detektor formalin.

Tahu gak cream of tartar adalah produk sampingan wine? Sementara dalam hukum Islam mengkonsumsi anggur (baca: wine, soalnya terjemahan kata wine dan grape itu sama-sama anggur) itu haram.

Nah, macaroon ‘kan enak? Gimana cara bikin ato cari versi yang halalnya? Ane baca salah satu referensi dari situs muslim Amerika Serikat tentang kode E. Ada penjelasan tambahan mengenai pembuatan cream of tartar. Terjemahan kelewat bebasnya sih gini.

Halal jika bukan berasal dari produk sampingan wine. Di Amerika Serikat, cream of tartar yang diproduksi halal. Soalnya di Amerika hanya menggunakan anggur yang tidak difermentasi (unfermented grape).

Bagaimana dengan Alkohol?

Ane pernah berantem dengan kakak ane soal ini. Topik pembicaraannya: ang ciu (nama aslinya bisa jadi huangjiu, soalnya banyak bahasa Mandarin yang dilafalkan di Indonesia dengan dialek Hokkien). Salah satu jenis arak yang biasa digunakan dalam masakan Cina.

sumber: Thai Seng Liquor

atas huangjiu, bawah ang ciu

sumber: U.D. Megah Cahaya

intinya sama-sama jenis arak yang biasa digunakan dalam masakan Cina

Ane (A): (pas lagi di rumah makan masakan Cina) Mas, beli nasi goreng gak pake ang ciu.

Kakak Ane (B): Ngapain mesen gak pake ang ciu?

A: ‘Kan ang ciu itu haram. Ada alkoholnya.

B: Bukannya alkohol bisa menghilang kalo dimasak suhu tinggi?

A: Tapi ‘kan tetep aja haram.

(dan ujung-ujungnya terus berantem sampe nasi gorengnya mateng, kokinya pun ikutan bengong)

Pertanyaan bodoh ane adalah: bagaimana dengan sorbitol? Bukannya itu sama-sama alkohol? Alkohol memang diharamkan oleh agama tapi alkohol seperti apa yang diharamkan? Sejarah mencatat ilmuwan muslim yang menemukan destilasi alkohol. Jadi?

Pertanyaan ane itu sama seperti kebanyakan orang awam mengenai definisi alkohol. Salah satu yang bikin bingung adalah kosa kata bahasa Indonesia itu berakar dari bahasa Melayu. Toh bahasa Melayu sendiri banyak kata yang homonim untuk mengatasi minimnya kosa kata asli. Makanya bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Malaysia bisa berbeda sangat jauh dengan Melayu Riau karena faktor bahasa lain yang mempengaruhi kekayaan kosa kata tersebut. Salah satu yang bikin bingung adalah alkohol. Dalam bahasa Indonesia, alkohol bisa berarti “minuman keras” dan “senyawa etanol”.

Di tengah kebingungan ane soal alkohol, ane nemu satu artikel menarik yang ditulis di internet oleh seorang profesor jurusan Kimia di salah satu universitas ternama Indonesia. Dia meluruskan kesalahpahaman tentang alkohol di masyarakat dilihat dari sudut pandang kimia.

Seingat ane, begini penjelasan beliau.

Alkohol itu sebenarnya nama sebuah gugus kimia. Seperti halnya gugus alkana, keton, aldehid, dll. Sayangnya, orang Indonesia itu menganggap tok alkohol itu adalah etanol, salah satu senyawa yang berasal dari gugus alkohol. Etanol itu bersifat memabukkan dan merupakan produk sampingan fermentasi gula.

Jadi, hal yang membuat makanan/minuman haram itu adalah etanol. Soalnya ane baca referensi lainnya, malah senyawa lain dalam gugus alkohol itu halal. Ane gak bisa berkomentar banyak soal ini karena pengetahuan ane mengenai kimia dan ilmu agama masih cetek.

Bagaimana dengan sorbitol? Sorbitol secara gugus mirip alkohol tapi sorbitol termasuk gula jadi sorbitol itu halal untuk dikonsumsi. Biarpun memiliki kemiripan dengan gugus alkohol, sorbitol tidak mengandung alkohol (baca: etanol, ane gak bermaksud untuk pun gara-gara kata dalam bahasa Indonesianya memang begitu).

Bagaimana dengan menggunakan alkohol (baca: etanol) selain untuk makanan? Ane pernah baca kalo penggunaan alkohol itu boleh selama gak dikonsumsi manusia. Contohnya untuk desinfektan, pemakaian obat luar seperti salep, bahan bakar alternatif, pelarut bahan kimia di laboratorium, dan pembersih rumah.

