Dekat di Mata, Jauh di Hati

Bahasa kerennya sih ane terkena technology fatigue. Ironis memang orang yang pernah kecemplung di dalam dunia teknologi tapi soal penggunaan teknologi terbilang ndeso. Pertama pakai Facebook mirip orang 4l4y yang unggah status gak jelas dan cenderung umbar aib. Pakai Twitter cuman buat cari berita sama bikin proyek cerita bercuit (soalnya bersambung tapi formatnya dalam cuitan) yang gak keurus. Pakai deviantart pun gak pernah disentuh gara-gara dipake buat menguntit Ikki. Ketahuan sih gunain akun media sosial buat gak bener :v

Dulu ane emang sering nongkrong di Facebook sama Kaskus. Facebook sekarang sistemnya filter bubble jadi ane kehilangan kontak dari temen deket ane (termasuk si editor galak juga mesum, Mamih Aisya). Ditambah lagi banyak berita hoax merajalela jadi bikin ane enggan sentuh. Begitupun di Kaskus. Dulu sering nongkrong di lounge. Penyakitnya sama soal hoax juga jadi ya pindah ke subforum komputer. Tempat ane gak sengaja belajar dunia administrator PC yang jagonya pun gara-gara faktor kepaksa: komputer rumah sering bermasalah dan satu-satunya lelaki di rumah ane pun sangat payah (baca: Babeh). Sekarang udah mulai jarang buka Kaskus lagi seiring jarang nongkrong dengan dunia komputer.

Akun media sosial yang masih dipakai cuman Instagram sama Pinterest. Instagram buat portofolio sketsa sama hasil bidikan kamera ponsel ane. Jangan harap bisa menemukan foto ane di sana. Pinterest buat cari referensi. Entah itu buat belajar sketsa, kuliner, hingga referensi mode era 70-an untuk mendukung latar belakang novel yang ane garap. Ane gak setiap hari buka. Ada kali ya sebulan sekali. *woot?* Ane buka Instagram pun biasanya habis jepret foto dengan objek unik pas lagi jalan-jalan.

Bicara soal media sosial, ane terbilang ekstrim dan primitif. Jangan harap bisa mendapat balasan WhatsApp ato LINE ane dalam kurun waktu kurang dari 5 menit kecuali kalo itu adalah hal yang penting. Soal balas membalas pesan instan, ane terbilang siput. Kasarnya gini, kirimnya kemarin bacanya tadi. Ada dua faktor yang membuat ane terbilang malas dalam buka jejaring sosial ataupun baca pesan instan. Pertama, ane memang sibuk rintis bisnis di samping belakangan ini main Township pas selesai produksi. Kedua, memang pada dasarnya aja ane malas terlalu lama berada di dekat HP.

Berada di dekat smartphone itu benar-benar melelahkan. Justru ane merasa jauh lebih bahagia ketika HP ane masih Nokia 2600 yang tidak bisa terhubung dengan internet. Ane tidak perlu berpikir soal isi pulsa yang banyak hanya untuk memenuhi kuota. Bicara soal ponsel, dosen ane jauh lebih ekstrim lagi. Beliau pernah bercerita soal HP monokrom yang tidak pernah absen dari sakunya.

Jujur saja bapak bisa membeli iPhone sebanyak yang bapak mampu dengan penghasilan bapak. Sayangnya kebutuhan bapak hanya telepon dan SMS jadi HP biasa pun cukup.

Padahal beliau, Pak Dikdik, sebenarnya seorang dosen yang juga merangkap pengusaha. Punya banyak bisnis namun selalu berpenampilan sederhana. Laptop yang beliau kenakan bukanlah laptop mahal. Selama bisa memantau bisnis dan pergerakan saham dari jauh tanpa ada hambatan (salah satu kebiasaan beliau itu sering mantengin saham lewat dashboard sambil ngajar), laptop-nya masih bisa dipakai.