Begitu pula buat penggunaan pembersih berbahan alkohol yang berhubungan langsung dengan alat makan. Ane pernah baca fatwa ulama luar negeri. Kita boleh menggunakan pembersih dengan bahan campuran alkohol selama kita membilasnya sampai bersih. Contohnya hand sanitizer yang digunakan untuk mencuci tangan sebelum makan dan tisu pembersih air galon. Cara kerja alkohol dalam membersihkan dan membunuh kuman mirip seperti sabun yang kita gunakan sehari-hari. Anggaplah gini. Masa iya makan pake piring yang masih banyak sabun? Harus dibilas lah. Kalo gak ya bakal kayak gini.

^ mau ikut-ikutan tikus makan sabun juga? 😀

Soal itu sih pengetahuan soal kimia dan agama ane masih terbatas. Jadi mending tanya langsung sama ulama dan profesor kimia selagi sempat.

Produk Bioteknologi yang Kontroversial

Belakangan ini produk bioteknologi memang menjadi perbincangan di dunia maya. Tidak hanya membahas soal etis gak etis atau dampaknya bagi kesehatan, tetapi juga dilihat dari sudut pandang seorang muslim.

Contoh yang sempat ramai adalah vaksin meningitis. Tahu sendiri lah proses pembuatan vaksin itu gimana. Medianya bisa berupa telur hingga media dari babi. Hal itu yang bikin calon jamaah haji dan umroh ketar-ketir gara-gara vaksin.

Nah, bagaimana kita bisa tahu produk hasil bioteknologi itu halal? Itu sebabnya ane sarankan belajar kimia organik juga. Kebanyakan produk hasil bioteknologi itu produk fermentasi. Contohnya tahu, tempe, oncom, nata de coco, peuyeum (lain peuyeumpuan), roti, yoghurt, keju, dll.

Referensi penjelasnya pun bisa belajar biologi yang berkaitan tentang bioteknologi. Kok ane saranin belajar tentang bioteknologi? Contoh kasusnya adalah keju.

Susu itu halal. Mentega itu halal. Yoghurt itu halal. Krim asam itu halal. Kok keju bisa haram padahal sama-sama dari susu? Jawabannya adalah whey, endapan susu yang jadi cikal bakal keju. Whey berasal dari hasil produk enzim rennet. Sementara mentega, yoghurt, dan krim asam merupakan produk fermentasi asam laktat. Hal yang perlu diingat dari enzim rennet adalah enzim tersebut berasal dari perut sapi. Keju bisa haram tergantung dari sumber enzim rennet. Cara menyembelih sapi dan menurunkan pH dari perut sapi bisa jadi haram. Kalo kita lagi berada di luar negeri ato nyasar di supermarket bahan makanan impor, carilah keju yang dibuat khusus untuk vegan. Ada kok penjelasannya di bungkus keju.

sumber: The Laziest Vegans in the World

yeay makan keju tanpa rasa bersalah!

Kok cari keju yang vegan? Soalnya bahan baku untuk membuat keju vegan dan halal itu sama. Proses pembuatannya menggunakan enzim rennet yang dihasilkan oleh kultur mikroba atau sumber nabati.

Dengan belajar kimia organik ditambah pengetahuan biologi, kita bisa jadi lebih bijak dalam menyikapi produk makanan yang dihasilkan dengan bioteknologi.

Kebelet Wagyu, Kebelet Hanwoo, Kebelet Steik … Papa!

Kalo baca judul ini sambil nyanyi-nyanyi gak jelas, berarti kita sepantaran. Sebenarnya ini lirik lagu Ciccio yang kebelet pipis cuman ane ganti kata-katanya jadi ngomongin steik.

Siapa yang gak suka dengan steik? Mau itu steik daging atau ikan sama saja. Beda selera beda pula cara makannya. Belakangan ini ada dua nama yang paling sering diperbincangkan dalam dunia makan steik belakangan ini: wagyu dan hanwoo.

Wagyu itu sapi asal Jepang. Salah satu varietasnya yang terkenal di kalangan tukang makan steik adalah Kobe beef. Ciri khas dari daging yang satu ini adalah marble aka lapisan lemak yang membentuk irisan dagingnya. Semakin banyak marble yang terlihat, rasanya semakin lezat. Hal itu membuat orang-orang berbondong-bondong nongkrong ke tempat steik demi mendapatkan irisan daging premium ini. Soal harga? Sepadan lah sama rasanya. Harganya lebih mahal dari daging sapi Australia atau sapi lokal Boyolali.

Satu lagi adalah hanwoo. Daging sapi mahal asal Korea yang orang Korea sendiri gak bisa menikmati seiris hanwoo setiap saat. Di Korea, hanwoo itu barang mahal. Ane lihat dari acara kuliner asal Korea. Orang Korea sangat membanggakan daging ini. Pertanyaan bodoh ane saat menonton itu adalah, enakan mana wagyu sama hanwoo? Ternyata sama saja. Ane mencari literatur lebih lanjut tentang hanwoo dan menemukan kedua varietas sapi itu memiliki kedekatan secara genetik. Salah satu akarnya adalah gen sapi Kobe yang ditemukan pula pada gen sapi hanwoo. Hal itulah yang membuat karakteristik hanwoo dan wagyu serupa namun tidak sama. Keduanya memiliki lapisan marble yang baik dan mudah lumer saat dimasak.