Jujur ane merasa lelah dengan perkembangan teknologi. Lelah bukan karena harus mengikuti setiap saat. Ane lelah dengan teman-teman ane yang seakan-akan memasang topeng setiap kali bertemu dengan ane. Kepribadian mereka di dunia maya amatlah berbanding terbalik dengan dunia nyata. Ane lelah dengan notifikasi yang muncul setiap saat dengan keributan yang tidak jelas. Penyakit SMS berantai dengan konten aneh-aneh pun kini merambah WhatsApp dan LINE. Ane lelah setiap kali ane berusaha datang tepat waktu untuk memenuhi janji main dengan mereka, nyatanya mereka terlalu sibuk dengan ponselnya. Itulah yang membuat ane enggan untuk sekedar mulai percakapan dengan mereka. Ane bahkan pernah menulis di sini,

Jika ada acara reuni bersamaan di waktu yang sama, ane bakal menghadiri reuni SMK.

Teman-teman SMK ane memang orang narsis. Hal yang membuat ane nyaman adalah mereka tahu diri waktu untuk narsis terus unggah status dan waktu untuk main-main di dunia nyata. Mata mereka tidak selalu berpaku pada ponsel. Mereka lebih banyak melakukan hal-hal gila dibandingkan asyik di dunia maya namun garing di dunia nyata.

Ane memang tipe orang yang lebih senang ngobrol langsung daripada chatting. Tidak hanya masalah sensor di internet, tetapi juga dengan ngobrol langsung kita bisa lebih akrab. Dengan mengobrol pun kita bisa belajar untuk tahu diri. Kita bisa tahu hal-hal yang perlu dihindari dalam memulai percakapan. Kita juga bisa tahu hal-hal yang bikin rame ngumpul. Kita juga bisa tahu pasangan masing-masing. Seperti halnya kemarin Rina yang datang bersama suaminya dan Yuni yang bakal menikah dalam hitungan bulan. Bergaul langsung dengan orang dapat membuat kita belajar introspeksi diri. Bahasa tubuh tidak akan bisa berbohong seperti halnya pesan yang diketik di dunia maya. Ane bisa melihat gelagat seseorang dari bahasa tubuh mereka. Jika mereka tidak suka, lebih baik ane diam daripada cari masalah.

Teknologi memang berguna namun gunakan teknologi dengan bijak.

Iklan

Kesempatan Kedua

Hidup memang sekali. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua.

Ane baru tahu dari salah satu blog, humu pun bisa insyaf. Perjuangannya selama bertahun-tahun untuk melawan hal abnormal yang selama ini menggeragoti dirinya sangat berat. Mulai dari perasaan bersalah telah mengkhianati istrinya  hingga perasaan jijik di hadapan Tuhan (berdasarkan kisahnya, dia adalah seorang pelayan gereja yang tekun beribadah semasa remajanya). Perjalanannya menuju kesembuhan pun membutuhkan waktu hingga 30 tahun. Ia bahkan merasa jijik dengan masa lalunya terlebih saat melihat istrinya yang begitu sabar membimbingnya agar lekas sembuh. Rasa penyesalan itu memang ada. Kini ia hidup lebih bahagia bersama istri dan anaknya sebagai seorang ayah yang normal.

Cerita lainnya dituliskan dalam sebuah buku. Jika di luar negeri ceritanya adalah tentang seorang mantan humu yang bisa kembali hidup normal dan menata kembali rumah tangganya yang hancur, di Indonesia ada buku tentang mantan pengikut aliran sesat. Buku yang ia tulis adalah sebuah memoar tentang perjalanan hidupnya.

Ia adalah seorang aktivis dakwah yang terlalu idealis hingga mudah disusupi aliran sesat. Perlahan ia mulai mempengaruhi setiap orang di sekitarnya tak peduli itu keluarga, tetangga, sahabat, hingga orang asing. Hingga hidayah pun datang di saat ia sedang jatuh cinta pada gadis yang kelak menjadi istrinya. Ia sadar semua yang dilakukannya selama ini adalah salah. Ia melihat banyak orang menderita karena fanatisme buta akan aliran tersebut. Begitupun saat ia hendak melamar istrinya, ia mendapat penolakan besar dari keluarga besar istrinya. Ayah sang istri pun menganggap pernikahan itu akan menjadi racun bagi keluarga mereka. Penolakan calon mertua diiringi rentetan kisah memilukan yang terjadi di sekitarnya membuat ia beserta sang istri pun sadar lalu berusaha lepas dari aliran sesat itu. Saat ia berusaha kembali ke masyarakat, penolakan demi penolakan pun terjadi. Ia dikucilkan oleh sahabat, keluarga, hingga tak ada satupun tetangga yang mau menerima mereka. Ia berusaha keras untuk meluruskan pandangan mereka tentang masa lalunya. Ia sudah berubah. Ia bukanlah orang yang sama seperti dulu. Ia beserta istrinya pun tak bisa tinggal dengan tenang. Ia merasa orang-orang dari aliran sesat tersebut terus mengawasi gerak-gerik mereka. Usaha dan kesabarannya pun membuahkan hasil. Akhirnya ia bisa kembali ke keluarganya, menata kehidupan keluarga kecilnya, masyarakat mau menerima mereka, dan diterima sebagai seorang menantu. Bahkan  keluarga istrinya yang terus mendorong mereka agar lepas dari jerat aliran sesat yang meresahkan itu.

Orang kadang memandang miring seseorang terlebih lagi jika mereka melihat masa lalunya. Anehnya hal itu tidak berlaku bagi artis. Siapa yang tidak kenal dengan Vicky Prasetyo si penggoda perempuan yang berulang kali terjerat kasus hukum dan berakhir di penjara. Kini ia wara-wiri di televisi sebagai seorang pelawak dengan gaya bicaranya yang khas.

Beberapa orang bisa lepas total dari bayang-bayang masa lalu mereka. Johny Indo, narapidana pertama yang berhasil meloloskan diri dari penjara Nusa Kambangan, kini hidup menjadi seorang pendakwah yang membimbing para narapidana agar menjadi manusia yang lebih baik. Momen kaburnya Johny Indo diabadikan dalam film yang turut diperankan oleh beliau. Uje (alm.) adalah seorang mantan artis yang pernah terjerat dalam lembah narkotika dan minuman keras. Di hari beliau dimakamkan, banyak orang berbondong-bondong mengiringi jenazahnya menuju liang lahat. Kini orang-orang lebih mengenang beliau dengan hal-hal baik yang dilakukan semasa hidupnya ketimbang membicarakan masa lalunya.

Seseorang boleh memiliki masa lalu yang kelam. Bukan berarti kita bisa menghakimi mereka atas perbuatan di masa lalu yang sudah mereka sesali dan sudah menerima ganjarannya. Misalnya ia terkena hukum rajam di Aceh atau pernah mendekam di penjara seperti Johny Indo. Lihatlah seseorang dari masa kini dengan objektif seperti halnya melihat (alm.) Uje semasa hidupnya dan Hasan Tiro yang sudah menyerahkan diri. Nabi saja bisa memaafkan perbuatan Umar bin Khattab di masa lalu. Semua orang yang pernah berbuat salah berhak dimaafkan dan diberi kesempatan kedua selama mereka tidak “tobat sambel”. Biarlah Tuhan dan masyarakat yang memutuskan apabila pelakunya itu doyan “tobat sambel”. Toh sudah ada hukum yang mengatur itu dalam agama dan norma masyarakat.

Padahal ane udah gak mau nulis yang berat-berat, eh malah melanggar lagi. Mungkin efek samping dari nulis arc tentang tema ini sama masih kebayang-bayang episode Jigoku Shoujo yang ternyata ceritanya tentang “perlukah seseorang melakukan balas dendam” dalam episodenya.