Keduanya enak tuh bikin ngiler. Halal gak ya? Tergantung.

Wagyu dan hanwoo memiliki pola pengasuhan yang sama. Sama-sama dikasih makanan premium (rumput terbaik yang masih segar, vitamin, dll), dibesarkan dalam lingkungan yang masih alami, diberi pijat plus-plus oleh ahli pijat terbaik, selalu dijaga kondisi kesehatannya, dan dikasih makanan yang dicampur arak. Nah, diurusnya kayak gitu ya haram. Sudah sepaket sama disembelih orang nonmuslim.

Kalo kita lagi di Jepang ato Korea dan kebelet banget pengen dua daging lokal itu, pastikan proses pemeliharaan sapinya itu halal. Sebaiknya cari di komunitas Timur Tengah/India/Turki/penduduk lokal yang muslim untuk memastikan kehalalannya. Biasanya di komunitas muslim ada toko daging halal jadi gak perlu cemas. Nah, untuk pasar domestik Indonesia ya gak perlu cemas untuk masalah wagyu. Wagyu yang bertebaran di Indonesia itu sumbernya ada 3: Jepang, Australia, dan lokal. Ane pernah liat di Trans7 soal liputan peternakan wagyu di Lampung. Australia sudah terkenal dengan produksi hewaninya termasuk daging. Mereka sering mengekspor dagingnya ke negara-negara muslim seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Timur Tengah. Jadi soal kehalalan ya insya Allah halal. Buat cari aman ya pilih wagyu yang dipelihara peternak lokal atau dari Australia.

Sebenarnya Halal tapi ….

Itu yang bikin ane kesel. Hal itu sama saja dengan pembohongan publik dan pelanggaran hak konsumen.

Ane emang seneng sama rumput laut, gim, nori, laver, dan apapun itu. Jika ente sadar omongan ane, sebenarnya itu pun yang artinya sama saja. Hal yang paling sering ane cari di supermarket impor ya itu. Pas zaman kuliah, ane sering banget bikin sushi ato cuman nambul (baca: ngemil, bahasa Sunda) itu teu disanguan. Orang-orang sering bikin sushi dengan salmon, tuna, crab stick, ketimun, tobiko, dan bahan-bahan yang umum ditemukan dalam sushi. Kalo ane sih sering bikin sushi dari makanan sisa di rumah seperti pindang tuna, rendang, tumis kerang, dan masakan Indonesia lainnya.

Bicara soal rumput laut. Rumput laut itu sebenarnya halal selama campuran sausnya tidak mengandung bahan haram. Soalnya ada rumput laut saus Jepang yang dijual di pasaran. Ane biasa beli rumput laut lokal yang dibuat di Jogja, rumput laut impor asal Cina, dan Tao Kae Noi buat jadi penggulung sushi. Dulu pas pertama beli di Circle K, Tao Kae Noi ada label halal dari majelis ulama Thailand. Kok pas ane beli lagi logonya gak ada? Logonya ke mana ya?

Kebingungan ane pun balik lagi ke situs resmi perusahaannya. Eh pas ane lihat di Thailand pun ada label halalnya. Posisinya sama kayak yang dijual di pasar Thailand, label halal berada di pojok kiri bawah. Label halalnya ke mana?

Ane bingung dengan standar impor di Indonesia. Dulu sih kalo udah dapet sertifikasi halal dari negara asal ya gak perlu sertifikasi ulang. Sekarang malah sertifikasi halal negara asal disensor terus verifikasi ulang. Padahal cukup melakukan pemeriksaan melalui database lembaga pemberi sertifikasi halal dan menghubungi langsung pihak tersebut di negara asalnya. Hal tersebut dilakukan oleh kementerian di Malaysia. Jika sertifikasi halal sudah ada dari pihak negara lain yang  bekerjasama dengan JAKIM Malaysia, sertifikasi yang melekat pada produk itu berlaku pula di Malaysia.

Nah, pas kita bingung lihat produk yang beredar di Indonesia label halalnya tiba-tiba menghilang, lebih baik cek langsung ke situs perusahaannya. Perusahaan yang baik itu menjelaskan produknya secara jelas pada konsumen. Contohnya Tao Kae Noi dan Nongshim. Kemarin sempet rame soal Nongshim haram. Tapi setelah ane klarifikasi lagi, di situs resmi Nongshim ada tiga produk yang dapat sertifikasi halal dari serikat muslim Korea Selatan. Informasi tersebut bisa bertambah seiring berjalannya waktu.

Salah satunya Shin Ramyun yang nongkrong di supermarket.

Jadilah konsumen yang cerdas dalam memilih produk yang kita makan.

Iklan